Chapter 7
Baby Please Don't Cray
Halo, halo update malem-malem setelah tadi pagi ujian hehehe (curhat dikit) terima kasih untuk para pembaca maaf belum bisa menyebutkan atau bales satu-satu. Terima kasih juga untuk yang beri saran mau pairing siapa saya pertimbangkan ya.
¶¶¶
"Siap Kang Seungyoon?"
"Aku siap."
"Bagus. Kita mulai." Taehyun melempar senyuman termanisnya sambil berusaha menggerakkan kedua alisnya naik turun yang terlihat sangat konyol.
"Sudah kita beraksi saja jangan tunggu lama-lama." Ucap Seungyoon sambil mengenakan penutup kepala, jaket putih yang ia kenakan dengan bendera Korea Selatan di bagian dada kanan. Keduanya bersembunyi di balik semak-semak pembatas halaman parkir dengan halaman rumah sakit tempat Jinwoo bekerja. "Kemarin Hyung membalas pesanmu?"
"Yup."
"Isinya?"
"Pukul dua belas siang dia bebas tugas sampai jam dua sore."
"Selajutnya?"
"Selanjutnya apa?" Bukannya menjawab Taehyun justru balik bertanya.
"Hanya itu."
"Menyebalkan—pesanku tidak dibalas tapi pesanmu justru dibalas."
"Mungkin Jinwoo hyung sudah bosan denganmu."
"Diam! Jangan membuat hariku bertambah buruk Nam Taehyun."
"Aku sudah bersedia menemanimu seharusnya kau berterimakasih padaku."
"Kau sendiri yang menawarkan bantuan, jika tidak ditepati kesialan pasti menimpamu."
"Selalu mendoakan yang buruk-buruk!" dengus Taehyun yang diabaikan Seungyoon.
Hari ini seperti niatan Seungyoon kemarin dia akan pergi mengikuti Jinwoo dan melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh kekasihnya itu sampai-sampai selama hampir dua minggu ini dirinya diabaikan.
"Seungyoon satu minggu lagi libur musim panas kan? Kau punya rencana apa?"
"Pindah rumah." Balas Seungyoon sekenanya sementara kedua matanya masih menatap tajam ke arah mobil Jinwoo yang terparkir.
"Kau serius mau pindah ke apartemenku?"
"Ya, aku sudah meminta tolong ibumu untuk bernegosiasi dengan si pemilik apartemen."
"Baguslah kita bertetangga jadi kita bisa selalu bersama." Ucap Taehyun dengan nada bicara yang artinya sungguh berbeda dengan apa yang ia ucapkan.
"Kau tidak suka jika kita selalu bersama?" Seungyoon masih sempat menggoda Taehyun di tengah-tengah kesibukannya mengamati mobil si target.
"Tidak ah—jika kau selalu merebut orang yang aku sukai."
"Aduh kau ini! Kan baru Jinwoo saja jangan berlebihan."
"Aku perlu mengantisipasi." Balas Taehyun tegas.
"Eh belah tengah! Itu Jinwoo!" pekik Seungyoon tertahan kemudian dengan cara yang tidak berperiketemanan dia langsung menarik Taehyun agar agar dia lebih merendahkan tubuhnya, sehingga posisi mereka benar-benar tersembunyi di balik semak-semak.
Jinwoo berjalan keluar dari gedung rumah sakit seorang diri, sementar dua orang yang sedang bersembunyi hampir mati penasaran. "Dia mengeluarkan ponsel, sepertinya Jinwoo akan menghubungi seseorang." Ucap Taehyun.
"Pssssttt! Jangan berisik!" bentak Seungyoon ketus.
Dan benar saja Jinwoo dengan jelas terlihat menghubungi seseorang selang beberapa detik kemudian ponsel Seungyoon bergetar. "Taehyun! Hyung menelponku!" pekik Seungyoon girang mengabaikan tatapan sebal yang diberikan oleh Nam Taehyun.
"Halo Hyung."
"Seungyoon kau dimana?"
"A—aku sedang jalan-jalan dengan Taehyun. Ada apa Hyung?"
"Aku sedang bebas tugas selama dua jam bisa kita bertemu sekarang? Aku akan menunggumu di depan gedung rumah sakit tempatku bekerja. Apa kau bisa?"
"Hyung—apa ada sesuatu yang buruk terjadi padamu?"
"Tidak ada Seungyoon kau tenang saja. Datanglah aku mohon Seungyoon."
Taehyun benar-benar merasa tersiksa menahan rasa penasarannya, saat Seungyoon menutup ponselnya kembali, dia langsung menarik lengan kanan Seungyoon dengan kasar. "Apa yang dikatakannya?! Aku mau dengar?!"
"Dia ingin bertemu denganku." Balas Seungyoon lemah. "Aku merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi."
"Jinwoo memutuskanmu?"
Seungyoon melempar tatapan tajam. "Kau berharap ya?" desisnya.
"Oh tidak tentu saja tidak. Pergilah aku akan menunggumu di sini."
"Ikut aku." Ucap Seungyoon singkat, meski berniat menolak namun apa daya Seungyoon sudah menarik Taehyun dengan kasar.
Taehyun merasa genggaman tangan Seungyoon pada lengan kanannya terasa lembab. Telapak tangan Seungyoon berkeringat hal itu selalu terjadi saat sahabatnya itu merasa tegang. Akhirnya Taehyun berpikir bahwa firasat Seungyoon mungkin benar, saat Jinwoo tidak tersenyum atau melakukan penyambutan yang ramah ketika dirinya dan Seungyoon sampai.
"Kau cepat sekali Seungyoon."
"Aku mengikutimu."
"Apa?!" Jinwoo membulatkan kedua bola matanya tidak percaya dengan pengakuan kekasih lebih mudanya itu. "Kenapa?"
"Aku penasaran saja kenapa tidak ada kabar darimu hampir dua minggu ini."
"Maaf untuk hal itu Seungyoon—aku sangat sibuk. Kau punya cukup waktu?"
"Tentu. Aku sengaja membolos hari ini untukmu Hyung."
Jinwoo mendesah pelan. "Baiklah kali ini saja aku akan memaafkanmu Seungyoon. Lain kali jangan pernah membolos lagi."
"Hmmm." Gumam Seungyoon malas.
Jinwoo mencoba tersenyum namun hal itu sama sekali tidak membuat suasana hati Seungyoon berubah menjadi lebih baik. Jinwoo mengisyaratkan kepada Seungyoon dan Taehyun untuk pergi mengikutinya. Seungyoon mengikuti setiap langkah Jinwoo dengan berbagai pertanyaan yang semakin menyesaki dadanya.
ICU, hanya itu yang bisa Seungyoon tangkap dari layar pemberitahuan tentang tempat mereka berada sekarang. Mereka berdiri di depan sebuah kamar, dari kaca jendela besar yang memperlihatkan bagian dalam kamar, Seungyoon melihat seorang laki-laki duduk di atas ranjangnya sambil membaca buku. "Siapa yang sakit?" Seungyoon tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Aku membencinya karena dia pergi begitu saja tanpa alasan. Lalu kami bertemu kembali dan akhirnya aku mengerti apa alasan yang selama ini ia sembunyikan."
"Hyung kau belum menjawab pertanyaanku."
"Dia kekasihku, Kwon Jiyong."
"Ini hanya lelucon saja kan? Hyung hanya main-main saja kan denganku?"
Tidak ada jawaban namun Seungyoon bisa merasakan kehangatan yang dipancarkan oleh telapak tangan Jinwoo yang kini menggenggam telapak tangannya dengan erat. "Maaf Seungyoon, usianya tidak akan lama lagi dan aku memutuskan untuk merawatnya dan menemaninya sampai akhir nanti."
"Bagaimana dengan aku Hyung?"
"Maaf aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Kau tahu kadang takdir mempermainkan kita. Aku berharap kau bisa menungguku Seungyoon tapi—itu egois sekali. Pergilah. Aku tidak cukup baik untukmu."
"Jika dia mati. Kau akan tersakiti Hyung."
"Aku akan menerima semuanya."
"Aku tidak ingin kau merasa sakit Hyung."
"Maafkan aku Seungyoon seandainya aku bisa memilih, seandainya dia pergi begitu saja, seandainya aku tidak pernah mengetahui kenyataan ini. Aku benar-benar berharap ceritanya bisa berjalan dengan cara lain."
Seungyoon menoleh mengamati wajah Jinwoo, tatapannya begitu tulus dan penuh cinta, namun tatapan itu bukan untuknya. Dengan pelan Seungyoon membebaskan tangannya dari genggaman Jinwoo. "Kau bisa berbagi cerita padaku setiap saat Hyung."
"Terima kasih Seungyoon."
Seungyoon berusaha tersenyum dan menampakkan wajah bahagianya meski dirinya benar-benar hancur. "Setidaknya kau menghubungiku Hyung."
"Maaf aku benar-benar bingung saat itu, maafkan aku Seungyoon."
"Baiklah sekarang semuanya jadi jelas, Hyung aku akan mendukungmu." Seungyoon menarik pelan pundak kiri Jinwoo dan memberinya pelukan erat. Taehyun bisa melihat bahwa Seungyoon sedang berusaha keras untuk tidak menunjukkan emosinya di hadapan Jinwoo. "Aku akan selalu ada untukmu Hyung."
"Terima kasih Seungyoon. Sekali lagi terima kasih dan maafkan aku."
"Tidak masalah Hyung. Sebaiknya aku dan Taehyun pulang sekarang. Sampai jumpa."
Seungyoon memberikan senyuman terakhirnya sebelum berbalik dan berjalan pergi. Taehyun tidak berani mengatakan apa-apa kecuali menunggu Seungyoon mengatakan sesuatu padanya. "Taehyun bawa mobilku."
"Baik. Seungyoon?!" Taehyun berpikir bahwa Seungyoon akan masuk ke dalam mobil namun kenyataannya anak itu justru terus berjalan. "Kau tidak masuk?!"
"Aku pulang jalan kaki saja." Taehyun berjalan mendahului Seungyoon kemudian menghadangnya. "Itu jauh sekali, kau bisa bercerita padaku Seungyoon jangan menyimpan bebanmu seorang diri."
"Aku baik-baik saja Taehyun, aku hanya butuh waktu untuk sendiri sekarang. Aku janji akan bercerita padamu kapan-kapan. Pulanglah sepertinya hujan akan segera turun."
"Aku mencemaskanmu apa kau membawa payung? Jas hujan? Apa jaketmu anti air?"
"Taehyun berhentilah mengkhawatirkan aku. Semuanya baik-baik saja. Sampai jumpa." Seungyoon tersenyum simpul sambil menepuk pelan pundak kiri Taehyun. Taehyun mendesah pelan sebelum akhirnya menyetujui permintaan Seungyoon.
¶¶¶
Jarak antara rumah sakit dan rumahnya sudah cukup jauh namun Seungyoon justru memperlebar jarak itu dengan mengambil jalan memutar. Sengaja, menunggu hujan turun agar saat dirinya menangis nanti tidak akan ada seorangpun yang melihat air matanya. "Bertahanlah sedikit lagi. Sampai hujan turun." Ucap Seungyoon menenangkan dirinya sendiri.
Langit semakin pekat dan tidak berapa lama kemudian Seungyoon merasakan titik-titik air mulai terjatuh dari awan gelap yang menggantung. Semua pejalan kaki yang ada langsung membuka payung masing-masing atau berlari-lari mencari tempat untuk berteduh. Dan tidak butuh waktu lama hingga jalanan benar-benar sepi. Seungyoon memejamkan kedua matanya menikmati guyuran hujan yang sebentar lagi akan menembus jaket tebal yang ia kenakan.
"Hujan akan turun lebat, tapi kau tenang saja hujan hari ini bukan badai."
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Memayungimu."
Seungyoon hanya terdiam tidak memiliki tenaga lagi untuk menolak kehadiran Mino yang kini tengah merangkul pundak serta memayunginya. "Kau senang kan? Jinwoo pergi."
"Tidak."
"Pembohong besar aku tahu kau pasti tertawa di dalam hati sekarang."
"Aku tidak sejahat itu."
"Keinginanmu terkabul seharusnya kau bahagia sekarang."
"Tapi kau sedih sekarang."
"Apa pedulimu?"
"Aku peduli padamu Seungyoon, meski kau sulit menerimanya bukan? Pengakuanku terdengar seperti omong kosong sekarang."
Seungyoon hanya tersenyum simpul sebelum akhirnya ia melepaskan rangkulan Mino di pundaknya dan berjalan mendahului Mino, membiarkan hujan deras mengguyur tubuh dan membasahi jaketnya dengan cepat. Namun, hujan deras itu berhenti dengan tiba-tiba. Kedua kaki Seungyoon terpaku di tempat.
Ia kepalkan kedua telapak tangannya kuat-kuat sekali lagi Mino mencampuri kehidupannya. Seungyoon berbalik dengan cepat memberikan tatapan penuh kebenciannya untuk Mino. "Kau yang melakukannya kan?!" teriaknya penuh dengan amarah.
"Aku hanya ingin melindungimu."
"Pergilah! Aku tidak membutuhkanmu atau bantuamu! Pergi sekarang juga!"
Tidak mempedulikan semua teriakan penolakan itu, Mino berjalan menghampiri Seungyoon. Menarik pelan tangan kanan Seungyoon membawanya ke dalam dekapan tulusnya. "Menangislah," bisik Mino pelan.
Rasa sesak itu semakin kuat menekan, Seungyoon ingin sekali menekan semua perasaan menyedihkan itu, menyimpannya dalam-dalam dan bersikap seolah-olah semuanya tidak terjadi. Tapi semuanya benar-benar sulit dan terasa begitu menyakitkan. "Kenapa, kenapa Hyung memilih laki-laki itu? aku tidak mau melihat Jinwoo hyung terluka, aku tidak mau. Sekarang aku—aku yang terluka. Sakit. Sakit sekali."
"Menangislah semuanya akan baik-baik saja," bisik Mino pelan sambil mempererat pelukannya pada tubuh Seungyoon. Jalanan yang sepi membuat keduanya tidak perlu mencemaskan tatapan orang-orang.
"Aku—aku tidak ingin merasakan cinta lagi jika akhirnya terasa sangat sakit seperti sekarang ini. Mino." Hujan kembali turun dengan lebat, Mino tidak mampu mengendalikan hujan karena perasaannnya yang tidak menentu mendengar kalimat dari Seungyoon.
"Jangan. Aku mohon—jangan menutup hatimu Seungyoon."
Seungyoon mendorong pelan tubuh Mino, menciptakan jarak. "Akhiri saja Mino. Lupakan aku, aku tidak ingin melihatmu terluka nanti karena rasanya benar-benar menyakitkan." Seungyoon meletakkan telapak tangan kanannya di depan dadanya. Merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa? Kenapa rasa cintamu begitu besar. Apa kau tidak merasa terbebani dengan semua itu? Aku benar-benar tidak mengerti denganmu. Kau hidup sangat lama Mino dan aku—aku yang manusia ini— akan menua dan mati. Lalu kau akan seorang diri."
"Kang Seungyoon….,"
"Apa kau tidak merasa takut dengan semua rasa sakit itu di masa depan?" Seungyoon memotong kalimat Mino dengan melempar pertanyaan kepadanya. "Jika kau bersamaku. Tidak akan ada akhir yang bahagia."
"Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu Kang Seungyoon? Bahagia atau akhir yang membahagiakan itu tergantung dari cara kita memandangnya."
"Berhenti bersikap optimis seperti itu. Menjijikan."
"Kau tidak ingin melihat Jinwoo terluka kan? Aku juga merasakan hal yang sama terhadapmu. Kau tidak ingin melihat Jinwoo menangis, aku juga menginginkan hal yang sama. Aku tidak ingin melihatmu menangis." Seungyoon menggigit pelan bibir bawahnya tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa, sebab semua yang Mino katakan tentang Jinwoo tepat.
"Jinwoo sudah membuat pilihan, jangan menyiksa dirimu lebih lama lagi."
"Mudah sekali kau mengatakan hal hmmmpphh…," kalimat Seungyoon terhenti oleh sebuah ciuman lembut yang mendarat di atas bibirnya yang membiru karena dinginnya air hujan.
Mino mengakhiri ciuman singkatnya kemudian menangkup wajah Seungyoon dengan kedua telapak tangannya. "Aku mohon jangan menangis lagi. Sayang."
Seungyoon tidak tahu harus melakukan apa, semuanya terlalu tiba-tiba. Jinwoo dan sekarang Mino. semuanya terlalu membingungkan. "Tutup matamu aku akan membawamu pulang. Kau sudah kedinginan." Seungyoon hanya bisa menurut, memejamkan kedua matanya karena semua yang terjadi membuat dirinya seolah-olah terombang-ambing di tengah lautan luas. "Aku mohon jangan menangis lagi Seungyoon."
To Be Countinued…..
