Chapter 4

Fire

Halo ini chapter 4 update malam-malam ala uji nyali. Ada yang punya rekomendari fanfic yang bagus tidak? Kalau bisa yang sudah selesai hehehe karena waktu nyari sendiri ada fic yang bagus tapi gak selesai. Mengecewakan…., terima kasih untuk para pembaca dan terima kasih atas masukannya. Salah ketik, alur terlalu cepat, cerita aneh gak nyambung ya semua itu kesalahan saya, harap maklum. Oke selamat membaca

¶¶¶

"Kang Seungyoon kau ada waktu hari ini?"

"Ya Hyung, aku selalu ada waktu untukmu."

"Pulang sekolah aku jemput ya kita jalan-jalan."

"Ini kencan ya Hyung?"

"Hahaha! Mungkin—terserah kau mau menyebutnya apa."

"Baiklah aku tunggu Hyung di depan gerbang sekolah."

Seungyoon mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam kemeja seragamnya. Otaknya sudah memutar berbagai momen indah yang akan ia habiskan dengan Jinwoo hari ini.

"Kenapa cengar-cengir seperti itu?" Ejek Taehyun.

"Diam kau. Aku sedang kasmaran."

"Menyebalkan sekali! Aku heran bagaimana Jinwoo hyung bisa menyukai orang sepertimu?"

"Nam Taehyun hari ini suasana hatiku sangat baik—jadi akan aku abaikan kata-kata kurang sopanmu itu."

"Kurang sopan bagian mana? Semua itu kenyataan, seharusnya seorang Kim Jinwoo bisa mendapatkan orang yang lebih baik darimu."

"Lebih baik dariku? Kau?"

"Kira-kira seperti itu."

"Tidak mungkin seorang Kim Jinwoo memilih bocah tengil sepertimu."

"Ya! Kang Seungyoon! Mau merasakan bogem mentahku!"

"Tabahkan hatimu Taehyun aku yakin kau akan mendapatkan kekasih yang baik suatu saat nanti."

Taehyun hanya mendesis pelan sebelum memutuskan untuk pergi, meninggalkan Seungyoon seorang diri di atap sekolah. Melihat seorang Kang Seungyoon yang sedang kasmaran sangat menjijikkan bagi Taehyun. "Apa-apaan dia itu?" keluh Seungyoon sambil menoleh melirik punggung Taehyun.

"Jam istirahat ya?"

Seungyoon hanya memutar kedua bola matanya jengah. "Kau siapa?"

"Kau lupa padaku?"

"Bukan begitu namamu siapa? Aku tidak mungkin memanggilmu makhluk aneh selamanya kan?" Tanya Seungyoon tanpa menoleh.

"Apa kau menerima cintaku sekarang?"

"Cih! Jangan mimpi!" bentak Seungyoon.

"Baiklah, namaku Mino."

"Mino. Kau sudah tahu namaku jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri."

"Sudah makan siang?" Mino mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Seungyoon, bersandar pada pagar pengaman.

"Apa urusanmu?" Seungyoon balik bertanya dengan malas.

"Aku tidak mau kau sakit."

"Aku sudah makan." Seungyoon berbalik bermaksud untuk pergi karena kehadiran Mino sangat membosankan, tidak menarik perhatian, tidak membuat jantungnya berdebar kencang. "Oh ya, satu lagi aku tidak ingin menyimpan barang-barang pemberianmu."

"Kang Seungyoon. Aku menunggumu sangat lama apa kau tidak bisa mengerti?"

"Kau tidak bisa memaksaku Mino."

"Bisakah kau memberiku kesempatan, kau bisa belajar untuk mencintaiku perlahan-lahan."

Seungyoon hanya menggeleng pelan. "Sepertinya memang tidak bisa ya?" Mino menatap sedih kepada Seungyoon, namun itu hanya beberapa detik saja sebelum sebuah senyuman yang terlihat berbahaya muncul menghiasi wajahnya. "Baiklah jika keinginanmu bermain kasar."

Seungyoon berbalik menatap Mino. "Sebenarnya kau siapa? Kenapa memilihku? Bukankah ini Negara merdeka? Memaksa seseorang adalah tindakan melanggar hukum."

"Itu hanya hukuman untuk sesama manusi, aku elf. Hukum itu tidak berlaku padaku."

Seungyoon yakin jika bukan dirinya yang mendengar pengakuan Mino tentang siapa dirinya, pasti mereka akan tertawa terbahak-bahak dan menganggap otak Mino sinting. Tapi Seungyoon mengetahui dengan pasti bahwa Mino bukanlah seorang manusia. "Aku pernah mendengar bahwa elf adalah makhluk yang indah." Ucap Seungyoon.

"Apa kau mengakuinya setelah bertemu denganku?"

Seungyoon mengamati lekat-lekat wajah dan postur tubuh Mino, tampan. Tentu saja makhluk yang berdiri di hadapannya sekarang sangat tampan. Tapi masalah cinta tidak bisa hanya diukur dari penampilan fisik saja. "Ya kau sangat tampan."

"Kenapa kau tidak bisa jatuh cinta padaku?"

"Aku melempar pertanyaan yang sama padamu, kenapa kau tidak bisa mencintai bangsamu sendiri daripada membuang waktumu untuk memaksaku?"

Mino mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat. Pertanyaan Seungyoon benar-benar telak. Seungyoon bisa melihat raut wajah Mino berubah keras. "Jangan menemui Kim Jinwoo." Ucap Mino singkat sebelum menghilang dari hadapan Seungyoon bersamaan dengan hembusan angin musim panas.

Seungyoon hanya mengerutkan dahinya sebelum berbalik dan berjalan pergi meninggalkan atap sekolah. Peringatan Mino, tentu saja ia abaikan. Jinwoo sangat penting bagi hidupnya. Sementara Mino hanya makhluk aneh yang tiba-tiba muncul dan menyatakan cinta padanya.

¶¶¶

Seungyoon benar-benar menikmati hari sekolahnya, sungguh pelajaran yang membosankan sama sekali tidak terasa saat dirinya berpikir tentang hal-hal menyenangkan yang akan dilakukannya sepulang sekolah nanti bersama Kim Jinwoo. Saat bel tanda pelajaran berakhir Seungyoon dengan cepat melesat keluar kelas, tidak peduli dengan tatapan penuh kebencian yang diberikan Taehyun.

"Hyung!" Pekik Seungyoon saat dilihatnya Jinwoo sudah menunggunya di depan gerbang sekolah. Seungyoon berlari dengan cepat menuju ke tempat Jinwoo berdiri. "Hyung sudah lama menungguku?"

"Belum, mungkin baru sepuluh menit."

"Terima kasih Hyung sudah datang menjemputku."

"Tidak masalah aku kan membawa kendaraan sendiri. Ayo pergi sekarang supaya kita pulang tidak terlalu malam nanti."

"Baiklah." Seungyoon mengangguk pelan kemudian dengan bahagia dia duduk di kursi penumpang. Tidak ada yang terjadi, Seungyoon yakin ancaman Mino hanya omong kosong belaka. "Kita akan pergi kemana?"

"Kafe langganan, maaf aku tidak bisa mengajakmu ke tempat yang lebih jauh. Ternyata hari liburku diubah jadi aku memanfaatkan jam istirahat untuk keluar denganmu."

"Tidak masalah Hyung."

"Terima kasih Seungyoon." Tangan kanan Jinwoo bergerak untuk menggenggam tangan kiri Seungyoon. Seungyoon yang mengetahui hal itu dari pantulan kaca spion hanya bersikap seolah-olah tidak melihat maksud Jinwoo.

Seungyoon menggigit pipi bagian dalamnya saat tangan Jinwoo berhasil menggenggam tangannya. Sakit, entah mengapa sentuhan tangan Jinwoo pada permukaan kulitnya menimbulkan rasa terbakar. Seungyoon ingin bertahan, tapi rasa terbakar itu sungguh menyakitkan dan membuatnya terpaksa menarik tangannya dari genggaman Jinwoo.

"Ada apa?" nada khawatir terdengar jelas dari pertanyaan Jinwoo.

"Tidak apa-apa Hyung, hanya telapak tanganku gatal mungkin ada serangga yang menggigit."

"Oh begitu aku pikir aku menggenggam terlalu kuat."

Seungyoon hanya melempar senyuman seadanya sebelum pandangannya kembali tertuju pada jalanan yang mereka lewati. Lima menit kemudian mobil yang Jinwoo kendarai terparkir rapi di depan kafe langganan mereka.

"Seungyoon apa kau tahu jika sesuatu mengganggu Taehyun?"

"Apa?"

"Entahlah sekarang dia bersikap dingin padaku."

"Oh itu."

"Kau tahu?"

"Tentu saja Taehyun menyukaimu tapi kau memilihku Hyung karena itu dia kesal. Tenang saja Taehyun itu tipe orang yang mudah berpindah hati." Jinwoo hanya membalas pernyataan Seungyoon dengan sebuah tawa yang membuat jantung Seungyoon berdetak dua kali lebih cepat.

Tangan Seungyoon bergerak untuk menggenggam tangan Jinwoo, memasuki kafe dengan cara bergandengan tangan pasti sangat menyenangkan, begitulah pikiran Seungyoon berteriak dengan girang. Namun, rasa panas itu kembali mengejutkan Seungyoon bagaimana mungkin kulit tangan Jinwoo berubah menjadi sepanas api.

"Seungyoon kau baik-baik saja?"

"I—iya Hyung." Balas Seungyoon terbata, diliriknya telapak tangan Jinwoo dan tidak ada yang aneh dari telapak tangan Jinwoo. Sebuah meja yang terletak di dekat jendela menjadi pilihan Jinwoo, dengan semangat Seungyoon mengikuti langkah kaki laki-laki yang lebih tua darinya itu.

Jinwoo meraih buku menu memeriksa deretan menu yang tertulis di dalamnya dengan mata menyipit, terlihat sangat imut di mata Seungyoon. "Sepertinya makanan yang dingin dan manis cocok untuk musim panas."

"Aku setuju dengan Hyung."

Seungyoon memeriksa keadaan di dalam kafe sementara Jinwoo menulis pesanan mereka. "Bagaimana sekolahmu?"

"Oh." Seungyoon kembali mengalihkan perhatiannya kepada Jinwoo. "Lumayan, tidak ada yang istimewa."

"Pelajaranmu, apa kau mengalami kesulitan?"

"Tidak ada Hyung jika aku kesulitan aku pasti langsung minta tolong Seunghoon hyung."

¶¶¶

"Aku akan mengantarmu pulang. Apa kau senang hari ini?"

"Ya, aku senang sekali Hyung."

"Apa ada sesuatu yang terjadi Seungyoon?" Jinwo melempar tatapan penuh curiga kepada Seungyoon sebab berulang kali anak itu menghindari sentuhannya.

"Ah tidak ada Hyung." Balas Seungyoon sambil melempar senyum palsu, tidak mungkin kan dia mengatakan bahwa sentuhan Jinwoo terasa panas membakar. Seungyoon melangkah keluar saat mobil Jinwoo berhenti di depan rumahnya. "Sampai jumpa Hyung!" ucap Seungyoon girang kemudian membungkukkan badannya.

Seungyoon melambaikan tangannya hingga mobil Jinwoo menghilang dari pandangannya. Kemudian dengan langkah menghentak-hentak karena kesal dia berjalan menyusuri halaman rumahnya. Seungyoon berhenti di depan salah satu pohon sakura kemudian menghadiahinya sebuah tendangan. "Ya! Kau cari gara-gara ya?! Menghancurkan kesenanganku!"

"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" Mino bertanya sambil melompat turun dari cabang pohon dan berdiri di hadapan Seungyoon.

"Pohon ini kan tempat kesukaanmu, dasar kurang kerjaan."

"Kenapa kesal seperti itu? bukankah orang yang baru pulang kencan seharusnya bahagia?"

"Jangan menggodaku! Dan jangan pura-pura polos. Ini semua pasti rencanamu."

"Rencana apa?" Mino melempar tatapan polos yang membuat Seungyoon semakin kesal.

"Cih!" desis Seungyoon. "Oh ya kau selalu mengabulkan permintaanku, sekarang jika aku minta kau pergi dari hidupku apa kau akan mengabulkannya?"

"Tidak." Balas Mino singkat.

"Sudah aku duga, makhluk sial." Seungyoon melengos pergi tanpa menunggu reaksi dari Mino, toh makhluk itu bisa muncul di mana-mana sesuka hatinya.

"Hei! Kau mau kemana?!" pekik Mino dugaan Seungyoon tepat sekarang Mino berjalan di sampingnya dan melempar pertanyaan menyebalkan tanpa henti.

"Pergi." Balas Seungyoon singkat.

"Kau tidak masuk ke rumahmu?"

"Tidak."

"Kau mau kemana?"

"Rahasia."

"Kau pikir bisa kabur dariku?"

"Tidak ada salahnya mencoba."

"Pergi dengan seragam?"

"Terserah aku! Diamlah! Mulutmu itu tidak lelah ya bergerak terus?!"

GREPP! Mino menggenggam pergelangan tangan kanan Seungyoon dan menariknya kembali memasuki halaman rumahnya. "Apa yang kau lakukan?!"

"Memaksamu."

"Memaksaku? Ya! Apa kau akan memperkosaku?! Lepaskan! Apa kau gila!" Seungyoon meronta namun apa daya Mino bukanlah manusia. Mino masih menyeretnya menaiki anak tangga menuju pintu masuk. Seungyoon semakin panik, dia harus melakukan pembelaan diri terakhir.

Dengan sekuat tenaga Seungyoon menendang punggung Mino, pengalaman dari perkelahian yang sering ia ikuti bersama Taehyun ternyata membuahkan hasil. Mungkin karena terkejut genggaman tangan Mino terlepas. Seungyoon berbalik dan berlari dengan tergesa hingga dia lupa jika ada anak tangga di bawahnya.

BRUUKK! "Kang Seungyoon!" pekik Mino panik.

Seungyoon terduduk di atas tanah sambil memegangi kaki kanannya. "Apa kau baik-baik saja?" Gumam Mino pelan sambil duduk di samping Seungyoon.

"Sakit…," keluh Seungyoon. "Sepertinya kakiku patah."

"Jangan bercanda!" pekik Mino.

"Siapa yang bercanda dengan masalah sepenting ini?! Dasar makhluk gila!" teriak Seungyoon marah.

"Aku bisa menyembuhkanmu sekarang juga."

"Tidak mau! Menyingkirlah! Jauhi aku!" Mino berdiri mengambil langkah mundur menjauhi Seungyoon, penolakan Seungyoon benar-benar melukai dirinya sekarang. Namun, dia akan tetap memperhatikan Seungyoon memastikan anak itu baik-baik saja.

Seungyoon mengambil ponsel dari dalam saku kemeja seragamnya untuk menghubungi ambulans. Sementara itu Mino hanya bisa terdiam dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Seungyoon.

"Tidak, kepala saya tidak sakit iya saya masih sadar hanya kaki kanan saya yang sepertinya patah. Baik terima kasih." Seungyoon mendesah pelan setelah menyebutkan alamat tempat tinggalnya secara lengkap. Kakinya terasa lumayan baik pasti karena hormone adrenalin yang dilepas oleh tubuhya, dan besok pasti rasanya sangat sakit.

Saat ambulans datang dan petugas kesehatan membawanya Kang Seungyoon tidak melihat kehadiran Mino. "Pasti kabur," gumamnya pelan.

"Siapa? Apa ada yang menyerangmu?" salah seorang petugas medis yang tak sengaja mendengar Seungyoon bertanya dengan tatapan serius.

"Oh tidak ada Tuan, tidak ada siapa-siapa hanya kucing liar yang biasa mampir ke rumah."

¶¶¶

"Kang Seungyoon apa yang kau pikirkan sampai terjatuh?!" pekik Jinwoo dengan panik.

"Hanya terpelest Hyung tidak apa-apa, ternyata kakiku hanya terkilir saja tidak sampai patah." Balas Seungyoon kemudian nyengir lebar.

PLAAKK! Sebuah pukulan mendarat mulus di puncak kepala Seungyoon. "Hyung Aku sedang sakit jahat sekali." Rengek Seungyoon.

"Aku cemas sekali kau tahu! Aku bahkan tidak sempat makan malam!" gerutu Jinwoo.

"Oh kebetulan aku juga belum makan, kita makan bersama ya Hyung."

"Tidak. Kau harus makan makanan rumah sakitmu." Seungyoon menjulurkan lidahnya kemudian menggerutu dan sedikit menyelipkan kalimat-kalimat cemoohan untuk Jinwoo. Jinwoo hanya tersenyum maklum karena Seungyoon masih anak SMA.

"Hyung aku ingin pulang di sini tidak asyik."

"Kau ini! Belum satu hari di rumah sakit sudah mau pulang. Kalau di rumah siapa yang akan menjagamu?"

"Aku bisa sendiri aku kan sudah dewasa Hyung biasanya Nyonya Nam datang." Balas Seungyoon meyakinkan Jinwoo dengan menyebutkan ibu sahabat karibnya, Nam Taehyun.

"Mungkin aku harus menghubungi ayah dan ibumu."

"Tidak usah Hyung mereka juga tidak akan peduli. Mereka tidak mungkin pulang."

"Kau tinggal bersamaku dan Seunghoon saja untuk sementara waktu sampai keadaanmu pulih, bagaimana?"

Seungyoon menggigit pipi bagian dalamnya. Tawaran Jinwoo terdengar seperti ide bagus yang menyenangkan tapi bagaimana dengan Mino. Seungyoon yakin makhluk aneh itu tidak akan tinggal diam dan dirinya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada Jinwoo, tersayangnya.

"Terima kasih Hyung tapi aku benar-benar bisa mengurus diriku sendiri." Jinwoo melempar tatapan tidak yakin kepada Seungyoon. "Baiklah jika Hyung bersikeras untuk membantuku, begini saja tolong carikan tempat tinggal untukku. Aku ingin tinggal di tempat yang lebih kecil."

"Kau berencana pindah?!" pekik Jinwoo terkejut.

"Ya Hyung."

"Oh kalau itu aku dengar di apartemen Taehyun ada, nanti aku hubungi Nyonya Nam untuk konfirmasi. Apa kau bersedia tinggal berdekatan dengan Taehyun?"

"Tentu saja aku bersedia! Tapi kenapa Taehyun tidak memberitahuku ya?"

"Apa kau memberitahunya tentang rencana kepindahanmu?"

"Tidak Hyung."

"Kang Seungyoon kau yakin kepalamu tidak terbentur sesuatu?"

"Hyung…," rengek Seungyoon kemudian diiringi oleh tawa keduanya. Jinwoo memukul pelan lutut Seungyoon yang sehat. Keduanya tampak begitu bahagia tanpa sadar akan kehadiran seseorang yang mengawasi dari luar jendela kamar Kang Seungyoon.

"Kenapa kau tidak bisa mengerti perasaanku Seungyoon." Mino menatap sedih kedekatan Seungyoon dengan Kim Jinwoo.

To Be Continued….