Chapter 3

Look at Me

Chapter 3 selamat membaca, semoga kalian suka, oh ya di dalam mungkin ada salah ketik, bahasa tidak jelas, jalan cerita aneh. Hahaha maklum masih belajar. Terima kasih untuk yang sudah bersedia membaca. Love You All.

¶¶¶

Seungyoon berdiri dari kursinya berniat untuk menghampiri Jinwoo untuk memberinya sebuah pelukan erat sebagai ungkapan kebahagiaan. Namun sebuah kesadaran menghampirinya. "Hyung kan punya kekasih? Aku dipermainkan ya?"

"Kekasih? Siapa yang sudah memiliki kekasih?"

"Hyung," ucap Seungyoon sambil menunjuk ke arah Jinwoo.

"Aku—tidak pernah memiliki kekasih." Jinwoo melempar tatapan bingung kepada Seungyoon.

"Jika dia bukan kekasih Hyung lalu siapa laki-laki yang selalu bersama Hyung bahkan berdiri di depan rumah Hyung."

"Kang Seungyoon jangan mengada-ada dan jangan membuatku takut!" pekik Jinwoo. "Laki-laki yang selalu mengusik hidupku hanya dirimu, Taehyun, dan Seunghoon."

Seungyoon berjalan kekursinya kembali, ia duduk dengan lemas. "Aku tidak bercanda…,"

"Bagaimana ciri-cirinya?!" pekik Jinwoo meski takut dia juga penasaran.

"Tampan, tinggi, tatapan matanya tajam." Seungyoon melempar tatapan penuh harapan. Jinwoo menggeleng pelan.

"Aku tidak pernah memiliki teman laki-laki dengan ciri seperti itu."

"Be—benarkah Hyung?" Seungyoon merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. "Tapi Taehyun dan Seunghoon hyung juga melihat laki-laki itu, tidak mungkin itu hanya halusinasi saja."

"Benarkah?"

"Iya Hyung masalahnya saat aku bicara bahwa Hyung punya kekasih dua orang aneh itu setuju-setuju saja, karena itu aku yakin."

Sebenarnya Jinwoo ingin mengerjai Seungyoon lebih lama lagi karena wajah Seungyoon yang kebingungan tampak sangat lucu dan polos, tapi membiarkan anak itu lebih lama dalam kebingungan terdengar sangat kejam. "Namanya Kim Yoogyeoum."

Seungyoon hanya diam karena otaknya masih memproses informasi yang baru saja ia dengar. "Kim Yoogyeoum," gumam Seungyoon pelan. "Kim Yoogyeoum?! Apa?! Hyung kenal?! Jadi dia bukan hantu?!" Pekik Seungyoon kesal sementara itu Jinwoo hanya tertawa pelan melihat wajah kesal Seungyoon.

"Lalu apa yang dilakukan oleh si Yoogyeoum itu di rumah Hyung?" raut wajah cemburu tampak pada Seungyoon dengan sangat jelas.

"Dia ikut pelajaran tambahan dengan Seunghoon."

"Tapi—kenapa dia sering terlihat bersama Hyung?"

"Oh itu, aku hanya mengajaknya ngobrol di sela waktu istirahat pasti membosankan belajar terus kan? Aku juga pernah jadi pelajar dan itu sangat menyebalkan."

"Sepertinya dia menyukaimu." Ucap Seungyoon masih belum mampu meredam perasaan cemburunya.

""Kau terlihat manis saat cemburu." Komentar Jinwoo sontak menciptakan rona merah pada wajah Seungyoon. "Kau semakin lucu saat bersikap malu-malu seperti itu. Manisnya."

"Hyung…,"rengek Seungyoon. "Tapi Hyung bagaimana jika dia benar-benar jatuh cinta padamu?"

"Aku tidak akan menerimanya."

"Apa Hyung terlalu mencintaiku?" Seungyoon membulatkan kedua matanya merasa tersentuh dengan pengakuan Jinwoo.

"Tidak." PYAAARRR! Seperti itulah bunyi harapan Seungyoon yang hancur berkeping-keping, pelajaran tambahan jangan menggantung harapanmu terlalu tinggi jika semuanya belum jelas. "Usianya terlalu muda, dia lahir tahun 1997."

"Terlalu muda? Tapi aku juga lebih muda darimu Hyung."

"Untukmu pengecualian."

"Terima kasih Hyung." Seungyoon tersipu malu Kim Jinwoo selalu berhasil membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

Mino berusah keras untuk meredam amarah dan rasa cemburunya yang semakin membakar, selama ini yang ia lakukan untuk Seungyoon tidak pernah dianggap oleh anak itu. memang hal itu bukan sepenuhnya kesalahan Seungyoon, sebab tak sekalipun anak laki-laki itu mengetahui keberadaannya. Mino mengepalkan kedua telapak tangannya erat-erat. "Kau milikku," gumam Mino dengan suara rendah beratnya. Namun, dia masih ingat pesan dari Noonanya, tidak boleh bertindak di luar batas karena itu Mino berusaha keras untuk mengabaikan berbagai rencana gila yang sudah terlintas di benaknya.

"Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan?"

"Tidak ada Hyung, apa Hyung segera pergi?"

"Ya. Sebenarnya tadi aku bebas tugas tapi ada panggilan darurat dari rumah sakit."

"Tidak apa Hyung pergi saja. Aku akan jalan-jalan sebentar."

"Oh ya kalau kau malas di rumah sendirian pergi saja ke rumahku Seunghoon ada di sana. Kau juga bisa mengajak Taehyun sekalian."

Aku inginnya menginap dengan Hyung saja tanpa siapa-siapa. Ucap Seungyoon di dalam hati.

"Seungyoon! Apa kau baik-baik saja?!"

"Oh ya Hyung! Aku baik-baik saja ada apa?"

"Aku mengajakmu bicara tapi kau diam saja."

"Maaf Hyung aku sedang memikirkan hal lain."

"Baiklah, aku harus bergegas sekarang sampai jumpa. Hari ini aku yang traktir."

"Hyung…," protes Seungyoon namun belum sempat protes itu selesai Jinwoo sudah berlari meninggalkan kafe. "Sepertinya kau benar-benar sibuk Hyung."

¶¶¶

Seungyoon berjalan seorang diri menikmati keramaian jalanan sambil memperhatikan berbagai kesibukan yang disuguhkan oleh Myeongdong. Seperti rencananya semula, ia tidak akan pulang cepat. Sebuah toko yang menjual berbagai jenis alat musik menarik perhatian Seungyoon. Tanpa pikir panjang diapun melangkah masuk, tidak masalah pulang terlambat, toh tak ada siapapun yang akan menunggunya di rumah.

"Selamat datang." Suara seorang perempuan yang bekerja di toko itu menyambut kedatangan Seungyoon dengan ramah. Seungyoon membalas keramahan itu dengan sebuah senyuman kemudian kedua matanya langsung meneliti semua jenis alat musik yang terpajang.

Sebuah gitar akustik berwarna cokelat muda menarik perhatiannya. Cinta, satu kata itu memiliki banyak arti bahkan hingga hari ini belum ditemukan definisi dari arti kata cinta. Namun, jika cinta itu berarti debaran jantung yang begitu kencang, dan semua yang terlihat tampak indah, maka Seungyoon yakin detik ini dirinya telah jatuh cinta.

Label harga di balik gitar itu menuliskan angka lebih dari empat ratus ribu won. Seungyoon hanya bisa mendesah pelan, itu jumlah yang sangat besar. Tabungannya tidak akan cukup. Gitar semahal itu dengan mudah dapat terbeli dengan uang jatah dari kedua orang tuanya, namun Seungyoon bukan tipe anak yang senang menghambur-hamburkan uang.

Selain itu pasti sesuatu yang dibeli dari hasil kerja keras sendiri atau dalam kasus Seungyoon menekan uang jajan akan terasa lebih istimewa. "Kau suka gitar ini?" sebuah suara berat menyadarkan Seungyoon dari kesibukan berpikirnya.

"Iya." Balas Seungyoon tanpa menoleh.

"Sayang sekali aku akan membelinya sekarang."

"Tidak masalah aku akan mencari yang lain." Balas Seungyoon seolah-olah hal itu tidak berpengaruh padanya. Seungyoon berjalan untuk melihat sudut lain dari toko musik ini.

Setelah puas melihat-lihat semua gitar yang di jual Seungyoon memutuskan untuk pergi karena tak ada satupun gitar yang harganya cocok. "Tunggu Tuan." Salah seorang pelayan toko menghentikan Seungyoon.

"Maaf, Anda memanggil saya?" Seungyoon bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Ya Tuan, ada titipan untuk Anda?"

Pelayan toko itu memberikan sebuah gitar yang tersimpan di dalam tempat gitar. Seungyoon menolak pemberian itu. "Maaf mungkin Anda salah orang, aku tidak pernah memesan gitar dan aku rasa tidak ada teman-temanku yang tertarik dengan gitar jadi tidak mungkin jika ini untukku. Oh ya Ayah Ibuku juga di luar negeri, mereka tidak tahu minatku."

"Tidak Tuan, ini benar-benar untuk Anda." Tanpa pilihan Seungyoon menerima tempat gitar yang diserahkan padanya, penasaran, diapun membuka tempat gitar itu. Gitar akustik berwarna cokelat muda yang ia inginkan. Seungyoon menutup tempat gitar itu kemudian dengan tergesa-gesa dia keluar dari toko.

Melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang yang sudah memberikan gitar itu untuknya. Penyesalan merasuk ke dalam hati Seungyoon, kenapa tadi dia tidak menoleh kepada orang yang mengajaknya bicara, setidaknya dia mengetahui bagaimana rupa orang itu.

Meski enggan namun tidak mungkin meninggalkan gitar itu di tempat sampah bukan? Sayang sekali gitar semahal itu dibuang alhasil Seungyoon pulang dengan membawa gitar gratisan yang menimbulkan ribuan tanya dalam benaknya.

¶¶¶

Seungyoon duduk di sofa sembari mengamati gitar akustik misterius itu, atau sekarang tidak misterius lagi karena siapa pemberinya sudah ia ketahui siapa lagi jika bukan inisial S.M. "Sebenarnya kau itu siapa?" gumam Seungyoon tangan kanannya menopang dagunya dan kerutan di dahinya terlihat jelas. "Jika kau tergganggu minta dia untuk berhenti." Seungyoon teringat ucapan Jinwoo.

"Mungkin aku bisa mencobanya." Berikutnya Seungyoon sudah berada di halaman rumahnya di bawah pohon sakura yang selama ini ia yakini sebagai tempat persembunyian sesuatu yang terus mengawasinya.

Jantungnya berdebar tak karuan, tentu saja ia takut, tak dipungkiri lagi. Mengumpulkan keberaniannya Seungyoon mulai menyusun kalimat yang ingin ia ucapkan. "Dengar ya, aku tahu kau mengawasiku di suatu tempat, entah dimana. Terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku. Kau bisa berhenti sekarang, aku mohon. Aku mulai terganggu dengan semua ini."

Seungyoon menajamkan inderanya berusaha menangkap perubahan apapun yang mungkin akan terjadi setelah kalimat yang ingin diucapkannya selesai. Nihil, tidak ada yang terjadi. Seungyoon tertawa pelan merutuki kebodohannya sendiri. "Aku mungkin mulai gila," gumamnya pelan sebelum berjalan menuju rumahnya kembali.

"Kau tidak gila." Suara berat yang sama seperti di toko musik itu membuat bulu kuduk Seungyoon meremang.

"Siapa kau?" Seungyoon belum bisa berbalik dengan sisa keberaniannya dia menjawab suara itu.

"Aku bukan siapa-siapa, hanya sedang jatuh cinta."

Seungyoon menggigit pelan bibir bawahnya di dalam otaknya sudah terlintas berbagai penampakan makhluk mengerikan dari film horror yang biasa dia lihat bersama Seunghoon dan Taehyun. "Apa kau yang selalu memberiku hadiah di setiap ulangtahunku?"

"Bisa dikatakan seperti itu. Apa kau akan terus memunggungiku?"

"Terima kasih atas pemberianmu tapi aku sedang sibuk. Selamat tinggal." Ucap Seungyoon tergesa sebelum akhirnya berlari kencang meninggalkan halaman rumahnya.

BRUUUK! Seungyoon menabrak sesuatu dan refleks ia pejamkan kedua matanya. Seseorang menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh ke atas tanah yang keras. "Buka matamu, apa kau ingin aku cium."

"Apa?!" pekik Seungyoon melupakan ketakutannya dan membuka mata. "Wa—wajahmu baik-baik saja?" tanyanya terbata.

"Ya, aku baik-baik saja apa yang kau pikirkan?"

"Aku pikir wajahmu hancur berantakan, berdarah-darah, dengan kulit mengelupas, menggantung, gigi tajam berantakan."

"Deskripsimu mengerikan, aku bukan zombie." Protes Mino. Seungyoon hanya melempar senyuman canggung sebelum dirinya kembali menegakkan tubuh dan mengambil jarak aman dari Mino.

"Apa kau benar-benar orang yang memberikanku semua hadiah itu?"

"Hmm."

"Berarti kita seumuran?"

"Mungkin."

"Mungkin," gumam Seungyoon pelan. "Tapi bagaimana kau tahu semua hal yang aku inginkan? Lalu bagaimana caramu memasukkan semua hadiah itu ke dalam rumah tanpa ada yang melihatmu?!"

"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang pertama tapi pertanyaanmu yang kedua mudah saja untuk dijawab. Rumahmu tidak pernah ada orang."

"Haha kau benar. Lalu apa alasanmu memberiku semua hadiah itu?"

"Karena aku jatuh cinta padamu."

"Aneh." Balas Seungyoon singkat kemudian bermaksud untuk pergi.

"Kau tidak takut padaku?"

"Tidak."

"Aku bukan manusia lho." Goda Mino.

"Aku tahu."

"Benarkah?"

"Jangan mengikutiku!" bentak Seungyoon. Seketika Mino menghentikan kedua langkah kakinya. Seungyoon berbalik menatap Mino. "Terima kasih untuk semua hadiahmu." Seungyoon membungkukkan badannya. "Sekarang berhentilah, aku tidak bisa menerima cintamu kau berhak mencari orang yang lebih baik. Mungkin dari bangsamu sendiri. Tapi kau ini sejenis apa ya?" keseriusan Seungyoon selalu saja terkalahkan oleh pikirannya yang terlalu aktif berimajinasi.

"Aku tidak bisa."

Seungyoon menelan ludah dengan susah payah, mendengar jawaban Mino. "Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu."

"Aku sudah punya pacar! Hahaha!" balas Seungyoon kemudian tertawa mencium aroma keberhasilan dari senjata ampuhnya.

"Aku tidak peduli."

"Apa?! Kau ini kepala batu! Aku sudah punya pacar jadi selamat tinggal." Seungyoon melambaikan tangannya sebelum berbalik dan berjalan pergi. Seungyoon tersenyum puas saat langkah kaki Mino tak lagi terdengar.

"Tinggalkan pacarmu."

"Ya Ampun!" pekik Seungyoon sambil memegangi dadanya. "Bisakah kau muncul dengan cara biasa?! Jangan muncul dengan cara ajaib seperti itu! Aku bisa mati muda karena serangan jantung!" Seungyoon melampiaskan kemarahannya dengan panjang lebar.

"Tinggalkan pacarmu."

"Memangnya kau siapa seenak jidatmu memerintahku?!"

"Aku kekasihmu."

"Hah?! Mana mungkin! Jangan seenaknya sendiri ya! Sejak kapan?!"

"Sejak kau lahir."

"Sejak aku lahir—hei berarti kau sangat tua."

"Tidak, aku masih sangat muda."

"Tapi kau tahu kapan aku lahir."

"Aku jelaskan kapan-kapan, sekarang kita bahas urusan yang lebih penting."

"Urusan apa?!" Seungyoon berusaha mengelak.

"Urusanmu dengan laki-laki bernama Kim Jinwoo itu. Tinggalkan dia karena kau milikku."

"Milikmu?! Memangnya aku barang?! Enak saja, sana pergi dasar makhluk aneh."

"Kau milikku suka atau tidak, dan jika kau tidak meninggalkan Jinwoo kau akan menyesal."

"Wow kau mengancamku? Maaf aku tidak takut, sana pergi." Seungyoon membalas tatapan tajam Mino. "Aku tidak memberimu ijin untuk berada di sekitar rumahku atau bahkan masuk ke dalam rumahku, aku peringatkan itu."

"Kita lihat saja siapa yang akan menang, kau tahu melenyapkan Jinwoo bukanlah hal yang sulit untukku."

"Kau tidak akan berani melakukan itu?!" pekik Seungyoon dia bahkan tidak berani membayangkan Jinwoo terluka. "Kau tidak akan menyentuhnya!"

"Kenapa aku tidak berani? Aku memiliki cukup alasan untuk melenyapkannya."

Seungyoon menarik nafas dalam-dalam berusaha keras untuk menekan ketakutannya. "Memang apa yang bisa kau lakukan?" Seungyoon merutuki kebodohannya dia tahu pertanyaan yang baru saja ia lontarkan tidak akan membawanya kemanapun.

"Kau mau apa? Bunga sakura mekar di musim panas." Mino menjentikkan jarinya dan seluruh pohon sakura di halaman rumah Seungyoon serampak berbunga selama beberapa detik sebelum Mino menjentikkan jarinya untuk yang kedua kalinya dan semua pohon itu kembali normal. "Atau kau mau salju turun di musim panas?" Seungyoon hanya terpaku saat sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya. "Atau kau mau sesuatu yang lebih serius? Lebih menghancurkan?" bersamaan dengan itu Seungyoon mendengar suara pecahan kaca yang sangat keras dari rumahnya.

Seungyoon melirik dari ekor matanya dan melihat seluruh kaca jendela dan pintu rumahnya hancur berantakan. "Kau tahu akan sangat mudah meledakkan kepala Jinwoo." Mino melangkah maju, mengangkat dagu Seungyoon dengan telunjuk kanannya. "Selama ini aku selalu mengalah. Sekarang tidak lagi. Aku tidak akan mengalah dan aku tidak akan menunggu lagi. Sampai jumpa Kang Seungyoon."

Seungyoon terduduk di atas tanah yang keras, kedua kakinya seolah kehilangan semua tulang penopangnya. "Apa dosaku di kehidupan lalu? Apa leluhurku membuat dosa besar sampai-sampai ada makhluk gila seperti dia yang mengincarku." Racau seorang Kang Seungyoon. Setelah menguatkan dirinya, Seungyoon berlari kembali ke dalam rumah.

Tidak ada lagi pecahan kaca, semua kaca kembali utuh seperti semula seolah-olah semua itu hanya imajinasi seorang Kang Seungyoon saja. Seungyoon berlari menuju kamarnya, membuka lemari pakaian, setelah sebelumnya ia mengambil kardus kosong dari gudang. Ia keluarkan semua hadiah dan surat-surat dengan inisal S.M dari dalam lemari.

Susah payah Seungyoon mengangkat kardus yang terisi penuh dengan barang-barang hadiah yang ia terima ke halaman belakang. Kemudian dia kembali ke dalam untuk mengambil barang terakhir yang tidak bisa ia bawa sekaligus, gitar yang sebenarnya sayang untuk di buang. "Hah! Lihat sekarang aku lenyapkan semua!" pekik Seungyoon sambil menuangkan bensin. Namun, belum sempat Seungyoon menyalakan korek api tiba-tiba hujan deras turun tanpa peringatan.

"Ya! Kau curang!" teriak Seungyoon sambil berlari ke beranda untuk berteduh. "Hujan ini pasti ulahmu?!" hardik Seungyoon yang langsung dibalas dengan gelegar petir. "Sial! Umpat Seungyoon. "Tapi barang-barang pemberianmu basah semua dan pasti rusak, jadi akulah pemenangnya."

Seketika hujan deras itu berhenti dengan cara menakjubkan. Seungyoon benar-benar menikmati kemenangannya diapun menghampiri barang-barang laknat itu. Semuanya dalam keadaan kering kecuali kotak korek api yang Seungyoon jatuhkan tadi. Dengan kesal Seungyoon mengurut batang hidungnya. "Kau benar-benar menyebalkan!" desisnya sebelum memutuskan untuk pergi mengambil korek dan bensin baru dari dalam gudang.

Namun setelah ia mengambil korek dan bensin baru kejadian yang sama terulang kembali. "Kau hentikan semuanya! Kau membuatku sangat marah dasar makhluk aneh, makhluk asing, makhluk tidak dikenal, makhluk gila, psikopat, pedofil!" teriak Seungyoon sekuat tenaga hingga terengah-engah. Pandangannya tertuju pada kardus laknat di dekatnya. "Baiklah jika ini tidak berhasil lihat saja aku masih punya rencana cadangan."

Dengan susah payah Seungyoon mengangkat kardus barang-barang dan gitar laknatnya. Dia berjalan memutari rumah, tujuannya adalah membuang barang-barang itu ke pojok perumahan, supaya besok pagi semua barang itu diangkut oleh truk sampah. Sesampainya di tempat tujuan ia jatuhkan kardus di tangannya kemudian disusul dengan gitar yang sebenarnya sangat sayang untuk dibuang. "Aku ingin menyimpanmu," gumam Seungyoon sedih menatap gitar di hadapannya. Seungyoon mendesah pelan sebelum berbalik dan berlari pergi sebelum niatnya untuk membuang gitar itu berubah.

Seungyoon bersiul-siul bahagia dalam perjalanannya kembali ke rumah, semua barang-barang pemberian S.M itu sudah lenyap dari kehidupannya. Saat dirinya melewati pohon sakura yang ia yakini menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh makhluk aneh itu, Seungyoon mencibir. "Aku pasti menang jangan remehkan kekuatan manusia." Senyum lebar terukir di wajah Seungyoon kemudian diapun berlari menuju rumah dengan langkah-langkah ringan.

"APAAAA?!" teriak Seungyoon sekuat tenaga untung saja ia tinggal di kawasan perumahan mewah bukan kawasan padat penduduk. Bisa dibayangkan jika dirinya tinggal di kawasan padat penduduk dengan teriakkan sekeras itu.

Teriakkan itu bukan tanpa alasan, saat Seungyoon membuka pintu rumahnya barang-barang laknat itu sudah diletakkan di atas meja ruang tamu dengan rapi. "Dasar suka main curang. Dia masuk ke dalam rumahku seenaknya sendiri." Seungyoon kembali keluar rumah, dia ingin membeli sesuatu di toko swalayan dua puluh empat jam.

¶¶¶

Seungyoon berjalan menghampiri rak kebutuhan rumah tangga. "Lem lalat ampuh dijamin lalat tidak bisa terbang lagi." Seungyoon mengerutkan dahinya. "Ah lem lalat kurang kuat, aku butuh sesuatu yang lebih kuat dan lebih besar." Ia letakkan kembali lem lalat ke dalam raknya sebelum berjalan-jalan untuk melihat-lihat barang yang ia pikir tepat untuk kasusnya. "Ini sepertinya cukup."

Seungyoon mengambil dua puluh kotak lem tikus, memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan dan membawanya ke kasir. Setelah membayar semua barang yang ia beli dan mengacuhkan tatapan dari si kasir yang mungkin belum pernah melihat orang membeli lem tikus dalam jumlah luar biasa. Seungyoon pulang dengan perasaan puas.

Seungyoon meletakkan lem tikus itu di depan jendela dan pintu rumahnya. "Rasakan! Saat kau masuk dan kejutan! Kakimu menginjak lem tikus, seharusnya kau bersyukur aku tidak menebar paku payung." Seungyoon menatap puas lem tikus terakhir yang ia letakkan di depan pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan balkon.

"Itu hanya jebakan murahan."

"Astaga!" pekik Seungyoon berbalik dan memegangi dadanya, karena kehadiran Mino yang tiba-tiba. "Bisakah kau muncul dengan cara normal?!" teriaknya kesal.

"Jika aku muncul dengan cara yang normal pasti kakiku menginjak lem tikus."

"Itu yang aku harapkan," bisik Seungyoon pelan.

"Senjata makan tuan."

"Apa mak…" Seungyoon menunduk dan mendapati kaki kanannya yang berbalut kaos kaki putih baru menginjak lem tikus jebakannya. "Sial!" pekiknya dan lebih menyebalkan lagi saat ia dapati makhluk aneh itu menghilang dari hadapannya. "Muncul tiba-tiba! pergi tiba-tiba! dan sekarang kakiku menginjak lem! Ahhh…, hidupku benar-benar tragis." Dengan pasrah Seungyoon melepas kaos kaki barunya dan mencampakkannya ke dalam tempat sampah.

Seungyoon melirik jam dinding yang sudah menunjuk angka tengah malam. "Baiklah aku ngantuk sekarang, aku lanjutkan perlawananku besok pagi," gumam Seungyoon sambil menyeret tubuhnya menuju kamar.

To Be Continued….