Chapter 5

I'm Sorry

Halo ini chapter 5 baiklah basa-basinya tidak akan terlalu panjang, yang jelas saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bersedia membaca, mereview dan mengikuti cerita saya (ala pidato kenegeraaan) selamat membaca ya… tolong kritik yang membangun hehehehe

¶¶¶

"Kang Seungyoon." Seungyoon mengacuhkan panggilan Mino dia terus berjalan menaiki tangga rumahnya dengan susah payah menggunakan tongkat penyangga. "Aku bisa membantumu."

"Diam!" bentak Seungyoon kesal. "Apa kau tidak mengerti apa yang aku katakan sebelumnya, pergi dari hidupku, aku tidak ingin berurusan denganmu lagi."

"Tidak, aku sudah menjawab dengan jelas sebelumnya. Aku tidak akan pergi."

"Aku tidak mungkin meninggalkan Jinwoo! Aku mencintainya!" Seungyoon berteriak sekuat tenaga.

"Aku akan membuatmu meninggalkannya."

"Kau…," desis Seungyoon. "Kau benar-benar membuatku gila!" Seungyoon melempar tongkatnya kesal kemudian menatap Mino, sedikit berpikir. Baiklah tidak ada salahnya sedikit memanfaatkan makhluk aneh di hadapannya sekarang. "Bantu aku pergi ke kamar."

"Apa?!" Mino tidak mempercayai pendengarannnya, Seungyoon menyerah.

"Bantu aku! Apa telingamu tersumbat?!"

"Baiklah jangan berteriak terus, apa tenggorokanmu tidak sakit." Mino berjalan mendekati Seungyoon kemudian memeluk pinggang Seungyoon. "Pejamkan matamu." Perintahnya.

"Kau tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh padaku kan?"

"Percayalah."

Seungyoon pun menurut, ia pejamkan kedua matanya. Dan hal yang ia rasakan hanya semilir angin lembut sebelum Mino memintanya untuk membuka kedua matanya kembali. "Wow!" pekik Seungyoon saat dirinya secara ajaib sudah berada di dalam kamarnya. "Seharusnya aku melihat apa yang terjadi," gumam Seungyoon pelan.

"Kau akan buta jika melihat apa yang terjadi."

"Benarkah?!"

"Untuk apa aku bohong. Kau bisa naik ke tempat tidur sendiri kan? Akan aku ambilkan tongkatmu yang tertinggal di luar."

"Pergilah." Pelan, Seungyoon naik ke atas tempat tidurnya menyamankan tubuhnya kemudian memandangi apapun yang terlihat menarik sekarang.

"Wah kau bisa naik ke atas tempat tidur sendiri." Ucap Mino sok ramah, Seungyoon hanya menghembuskan nafasnya jengah tanpa ada maksud untuk menimpali ucapan Mino. "Apa kau lapar?"

"Tidak."

"Kau yakin? Kau tidak mau Kimbab, Ramyun, atau nasi goreng? Aku bisa pergi membelikannya untukmu. Bagaimana?" tawar Mino dengan gaya sok ramahnya.

"Tidak. Aku tidak lapar. Pergilah aku mau tidur."

"Aku mengerti jika kau marah padaku, maaf, aku minta maaf. Aku mohon maafkan aku."

"Kau pikir maaf saja cukup? Mudah sekali mengucapkan aaf setelah semua perbuatan menyebalkanmu itu." Mino hanya menundukkan wajahnya tidak ingin menatap kedua mata Seungyoon dan membuatnya lebih marah lagi.

"Sebenarnya apa rencanamu seandainya kecelakaan itu tidak terjadi?"

"Entahlah saat itu aku hanya terbawa emosi."

"Bohong!" bentak Seungyoon. "Itu pasti sudah terencana dengan baik di dalam otak anehmu, kau memang makhluk aneh."

"Berhenti mengataiku Kang Seungyoon."

"Kenapa?! Tidak suka?! Kenyataannya kau memang makhluk aneh, bukan manusia." Mino mengepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat tidak ingin terpancing emosi.

"Tidurlah jika perutmu sudah kenyang." Ucap Mino sebelum menghilang dari hadapan Seungyoon. Seungyoon menghembuskan nafas yang bahkan tidak ia sadari sudah ditahannya, matanya memandangi tongkat penyangganya yang Mino letakkan di dekat ranjang tempat tidur.

"Makhluk aneh," gumam Seungyoon sebelum memutuskan untuk tidur.

¶¶¶

Suara berisik di luar mengganggu nyenyaknya acara tidur seorang Kang Seungyoon. Gelap, hanya kegelapan yang pekat menyambut kedua mata Seungyoon pada detik ketika mereka terbuka. Suara berisik di luar ternyata suara berisik yang tercipta akibat hujan badai. Seketika ia tegakkan tubuhnya, meraih ponsel di atas meja nakas untuk menghubungi siapapun hanya untuk mendapati tanda sinyal kosong. "Sial!" umpat Seungyoon.

JDAAR! Suara keras halilintar membuatnya tersentak. Seungyoon mencoba untuk bertahan meski rasa takut menjalar dengan sangat kuat. Hujan badai telah meninggalkan trauma di dalam dirinya, sebuah kejadian yang tidak ingin ia ingat kembali. Suara keras terus bersahut-sahutan di luar, bayangan pepohonan sakura yang terombang-ambing angina tercetak jelas pada tirai jendela kamarnya.

"Hyung," gumam Seungyoon sambil terus berusaha menghubungi Jinwoo. Suara di luar semakin menakutka, Seungyoon berusaha untuk bertahan sekuat tenaga tidak ingin bibirnya mengucapkan nama tabu itu. Kemudian kilatan cahaya yang paling terang terlihat, hanya terpaut satu detik suara menggelgar yang paling kuat meruntuhkan pertahanan Seungyoon. "Mino tolong!"

Seungyoon membulatkan kedua matanya, meski kedua matanya terasa perih karena cahaya terang yang tiba-tiba itu. Mino tidak datang tapi lampu kamarnya hidup, suara hujan, angin, dan halilintar di luar tidak terdengar lagi. Padahal dari jendela kamarnya ia bisa melihat bahwa badai masih berlangsung. Dan listrik masih padam.

"Lebih baik?"

Seungyoon menatap Mino yang sekarang berdiri di tengah ruangan kamarnya. "Lumayan."

"Kau tidak kaget aku muncul tiba-tiba?"

Seungyoon menggeleng pelan. "Lama-lama aku terbiasa."

Mino mengalihkan perhatiannya pada jendela kamar Seungyoon. "Badai belum berhenti, aku tidak bisa membeli makanan dimanapun. Kau pasti lapar."

Seungyoon ingin menolak pernyataan Mino namun suara perutnya benar-benar keluar di saat yang tidak tepat. Mino tersenyum simpul. "Kau sangat lapar. Tidak perlu bohong."

"Aku punya simpanan ramyun, telur, dan sayuran." Seungyoon menatap Mino ragu-ragu, rasanya sangat menyebalkan harus meminta pada seseorang yang kau benci. "Bisakah kau memasakkannya untukku?"

"Tentu, tunggulah aku tidak akan lama."

Seungyoon hanya mengangguk pelan sebelum kerutan di dahinya muncul. "Tunggu! Kau tidak bisa memunculkan makanan secara tiba-tiba?!"

"Aku tidak bisa melakukannya."

"Tapi pohon sakura bisa berbunga, salju di musim panas, kaca pecah, rasa panas."

"Semua itu berhubungan dengan alam, aku berbicara dengan mereka dan meminta bantuan."

"Tapi makanan juga berasal dari alam." Seungyoon bersikeras.

"Aku tidak bisa membujuk bungkus ramyun untuk memasak sendiri Kang Seungyoon, atau meminta restoran sushi mengantar makanan gratis ke rumahmu."

"Tapi,"

"Kita lanjutkan nanti." potong Mino cepat dan berjalan keluar meninggalkan kamar Seungyoon.

"Kenapa tiba-tiba kesal apa dia PMS, mungkin saja kan dia bukan manusia." Gerutu Seungyoon pelan setelah Mino pergi. Seungyoon menarik nafas dalam-dalam dengan pelan dia berdiri dari tempat tidur dan menggunakan tongkat penyangganya.

Ia singkap tirai penutup jendela dan pemandangan hujan badai di luar sana langsung menyambutnya. Ia pejamkan kedua matanya dan mulai membayangkan kejadian di masa lalu yang tidak menyenangkan, kejadian yang berhubungan dengan hujan badai.

"Makanannya sudah siap."

"Terima kasih," gumam Seungyoon.

"Mau aku bantu ke ruang makan?"

"Tidak tapi terima kasih atas tawaranmu." Seungyoon membalikkan tubuhnya dan ia pun berjalan pelan menggunakan tongkat penyangganya keluar kamar menuju ruang makan.

Mino yang terus memperhatikan raut wajah Seungyoon tidak bisa lagi menahan kalimat yang ingin ia ucapkan. "Kau tidak bisa mengubah masa lalu Kang Seungyoon."

"Aku tidak bermaksud mengubah apapun, apa kau bisa menghilangkan ingatanku?"

"Untuk apa?"

Seungyoon menatap Mino, mengiba. "Menghilangkan hal-hal tidak menyenangkan."

"Itu bagian hidupmu kau harus menerimanya."

"Cih! Tidak berguna!" dengus Seungyoon dan Mino hanya bisa membalasnya dengan tatapan geram.

Sesampainya mereka di meja makan Seungyoon langsung menyantap ramyun buatan Mino dengan lahap karena perutnya benar-benar lapar. Seungyoon bermaksud untuk menyumpit lembaran rumput laut kering saat dirinya teringat sesuatu. "Kau lapar?"

"Tidak makanlah dengan pelan jangan sampai tersedak."

Seungyoon memasukkan lima lembar potongan rumput laut kering ke dalam mangkuk ramyunnya. "Kau makan apa?"

"Kau ingin mengetahuinya?"

"Tidak jika makananmu menjijikkan."

Mino menautkan kedua alisya mendengar kalimat Seungyoon. "Kau terlalu sering menonton film horror omong kosong bersama sahabatmu, si belah tengah itu."

"Jangan menghina sahabatku!" peringat Seungyoon serius.

"Maaf." Balas Mino singkat.

"Kenapa kau terus-terusan meminta maaf padaku?"

"Jika salah harus minta maaf kan?" Mino balik melepar pertanyaan kepada Seungyoon.

"Aku hanya bercanda tidak perlu meminta maaf."

"Bercanda? Tapi kau terdengar serius."

Seungyoon hanya melempar kedua bola matanya, jengah menanggapi Mino. Jika makhluk di hadapannya ini sudah mengenal dunia manusia dengan baik bagaimana mungkin dia tidak bisa membedakan arti dibalik sebuah ucapan.

Seungyoon menjauhkan mangkuk ramyun yang kosong dan berdiri dari kursinya. "Terima kasih Mino." Ucapnya sebelum berjalan pergi.

"Tentu." Gumam Mino namun tidak tertangkap oleh kedua telinga Mino.

¶¶¶

Seungyoon merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kembali, hujan badai di luar masih belum berhenti dan sinyal di ponselnya belum juga kembali. Di luar kegelapan masih menyelimuti dengan pekat. Seungyoon menarik nafas dalam-dalam meski listrik di rumahnya secara ajaib menyala namun kilatan di luar masih cukup mengganggunya.

"Kau butuh teman tidur?"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku tahu lebih banyak dibandingkan dirimu sendiri."

"Oh." Balas Seungyoon singkat.

Mino berjalan ke sisi ranjang tempat tidur yang ditempati Seungyoon, ia tersenyum simpul sebelum kembali berjalan menuju jendela kamar. Mino duduk di lantai bersandar pada kaca jendela kamar, menghadap Seungyoon. "Tidurlah aku akan mengawasimu." Ucap Mino.

Seungyoon mengangguk pelan kemudian memejamkan kedua matanya, kehadiran Mino telah mengusir semua rasa takut dan cemasnya terhadap hujan badai yang sedang berlangsung di luar.

¶¶¶

Suara berisik dari luar berhasil membangunkan Seungyoon yang masih setia bergelung di dalam selimut yang sebenarnya terasa panas itu, namun malas ia lepaskan. Saat kedua matanya terbuka Mino sudah mengilang dari tempatnya duduk tadi malam.

Sinyal di ponsel belum kembali, pikirannya langsung tertuju pada betapa parahnya badai tadi malam dan tanpa akses komunikasi ia hanya bisa berharap semoga orang-orang yang dia kenal dalam keadaan baik.

Sambil mengerutkan keningnya Seungyoon memutuskan untuk bangun, meninggalkan tempat tidurnya dalam keadaan berantakan. Melihat sumber suara berisik yang mengganggu mimpi indahnya.

"Apa yang kau lakukan di dapur ruamhku?"

"Membuatkanmu sarapan."

Sambil bertumpu pada kedua tongkat penyangganya Seungyoon memperhatikan Mino yang terlihat seperti pekerja di kafe. Kaos lengan panjang berwarna putih yang ia pakai digulung sampai siku, ditambah mimik wajah seriusnya itu yang terlihat konyol.

"Siapa yang menyuruhmu membuat sarapan?"

"Tidak ada tapi kau membutuhkan sarapan."

"Aku makan di kantin sekolah."

"Sekarang kau tidak bisa pergi ke sekolah kan? Selain karena kau sakit aku rasa jalanan masih belum dibersihkan setelah badai semalam."

"Aku bisa mencari cara lain."

"Seperti?" Mino terus melempar pertanyaan tanpa sedikitpun menghentikan kesibukannya menyiapkan makanan.

"Apapun tanpa bantuanmu."

Sejak hari kelahiran seorang Kang Seungyoon, Song Minho terus memperhatikan dan menjaganya namun di sisi lain masih banyak hal-hal yang tidak dia pahami dari Seungyoon. Seperti kebiasaannya melemparkan kalimat-kalimat menyakitkan tanpa perasaan bersalah.

"Aku sudah berbelanja untukmu, kau bisa sedikit membayarku dengan ucapan terima kasih daripada ucapan kasar seperti tadi."

"Aku tidak kasar Mino, kau saja yang bersikap seenakmu sendiri."

"Seungyoon kesabaranku bisa habis saat menghadapimu." Ucap Mino datar tanpa menunjukkan perasaan yang sebenarnya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan saat kesabaranmu habis? Maaf jika ucapanku melukaimu atau apalah itu. Tinggalkan aku."

"Sarapannya siap kemarilah, tidak baik makan sambil berdiri kan?" Mino melempar tanya sambil memamerkan senyuman manisnya.

"Keras kepala," dengus Seungyoon namun kedua kakinya tetap melangkah menuju meja makan dengan bantuan tongkat penyangganya.

"Begitu kan lebih baik." ucap Mino yang diabaikan oleh Seungyoon karena sibuk melahap Kimbapnya. "Apa rencanamu hari ini?" Seungyoon hanya menjawab dengan mengendikkan bahu saja. "Apa Taehyun, Seunghoon, atau—Jinwoo akan datang?" Lagi-lagi Seungyoon hanya mengendikkan bahu.

Setelah semua potongan Kimbap menghilang dari piring makannya, Seungyoon menenggak air minum dan bersiap pergi tidak memedulikan kehadiran Mino. atau sekedar mengucapkan terima kasih.

"Kau sangat membenciku rupanya."

"Aku tidak membencimu hanya saja—kau itu menjengkelkan seperti nyamuk. Bagaimana jika tubuhmu aku setrum?"

"Jika aku nyamuk berarti aku boleh menghisap darahmu."

Seungyoon hanya memaki dalam hati, merutuki kesalahan pilihan kalimatnya. "Sangat menyebalkan." Desisnya dengan kadar kejengkelan yang semakin bertambah.

"Seungyoon tunggu! Aku ingin meminta maaf dan melakukan apa saja untuk membayar kesalahanku."

Seungyoon menautkan kedua alisnya. Kalimat Mino terdengar menarik. "Apapun?!" pekik Seungyoon.

"Ya apapun kecuali permintaanmu agar aku menghilang dari kehidupanmu."

"Pembohong tadi kau bilang bisa minta bebas, tetap saja bersyarat." Keluh Seungyoon pelan.

"Pikirkan baik-baik, tawaranku tidak datang dua kali."

Seungyoon menatap dalam-dalam wajah Mino yang sekarang sudah berdiri di hadapannya, sesuatu yang bisa membuat Mino tersiksa ya, dirinya harus memikirkan hal itu. "Baiklah aku sebutkan permintaanku."

"Setuju."

"Pertama kau harus melakukan semua pekerjaan rumah tangga sampai semua kekacauan akibat badai ini selesai."

"Itu mudah saja."

"Tanpa kekuatanmu lakukan seperti manusia. Lalu biarkan aku dengan Jinwoo hyung jangan mengganggu kami."

"Aku tidak bisa mengabulkan permintaan keduamu."

"Kenapa tidak bisa? Aku tidak menyuruhmu pergi, kau bisa pergi denganku atau mengawasiku selama aku pergi dengan Jinwoo."

"Apa kau menantangku Seungyoon?"

"Tidak, dirimu sendiri yang mengatakan aku bisa meminta apapun kecuali memintamu untuk pergi."

Mino menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk tidak mengeluarkan amarahnya sekarang. "Baiklah aku kabulkan tapi kau tahu sendiri kan apa resikonya saat kau membuatku marah."

"Dengar Mino. Meski aku lemah dan aku pasti kalah, kau tidak bisa mengatur hidupku. Aku berhak memilih jalan hidupku sendiri, aku juga berhak mencintai siapapun. Aku bukan tikus percobaan. Mungkin, di masa lalu kau pernah tersakiti tapi itu bukan alasan yang membenarkan semua tindakan pemaksaanmu itu. Cinta tidak bisa dipaksakan."

"Aku akan melakukan apapun agar kau menjadi milikku Kang Seungyoon."

"Oh tentu saja kau bisa Mino, mudah saja kau melakukannya kau bisa membuatku bertekuk lutut di hadapanmu dengan semua ancaman yang mungkin sudah kau rencanakan di dalam otakmu itu. Tapi kau hanya bisa memiliki tubuhku bukan hatiku, itu sama saja seperti memiliki mayat atau patung. Lakukan saja permintaanku aku mau mandi."

Mino hanya terpaku di tempat mendengar semua kalimat panjang lebar yang diucapkan oleh seorang Kang Seungyoon. Ingatannya kembali pada waktu yang hampir seratus tahun berlalu. Saat manusia yang ia cintai memberi perlawanan, rupanya kata-kata memiliki dampak yang lebih besar daripada tusukan pedang paling tajam.

"Apa aku terlalu kasar ya?" Seungyoon bertanya kepada bayangannya yang terpantul di dalam cermin oval. "Ah tidak masalah. Salah sendiri memaksa orang." Ucap Seungyoon mencoba membenarkan semua tindakannya.

¶¶¶

"Jangan ke sini lantainya basah!" pekik Mino mengejutkan Seungyoon yang bermaksud pergi ke ruang keluarga untuk menonton film.

"Kau—benar-benar melakukan perintahku." Seungyoon dengan tatapan tidak percayanya yang tampak sangat manis di mata Mino.

"Aku sudah berjanji."

Seungyoon masih melempar tatapan yang sama, Mino mengepel lantai dengan cara manusia normal benar-benar terlihat—terlihat—aneh, unik, diluar dugaan, dan konyol. "Kau jelek sekali Mino!" seru Seungyoon sekuat tenaga kemudian disusul dengan tawa keras yang menggema ke seluruh rumah.

"Kau mau apa ke sini?" Mino bertanya disela-sela kesibukannya mengepel lantai mengabaikan tawa Seungyoon yang sebenarnya sangat menjengkelkan. Dan untuk informasi jangan membayangkan Mino mengepel dengan alat pel berbentuk tongkat dengan ujung sapu pel. Tidak, salah besar. Bayangkanlah seorang Mino mengepel lantai dengan kain, bertumpu pada kedua lutut dan tangan kirinya. Pemandangan yang menakjubkan bukan?

"Aku mau melihat film." Balas Seungyoon menahan tawa.

"Listriknya masih padam."

"Benarkah?!" pekik Seungyoon berarti listrik di rumahnya yang satu-satuny menyala karena kekuatan Mino, ia raih ponsel di saku celana depannya untuk memastikan bahwa Mino tidak sedang bermain-main, dan benar saja tidak ada sinyal. "Aku rasa badai tadi malam sangat hebat."

"Kau mau kemana?"

"Melihat keadaan di luar."

"Lihat dari balkon saja."

"Tidak usah diberi tahu, aku sudah mengerti. Kau pikir aku bodoh." Dengus Seungyoon kemudian dengan berhati-hati diapun bergerak melintasi ruang keluarga menuju balkon.

Hal pertama yang Seungyoon lihat adalah petugas yang sedang membenahi kabel listrik, kabel telepon, kabel internet, dan kabel-kabel lain yang entah berfungsi untuk apa. Langit tampak cerah, matahari bersinar terang, dan halaman rumahnya yang hancur.

Ranting-ranting sakura berserekan, daun yang rindang itu kini hampir menghilang, hancur, halaman rumahnya benar-benar hancur. "Bagaimana menurutmu?" tanya Mino yang entah muncul dari mana namun bukan hal yang aneh lagi bagi Seungyoon sekarang.

"Lumayan berantakan."

"Aku bisa membersihkan semuanya."

"Tidak perlu nanti ada petugas kebersihan yang akan membereskannya."

"Apa kau bersimpati padaku?"

"Berhentilah menaruh harapanmu terlalu tinggi Mino."

"Lalu apa alasanmu melarangku? Aku sudah membebaskanmu meminta apapun padaku."

Seungyoon menoleh menatap wajah Mino dengan jengah. "Dengar baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi. Alasanku kenapa melarangmu membersihkan halaman rumahku yang hancur adalah." Seungyoon mengangkat telunjuk kanannya. "Jika kau menggunakan kekuatanmu di siang bolong seperti ini bisa-bisa nenek tetangga langsung meninggal karena serangan jantung, petugas yang sedang membenahi kabel langsung jatuh, dan banyak kejadian berbahaya lainnya."

"Terima kasih atas pujianmu." Balas Mino menahan kesal.

"Kedua." Lanjut Seungyoon sambil mengangkat jari tengahnya. "Jika kau membersihkan halaman rumahku yang luas dan berantakan ini dengan kekuatan manusia normal, aku bisa dilaporkan ke polisi dengan tuduhan perbudakan modern."

Mino hanya tersenyum kemudian karena wajah Seungyoon tampak sangat manis sekarang tanpa pikir panjang langsung ia cubit pipi kanan Seungyoon dengan lumayan keras. Membuat Seungyoon meringis kesakitan.

"Apa yang kau lakukan?!" Seungyoon langsung menepis tangan Mino dari wajahnya. "Sakit," gerutu Seungyoon sambil mengusap-usap pipi kanannya.

"Aku bisa menyembuhkannya dengan cepat." Mino melempar tatapan menggoda, yang langsung ditolak mentah-mentah.

"Tidak perlu nanti juga sembuh sendiri." Selesaikan saja pekerjaan rumahmu jadilah pembantu yang baik." Ledek Seungyoon yang sangat puas melihat wajah kesal Mino.

"Tunggu Kang Seungyoon."

"Apa lagi?"

"Kau sudah memaafkan aku kan?"

"Untuk?"

"Kakimu yang terluka."

"Oh—aku rasa sudah."

"Terima kasih."

Seungyoon hanya bisa menautkan kedua alisnya bingung dengan sikap Mino yang tiba-tiba menyerah. Dan pasrah. "Tidak masalah." Ucap Seungyoon sebelum berbalik pergi meninggalkan Mino seorang diri di balkon rumahnya.

To Be Continued….