A/N: Thanks you for all the faves, alerts and a special thank you to those who reviewed, You guys are amazing. how about today? ahhh sekarang semua sudah sangat dewasa, jadi tidak masalah membaca bagian ini ^^Aeris, don't cry again. grow up and don't forget it, We Are One!

Let's start again ^^

The Paradox of Lost Complementary


"Impian ada di depan, silahkan jalan terus."

Pria tan itu menirukan kalimat singkat dari sebuah movie lama yang pernah ia tonton. Ia menaikkan kacamata minusnya lalu kembali fokus pada lembaran kertas di atas meja kerja.

"Ya! Aku sudah mendapatkan nilai sempurna. Bagaimana kau bisa bersikap begini padaku? Kai! Ayolah."

Sementara pria itu mencoba fokus kembali ia mendapat gangguan dari wanita manis nan polos yang kini sedang merayunya. Sejak dua jam lalu setelah Kai kembali ke rumah, Kyungsoo terus saja menempel padanya.

"Setidaknya datanglah melihat penampilanku. Bukankah aku ini istrimu?"

Kai mendongak. Melepas kacamata dan mengamati Kyungsoo seksama membuat wanita itu gugup setelah kalimat yang dia sampaikan.

"Kau masih menolak bercinta denganku. Bagaimana aku menyebutnya?"

Kyungsoo menghela napas beratnya. Ia membalik badan dan bersender di balik meja. Menghilang dari pandangan Kai namun bibir hatinya terus saja mengumpat.

"Kyungsoo? Apa kau menangis?"

Bukan tanpa alasan Kai menolak keinginan Kyungsoo. Dari awal dia sudah mengingatkan jika ia tidak mau ikut campur dalam urusan 'musik' Kyungsoo. Jika waktunya sudah tiba, Kai pasti akan menjelaskan pada Kyungsoo. Lagipula salah wanita itu sendiri. Ia bahkan tidak ingat jika malam itu Kai pindah ke dalam rumah dan tidur bersamanya, pagi itu juga dia tidak mendengar apa yang Kai katakan.

"Ya. Kau sangat jahat padaku."

Pada akhirnya Kai mengalah, beranjak dari kursi kerjanya mendekati Kyungsoo. Berhadapan dan mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya.

"Bagaimana kau bisa malanggar perjanjian kita? Bukankah aku sudah mengingatkanmu? Aku tidak...

"Ya!" Kyungsoo memalingkan wajahnya setelah memotong ucapan Kai.

Lelaki itu mengehela napas beratnya beberapa kali dia memang menemui sikap kekanakan Kyungsoo tapi kali ini sedikit melewati batas.

"Aku tidak menoleransinya Kyungsoo! Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke depan bangunan. Selamat berjuang!"

Lelaki itu baru saja kembali berdiri ketika Kyungsoo berteriak. "Apa yang harus aku lakukan agar kau mau datang?" Dia mulai lagi merengek. Tangannya meraih ponsel milik Kai yang bahkan hingga saat ini masih digunakan untuk sebuah panggilan dan pesan saja.

"Tidak perlu melakukan apapun. Sudah kubilang aku tidak..."

"Kakek? Bagaimana kabar kakek?"

Kai melotot melihat Kyungsoo telah menghubungi kakeknya. Astaga wanita ini! Terkadang dia sangat menggemaskan namun dalam beberapa waktu menjadi menyebalkan.

"Ya. Aku mendapat nilai sempurna. Tapi bukan itu masalahnya lagi. Besok aku..."

Kai berusaha merebut ponsel di tangan Kyungsoo. "Kakek kami harus tidur. Sampai jumpa akhir pekan. Kami akan kembali berkunjung. Aku mencintai kakek."

Plip

"Ya! Kenapa kau mematikan panggilanku?"

Kyungsoo menahan lengan Kai namun dia tidak mampu meraih ponsel itu. Pegangannya mengendur dan bibir hati itu terpout lucu ketika melihat Kai melotot. Kyungsoo menarik pandangannya menjauh kemudian hanya menatap meja kerja yang ada.

"Jangan gunakan kakek Kyungsoo! Aku akan sangat marah jika kau mencoba mengendalikanku. Sebaiknya kita tidur, aku tidak ingin berdebat denganmu."

Tanpa mengembalikan ponselnya lelaki itu meninggalkan Kyungsoo. Ya. Kai marah, napasnya pendek-pendek dan dia berusaha mengabaikan keberadaan Kyungsoo ketika wanita itu menyusul ke kamar. Membuat jarak tapi pada akhirnya dia mengalah. Kai telah terbiasa tidur memeluk Kyungsoo, menekan hidungnya pada rambut wanita ini, merasakan detak jantung Kyungsoo yang selalu berdetak.

"Jangan marah padaku. Cobalah untuk tidak memaksaku Kyungsoo," ia berbisik pelan.

"Aku tidak memaksamu. Tapi kalian sama sekali tidak memberi alasan apapun padaku. Aku mengatakan semua padamu, tapi kau sama sekali... Sudahlah. Maafkan aku."

Pada akhirnya Kai mendengar Kyungsoo meminta maaf. Wanita ini mau mengalah dengan segera.

Do Kyungsoo... Kai tidak ingin memberitahumu sekarang karena kau akan menghindarinya jika tahu. Lelaki ini, dia telah menjebak dirinya sendiri.


Complementary

Present by RoséBear

[Part 3 : ADVICE 171202]

15th Chapter - KaiSoo

Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery. Sexual content


Menanggapi cerita Kyungsoo tentang Kai yang tidak akan datang membuat Chanyeol menyampaikan dukungan penuh kepada sahabat terdekatnya itu. Mereka telah di sana dalam waktu yang cukup lama. Baekhyun bilang dia akan ada di kursi penonton. Bahkan wanita itu berjanji akan mentraktir Kyungsoo karena mungkin datang terlambat. Sementara pelatihnya? Sulit dihubungi Chanyeol padahal Kyungsoo ingin melayangkan beberapa pertanyaan.

"Kyung, sebaiknya aku menyiapkan tempat duduk yang pas untuk Baekhyun. Kami akan ada di auditorium untuk melihatmu. Percayalah kau bisa melewatinya."

Saat Chanyeol meninggalkan backstage, wanita itu pergi ke kamar mandi. Memperhatikan bagaimana dirinya. Rambut hitam dikuncir setengah, gaun hitam selutut tanpa lengan. Ia tersenyum miris mengingat pagi ini Kai memberinya sesuatu yang sangat indah, padahal lelaki itu juga tidak melihat penampilannya.

Rasanya hampir setengah jam dia berada di toilet wanita bersama beberapa peserta umum lainnya. Sesi anak-anak telah selesai. Sudah seharusnya dia keluar dan menunggu gilirannya. Beberapa kali Kyungsoo menepuk pipinya memastikan diri dan berusaha untuk fokus. Violin yang telah menemaninya sejauh ini. Digenggamnya violin dan busur secara erat.


Sepatunya mulus berkilat, dasi yang terikat rapi, dan jas yang sangat pas di tubuhnya.

"Kau terkejut?"

Kyungsoo tidak langsung menjawab, karena Ia terlalu kaget dengan kehadiran Kai yang menunggunya di koridor backstage. Ia berlari menghampiri dalam pelukan lelaki itu.

"Temanmu menghubungi dan memaksaku datang. Dia bilang akan menghajarku jika tidak datang menemuimu."

"Bodoh! Chanyeol tidak akan berani menghajarmu." Kyungsoo terkikik pelan mendengar alasan yang dibuat Kai. Dia semakin mengeratkan pelukannya, membuktikan betapa gugupnya Kyungsoo saat ini.

"Ya aku tahu itu."

Kai melepaskan pelukannya, mengaitkan jari mereka dan membawa Kyungsoo pada tempat duduk. Menjauh dari pandangan orang-orang yang melihat mereka.

"Apa kau sangat gugup?" Kai bertanya karena sejak tadi Kyungsoo sangat gelisah ingin melihat ke monitor di backstage.

"Sebaiknya tidak melihat penampilan peserta lain. Tetaplah bersamaku sampai kau diminta bersiap-siap."

Kai mengeratkan pegangan tangannya. Saat itu Kyungsoo tiba-tiba menyadari sesuatu. "Kai? Kau baik-baik saja?"

Lelaki itu bersender, memejamkan mata dan mengeratkan pegangan pada tangan Kyungsoo yang bebas. Suara langkah kaki dan kegugupan peserta lain juga menghiasi koridor di backstage.

"Kai?"

"Jangan pergi Kyungsoo!"

Ia tersentak mendengar seruan Kai. Oh ayolah, mereka menjadi tontonan beberapa orang karena perkataan pria ini.

Dengan lembut Kyungsoo letakkan violinnya. Menepuk pelan punggung tangan Kai, "Aku di sini. Tidak akan meninggalkanmu."

Mereka hening untuk beberapa saat hingga no. Peserta Kyungsoo dipanggil. Wanita itu harus bergegas tapi bagaimana dia bisa melepaskan diri dari Kai yang masih memejamkan matanya erat.

"Kai? Mereka telah memanggilku. Aku bisa didiskualifikasi kalau tidak ke sana segera."

Kyungsoo terkejut saat Kai membuka matanya tajam ketika dia menarik tangannya. "Kemarikan tanganmu."

Suara berat lelaki itu mengejutkannya. "Aku tidak bisa melihatmu. Tapi aku bersamamu," Kai memasangkan sebuah gelang tapi dengan hiasan giok pada seperempat bagian. "Gelang keberuntunganku. Jangan dihilangkan. Kembalikan saat kau sudah berhasil."

Tidak hanya gelang tapi juga ponsel Kyungsoo. Ia mencondongkan wajah mendekatkan bibir pada telinga Kyungsoo, "Kau terlihat begitu cantik sampai aku menginginkannya."

Wajahnya merah merona mendengar bisikan terakhir Kai. "A-aku akan kembali secepatnya."

Tapi Kai menggeleng. "Aku harus kembali ke rumah sakit."

Ia berharap Kyungsoo mengerti.


~ RoséBear~


Caprice no. 24 karya Paganini

Kyungsoo berdiri di atas panggung selama lima menit untuk sekedar memainkan violin. Dimulai dengan nada cepat, gerakan yang tajam dan berlanjut pada nada lembut yang mengalun. Dia seperti ombak di lautan, menghempas karang dengan keras namun terkadang begitu lembut.

Tangan kirinya memegang leher violin dengan sangat natural, beberapa saat dipertengahan permainan dia menggeser posisi tangan kirinya hingga ke badan violin. Kyungsoo juga menimbulkan suara bergetar. Tangan kanannya menaikkan kualitas nada, ritme yang teratur, artikulasi dan dia benar-benar mampu mengatur nada menjadi lebih baik.

'Aku tidak bisa melihatmu. Tapi aku bersamamu.'

Kata-kata Kai seperti sihir untuk menjaga fokus Kyungsoo. Ia menarik napas dan membuka mata. Napas Kyungsoo pendek-pendek, ia berkeringat cukup banyak. Beberapa detik ia butuhkan untuk menyadari tepuk tangan di auditorium dan pandangan juri yang menilainya. Saat pembawa acara bicara Kyungsoo masih mengatur napasnya. Dia gugup setelah penampilan luar biasa.

Dengan susah payah ia harus mengatur ekspresinya agar terlihat meyakinkan. Ketika mendengar pembawa acara meminta juri mengangkat papan penilaian Kyungsoo bersorak senang. Semuanya memberinya kesempatan untuk bisa tampil di tahap kedua.

Sudah sangat gelap dan penilaian belum selesai karena begitu banyak yang ikut serta. Cukup banyak yang lolos dan Chanyeol berkata mereka mulai lelah jika harus melihat penampilan sampai akhir.

Mereka meninggalkan concert hall dengan menggunakan mobil Chanyeol. Ingin Kyungsoo menghubungi Kai tapi sebaiknya dia mengurungkan niatnya hingga sebuah pesan terkirim.

'Aku akan kembali setelah makan bersama Chanyeol dan yang lainnya. Mau kubawakan makan malam?'

'Kembali sekarang!'

Wanita itu mengangkat alisnya ingin menolak perintah Kai yang dikirimkan melalui layanan pesan singkat.

"Chan, sebaiknya aku pulang. Kai sepertinya menungguku di rumah. Maaf, lain kali saja kita makan bersamanya."

Walau agak sulit tapi Kyungsoo meyakinkan mereka. Hanya Chanyeol yang langsung menyetujui permintaan Kyungsoo. Dia melaju membawa mobilnya memutar arah.

Sudah jam delapan malam. Sudah sepantasnya jika Kai meminta Kyungsoo kembali.

"Tahap kedua satu minggu lagi. Besok siang ke rumahku. Kita tentukan lagu berikutnya."

Kyungsoo mengangguk. Ia melambaikan tangan pada mereka berdua.

Dia sudah berhasil melewati yang pertama dengan sangat luar biasa. Caprice no 24 karya Paganini bukanlah sembarang lagu, butuh teknik luar biasa untuk bisa memainkannya. Namun Kyungsoo bermain secara natural. Tepuk tangan yang ia terima sore ini sungguh luar biasa. Lebih meriah daripada penampilannya di pinggir jalan. Bukankah dia sangat cerdas. Lulus dengan nilai sempurna pada tes, melalui tahap pertama kompetisi nasional dengan sangat baik.

Tapi satu hal lagi yang harus dilakukan Kyungsoo hari ini, "Aku pulang."

Tidak ada yang menyambutnya. Ruangan gelap dan hanya ada kesunyian.

"Kai? Kau belum pulang?" Kyungsoo menutup kembali pintu. Ia melangkah pelan mencari sakelar lampu.


~ RoséBear~


Sudah hampir tengah malam dan Kai belum juga kembali. Kyungsoo mulai gelisah, panggilannya tidak diangkat dan dia sendirian di rumah. Hanya bergelung di balik selimut.

'Kenapa menyuruhku pulang kalau kau sendiri belum kembali?'

Tidak bisa dipungkiri jika dia merasa takut.

Tok

Dalam kesunyian, dia bisa mendengar seseorang sedang mengetuk pintu depan. Kyungsoo tidak yakin jika itu Kai, harusnya dia langsung masuk. Ia kembali meraih ponselnya, menekan nomer Kai setelah kakinya melangkah mendekati pintu. Panggilan tersambung namun dari luar ia tidak bisa mendengar nada dering Kai. Kyungsoo mulai panik karena rumah ini tidak memiliki intercom. Panggilan diangkat dan dia segera melangkah menjauh dari pintu ketika Kai mulai bicara.

'Aku terlambat pulang, tadi ada operasi mendadak.'

"Pulanglah," sungguh Kyungsoo ketakutan dan dia mulai bersembunyi tidak mempedulikan ketukan pada pintu.

Perlahan ketukan itu memelan kemudian hilang.

'Aku akan segera tiba Kyungsoo.'

"Jangan matikan panggilannya Kai!" Kyungsoo setengah berseru.

'Oke. Baiklah. Tidak akan kumatikan.'

"Bicaralah agar aku tahu kau masih di sana," setengah gugup dia menyampaikan pendapat.


~ RoséBear~


Kai menekan pedal gasnya lebih kuat untuk bisa melaju. Ia tiba di luar rumah dan segera masuk melewati gerbang pertama. Langkahnya terhenti melihat sebuah buket bunga diletakkan di depan pintu.

"Tunggulah di dalam. Aku akan memasukkan mobil terlebih dahulu."

Kyungsoo baru memutuskan panggilan setelah ia meyakinkan dirinyalah yang kini di depan pintu. Lelaki itu mengambil buket bunga dan menemukan sebuah pesan di dalamnya.

'A woman named Billie Holiday were a gardenia in her hair and sang beautiful blues to the world. Her voice, full of sadness and joy, made people feel deeply and add their melodies to the chorus.'

Kai terdiam membaca sebuah kutipan yang ditinggalkan sebagai sebuah pesan. Entah kenapa dia merasa tidak senang pria itu tidak langsung memasukkan mobil. Melainkan berjalan beberapa meter lalu membuang buket bunga itu ke dalam tempat sampah.

Tidak tahu untuk alasan apa jika boleh menebak satu nama bahkan tercetak dalam pikiran Kai mengenai orang yang mengirimkan buket bunga itu. Tidak mungkin jika itu Ayah Kyungsoo ataupun keluarganya. Terlalu konyol untuk sebuah hadiah di malam hari.

Maka itu memungkinkan untuk menuduh...

Henry?

'Inikah yang membuatmu terdengar panik?' Kai membatin mengingat panggilan Kyungsoo. Buru-buru ia kembali ke rumah. Memasukkan mobil dan memastikan semua di bagian luar aman. Dengan menggunakan kunci pribadi miliknya ia masuk dan mendapati ruang yang gelap. Kaki panjang lelaki itu melangkah mencari sakelar setelah mengunci pintu.

Tubuhnya terpundur selangkah namun ia berhasil menahan diri ketika Kyungsoo menghamburkan pelukan yang begitu erat, sesaat Kai terdiam.

"Kenapa lama sekali?"

Suara Kyungsoo terdengar parau dan juga menyaratkan nada ketakutan.

"Aku sudah pulang. Jangan takut lagi," hanya itu saja yang bisa ia katakan. Membawa Kyungsoo dalam pelukan yang hangat.

Dia tidak memberitahu Kyungsoo, tentu saja karena tidak ingin wanita ini semakin panik. Hanya berdiam diri saling membalas pelukan untuk beberapa saat.

"Aku harus menyelamatkan korban kebakaran makanya terlambat. Sekarang sudah tidak apa Kyungsoo. Aku sudah di sini,,,"

Kyungsoo mengangguk mengerti.

"Aku harus mandi, kau bisa menungguku di kamar."

Dia berusaha meyakinkan Kyungsoo agar wanita itu mau berpindah ke kamar.

"Aku akan menggosok punggungmu"

Karena perasaan takut ditinggalkan atau ada hal lain? Sesaat Kai ragu untuk menyetujui tapi pada akhirnya dia mengangguk menerima tawaran Kyungsoo.

"Kau akan melihatku telanjang. Apa tidak masalah untukmu?"

Lelaki itu masih berusaha meyakinkan Kyungsoo namun Kyungsoo masih menganggukkan kepala walau wajahnya merah merona.

"Jangan memaksakan diri. Aku tidak akan lama Kyungsoo."

Kyungsoo menggeleng tidak setuju. "Aku... Aku sudah pernah melihatmu telanjang. Aku akan baik-baik saja."

Kai terkekeh mendengar kegugupan Kyungsoo. Ia berbalik badan dan memastikan Kyungsoo dari dekat.

"Bagaimana jika gairahku meluap ketika kau menyentuhku di kamar mandi?"

Tidak ada jawaban untuk itu, "Sudah kukatakan jangan menggigit bibirmu Kyungsoo. Kau benar-benar membuatku tergoda."

"Aku ingin mencobanya lagi."

Kai melotot pada Kyungsoo. Apa wanita ini serius tentang ucapannya? Terlalu banyak kejutan yang membuat pening kepala tapi bagaimana Kai bisa menolak ketika sesuatu terasa sesak di bawah sana.


~ RoséBear~


Air hangat mengeluarkan uap di udara. Kai bertanya kenapa tadi menunggunya di ruang tamu. Kyungsoo berkata jika seseorang mengetuk pintu dan dia memastikan. Ternyata itu bukan Kai. Kai tidak tahu bagaimana cara meyakinkan Kyungsoo, tapi jangan sampai dia menyampaikan pendapatnya. Karena hal itu hanya akan membuat Kyungsoo ketakutan. Ia meminta Kyungsoo bercerita bagaimana persahabatannya dengan Chanyeol dimulai untuk mengalihkan perhatian Kyungsoo, dan ternyata itu berhasil.

Kai nyaris tidak mendengarkan cerita Kyungsoo seutuhnya. Dia menikmati ketika jari-jari lentik Kyungsoo menjatuhkan busa ke punggungnya. Berjalan menyusuri tiap inchi tubuh berotot Kai. Dadanya yang lebar dengan otot-otot perut yang terbentuk sangat baik. Ia memiliki tubuh seorang lelaki dewasa yang membuat terpesona mata para wanita.

Lelaki itu mengerang ketika tangan Kyungsoo turun menyentuh ereksinya. Membuat wanita itu mengintip dari balik punggung Kai. Dengan satu gerakan Kai membalik tubuhnya menghadap Kyungsoo. Menarik wanita itu dalam pelukannya. Air di dalam bathup meluap karena gerakannya yang mengejutkan.

Kai membuat sedikit jarak untuk mereka. "Aku ingin kau menyentuhnya," ia menampilkan bukti gairahnya tepat di hadapan Kyungsoo. Wajah wanita itu merah merona dan bibirnya tertekan karena kembali di gigit.

"Sudah kukatakan jangan mengigit bibir bawahmu," Kai menekan ciuman untuk melepaskan bibir Kyungsoo. Ia mengambil waktu sejenak untuk mengangumi wajah merona Kyungsoo.

"Kau ingin mencobanya?"

Kai bertanya dan suara beratnya terdengar begitu lembut. Ia menunggu Kyungsoo mengangguk dan memberi jawaban 'ya'. Ia mengusap hidung keduanya hingga kemudian membawa masuk mulutnya dalam sebuah ciuman lembut yang berangsur, dibumbui gairah seksualitas hingga ciuman itu terasa panas.

Dalam satu gerakan ia membalik tubuh Kyungsoo agar membelakanginya, Ia meletakkan tangan ke dinding bathup untuk menahan tubuh yang mulai condong ke depan.

"Kai? Kau mau apa?" Suaranya bergetar. Setengah takut namun juga penasaran. Mata bulat itu berkilauan penuh antisipasi dengan gerakan yang Kai buat.

"Hanya tidak ingin menyakitimu, mari kita lakukan perlahan. Mungkin ini akan berhasil."

Kai melepaskan tangannya dari dinding bathup. Menarik Kyungsoo lebih mendekat namun menahan paha wanita itu dengan kakinya. Satu jarinya menerobos masuk ke dalam inti panas kewanitaan istrinya. Kyungsoo menutup matanya erat dan mengeluarkan erangan panjang serta rendah. Kedua tangannya mencengkram sisi bathup yang licin. Membuat tubuhnya hampir merosot dan beruntunglah Kai telah menahan lebih dulu. Kai tersenyum mendengar erangan Kyungsoo, ia menarik satu jarinya dan mempersiapkan dengan menambah menjadi dua jari. Ia memasukkan dua jari membuat Kyungsoo menjerit keras.

"Kai, Kumohon." Kyungsoo meronta atas rasa perih. Kai memainkan jari-jarinya berputar-putar menggoda organ sensitifnya sampai dia menjerit dalam satu erangan panjang, terus menerus. Mencoba bertahan dengan mencengkram sisi bathup yang licin.

Kai mulai meringis mendengar Kyungsoo menjerit, ia meraih tubuh Kyungsoo, membalik wanita itu yang kini terengah-engah, menggoda istrinya dengan ereksi yang telah siap, mencoba memasukkan kepalanya kejantaannya beberapa kali sebelum mendorong seluruhnya.

"Arghhhh!" Kyungsoo menjerit panjang ketika Kai menanamkan dirinya. Wanita itu menggigil dalam pelukan Kai, mencengkram punggung Kai secara reflek.

"Kyungsoo-ah, You're so tight!" Ia melebarkan paha Kyungsoo agar lebih terbuka untuk menerima dirinya. Air dari dalam bathup membantu Kai untuk bergerak lebih stabil, ia mencoba mengalihkan perhatian Kyungsoo. Wanita itu masih memeluknya begitu erat. Mendorong dirinya untuk semakin masuk ke dalam diri Kyungsoo.

"Kai, ini sangat nikmat," Ia merasakan Kyungsoo bergetar dalam pelukannya. Merasakan Kyungsoo kembali mendesah untuk pelepasan mereka ketika tiba pada puncak kenikmatan.

Ia mendongak, membuat Kyungsoo berhasil menarik diri dari Kai. Wajah merah merona dan mata berkabut yang begitu sayu. Kai membenarkan posisi duduknya. Ia menyingkirkan helaian rambut Kyungsoo dan memberikan beberapa kecupan sayang pada wajah wanita ini.

"Menyakitkan?"

Ia melihat Kyungsoo menggeleng pelan.

"Rasanya sangat nikmat. Lebih baik dari yang terakhir kali."

Ia melepaskan penyatuan mereka, Kai meraih pinggang Kyungsoo membawa keduanya keluar dari dalam bathup. "Akan kukeringkan badanmu dan kita pergi tidur."

Kyungsoo menyerahkan diri pada Kai. Membiarkan lelaki itu mengangkatnya, merebahkan kepalanya pada bahu kokoh Kai. Dia kembali bercinta dengan istrinya, berhasil memberikan kepuasan dan meninggalkan rasa nikmat.

Ia berhasil membawa Kyungsoo ke atas ranjang setelah mengeringkan tubuh wanita itu, menyelimutinya dan langsung bergabung di balik selimut tebal.

"Aku sangat lelah, kau menguras sisa tenagaku malam ini," suaranya setengah serak, begitu dalam dan merasakan Kyungsoo yang masuk dalam pelukannya. Ketika ia amati dengan lebih jelas, Kyungsoo telah tidur.


~ RoséBear~


Desember dengan hujan di pagi hari. Kyungsoo yang terbangun pertama. Ia menyadari tubuhnya telanjang dan mengingat percintaan mereka. Oh astaga, ia memandangi Kai yang masih terlelap. Sudah cukup terang di luar sana untuk memaksanya beranjak dari ranjang.

Ia berusaha meraih kemeja yang digunakan Kai semalam. Hanya itu yang paling dekat dengan dirinya saat ini. Tapi satu gerakan Kyungsoo ternyata membangunkan Kai. Ia tersenyum menatap Kyungsoo yang segera menutupi dirinya dengan selimut. Kai terkekeh pelan, menarik tubuhnya untuk bersender di kepala ranjang, membawa Kyungsoo dalam sebuah pelukan hangat di pagi hari.

"Selamat pagi," sebuah kecupan singkat. Kai meraih kemeja miliknya yang tadi hendak di ambil Kyungsoo. Ia lebih dekat dengan benda itu daripada Kyungsoo.

Ia membantu Kyungsoo mengenakan kemeja itu namun tangannya terhenti untuk mengancingkan bagian depan.

"A-apa yang kau lihat Kai?"

Hanya sebuah senyum jahil dan ia menangkup kedua payudara Kyungsoo. "Milikmu sangat pas di tanganku."

Kyungsoo berkedip beberapa kali dalam gerakan cepat sebelum dia menyadari seringai jahil Kai.

"Ya! Akan kusiapkan sarapan! Setelah itu kau antar aku ke rumah ayah."

Baru saja Kyungsoo akan beranjak namun kemudian gerakannya terhenti.

"Kyungsoo? Kau baik-baik saja?" Kai panik melihat Kyungsoo terdiam. Ia mengingat percintaan mereka semalam, walau tidak sampai satu jam tapi tetap saja dia telah memasuki tubuh Kyungsoo berulang kali. Otaknya kemudian mengulang kejadian beberapa minggu yang lalu.

'Apa masih terasa sakit?'

"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."

Oh astaga! Wanita itu hanya menggodanya saja.


~ RoséBear~


Pagi itu, Kyungsoo meminta Kai mengantar ke rumah lamanya, ia menemui kepala pelayan dan meminta disiapkan beberapa cookies. Kyungsoo hanya bertanya kapan terakhir kali ayahnya pulang. Kepala pelayan rumahnya mengatakan ayahnya pulang tadi malam, tapi setengah jam sebelum Kyungsoo tiba ayahnya telah pergi lagi.

Rumah ini terasa sepi tapi juga rapi. Ia melewati photo keluarga dan merindukan saat - saat seperti itu. Kyungsoo kembali hanya untuk mengambil sebuah partitur musik.

'Violin concerto no 4 in D major, K. 218 oleh Mozart.'

Kyungsoo sudah putuskan untuk memainkan nada ini dalam seleksi keduanya. Jika dipikiran, dia jatuh cinta pada Kai karena musik ini. Lelaki itu mengejutkannya di pagi hari. Seberapa kuat Kyungsoo mengelak, nyatanya dia telah terperosok dalam pesona dokter muda itu.

Kyungsoo itu anak penurut, hanya sekali saja dia menolak permintaan ayahnya. Ujian masuk perguruan tinggi untuk fokus pada pendidikan kedokteran. Hanya sekali dan membuatnya seperti ini. Jika ditanya dia tidak akan mengelak lagi jika ia mencintai Kai. Dengan sikap lembut dan penuh perhatian yang tiap hari ditunjukkan pria itu. Percayalah, Kyungsoo hanya wanita polos yang menjaga jarak dengan banyak lelaki sekalipun dia mencoba berkencan dengan mereka. Chanyeol telah menjadi tembok pemisah yang fantastis selama masa kencan Kyungsoo. Dua tahun lalu ketika Baekhyun kembali barulah lelaki itu membebaskan Kyungsoo sepenuhnya.


~ RoséBear~


"Apa kau kehilangan sopan santunmu sehingga tidak mengetuk pintu kamar seorang lelaki?"

Mata bulat Kyungsoo melotot mendengar ucapan Chanyeol. "Eihhhh!" Dia berseru pelan. Namun tidak menghentikan langkah kakinya masuk ke kamar Chanyeol. "Ketika kau menikah dengan Baekhyun maka aku tidak akan melakukannya lagi."

"Ya! Ya! Ada apa lagi Nona Do?"

"Violin concerto no 4 in D major karya Mozart"

Kyungsoo menyampaikan maksudnya.

"Aku akan memainkan lagu ini dalam seleksi ke dua. Aku akan minta Henry menyempurnakan bagian terakhir."

Chanyeol mengangguk paham. "Kau selalu kacau di bagian akhir setiap memainkan musik ini. Tapi Kyungsoo, kenapa tiba-tiba memilih.." Ucapan Chanyeol berhenti dan dia menatap Kyungsoo keseluruhan. "Kau benar-benar jatuh cinta pada suamimu heum? Baguslah..."

Wajahnya merah merona, ia tidak mengatakan apapun lagi. Menerima godaan Chanyeol terkadang bisa membuat hati menghangat. Tentu saja Chanyeol tahu bagaimana pertemuan demi pertemuan Kai dan Kyungsoo. Itu sungguh cerita yang menyenangkan.

"Apa tadi malam dia memberikan hadiah luar biasa padamu?"

"Tolong jaga perkataanmu Chan!"

Alis Chanyeol berkerut. "Ya! Aku hanya bertanya tentang makan malam romantis atau semacamnya, owhhhh!" Lelaki itu tiba-tiba berseru kembali membuat wajah Kyungsoo semakin merah.

"Owhhh baiklah! Baiklah! Mari kita mulai hari ini dengan panggung kecil Ayahku sembari menunggu Henry kemari. Tapi bisakah kau keluar? Aku bahkan belum beranjak dari ranjang!"

Kyungsoo tidak bisa lagi menahan kekehannya. Dengan santai wanita itu berjalan meninggalkan Chanyeol. Membantu bibi Park membereskan kafe keluarga Park adalah kesenangan tersendiri bagi Kyungsoo.


~ RoséBear~


Beberapa hari telah berlalu, dia berlatih dengan sangat baik. Melewati hari dengan beberapa kesalahan dan perbaikan dalam waktu yang singkat.

Siang itu satu hari sebelum kompetisi Kyungsoo berlanjut, ketika empat anak manusia itu menyibukkan diri di studio kecil milik Chanyeol.

"Kyungsoo-ah, bisakah aku lihat jari kirimu?"

"Ya?" Kyungsoo menunjukkan telapak tangan kirinya pada Henry.

Jepret!

"A-apa yang kau lakukan?"

Lelaki itu hanya tersenyum atas pertanyaan Kyungsoo. "Kau punya jari kiri yang sangat bagus."

Wajahnya memerah menerima pujian Henry. Terhenti ketika Chanyeol menepuk kepala Kyungsoo pelan. "Jangan memujinya Henry! Dia bisa jadi besar kepala nanti!"

Chanyeol mengambil posisi duduk di antara mereka berdua. "Kalian tidak ingin mencari makan siang?"

Saat itu Kyungsoo melihat jam tangannya. "Owhh Kai akan menjemputku. Ayah ingin makan siang bersama."

Chanyeol mencondongkan kepalanya mendekati telinga Kyungsoo. "Sudah berbaikan dengan ayahmu?"

Wanita itu menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian. Sudah lama dia tidak bercerita pada kedua orang ini tentang perubahan ayahnya.

"Sepertinya ada yang perlu kalian bicarakan. Kalau begitu aku permisi. Sampai jumpa besok di gedung pertunjukkan." Henry memberitahu mereka.

Ketiganya secara bersamaan menghela napas lega. Bukan bermaksud mengusir, hanya saja akan terasa aneh jika ada orang lain yang mendengarnya.

Baekhyun segera bergabung dengan keduanya."Ada apa?"

"Ayah."

"Ya?"

"Ayah bertanya padaku apa aku menginginkan seorang adik?"

"Apa!?"

Kyungsoo menutup telinganya pada teriakan Chanyeol dan Baekhyun yang bersamaan. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya ke lantai yang dingin. Menerawang langit cerah yang terlukis di dalam ruangan. "Aku tidak tahu apa maksudnya. Dua hari yang lalu ayah bertanya padaku, lalu dia tertawa canggung setelah aku menanggapi seperti kalian saat ini."

Hening untuk beberapa saat. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing oh ayolah, umur tuan Do saat ini... Apakah dia berpikir ingin menikah lagi setelah melihat pernikahan Kyungsoo? Bahkan pernikahan Kyungsoo saja belum diresmikan. Tidak ingin menghianati ibu Kyungsoo dan dia menahan diri?

"Bagaimana menurutmu Kyungsoo?"

Wanita itu mendelik pada Baekhyun. "Menurutmu akan menyenangkan memiliki adik yang nanti usianya sama dengan anakmu sendiri?"

Baekhyun mengangkat tangannya. Dia berhenti berkomentar.

"Tanyakan dengan jelas pada Ayahmu." Chanyeol terlihat sedang berusaha menjadi lelaki dewasa di antara keduanya.

"Ayah minta aku melupakan kata-katanya. Menurut kalian, kenapa Ayah bertanya begitu padaku?"

"Ayahmu kesepian. Anak satu-satunya telah menikah dan menolak tinggal di rumah yang sama."

"Ahh Paman."

Kyungsoo buru-buru bangkit dari posisinya ketika Ayah Chanyeol masuk dan tersenyum pada ketiga anak manusia itu.

"Ibumu sudah menyiapkan makanan untuk kalian. Pergilah ke dapur."

"Kai akan menjemputku. Ayah mengajak makan siang bersama. Paman..." Ia panggil Ayah Chanyeol sebagai orang yang paling tua di antara mereka. "Menurut Paman bagaimana? Haruskah aku tanyakan sekali lagi pada ayah untuk memastikan?"

Bahu pria tua itu terangkat, "Coba saja."

Kali ini ia mengangguk pasti mencoba untuk memantapkan hati agar berani bertanya pada ayahnya nanti.


~ RoséBear~


Bukan hanya tentang hidup, melepaskan diri dari kesulitan, kebenaran yang membentang di depan mata. Meskipun begitu, bisakah manusia berpikir tentang takdir buruk? Mencoba melarikan diri sejauh mungkin, pada akhirnya memilih berbalik arah. Beberapa orang bisa berpura-pura menjadi sangat baik dalam kondisi serupa.

Dia telah berusaha menjadi anak yang sangat baik hingga saat ini, belajar menjadi seorang istri untuk seorang pria yang kini mengemudikan mobil di sebelahnya. Kyungsoo mengamati bagaimana Kai mendapatkan fokus tentang jalan.

"Jangan memaksaku untuk datang pada kompetisimu lagi."

Kyungsoo mempout bibirnya lucu mendengar ucapan Kai.

"Baiklah. Padahal aku akan memainkan Violin concerto no 4 karya Mozart. Kau tidak mau mendengarnya, ini akan sangat berbeda dari terakhir kali."

Kai melirik Kyungsoo sebentar.

"Ya. Maafkan aku. Aku tidak akan menyinggung..."

"Bagaimana jika berkencan denganku?"

"Berkencan? Maksudmu?" Kyungsoo bertanya penasaran.

"Pergi ke tempat yang kau inginkan. Hanya satu malam saja, aku akan menghabiskan bensin mobilku untukmu. Jika kau lolos."

Wanita itu mendesis mendengar kalimat pendek yang Kai ucapkan. Jika dia lolos? Kyungsoo sudah berusaha untuk bisa tampil maksimal besok pagi. Ia masih mengenakan gelang pemberian Kai. Gelang itu telah memberinya semangat.

Mereka tiba di sebuah restoran jepang, saat itu ayahnya telah mereservasi sebuah ruangan. Dokter Do menunggu kehadiran mereka, sebuah percakapan sapaan antara ayah dan anak. Dengan penuh kebosanan Kyungsoo harus mendengarkan perbincangan dua pria mengenai sebuah rencana mengenai proyek cukup besar yang melibatkan Kai di dalamnya. Kyungsoo harus bertahan, sesekali ia menatap pada ayahnya. Memperhatikan bagaimana pria tua itu bersamaan. Rasanya tidak banyak berubah. Ia mencoba menghilangkan pikiran negatifnya tapi sayang sang Ayah terlanjur menyadari.

"Kyungsoo ada yang ingin kau sampaikan?"

"Ayah ingin menikah lagi?"

Hening beberapa saat kemudian terdengar tawa menggelagar dari tuan Do. "Ya anak ini! Jika Ayah ingin menikah, sudah kulakukan sejak lama."

Kyungsoo memantapkan hati untuk kembali bertanya. "Lalu bagaimana dengan pertanyaan Ayah tentang seorang adik untukku?"

Saat itu kedua dokter itu tersedak minum mereka mendengar pertanyaan Kyungsoo. Tidakkah wanita ini terlalu polos.

"Jangan menjadi bodoh Kyungsoo!"

Sekarang wanita itu merasa menjadi bodoh. Ayahnya hanya menggoda saja? Oh astaga! Kenapa dia sensitifnya sekali.


To Be Continue...


-Preview Chapter 16-

"Tapi jika kau tidak berhasil aku ingin melanjutkan yang semalam." -Kai

"Setelah menyelesaikan kuliah aku terus berada di rumah sakit." -Henry

"Hanya duduk, tapi saat itu aku sendirian, ketakutan. Tapi sekarang aku senang, kau ada di sebelahku."

"Departemen Psikiatri? Oke!" -Kris