The Paradox of Lost Complementary


Kyungsoo mulai berlatih di rumah Chanyeol dengan bantuan Henry lelaki itu sangat banyak membantunya dalam berbagai teknik permainan. Kyungsoo benar-benar mempelajari ulang dasar bermain violin.

Namun kabar tidak terlalu baik ia terima. Kakek Kai akan dipindahkan ke rumah sakit Gyeonggi untuk sementara waktu karena permintaan lelaki tua itu sendiri.


Complementary

Present by RoséBear


[Part 3 : ADVICE 171125]

14th Chapter - KaiSoo

Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery


Pagi itu Kai sedang bersiap akan berangkat bekerja sementara Kyungsoo menyiapkan sarapan mereka. Harusnya setelah mengenakan pakaiannya sendiri lelaki itu bergegas pergi. Tapi langkah kakinya berhenti di depan lemari pakaian Kyungsoo tangannya, sedikit tidak sopan membuka lemari pakaian itu. Terusun sangat rapi bahkan berdasarkan warna yang membuat Kai menggelengkan kepalanya. Bukankah Kyungsoo begitu rapi dan juga detail?

Sudah beberapa hari ini dia juga mengantar Kyungsoo ke rumah keluarga Park. Istrinya berkata semua baik-baik saja.

Cukup lama dia mengamati lemari pribadi milik Kyungsoo. Bibir lelaki itu tertarik menyadari beberapa hal yang dia lupakan sebagai seorang suami.


~ RoséBear~


"Aromanya enak."

"Kau menyukainya?"

Kai mengangguk. Dia menyerahkan diri pada Kyungsoo. Hari ini ada rapat direksi dan lelaki ini akan ikut serta. Dia wajib berpenampilan sangat rapi dan dengan telaten jemari Kyungsoo mengikatkan dasi Kai. Menepuk beberapa kali bagian pundak Kai dan dia tersenyum.

"Haruskah hari ini kau pergi memotong rambut? Bukankah ini sudah cukup panjang?" Kyungsoo berkomentar mengenai rambut Kai yang bila di tarik ke belakang maka sebagian akan kembali ke bagian depan. Sepertinya lelaki itu menyetujui komentar Kyungsoo barusan.

"Bagaimana jika siang ini kau menemaniku?"

Ia lihat wajah terkejut Kyungsoo. "Aku setengah memaksa Kyungso," yakinlah dia hanya bercanda untuk memaksa Kyungsoo tapi Kai tahu itu akan memiliki manfaat.

"Ya. Aku akan menumpang pada Chanyeol untuk menemuimu di rumah sakit."

And look? Itu benar-benar bekerja cepat.

"Kau memang harus ke rumah sakit terlebih dahulu. Hari ini kakek akan dipindahkan ke Gyeonggi."

"Bolehkah aku mengantarnya?" Pandangan mata Kyungsoo menunjukkan harapan yang cukup besar untuk permintaan barusan.

Namun Kai, lelaki itu memiliki cara tersendiri menolak keinginan Kyugsoo. "Besok aku mendapatkan libur. Kita bisa seharian di sana Kyungsoo."

Tidak berpikir lama wanita itu menyetujui.

Mereka makan dengan tenang, mungkin hanya Kyungsoo tidak untuk Kai. Dia berkali-kali menatap Kyungsoo. Seperti memastikan sesuatu dan keraguan itu tidak bisa di tutupi dengan rapat.

Tiba ketika Kyungsoo akan mengantarkan Kai ke depan pintu. Sementara ini masih terlalu pagi bagi Kyungsoo untuk pergi ke rumah sakit maupun ke rumah Chanyeol. Baekhyun akan menjemputnya satu jam lagi lalu mereka pergi bersama. Dia sudah menjelaskannya pada Kai pada malam sebelumnya.

"Bisakah aku meminta sesuatu kepadamu?"

"Ya?" Secara reflek kepala Kyungsoo maju untuk mendengarkan. Tapi yang ia rasakan tubuhnya terpundur ke belakang saat Kai memeluknya begitu erat.

"A-ada masalah?" Suaranya terdengar ragu untuk bertanya. Hanya saja apa yang telah Kai lakukan membuatnya kebingungan?

"Aku sangat lelah."

Bagaimana pun Kai benar-benar lelah. Tapi apakah dia lelah dengan pernikahan ini? Atau hal lain lagi? Itu membuat Kyungsoo mendadak merasa takut. Tangannya baru saja akan mengelus punggung belakang Kai namun di tarik kembali. Membiarkan tubuh kecilnya berada dalam pelukan lelaki itu.

Kai sedikit melonggarkan pelukannya. Menahan kepala Kyungsoo membuat hidung mereka bersentuhan. Ia menempelkan bibirnya, lumatan yang begitu lembut dan terasa manis.

"Sampai bertemu siang ini."

Mereka mengatakan kebahagiaan senantiasa mengikuti kebaikan yang kita lakukan. Ada banyak hal yang kita sukai tapi tidak mengatakannya.


~ RoséBear~


Kyungsoo mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Sudah hampir siang hari setelah dia membantu di rumah keluarga Park. Sesungguhnya wanita itu masih memikirkan perkataan Kai pagi ini.

"Untukmu."

"Hm?"

Kyungsoo mendongak pada bibi Park yang memberinya keranjang berisikan makanan ringan.

"Lusa pengumuman kelulusan bukan? Bibi berikan hari ini. Bibi yakin kau akan lulus."

Dia tidak hanya menerima keranjang berisikan makanan ringan namun buket bunga dengan tulisan selamat.

"Kenapa bibi sangat yakin aku bisa lulus?"

"Karena Kyungsoo tidak pernah mengecewakan."

Ia tertawa geli mendengar pujian serta gelitikan pada area dagunya. Pada saat seperti ini Kyungsoo sangat merindukan orang-orang yang telah bersamanya.

"Boleh aku naik ke atas panggung?" Dia bersiap mengeluarkan violinnya. Melihat wanita tua itu mengangguk. Tanpa ragu Kyungsoo maju ke depan. Hanya ada beberapa pelanggan yang makan di tempat.

Caprice no. 24 karya Paganini

Dia memulai gesekkan pertama lebih baik. Dia telah berlatih secara terus - menerus untuk sebuah lagu hingga jari tangannya secara otomatis menekan pada nada yang diinginkan. Kyungsoo hanya perlu berkonsentrasi, menanamkan pada ingatannya jika dia pemain solo. Hanya akan ada dia di panggung. Kyungsoo mengandalkan reflek ketika bermain violin.

"Ya! Kau akan di sana sampai kapan? Kau bilang ingin ke rumah sakit siang ini."

Permainannya terganggu ketika teriakan seseorang masuk ke pendengaran Kyungsoo, suara nyaring Chanyeol dan lelaki itu berdiri menghadapnya. Kyungsoo tersenyum canggung. Menghentikan permainan menghampiri Chanyeol.

"Aku akan mengantarmu."

"Kalian akan kemana?"

Henry.

Lelaki itu baru saja masuk ke dalam kafe. Chanyeol membalik badannya dan tersenyum, sebagaimana dia bertemu dengan seorang pelanggan. Atau mungkin pelanggan kali ini memiliki sedikit kelebihan.

"Sudah datang? Tapi sepertinya hari ini Kyungsoo tidak bisa berlatih. Kami akan ke rumah sakit." Begitulah cara Chanyeol bersikap untuk Kyungsoo. Dia akan menjadi pembicara maupun penyampai yang sangat baik.

"Oh baiklah. Aku boleh ikut menumpang? Aku ingin menemui saudaraku."

Kyungsoo dan Chanyeol saling pandang kemudian mengangguk. "Ya. tentu saja bisa."

Perjalanan mereka menempuh beberapa menit. Meninggalkan rumah keluarga Park untuk bisa keluar menuju jalan. Sepanjang jalan Kyungsoo memperhatikan taman Kota yang mereka lewati. Sudah sangat lama dia tidak pernah berada di sana. Taman bermain yang sering ia kunjungi dan bermain seorang diri. Mendengarkan alunan violinnya sendiri. Terkadang dia merindukan semua itu. Hanya saja Kyungsoo sudah berjanji pada kakek Kai, pada ayahnya terutama pada dirinya sendiri.

Tanpa ia sadari sosok Henry memperhatikan Kyungsoo. Ia hanya bisa tersenyum.

"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu Kyungsoo?"

"Uhuk."

Baik Chanyeol maupun Kyungsoo keduanya terbatuk. Terlalu terkejut dengan pertanyaan Henry barusan. Sedikit privasi dan... tidak sopan.

Kyungsoo membalikkan badannya untuk menatap Henry tapi apa yang dia lihat. Sebuah kertas brosur.

"Masih rencana. Mau bergabung dalam pertunjukkanku? Aku berencana mengakhiri musim dingin nanti dengan acara ini."

Chanyeol menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lelaki itu juga penasaran dengan kertas yang kini dipegang Kyungsoo. Mereka bahkan melupakan pertanyaan Henry sebelumnya. Lelaki China itu menawarkan mereka berdua untuk bergabung. Oh ayolah. Pertujukkan music?

"Bagaimana?"

"Simpan saja dulu. Fokus pada kompetisimu."

Chanyeol mengambil alih kertas brosur dari tangan Kyungsoo. Menyimpannya ke dalam dashboard mobil lalu kembali melaju. Dengan begitu Henry harus memakluminya.

"Aku masih mencari orang. Awal Januari baru aku akan memastikan siapa saja yang bergabung. Kalian bisa memikirkannya lagi."

Mereka berdua mengerti. pertunjukkan itu membutuhkan persiapan yang cukup matang. Latihan rutin dan penampilan luar biasa, namun sepertinya bukan pertunjukkan besar. Akhir musim dingin? Artinya akhir january atau mungkin pada awal february nanti akan di pertunjukkan.

"Tapi Kyungsoo. Akan sangat disayangkan jika kau menolaknya. Jika kau mau kita bisa berada di panggung yang sama."

Tawaran yang akan sulit di tolak. Berada di atas satu panggung bersama Henry. Bermain violin dengan orang sehebat ini.

"Pertama melihat caramu memainkan violin aku benar-benar terkesan. Sangat mengagumkan."

Entahlah, Kyungsoo hanya membulatkan mata dan menahan bibirnya agar tersenyum. Tidakkah Chanyeol terlalu mengebut dalam berkendara kali ini? Itu membuat Kyungsoo sedikit takut.

Mereka tiba dan Chanyeol segera membukakan pintu mobil untuk Kyungsoo.

"Aku akan mengantarmu ke tempat dr. Kim."

"Jadi Kau mau menemui dr. Kim? Kalau begitu terima kasih atas tumpangannya. Aku akan pergi ke departemen Psikiatri."

Lelaki itu melangkah menjauh setelah Chanyeol dan Kyungsoo memberi hormat.

"Apa Henry menyukaimu?" pertanyaan itu terlalu mengejutkan.

"Hah?"

"Ya bodoh! Jangan melotot begitu padaku!"

Chanyeol menepuk pelan kepala Kyungsoo membuat ringisan kecil keluar dari bibir hatinya.

"Jangan menyebutku bodoh. Nilai ujianku selalu di atasmu! Bibi juga bilang aku lebih pandai darimu."

Kyungsoo mengelus kepalanya. Membiarkan Chanyeol membuka kembali pintu mobil. Mengambil tas violin Kyungsoo, lalu melempar benda itu pada teman tersayangnya. Oh jangan lupakan dua keranjang berisi makanan ringan dan buket bunga yang ia bawa ke rumah sakit. Ibu Chanyeol memberinya banyak ucapan selamat hari ini. Dengan tubuh kecil itu Kyungsoo harus membawa semua barang-barang ini.

"Sebenarnya aku tidak menemui Kai. Aku harus ke kamar kakek. Kau boleh langsung pulang." Ia memberitahu Chanyeol segera.

"Ya. Ya. Sampaikan salamku."

"Selamat berkencan tuan Park."

Lelaki itu setengah mendesis menjawab ucapan Kyungsoo. Sebuah pelukan singkat dan mereka berpisah.

Dari kejauhan sosok itu hanya bisa mengangumi wanita manis itu. Matanya fokus pada lambaian tangan yang begitu lembut. Perasaannya menghangat setiap kali melihatnya bergerak.


~ RoséBear~


Pembicaraan mereka berlangsung seperti biasanya. Kyungsoo memainkan Caprice no. 24 karya Paganini dihadapan kakek Kai. Dia mendapat pujian. Permainannya sempurna, mengikuti partitur yang ditempelnya pada dinding kamar. Bahkan perawat yang menjaga kakek Kai juga memberi applause atas permainan Kyungsoo. Wajahnya merona mendapat pujian semanis ini. Sungguh Kyungsoo sangat senang dengan hasil latihannya. Dia sudah berlatih sangat keras. Walau sangat ingin membahasnya bersama Kai tapi ia berusaha menahan diri.

Mereka bercerita tentang kerinduan kebun anggur milik kakek Kai. Suho bilang mereka merawatnya kebun anggur itu dengan sangat baik.

"Kyungsoo-ah."

"Ya?"

Saat ini ia sedang mengupas buah apel. Wanita itu duduk di pinggir ranjang.

"Kau ingat kotak yang kita temukan saat menggeser rak di underground cellar?"

Sejenak Kyungsoo harus mengingat dan hanya dalam sepersekian detik dia mengangguk.

"Sebelum kemari aku menyimpannya kembali di tempat kau menemukannya."

Kyungsoo mengangguk mengerti. Dia tidak membuka kotak itu karena merasa sangat tidak sopan. Saat itu kakek Kai juga terkejut Kyungsoo menemukan benda itu.

"Bisakah kau memberikannya pada Kai ketika kompetisimu selesai? Aku sangat yakin kau bisa lolos sampai tahap akhir."

Kyungsoo terdiam beberapa saat, memikirkan hal lain.

"Besok kami berencana menginap di Gyeonggi. Kenapa tidak memberikannya besok saja?"

Lelaki tua itu menggeleng. "Selesaikan kompetisimu, itu akan lebih baik."

Pada akhirnya dia mengangguk.

Hanya beberapa menit setelah percakapan itu ayahnya masuk, mengecek semua persiapan kepindahan tuan Kim. Ia tersenyum mendapati Kyungsoo dan juga rangkaian selamat yang diberikan pada keluarga Park. Sebenarnya rangkaian bunga itu titipan dokter Do. Tapi dia terlalu gugup memberikannya pada Kyungsoo. Selama ini ayahnya tampak tidak peduli tapi dia selalu mengawasi Kyungsoo. Hanya saja tentang kedekatan Kai dan Kyungsoo, dia merasa melupakan bagian itu. Tapi menjadi begitu senang tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

"Ayah? Ada apa?" Kyungsoo bertanya menyadari tatapan ayahnya yang kemudian sedikit terkejut.

"Ahh boleh Ayah memelukmu?"

Sesaat Kyungsoo terkesiap. Ia mengigit bibir bawahnya lalu mengangguk. Membawa lari tubuhnya memeluk sang Ayah. Masih sama, terasa hangat, seperti benteng pertahanan yang begitu kokoh. Ayahnya adalah pria yang sangat Kyungsoo rindukan.

"Oh. Maaf aku menganggu."

Suara berat itu. Kai baru saja masuk membuat mereka berdua melepaskan pelukannya.

"dr. Kim? Hari ini kerjamu sangat bagus. Kau sudah mengurus semuanya?"

"Ya. Sebentar lagi perawat akan membawa kakek pindah."

Kai berjalan mendekati Kyungsoo. Memberikan sebuah kecupan hangat pada dahinya.

"Kau sudah siap?" Lelaki tan itu bertanya singkat dan hanya Kyungsoo yang tahu apa artinya.

"Bukankah sudah kukatakan biar aku saja yang mengantar kakekmu. Kau bisa beristirahat dr. Kim."

Kai hanya tersenyum pada ucapan Ayah Kyungsoo. Ia mungkin mengerti jika ayah Kyungsoo mengalami salah pengertian atas pertanyaan Kai berusan.

"Aku hanya ingin mengajak istriku membeli beberapa pakaian jadi untuk calon keponakkan kami. Besok kami akan berkunjung ke Gyeonggi."


~ RoséBear~


Kembali ke dalam sebuah perjalanan yang tidak terduga. Kyungsoo pikir hanya akan menemani Kai memotong rambutnya. Lelaki itu kini tampak lebih segar dan juga menawan. Walau pada dasarnya dia memang sudah sangat tampan. Tapi potongan rambut barunya membuat Kyungsoo tak bisa menahan senyum. Wajar saja jika ayahnya terkesan dengan lelaki ini. Tidak hanya cerdas dan dari keluarga baik-baik, tapi dia sangatlah mempesona.

Kyungsoo telah melihat apa maksud ayahnya berterima kasih pada Kai. Tentang proyek bangunan rumah sakit. Sebuah pusat rehabilitasi untuk para orang tua, Kai memikirkan semua itu sangat matang. Hanya saja masih butuh perjuangan panjang. Jadi inilah yang Kai kerjakan hingga malam hari di dalam ruang kerjanya. Mengenai rencana bangunan baru rumah sakit untuk memanfaatkan lahan di daerah sub urban.

Tapi hari ini sedikit tidak terduga, Kai mengajaknya ke pusat perbelajaan. Bukan untuk berbelanja bahan makanan seperti biasa tapi pakaian. Tadinya Kyungsoo ingin menolak tapi Kai memaksa, dan Kyungsoo sangat tahu jika lelaki itu begitu keras kepala.

"Aku memiliki banyak uang walau tidak sebanyak ayahmu. Tapi seharusnya kau belajar cara untuk menghabiskan uang suamimu."

Awalnya Kyungsoo kesal mendengar ucapan Kai. Tapi dia tidak bisa menolak. Akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran Kai berkeliling pusat perbelajaan. Tapi pada akhirnya dia mulai mengeluh sakit pada pergelangan kakinya. Dua jam lebih dia berdiri tanpa istirahat. Tidak sepenuhnya untuk membeli beberapa barang keperluan Kyungsoo maupun calon bayi Yixing. Tapi bermain di game centre dan di sana Kyungsoo tahu Kai benar-benar pandai dalam banyak hal.

Pada lukul empat sore, ia terpikir untuk mengakhiri perjalanan hari itu. Kai bilang harus kembali ke rumah sakit sebentar mengambil beberapa dokumen. Dia benar-benar sebentar. Tapi bukan hanya map yang ia bawa kembali, melainkan sebuket bunga.

"Terima kasih sudah menemaniku hari ini." Ucapnya diiringi sebuah senyuman.

"Oh kukira kau juga memberiku ucapan selamat karena lulus."

Mata lelaki itu membuka lebar. "Masih dua hari lagi Kyungsoo. Kita tidak tahu kau lulus atau tidak."

"Ya. Kau satu-satunya orang yang masih tidak percaya aku bisa melewati ujian itu."

Kai meringis mendapat pujian ringan itu. Pandangannya menatap pada keranjang bunga yang terhimpit di antara belanjaan mereka

"Ayahmu memang ingin menjadi yang pertama mengucapkan selamat karena dia sangat mengharapkanmu," Kai mulai melajukan mobil.

"Ayah?"pandangan Kyungsoo menatap keranjang bunga di belakang, "itu semua dari bibi Park."

"Benarkah? Tapi kemarin aku melihat Ayahmu meminta seseorang membeli rangkaian bunga yang sama. Kurasa mereka punya selera yang sama."

Mereka masih melaju untuk sampai di rumah sebelum malam.

"Kurasa Ayah menitipkannya." Ucap Kyungsoo mencoba memahami situasi yang sebenarnya dengan cepat.

"Heii. Apa kau belum memperbaiki hubungan dengan ayahmu?"

Kyungsoo mendelik pada Kai. Bagaimana caranya? Mereka telah lama tidak memiliki waktu bersama, walau terlihat baik-baik saja tapi dinding pembatas itu terlalu jelas. Siapapun yang mencoba mengalah pada akhirnya malah membuat jarak yang semakin jauh. Mereka tidak pernah bicara lebih dari lima menit atau mungkin selalu berakhir dengan emosi.

"Kyungsoo, apa kau mau melakukan sesuatu untukku malam ini?"

Secara reflek Kyungsoo menyilangkan tangannya di dada ketika mobil berhenti di depan rumah dan Kai hendak membuka sabuk pengamannya.

"Ya!" Kepala wanita itu terdorong kebelakang karena dorongan telunjuk Kai beserta seruannya. "Hilangkan pikiran kotormu itu. Sudah kukatakan aku hanya akan menyentuhmu jika kau memintanya."

'Tapi malam itu kau yang menawarkan diri.' Batin Kyungsoo mengingat. Hanya saja pandangan matanya begitu tajam pada Kai. Pria itu turun lebih dulu dari mobil, meninggalkan Kyungsoo yang kini kesulitan membawa dua buket bunga dan sekeranjang makanan ringan secara bersamaan. Ia melewati Kai yang membukakan pintu rumah. Membiarkan lelaki itu kemudian mengekor di belakang.

"Mau memijit tubuhku? Rasanya sakit hampir seluruh badan."

Lelaki ini rupanya sedang mengeluh. Tapi Kyungsoo sangat maklum. Dia telah bekerja hingga sepanjang malam. Pada kahirnya dia melakukan apa yang Kai minta setelah meletakkan semua barang yang dia bawa.

"Sebelum aku. Apa ada orang lain yang melakukannya?" Ragu tapi Kyungsoo setengah penasaran. Ia duduk di atas sofa di mana Kai bersender di sofa beralaskan karpet berbulu. Pria itu meminta Kyungsoo memijitnya, tapi dia juga bekerja pada beberapa lembar kertas di atas meja.

Kai berpikir sebentar, "Beberapa kali kakek melakukannya untukku."

"Oh Kai. Kenapa kau sangat manja pada kakekmu?"

"Kenapa tiba-tiba kau menjadi sangat cerewet? Tapi mengingatkan aku pada Kyungsoo yang pertama kutemui."

Kyungsoo terdiam mendengar protes Kai. Kalimat terakhir cukup untuk membungkam mulutnya agar berhenti bicara.

Kai hanya duduk di karpet berbulu menghadap televisi tanpa mengenakan pakaian atas. Pria itu benar-benar menyerahkan tubuhnya pada Kyungsoo setelah menyingkirkan pekerjaan singkatnya. Membiarkan jemari lentik itu menyentuh setiap inchi tubuhnya. Memberikan pijatan yang teratur dan sesekali dia harus bersendawa.

"Bagian belakangmu memerah Kai."

"Humm."

Tapi tiap kali Kyungsoo melayangkan protes, dia hanya berdehem. Tidakkah Kyungsoo tahu lelaki itu juga menahan gairahnya dengan meremas bagian karpet.

Astaga!

Kini jari lentik itu merambat ke leher, menyentuh rahang tegasnya, semakin naik untuk memijit bagian kepala.

'Kai! Kau bisa melewati ini.'

Ia bahkan berdebat dalam hati. Membentengi gairah yang hampir meledak.

"Kau baik-baik saja?"

Kyungsoo bertanya dan reflek Kai memutar kepalanya, sedikit mendongak agar bisa menatap Kyungsoo. Sejujurnya dia tampak ragu dan keraguannya itu membuat Kyungsoo gugup.

"Ka-Kai?"

Lama sebelum Kyungsoo mendapat jawaban. Dia menerima jari keras Kai membelai pipi gembilnya, mata wanita itu secara reflek terpejam rapat.

"Aku baik-baik saja. Percayalah."

Tanpa sadar Kyungsoo membawa turun tubuhnya. Memeluk lelaki itu dari belakang.

"Kyungsoo, apa yang kau lakukan?"

"Memelukmu. Apa lagi?"

Susah payah Kai menelan ludahnya. Astaga, wanita ini benar-benar memberinya ujian terberat. "Bukankah kau sendiri yang berkata dengan memelukku energimu bertambah?"

Kai tertawa kecil mendengar kalimat Kyungsoo. "Ada yang ingin kau bicarakan? Bukankah sudah kukatakan jangan menyimpan apapun dariku?" namun dia memahami sesuatu mungkin telah terajadi pada istrinya.

Ia merasakan kepala Kyungsoo mengangguk. Lengan wanita itu mengerat pada perutnya.

"Menurutmu, Ayahku bagaimana? Maksudku, kau sudah bekerja cukup lama dengannya. Mungkin kau lebih mengetahuinya daripada aku."

Tanpa mengubah posisinya Kai mulai membayangkan pertemuan pertama dengan dr. Do.

"Ayahmu sangat baik, dia mengajariku banyak hal. Bahkan lebih banyak lagi setelah kita menikah." Kai rasa Kyungsoo semakin mengeratkan pelukannya. "Aku dan para dokter lain sangat menghormatinya, dia tidak hanya pekerja keras. Tapi sangat sabar, juga memiliki selera humor yang terkadang diluar ekspetasiku."

"Humor?" Kyungsoo terkekeh pelan. Ya. Dia membenarkan bagian itu. Kadang candaan ayahnya memang mengejutkan.

"Menurutmu dia Ayah yang luar biasa?"

Kai menganggukkan kepala, ia menggenggam punggung tangan Kyungsoo pada perutnya.

"Kyungsoo?" Kai bertanya karena wanita itu kemudian diam.

"Terkadang aku merindukan Ayahku. Sangat merindukannya. Terkadang dia lupa memberi kabar untuk tidak kembali ke rumah."

"Lalu kau melarikan diri ke rumah keluarga Park?"

Kyungsoo terkesiap mendengar ucapan Kai. Tanpa sadar ia membawa tubuhnya untuk maju, sedikit membuat jarak melihat wajah yang kini balas tersenyum.

"Dia banyak bercerita tentangmu. Percayalah, dr. Do selalu memikirkanmu."

Tanpa sadar Kyungsoo menggigit bibir bawahnya.

"Sudah kukatakan jangan gigit bibir bawahmu Kyungsoo."

Dia melepaskan bibir itu, tapi berubah menjadi jilatan canggung.

"Tidakkah terbayang olehmu betapa aku tergoda untuk menyentuhmu?" Kai menyampaikan.

Kehidupan rumah tangga pada umumnya adalah hal yang seharusnya menyenangkan. Dan kini keduanya membayangkan hal yang sama, hanya saja terlalu cepat.

Ada perasaan masing-masing yang tidak bisa tersampaikan, perlahan dan membutuhkan jalan panjang. Tanpa diduga waktu memaksa dengan segera.

"Kai? Bukankah besok kita harus berangkat pagi?" Pertanyaan Kyungsoo mendapat persetujuan langsung dari Kai. Lelaki itu sama sekali tidak menghindar. Dia tidak ingin memaksa Kyungsoo. Ia bahkan ikut bangkit saat Kyungsoo melepaskan pelukannya.

"Apa pengalaman pertamamu benar-benar menyakitkan Kyungsoo?" tanya Kai dengan kepala sedikit condong mengikuti langkah Kyungsoo.

Sekarang Kyungsoo menjadi ragu. Kai bahkan tidak menyakitinya, dia tidak terganggu oleh percintaan itu. Hanya saja...

"Bagaimana jika aku menyentuhmu sekali lagi? Apa kau akan percaya padaku?"

Kyungsoo baru saja akan membuka pintu kamar tapi lelaki itu menahannya. Mendekatkan wajah keduanya, menyentuh hidung masing-masing dan sebuah ciuman singkat.

"Ayo tidur. Aku tidak akan memperkosamu. Jadi kau bisa tenang Kyungsoo."

Kai beranjak lebih dulu. Berjalan meninggalkan Kyungsoo yang masih tampak ragu mengekor di belakangnya. Wanita itu kemudian melarikan diri ke dalam kamar mandi. Lama dia di dalam sana hingga keluar telah menemukan Kai memakai kaos polos dan terbaring di balik selimut. Gerakannya begitu pelan tidak ingin membangunkan Kai. Berbaring memberi jarak.

Kyungsoo terlalu banyak bergerak karena dia gelisah. Tiba-tiba saja lengan kekar itu melingkar membuatnya diam seketika.

"Begini akan lebih baik."

Suara berat yang mampu menghiopnotis Kyungsoo. Lelaki itu kini berbaring dengan memeluknya dari belakang.


~ RoséBear~


Yixing sangat senang akan kehadiran mereka berdua. Hanya saja, alis Suho berkerut melihat Kai menurunkan satu persatu benda dari mobilnya. Setelah Kyungsoo bertanya di mana kamar calon bayi mereka dan pria tan segera mengangkat barang-barang itu masuk. Membuat Suho harus berteriak menghentikannya.

Pagi itu rumah dengan dua lantai dipenuhi protes dan kenekatan dari dua kakak beradik Kim. Kai memaksa memasukkan tempat tidur bayi, karpet berbulu berwarna biru, pakaian bayi, beberapa mainan dan perlengkapan yang sebenarnya masih membutuhkan waktu satu hingga dua tahun untuk bisa digunakan.

Yixing bertanya pada Kyungsoo kenapa mereka membawa begitu banyak barang yang pada akhirnya dikeluarkan dari kamar dan diletakkan begitu saja di lantai dua.

"Kubilang anak kalian laki-laki tapi Kai memaksa anak pertama perempuan. Dia bilang Suho oppa menginginkan seorang noona untuk anak lelakinya nanti."

"Kyungsoo yang membeli banyak barang."

Kai mengeluarkan komentar saat bergabung bersama Yixing dan Kyungsoo di ruang tamu. Keringatnya mengucur setelah mendapat sedikit olahraga pagi.

"Kau bilang aku harus belajar menghabiskan uangmu."

Kini Yixing dan Suho tidak bisa menahan tawanya mendengar komentar Kyungsoo.

"Jadi kalian belanja berdua heum?"

Tidak ada jawaban untuk pertanyaan Suho barusan jadi dia melanjutkan, "Yeah, terima kasih banyak aunty, uncle."

"Jadi bayinya laki-laki atau..."

"Laki-laki," Yixing memotong pertanyaan Kyungsoo.

Wanita manis itu segera menunduk, ia meminta izin mengelus perut Yixing yang semakin membesar. Terakhir dia bertemu Yixing tidak sebesar ini.

"Annyeong~" hanya sebuah sapaan yang terdengar begitu imut. Kai melirik Kyungsoo, di mana masih saja istrinya bermain dengan perut Yixing.

"Aku akan langsung menemui kakek memastikan kondisinya." Kai memberitahu Suho.

"Nanti malam kalian menginap di sini?"

"Siapa yang menjaga kakek?" Kai bertanya alih-alih menjawab pertanyaan Suho.

"Paman Choi memutuskan untuk menjaga kakek. Dia bilang kakek yang memintanya sendiri."

"Hyung, terkadang aku merasa menjadi cucu yang kurang ajar pada kakek karena mematuhi permintaanya," Kai melayangkan protes pada Suho. Tapi mau bagaimana lagi, pria tua itu melarang mereka menginap di rumah sakit.

"Mau bagaimana lagi. Itu keputusannya. Lagipula jarak dari rumah ke rumah sakit hanya sepuluh menit Kai. Sekarang jangan memperburuk keadaan kakek."

Kyungsoo baru akan kembali duduk di kursi dan menerima tarikan tangan Kai membuatnya kebingungan.

"Mau ke kebun anggur sebelum kita ke rumah sakit?"

Walau sedikit ragu Kyungsoo tidak menolak.

Mereka hanya keluar dengan membawa keranjang berukuran kecil. Kebun anggur yang tidak terlalu luas ini masih terawat seperti biasanya. Suho dan Paman Shin benar-benar mengelolanya seperti masih ada lelaki Kim tua di sini. Para pekerja juga bekerja seperti biasanya. Keduanya memutuskan untuk tidak berjalan keluar hingga ke danau buatan. Hanya memotong beberapa runtun anggur merah dan... strawberry.

"Wahh aku baru tahu di sini ada strawberry."

"Aku yang menanam mereka."

Mereka tiba di bagian sudut kebun yang tidak pernah didatangi Kyungsoo sebelumnya. Itu karena dia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang penyimpanan.

"Tapi kenapa dibiarkan membusuk?" Wajahnya sedikit sedih melihat tanaman yang terawat namun tidak pernah dipanen.

"Karena hanya aku yang boleh memanennya."

Jemari Kyungsoo terhenti untuk memetik buah yang matang. Bibir hatinya membulat lucu dan dia menarik kembali tangannya.

"Ya Kyungsoo!" Kai setengah berteriak. "Jika kau menginginkannya ambil saja," ia menambahkan membuat Kyungsoo hanya memelototinya kesal


~ RoséBear~


Rasanya jika dilewati begitu saja, bukankah waktu membentang panjang tapi karena jalan lurus, kita melesat tanpa ingin menarik tuas agar melaju lebih pelan.

Dari bawah sini hanya dengan duduk dan mendongakkan kepala, melihat bagaimana angin meniupkan daun-daun itu agar berguguran. Semakin hari, semakin banyak daun yang berguguran. Meninggalkan ranting untuk pempertahankan kehidupan pohon itu selama musim dingin. Sinar matahari ketika musim gugur terlihat begitu menawan, seperti sosok Kyungsoo yang memperhatikan bagaimana Kai menyusun botol-botol anggur ke dalam rak. Hanya mereka berdua di sore hari ketika selesai berkunjung. Tidak ada yang bisa dikeluhkan ketika kakek Kai memperlihatkan tawa lebarnya. Bercanda dengan bilang menantikan cucu yang bisa dilahirkan Kyungsoo juga. Keduanya hanya tersenyum canggung tidak bisa mengatakan apapun setelah itu.

"Kau akan tidur di sini?" Kyungsoo memberanikan diri bertanya. Ia berdiri dan menunggu jawaban Kai. Lelaki itu hanya memandanginya sebentar lalu mengangguk.

"Bisakah kita tidur di dalam rumah saja? Bukankah besok kau juga harus menyetir pagi lagi?"

"Kau tidak ingin tidur di sini bersamaku?"

Sebenarnya Kyungsoo tidak mempermasalahkan akan tidur di mana. Hanya saja, Suho berpesan untuk mengajak Kai tidur di dalam rumah. Dia khawatir kalau terus seperti ini akan membahayakan nantinya. Lelaki itu meminta sesuatu kepada Kyungsoo tanpa memberi alasan yang lebih masuk akal.

"Kyungsoo, kau tahu aku akan sulit tidur di dalam. Bisa untuk tidak memaksaku?" Kai bertanya lembut ketika Kyungsoo tidak memberikan jawaban.

"Akan kuputuskan setelah makan malam jika kau mau memberiku alasan yang masuk akal."

Kai mengehela napasnya. Pada akhirnya dia mengikuti Kyungsoo kembali ke dalam rumah. Bersiap diri untuk makan malam karena bibi Kang telah menyiapkan makanan. Seperti biasa, rasanya selalu enak.

Lelaki itu setengah terkejut ketika Kyungsoo menyerahkan selimut dan juga bantal pada Kai. Sudah pukul sembilan malam dan hanya mereka berdua yang masih terjaga di rumah ini. Kyungsoo mengatakan tidak akan tidur di ruang penyimpanan.

"Bagaimana jika aku memijit tanganmu seperti terakhir kali?"

Tawaran Kyungsoo di tolak. Ia ingat pertama kali Kyungsoo memijitnya di rumah ini. Kai sebenarnya tidak kembali tidur seperti yang diharapkan Kyungsoo. Lelaki itu terjaga sepanjang sisa malam dengan Kyungsoo di dekatnya.

Dia menerima selimut dan bantal, berjalan mendekat mencium dahi Kyungsoo untuk mengucapkan selamat malam. Rasanya sangat hampa ketika setiap malam mulai terbiasa tidur bersama.

Berkali-kali anak manusia itu bergerak gelisah di tempatnya.

Kai pikir dia tidak bisa begini. Tiba-tiba saja menjadi gelisah untuk pertama kalinya ketika dia berada di ruang penyimpanan. Selama ini ruangan ini selalu menenangkannya. Tapi hanya karena Kyungsoo ia putuskan kembali ke dalam rumah. Menemukan Kyungsoo yang terbaring di atas ranjang. Bergelung selimut tebal dan dia segera masuk ke balik selimut memeluk Kyungsoo begitu erat. Bisa dihitung hampir satu jam dia tidak bisa tidur hingga pergerakan Kai membangunkan Kyungsoo.

"Aku tidak bisa tidur di bawah. Tapi sekarang juga kesulitan."

Walau lelah Kyungsoo putuskan membalik badannya menghadap Kai. "Kenapa?"

"Karena... kupikir kau akan meninggalkan aku."

Entah sadar atau tidak, wanita itu menarik tangan Kai menempelkannya di dada membuat Kai bisa mendengarkan suara jantung Kyungsoo yang tenang. "Pejamkan matamu, percayalah aku disini sampai kau terbangun."


~ RoséBear~


Kai telah bersiap diri ketika langit masih gelap menyambut fajar dengan duduk di kursi kayu memandangi bagaimana Kyungsoo masih terlelap.

Sama sekali tidak tidur semalaman. Dia hanya berusaha tidak menimbulkan suara berisik supaya Kyungsoo bisa tidur.

"Ibu meninggalkan kami setelah aku bicara kasar padanya. Aku pikir dengan mengungkapkan isi hatiku ibu akan mengerti dan membebaskan aku bermain di luar. Nyatanya dia malah meninggalkan kami. Ayah adalah pria paling bodoh, menelantarkan anaknya untuk wanita yang tidak ada lagi. Hanya kakek yang kami miliki, kumohon kau mengerti Kyungsoo."


To Be Continue...


Thank you for choosing my story! I really hope you like it and everyone had an amazing day ^^ sleep well guys ^^

-Preview Chapter 15-

"Setidaknya datanglah melihat penampilanku. Bukankah aku ini istrimu?" –Kyungsoo.

"Aku sudah pulang. Jangan takut lagi." –Kai.

"Ya! Aku hanya bertanya tentang makan malam romantis atau semacamnya atau mungkin owhhhh!-Chanyeol.

Thank You.

RoséBear