Chapter 2
Sakura
Halo, halo chapter 2 mungkin ceritanya aneh ya, saya suka Lord of The Rings jadi Mino di sini elf gitu lah, dia tampan dan memiliki kekuatan ajaib hahahaha di sini bahas elf yang digunakan adalah bahasa yang digunakan kaum elf di dalam novelnya Pak Tolkien, si bapaknya Lord of The Rings hehehe selamat membaca terima kasih buat yang sudah baca dan review maaf tidak bisa menyebut satu persatu. Hari minggu update pagi belum mandi welehh?!
¶¶¶
"Lain kali jangan membuat masalah lagi!" geram Seungyoon disela-sela nafasnya yang tersengal. Taehyun hanya melempar senyuman minta maaf sambil membungkukkan badannya mencoba memasukkan lebih banyak oksigen ke dalam paru-parunya.
Taehyun membuat masalah dengan anak SMA tetangga, dan sekarang enam orang dari SMA tetangga itu mengejar Taehyun dan Seungyoon karena sebelumnya mereka menang dalam perkelahian, dan sekarang si ketua geng yang tidak terima dengan kekalahan itu, mengejar Seungyoon dan Taehyun untuk membalas dendam.
Taehyun dan Seungyoon bersembunyi di sebuah gang sempit. "Jika kita selamat hari ini apa rencanamu?" Seungyoon melempar tatapan tajam untuk Taehyun.
"Aku akan minta maaf pada ketua geng mereka."
"Maaf saja cukup?"
"Bagaimana kalau tawaran duel satu lawan satu? Mana yang terbaik menurutmu?"
Seungyoon memutar kedua bola matanya jengah. "Baiklah, kau coba minta maaf saja."
"Hei! Mereka di sini!"
"Sial…," desis Seungyoon dan Taehyun bersamaan. Keduanya bermaksud untuk kabur namun sayang niat itu harus gagal akibat tembok tinggi di belakang mereka. Keduanya berpandangan sebelum akhirnya memilih untuk melangkah keluar dari gang tempat mereka bersembunyi. Dan perkelahian pun tak dapat dihindari.
"Ya! Hentikan apa yang kalian lakukan?!" suara teriakkan seseorang menghentikan perkelahian yang sedang terjadi. Taehyun melepaskan cengkeramannya pada kerah salah seorang siswa yang berhasil ia pukul, dan orang-orang yang tadi mengepung Seungyoon langsung menyingkir.
"Bobby!"
"Taehyun?!"
"Jadi mereka anak buahmu?!" pekik Taehyun dengan amarah memuncak.
"Ya begitulah." Balas Bobby canggung.
"Kenapa kau biarkan mereka menghajarku?! Dasar bocah sial!"
"Ah maaf aku pikir mereka mengejar Taehyun yang lain." Balas Bobby nyengir lebar. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menampakkan wajah bingung.
"Bos, siapa dia?" tanya salah seorang yang sedikit waras dibandingkan yang lain.
"Dia bosku."
"Apa?!" semua orang langsung berteriak secara serempak termasuk Seungyoon.
"Ya dia bosku, bos besar, maaf aku tidak memberitahukannya pada kalian."
"Jadi—kedudukannya lebih tinggi dari bos?"
"Bisa dikatakan seperti itu."
"Kenapa?!" bentak Taehyun saat semua orang yang tadi mengeroyoknya melempar tatapan ketakutan. "Kalian akan menerima pembalasanku dasar pengecut!" Bobby langsung maju untuk menghalangi niat Taehyun membalas dendam.
"Sudahlah Hyung ini hanya salah paham, maafkan mereka. Sebenarnya aku sudah berusaha untuk menyadarkan mereka tapi kelihatannya belum ada hasil."
"Aku tidak mempercayai kata-katamu."
"Hyung aku jujur, aku benar-benar ingin mengubah image kami. Kami tidak bisa selamanya seperti ini kan? Suatu hari nanti kami akan tumbuh dewasa dan cara menghabiskan masa muda seperti ini pasti akan membawa kerugian."
Taehyun hanya melempar tatapan memangnya aku peduli dengan masa depan kalian, namun untung saja mulutnya tidak bergerak sendiri untuk mengungkapkan pikirannya. "Baiklah, aku percaya." Jawab Taehyun penuh dusta.
"Ayo pulang Kang Seungyoon." Ajak Taehyun.
Seungyoon segera mengambil ranselnya yang tergeletak di atas trotoar sebelum akhirnya berjalan di samping Taehyun. "Maaf aku sudah melibatkanmu dalam perkelahian tidak penting seperti tadi."
"Wow! Itu sangat mengejutkan mendengarmu meminta maaf."
"Cih kau ini! Tentu saja aku pernah meminta maaf. Hanya saja aku jarang melakukannya."
Seungyoon hanya tertawa pelan mendengar pengakuan Taehyun. "Tapi bagaimana kau bisa menjadi ketuanya si ketua geng?"
"Ceritanya panjang lagipula itu hanya masa lalu yang ingin aku lupakan." Seungyoon melempar tatapan simpati kepada Taehyun. "Pipi kananmu terluka."
"Tidak masalah aku ini bukan laki-laki cengeng."
Keduanya berjalan bersama menyusuri trotoar hingga keduanya berpisah karena rumah Taehyun berbeda arah. Seungyoon berjalan menyusuri jalanan perumahan yang beraspal mulus. Langit sudah menampakkan semburat kemerahan sebagai tanda bahwa matahari akan segera tenggelam. Ternyata berkelahi itu menghabiskan banyak waktu.
Seungyoon menarik nafas dalam-dalam saat membuka pagar rumahnya, di jam seperti ini pasti seluruh petugas kebersihan harian di rumahnya sudah pulang. Meninggalkan rumah besarnya layaknya sebuah pemakaman. Perasaan aneh itu kembali, namun seperti biasa ia akan mengacuhkannya.
Aroma manis tercium Seungyoon sempat menaruh harapan yang tinggi bahwa aroma manis itu adalah aroma kue yang baru keluar dari panggangan. Ibunya pulang dan menunggunya. Namun harapan itu hanyalah harapan kosong saat dirinya tidak menemukan siapapun di dalam rumah. Setelah melepas sepatu, Seungyoon melempar tas sekolahnya ke sembarang tempat.
"Tidak mungkin!" pekik Seungyoon dan dengan tergesa-gesa dia berlari keluar.
Harapannya untuk melihat salah seorang anggota keluarganya menunggu di rumah terlalu besar, bahkan dirinya sampai melewatkan keajaiban yang begitu dekat. Satu pohon sakura di halaman rumahnya mekar di musim panas. Aroma manis yang ia cium tadi, rupanya bukan berasal dari kue, tapi dari bunga sakura yang bermekaran.
Pohon yang berbunga itu berukuran lebih kecil dari pohon-pohon yang lain, tempatnya juga tersembunyi, jadi wajar jika dirinya melewatkan pohon tersebut. Bunga-bunganya mekar dengan rimbun padahal kemarin tidak terlihat kuncup-kuncup sama sekli. "Ini keajaiban," gumam Seungyoon pelan.
Lalu perasaan itu muncul kembali, perasaan seolah-olah ada seseorang yang memperhatikannya. "Aku tahu kau ada di sini, keluarlah! Jangan bersembunyi terus dan memberiku kejutan-kejutan murahan." Racauan Seungyoon hanya dibalas oleh hembusan angin yang menerbangkan beberapa kelopak sakura. "Pengecut." Desisnya sebelum berbalik dan pergi.
"Maaf, aku tidak bisa menemuimu sekarang. Aku juga tidak bisa melindungimu tadi, maafkan aku Kang Seungyoon," ucap Mino sedih sambil memandangi punggung Seungyoon yang menjauh.
"Song Minho."
"Mahn ah-NEAR-ahkh caree-een ahn lay?"1
"Hei tidak usah kaku seperti itu." Ucap seorang laki-laki tampan bermata tajam. "Aku hanya datang untuk mengingatkanmu saja."
"Aku sudah tahu arah pembicaraanmu Hyung, sebaiknya Hyung pergi saja sekarang."
"Kau selalu keras kepala. Baiklah jika itu keputusanmu Mino."
"Terserah Hyung mau menyebutku apa saja."
"Kau tahu semua yang kau lakukan akan sia-sia Mino. Manusia itu berumur sangat pendek dan pada akhirnya jika kau mencintai seorang manusia hanya sakit yang akan kau dapatkan."
"Aku tidak peduli."
Sebuah tawa mengejek terdengar jelas. "Menyedihkan sekali jika kau menghabiskan seratus tahun hidup lagi untuk menunggu seseorang yang mampu menyembuhkan luka hatimu. Kau sangat cengeng Mino."
"Bagaimana dengan TOP hyung sendiri? Apa dengan menghabiskan waktu panjang Hyung dengan menutup hati Hyung adalah tindakan terbaik."
"Jangan menantangku Song Minho."
"Menantang? Tentu saja aku tidak akan berani melakukan hal itu. Aku hanya bicara yang sebenarnya."
"Eem roo-thoo-ee!"2
Mino tidak menjawab, tidak ingin mencari masalah di depan tempat tinggal seseorang yang ingin ia lindungi. Dengan tatapan tajam yang ditujukan untuk Mino TOP pun pergi. Kepergian TOP diiringi oleh bergugurannya seluruh kelopak sakura yang dengan susah payah telah Mino rayu untuk mekar di musim panas. "Hyung," gumam Mino sedih.
¶¶¶
Hal yang dilakukan Seungyoon di rumah adalah kebiasaan sama yang berulang membosankan. Mandi, mengganti baju seragamnya, sedikit mengisi perut, mengerjakan tugas dengan ditemani televisi yang menyala, sambil berharap telfon dari ketiga sahabatnya. Namun hingga jam dindingnya menunjukkan angka sepuluh tak ada telfon maupun pesan yang masuk, semua pesan yang ia kirimkan juga tidak dibalas.
"Kemana semua orang?" Seungyoon bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Lelah, ia tumpuk semua buku pelajaran untuk dijadikan bantal. Ditemani oleh suara televisi, Seungyoon memutuskan untuk mengakhiri hari dan menyambut mimpinya hari ini.
¶¶¶
Mino berdiri di balkon memperhatikan Seungyoon yang sedang tertidur dengan lelap. Dengan langkah pelan Mino berjalan mendekati pintu kaca, pintu itu terbuka pelan tanpa sedikitpun menimbulkan suara. Seulas senyuman tercipta pada wajah tampan Mino. "Kenapa kau selalu meremehkan kesehatanmu Kang Seungyoon," gumam Mino dengan suara teramat pelan kemudian dengan kecepatan melebihi manusia biasa ia matikan televisi, mengganti bantal buku Seungyoon dengan bantal dari kamar Seungyoon kemudian menyelimuti tubuh Seungyoon dengan selimut yang diambilnya dari tempat yang sama.
Mino bisa saja mengangkat tubuh Seungyoon dan memindahkannya ke kamar namun ia tidak mau mengambil resiko Seungyoon terbangun dan melihat keberadaannya. "Selamat malam Kang Seungyoon." Ucap Mino sebelum pergi, namun maksud itu terhenti saat dirinya melihat luka pada dahi Seungyoon. "Kau selalu membuat masalah," gumam Mino dia membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah Seungyoon. Setelah semua urusan selesai Mino pergi dengan kecepatan yang tidak bisa diterima oleh akal manusia.
Seluruh kelopak bunga sakura telah menghilang dan kini pohon itu tampak seperti pohon sakura lainnya di musim panas, dengan rimbunnya dedaunan berwarna hijau segar. Mino mengamati pohon yang sebelumnya dipenuhi oleh bunga dengan tatapan sedih, niatnya untuk membuat Seungyoon tersenyum dan bahagia telah gagal.
"TOP menghancurkan rencanamu?"
Mino berbalik ke arah sumber suara memandangi seorang perempuan cantik bertubuh langsing dengan rambut hitam panjangnya. "Ya Noona bisa lihat sendiri apa yang sudah TOP hyung lakukan."
"Apa Seungyoon suka dengan bunga sakura?"
"Ya."
Perempuan cantik itu tersenyum lebar. "Aku akan membantumu."
"Aku tidak ingin merepotkan Noona." Mino menundukkan wajahnya tawaran itu sungguh menggiurkan namun dirinya tidak ingin berhutang budi pada siapapun.
"Kau sama sekali tidak merepotkan. Itu sangat mudah bagiku membuat semua pohon sakura di sini mekar. Park Bom berarti musim semi."
"Tunggu Noona jangan semuanya, pasti merepotkan jika semua orang datang ke sini untuk melihat keajaiban yang telah Noona buat."
"Oh begitu ya, baiklah kita pikirkan waktu yang tepat."
"Aku akan memanggil Noona saat waktu yang tepat itu tiba."
"Tidak masalah, kalau begitu aku pergi sekarang, selamat malam."
Mino tersenyum kemudian mengangguk pelan, pandangannya tertuju pada jendela balkon Seungyoon memastikan bahwa Seungyoon tertidur lelap dalam keadaan aman sebelum dirinya pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Kang.
¶¶¶
Cahaya matahari yang masuk melewati jendela mengusik ketenangan seorang Kang Seungyoon. Enggan, dibukanya kedua matanya yang masih terasa sangat berat. Bantal buku yang diganti dengan bantal dari tempat tidurnya, juga selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya, dan terakhir jangan lupakan televisi yang sudah mati. Ini bukan yang pertama kali terjadi dan tak ada perasaan takut sama sekali pada diri Seungyoon. Diraihnya ponsel yang ia letakkan di atas karpet lantai, Seungyoon pun mengirim pesan pada kakak favoritnya. Sambil menunggu balasan dari Kim Jinwoo, Seungyoon memutuskan untuk bersiap-siap.
Dia bangkit membiarkan bantal dan selimutnya di atas karpet lantai begitu saja, hal pertama yang harus dilakukan adalah pergi ke kamar mengambil baju ganti dan handuk bersih kemudian keluar untuk pergi ke kamarm mandi yang letaknya terpisah dari kamar tidurnya.
Seungyoon tengah mengeringkan rambutnya saat keanehan itu terjadi. Cepat-cepat dia berdiri di depan cermin dan menyibak poninya agar seluruh wajahnya tampak jelas di dalam cermin. Seungyoon yakin pipi kanannya terluka akibat perkelahian tidak penting dengan anak SMA sebelah yang baru saja terjadi kemarin sore.
"Tidak mungkin langsung sembuh kan? Ajaib sekali. Terima kasih siapapun kau." Takjub sekaligus kesal karena kejadian ini terus berulang. Seungyoon pun keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya melempar handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambut ke sembarang tempat. Dia berlari menghampiri ponselnya yang masih berada di tempat yang sama.
Dengan riang Seungyoon membaca pesan Jinwoo yang bersedia untuk menemuinya di kafe langganan mereka sekarang juga. Setelah memastikan pakaian yang ia kenakan pantas, Seungyoon meraih ranselnya dan berlari keluar.
"Sekarang Noona!" pekik Mino memberi perintah kepada Park Bom agar seluruh pohon sakura di halaman rumah Seungyoon mekar saat dia merasakan kedatangan Seungyoon.
"Tenang saja Mino." ucap Park Bom kemudian tersenyum manis sambil menjentikkan jari telunjuknya. Dan bersamaan dengan suara jentikan jari Park Bom dedaunan rimbun yang memenuhi pohon-pohon sakura itu berubah menjadi kelopak-kelopak bunga indah berwarna merah muda, menebar aroma manis ke udara.
Mino tidak sabar lagi menunggu kedatangan Seungyoon dan melihat bagaimana reaksi terkejutnya. Suara langkah-langkah kaki Seungyoon semakin jelas terdengar. Namun harapan dan senyuman seorang Song Minho berbuah kekecewaan ketika Seungyoon berlari melewati halaman rumahnya tanpa sedikitpun memperhatikan pohon-pohon sakuranya yang berbunga.
Park Bom yang menyaksikan semua kejadian itu hanya bisa menatap simpati kepada Mino. "Mungkin bunganya kurang banyak jadi dia tidak bisa melihatnya," ucap Park Bom menghibur Mino.
"Bukan masalah itu Noona bunganya tampak—indah. Terima kasih banyak."
"Lalu apa masalahnya?"
"Entahlah sebaiknya aku mencari tahunya."
"Song Minho." Panggil Park Bom menghentikan langkah kaki Mino. "Jangan bertindak di luar batas."
Mino hanya menyungging seulas senyuman sebelum menghilang dari hadapan Park Bom.
¶¶¶
"Hyung!" pekik Seungyoon girang melangkahkan kedua kakinya mendekati meja Jinwoo. "Terima kasih sudah datang Hyung."
"Ini kan hari minggu dan aku libur aku rasa keluar lebih menyenangkan dibandingkan menghabiskan waktu sepanjang hari bersama Seunghoon." Seungyoon tersenyum lebar mendengarkan ucapan Jinwoo.
"Hyung aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa?"
"Begini—karena Hyung adalah orang yang aku percayai melebihi Taehyun dan Seunghoon hyung makanya aku memilih Hyung."
Jinwoo meletakkan sendok es krimnya dan kini seluruh perhatiannya tertuju kepada Kang Seungyoon. "Selama ini sebenarnya aku mengalami banyak kejadian aneh."
"Kejadian aneh seperti apa?"
"Hyung pasti akan menertawaiku jika aku mengatakannya dan menganggapku gila."
"Hei bukankah kau sendiri yang mengatakannya bahwa aku Hyung yang paling kau percayai, percayalah aku tidak akan mengganggapmu gila." Ucap Jinwoo diiringi senyuman lebar.
"Aku bingung harus memulainya darimana karena terlalu banyak yang terjadi yang jelas selalu ada hadiah dari orang misterius setiap ulangtahunku, lukaku sembuh dengan waktu yang sangat cepat, perasaan seperti ada sesuatu yang mengawasiku, dan keanehan lain seperti sakura…" Seungyoon menggantung ucapannya mengingat ada sesuatu yang aneh terjadi di halaman rumahnya tadi namun dirinya tidak memperhatikannya.
"Sakura?" pertanyaan Jinwoo mengakhiri lamunan Seungyoon.
"Ya, sakura Hyung aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi."
"Apa kau merasa takut?"
"Dulu."
"Sekarang?"
"Karena terlalu sering aku sudah terbiasa."
"Apa kau merasa tergganggu?"
"Sedikit."
"Jika kau tergganggu minta dia untuk berhenti."
"Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu apa dia nyata atau hanya anggota keluargaku yang mengerjaiku dan mengganggap hal ini lucu."
"Tidak ada salahnya mencoba."
"Hyung percaya dengan semua ucapanku?"
Jinwoo tertawa pelan dan diusapnya pelan puncak kepala Seungyoon. "Tentu saja aku percaya, aku ini kakakmu."
"Bagaimana jika aku berbohong?" Seungyoon bertanya bermaksud menantang Jinwoo.
"Tidak kau tidak sedang berbohong, aku tahu itu." ucap Jinwoo kemudian diiringi oleh tawa renyahnya yang khas. Seungyoon hanya bisa mengamati wajah Jinwoo dengan takjub.
"Hyung sebenarnya ada hal lain yang ingin aku katakan."
"Oh silakan saja, aku masih memiliki cukup waktu untuk mendengar semua ceritamu."
"Aku—aku mencintaimu Hyung."
"Seungyoon aku juga mencintaimu."
"Bukan! Bukan seperti itu Hyung bukan cinta yang seperti itu. tapi—cinta yang lebih."
"Kang Seungyoon…,"
"Sudah jawab saja Hyung aku siap mendengarnya." Potong Seungyoon cepat.
"Kang Seungyoon aku tidak percaya kau dulu yang mengatakannya, padahal aku lebih tua."
"Maksud Hyung?!"
"Ya, aku juga mencintaimu—cinta yang lebih Kang Seungyoon."
"Terima kasih Hyung!" pekik Seungyoon.
To Be Continued….
1 Bahasa elf "apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
2 Aku marah!
