Thanks for waiting patienly, here's chapter 13th update. Everyone exited? Go on and read ^^ Please keep in mind.
The Paradox of Lost Complementary
Di antara hari-hari yang telah disediakan, pagi hari ketika angin berhembus dengan lembut, menerbangkan helaian daun hingga jatuh ke tanah. Hujan beberapa jam dalam satu fajar menyisahkan genangan air di beberapa bagian jalan. Tanah menjadi basah, aromanya menguar dengan nikmat, burung menciap di pagi hari.
Akhir pekan bisa membuat Kai sedikit bersantai setelah serangkaian pekerjaan yang begitu banyak di lakukannya, -setidaknya hari ini dia bisa pergi ke rumah sakit siang hari.
Tapi lelaki itu masih bergelung di balik selimut. Sinar matahari yang memaksa masuk melalui sela-sela jendela tidak mampu mengalahkan rasa lelah.
Tangan pria itu terlihat keluar dari selimut. Memukul beberapa kali ke atas ranjang kemudian mengusap ranjang, ia bangkit dengan cepat menyadari sesuatu. Secara mendadak matanya terbuka.
"Kyungsoo!?"
Rambut lelaki itu berantakan, penampilannya khas orang yang baru bangun tidur. Suara serak memanggil nama sang istri. Menyisahkan keheningan di dalam kamar. Pintu kamar mandi terbuka, Kyungsoo sudah pasti tidak ada di sana. Pintu ruang ganti juga terbuka namun gelap.
"Kyungsoo!?"
Sekali lagi ia mencoba memanggil nama Kyungsoo tetap tidak ada jawaban. Matanya melirik ke arah jam. Masih jam delapan pagi, Kyungsoo tidak mungkin ke supermarket seorang diri. Kai telah berjanji menemaninya. Oh astaga. Dia menjadi panik mengingat pertemuan dengan Henry beberapa waktu lalu.
'Jangan katakan lelaki itu kemari.'
Kakinya melompat membawa serta tubuh keluar dari kamar. Suara langkah kaki tergesa-gesa Kai terdengar sangat jelas di rumah minimalis itu. Pintu kamar terbanting, dapur menjadi area pertama yang dilihat namun hasilnya juga tidak ada.
"Kyungsoo!"
Sekali lagi Kai memanggil nama Kyungsoo dan hasilnya pintu depan rumah mereka berbunyi. Seseorang baru saja memasuki rumah.
"Selamat pagi. Kau sudah bangun?"
"Hyung?"
Sayangnya yang dia nanti tidak datang, wajah tersenyum Suho menyambut kepanikan Kai.
Lelaki itu muncul dari balik pintu rumah Kai. Wajah bingung mendapati adiknya panik. Lelaki tan itu berjalan mendekat, melewati Suho kemudian melangkah keluar rumah.
Kai tidur tidak mengenakan pakaian atas, dia terlalu panik mencari Kyungsoo tanpa sadar udara dingin pagi hari segera menampar tubuhnya, tapi Kai sama sekali tidak peduli. Ia kembali masuk bertatapan dengan wajah penuh tanda tanya Suho.
"Di mana Kyungsoo? Kenapa hyung ada di sini?"
"Tidak tahu. Aku baru saja tiba dan rumah kalian tidak terkunci."
Kakaknya itu berusaha jujur. "Sudahlah Kai. Mungkin Kyungsoo membeli bahan untuk sarapan kalian dan dia lupa mengunci pintu. Kemarilah, ada yang ingin kubicarakan padamu."
Kai mengecek sekali lagi keluar rumah namun kemudian dia menghela napas. Suho memanggil sekali lagi. Walau kakinya melangkah masuk, tapi perasaan cemas masih berada di luar.
"Ini mengenai kakek dan juga istriku."
"Ada apa lagi?"
Suho menunggu hingga Kai duduk di hadapannya. Lelaki yang lebih tua itu mengehela napas berat.
"Jadi begini Kai. Aku sudah bicarakan ini dengan kakek sebelum kemari. Dia sangat setuju dan aku harap kau mau membantuku." Suho memulai percakapan pagi itu dengan sedikit tenang. Tidak banyak yang akan dia sampaikan, hanya satu hal yang sangat penting.
"Membantu apa hyung?" Kemudian dengan merendahkan suaranya Kai bertanya.
"Yixing ingin melahirkan di rumah sakit yang sama dengan tempat kakek di rawat. Perkiraan kelahirannya adalah satu bulan lagi. Seminggu sebelum itu aku pikir akan berusaha membawanya kemari. Sedikit menyusahkan dan sangat membahayakan ternyata." Pengakuan Suho dibenarkan oleh Kai.
"Itu sangat membahayakan baginya. Bagaimana jika terjadi masalah di perjalanan?" Pria itu segera memikirkan risiko untuk keinginan itu. Sesuatu yang sudah pasti tidak akan dilakukan Kai.
"Untuk itulah kakek ingin aku bicara denganmu. Bagaimana jika kakek dipindahkan sementara waktu ke rumah sakit di Gyeonggi."
"Yak!" Tanpa sadar Kai berseru.
"Kai." Suho tampak bingung harus mengatakan apa. Pada dasarnya dia juga sudah menyadari hal semacam ini.
"Kakek juga memaksa ingin melihat anak itu setelah dia lahir."
"Kalian bisa menggunakan video call? Kau juga bisa mengirimkan gambarnya," Kai mendesis menolak tawaran Suho.
Jantung Kai terasa berdenyut keras karena emosi di pagi hari. Dia masih memikirkan Kyungsoo dan tiba-tiba Suho memberi tambahan kabar buruk.
"Aku harus mencari Kyungsoo. Kita bicarakan nanti saja."
Lelaki itu kembali ke kamar, mengambil kaosnya dan baru saja dia ingin mendorong pintu, benda itu tertarik ke bagian luar.
Sosok Kyungsoo muncul setengah terkejut karena kemunculan Kai.
"Heoh!? Kau mengejutkanku."
"Kyungsoo? Kau sudah kembali?"
Kyungsoo sedikit miring untuk mengetahui siapa yang barusaja menyapa. Mata Kyungsoo melirik ke arah Suho, menemukan pria itu berdiri dari tempat duduk, tersenyum padanya.
"Selamat pagi oppa."
"Kau dari mana saja?" Tanpa sadar Kai bertanya dengan suara yang terdengar berat.
"A-aku?" Kyungsoo tergagap karenanya.
"Aku membuang sampah."
"Hanya membuang sampah? Kenapa begitu lama?"
Kyungsoo menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Kenapa kau tampak ingin memarahi istrimu Kai? Dia baru saja kembali. Jadi apa yang kau khawatirkan?"
Kyungsoo tersenyum senang atas pembelaan Suho. "Aku menemukan dia di jalan. Anak kucing itu tidak mau lepas dari langkah kakiku. Jadi aku harus bagaimana?"
Kai melihat ke balik pintu yang setengah tertutup. Benar saja, seekor kucing liar berdiri disebelah Kyungsoo.
"Ngeong~"
"Tinggalkan dia Kyungsoo. Segeralah masuk."
Kai berseru dan menarik Kyungsoo masuk ke dalam rumah, ia menutup pintu cepat tanpa memperhatikan kucing itu lebih lama. Sementara suara tawa menggelegar dari ruang tamu mereka. Itu suara Suho. Ada alasan kenapa dia harus tertawa melihat reaksi Kai barusan.
"Kau membawa kucing pulang ke rumah Kyungsoo?"Suho bertanya di sela tawanya. Membuat Kyungsoo mengernyit tidak mengerti sementara Kai menatapnya tajam.
"Kemarilah biar kuberitahu sesuatu."
Tangannya melambai memanggil Kyungsoo.
"Sebaiknya aku mandi lalu kita belanja keluar."
Mereka berdua melirik sekilas ke arah Kai. Pria tan itu kembali ke kamar. Meninggalkan Suho dan juga Kyungsoo.
Pria berkacamata itu mencondongkan tubuhnya mendekati telinga Kyungsoo, "Kai alergi pada bulu kucing. Jadi jangan salah paham jika dia bersikap sedikit kasar."
Kyungsoo mengangguk mengerti. Walau terlihat kecewa dia mencoba memahaminya. "Akan kubawa kucing itu ke tempat Chanyeol."
Dia beranjak cepat. "Oppa mau sarapan di sini?"
"Ah tidak. Aku hanya mampir karena ingin membeli sarapan untuk kakek. Kau tahu kakek tidak terlalu suka makanan rumah sakit, dia memintaku keluar. Sudah terlalu lama dia menunggu. Katakan pada Kai aku menunggunya di rumah sakit. Oh Kyungsoo. Mau kubawa kucing itu pergi untukmu?" penjelasan Suho kepada Kyungsoo rasanya cukup panjang.
"Oppa sudah membeli sarapannya?"
Suho menggeleng memang sulit mencari tempat makan yang buka di pagi hari mengingat ini adalah akhir pekan. Namun wanita itu tersenyum kemudian menyarankan pergi ke tempat Ayah Chanyeol. Dia pernah membawakan kakek Kai makanan dari sana dan pria tua itu menyukainya. Dia menitipkan sekalian kucing yang selalu menempel padanya.
Kyungsoo pikir Chanyeol tidak akan menolak walau pada akhirnya dia berpendapat jika anak kucing itu pasti akan berakhir di tempat tinggal Baekhyun. Akan sangat buruk jika seekor kucing berada di sebuah tempat makan. Beberapa pelanggan terkadang memiliki alergi atau kecenderungan terhadap binatang mungil itu.
Complementary
Present by RoséBear
[Part 3 : ADVISE 171112]
13th Chapter - KaiSoo
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery
Beberapa saat dia habiskan waktu untuk menunggu Kai keluar dari kamar mandi. Kyungsoo beranjak saat terdengar suara pintu.
"Ya?" pria itu keluar dengan masih mencoba mengeringkan rambutnya yang basah. Dia memberikan pertanyaan singkat ketika menemukan Kyungsoo sedang duduk di pinggir ranjang.
"Kau menghawatirkan aku? Maaf. Lain kali aku akan keluar dengan pesan singkat di atas meja."
Kai terkejut dengan pelukan Kyungsoo yang tiba-tiba. Tubuhnya masih setengah basah karena hanya mengenakan handuk di pinggang, akibatnya ikut membasahi pakaian yang dikenakan Kyungsoo.
"Kai?"
Suara berat Kyungsoo terdengar begitu seksi. Apa yang terjadi sampai wanita itu menempel begitu dekat? Tidak mungkin karena sex pertama mereka mengubah Kyungsoo begitu agresif kan? Dia lebih suka melihat Kyungsoo yang polos dengan tatapan mata bulatnya yang lembut. Walau Kai juga tidak menolak kedekatan yang Kyungsoo ciptakan seperti saat ini, tapi tetap saja ada yang aneh.
"Kenapa kau tiba-tiba memelukku?" dia bicara masih dengan melangkah mendekati ruang ganti, membawa serta Kyungsoo yang tidak melepaskan pelukannya.
Ia merasakan Kyungsoo berjinjit dan bertahan pada bahu kokohnya. "Aku sudah boleh mendapatkan violinku kembali?"
Kai berhenti melangkah. Diliriknya Kyungsoo beberapa saat. Ya. Memang dia menyimpan benda itu. Kyungsoo sudah menyelesaikan ujiannya sejak dua hari lalu. Sudah sewajarnya jika dia menginginkan miliknya. Kai tidak berpikir lebih lama, tapi dia hanya ingin menggoda Kyungsoo.
"Kau tidak ingin menciumku? Bagaimana jika kita tidak perlu berbelanja tapi menghabiskan beberapa jam di atas ranjang hingga siang hari?"
Pegangan Kyungsoo tertahan. Beberapa saat dia terdiam karena mendengar kalimat Kai. Bibir hati Kyungsoo yang sebelumnya setengah terbuka kini menutup perlahan. Menurunkan kakinya yang setengah berjinjit dan memberi jarak pada Kai.
Lelaki itu menahan tawanya melihat bagaimana Kyungsoo berusaha payah menghindar. Ya ampun.
"Hilangkan pikiran bodohmu itu. Aku hanya bercanda," Kai mencondongkan wajahnya ke hadapan Kyungsoo. "Apa kau takut jika aku melakukannya lagi?"
Kyungsoo mengigit bibir bawahnya. Mengintip bagaimana kedekatan mereka saat ini. Matanya kemudian berputar menjauhi tatapan Kai.
Tanpa ia sadari lelaki itu mendekatkan wajahnya dengan perlahan, hidung mereka bersentuhan, kemudian kepala Kai sedikit miring, ia mencium bibir hati Kyungsoo dengan begitu lembut. Meskipun kering dan tanpa permainan lidah. Kai mencium bibir Kyungsoo dengan lembut.
"Bersihkah dirimu terlebih dahulu. Saat kau selesai segera temui aku di luar. Kau akan berjumpa dengan violinmu."
Kyungsoo mengangguk mengerti.
"Terima kasih dr. Kim."
Ia membiarkan Kyungsoo berlari memasuki kamar mandi. Entahlah, setiap kali melihat Kyungsoo merona, hati Kai menjadi hangat. Kyungsoo yang polos dan begitu baik.
Kai harap Suho sudah mengatakan perihal alerginya terhadap bulu kucing jadi Kyungsoo tidak meminta untuk memelihara kucing liar itu. Jika dia memaksa bagaimana Kai harus menolak? Semua permintaan Kyungsoo terlalu sering ditolaknya. Bisakah dia dikatakan suami yang baik? Sebentar lagi saja, Kai masih sangat berjuang untuk melawan dirinya sendiri agar bisa membuat Kyungsoo nyaman. Memang sangat sulit namun dia menjadi tidak sabar untuk waktu yang akan datang.
~oOo~
"Woaghhh! Aku merindukanmu!"
Kai tersenyum melihat Kyungsoo berseru mendapatkan violin itu kembali. Benda itu sebenarnya disimpan Kai di dalam mobil. Tampaknya Kyungsoo tidak menyadari karena Kai meletakkan di bagian belakang. Bagian di mana mereka berdua tidak sering membukanya.
~ RoséBear~
Pada pukul sembilan pagi ketika Kai membawa Kyungsoo ke supermarket. Lelaki itu mendorong troli yang kini mulai diisi beberapa bahan makanan.
Mereka berjalan seperti biasanya. Tiba-tiba setelah menyusun semua belanjaan di bagian belakang mobil Kyungsoo menarik kemeja Kai membuat lelaki itu setengah menunduk.
"Ada apa?"
Kyungsoo masih menarik mantel Kai. Sementara tangannya yang bebas menunjuk sebuah kedai di pinggir jalan.
"Ayo pergi ke kedai itu membeli kue ikan?"
Dia tidak segera memberi persetujuan. Hanya menutup mobil kemudian menawarkan tangannya.
"Mau bergandengan denganku?"
Kyungsoo hanya menatap jari kosong Kai di hadapannya. Ia tersenyum dan mengangguk saat menautkan kedua jari mereka.
Kai membawa tangan Kyungsoo memasuki kantong mantelnya. Memberikan rasa hangat disana. Udara hari ini masih sangat dingin. Beberapa minggu lagi musim dingin benar-benar akan tiba. Orang-orang mulai bersip.
~oOo~
Sepanjang perjalanan pulang wanita itu hanya duduk memegangi kantong kertas berisikan kue ikan. Sesekali dia memandangi Kai, dia telah membeli banyak namun ternyata lelaki yang kini menyetir tidak menyukai kue ikan. Kyungsoo mengeram kesal karena Kai memaksa menghabiskan semuanya.
"Apa aku boleh ke tempat Chanyeol hari ini?"
"Untuk?"
"Kau ingin makan malam apa? Aku akan minta bibi mengajariku."
Kai tersenyum mendengar jawaban Kyungsoo. "Apapun yang kau masak aku akan memakannya."
Dia benar-benar tidak bercanda. Kai tidak menolak makanan yang Kyungsoo sediakan. Tidak ada maksud tertentu, tapi lelaki ini berusaha dengan caranya sendiri.
Sesampai di rumah 'pun Kai masih membantu Kyungsoo menyusun semua belanjaan mereka. Dia menemukan kantong kertas berisikan kue ikan yang masih tersisa banyak. Ia masih ingat bagaimana senangnya Kyungsoo mengambil setiap potongan itu, ia pikir Kai akan ikut memakannya tapi pria itu menolak dengan cara lain.
Rasanya terlalu lama dia sendirian di dapur, semuanya telah dibereskan. Kaki panjang dokter muda itu melangkah kembali ke ruang tengah menemukan Kyungsoo sedang duduk memunggunginya. Lelaki itu menyipitkan mata memastikan apa yang Kyungsoo kerjakan.
"Ada apa dengan violinmu?"
"Hah?"
Wanita itu terkejut oleh pertanyaan Kai, dia mengangkat biolanya dan memperlihatkan pada Kai segera. "Hanya membersihkannya."
Sejenak Kai mulai berpikir betapa Kyungsoo menyayangi benda itu. dr. Do bilang jika violin yang Kyungsoo gunakan saat ini adalah hadiah ulang tahun darinya. Tapi itu sudah sangat lama, bahkan ketika istrinya masih hidup. Sudah sewajarnya jika Kyungsoo memperlakukan benda itu dengan sebaik-baiknya.
"Ayolah, aku ingin ke rumah sakit." Lelaki itu tanpa duduk telah memanggil Kyungsoo.
"Oh ya. Tadi Suho oppa berpesan dia menunggumu di sana. Maaf aku lupa menyampaikannya."
Kai sama sekali tidak marah. Dia menunggu Kyungsoo mengemasi violin itu. Kemudian mengunci rapat rumah agar mereka bisa pergi dengan tenang.
Kai harus mengambil jalan memutar untuk bisa sampai ke rumah Chanyeol. Mengantar Kyungsoo dan barulah dia bisa pergi bekerja.
"Aku akan menjemputmu jam tujuh. Kau boleh makan malam di sini."
Kyungsoo mengangguk paham."Ya. Hati-hati. Sampaikan salam pada kakek. Besok aku akan berkunjung."
~ RoséBear~
Ketika sampai di rumah sakit. Yang lelaki itu temui bukan hanya Suho dan kakeknya, melainkan sosok Kris di ruang yang sama. Mereka bertiga menanti kedatangan Kai.
Pria itu berjalan masuk setelah menghilangkan rasa canggung di antara para pria yang lebih tua darinya. Di tangannya terdapat papan yang menampung beberapa kertas. Ia mulai mendekat dan mengecek kondisi kakeknya. Semua terlihat stabil namun juga tidak membaik dari sebelumnya.
"Aku punya sepuluh menit untuk mendengarkan. Kurasa kalian memiliki pertanyaan masing-masing. Tolong sampaikan segera dan jangan terlalu banyak berharap dari anak kecil sepertiku."
Ucapan Kai mengundang tawa kakeknya. Pria paling tua itu bersender di kepala ranjang. Ia menatap ketiganya secara bergantian lalu berhenti pada Kai.
"Kenapa kau yang memeriksaku? Kemana dokter Do?"
"dr. Do melakukan operasi. Maaf kalau aku mengecewakan untuk menjadi dokter pengganti sementara kakek." Jawabannya cukup untuk memuaskan pertanyaan sang Kakek.
"Kai-ah, kenapa kau menolak permintaan Kris?"
Namun setelah pertanyaan kedua Kai mendelik pada Kris sementara pria itu mengangkat bahu mengabaikan tatapan tajamnya. Dia butuh udara segar untuk menenangkan diri dari pertanyaan kakeknya. "Aku sudah memberitahunya untuk mengajukan ke manajemen rumah sakit. Kurasa kakek mengerti prosedur di rumah sakit. Dia harus mematuhi itu. Hanya kakek saja yang bertanya?"
Saat itu Suho tersenyum. Dia mengerti maksud ucapan adiknya. "Bisakah kau keluar Kris? Ada yang perlu kami bicarakan. Ini masalah keluarga."
Lelaki tinggi itu memandangi mereka satu persatu dan tampaknya dia memang di usir dari sana. Pada akhirnya dia memilih pergi setelah berpamitan.
Pada tiga lelaki yang telah menikah ini, mereka saling tersenyum canggung satu sama lain. Terutama pria yang berbaring di kepala ranjang itu.
Kai melangkah mendekat. Tatapannya tetap tajam pada Suho dan kakeknya.
"Bagaimana Kyungsoo?"
"Dia akan berkunjung besok. Hari ini dia memulai latihan pertamanya."
Sesungguhnya hanya pertanyaan basa basi ketika anggota keluarga berkumpul. Mereka telah terbiasa untuk awal percakapan seperti ini.
Kakek tersenyum mendengar jawaban Kai. Kepalanya mengangguk pelan. "Kau mulai mengizinkannya?"
"Lalu aku harus bagaimana?"
Yang mereka tahu Kai mencintai Kyungsoo sebagai kekasihnya dan kini berubah menjadi seorang istri. Kemungkinkan apapun yang diminta Kyungsoo, pria ini akan berusaha. Tanpa mereka sadari apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Apa kau sudah mengatakan alasan sebenarnya pada Kyungsoo?"
Kali ini Suho yang mengajukan pertanyaan. Kai menggeleng lemah. "Aku terlalu takut dia tidak bisa menerima alasanku. Bukankah akan terdengar konyol?"
"Ya. Tapi mulailah memikirkan jawaban untuk Kyungsoo atau aku bisa membantu." Suho menarik kursi kayu dan memilih duduk untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
"Tidak! Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku hyung!"
Dia memang seorang adik yang lebih muda beberapa tahun, tapi Kai begitu tegas. Sejak kecil Suho sudah memahami itu, dia juga tidak akan melakukan jika Kai sendiri berkata jangan.
"Jadi? Kakek tetap ingin pindah perawatan dari rumah sakit ini? Bagaimana jika dr. Do tidak memberi izin?" Kai hanya berusaha kembali ke topik pembicaraan mereka. Dia sudah sadar dengan apa yang terjadi pada kunjungan Suho sejak kemarin sore.
"dr. Do sudah memberi izin Kai. Hanya kau saja yang tidak mengizinkan. Jika memungkinkan. Beberapa hari lagi kakek bisa dipindahkan." Kali ini penjelasan Suho terdengar lebih rinci. Di mana dia menjelaskan pokok permasalahan yang sedang mereka bicarakan.
"Lalu siapa yang akan berjaga di sana?"
Dia tetap mengeluarkan berbagai bentuk protes yang melintas di kepalanya. Tapi kakek maupun Suho memiliki jawaban mereka. Memastikan Kai tidak mengeluarkan protes lagi. Di mana Suho menjelaskan jika Dokter Do bahkan telah membantu untuk menemukan dokter yang cocok, Ayah Kyungsoo juga sudah berjanji akan berkunjung setiap minggu. Kondisinya juga akan dilaporkan pada dokter Do maupun Kai.
Sejujurnya Kai sangat khawatir karena dia membaca laporan dr. Do mengenai kondisi kakeknya yang selama ini ia sembunyikan bersama sang dokter. Jantung itu semakin hari makin memburuk. Serangan terakhir membuatnya harus menggunakan kursi roda.
"Kai-ah, tidakkah kau harus mendatangi pasien yang lain?"
Dia mendapat teguran langsung dari Suho. Sekarang dia hanya harus kembali bekerja agar kakeknya percaya jika Kai adalah lelaki dewasa yang sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Tidak seharusnya menghawatirkannya.
~ RoséBear~
Sementara di tempat lain. Ruangan itu tampak ramai, entah itu hanya tepuk tangan tak berkelas, suara protes ataupun persetujuan.
Ketiga anak manusia itu masih mencoba menentukan lagu apa yang akan dimainkan Kyungsoo pada seleksi pertama.
Baekhyun baru saja kembali dari tempat pendaftaran dengan membawa data mengenai lagu yang bisa dimainkan oleh peserta. Sejak kemarin Kyungsoo sudah resmi menjadi peserta umum dan sekarang mereka berdebat seperti biasanya.
Mereka bertiga duduk di lantai kayu studio Chanyeol. Ahh mungkin mereka berusaha namun lihatlah bagaimana Baekhyun bermain bersama kucing yang pagi ini tiba di kediaman keluarga Park.
Bahkan aroma cat masih cukup menyengat di ruangan ini tidak mengurangi kegiatan mereka. Ada panggung kecil berisikan drum dan beberapa gitar pribadi milik Chanyeol. Sebenarnya pria ini memiliki kelompok kecil dalam perjalanan hidupnya. Anggota band yang sekarang sedang 'bersolo' karier seperti yang Chanyeol katakan sebagai pembelaan karena ketiga temannya yang lain sedang mengambil libur mereka. Terakhir Chanyeol bermain gitar untuk mengiringi penampilan Baekhyun dalam beberapa sesi pertunjukkan kampus maupun secara umum.
Kyungsoo?
Dia pecinta musik klasik yang sedikit memasuki jalur romantisme. Tidak terlalu cocok dengan musik pop zaman sekarang sepert Chanyeol dan Baekhyun. Kyungsoo menyukai musik gesek, seperti Violin.
Jadi sewajarnya mereka berdebat dalam menentukan sebuah lagu.
"Bukankah ini seperti yang dibawakan Batch dalam G on the string?" Baekhyun bertanya setelah membaca kolom terakhir dari lembar kedua.
"Ya memang benar. Tapi gesekkan violin Batch agak tidak sesuai dengan Kyungsoo."
Kyungsoo melotot mendapati tatapan Chanyeol yang mengisyaratkan sebuah sindiran. "Orang yang gugup di atas panggung tidak bisa bermain musik dengan tenang. Sebaiknya cari aman saja dulu untuk seleksi pertama. Keputusan juri bahkan keluar dalam satu menit setelah permaianan selesai. Kompetisi ini mengerikan," lelaki itu setengah berteriak.
Kedua wanita itu menghela napasnya berat. Kyungsoo memilih menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Kepala bertumpu pada lengan, ia bisa menatap langit-langit studio kecil milik Chanyeol. Lukisan langit biru dan sedikit awan bergelombang membuat kesan luas. Ruangan ini menggambarkan Chanyeol yang bebas. Menerawang jauh meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun yang sibuk membalik-balik lembaran kertas bersama kucing dalam pelukan wanita cantik itu.
"Kyungsoo! Bagaimana jika Caprice no.24 Paganini?"
Kyungsoo bangkit dan mengambil lembaran kertas dari Chanyeol.
"Terselip sendiri di lembar terakhir," Chanyeol memberinya petunjuk.
"Caprice no. 24? Aku pernah mendengar permainan memukau Alexander Markov. Kurasa itu akan cocok untukmu."
Kyungsoo menganggukkan kepala untuk pendapat Baekhyun barusan. "Sudah kuputuskan. Caprice no. 24."
Chanyeol beranjak dari tempat duduknya menuju sebuah rak penuh buku dan juga berkas pribadi miliknya. "Apa yang sedang kau cari sayang?" Baekhyun hanya setengah penasaran.
Lelaki itu membalik badannya. "Tidak ada."
"Apanya yang tidak ada?" Kyungsoo dan Baekhyun menjadi bingung dengan ucapan Chanyeol. Lelaki itu kembali lagi mendekat. Mengatakan ia kehilangan partitur karya Paganini yang seharusnya Chanyeol memiliki.
"Heiii! Aku tinggal kembali ke rumah saja, aku punya partiturnya Chan. Jangan khawatir," wanita itu kembali berbaring lagi. Namun sedikit lebih tenang dengan senyum di wajahnya.
"Ya. Kupikir aku bisa membantu"
Lagi, kedua wanita itu kompak. Mereka menertawakan Chanyeol.
"Tidak perlu mencarinya. Aku memilikinya, sudah kuduga kau akan memulai dengan karya Paganini."
Mereka serentak menoleh ke arah pintu. Mendapati sosok Henry kini berjalan mendekat. Buru-buru Kyungsoo bangkit. Mengambil posisi duduk menemukan pria berkulit putih itu melangkah mendekat.
"Henry? Bagaimana kau tahu kami disini?"
Chanyeol tidak bisa berhenti berkomentar. Dia sangat penasaran dengan kedatangan pria ini. Seingatnya sudah memberitahu jika benar-benar ingin melatih Kyungsoo, datang setelah mereka menentukan lagunya. Jadi kedatangan mendadak ini mengejutkan mereka.
"Hai. Lama tidak bertemu," Henry melambaikan pada Kyungsoo yang merasakan setengah kecanggungan.
"Oh hai."
"Kebetulan membeli beberapa untuk makan malam dan bertanya pada Ayahmu. Dia mengizinkan aku kemari." Henry berusaha memberi penjelasan kepada ketiganya.
"Oh ya bergabunglah..."
Mereka hanya bicara beberapa hal. Mengenai musik, penampilan Henry ketika di luar negeri. Lelaki itu adalah seorang pemusik, dia dicintai karena musiknya. Bahkan menawarkan pada Kyungsoo tentang resital yang sedang direncanakan Henry. Tujuan kenapa lelaki itu kembali ke Korea adalah untuk mengadakan pertunjukan perdana di negara ini.
Chanyeol hanya pergi sebentar keluar dari ruangan. Lelaki itu kembali lagi menyapa mereka. "Ibu meminta kalian berdua ke belakang sekarang." Pintanya pada kedua wanita.
"Oh? Sudah hampir jam makan malam? Wahh aku harus kembali."
Henry mengingat makanan yang dia beli. Tanpa berpikir dia segera bangkit dan menepuk debu dari pakaiannya.
"Kyungsoo. Kapan kau mulai berlatih? Waktumu hanya 20 hari saja."
Ia melirik Chanyeol dan Baekhyun bergantian. "Mungkin tidak besok. Aku ingin berkunjung ke rumah sakit."
~ RoséBear~
Kai bilang dia akan menjemput Kyungsoo jam tujuh malam. Nyatanya sudah jam sepuluh dia tak kunjung datang. Kyungsoo terlalu lelah, bahkan dia mandi dan bergantian pakaian dengan kaos yang baru dibeli Chanyeol kemarin sore tanpa sempat pria tinggi itu mengenakannya lebih dulu.
"Tidur saja di sini. Biar kututup kafe agar dia bisa belajar menghargaimu. Bagaimanapun lelaki itu sulit sekali dihubungi."
Chanyeol hanya emosi karena Kai tidak menjawab panggilan Kyungsoo. Tapi temannya itu menolak. Bahkan sampai Chanyeol mengantar Baekhyun pulang dan dia masih mendapati Kyungsoo menunggu.
Pada akhirnya Chanyeol menyalakan laptopnya. Menemani Kyungsoo menunggu kedatangan Kai. Jam di atas pintu kafe masih berdenting dengan pelan, menjadi musik malam yang terdengar begitu menenangkan.
Suara pintu dibuka dan langkah kaki tergesa-gesa memaksa Chanyeol mengangkat kepala, ditatapnya tajam sosok Kai, lelaki itu mengatur napasnya yang masih tersenggal.
'Apa dia baru saja berolahraga malam?' Pikir Chanyeol mendapati keringat pada Kai.
"Ada kecelakaan lalu lintas saat akan kemari. Jadi aku membantu dan kembali ke rumah sakit untuk membawa korban."
Oh. Lelaki itu sepertinya tidak ingin Chanyeol mengumpat padanya. Jadi sebuah alasan kemanusiaan dirasa bisa digunakan.
"Ya. Kyungsoo tertidur menunggumu. Jangan salah paham. Aku bahkan belum memakai kaos ini. Dia bilang tubuhnya lengket karena pekerjaan hari ini."
Kai mengangguk paham. Ia tersenyum pada Chanyeol. Berjalan mendekat dan menyingkirkan helaian rambut dari wajah Kyungsoo.
"Dia baru tertidur. Biar aku saja yang memindahkannya ke mobilmu." Sebuah saran yang sudah pasti akan di tolak lelaki itu.
"Tidak. Kamu pasti lelah menemaninya. Terima kasih banyak tuan Park. Aku masih bisa mengurus istriku."
Hanya dengusan kesal. Namun Chanyeol tidak bisa berniat apa-apa. Kai adalah suami Kyungsoo. Dia berhak penuh atas diri teman baiknya.
"Lain kali beri kabar agar aku bisa mengantarnya pulang."
Kai tidak berkomentar atas protes Chanyeol. Dia memilih membawa Kyungsoo berjalan ke luar kafe. Di belakangnya Chanyeol membawakan tas violin Kyungsoo.
"Caprice no. 24 karya Paganini."
Setelah meletakkan Kyungsoo, lelaki itu menoleh pada Chanyeol dengan tatapan bingung.
"Kami baru memilih lagu untuk seleksi pertamanya. Dia mengalami kegugupan sampai berpikir ibunya juga ada di panggung untuk menenangkannya. Suatu hari aku ingin Kyungsoo menyadari jika dia adalah pemain violin solo."
"Kenapa kamu mengatakan hal itu lagi padaku?"
Chanyeol mengangkat bahunya. "Entahlah."
Kai terkejut melihat mimik muka Chanyeol yang kemudian menjadi tidak peduli.
"Hanya... Kupikir kau berhak diberikan kesempatan."
Bibir tebal Kai memandang sebagaimana dia tersenyum kaku. "Ya terima kasih untuk kesempatannya, aku permisi."
Dia mengambil jalan memutar untuk menuju kemudi. Kemudian membawa laju mobil menjauh dari kafe keluarga Park. Kai bersusah payah memindahkan Kyungsoo. Ia harus melepaskan jeans panjang yang dikenakan Kyungsoo. Pasti sangat tidak nyaman bagi wanita ini tidur dengan pakaian ketat. Tapi ia tidak melepaskan kaos di tubuh Kyungsoo.
Sesungguhnya Kai lelah. Pekerjaan tidak terduga yang menyita waktunya. Lelaki itu memilih mengguyur tubuh. Beberapa darah korban kecelakaan memercik ke celana dasar yang dia pakai. Dia juga harus menghilangkan aroma tidak sedap dari pekerjaan hari ini.
Tadinya Kai ingin langsung berbaring, namun dia ingat belum makan sejak siang. Lelaki itu melangkah menuju dapur. Dia tidak ingin membangunkan Kyungsoo hanya untuk mengisi perut laparnya. Wanita itu juga tampak lelah walau Kai sedikit penasaran pekerjaan apa yang Kyungsoo lakukan hari ini.
"Kau masak?"
"Aku membangunkanmu?"
Kai bertanya ketika menemukan sosok Kyungsoo berdiri di ambang pintu. Ternyata ia bangun dan berjalan dengan kaki telanjang menuju dapur.
"Maaf terlambat menjemputmu. Aku harus kembali ke rumah sakit untuk membawa korban kecelakaan."
Dia memberi Kyungsoo alasan tanpa menghentikan gerakan tangannya sendiri. "Aku tidak membangunkanmu. Aku tahu kau lelah," Dia menambahkan penjelasan.
Kyungsoo tidak berkomentar. Berjalan mendekat, dari balik punggung lebar Kai ia berusaha mengintip dengan berjinjit. "Apa yang kau siapkan?"
Begitu Kai menyelesaikan masakannya dia berbalik. "Nasi campur. Mau mencoba?"
Berjalan melewati Kyungsoo menuju meja makan. Hanya ada satu mangkuk besar berisikan nasi yang ia campur dengan sayuran dan potongan sosis.
Sekali lagi Kyungsoo tidak berkomentar. Ia mengambil posisi duduk berhadapan dengan Kai. Memperhatikan bagaimana lelaki ini memasukkan beberapa garam dan lada ke dalam mangkuknya. Sekali lagi dia mengaduk-aduk 'nasi campur' itu.
"Apa kau lapar? Cobalah... Aaah."
Tanpa sadar Kai mengangkat satu sendok pertama dan mengarahkan pada mulut Kyungsoo yang diterima dengan baik.
Malam itu masih diliputi oleh keheningan. Beberapa kali Kai menyuapkan nasi campur untuk Kyungsoo. Walau tampak ada kecanggungan tapi hati keduanya menjadi hangat.
Lelaki itu tersenyum ketika Kyungsoo menawarkan diri untuk mencuci mangkuk tempat makan mereka. Ia memperhatikan bagaimana wanita manis itu berdiri membelakanginya dengan kaos kebesaran menampilkan sebagian besar paha mulusnya.
Oh Kai! Luruskan otakmu. Kyungsoo masih canggung untuk sentuhan-sentuhan intim. Namun mengajari Kyungsoo adalah tugasnya sebagai seorang suami. Pada akhirnya lelaki itu beranjak. Ia memeluk Kyungsoo dari belakang membuat wanita itu terkejut.
"Aku hanya ingin memelukmu. Boleh?"
Apa yang harus Kyungsoo katakan? Lelaki ini meminta izin tapi dia sudah melakukannya. Bagaimana cara Kyungsoo menghindar jika sudah begini?
"Apa kau lelah?"
Lada akhirnya pertanyaan singkat itu meluncur.
Kai mengangguk membuat helaian rambutnya menggelitik leher Kyungsoo.
"Ya. Jadi biarkan aku mengisi tenagaku sebentar."
Kyungsoo tidak bisa menahan perasaan senangnya. Dia tersenyum tanpa Kai bisa melihat itu.
"Besok aku ingin mengunjungi kakek."
"Ya, Aku sudah sampaikan pada kakek."
To be continue...
Terima kasih
RoséBear
