Chapter 8
Let You Go
Halo ini chapter 8, ratednya mungkin naik tapi saya gagal buat lemon. Masih belajar lagian gak tega kalo lemonnya kelewat asem WHAT?! Abaikan saja hehehe, selamat membaca terima kasih untuk para pembaca dan pereview. Maaf jika ada salah kata, salah kalimat, salah ketik, cerita aneh, alur terlalu cepat, dan segala kekhilafan yang tidak saya sengaja maupun saya sengaja (ceramah malam) Happy reading…..
¶¶¶
"Aku akan menyiapkan makan malam untukmu, kau—bisa pergi ke kamar untuk berganti baju." Seungyoon tidak menjawab kalimat Mino kedua kakinya melangkah gontai menuju kamar tidur.
Mino berdiri di depan lemari es menimbang-nimbang menu makan malam seperti apa yang akan disukai Seungyoon. Mengingat kejadian hari ini yang sangat berat pasti Seungyoon kehilangan nafsu makannya. "Mungkin yang sederhana saja," gumam Mino pada dirinya sendiri. Pada akhirnya ia mengambil dua butir telur dari lemari es. Membuat sandwich terlihat sebagai pilihan yang tepat malam ini.
"Kau sedang apa?" tanpa menoleh pun Mino sudah tahu dengan pasti siapa pemiliki suara itu.
"Membuat makan malam untukmu."
"Terima kasih…,"
"Aku tidak menerima penolakan Seungyoon." Ucap Mino menghentikan kalimat apapun yang hendak Seungyoon ucapkan. "Duduklah sebentar lagi siap."
Dengan handuk putih yang menutupi kepalanya, Seungyoon duduk di depan meja makan sembari memperhatikan kesibukan Mino yang terlihat cukup terampil di dapur, berbeda sekali dengan dirinya yang memasak dengan sangat berantakan. Atau mungkin lebih dari sekedar berantakan, sayangnya Seungyoon tidak ingin mencari kosa kata yang lebih hancur untuk menggambarkan keahliannya di dapur.
"Sudah siap!" pekik Mino ceria, senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Membuat Seungyoon membulatkan kedua matanya melihat Mino yang seperti itu terasa—aneh.
"Terima kasih," gumam Seungyoon pelan.
"Katakan saja jika masakanmu terasa aneh." Mino menatap wajah Seungyoon lekat-lekat sebelum cengiran konyol muncul menghiasi wajahnya.
"Kelihatannya normal." Ucap Seungyoon dengan nada suara yang sama, tak bersemangat. Kemudian dengan malas dia mulai menyentuh masakan Mino. Tidak ada yang aneh semuanya terasa baik-baik saja namun senyuman di wajah Mino serta beberapa kali usahanya untuk membuatnya tersenyum dengan melempar lelucon-lelucon aneh, tidak menggerakkan hati seorang Kang Seungyoon.
Bagi Seungyoon hari ini takdir berlaku tidak adil dengannya. Mengapa Jinwoo memilih mantan kekasihnya yang sekarat. Dia sadar kehidupan ini sangat singkat, semua orang tidak mungkin mengetahui kapan waktu mereka berakhir. Tapi tidak ada larangan untuk menikmati hidup singkat ini kan? Dan pilihan Jinwoo untuk kembali kepada Jiyong tidak bisa diterima oleh akal sehat seorang Kang Seungyoon.
"Aku tidak bisa," gumam Seungyoon tanpa sadar.
"Apa?" Mino memberikan perhatian penuh kepada Seungyoon yang tiba-tiba mengucapkan kalimat itu dengan cara yang mengejutkan.
"Aku—aku tidak bisa melepas Jinwoo. Sudah aku putuskan aku akan menunggunya sampai—sampai dia kembali lagi padaku."
Dalam kehidupannya yang bisa dikatakan abadi, Mino sudah melewati berbagai macam hal peperangan, wabah penyakit, peperangan, keruntuhan ekonomi, semuanya. Tidak ada yang mampu mengusiknya, namun kalimat sederhana yang keluar dari anak laki-laki berusia delapan belas tahun di hadapannya ini mampu meruntuhkan semua pertahannya. "Kau tidak akan meninggalkan Jinwoo?" dengan lemah Mino mencoba bertanya dan mendapatkan jawaban yang paling akurat.
Seungyoon menggangguk pelan. "Maaf," gumamnya entah kepada siapa permintaan maaf itu ia tunjukkan. "Aku benar-benar tidak bisa membayangkan kehidupanku tanpa Jinwoo."
Tanpa sadar Mino mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kuat. Kuku-kuku jarinya kini telah menembus kulit permukaan tangannya. Mungkin, kali ini dirinya harus kembali mengalah. "Aku sudah menunggumu sangat lama Seungyoon."
Seungyoon hanya membalas kalimat Mino dengan tatapan mengiba. "Tapi—aku akan menghormati keputusanmu jika kau ingin kembali pada Jinwoo. Aku akan pergi."
"Terima kasih."
"Tapi dengan syarat."
"Syarat?"
"Aku tidak bisa melihatmu larut dalam kesedihan seorang diri. Izinkan aku untuk menemanimu sampai—sampai Jinwoo kembali. Setelah itu aku akan pergi dari kehidupanmu dengan perasaan lega."
"Baiklah."
"Terima kasih sudah mengabulkan syaratku."
"Tidak masalah justru aku merasa terbantu dengan syaratmu itu. Aku—juga tidak ingin melewati semua ini seorang diri."
"Apa ini pertama kalinya kau mencintai seseorang?"
"A—apa?!" pekik Seungyoon terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang diajukan oleh Mino.
"Kau tahu sendiri kan jika aku mengetahui semua tentang dirimu. Dan kau belum pernah menjalin hubungan dengan seorangpun."
"Sudah tahu kenapa bertanya." Ucap Seungyoon sambil menundukkan wajahnya merasa malu.
"Hanya ingin mendengar ceritanya langsung darimu." Balas Mino kemudian diiringi oleh sebuah suara tawa pelan,
"Tentu saja aku pernah menyukai orang lain. Hanya—hanya saja." Seungyoon memejamkan kedua matanya memanggil kenangan menyedihkan itu sangat menyakitkan.
"Kau tidak perlu mengatakannya. Aku sudah mengetahui semuanya."
"Aku tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan perasaanku. Bayangan penolakan terlalu menakutkan. Menyedihkan sekali." Seungyoon menyungging sebuah senyuman.
"Itu tidak menyedihkan bagiku."
"Apa kau pernah merasakan hal yang sama juga?! Maksudku kau kan bukan manusia mungkin saja pengalamanmu berbeda."
Mino tertawa pelan. "Tidak, rasanya sama saja manusia atau bukan."
"Aku meragukan pernyataanmu."
"Terserahlah. Habiskan makan malammu kemudian tidur."
"Seenaknya saja memerintah, memangnya kau siapa?!" dengus Mino.
"Aku malaikat penjagamu." Seungyoon langsung membalas kalimat Mino dengan sebuah tatapan tajam yang jujur membuat Mino terkejut. Padahal dia berpikir Seungyoon akan mencibir, mencaci maki, atau sekedar mengatainya bodoh. Bukan reaksi berlebihan seperti yang ia dapatkan sekarang.
"Pembohong." Ucap Seungyoon singkat sebelum berdiri dari kursi makannya dan bermaksud pergi meninggalkan Mino.
SREET! Mino menahan tangan Seungyoon. "Habiskan makan malammu, tadi kau terguyur hujan jangan sampai tubuhmu melemah dan terserang flu."
"Aku tidak peduli. Singkirkan tanganmu Mino."
"Berhenti keras kepala Seungyoon!" geram Mino tertahan.
"Apa pedulimu?! Aku matipun juga tidak masalah tidak ada seorangpun yang peduli padaku. Kecuali satu orang."
"Aku peduli padamu sampai kapan kau akan mempercayai ucapanku ini." Mino melempar tatapan putus asa kepada Seungyoon.
"Jika aku mati?"
"Aku tidak akan membiarkanmu mati. Tidak, sebelum aku mati terlebih dulu."
"Apa yang akan kau lakukan untuk mencegah kematian?"
"Apapun Seungyoon. Apapun untukmu."
"Kenapa kau tidak mencegah hal itu terjadi? Kenapa kau membiarkannya pergi? Jika selama ini kau terus mengawasiku kau tahu dengan jelas apa yang aku maksudkan bukan?"
"Itu takdir kalian, aku tidak bisa mencegahnya."
"Pembohong!" pekik Seungyoon sambil menghempaskan tangan Mino dari pergelangan tangannya. "Kau menepati janjimu menjadi malaikat penjagaku. Aku masih ingat dengan jelas ada seseorang yang mengangkatku dari air. Tapi kau—kau membiarkan kakakku tenggelam dan mati!"
"Kang Seungyoon."
"Terima kasih kau sudah menyelamatkan hidupku dan memberiku kesempatan kedua. Tapi apa kau tahu." Seungyoon menatap wajah Mino dengan air mata yang terus mengalir keluar. "Aku sudah mati di sini." Seungyoon meletakkan telapak tangan kanannya di depan dada. "Aku sudah mati, ayah dan ibu tidak pernah menginginkan aku hidup. Mereka ingin—mereka ingin kakakku yang hidup. Hari itu seharusnya aku yang mati!"
PLAAKKK! Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi kiri Seungyoon. "Bisakah sedikit saja kau menghargai kehidupanmu? Bisakah kau bertahan hanya dengan satu alasan? Aku menginginkanmu hidup apa itu tidak cukup?"
Mino bisa merasakan kedua tangannya yang mulai gemetar, dia benar-benar tidak menginginkan tamparan itu terjadi. Namun Seungyoon memaksanya untuk melakukan hal yang sebenarnya justru menyakiti dirinya sendiri. Dengan pelan Mino memberanikan diri untuk menyentuh wajah Seungyoon.
Seungyoon membiarkan Mino menyentuh sudut bibirnya yang terluka karena tamparan yang cukup keras itu. "Maafkan aku," bisik Mino dengan suara yang bergetar tertangkap dengan jelas oleh kedua telinga Seungyoon. "Aku tidak bermaksud menyakitimu. Maafkan aku. Aku mohon."
Seungyoon mengabaikan semua kalimat yang terdengar putus asa itu. Otaknya masih berusaha mencerna semua kalimat Mino. Hanya satu orang saja yang menginginkan dirinya untuk hidup, apa itu cukup? Entah, Seungyoon sendiri tidak mampu memberikan jawabannya.
"Maaf selama ini aku sangat egois dengan menginginkanmu. Ternyata—satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah menyakitimu. Sebaiknya aku pergi untuk selamanya, jaga dirimu baik-baik Seungyoon dan aku mohon hargailah dirimu, kau pasti sangat berharga untuk seseorang." Mino mengulas senyuma perih melihat Seungyoon yang sama sekali tidak memberi reaksi.
"Saat kau putus asa ingatlah aku selalu menginginkanmu meski kita tidak akan pernah bertemu lagi." Mino mengecup pelan kening Seungyoon sebelum berbalik bermaksud untuk pergi.
¶¶¶
Semuanya terasa terlalu cepat, semuanya terasa sangat membingungkan. Seharusnya keputusan Mino untuk pergi dari kehidupannya adalah hal paling membahagiakan di seluruh dunia. Namun, sebuah perasaan yang tak mampu Seungyoon terjemahkan membuatnya merasakan sakit yang luar biasa hanya dengan menatap punggung makhluk aneh yang selama hampir satu bulan ini mengganggunya.
"Jangan pergi." Ucap Seungyoon, bayangan bahwa Mino tidak akan pernah ia lihat kembali terlalu menakutkan untuk menjadi kenyataan.
"Kau akan kembali pada Jinwoo. Aku memiliki perasaan yang sama denganmu Seungyoon, aku tidak ingin merasakan sakit lagi. Mungkin memilih menjalani kehidupan abadiku tanpa cinta adalah pilihan terbaik."
"Maaf tapi aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu Mino. Aku tidak ingin kau pergi itu saja. Hanya itu yang bisa aku katakan padamu, aku tidak ingin kau pergi."
"Kau hanya terbawa emosi Seungyoon." Ucap Mino sebelum kembali melangkahkan kedua kakinya, namun sebelum dirinya sempat menghilang seseorang memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
"Semua orang pergi, semua orang tidak menginginkan keberadaanku. Hanya kau saja yang menginginkan aku. Mungkin sekarang—aku merasa cukup. Cukup kau saja yang menginginkan aku Mino."
Ia tahu dengan jelas semua ucapan Seungyoon hanya karena dirinya benar-benar putus asa saat ini. Mino tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya adalah sebuah kesalahan, namun akal sehatnya telah menghilang. Egois, mungkin salah, namun di kehidupan panjangnya selama ini dia selalu mengalah menuruti semua perintah, melakukan tindakan yang tidak akan membawa kerugian demi kepentingan bersama.
Mino memejamkan kedua matanya meminta maaf kepada siapapun yang mampu mendengar suara hatinya. Untuk kali ini saja, dia akan menjadi egois. Mino berbalik setelah melepaskan pelukan Seungyoon, membuatnya terkejut sebelum dirinya membalas pelukan Seungyoon dengan lebih erat.
Menenggelamkan wajahnya di antara perpotongan leher dan pundak Seungyoon, menghirup aroma manis dari tubuh Seungyoon. Aroma yang menenangkan sekaligus memabukkan dalam waktu bersamaan. Seungyoon memejamkan kedua matanya jika ini adalah satu-satunya hal yang bisa menyembuhkan perasaan menyakitkan di dalam dadanya, jika ini adalah satu-satunya cara untuk melepaskan Jinwoo. Dia akan menerima semuanya.
Nafas Mino terasa hangat menyentuh kulit lehernya dan tidak perlu menunggu lama hingga kecupan-kecupan lembut mendarat pada kulit lehernya. Saat bibir hangat Mino menyentuh permukaan bibirnya, Seungyoon mencoba menghilangkan bayang-bayang Jinwoo satu persatu dari dalam otaknya. Tangan Mino memeluk pinggangnya dengan erat bersamaan dengan ciuman yang semakin dalam.
Seungyoon mendorong pelan dada Mino saat dirinya benar-benar membutuhkan asupan oksigen. Keduanya bertatapan. "Lakukan." Ucap Seungyoon.
Mino tahu bahwa saat ini Seungyoon tengah berusaha keras untuk tidak memikirkan Jinwoo, dan semua ini terjadi hanya karena Seungyoon sangat putus asa dan dirinya yang egois. Dingin dan lembutnya sprei tergambar jelas pada punggung Seungyoon begitupun tempat tidur yang dengan kokoh menahan berat tubuhnya dan Mino, sekarang tidak ada lagi penghalang di antara keduanya.
Sinar bulan purnama berhasil menembus celah diantara tirai penutup jendela. Jinwoo, mulai detik ini semua tentang Jinwoo akan ia kubur dalam-dalam. Tidak ada pilihan lain yang tersisa. Jinwoo telah memilih untuk melepaskan dirinya dan sekarang dirinya telah memilih untuk menyerahkan semuanya pada Mino. Seungyoon memejamkan kedua matanya sekali lagi membiarkan air matanya lolos, mengalir keluar. Semua tentang Jinwoo akan berakhir malam ini. Kalimat yang sempat ia ucapkan untuk menunggu Jinwoo akan berakhir sia-sia. Malam ini semuanya akan berakhir.
Cinta, yang selama ini ia percayai telah hancur berkeping-keping. Nyatanya tidak ada cerita cinta yang berakhir seperti dongeng. Bahagia selamanya, adalah kalimat tabu yang tidak akan pernah ia rasakan. Semuanya berakhir.
"Maaf," bisik Mino pelan pada telinga kanan Seungyoon, saat keduanya benar-benar menyatu, Seungyoon tidak mengerti permintaan maaf untuk apa.
"Maaf," gumam Seungyoon membalas ucapan maaf yang terlebih dulu diucapkan Mino. Seungyoon sadar maksud dari kata maaf yang ia ucapkan, maaf untuk keegoisannya malam ini, serta maaf karena semua yang ia lakukan malam ini tidak pernah dilandasi oleh cinta.
¶¶¶
Sinar matahari mengusik tidur Seungyoon. Dengan malas dan dengan terpaksa iapun mulai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Rasa kantuk masih menggelayuti tubuhya dengan sangat kuat. Ia pandangi langit-langit kamarnya dan bayangan tentang peristiwa tadi malam terlintas dengan jelas di benaknya. Seungyoon mendesah pelan mencoba mengabaikan semua perasaan aneh yang ia rasakan saat ini. Penyesalan. Mungkin itulah nama yang tepat untuk sesuatu yang ia rasakan hari ini. Mino sudah menghilang dari kamarnya sejujurnya Seungyoon merasa lega tidak harus menghadapi Mino hari ini.
Setelah mandi dan memakai pakaian yang dirasa cocok, Seungyoon melangkah meninggalkan kamar tidurnya. Suara berisik dan aroma gurih langsung menyambutnya. Seungyoon mendesah pelan hari ini dia benar-benar tidak siap menghadapi Mino.
"Kau sudah bangun?"
"Kau membuat sarapan?" seperti biasa Seungyoon tidak pernah langsung menjawab melainkan melempar pertanyaan lain.
"Ya, kau bisa melihatnya sendiri." Seungyoon hanya mengangguk pelan kemudian berjalan menuju kursi dan mendudukkan dirinya disana sambil mengamati kesibukan Mino di dapur.
"Roti bakar dengan selai cokelat, apa kau suka?" Mino berbalik sambil membawa dua buah piring dan jangan lupakan senyuman konyolnya itu yang seolah-olah permanen menghiasi wajahnya.
"Tidak masalah aku bisa memakan apapun."
"Oh syukurlah." Mino meletakkan menu sarapan mereka dengan rapi ke atas meja. Dia juga menungkan jus apel ke dalam dua gelas berukuran sedang.
"Terima kasih." Ucap Seungyoon.
Kemudian keduanya menikmati sarapan dengan tenang, Mino merasa tidak baik berbicara saat makan sedangkan Seungyoon merasa sangat canggung sekarang. Dan pada akhirnya Seungyoon tidak menghabiskan sarapannya. Merasa tidak sanggup lagi berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Mino.
"Aku pergi ke rumah Taehyun."
"Kau akan pindah ke apartemen yang sama dengan Taehyun?"
"Aku—rasa tidak." Seungyoon memaki di dalam hati mengapa hari ini dirinya bersikap sangat canggung dan terkesan bodoh, padahal biasanya mulutnya akan sangat kreatif melemparkan kata-kata kasar kepada Mino. "Aku hanya ingin main dengan Taehyun saja."
"Kau pulang jam berapa? Saat makan siang atau makan malam? Kau ingin makan apa?" Mino bertanya panjang lebar.
"Oh itu—aku rasa aku akan menginap. Terima kasih atas perhatianmu." Seungyoon mencoba menampakkan senyuman yang pasti terlihat sangat jelas dipaksakan.
"Kang Seungyoon." Panggilan Mino menghentikan kedua langkah kaki Sengyoon. Membuatnya terpaku di tempat tanpa berani berbalik dan menatap si pemilik suara. "Apa kau menyesali apa yang terjadi di antara kita tadi malam?"
Seungyoon menggigit pelan bibir bawahnya. Menyesal. Mungkin. Tapi jika dipikirkan dan direnungkan baik-baik, dia tidak terlalu menyesalinya juga, hanya saja dia berharap melakukannya dengan orang lain.
"Kau terus memikirkan Jinwoo."
"Ba—bagaimana kau bisa tahu?" Seungyoon kembali mengumpat di dalam hati merutuki dirinya yang terlihat sangat bodoh sekarang.
"Aku bukan manusia Kang Seungyoon. Apa kau lupa itu?"
"Maaf, aku harus pergi sekarang Taehyun pasti sudah menungguku." Ucap Seungyoon tergesa-gesa kemudian dengan setengah berlari diapun pergi.
"Pulanglah! Aku akan menunggumu!" pekik Mino yang berusaha diabaikan oleh Seungyoon.
¶¶¶
"Apa-apaan dia itu?" gerutu Seungyoon yang kini tengah berjalan menyusuri trotoar. Niat awalnya untuk pergi ke apartemen Taehyun terhenti saat dilihatnya sahabatnya itu berada di seberang jalan dan sedang berdiri di depan Pet Shop.
"Hah, sejak kapan belah tengah suka binatang?" gumam Seungyoon pada dirinya sendiri. "Aku penasaran!" pekik Seungyoon tertahan tidak ingin menarik perhatian para pejalan kaki lainnya. Setelah menyeberang jalan Seungyoon mengawasi gerak-gerik Taehyun dari jarak yang cukup aman untuk tidak diketahui oleh sahabatnya itu. Semakin mengejutkan karena Taehyun memasuki toko. "Apa yang dia lakukan?" Ucap Seungyoon semakin bingung.
"Kang Seungyoon?!" karena terlalu sibuk memikirkan tindakan Taehyun sampai-sampai Seungyoon lupa bersembunyi dan akhirnya ketahuan.
"Nam Taehyun!" pekik Seungyoon pura-pura kaget. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Sambung Seungyoon kemudian diiringi oleh tawa hambar yang menjijikkan.
"Sudah jangan pura-pura, kau sengaja mengikutiku bukan?"
"Tidak—tentu saja tidak. Kau ini bicara sembarangan." Balas Seungyoon dengan nada lebai yang semakin menjijikkan. Taehyun hanya menautkan alisnya sambil melempar tatapan tidak percaya kepada Seungyoon.
"Kau mau kemana sekarang?"
"Aku—oh aku berencana pergi ke apartemenmu. Lalu kita bertemu di sini kebetulan sekali."
Taehyun hanya mencebik. "Kalau begitu aku minta tolong padamu kebetulan kita bertemu di sini."
"Minta tolong?" Seungyoon mengerutkan keningnya.
"Tolong bawa anjingku sebentar. Besok aku ambil kau tahu sendiri kan di apartemenku tidak boleh memelihara binatang berisik."
Seungyoon memperhatikan anak anjing kecil dengan bulu berwarna cokelat yang ada di dalam dekapan Taehyun. "Untuk apa dibeli kalau dilarang dipelihara?!" pekik Seungyoon sebal.
"Aku akan memberikannya pada seseorang."
"Seseorang siapa?" Seungyoon bisa melihat wajah Taehyun yang mulai memerah namun dengan cepat Taehyun menghindari pertanyaan itu dan menyodorkan anak anjing dalam dekapannya kepada Seungyoon. "Kau menyukai seseorang?"
"Diam Seungyoon!" bentak Taehyun kemudian berbalik dan berjalan dengan menghentakkan kedua kakinya meninggalkan Seungyoon.
"Hei anjingnya bagaimana?!"
"Besok siang aku ambil!" teriak Taehyun kemudian berlari pergi begitu saja.
"Selalu seenaknya, tapi aku juga sering seenaknya sendiri. Karma mungkin." Jengah, Seungyoon menundukkan wajahnya menatap anak anjing yang sekarang berada di dalam dekapannya. "Imut juga. Ayo aku akan membawamu pulang."
To Be Countinued…..
