The Paradox of Lost Complementary
Pernahkah terpikir oleh kalian, apa yang akan terjadi dengan miliaran daun di musim gugur? Bukankah mereka telah menjatuhkan diri ke tanah, memperlihatkan betapa indahnya pemandangan musim gugur. Daun-daun itu menari dengan indah kemudian tergeletak begitu saja. Menunggu waktu agar menjadi humus yang berguna di kemudian hari.
Warna - warni daun pada musim gugur, seperti musik pada zaman romantisme sedang berkembang.
Seperti karya-karya awal beberapa komponis terbaik di dunia. Nada terbuka dimainkan pada bagian musik yang cepat, yang mana suaranya kurang lebih akan sulit dibedakan.
Kai selalu berkata jika dia tidak dekat dengan ibunya. Hanya satu alasan untuk bantahan itu, karena setiap hari dia di paksa memainkan piano dengan latihan yang keras. Tidak sekali dua kali ia menerima pukulan pada jarinya karena salah memainkan nada. Kai dituntut untuk melakukan permaianan yang sempurna seperti yang tertera pada partitur. Dia seperti robot dengan pengendali jarak jauh yang dipegang ibunya. Menyedihkan walau orang-orang tidak tahu tentang perjuangan yang dia lakukan untuk mendapatkan piala-piala kemenangan dalam berbagai kompetisi piano.
Ketika itu di mulai, dia hanya bocah berumur empat tahun yang kemudian menangis sesegukan, seorang diri di dalam kamar mandi. Bertahun-tahun ia mendapatkan tekanan yang luar biasa.
Hingga libur musim panas ketika berumur tujuh tahun, saat berlibur ke tempat kakeknya ia bertemu seorang anak perempuan yang membawanya untuk berani bicara di depan seseorang. Pertama kalinya Kai kemudian menolak permintaan ibunya dan untuk pertama kali dia memohon agar ibunya berhenti menyiksa. Bahkan berteriak hingga mendapat tamparan dari sang ibu.
Kai membenci Ibunya, membenci musik yang menjadi ambisi ibunya. Karena musik dia harus menerima semua siksaan yang tidak didapatkan oleh anak seusianya.
Saat itu, Suho tidak banyak membantu. Kakak yang lebih tua beberapa tahun itu tinggal bersama kakeknya setelah memasuki sekolah dasar. Butuh perjalanan setengah jam dengan mobil untuk bisa berkunjung satu sama lain.
Kemudian malam itu, Kai mendengar pengakuan ayahnya. Dia bertengkar dengan menggunakan teriakan bersama sang Ayah. Tepat sebulan setelah kematian ibunya. Tidak bisa dikatakan jika dia cukup dewasa, namun dia juga bukan anak-anak lagi. Penyangkalan sang Ayah membuat Kai sangat yakin.
Pria tampan itu mengabaikan kedua putranya setelah kepergian istri yang begitu di cintainya.
Complementary
(12th Chapter)
Present by RoséBear
Main cast: Kai x Kyungsoo (KaiSoo)
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Sugery
Pagi ini Kai yang terbangun lebih dulu, pria itu menarik tubuh telanjang Kyungsoo untuk semakin merapat. Saling menghangatkan satu sama lain dengan tubuh mereka. Dikecupnya kening Kyungsoo dan tersenyum. Wajah damai Kyungsoo ketika tidur adalah energy pagi harinya.
Seperti pohon yang menggugurkan daun di musim gugur untuk bertahan melewati musim dingin agar bisa mekar kembali di musim semi nanti. Dia membuang semua beban itu untuk bisa melihat matahari musim semi bersinar.
Jemari tangannya menyentuh pipi gembil Kyungsoo, menyingkirkan helaian rambut dari wajah wanita manis itu. Sebuah pagi yang begitu tenang.
"Terima kasih banyak kau mau bertahan denganku. Suatu hari nanti aku ingin memberitahumu," Ia mengecup kening Kyungsoo sekali lagi memberitahu betapa dia menyayangi wanita ini. Apapun yang terjadi, satu-satunya yang tidak ingin Kai lakukan adalah menyakiti Kyungsoo.
"Terima kasih banyak Kyungsoo. Kau adalah hal termanis yang pernah kurasakan."
Kai ingin kembali terlelap. Rasanya seperti mimpi, bukankah sampai setengah bulan yang lalu di jam yang sama dia akan berkutat dengan pasien-pasien ataupun operasi dadakan di rumah sakit. Tapi sejak menikah, setiap pagi Ia mendapati betapa cerianya pagi hari di musim gugur. Terasa hangat dan saat merasakan jantung seseorang berdetak dalam pelukannya. Itu adalah musik terindah yang pernah Kai dengar.
Jemari tangannya menyingkap selimut, ia meraih ponsel di atas meja lalu mengetik beberapa pesan dan mengirimkan pada seseorang.
Kai kembali tertidur pulas dengan memeluk istrinya. Hanya setengah jam setelah itu Kyungsoo terbangun. Dia ingin merenggangkan tubuh namun mengalami kesulitan karena lengan seseorang memeluk begitu erat.
Berat hati mata bulat itu mulai terbuka dan menemukan wajah Kai yang begitu dekat. Kyungsoo tersenyum kecil.
"Selamat pagi." Bisiknya pelan.
Dia tidak bisa lepas begitu saja. Kyungsoo menurunkan selimut dan menyadari udara dingin segera menerpa tubuhnya.
Oh astaga. Dia masih telanjang di balik selimut ini. Hangat yang ditularkan Kai kemudian berubah menjadi panas. Menyerang hingga bagian wajah Kyungsoo.
'Apa tadi malam mereka benar-benar bercinta?' Diraihnya tubuh Kai dengan perlahan. Merasakan tubuh telanjang Kai di balik selimut.
Kyungsoo terdiam sejenak. Baru saja dia ingin mendorong tubuh ke samping untuk melepaskan diri dari pelukan Kai, ia berteriak kecil merasakan kejutan tiba-tiba.
"Arghhh."
Saat itu juga mata Kai terbuka. Lelaki itu kembali terbangun, tidak sekedar membuka mata namun juga segera bangkit.
"Kyungsoo? Ada apa?" Alarm kesadaran Kai berbunyi sangat nyaring hingga membawanya segera menyadari situasi. Kyungsoo berteriak kesakitan dan wajah wanita itu kini mengernyit.
"Perihhh."
Kyungsoo meremas ujung selimut melampiaskan rasa perih yang barusan ia katakan kepada Kai. Lelaki itu terlalu cerdas untuk memperlambat otaknya berpikir. Kai segera tahu sumber rasa sakit yang dikatakan Kyungsoo. Sebagai seorang lelaki sejati, ia setengah menunduk. Meraih genggaman tangan Kyungsoo. Hal kecil yang Kai pikir bisa membantu meredakan rasa sakit di alami istrinya.
"Masih sakit?"
Kyungsoo mengangguk.
"Kalau begitu kembali beristirahat. Mau minum?"
Sekali lagi Kyungsoo mengangguk. Lelaki itu segera membantu Kyungsoo bersender pada ranjang. Mengambilkan segelas air yang memang selalu tersedia di atas nakas. Membantu istrinya minum dengan perlahan.
"Terima kasih. Oh astaga Kai. Kau harus bekerja."
Kai mengikuti arah pandang Kyungsoo. Sudah hampir jam delapan pagi ternyata dan bisa di pastikan Kai terlambat pergi bekerja.
"Tidak apa. Aku sudah menghubungi seseorang menggantikan hingga siang ini. Tapi sebaiknya aku benar-benar izin untuk satu hari. Kau juga tidak perlu pergi ke kelas persiapan. Sebaiknya kau istirahat saja."
Untuk kali ini Kyungsoo menggeleng, dia menolak penawaran Kai.
"Aku baik-baik saja Kai."
Lelaki itu mengecek suhu badan Kyungsoo. Membuat mata bulat itu terpejam merasakan hangat telapak tangan Kai.
"Tidak, kau sedikit demam. Sebaiknya kusiapkan sarapan untukmu."
Ia turun dari ranjang. Tidak peduli peda tubuh telanjangnya, Kyungsoo menutup pandangan dengan selimut. Oh Kai benar-benar tidak mengenal malu. Mengambil celana piyama yang baru dari dalam lemari. Lelaki itu pergi meninggalkan Kyungsoo.
Rasanya butuh setengah jam bagi Kai menyiapkan sarapan untuk Kyungsoo. Padahal hanya roti panggang dan cream sup saja. Dia kembali ke dalam kamar. Menemukan Kyungsoo masih dalam balutan selimut namun telah kembali berbaring.
Tanpa menimbulkan keributan, lelaki itu duduk di pinggir ranjang.
"Kyungsoo. Sebaiknya kau makan, aku akan memandikanmu setelah itu." Bisikan Kai tepat di telinga Kyungsoo.
"Hmmmm?"
Hanya sebuah gumaman pelan sebagai sebuah jawaban.
Tapi Kai tidak menerima penolakan. Ia memaksa Kyungsoo untuk menghabiskan sarapannya lalu membawa tubuh telanjang itu memasuki kamar mandi.
"Apa kau sering memandikan pasienmu sebelumnya?"
Kai yang berada di luar bathup sedikit terkikik geli mendengar pertanyaan Kyungsoo. Digosoknya tengkuk gadis itu dengan gerakan yang lembut.
"Kau pasien pertama yang kumandikan. Tapi dulu seseorang sering kali memandikanku dengan cara seperti ini." Dia bicara seolah sedang kembali ke masa lalu.
"Siapa?" dengarlah sekarang bagaimana Kyungsoo mulai penasaran.
Kai mendekatkan diri pada Kyungsoo, ia menampilkan pose berpikir yang cukup lama.
"Kurasa ibuku. Sebelum dia duduk di kursi roda."
"Ibumu sakit?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir hati Kyungsoo.
"Untuk waktu yang sangat lama. Bisakah kita tidak membicarakannya!?"
Kyungsoo mempout bibirnya lucu. Ia bergumam pelan, "bukankah kau yang membawa topik ini padaku. Kenapa membentakku?"
Kai mengangkat dagu Kyungsoo dengan sentuhan yang begitu lembut untuk menarik kembali perhatian wanita ini.
"Bukan maksudku untuk membentakmu. Tapi aku tidak ingin membahasnya." Suaranya bahkan masih terdengar begitu tenang.
"Ibumu sangat cantik Kai. Aku melihatnya di dalam album keluarga kalian."
Kai mencondongkan kepalanya mendekati Kyungsoo. Mengamati wajah wanitanya yang masih di dalam bathup penuh busa dan air hangat, "kurasa kau lebih cantik."
Rasanya wajah Kyungsoo memerah karena ucapan pria itu.
.-
Setelah selesai memandikan Kyungsoo, ia bawa kembali gadis itu kembali ke kamar. Mendudukkannya di pinggir ranjang sementara Ia ke ruang ganti mencari pakaian untuk Kyungsoo.
"Kyungsoo? Bagaimana kalau hari kau menggunakan jubah tidur saja? Jika menggunakan celana kupikir itu akan menyakitimu."
Alis Kyungsoo terangkat mendapati Kai bersender di daun pintu ruang ganti. Wanita itu menggeleng. Dia inginkan celananya, lagian Kyungsoo tidak memiliki jubah tidur. Tapi pada akhirnya Kai hanya membawa kemeja biru miliknya. Ingatan Kyungsoo melayang pada hari sebelumnya. Di mana ia mendapati tubuhnya juga menggunakan kemeja Kai.
"Tunggu sebentar." Pria itu berseru.
Kai keluar dari kamar, kembali dengan membawa handuk kering serta baskom berisikan batu es. Lelaki itu berlutut di hadapan Kyungsoo. Membuka lebar pahanya seperti saat di sofa tadi malam.
"A-apa yang mau kau lakukan?"
Kyungsoo mendadak menjadi gugup dengan perlakuan Kai.
"Tenanglah aku tidak punya salep pereda nyeri. Tapi bisa gunakan batu es ini. Tahan sebentar sayang. Maaf karena menyakitkan untuk pengalaman pertamamu."
Kyungsoo mendesis saat handuk dingin itu menyentuh area kewanitaannya. Ia meremas seprai kuat, membuat kakinya reflek terangkat.
"Hsssshhhhhhh."
Kai menahan kaki Kyungsoo sudah payah. Istrinya benar-benar tidak biasa disentuh.
"Hahh!" napas Kyungsoo putus-putus. Menjatuhkan tubuhnya telentang di atas ranjang dengan dada naik turun. Handuk yang Kyungsoo gunakan telah terbuka dari ikatannya. Menampilkan dua payudara yang ikut bergerak.
Tapi Kai segera memasangkan kemejanya. Lalu membantu Kyungsoo untuk kembali duduk.
"Kai?"
"Hm?"
Kyungsoo memeluk erat tubuh atas Kai yang tidak mengenakan pakaian.
"Apa maksudmu pengalaman pertama? Apa kemarin kita benar-benar tidak melakukannya?" dia bertanya karena masih penasaran. Sejujurnya Kyungsoo masih belum yakin apa malam itu mereka benar-benar tidak melakukannya
"Tidak."
Kai mengelus lembut kepala Kyungsoo memberikan kecupan hangat pada dahi istrinya. Kembali Kyungsoo menggigit bibir bawahnya menahan malu. Astaga. dia memikirkan itu sepanjang hari nyatanya Kai benar-benar menolak ajakannya malam itu. Ya. Walaupun malam tadi mereka benar-benar sudah melakukannya.
"Jangan malu padaku. Aku sudah menerima permintaanmu untuk bercinta. Hahh! apa yang harus kita lakukan seharian di rumah? Menonton TV?" kini ia bertanya setelah berpikir sejenak.
"Kau tidak akan pergi bekerja Kai?" Kyungsoo bertanya setelah menghilangkan perasaan sebelumnya.
Kai mendekatkan wajahnya. "Aku tidak meninggalkan pasienku tanpa dokter pengganti."
"Apa kakek..."
"dr. Do sudah kembali dari konferensi daerah. Jangan khawatir, keadaan kakek benar-benar stabil belakangan ini." dia memotong ucapan Kyungsoo segera. Lalu berganti dengan sebuah pertanyaan lain."Mau menonton movie bersamaku?"
"Baiklah. Tidak ada pilihan lain bukan?"
Satu hari menjadi begitu menyenangkan. Entah kenapa Kyungsoo merasa sangat bahagia. Kai memperlakukannya dengan sangat baik dalam satu hari penuh.
Walau sekedar duduk di sofa, merangkul bahu lelaki itu dan mendapatkan belaian pada rambutnya. Setidaknya, rasa kesepian Kyungsoo sedikit berkurang karena kehadiran pria ini. Bahkan dia memanjakan Kyungsoo. Memijat punggung dan kaki Kyungsoo sesering mungkin.
~ RoséBear~
"Ya anak bodoh! Apa yang kau lakukan di kamarku?"
Kyungsoo yang dipanggil anak bodoh oleh Chanyeol hanya menyengir. Ia beranjak dari ranjang Chanyeol dan berlari memeluk teman dekatnya. Tapi gerakan Kyungsoo cepat berhenti, dia masih merasa nyeri di bagian bawah karena seks yang dia lakukan bersama Kai kemarin malam.
"Terima kasih banyak. Karena kunjunganmu dua hari lalu Kai mengizinkan aku ikut lomba."
"Benarkah?"
Tadinya Chanyeol ingin marah karena Kyungsoo menghabiskan cemilan di kamarnya namun tidak jadi setelah mendengar kabar gembira dari Kyungsoo. Apalagi wanita itu kembali duduk ke pinggir ranjang dengan sikap yang aneh.
"Ya," Kyungsoo menganggukkan kepala. "Tapi dia bilang aku boleh menyentuh violin jika ujiannya selesai."
Chanyeol membiarkan Kyungsoo untuk duduk sementara dia membersihkan kamarnya dari kekacauan remah-remah biskuit dan keripik kentang.
"Dua hari lagi." Bisik Kyungsoo terdengar parau.
"Apa kau gugup?"
Setelah selesai pria tinggi itu menarik kursi. Mengambil gitar di sebelah meja belajarnya. Ia melihat Kyungsoo mengangguk untuk pertanyaan sebelumnya.
"Ya. Sekali lagi aku akan mencoba panggung kompetisi."
Diacaknya rambut Kyungsoo gemas. "Percayalah. Ketakutan itu pasti akan hilang dengan sendirinnya. Jika ibumu masih hidup, dia pasti akan memilih duduk di auditorium menontonmu daripada berada di atas panggung mengiringi permainanmu."
Wajah Kyungsoo menjadi sedih tiap kali mengingat Ibunya. Ya. Setiap kali dia bermain violin. Kyungsoo ingin mendengar permainan piano Ibunya. Setiap kali dia berhasil mendengar itu, permainannya menjadi salah karena mencoba memberi waktu untuk permainan piano Ibunya yang tidak bisa didengarkan orang lain. Lalu tiba-tiba dia sadar dan mengejar kembali ketertinggalan kemudian nada itu menjadi sangat kacau.
"Lalu apa yang kau lakukan dengan berkunjung kemari?"
Chanyeol melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah terlalu sore untuk Kyungsoo berkunjung. Bukankah Kai membatasi perjalanan Kyungsoo.
"Apa kau tidak pergi ke kelas persiapan?" satu pertanyaan lagi di mana kemudian dia melihat Kyungsoo menatapnya kesal.
"Kelas persiapan selesai dengan cepat hari ini. Kai sendiri yang mengantarku kemari. Dia bilang ada operasi sampai jam sembilan malam. Dia akan menjemputku bila operasinya selesai."
Kyungsoo beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa tidak menunggu di rumah sakit saja? Kau bisa menemani kakeknya." pria itu kemudian bertanya karena penasaran.
"Heii! Kakek Kai boleh dikunjungi hingga jam tujuh malam saja. Setelah itu para dokter ingin dia istirahat. Aku berharap kakeknya segera sembuh."
Chanyeol mengangguk paham. Walau sebenarnya dia tidak terlalu mengerti kenapa seolah rumahnya adalah tempat penitipan anak?
Mereka telah terbiasa menerima Kyungsoo sebagai tamu tidak diundang ataupun diundang secara resmi ketika ada acara keluarga.
Ibu Chanyeol sangat senang bila Kyungsoo berkunjung, Kyungsoo tidak menyisahkan makanan ketika hati wanita itu merasa senang. Jika duduk berempat seperti ini, rasanya seperti keluarga yang lengkap.
"Apa Ayahmu masih sering menginap di rumah sakit?" itu adalah pertanyaan dari ayah Chanyeol ketika mereka menghabiskan makan malam bersama setelah kesibukan di kafe.
"Ya. Pelayan rumah bilang Ayah bahkan lebih sering berkunjung ke luar Kota sekarang."
Keluarga Park mengangguk mengerti.
"Lalu kenapa kalian tidak tinggal di rumahmu saja? Kasihan rumah sebesar itu tidak memiliki tuannya."
Kyungsoo tertawa mendengar pertanyaan ayah Chanyeol.
"Tidak bisa. Kai tidak mau. Dia bilang terlalu jauh dari rumah sakit. Akan menyusahkan jika harus pulang pergi dalam keadaan mendesak."
Makan malam hari itu menjadi lebih berwarna dengan kehadiran Kyungsoo. Tapi sudah jam delapan malam rumah semakin sepi, Ayah dan ibu Chanyeol telah bekerja seharian membuka kafe mereka. Kedua orang tua itu memilih beristirahat lebih dulu.
Hanya tinggal mereka berdua, menggunakan lantai bawah tempat kafe telah di tutup. Ahh Chanyeol menyediakan panggung kecil untuk menjadi hiburan bagi para pengunjung di mana terkadang pria tinggi itu bermain gitar di sana. Sementara anak-anak muda menggunakannya seolah itu adalah panggung dengan ribuan penonton.
Seperti malam ini, Chanyeol ingin menunjukkan kemampuan bermain gitarnya pada Kyungsoo.
"Mau kutunjukkan lagu baru yang kubuat?"
Kyungsoo menggelengkan kepala. Dia tahu Chanyeol ingin menjadi pengubah lagu, beberapa telah dimainkan pada festival sekolah tempo hari. Semakin lama dia mulai memamerkan diri pada Kyungsoo. Temannya ini membuat lagu yang sangat lembut tiap kali dia membayangkan kekasih cantiknya yang sekarang sedang pergi ke luar kota.
"Ya. Kalau begitu tutup telingamu. Aku mau berlatih malam ini tanpa komentar."
Mendengar kata-kata Chanyeol membuat wanita itu mencari tempat duduk di sudut. Dia mengeluarkan beberapa buku dari dalam ranselnya, ada beberapa soal simulasi tes yang diberikan gurunya tadi. Kyungsoo pikir lebih baik dia menyelesaikannya sembari menunggu kedatangan Kai.
~ RoséBear~
11 jahitan di punggung, operasi penyambungan otot tendon pada lengan karena ada saraf yang terputus.
Kai baru saja menyelamatkan seorang korban ledakan. Ia merenggangkan otot tubuhnya, rasanya lelah. Sekali lalu dia mengunjungi kakeknya yang telah terlelap.
Ia berbohong mengatakan pada Kyungsoo kondisi kakeknya sangat stabil. Sungguh dia sangat takut setelah menyadari serangan risiko dan penolakan operasi jantung buatan oleh kakeknya. Dokter Do juga sudah menjelaskan kemungkinkan operasi itu sangat kecil mengingat umur kakek Kai. Lebih buruk lagi, kakeknya menolak melakukan operasi.
Mendengar dengkuran kakeknya, Kai membaringkan posisi sang kakek. Ini adalah tanda sleep apnea, tidak sekali dua kali dia mendengar kakeknya terkadang tersedak ketika tidur. Tapi lelaki tua ini bersikeras menolak ditemani.
"Pulanglah, aku akan tidur di sini menemani kakekmu."
Kai mengangguk pada dokter Do. Dia menunduk memberi penghormatan dan rasa terima kasih yang dalam.
"Kai-ah. Berikan ini pada Kyungsoo. Dua hari lagi dia mengikuti ujian."
Ia menerima paper bag dari Dokter Do. Dianggukakkan kepala. "Ya. Dokter." Kai membalikkan tubuhnya hanya setelah membuat langkah kedua akan pergi dari ruangan.
"Apa nyonya Do adalah pemain musik yang sangat handal?"
Dokter Do sedikit terkejut mendengar seseorang menanyakan mengenai istrinya. Selama ini tidak ada yang bertanya seperti itu.
"Ya. Dia sangat pandai memainkan beberapa alat musik, terutama piano. Terkadang dia ikut resital milik temannya atau bergabung dalam orkestra. Sebenarnya dia adalah seorang dokter tapi sejak mengandung Kyungsoo dia berhenti bekerja dan memilih mengurus putri kecil kami."
Kai berpikir sejenak. "Apa dia yang mengajari Kyungsoo bermain violin?"
Dokter Do menggelengkan kepala.
"Teman istriku yang mengajarinya selama dua tahun kemudian dia pindah mengikuti suaminya bekerja di luar negeri. Sejak itu Kyungsoo berlatih seorang diri."
"Terima kasih banyak dokter. Aku permisi."
Kai menembus jalanan kota. Dia menuju kafe di pinggir jalan milik keluarga Park. Lampu bagian bawah masih menyala namun lelaki itu sedikit terkejut karena disambut oleh alunan gitar Chanyeol. Pria tinggi berhenti bermain dan menyapa Kai.
"Kau sudah datang? Istrimu tidur di sana. Kau terlambat lima belas menit dr. Kim."
Sementara Chanyeol meletakkan gitarnya, dilihatnya Kyungsoo tidur di atas tumpukkan soal simulasi. Kai berjalan mendekat sedikit menunduk memastikan Kyungsoo benar-benar tidur.
"Tidak perlu di bangunkan. Dia baru tidur lima belas menit yang lalu."
Instrupsi Chanyeol didengarkan Kai.
"Biar aku yang bereskan. Kau pindahkan saja dia ke mobilmu," sekali lagi pria tinggi itu memberi Instrupsi dan Kai menurut saja.
Dengan hati-hati ia pindahkan Kyungsoo. Membiarkan Chanyeol membereskan semua peralatan Kyungsoo, pria tinggi itu lalu berlari keluar dengan segera untuk membukakan pintu mobil dan meletakkan semua barang Kyungsoo pada kursi belakang.
"dr. Kim? Terima kasih banyak. Kyungsoo bilang kau telah memberinya izin. Hari ini dia menghabiskan makan malamnya. Apa kau mau minum sekaleng soda denganku?" Chanyeol bertanya, pria itu tersenyum pada Kai.
"Apa kamu mau membicarakan sesuatu lagi? Aku tidak punya banyak waktu."
Kai hendak menolak namun ucapan Chanyeol menarik perhatiannya.
"Baiklah. Tidak perlu minum. Aku hanya ingin berterima kasih dan mengatakan sesuatu padamu," diliriknya Kyungsoo yang terlelap di dalam mobil.
"Adik kecilku ini mengalami masalah pribadi. Dia bilang terkadang mendengar alunan piano Ibunya. Itulah yang membuatnya menjadi kacau ketika memainkan violin. Bukan karena tidak percaya diri, tapi seperti tidak bisa melupakan keinginan lamanya. Jangan berpikir dia menderita masalah yang serius, ini tidak seperti itu. lebih tepatnya sebuah kegugupan. Kyungsoo memilih violin karena ingin seseorang memainkan piano untuk mengiringi permainannya. Dan itu adalah Ibunya." Chanyeol telah memberikan sebuah penjelasan yang cukup panjang.
"Kenapa kamu memberitahuku hal seperti ini?"
"Kupikir dia mendengarkan ucapanmu dengan sangat baik. Jika saja kau mau memberitahu Kyungsoo jika dia bermain di panggung itu sendirian sementara orang - orang menjadi penontonnya. Mungkin itu akan berhasil. Kompetisi bukanlah prelude, Kyungsoo harus bisa menjadi pemain solo jika ingin lolos."
Kai menghela napasnya pelan. Kini ia mengerti kenapa tiba-tiba Chanyeol mengatakan permasalahan Kyungsoo. "Akan kucoba mengatasi rasa gugupnya. Terima kasih telah memberitahuku."
Malam itu dia menyadari satu hal. Membuat Kai ingin ikut campur dalam kehidupan Kyungsoo. Dia ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang istrinya. Chanyeol berjanji memberitahu jika ia menunjukkan perasaan cintanya untuk Kyungsoo.
"Sebenarnya, untuk apa kau bermain musik? Tidakkah itu juga menyakitimu?"
~.oOo.
Ketukan pelan sepatu pantofel Kai memasuki rumahnya sembari menggendong Kyungsoo bridal. Lelaki itu membaringkan Kyungsoo di ranjang. Ia duduk beberapa saat di pinggir ranjang.
"Apa kau mencintaiku Kyungsoo?"
Dia berbisik pelan. Segera saja dia menyeka beberapa bagian tubuh Kyungsoo dan menggantikan pakaiannya. Bersiap diri lalu menyusul Kyungsoo ke atas ranjang. Wanita itu segera meringkuk dalam pelukan Kai.
~ RoséBear~
Setelah berjuang beberapa minggu melewati banyak proses. Pagi ini Kai bergegas mengantarkan Kyungsoo ke tempat ujiannya. Jalanan begitu ramai, dipenuhi peserta ujian skolastik nasional. Gerbang masuk mulai dipadati peserta yang lain. Saat turun dari mobil Kyungsoo disambut kedatangan Baekhyun dan Chanyeol.
"Coklat untukmu, aku membuatnya sendiri." Kyungsoo tersenyum menerima pemberian Baekhyun.
"Terima kasih banyak. Akan kumakan sebelum ujian di mulai."
Dia baru saja akan memeluk Baekhyun dan Chanyeol, namun Kai menariknya lebih cepat menjauhkan Kyungsoo dari keduanya.
"Makan siangmu. Aku akan menjemput nanti sore."
Sorot mata keduanya saling bertemu, angin sedikit menerbangkan daun-daun, suara langkah kaki terburu-buru memasuki halaman gedung.
Lelaki itu memberikan ciuman singkat pada bibir istrinya. Mendorong tubuh mungil itu memasuki gerbang. Ia melambaikan tangan diikuti kedua temannya. Sampai saat tubuh Kyungsoo menghilang di antara kerumunan Kai berbalik badan. Ia mendapat sorotan tajam dari Chanyeol serta Baekhyun. Tapi pria tan terlihat tidak peduli. Memilih segera masuk ke dalam mobil dan melaju pergi ke rumah sakit. Dia akan menyampaikan pesan pada kakeknya jika hari ini Kyungsoo ujian. Sementara tes itu adalah salah satu bagian terpenting agar dia bisa masuk universitas.
~ RoséBear~
Wanita itu melangkah dengan pakaian yang diberikan oleh ayahnya. Lucunya lagi sebuah pensil mekanik bertuliskan nama rumah sakit milik keluarganya. Kyungsoo tertawa kecil mengingat bagaimana pagi ini Kai memberinya paper bag berisikan pakaian serta peralatan tulis, pesan dari ayahnya.
Kyungsoo sangat yakin bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan sangat baik. Namun sesungguhnya dia lebih gugup lagi untuk menghadapi pelatihan setelah ujian ini.
Henry tidak muncul setelah beberapa hari lalu dia bertanya pada Chanyeol dan pria tinggi itu mengatakan Kyungsoo akan berlatih di rumahnya. Dia sama sekali tidak melihat lelaki itu.
~ RoséBear~
Di bagian terpisah rumah sakit. Kai baru saja keluar dan merenggangkan tubuhnya. Menarik lehernya ke atas dan "Errrr... Dingin sekali."
Hembusan angin menerpanya. Ia merapatkan jas yang ada di tubuh dan memandang sekeliling rumah sakit. Ramai di beberapa bagian, sepi pada sudut tertentu dan dia berdiri diantara UGD dan taman rumah sakit.
"Wahh hujan?"
Orang-orang berseru kemudian melewati Kai. Seorang keluarga pasien menabrak tubuh dokter muda itu namun Kai yang menunduk hormat meminta maaf.
Dia menyingkir ke sisi koridor menghindari orang-orang. Dilihatnya jam di pergelangan tangan. Setengah jam lagi Kai harus melapor dan bergantian shift. Dia harus kembali menjemput Kyungsoo. Memikirkan wanita itu membuat hatinya menghangat. Oh astaga, dia benar-benar berpikir bagaimana keadaan Kyungsoo di sana.
"Apa kau selalu seperti ini dokter Kim?"
Kai setengah terkejut mendengar seseorang berseru di dekatnya, ia menoleh dan matanya menyipit tajam memandang seorang pria berkulit putih dengan pipi mochi melangkah mendekat. Lelaki itu menegakkan tubuhnya.
Henry Lau
Adik tiri dari Kris, seorang psikiater dari departemen psikiatri. Bukankah Kris sendiri memperingatkannya jika lelaki yang kini di hadapan Kai memiliki 'masalah.'
Dia berhenti satu meter di hadapan Kai. Pria itu tersenyum menyapa Kai dengan tenang.
"Selamat sore dr. Kim. Kebetulan aku berkunjung dan sedikit tersesat."
Kai tidak membalas sapaan Henry, ia memperhatikan gerakan Henry yang terlihat mencurigakan. Untuk orang yang tersesat dia terlalu tenang.
"Kudengar Kyungsoo mengikuti ujian agar bisa masuk perguruan tinggi. Kau memaksanya mendaftar menjadi mahasiswa kedokteran. Apa memang begitu caramu dr. Kim?"
Alis Kai terangkat sebelah, ia sedikit menunduk membalas sapaan seorang dokter yang melintas di antara mereka. Hening beberapa saat ketika Henry kembali menarik perhatiannya.
"Oh, aku tidak bertemu Kyungsoo untuk waktu yang cukup lama. Bisakah kau menyampaikan pesan..."
"Dia adalah istriku. Sebaiknya kau menjauh dari Kyungsoo!"
"Woaghh.." Terdengar suara seruan serta tepuk tangan mengejek. "Apa kau benar-benar selalu seperti ini dr. Kim? Tidakkah kau tahu Kyungsoo mencintai musik. Dia tidak bisa hidup tanpa musik, jika benar kau suaminya tidakkah seharusnya kau memberikan dukungan lebih untuk keinginan Kyungsoo?"
Kai tersenyum mengejek membuat Henry tampak panik dengan ekspresinya barusan. "Tidak perlu mengguruiku. Sebaiknya kau menjauh dari Kyungsoo."
"Permainan Kyungsoo sangat menawan. Harusnya dia berada di panggung pertunjukkan, bukan menjadi istri orang sepertimu."
Napas berat Kai meluncur begitu saja. "Apa kau sedang mencari perhatianku? Dengar Henry Lau..."
"Kau menginginkan rumah sakit ini? Cukup luas dan bagus untuk sebuah bisnis." Kali ini Henry memotong perkataan Kai.
Kai menoleh pada Henry, pada tatapannya terkumpul perasaan marah "Terakhir kali aku peringatkan padamu. Menjauhlah dari istriku!" kini dilihatnya wajah Henry berubah tegang. Kalimat penuh penekanan atas kepemilikkan Kyungsoo ternyata mampu membuat lelaki itu terdiam. Kai berjalan menjauh meninggalkan Henry, dia memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada berurusan dengan pria itu.
'Masalah?'
Masalah kejiwaan?
~ RoséBear~
Ia harus kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil beberapa laporan kemudian memastikan ke UGD. Saat berjalan menuju UGD Kai didatangi oleh Kris, pria itu benar-benar tidak menyerah.
"Aku masih tidak mengerti. Adikmu baru saja mendatangiku dan membuatku kesal. Sebaiknya kau tidak menemuiku untuk membahas operasi itu lagi. Atau aku akan menendangmu seperti terakhir kali."
Bukannya merasa terhina, Kris hanya tertawa namun kemudian dia terkejut mengingat kalimat pertama Kai.
"Adikku menemuimu?"
"Ya. Dia bilang tersesat. Tapi sepertinya memang mencariku." Kai membritahu lelaki itu.
Kris mendekatkan wajahnya untuk berbisik. "Dia benar-benar menginginkan putri direktur. Berhati-hatilah, masalahanya pada genetika dari ayahnya."
Dia menarik kembali wajahnya menjauh dari Kai. "Aku ingin menemui kakekmu. Kudengar dari Suho dia sudah lama di rawat di sini."
Kai memutar bola matanya kesal. "Berhentilah memanfaatkan kakek untuk urusan kalian. Aku tidak mau melakukan operasi itu."
"Ya! Kenapa kau pemilih sekali dalam menangani pasien!"
Mendengar Kris setengah berteriak Kai menatapnya tajam. "Kau ingin mempermalukan aku heoh? Aku tidak pemilih. Bukankah sudah kukatakan kau serahkan dia pada manajemen rumah sakit. Tapi aku akan menolak untuk menanganinya." Ia telah mencoba memberi penjelasan berulang kali.
"Sampai kapan kau akan bersikap seperti bocah amatiran Kai? Kuharap putri direktur bisa memberi pencerahan padamu. Kudengar dia sangatlah baik, aku penasaran bagaimana dia bisa mengenalmu." Kalimat panjang yang lebih terdengar sebuah sindiran karena Kai menolak membantu Kris.
"Ya! Ya! Jangan pedulikan aku. Menyingkirlah dari jalanku Kris."
Kris masih menahan Kai. "Katakan kamar kakekmu. Aku ingin bertemu sebelum jam kunjungan habis."
"Lantai tiga 306."
"Oke!" baru saja Kai akan meninggalkan Kris tapi panggilan seakan tidak ada habisnya.
"Kai... Jika kau mencintai Kyungsoo berhati-hatilah pada adikku. Aku mengatakan ini karena menghormati kakekmu yang bijaksana," Kris sedikit berkata pelan tidak ingin orang-orang mendengar percakapan mereka.
"Apa kau sedang mencari cara agar aku membalas budi padamu?"
Kris segera mengangguk semangat. "Ya! Tapi aku masih cukup waras untuk memaksakan kehendak padamu."
Kai menarik napas berat, ia memilih mengantarkan dokumennya daripada berdebat dengan Kris.
Bukankah dia harus segera menjemput Kyungsoo. Dia sedang berusaha melindungi Kyungsoo. Bayangan kelam yang ia lihat pagi itu, Kai sangat yakin itu adalah Henry. Dia sudah mengecek cctv di dekat gang. Walau hanya siluetnya saja, Kai bisa mengenal bentuk tubuh itu. Sudah berminggu-minggu dia menjaga Kyungsoo agar tidak seorang diri walau akhirnya banyak merepotkan keluarga Park. Tapi keluarga itu benar-benar menerima Kyungsoo seperti anak mereka. Kai tidak perlu khawatir jika Kyungsoo di sana, selama ini dokter Do juga mempercayakan Kyungsoo berada di keluarga itu. Keluarga yang masih lengkap cendrung sangat bahagia.
To be Continue...
Yeyyy part 3th 'ADVISE' chapter 12th in here! I hope you all enjoyed. As always, feedback is welcome and much appreciated. Seriously, thank you very much to everyone who has taken the time so far. I'll keep writing and editing away. I'am always happy to hear from you about this story. To guest that reviewed, Sorry that I can't reply to you, but if you don't have an account I can't PM you ^^
Sorry it it was a bit boring See you guys next chapter ^^
Thank You.
.
RoséBear
[Part 3th : ADVICE 171103]
