Chapter 6

YOU?!

Halo, halo, halo ini ceritanya update kilat hahahahah selamat membaca, mau dong direkomendasikan cerita yang asyik atau ada yang mau pair lain. Saya ingin mencoba pair lain EXO mungkin? Hahahah tapi gak berani lah masalahnya yang suka EXO banyak banget ntar di bunuh ane, oke, oke cukup. Terimakasih untuk pembaca setia maaf tidak bisa membalas review kalian satu persatu, suatu hari nanti saya akan membalasnya satu persatu jadi tidak perlu di sebut di lembar cerita heheheh maaf…. Terlalu banyak ketawa. Oke selamat membaca yaaa.

¶¶¶

Suasana kelas sedang sangat gaduh, beberapa murid asyik mengobrol, bermain kapal-kapalan kertas, tidur, atau melakukan hal lain yang wajah saat kelas sedang kosong. Seungyoon sibuk melipat kertas menjadi kapal sebelum ia lempar ke dalam keranjang sampah di depan kelas sementara teman sebangkunya Taehyun sedang sibuk membuat coretan-coretan tidak penting di atas meja mereka.

"Bagaimana kakimu?"

"Sudah sembuh."

"Ah sayang sekali."

"Apa katamu?! Bukannya senang jika sahabat sembuh dari sakit dan hei! Kau sama sekali tidak menjenguk selama aku sakit Nam Taehyun!"

"Aku kan masih kesal."

"Aku tidak peduli. Yang jelas Jinwoo hyung memilihku jadi hilangkan semua perasaan irimu itu dan jadilah sahabatku kembali."

"Jika tidak ada hukum di Negara ini sudah aku tenggelamkan tubuhmu di sungai Han, Kang Seungyoon," gerutu Taehyun pelan.

"Apa kau mengatakan sesuatu?"

"Tidak."

"Kang Seungyoon apa rencanamu saat libur musim panas nanti?"

"Entahlah."

"Oh ya, jadi pindah rumah?"

"Aku tidak tahu juga."

"Kau ini jangan membuat orang bingung! Katakan dengan jelas."

"Aku benar-benar tidak tahu Nam Taehyun. Aku…," Seungyoon menggantung kalimatnya sendiri.

"Dasar aneh!" dengus Taehyun.

"Ya aku juga merasa aneh akhir-akhir ini."

"Apa?!" pekik Taehyun tiba-tiba merasa tertarik dengan ucapan Seungyoon.

"Tidak. Tidak akan aku beritahukan." Balas Seungyoon sambil menyentil dahi Taehyun pelan.

"Pelit!" bentak Taehyun yang hanya dibalas dengan cengiran oleh Seungyoon. "Apa ini soal Jinwoo hyung?"

"Bukan."

"Tapi wajahmu menunjukkan hal yang sebaliknya. Aku yakin ini ada hubungannya dengan Jinwoo hyung."

"Diam! Jangan asal tebak! Atau apa itu yang kau harapkan!"

Kemarahan Seungyoon yang tiba-tiba itu justru membuat kecurigaan seorang Nam Taehyun semakin besar. "Kang Seungyoon aku tidak pernah berharap hal buruk terjadi pada kisah cinta kalian. Meski aku kadang iri tapi aku kan sahabatmu. Tidak mungkin seorang sahabat tidak bahagia jika melihat sahabatnya sendiri bahagia."

"Semoga ucapanmu itu jujur." Kalimat Seungyoon benar-benar mengundang aura membunuh Taehyun untuk keluar, beruntung Seungyoon masuk daftar teratas sahabat karibnya jadi tidak akan ada apapun yang terjadi padanya.

"Kau bisa bercerita apapun padaku." Ucap Taehyun setelah kesebarannya kembali terkumpul untuk menghadapi Seungyoon.

"Ya, aku curiga dengan Jinwoo hyung. Sejak pertemuan kami yang terakhir di rumah sakit saat kakiku terluka, dia sama sekali tidak menghubungiku lagi. Setelah badai dan semua jaringan komunikasi pulih dia juga tidak menghubungiku."

"Apa kau menghubunginya?"

"Ya, nomornya tidak aktif."

"Nomor mana yang kau simpan? Jinwoo hyung sudah membuang nomor lamanya dua hari yang lalu."

"Benarkah?! Kenapa aku tidak diberitahu?"

"Mungkin Hyung sedang sangat sibuk. Berpikirlah positif. Atau kau mau mencaritahu?"

"Mencaritahu? Maksudmu memata-matai? Sejenis itu?"

Taehyun menganggukkan kepalanya dengan antusias jika di hari biasa Seugyoon akan menertawai usulan konyol itu. Tapi hari ini, kepalanya tidak bisa berpikir dengan jernih. "Ya, aku rasa itu ide bagus."

"Kau setuju?!" pekik Taehyun yang bahkan tidak bisa percaya jika Seungyoon setuju dengan usulan ngawurnya itu. "Baiklah pulang sekolah ini kita langsung beraksi."

"Lebih cepat lebih baik." balas Seungyoon yakin.

¶¶¶

Dengan bersungut-sungut Seungyoon melangkahkan kakinya melintasi halaman sekolah. Setelah memberikan usulan ngawur yang tanpa pikir panjang ia setujui. Seorang Nam Taehyun mengatakan dengan seenak rambut belahan tengahnya dia mau latihan basket. "Lalu rencana kita?!" pekik Seungyoon tertahan.

"Kapan-kapan saja, ini darurat aku sudah bolos latihan satu minggu. Aku bisa dikeluarkan dari tim utama."

"Tae…"

"Sudah ya sampai besok!" Taehyun memotong kalimat Seungyoon, menepuk pundak kanan Seungyoon sebelum berlari pergi memasuki lapangan basket.

"Pembohong," gerutu Seungyoon. Meski kesal sekarang tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali pulang dan menyimpan semua rasa curiga rapat-rapat. Nomor baru Jinwoo yang ia dapatkan dari Taehyun, entah kenapa kekasihnya itu tidak menjawab panggilannya atau sekedar membaca pesannya. "Hyung apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa menghilang begitu saja?"

Seungyoon mengerutkan keningnya saat dia mengetahui dengan jelas siapa orang menyebalkan yang sedang bersandar pada dinding pagar sekolah. Jangan lupakan kerubungan para anak perempuan dan anak laki-laki yang memandangnya seperti seorang bintang terkenal.

"Apa yang dia inginkan?" gumam Seungyoon pelan sebelum kembali berjalan mengabaikan kehadiran Mino di sekolahnya dan tentu saja ini bukan yang pertama.

"Besok saja kita foto bersama!" pekik Mino mengumbar janji kepada fans dadakannya sebelum berlari mengejar Seungyoon. "Tunggu! Apa kau cemburu?"

"Kenapa otakmu itu selalu berimajinasi dan memikirkan sesuatu yang mustahil." Balas Seungyoon malas.

"Mungkin saja hari ini aku beruntung dank au mengatakan sesuatu yang aku inginkan."

"Mimpi." Balas Seungyoon singkat.

"Jadi apa kau penasaran dengan Jinwoo?"

"Kau yakin ini bukan ulahmu?"

"Hei! Jangan menuduh sembarangan aku tidak melakukan apa-apa."

"Wajahmu itu sangat mencurigakan." Ucap Seungyoon sambil terus berusaha berjalan lebih cepat agar dirinya dan Mino berjarak.

"Aku bisa memberi bantuan." Mino terus mengejar langkah kaki Seungyoon dengan sangat mudah.

"Tidak. Kau pasti main curang."

"Sudah aku katakan. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekasihmu yang menghilang tiba-tiba itu."

"Aku tetap tidak bisa mempercayaimu Mino."

"Baiklah kalau begitu terserah kau saja. Apa yang ingin kau lakukan hari ini, itu urusanmu."

Seungyoon langsung menghentikan langkah kedua kakinya dan berbalik menatap punggung Mino, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Kau pergi?!" seru Seungyoon yang diabaikan oleh Mino. "Hei! Kau meninggalkan aku?!" tak dapat dipercaya kali ini justru Seungyoon yang berbalik mengejar Mino.

Seungyoon menarik dan menahan pergelangan tangan kanan Mino. "Temani aku main." Ucapnya singkat. Sebenarnya ada sedikit rasa takut di dalam diri Seungyoon, jika seorang Mino marah pasti aka nada hal buruk yang terjadi walau bagaimanapun Mino bukan manusia.

Di luar dugaan Mino menoleh dan memamerkan senyum manisnya. "Akan aku kabulkan permintaanmu."

"Benar kan kau selalu curang!" pekik Seungyoon kesal yang jatuh ke dalam tipuan akting Mino.

"Ayo kita main sepuasnya hari ini!" Seungyoon hanya menggembungkan kedua pipinya pertanda kesal. "Jadi apa maianan yang kau inginkan? Atau kau ingin main apa?"

"Ikut aku." Balas Seungyoon singkat dengan senyum manis menghiasi wajahnya dia berjalan di depan memimpin Mino.

¶¶¶

"Ini kan taman bermain untuk anak-anak." Ucap Mino sementara kedua matanya menyapu seluruh taman dan permaianan yang ada di sana. Taman yang sangat bagus tapi untuk anak-anak dan sangat sepi.

"Memang kenapa? Aku sering main ke sini."

"Itu kan dulu saat usiamu lima sampai tujuh tahun."

"Di sini tidak ada batasan umur." Seungyoon berjalan memasuki area taman bermain sementara Mino mengekor di belakang.

"Kenapa sepi sekali di sini?"

"Oh para orangtua memilih menitipkan anak mereka di tempat penitipan anak."

"Sayang sekali. Jika kau punya anak nanti apa kau akan menitipkan anakmu juga?"

"Pertanyaan macam apa itu. Aku bahkan belum lulus SMA. Tentu saja hal-hal semacam itu sama sekali tidak terlintas di pikiranku. Ayo main sekarang!"

"Jangan berlari Seungyoon!" pekik Mino mencoba menghentikan Seungyoon khawatir jika kaki Seungyoon masih belum sembuh dengan sempurna namun seperti biasa Seungyoon yang keras kepala tidak akan peduli dengan peringatannya.

Seungyoon sudah duduk pada salah satu dari tiga ayunan yang berada di taman bermain. "Dorong aku." Dan mengeluarkan perintah seenaknya. Tanpa membalas Mino hanya menurut dan mendorong punggung Seungyoon pelan.

"Kau ini bisa mendorong tidak sih?! Lebih keras!" bentak Seugyoon.

"Kalau kau jatuh bagaimana?!"

"Di bawah kan pasir, jatuh juga tidak akan mati."

"Baiklah cerewet!"

Rasanya benar-benar menyenangkan, sensasi yang terasa sulit untuk diungkapkan saat tubuhmu melayang di udara dan kedua kakimu tidak menginjak tanah. Seungyoon memejamkan kedua matanya merasakan udara bergerak di sekitarnya. Semua kenangan masa kecil yang menyenangkan hadir dengan cepat, kebahagiaan memenuhi rongga dadanya.

Seungyoon membuka kedua matanya dan memutuskan untuk menghentikan pergerakan ayunanya. Sementara itu Mino hanya menatap tanpa ekspresi menunggu ucapan Seungyoon. "Apa kau yang menolongku saat aku jatuh dari ayunan dulu?"

"Memangnya saat itu usiamu berapa?"

"Aku tidak ingat dengan jelas mungkin lima atau enam tahun."

"Bagaimana aku saat itu?"

Seungyoon berdiri dari ayunan, dia ingin menaiki jungkat-jungkit. "Tidak terlalu jelas, samar-samar. Kau terlihat sama seperti sekarang."

Mino berjalan di samping Seungyoon menuju jungkat-jungkit yang Seungyoon inginkan. "Jika jawabanku iya. Kau percaya?"

"Aku percaya." Meski berusaha menahan senyumannya tetap saja ucapan Seungyoon yang manis itu membuat seorang Song Minho tersipu dengan sedikit rona merah tercipta pada kulit wajahnya.

Tentu bukan Seungyoon namanya jika dia tidak meminta atau melakukan hal yang aneh. Dan sekarang dia berdiri di atas jungkat-jungkit memaksa Mino melakukan hal yang sama agar permainan itu bisa dimainkan. Seungyoon melompat turun saat mendengar suara penjual es keliling membuat Mino hampir berteriak karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada Seungyoon.

"Hei makhluk aneh. Kau makan es krim?" Mino hanya mengangguk sementar Seungyoon langsung berlari menghampiri si penjual es krim.

Cinta. Tentu saja itu bukan kata yang asing dalam kehidupan yang bisa dikatakan abadi seorang Song Minho. Namun kata sederhana itu hingga detik inipun tak mampu ia maknai. Obsesinya yang mungkin sudah menjadi kegilaan pada seorang Kang Seungyoon bukanlah keinginannya. Tapi rupanya takdir selalu mempermainkan kehidupan abadinya yang jauh dari kata keberuntungan itu.

"Tangkap!" teriak Seungyoon sambil melempar satu bungkus es krim stick yang dengan sigap ditangkap oleh Mino. "Aku yang traktir." Mino hanya bisa tersenyum menanggapi semua ulah Seungyoon.

Keduanya duduk di pinggir kolam pasir menikmati es krim stick rasa cokelat dan vanilla. Sementara langit musim panas sudah mulai memerah pertanda matahari akan segera digantikan dengan bulan. "Apa malam ini akan ada badai?"

"Aku bukan peramal cuaca." Balas Mino di sela-sela kegiatannya menikmati es krim stick cokelat traktiran Seungyoon.

"Dasar pelit! Tinggal jawab saja apa susahnya."

"Selalu saja menuntut dan memaksa." Protes Mino yang diabaikan oleh Seungyoon dan dibalas dengan tatapan menuntut.

"Baiklah tidak akan ada badai malam ini. Dan malam-malam selanjutnya hingga akhir musim panas. Puas?"

"Lumayan. Jika Jinwoo hyung masih mengabaikan aku hari ini, aku mau menyelidiki apa yang terjadi semoga ini tidak ada hubungannya denganmu Mino."

"Terserahlah jika tidak percaya."

"Hei!" teriak Seungyoon mengejutkan Mino. "Aku dapat hadiah! Aku dapat hadiah!" pekik Seungyoon kemudian dengan kasar ia tarik pundak Mino agar dia melihat stik es krim dengan tulisan Satu Es Krim Gratis. "Kau dapat tidak?!"

Mino memperlihatkan stik es krimnya yang kosong melompong tanpa tulisan apapun di sana. "Wah keberuntunganmu jelek sekali." Ucap Seungyoon seenaknya.

"Itu mau disimpan?" dilihatnya Seungyoon yang memasukkan stik es krimnya ke dalam ransel sekolahnya.

"Tentu saja. Harus disimpan karena ini bersejarah, aku tidak pernah mendapatkan hadiah seperti ini sepanjang ingatanku."

"Kau!" pekik Mino menarik seluruh perhatian Seungyoon. "Jangan bersikap terlalu manis atau kau akan menyesal."

PLAKK! Sebuah pukulan mendarat mulus di atas kepala Mino. "Jangan berpikir macam-macam." Ucap Seungyoon singkat sebelum berdiri dari pinggir kolam pasir tempat mereka duduk. "Hampir gelap aku mau pulang."

"Aku antarkan sampai rumahmu."

"Setiap hari juga seperti itu kau bahkan masuk seenakmu sendiri."

"Kang Seungyoon."

"Apa lagi? Kebiasaanmu yang selalu membuatku kaget sebaiknya kau hilangkan." Protes Seungyoon panjang lebar.

"Maaf, aku hanya ingin mengatakan terima kasih sudah memintaku menemanimu bermain hari ini."

"Oh tentang hari ini seharusnya tidak perlu berterimakasih, aku memintamu karena tidak ada orang lain lagi yang bisa aku ajak. Jadi jangan berpikir macam-macam atau berharap terlalu tinggi."

"Tidak masalah." Balas Mino. "Aku tetap berterimakasih." Sebuah senyum terukir dengan indah pada wajah Mino, dan ia berharap Seungyoon bisa menerima perasaan tulusnya suatu hari nanti.

Seungyoon langsung memalingkan wajahnya tidak ingin perasaan bersalah menariknya kembali setelah mengucapkan kalimat yang tidak pantas tadi. Sesuatu yang hangat menggenggam tangan kirinya.

"Langit terlihat indah hari ini." Ucap Mino, Seungyoon tidak menoleh untuk menatap si pemilik suara atau memberi tanggapan namun ia biarkan tangan itu menggenggam tangannya untuk hari ini saja karena Mino sudah bersedia meluangkan waktunya. "Tapi bagiku kau lebih indah Kang Seungyoon."

"Kau!" pekik Seungyoon. "Jangan membuatku jijik dengan kata romantis rendahanmu itu."

Mino hanya tertawa pelan. "Aku jujur."

"Cukup!" Balas Seungyoon singkat dengan nada kesal meski ia sendiri bisa merasakan wajahnya yang terasa panas dan sekarang pasti tampak merona.

To Be Continued….