Complementary
(11th Chapter)
The Paradox of Lost Complementary
"Kyungsoo sayang, aku akan sangat senang jika istriku mau menerima keputusanku. Pergilah, aku akan menjemputmu nanti."
Segera Kyungsoo menjauhkan diri dari Kai. Ia keluar dan sekedar melambaikan tangan.
'Hah~'
Sudah berapa lama dia tidak pergi ke pusat pembelajaran? Beberapa kali dia mencoba datang ke perpustakaan daerah setelah lulus sekolah namun rasanya akan berbeda jika memiliki tenaga pengajar.
Jika saja Kai mengizinkan dia segera mengikuti kursus violin, maka akan sangat menyenangkan. Sepertinya Kyungsoo harus memberitahu Chanyeol tidak perlu menjemputnya. Dia tidak akan menyentuh violin hingga ujian berlalu. Bukankah itu masuk dalam kesepakatan bersama Kai menjelang ujian beberapa minggu lagi.
Lelaki itu mengambil sebagian hidup Kyungsoo dan mencoba menggantinya dengan kehadiran pria itu sendiri. Seolah memperlihatkan pada Kyungsoo jika di sekitarnya ada mahluk hidup yang lebih baik daripada musik.
Present by RoséBear
Main cast: Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Sugery
Walau sudah diperingatkan tampaknya Chanyeol benar-benar tidak memiliki pekerjaan setelah setumpuk ujian yang dia lakukan. Kini dia datang seorang diri. Tampak begitu dewasa saat duduk di bangku halaman parkir tempat gedung kursus Kyungsoo. Sedikit sibuk dengan ponselnya setelah mengabaikan puluhan anak manusia yang keluar dari gedung. Melewatkan beberapa tatapan terpesona wanita muda tentang wajah tampan serta tubuh atletisnya.
"Woaghh! Kau mengejutkanku!"
Tiba-tiba saja pria itu berteriak ketika mendongakkan kepala mengetahui wajah Kyungsoo begitu dekat dengan layar ponselnya.
"Ya Baekhyun-ie... Aku juga merindukanmu. Mari berken hmphhhhh ya! Ya! Lepaskan aku Chan!"
Kyungsoo meronta ketika Chanyeol menekan kepala dan mulutnya secara bersamaan setelah ia mengejek pria tinggi itu.
"Ya anak ini! Itu malanggar privasi Do Kyungsoo!"
Chanyeol melepaskannya, namun perempuan itu menjadi tidak peduli. Dia melangkah pergi setelah menginjak kaki Chanyeol. Membuat pria tinggi mengikuti langkahnya keluar dari halaman gedung.
"Bukankah sudah kukatakan Kai akan menjemputku. Kau tidak seharusnya datang." Kyungsoo setengah mengeram kesal atas kehadiran Chanyeol sore ini.
"Oleh karena itu aku perlu bicara dengannya. Walau bagaimana pun dr. Kim setidaknya harus memberimu alasan yang jelas. Aku sangat mengenalmu Kyungsoo. Setidaknya sampai kau menikah dengan dokter muda itu."
Kini dia menyamai langkah Kyungsoo. Pada kalimat terakhir suaranya terdengar seperti sebuah bisikan.
"Makan ramyun denganku? Aku bisa membicarakan kompetisimu dengan dengan dr. Kim. " Chanyeol bertanya pelan namun penuh pemaksaan.
"Tidak. Ahh itu Kai!"
Kyungsoo berseru melihat pria tan telah menunggu di depan. Bersender di samping mobil dan menjadi sorotan beberapa wanita. Ya. Dia memang sangat tampan, rambut setengah gelap yang di tarik ke atas menyisahkan beberapa helai saja, bukankah beberapa waktu yang lalu Kyungsoo juga baru mencukur Kai. Wajahnya menjadi lebih bersih, jangan lupakan setelan pakaian yang pria itu kenakan membuatnya semakin berkharisma.
"Kebetulan. Aku bisa menumpang sampai rumah kalian."
Pernyataan Chanyeol membawa tatapan terkejut Kai. Lebih tepatnya pria itu menyerang Chanyeol dengan pandangan matanya ketika jarak mereka menjadi beberapa langkah saja.
"Apakah kamu pikir aku akan mengizinkan?"
Chanyeol melepaskan tawanya mendengar ucapan Kai yang terdengar sakratis.
"Ya!" Dia setengah berseru. "Aku hanya ingin bicara denganmu "
"Ya! Ya! Cepatlah masuk ke belakang Chan! Tidak keberatan kan?"
Kyungsoo bertanya pada Kai setelah mendorong Chanyeol masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana kau akan membayar tumpangan saudaramu yang satu ini?"
Mereka tidak langsung masuk setelah mengurung Chanyeol di dalam mobil. Pria itu menahan langkah Kyungsoo dengan menghalangi jalannya menuju pintu penumpang depan. Setengah bersender dan kepala di topang oleh jemari tangan yang mana sikunya bertahan pada mobil.
Kyungsoo memutar bola matanya malas.
"Apa yang kau inginkan? Chanyeol bilang ada yang ingin dia bicarakan denganmu. Kenapa meminta bayaran padaku?"
Tatapan Kai seakan menelanjangi tubuh Kyungsoo. Secara reflek wanita itu menyilangkan kedua tangan di depan dada membuat Kai tertawa geli.
"Lain kali jika ingin bercinta denganku jangan pernah mencoba mabuk terlebih dahulu."
Perkataan Kai yang setengah berbisik sukses membuat wajah Kyungsoo merah merona. Panas menjalar di sekujur tubuhnya. Pria itu kemudian memutar jalan menuju ke balik kemudi.
Oh ya Tuhan. Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam. Kyungsoo masih mencoba memaksa otak pintarnya untuk mengingat dengan baik.
'Apa Kai menginginkan bercinta lagi denganku?'
Sepanjang perjalanan pulang yang hanya beberapa menit saja membuat Kyungsoo terdiam. Dia terlalu larut dalam pikiran bodohnya.
'Jika iya. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika dia marah kalau aku menolak.'
"Arghhh!"
Tanpa sadar ia berteriak ketika Kai hendak melepaskan sabuk pengamannya. Mereka telah tiba di rumah. Bahkan Chanyeol sudah turun lebih dulu.
Kai memandang Kyungsoo bingung. Wajah pria tan itu mengernyit kemudian ia tertawa geli dengan sikap kekanak-kanakan Kyungsoo.
"Apa yang kau pikirkan sampai harus berteriak begitu?"
Dia mengabaikan Kyungsoo setelah melepaskan sabuk pengaman. Pria itu segera keluar dari mobil.
"Aku hanya akan lima belas menit di rumah. Setelah itu harus kembali ke rumah sakit. Jadi apa yang ingin kamu katakan?"
Kai masuk lebih dulu disusul oleh Chanyeol dan Kyungsoo.
Sementara perempuan itu menyiapkan makanan ringan dan minuman hangat di dapur kecil mereka. Saat itu Chanyeol sibuk menarik perhatian Kai.
Dia tidak bicara bahkan sampai Kyungsoo kembali untuk mengantarkan makanan ringan mereka.
"Bisakah kamu langsung bicara?" terdengar menuntut tapi Kai ingin mengakhiri kunjungan Chanyeol dengan segera.
"Bisakah kita bicara berdua saja? Bicara antar lelaki."
Kai menaikkan alisnya meminta pengulangan ucapan Chanyeol barusan, sayangnya pria tinggi masih mengangguk tanda membenarkan.
Akhirnya Kai beranjak, membawa Chanyeol mengikuti ke dalam ruang sempit di dekat pintu kamar. Ruangan yang disesaki beberapa buku dan dokumen pribadi milik Kai. Itu adalah ruang kerjanya, beberapa bagian bacaan terlihat menempel.
Chanyeol menutup pintu kemudian bersender seolah melarang Kai untuk keluar. Dia mengabaikan sofa yang disediakan di dalam ruangan dangan memilih tetap berdiri.
"Kamu ingin bicara tentang Kyungsoo?" Kai bertanya pelan, lelaki itu bersender di ujung meja kerjanya. Melipat tangan di dada dan memandang Chanyeol.
"Ya. Tentang anak perempuan yang sudah seperti saudariku sendiri dan sekarang dia menjadi wanitamu. Jangan terkejut bila aku meminta tidak bisakah kau mencintainya?"
"Heoh?" Tentu saja Kai terkejut dengan permintaan Chanyeol. Kenapa tiba-tiba Chanyeol harus bertanya demikian?
"Jangan salah paham. Aku tidak berniat memisahkan Kyungsoo darimu. Sejujurnya aku senang dia memilikimu hanya saja dr. Kim. Dia benar-benar sudah seperti saudariku. Aku tahu kau tidak mengenal Kyungsoo dengan baik, bahkan kesalahpahaman dan pilihan yang harus dia lakukan, aku mengerti Kyungsoo berusaha untuk itu. Tapi peraturan yang kau buat untuknya. Bisakah kau mempertimbangkannya? Bukan hanya tentang kompetisi ini, tapi lebih dari pada itu."
"Apa yang sedang kamu bicarakan tuan Park?"
Kai baru saja akan melangkah untuk membuka pintu namun Chanyeol masih bertahan di sana.
"Karena kau tidak mengenalnya dengan baik. Maka biarkan aku memberitahumu, Kyungsoo tersiksa dengan peraturanmu. Dia menjadi lebih murung dan terlihat begitu lemah karenamu. Dia tidak akan bicara karena dia menjagamu di hadapan orang-orang, tapi aku tahu itu. Bicaranya lebih sedikit, dia juga sering linglung dalam beberapa waktu kunjungan ataupun perbincangan kami di telepon."
Kai benar-benar memerah menahan marah untuk ucapan Chanyeol.
"Ya. Kau bisa sangat marah padaku karena Kyungsoo bercerita tapi tidak banyak setelah pernikahan kalian. Aku mengetahuinya bahkan sebelum pernikahan mendadak itu. Dia sedang berusaha menjadi istri yang baik dr. Kim. Jadi bisakah kau mencoba mencintainya? Bukan hanya Kyungsoo, tapi juga apa yang disukainya, musik. Bila kau menjawab iya maka aku akan lebih banyak memberitahumu untuk mengenal Kyungsoo."
Kai tersenyum meremehkan pada Chanyeol, pria tan tidak menghentikan langkahnya. Dia Mendorong tubuh Chanyeol pelan dan memegang knop pintu.
"Aku cukup banyak tahu tentangnya karena dr. Do telah bercerita padaku. Bukankah sebaiknya kamu pulang? Seorang suami baru saja akan meninggalkan istrinya seorang diri di rumah untuk kembali bekerja. Jadi silahkan pulang tuan Park."
Chanyeol hanya tersulut emosi. Dia menjadi sangat marah pada perkataan Kai. "Kalau kau menolak aku tidak bisa apa-apa. Tapi kusarankan kau memberi izin pada Kyungsoo untuk kompetisi kali ini dan..."
Chanyeol menyingkirkan tangan Kai dari knop pintu. "Paman Do tidak mengenal Kyungsoo dengan baik. Aku permisi dr. Kim."
Chanyeol membuka pintu lebih dulu meninggalkan Kai begitu saja.
"Kyungsoo! Aku harus pulang. Jika ada waktu, ibu ingin kau belajar memasak dengannya."
Saat itu Kyungsoo baru keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian. Dia mengangguk, "Sampaikan salamku pada Paman dan bibi."
Kyungsoo menahan diri untuk tidak memeluk Chanyeol di hadapan Kai. Hanya saja Chanyeol tahu reaksi tertahan Kyungsoo membuat pria tinggi itu tertawa geli karena Kyungsoo menahan kebiasaannya.
"Ya. Aku permisi dr. Kim."
Setelah memastikan Chanyeol pergi, Kyungsoo berjalan mendekati Kai.
"Bicara apa? Dia membicarakan kompetisi itu? Tadi dia berencana seperti itu."
Kyungsoo sedikit terkejut melihat reaksi Kai ketika lelaki ini hanya memandanginya. Benarkah Chanyeol telah membicarakan kompetisi itu? Apa membuat Kai marah atau berubah pikiran? Tiba-tiba saja dia menjadi gugup.
"Kai?"
Tidak ada jawaban yang pasti. Pria tan mencium kening Kyungsoo membuat ia menutup mata merasakan kelembutan itu.
"Aku akan kembali satu jam lagi. Jangan bukakan pintu untuk siapapun. Bersikaplah seolah tidak ada orang di rumah."
Kyungsoo mengangguk paham. Tidakkah sebaiknya dia membersihkan diri dan menyiapkan makan malam mereka?
Tidak beranjak dari tempatnya berdiri, Kyungsoo hanya melambaikan tangan singkat lalu tersenyum saat Kai membalik tubuhnya untuk memastikan keberadaan Kyungsoo.
Namun pria tan itu tiba-tiba saja berjalan kembali dan menahan kepala Kyungsoo. Ia menunduk mendekatkan wajahnya. Pria itu tidak meminta izin, dia ingin menghilangkan esensi spontanitas saat mencium Kyungsoo. Keduanya memejamkan mata, merasa mendapatkan respon penerimaan dari Kyungsoo membuat Kai menekan bibirnya lembut. Tangannya menyentuh leher Kyungsoo, tidak menuntut agar wanita itu mendongak dan memperdalam ciumannya, hanya sentuhan yang akan membuat keduanya merasa nyaman. Dia bahkan tidak melepaskan lidahnya untuk menguasai Kyungsoo, benar-benar sebuah ciuman yang begitu lembut juga mesra.
"Ingat pesanku. Jangan bukakan pintu untuk siapapun."
Chup
Sebuah ciuman singkat dan begitu cepat. Kini dia benar-benar melangkah keluar. Beberapa saat Kyungsoo larut dalam kehangatan yang Kai berikan. Dia sama sekali tidak menolak semua perlakukan Kai. Buru-buru ia mengunci pintu dengan rapat sebelum membersihkan diri dan menyiapkan makan malam mereka.
~ RoséBear~
Sementara di rumah sakit, dengan susah payah Kai menyelesaikan pekerjaannya. Ia benar-benar-benar ingin cepat pulang dan menemui Kyungsoo. Setelah menitipkan kakeknya pada kepala perawat, pria itu bergegas mengambil mantelnya. Saat berjalan pulang kembali ia berapapasan dengan Kris. Lelaki itu terlihat lebih baik dengan rambut yang baru dirapikan, tapi kantung matanya terlihat memperburuk penampilan sebagai psikiater.
"Kai, aku harus bicara denganmu."
Menghela napas beratnya, sejujurnya Kai mulai kesal dengan Kris. Dia tidak terlalu suka dengan psikiater ini, tidak pernah terpikir di benak Kai untuk menolong Kris.
"Pasien yang kukatakan padamu semakin sering mengalami semester. Itu memperburuk keadaanya. Bisakah kau pertimbangkan tawaranku?"
Tiba-tiba saja ia berlutut mengejutkan Kai. Apa benar pasien itu cinta pertama Kris? Membuat pria ini dalam hitungan dua tahun saja tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Membuat status playboy yang melekat pada nama belakangnya terasa diragukan. Tapi dahulu Kai benar-benar ingat bagaimana lelaki ini mendekati Yixing dengan begitu agresif. Jika mengingatkan, dia membenci lelaki ini.
"Sudah kukatakan aku tidak tertarik. Lebih baik kamu meminta dokter lain saja. Aku harus pulang."
"Henry bilang dia menyukai istrimu! Wanita yang dilatihnya waktu itu, dia istrimu bukan?"
Wajah Kai mengeras. Ia memperhatikan sekitar mereka. Beruntung koridor menuju UGD sewaktu itu sepi menjelang malam hari.
"Adik tiriku tidak akan menyerah jika belum mendapatkannya. Dia memiliki sedikit 'masalah' karena ayah kandungnya. Aku ingin membantumu menjauhkannya tapi sepertinya kau tidak berminat membantuku."
Bugh
Saat itu juga Kris tersangkur ke lantai karena tendangan Kai yang tiba-tiba. Napas lelaki itu memburu, terputus-putus karena emosi.
"Katakan pada adik tirimu menjauhlah dari istriku! Atau otaknya yang akan dioperasi dalam keadaan sadar."
Tidak ada kata apapun lagi. Kai memilih meninggalkan Kris. Bergegas menuju halaman parkir dan tergesa-gesa tidak peduli pada beberapa orang yang memberi hormat padanya. Pikirannya melayang pada bayangan tadi pagi. Segera ia hubungi ponsel Kyungsoo namun tidak mendapati jawaban. Kai butuh beberapa menit untuk sampai di rumah sementara mereka.
Rumah ini masih menggunakan kunci manual, pria itu menghela sedikit napas lega ketika tahu pintu terkunci. Segera ia membuka pintu dengan kunci yang ia punya. Kakinya melangkah begitu lebar mencari keberadaan Kyungsoo.
'Tidak akan sulit untuk mencintai. Tinggal bersama dalam waktu yang lama, semakin lama saling berbagi, tidak ada keraguan dan saling mengisi, memenuhi kebutuhan masing-masing pasangan. Tapi kenapa sulit sekali untuk melindungi orang yang telah kita cintai?'
Pelukannya begitu erat. Jantungnya yang tadi berdetak kacau perlahan kembali ke jalur semula. Perasaannya menghangat walau membuat orang yang ia peluk dari belakang terkejut setengah mati.
"Ka-Kai?" Kyungsoo mencoba memanggil pria itu. Ia merasakan bibir lembut Kai menyentuh tengkuknya. Merambat ke bagian leher dan naik ke rahang Kyungsoo.
"Kau sudah selesai masak?"
Bicara lelaki itu juga lebih tenang setelah ia berhasil mengatur debaran jantungnya.
"Kau kenapa?" Kyungsoo setengah panik karena kedatangan Kai yang tiba-tiba memeluknya.
Lelaki itu menggeleng pelan, membuat helaian rambutnya menyapu leher Kyungsoo berulang kali.
"Kau masak apa?"
Sekarang ia sedikit melonggarkan pekukannya. Membuat Kyungsoo membawa tatapan Kai pada meja makan.
Beberapa makanan berat dan sup labu. Makanan lembut yang Kai suka.
"Terima kasih banyak. Aku akan kembali secepatnya."
Ia melepaskan pelukan dan bergegas berlari ke kamar. Meninggalkan Kyungsoo yang masih kebingungan.
Bahkan saat makanpun pria itu memandangi Kyungsoo, membuat pertanyaan yang nampak jelas dari reaksi Kyungsoo. Tapi Kai terlalu enggan untuk bicara. Lelaki itu menghabiskan makan malamnya dengan cepat. Meminta Kyungsoo untuk mengantarkan makanan ringan ke ruang kerjanya. Kalau sudah seperti ini Kyungsoo juga harus ikut menemani Kai, biasanya dia akan sibuk menyelesaikan beberapa soal untuk persiapan tes.
~ RoséBear~
Malam itu, sebuah keramaian hanya memenuhi pikiran mereka masing-masing. Menciptakan keheningan di ruangan kecil yang terdapat dua rak buku dengan seperangkat meja kerja. Serta sebuah sofa dengan meja selutut. Kedua anak manusia itu berada di tempat masing-masing, terlalu sibuk dengan kertas mereka masing-masing. Dimana Kai mempelajari beberapa jurnal sementara Kyungsoo mencoba memberikan jawaban pada lembar soal.
"Kyungsoo. Apa kau tidak merindukan violinmu?"
"Heoh?" Ia menghentikan pekerjaannya. Mengetuk pensil mekanik beberapa kali ke atas kembar soal. Tampak sangat bingung dengan pertanyaan Kai yang tiba-tiba.
"Kau benar... Saudara angkatmu memintaku memberi izin untuk kompetisi itu."
Kini Kyungsoo bersemangat mendengarkan. Saudara angkat? Memang begitulah Kyungsoo memperkenalkan Chanyeol pada Kai dulu. Jadi jangan salahkan pria ini jika menyebutnya begitu.
"Jika aku memberikan izin..."
Dia semakin bersemangat. Apapun akan Kyungsoo lakukan? Jika harus bercinta lagi dengan Kai? Owhh kenapa pikirannya menjadi sangat kotor sekarang, dia bahkan tidak tahu apa yang dilakukan Kai malam itu.
"Maukah kamu berjanji padaku?"
"Ya?" Tanpa pikir panjang Kyungsoo yang duduk di meja terpisah dengan Kai menganggukkan kepala. Wanita itu memandang Kai yang ada di kursi kerjanya, sementara ia duduk di sofa kulit.
"Kemarilah... Aku ingin bicara sembari memelukmu."
Butuh beberapa detik untuk otak cerdas Kyungsoo menyetujui. Tidakkah nada suara Kai seakan lelaki ini kelelahan? Ia tentu tidak mau Kai berubah pikiran. Kyungsoo berjalan mendekat. Duduk dalam pangkuan Kai ketika pria tan itu memutar kursi kerjanya. Membawa Kyungsoo tidak hanya dalam pangkuan, tapi juga pelukan. Merasakan bagaimana halusnya rambut terurai Kyungsoo, tubuh yang hangat di pertengahan musim gugur dan kenyamanan yang ia ciptakan.
"Berjanjilah.. Mulai sekarang kau harus memberitahuku segala hal."
"Semuanya? Maksudmu keseharianku?"
"Ya." Kai kembali menarik istrinya dalam pelukan hangat, membiarkan Kyungsoo merasakan detak jantungnya.
"Tapi tidak untuk musik. Aku belum siap mendengarnya. Kau bisa merahasiakan perkembanganmu dariku." Lelaki itu bicara dengan pelan. Dia tersenyum untuk meyakinkan Kyungsoo.
"Ya Kai, aku akan menunggu sampai kau mau mengatakan alasannya sendiri. Tapi Kai, kau juga akan mengizinkan aku berlatih? Maksudku..." kini Kyungsoo sedikit ragu. Tapi tatapan Kai dalam jarak yang begitu pendek sedang menunggu penjelasannya.
"Keluarga Park baru saja merenovasi rumah mereka. Sebenarnya Chanyeol menawarkan studio kecilnya dan aku juga ingin belajar memasak dari bibi." Dia melanjutkan penjelasannya dengan segera.
"Apakah kafe pertama di mana aku menjemputmu hari itu?" Kyungsoo mengangguk membenarkan jawaban Kai mengenai rumah keluarga Park.
"Penawaran saudara angkatmu tadi sore hum? Ya. Aku mengizinkan. Aku akan mengantarmu, menjemputmu tapi bisakah kau memulainya setelah tes skolastik selesai? Sampai saat itu aku tidak masalah dengan masakanmu yang sekarang . Aku hanya ingin kau bisa fokus agar lulus dalam tes ini."
Tanpa sadar ia merasakan lengan hangat Kyungsoo melingkar di lehernya.
"Terima kasih banyak."
Mungkin akan terasa berat. Tapi keduanya tidak sabar untuk melihat hasilnya nanti .
Kai pernah berkata pada Kyungsoo, tiap kali mendengarkan alunan musik, bahkan hanya sebuah cerita mendalam. Itu membuatnya tidak tenang. Kyungsoo sudah membuktikan itu, Kai mengalami insomnia beberapa waktu, gelisah ketika tidur lalu terbangun pada malam hari.
~ RoséBear~
Monolit-monolit granit di Soraksan dikalungi pohon beech dan maple yang berwarna merah menyala. Mempersiapkan diri menyambutnya musim dingin.
Kedekatan mereka seperti terlarut dalam denting jam, mengingatkan jam biologis Kai ketika Kyungsoo masih bergerak gelisah dalam pelukannya, ia pikir sudah sepuluh menit sejak percakapan terakhir mereka. Kyungsoo belum juga tidur padahal sudah hampir jam sembilan malam. Di luar sana sudah sangat larut dengan angin malam yang berhembus cukup kencang.
"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan? Bukankah kubilang untuk menceritakan semuanya padaku?"
Ia merasakan Kyungsoo mengangguk membuat helaian rambut halus itu bergerak di perpotongan leher Kai.
"Ya. Tentang malam tadi..."
Kai sedikit menarik wajahnya ketika Kyungsoo mencoba mendongakkan kepala.
"Apa kita melakukannya Kai?"
Lama.
Hingga beberapa detik Kai memikirkan lamunan Kyungsoo yang seperti menghindarinya hari ini.
Barulah ia sadari tentang sesuatu. "Jadi kau masih memikirkannya?" Tanpa sadar lelaki itu tertawa membuat wajah Kyungsoo dilimpahi napas hangatnya.
Sekarang ia tahu, Kyungsoo menjadi sangat malu karena pertanyaan balik Kai. Ia merasakan remasan pada kaos dark blue polos yang ia kenakan. Ditariknya napas perlahan lalu membawa tangan Kyungsoo melingkar di leher, dia mencium bibir istrinya lembut.
"Kau ingin mencoba dalam keadaan sadar agar bisa mengingat bagaimana rasanya?"
Diperhatikannya bagaimana Kyungsoo menelan ludah susah payah. Ia tahu Kyungsoo sangat gugup.
"Bukankah sudah aku katakan. Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak memintanya."
"Ta-tapi tadi malam aku memintamu melakukannya,"tiba-tiba suara Kyungsoo terdengar begitu gugup.
"Tidak. Kau tidak memintanya Kyungsoo. Lagipula bagaimana bisa aku bercinta dengan orang yang tidak sadarkan diri?"
Kini mata bulat istrinya membulat sangat lucu?
"Lain kali jangan mengkonsumsi alkohol. Aku benar-benar tidak suka kau memaksa dirimu." Ia menyentuhkan hidungnya, melihat Kyungsoo merapatkan bibir segera.
"Maaf."
Suara Kyungsoo menjadi begitu lembut. Membawa Kai ingin mengangkat wajah istrinya yang begitu manis.
"Apa kau benar-benar ingin merasakannya? Akan kulakukan dengan sangat lembut."
Kyungsoo mengigit bibir bawahnya membuat Kai menggelengkan kepala. Diusapnya bibir itu pelan. "Sudah sering kali kuperingatkan jangan gigit bibir bawahmu."
"Maaf."
Tidak menggigit bibir bawah namun dia menjilati bibirnya. Tanpa sadar terlihat seperti sedang menggoda Kai.
"Oh ya Tuhan. Kyungsoo, bisakah kau memintanya saja agar aku bisa melakukannya tanpa memaksa?"
Tentu saja Kyungsoo bingung. Namun Kai membawa tangannya merasakan pusar gairah lelaki itu dari balik celana piyamanya. Terasa keras dan tersiksa.
"Ka-Kai. Apa kau berjanji akan melakukannya dengan sangat lembut? Maksudku... Ya aku tidak pernah melakukan hal-hal semacam ini sebelumnya. Kau... Kau benar-benar yang pertama bagiku. Aku tidak pernah memintamu karena aku takut pengalaman pertama yang buruk akan merusak pikiranku untuk selanjutnya." Kyungsoo hanya berusaha memberitahu Kai. Pandangannya menyiratkan perasaan takut itu.
Lelaki itu hanya tersenyum lembut,"Ya. Jika kau berjanji mau menerimaku?"
Kyungsoo menganggukkan kepalanya membuat Kai segera berdiri. Kyungsoo terkejut dan mengeratkan pelukannya pada leher lelaki ini.
Kai tidak membawa Kyungsoo ke luar dari ruangan melainkan pergi mendudukkan Kyungsoo di sofa kulit yang ada di ruang kerjanya. Setengah membaringkan wanita itu.
"Aku adalah suamimu, ingat itu terlebih dahulu."
"Ya."
Kai hanya tersenyum. Sedikit memberi jarak untuk bisa melepaskan piyama tidur Kyungsoo. Masih saja perempuan itu tampak malu dengan tubuhnya. Secara reflek Kyungsoo menyilangkan tangannya di dada.
"Kyungsoo. Kau tahu apa yang aku pikirkan?" dia bertanya pelan membuat Kyungsoo menggelengkan kepala.
"Menurutku kau sangat indah. "
Pelan Kai melepaskan silangan tangan Kyungsoo. Ia tersenyum saat wanita itu menurut. Ia turun dari sofa lalu berlutut di lantai. Menarik celana piyama Kyungsoo hingga melepas pakaian dalamnya. Membawa juga kedua kaki Kyungsoo. Membuat posisi senyaman mungkin agar Kyungsoo tidak menolaknya. Dari bawah Kai berusaha meyakinkan Kyungsoo. Membuka lebar-lebar kedua kaki Kyungsoo namun membuat telapak kakinya menyentuh karpet berbulu yang menjadi dasar sofa.
"Aku boleh menyentuhmu?"
Kyungsoo kembali menggigit bibir bawahnya namun segera menganggukkan kepala. Lelaki itu tersenyum cepat. Menahan kedua paha Kyungsoo dengan tangannya, Kai sudah tahu reaksi apa yang akan dibuat Kyungsoo ketika dia mendekatkan wajahnya ke area kewanitaan istrinya. Wanitanya mengerang dan hampir menjepit kepala Kai jika saja kedua tangannya tidak menahan kaki Kyungsoo.
"Hngghhhhh Kaihhhh," Kyungsoo setengah berteriak. Sementara tangannya mencengkram lengan sofa tunggal dengan kuat.
Tapi Kai tidak berhenti. Mencium kedua paha Kyungsoo secara bergantian. Melewati kemaluannya dan hanya dengan sentuhan ringan saja membuat Kyungsoo benar-benar basah. Terasa panas dan menyesakkan.
"Aku tidak akan berhenti Kyungsoo. Setidaknya kau harus merasakannya, percayalah berhubungan seks dengan suamimu sendiri akan menjadi pengalaman yang luar biasa."
Pasrah Kyungsoo menganggukkan kepalanya. Beberapa detik ia kemudian merasakan Kai mengecup kewanitaannya kembali. Oh astaga. Pria itu benar-benar menggodanya dengan sentuhan ringan. Beberapa kali menyentuh kewanitaannya. Dari kecupan ringan berubah menjadi tekanan yang membuat seluruh saraf Kyungsoo bereaksi. Mati-matian ia menahan diri karena Kai menahan kedua kakinya tetap terbuka. Kaki-kaki Kyungsoo terangkat. Menyisahkan jempol kakinya yang menyentuh ujung karpet bebulu ketika Kai menekan lidahnya kedalam.
"Owhhhh~ Kaihhhhh."
Kyungsoo mulai mendesah. Percayalah, suaranya benar-benar merdu seperti candu bagi Kai.
Cukup lama bagi Kai untuk membuat Kyungsoo terbiasa dengan sentuhannya. Gadis itu mendapatkan sentuhan pertama yang luar biasa dalam waktu singkat. Napasnya pendek-pendek ketika mengeluarkan cairan orgasme untuk pertama kalinya. Ia menunduk dan merasakan lemas sekujur tubuh ketika Kai menjauhkan kepalanya. Lelaki itu berdiri di hadapan Kyungsoo. Mengisyaratkan agar istrinya mau merasakan miliknya. Sedikit gugup Kyungsoo baru saja akan menurunkan celana piyama Kai tapi ia menahan lengan Kyungsoo.
"Aku tidak akan menyakitimu. Percayalah itu."
Kyungsoo mengangguk sembari mengigit bibir bawahnya. Ia mendapat ciuman dalam ketika Kai mencondongkan tubuhnya. "Lihat aku Kyungsoo."
Dia benar-benar melihat Kai saat menurunkan piyama lelaki itu. Merasakan ereksi Kai yang telah terbentuk entah sejak kapan. Menyentuh dan merasakan kehangatan dari kejantanan Kai.
"Ahhhh." Lelaki itu mengerang merasakan sentuhan jari-jari lentik Kyungsoo menekan miliknya.
Memejamkan mata erat ketika Kyungsoo mem beranikan diri memajukan mulutnya merasakan milik Kai.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Meraih senderan sofa agar bisa menahan sentuhan Kyungsoo. Padahal wanita ini tidak pernah melakuka seks sebelumnya, namun terasa begitu ahli, mungkin karena Kyungsoo sering memegang tangkai dan menekan senar biola.
"Oughhhhh~" ia mengerang tertahan merasakan gigi-gigi Kyungsoo menyentuh miliknya. Gadis itu membasahi milik Kai dengan salivanya.
Tiba-tiba saja Kai menarik kepala Kyungsoo melepaskan miliknya ia melepaskan piyamanya, melempar ke sembarang tempat kemudian menarik Kyungsoo untuk berdiri. Menjatuhkan tubuhnya pada sofa tunggal barulah Kai meminta Kyungsoo duduk di pangkuannya. Sedikit mengangkang dan benar-benar mengangkang ketika Kai membuka kedua kakinya. Kyungsoo duduk membelakangi Kai, posisi ini membuat kedua kakinya terangkat ke udara tanpa menyentuh karpet berbulu. Kedua tangan Kyungsoo mencengkram erat lengan sofa ketika Kai mencengkram pinggulnya semakin merapatkan tubuh mereka, mengangkat tubuh Kyungsoo dan wanita itu mengerang menahan sakit ketika kejantanan Kai berusaha menembus kewanitaannya.
"Arghhhhh... Kaihhhhh."
"Shhhh sementara jangan banyak bergerak Kyungsoo, ini tidak akan menyakitkan."
Kai berusaha meyakinkan istrinya. Berbisik pelan tepat di telinga Kyungsoo. Ia tidak tahu akan sesakit apa, tapi erangan Kyungsoo membuatnya harus bisa sedikit menahan diri. Dia adalah lelaki pertama bagi Kyungsoo. Tanpa diduga Kai merapatkan kakinya, membuat kejantanan lelaki itu semakin menerobos kewanitaan Kyungsoo.
"Bergeraklah Kyungsoo."
Dengan bantuan Kai maka Kyungsoo mulai bergerak, sedikit memutar. Kepalanya mendongak. Ini pertama kalinya ia dimasuki seseorang. Rasanya perih namun berubah menjadi sebuah kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Merasakan lidah hangat Kai pada tengkuk lehernya sedikit basah, membiarkan lidah Kai menjelajah hingga leher dan mendapatkan bagian bawah rahang Kyungsoo.
Kai hanya berusaha mengalihkan perhatian Kyungsoo, jemarinya menggenggam payudara Kyungsoo membuat tubuh itu menggelinjang karena sentuhan yang tiba-tiba pada area sensitif yang lain dari tubunya. Mulai menggerakkan wanita itu untuk semakin merasakan penyatuan mereka.
Rasanya ereksi Kai di dalam diri Kyungsoo semakin membesar. Membuat ia mengangkat Kyungsoo keseluruhan. Melepaskan penyatuan mereka dalam beberapa detik sebelum kemudian membalikkan tubuh Kyungsoo menghadapnya. Kembali bersatu dan sukses membuat Kyungsoo mencengkram pundaknya kasar, meninggalkan luka gores.
"Arghhhhhhhh~ Kaihhhh sakithhhh." Kyungsoo merintih kesakitan. Kaki Kyungsoo mulai menapak karpet.
"Bergeraklah sayang, kau bisa merasakannya berubah menjadi kenikmatan."
Bagaimana ketika Kai mencium bibir Kyungsoo dengan lembut. Membuat tubuh keduanya semakin rapat satu sama lain.
"Naikkan kakimu ke sofa baru bergeraklah Sayang."
Kyungsoo menganggukkan kepalanya. Pelan dengan menahan rasa sakit dan berkedut ia menarik kedua lututnya menaiki sofa tunggal yang cukup lebar.
Perlahan ia mulai bergerak, berjalan untuk penetrasi yang lebih lagi. Keduanya menggerakkan pahanya naik turun menimbulkan gesekkan ereksi Kai pada kewanitaan Kyungsoo. Perlahan lelaki itu mulai merasakan robekan pada kewanitaan Kyungsoo. Tapi wanita itu sama sekali tidak berhenti untuk penyatuan mereka, ia melampiaskan rasa sakit dengan mencakar pundak Kai tanpa melepaskan penyatuan mereka. Semakin memperdalam penyatuan.
"Arghhh..." Kai benar-benar mengerang merasakan milik Kyungsoo yang mulai terasa sedikit menerimanya.
"Hgnhhhhhh~" sementara Kyungsoo mendesah Kai meraih bibir hati yang tidak pernah kehabisan rasa manisnya.
Ia tentu tidak ingin menyiksa Kyungsoo begitu lama. Wanita itu pasti kelelahan menggerakkan dirinya. Kai mulai menggerakkan tubuhnya seirama dengan Kyungsoo membuat penyatuan mereka semakin dalam setiap kali gerakkan yang ia ciptakan hingga meraih puncak kenikmatan secara bersama-sama.
"Ahhhhhhh~"
Darah Kyungaoo dan juga sperma Kai menyatu, beberapa keluar dari lubang kewanitaan Kyungsoo. Untuk pertama kalinya Kai menumpahkan spermanya pada seorang wanita. Tapi ia sadar, kontrasepsi yang digunakan Kyungsoo tidak akan membuatnya hamil. Tidak saat ini pasti akan ada ketika kontrasepsi itu di lepas. Itu jika keduanya tidak memutuskan untuk berpisah. Bukankah menyenangkan bisa memiliki anak yang bisa di ajari, dirawat hingga dia tumbuh dewasa dan membuat dunia lebih baik.
Ketika itu Kai merasakan napas pendek-pendek Kyungsoo menerpa pundak belakangnya. Istrinya sungguh kelelahan untuk pengalaman pertama. Ia merasakan Kyungsoo semakin berat ketika melepaskan kesadaran.
Bukankah bercinta di sofa menjadi begitu nyaman? Pengalaman pertama yang tidak akan terlupakan, Kai berusaha menanamkan dirinya tidak hanya pada tubuh Kyungsoo, melainkan pikiran wanita ini. Ia sudah berhasil membimbing Kyungsoo merasakan kenyamanan dalam bercinta.
Kai membiarkan Kyungsoo tetap berada di atas tubuhnya. Ia sangat paham jika Kyungsoo pasti sangat kelelahan. Sebenarnya Ia juga lelah setelah bekerja seharian namun perasaannya menjadi menyenangkan ketika bersama Kyungsoo. Mengelus lembut rambut Kyungsoo, merapikan helaian yang menempel pada wajah wanitanya. Sesekali memberikan kecupan pada pipi Kyungsoo. Wanitanya sedang beristirahat dan Kai tidak ingin mengusik Kyungsoo. Tapi dia tidak bisa membiarkan mereka tidur di sofa tunggal ini. Setelah memastikan Kyungsoo tertidur pulas , tanpa melepaskan penyatuan mereka, susah payah pria itu menggendong Kyungsoo seperti membawa anak kecil kembali ke kamarnya. Membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang, melepaskan kejantanannya dari tubuh Kyungsoo. Setidaknya ia harus membersihkan diri walau hanya dengan tisu kemudian tidur bersama sembari memeluk Kyungsoo.
To be continue...
Oke! Akan ada lain kali ^^
-preview Chapter 12-
"Kurasa kau lebih cantik." –Kai
"A-apa yang mau kau lakukan?" –Kyungsoo
Thank You.
RoséBear
[Part 2 : Get in TOUCH 171019]
