Chapter 9
Little Things Called Love
Halo semuanya maaf ceritanya pending agak lama (membungkuk tulus) karena alasannya saya sempet macet idenya, terus ada ide tulisan yang lain, terus saya sibuk dengan bla,bla,bla…. Terima kasih untuk kalian yang setia membaca dan mendukung, kalian sangat hebat padahal sayanya agak gila, what?! maaf jika ada salah ketik, salah kata, cerita tidak menarik dan sebagainya atau cerita agak melenceng karena saya sedikit lupa plotnya, WHATT?! Heheh harap maklum saya banyak pikiran dan pekerjaan (curhat murahan) selamat membaca untuk chapter selanjutnya saya usahakan tidak terlalu fosil alias lama, Love You All. Happy Reading…..
¶¶¶
Saat membuka pintu rumahnya, Seungyoon tidak menduga jika Mino benar-benar menunggunya di rumah. "Kau menungguku?"
"Aku tidak akan mengingkari janjiku."
"Hmm." Gumam Seungyoon sambil menurunkan anak anjing cokelat ke atas lantai ruang tamu berlapis karpet.
"Kau membeli anak anjing?! Aku suka anak anjing!" pekik Mino kemudian bergegas menghampiri Seungyoon dan berjongkok di hadapan anak anjing kecil yang menatap Mino dengan dua mata bulat besarnya.
Seungyoon hanya bisa mengerutkan dahi, dia tidak pernah tahu jika Mino memiliki sisi kekanakan. "Itu bukan anak anjingku."
"Lalu?" Mino mendongak menatap Seungyoon.
"Milik Taehyun dia menitipkannya di sini sampai besok siang."
"Oh, sayang sekali." Gumam Mino sedih dengan anak anjing cokelat berada di pangkuannya dengan tenang dan terlihat menikmati perhatian Mino. "Apa kau membeli makanan untuk anak anjing?"
"Dia kan hanya tinggal satu hari."
"Dia juga butuh makan!" bentak Mino dengan kesal, sementara itu Seungyoon hanya melempar tatapan heran.
"Baiklah, aku akan keluar membeli makanan untuknya."
"Aku ikut."
"Tidak." Seungyoon berbalik bersiap untuk pergi namun seseorang menahan pergelangan tangan kanannya. Ketika dia menoleh dilihatnya Mino menatapnya dengan tatapan mengiba.
"Pokoknya aku ikut." Ucap Mino kekanakan.
Seungyoon hanya memutar kedua bola matanya, jengah. Menghadapi sikap aneh Mino hari ini. "Baiklah." Balas Seungyoon singkat. "Tunggu! Kau membawanya juga?!" pekik Seungyoon melihat anak anjing cokelat yang kini aman di dalam dekapan Mino.
"Tentu dia harus ikut, mana tega meninggalkannya sendirian di rumah."
"Kenapa hari ini kau melankolis sekali." Cibir Seungyoon yang hanya ditanggapi oleh cengiran lebar dari seorang Song Minho.
¶¶¶
Memilih makanan anjing ternyata tidak semudah yang Seungyoon bayangkan. Buktinya sekarang dirinya berdiri di depan rak makanan anjing dan bingung harus memilih merk mana yang tepat, sedangkan Mino dia terlalu sibuk dengan anak anjing di dalam pelukannya. "Cih! Benar-benar tidak membantu." Dengus Seungyoon. "Berapa usianya?"
"Dua bulan." Jawab Mino yang hanya ditanggapi dengan tatapan heran oleh Seungyoon.
"Kau yakin?"
"Hmm, dia yang memberitahukannya padaku."
"Makhluk aneh." Dengus Seungyoon namun pada akhirnya diapun menuruti ucapan Mino dengan mengambil makanan anjing yang Mino tunjuk. Seungyoon menunjukkan salah satu merk makanan khusus anjing di bawah satu tahun kepada Mino, Mino mengangguk setuju. Seungyoon bergegas membawa makanan anjing itu ke kasir, di belakangnya Mino mengikuti dengan anak anjing dalam dekapannya.
"Mangkuk makanan." Ucap Mino mengingatkan, Seungyoon melempar tatapan jengah anak anjing Taehyun kan hanya dititipkan selama satu hari kenapa dia harus membeli semua kebutuhan lengkapnya. Tidak ingin berdebat dan mendengar racauan Mino tentang isi hati anak anjing, Seungyoon mengambil mangkuk makanan dan minuman khusus untuk anak anjing. "Satu lagi pasir."
"Pasir?"
"Kau tidak pernah memelihara binatang ya?"
"Memang kenapa?!" dengus Seungyoon jengkel, sudah malas harus pergi ke toko, diperintah untuk membeli ini itu hanya untuk anak anjing yang akan diambil besok pagi. Sekarang malah dikatai benar-benar menyebalkan, menyebalkan, dan menyebalkan.
"Karena kau tidak tahu sama sekali tentang kebutuhan seekor anak anjing."
"Maaf, aku tidak bisa membaca pikiran anak anjing aku juga tidak mengerti bahasa hewan, terima kasih banyak." Balas Seungyoon jengkel, suasana hatinya sangat buruk sekarang.
Mino menghembuskan nafas perlahan mencoba bersabar, ia mengambil alih keranjang belanjaan di tangan Seungyoon dan berjalan meninggalkan Seungyoon tanpa berdebat lagi. Seungyoon menaikkan sebelah alisnya. "Bagus jika dia mengerti, sebaiknya dia bayar juga semua keperluan anak anjing sial itu." Seungyoon memilih pergi dari toko entah mengapa tiba-tiba dirinya ingin sekali marah dan melampiaskannya pada sesuatu.
"Seungyoon! Kang Seungyoon!"
"Berhenti mengikutiku."
"Kenapa kau tiba-tiba marah?"
"Bukan urusanmu."
"Seungyoon."
"Ya ampun! Bisakah kau muncul biasa saja, kenapa kau muncul di depanku tiba-tiba?! mau membuatku mati muda karena gagal jantung?!"
"Maaf," ucap Mino perlahan. "Aku yakin ada yang mengganggu pikiranmu."
"Baca saja pikiranku seperti kau membaca pikiran anak anjing dalam dekapanmu itu, aku malas menjelaskannya."
"Aku tidak membaca pikiran anak anjing, dia berbicara padaku."
"Baiklah, baiklah dia berbicara padamu." Balas Seungyoon ketus ia kembali berjalan bahkan ia sengaja menabrak bahu Mino untuk membuatnya menyingkir.
GREEEPP! Mino menahan pergelangan tangan kanan Seungyoon, menghentikan kedua langkah kakinya. "Apa yang kau inginkan?" tanya Seungyoon mencoba untuk bersabar.
"Apa kau mau melakukannya?"
"Melakukan apa? Bicara yang jelas jangan setengah-setengah."
"Seperti yang dilakukan sahabat atau teman atau kenalan saat beban pikiran terlalu berat."
Seungyoon mengerutkan keningnya, masih belum mengetahui maksud Mino. "Minum, ayo minum bersama dan bercerita apapun yang ingin kita ceritakan."
"Baiklah, tapi kau yang beli minuman aku masih di bawah umur." Ucap Seungyoon sembari menarik kasar tangannya dari genggaman Mino.
"Tentu, bawa dia." Mino memindahkan anak anjing dalam dekapannya kepada Seungyoon.
"Hei apa-apaan ini?!"
"Aku tidak mungkin membeli minuman dengan membawa anak anjing kan?"
"Ya, benar juga."
"Tunggu di sini aku hanya sebentar."
"Hei kau….," kalimat Seungyoon terhenti saat Mino menghilang tiba-tiba dari hadapannya. "Lain kali datang dan pergi dengan cara biasa, apa itu memberatkanmu," keluh Seungyoon. Ia memandang ke bawah, anak anjing titipan Taehyun terlihat sudah mengantuk. "Hei, di saat seperti ini kenapa kau tidur."
"Aku kembali."
Seungyoon menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan detak jantungnya, dia harus mulai terbiasa dengan kemuculan Mino yang sedikit heboh. "Bawa dia." Ucap Seungyoon sembari mengoperkan anak anjing dalam dekapannya kepada Mino, sementara dia mengambil alih karton minuman dari tangan Mino.
¶¶¶
Seungyoon meletakkan karton bir ke atas meja makan, sementara itu dilihatnya Mino tengah mengurus anak anjing titipan Taehyun. mino memasukkan anak anjing itu ke dalam rumah-rumahan sementara yang terbuat dari kardus jus, entah darimana dia mendapat kardus jur dengan gambar jeruk segar tersebut.
Seungyoon memperhatikan bagaimana Mino menuang makanan khusus anak anjing yang dicampur dengan sedikit air untuk membuat teksturnya lebih lunak, memenuhi mengkuk air kemudian meletakkannya di dekat anak anjing. Merasa tertarik Seungyoon mencoba mendekat dan memperhatikan apa yang terjadi.
"Kau lihat dia lapar." ucap Mino, Seungyoon hanya menutup mulut dan memperhatikan anak anjing yang Mino letakkan di atas lantai dapurnya makan dengan lahap. "Setelah selesai makan jangan lupa minum, dan jika kau mau ke toilet lakukan di sini," Mino menunjuk wadah plastik berisi pasir. "Lalu jika kau mengantuk masuk ke sini," Mino menunjuk lubang di depan kardus yang sengaja ia buat.
Seungyoon melihat ke dalam kardus, hanya kardus biasa yang dialasi beberapa lapis kain. "Darimana kau dapat kardus itu?"
"Dari tempat pembuangan sampah di dekat apartemen."
"Kau yakin kardusnya bersih?"
"Aku yakin." Mino berdiri kemudian berjalan mendekati wastafel dan mencuci tangannya. Seungyoon berbalik, berjalan menuju meja makan, ia melepas jaketnya dan menyampirkannya pada kursi yang akan dia duduki.
Mino duduk di hadapan Seungyoon, ia mengambil dua botol minuman dari dalam karton. Membukanya, satu untuk dirinya dan satu untuk Seungyoon. "Terima kasih," gumam Seungyoon pelan kemudian menenggak tegukan pertamanya.
"Jadi apa yang mengganggumu?"
"Harus mulai darimana, hmmm…, bagaimana ya. Aku bingung."
"Katakan saja saat kau siap, aku akan menunggumu."
Seungyoon kembali menenggak minumannya. "Bagaimana jika aku katakan jika aku membenci hidupku."
"Hmmm," gumam Mino pelan sembari menenggak minumannya.
"Karena ada banyak hal yang tidak berjalan sesuai dengan rencanaku." Seungyoon menenggak minumannya, kedua matanya menerawang jauh, ia letakkan botol minumannya ke atas meja makan. Memainkannya, memutarnya perlahan. "Orangtuaku membenciku karena bukan aku yang mati, karena kau menyelamatkanku, sial sekali."
"Hahaha," terdengar tawa pelan Mino namun dia tidak mengatakan apapun menunggu hingga Seungyoon mengeluarkan semua isi hatinya.
"Lalu kau datang, memaksaku kemudian menyerah, membuatku bingung, Jinwoo memilih untuk kembali dengan mantan pacarnya. Sial sekali hidupku. Apa kau tahu tempat yang bisa aku gunakan untuk melarikan diri?" Mino menggeleng pelan. "Cih! Tidak bisa diharapkan." Ejek Seungyoon.
"Kau tahu aku mencintai kakek buyutmu dan dia tidak memilihku, lalu aku memutuskan untuk menunggu, melihat kematiannya yang sangat menyakiti hatiku, menjagamu sejak pertama kali kau melihat dunia, karena sial sekali hidupku aku langsung jatuh cinta pada bayi merah yang masih berlumur darah." Mino menenggak minumannya.
"Itu kemalanganmu," balas Seungyoon datar kemudian menenggak minumannya kembali.
"Kau sama sekali tidak mengharagaiku, aku sangat menderita."
Seungyoon tertawa pelan. "Ya, hidup memang menyebalkan. Apa tidak ada tempat yang penuh dengan kedamaian?"
Mino kembali menggeleng. "Di tempat asalmu?" Seungyoon menatap Mino penuh harap.
"Nyatanya tidak ada tempat yang sempurna dimanapun itu."
"Oh," balas Seungyoon datar. "Maaf karena aku sudah bersikap brengsek padamu."
Mino hanya tersenyum simpul, ia mengangkat botol minumannya. "Mari bersulang untuk kemalangan hidup kita berdua." Ucapnya.
Seungyoon mengangkat botol minumannya dengan senyum lebar. "Ya, mari bersulang untuk hidup menyebalkan ini." Seungyoon menenggak sisa minuman di dalam botol. Selanjutnya tidak ada lagi obrolan yang terdengar, keduanya terlalu sibuk menghabiskan minuman masing-masing.
GREEPP! Mino berhasil menangkap botol yang Seungyoon jatuhkan, ia sudah sangat mabuk dan tertidur di atas meja makan sementara Mino, tentu saja minuman keras manusia tidak memberi pengaruh apapun kepadanya.
"Kau ini," gumam Mino sembari mengangkat tubuh Seungyoon dan memindahkannya ke dalam kamar. Perlahan Mino membaringkan tubuh Seungyoon ke atas ranjang tempat tidurnya, menyelimuti tubuhnya. "Seungyoon kau tahu semua jalan hidup tidak akan pernah sempurna, jangan mencari kesempurnaan Seungyoon karena itu sia-sia semata." Ucap Mino, ia beranjak pergi dari kamar Seungyoon setelah menaikkan suhu kamar.
Seungyoon membuka kedua matanya, menatap langit-langit kamar. Air matanya menetes, dia masih cukup sadar untuk mendengar semua kalimat Mino. "Aku tidak mencari kesempurnaan Mino, aku hanya ingin hidup tenang tanpa rasa bersalah lagi."
Alarm ponsel sebenarnya tidak mengganggu tidur Seungyoon sama sekali, namun suara panggilan masuk itulah yang mengganggu Seungyoon. Tangan kanannya bergerak dengan asal mencari ponsel di dalam saku celana jinsnya.
"Seunghoon hyung."
"Seungyoon, hari ini minggu mau jalan-jalan?"
"Jalan-jalan? Tumben mengajakku Hyung?"
"Hehehe, aku rindu padamu kau jarang main ke sini adikku yang manis."
"Aku rasa boleh juga, apa Jinwoo ikut?"
"Masalah itu—aku tidak tahu mungkin dia ikut mungkin juga tidak, dia sangat sibuk. Kita bertemu di Red café."
"Oh. Apa kita hanya berdua saja?"
"Tidak, aku mengajak teman. Taehyun."
Seungyoon memutar kedua bola matanya jengah, ia pikir Seunghoon akan mengajak seseorang yang misterius, atau kata lain orang asing yang belum dikenalnya bukannya Taehyun. Telepon diakhiri secara sepihak, Seungyoon mengerutkan dahi heran. Ia bergegas bangun dan mandi, bersiap-siap untuk menemui Seunghoon.
Seungyoon sedang memeriksa penampilannya di depan cermin saat mencium aroma lezat yang menguar. Ia dengan panik bergegas keluar, Mino menyiapkan sarapan dengan senyum lebar mengembang menghiasi wajahnya. "Hei,kau sudah bangun. Apa kepalamu pusing? Aku membuat sup untukmu."
"Tidak, aku baik-baik saja, aku lumayan berpengalaman dalam hal minum. Mino."
"Ya?"
"Itu—uhmm—aku akan memakannya untuk makan siang, aku ada janji dengan sahabatku."
"Siapa?" wajah Mino berubah serius.
"Lee Seunghoon dan Taehyun, kau sudah lama mengetahui kehidupanku aku yakin kau tahu siapa mereka."
"Hmm, baiklah. Kau bisa memakan masakan ini saat makan siang." Balas Mino dengan nada bicara yang membuat Seungyoon merasa bersalah.
"Mino—mungkin kau mau ikut denganku."
"Tidak, ini acaramu dengan sahabat-sahabatmu aku tidak mau mengganggu."
"Baiklah," balas Seungyoon singkat sebab dia tidak menemukan kalimat lain yang lebih tepat untuk diucapkan. Suara bel pintu menyelamatkan Seungyoon dari kecanggungan yang terjadi, ia berlari menghampiri pintu masuk seolah-olah siapapun di luar sana adalah orang yang sangat penting untuknya.
"Halo Seungyoon." Ucap Taehyun ceria.
"Halo, kau mau mengambil anjingmu?"
Taehyun mengangguk. "Sekaligus mengajakmu berangkat bersama menemui Seunghoon hyung."
"Baiklah, tunggu di sini."
"Kau tidak…," Seungyoon tidak menunggu hingga Taehyun menyelesaikan kalimatnya, dia langsung menutup pintu membuat pintu masuk tersebut otomatis terkunci. Dia tidak mungkin mempersilakan Taehyun masuk dan melihat Mino di dalam. Mungkin Mino bisa menghilang secepat hembusan angin, namun dirinya tidak mau mengambil resiko sekecil apapun.
Mino sudah selesai memasak, kini ia sibuk membersihkan dapur. "Taehyun datang untuk mengambil anjingnya."
"Oh begitu ya."
"Hmm." Balas Seungyoon sekenanya, ia membungkuk dan menggendong anjing kecil berwarna cokelat yang masih tertidur di dalam kardus bekas jus jeruk.
"Tunggu." Cegah Mino membuat Seungyoon berhenti dan melempar tatapan bingung. Mino menunduk mensejajarkan wajahnya dengan anjing kecil di dalam dekapan Mino. "Sampai jumpa, kau harus selalu sehat ya," ucap Mino sembari mengusap pelan kepala anjing kecil itu.
"Aku pergi dulu."
"Hmm."
Seungyoon menoleh namun Mino tidak mengatakan hal yang lain. Ia pun melangkah pergi tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang seperti berharap lebih. "Ya! Kenapa menutup pintumu dengan kasar?! Dan kau tidak menyuruhku masuk!" Taehyun langsung melampiaskan kemarahannya tanpa basa basi.
"Ini." Ucap Seungyoon datar sembari menyerahkan anak anjing dalam dekapannya kepada si pemilik. "Kau mau memberikannya pada siapa?"
"Bukan urusanmu."
"Jawabanmu membuatku semakin curiga, jangan-jangan kepada Seunghoon hyung ya?" Taehyun tidak menjawab dia memilih mengusap-usap kepala anjing kecilnya. "Sejak kapan kau menyukai Seunghoon? Bukankah kau menyukai Jinwoo sama sepertiku?"
"Tutup mulutmu Kang Seungyoon, atau kau akan menyesal." Ancam Taehyun, Seungyoon menutup mulutnya bukan karena takut namun hanya sekedar menikmati sikap malu-malu yang tanpa sadar ditunjukkan Taehyun sekarang.
¶¶¶
"Aromanya lezat."
"Seunghyun hyung."
"Halo apa kabar, panggil dengan TOP saja."
"TOP hyung."
TOP tersenyum, ia bersandar pada dinding dan melempar tatapan intens kepada Mino. "Sepertinya kau sangat menyukai Seungyoon." Mino memilih menutup mulut. "Kau jatuh semakin dalam Mino. Kau tahu peraturannya kan?" Mino masih memilih bungkam. "Haah…," desah TOP sedikit jengah. "Atau aku harus mengingatkannya padamu?"
"Aku sudah ingat Hyung."
"Tidak, tidak, akan aku ingatkan hanya berjaga-jaga jika kau lupa. Hubungan cinta antara bangsa Elf dan manusia itu dilarang karena hanya akan menimbulkan bencana, jika kau masih bersikeras untuk mencintai bangsa manusia maka…,"
"Aku harus menyerahkan hal yang paling berharga dariku." Sambung Mino.
"Hal yang berharga itu adalah keabadian atau umur panjangmu dan jika manusia tersebut pada akhirnya menyakitimu maka…,"
"Aku akan mati." Lanjut Mino.
TOP mengangkat sebelah alisnya menunggu kalimat lain dari Mino. "Kau tidak melanjutkannya?" tanya TOP sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku sudah mengatakan semuanya."
"Belum semuanya."
"Itu tidak perlu karena aku memilih mati daripada melakukan hal keji seperti itu."
TOP meneggakkan tubuhnya. "Aku harus bergegas, sebagai hadiah pertemuan kita setelah sekian lama aku ingatkan peraturan terakhir, jika manusia itu mengkhianatimu namun kau tidak ingin mati dan ingin mendapatkan keabadianmu kembali maka kau harus membunuhnya." TOP menghilang begitu saja, dan entah mengapa bunyi peraturan terakhir tersebut meresahkan Mino.
Dia tidak keberatan menyerahkan keabadiannya dan hidup sebagai manusia untuk Seungyoon, namun saat Seungyoon menyakitinya di masa depan nanti, apakah dirinya masih sanggup untuk berpikir jernih, mengabaikan semua rasa sakit dan memilih kematian, dibandingkan pertukaran?
¶¶¶
Beruntung Red café adalah kafe yang memperbolehkan pengunjung membawa binantang peliharaan. Seunghoon melambaikan tangan penuh semangat kepada keduanya, Seungyoon tersenyum membalas lambaian tangan Seunghoon sambil menyikut pelan lengan kanan Taehyun. "Semoga sukses," bisik Seungyoon pada telinga Taehyun.
"Diam," dengus Taehyun kesal karena digoda namun Seungyoon hanya tertawa geli. Keduanya bergegas menghampiri Seunghoon di mejanya.
"Hyung sudah lama menunggu kami?" Seungyoon yang pertama kali membuka pembicaraan dia tahu Taehyun pasti sedang menyiapkan mental sekarang.
"Baru sepuluh menit."
"Wow, maaf ya Hyung kami sudah berusaha datang secepat mungkin." Balas Seungyoon diiringi senyum permintaan maaf yang tulus.
"Kau saja yang lama!" dengus Taehyun tidak menghargai maksud Seungyoon yang berniat membantunya. Seungyoon mengerutkan hidungnya, sebal.
"Kalian mau pesan apa?" Seunghoon menyodorkan daftar menu kepada Seungyoon. "Wow, Taehyun kau memelihara anjing? Sejak kapan?!" pekik Seunghoon girang.
"Belum lama," gumam Taehyun pelan rasanya Seungyoon ingin sekali memukul kepala Taehyun untuk mengembalikan letak otaknya. Sejak kapan dia malu-malu kucing seperti itu?! benar-benar di luar karakter.
"Karena di luar mulai dingin aku mau Hot Tea dan BBQ Sandwich karena aku belum makan," gumam Seungyoon sembari menulis pesanannya pada secarik kertas. Ia melirik Seunghoon yang diam seribu bahasa rupanya dia sedang memperhatikan Taehyun. "Hyung sudah." Ucap Seungyoon ketus kemudian mengoper daftar menunya kepada Taehyun.
"Aku juga mau Hot Tea, Indonesian Jasmine Tea kau sama kan?" Taehyun menatap Seungyoon yang langsung menganggukkan kepalanya. "Aku mau Fruity Wiz," ucap Taehyun sembari membayangkan waffle dengan potongan buah-buahan segar dan siraman cokelat di atasnya. "Tuliskan pesananku."
"Tidak mau."
"Tolong aku Seungyoon tuliskan pesananku karena aku memegang anak anjing." Ucap Taehyun berusaha untuk terlihat imut.
"Baiklah, baiklah, karena anak anjingmu imut jadi aku tolong."
"Karena anak anjingku?! Bukan karena permintaan tulusku?!" pekik Taehyun kesal, Seungyoon hanya mendengus tanpa peduli.
"Sepertinya kau kelaparan." Ucap Taehyun setelah melihat pesanan Seungyoon.
"Hmm." Gumam Seungyoon.
"Kenapa tidak pesan nasi goreng?"
"Tidak ada di sini."
"Oh, aku tidak membaca daftar menu dengan teliti."
Karen kau sibuk memperhatikan Lee Seunghoon. Batin Seungyoon. "Sudah, Hyung mau apa?"
"Sama dengan Taehyun."
Seungyoon harus menggigit pipi bagian dalamnya agar dirinya tidak tersenyum melihat kedua sahabatnya yang tampak sangat jelas saling mencintai. Seungyoon memanggil pelayan dan memberikan pesanan mereka. "Bagaimana sekolahmu?"
"Siapa yang Hyung tanya aku atau Taehyun?"
"Kalian berdua."
"Lumayan." Balas keduanya hampir bersamaan.
"Setelah lulus apa rencana kalian?"
"Hyung kan sudah tahu jawabannya sejak lama." Balas Seungyoon santai.
"Masa tidak berubah setelah tiga tahun?"
Seungyoon menggeleng pelan. "Tidak, aku tetap tidak punya tujuan." Seungyoon tersenyum lebar menampakkan seluruh deretan gigi depannya.
"Dasar!" cibir Seunghoon yang terabaikan dengan sukses oleh Seungyoon.
"Aku sudah mendengar hubunganmu dengan Jinwoo tidak berjalan dengan baik." Ucap Seunghoon sementara itu Seungyoon sibuk mengunyah Sandwichnya pura-pura tuli. "Aku menghargai pilihan Jinwoo aku harap kau tidak membencinya Seungyoon."
"Hmmm." Gumam Seungyoon malas.
"Karena itu aku tidak memberitahu jika aku jadian dengan Seunghoon hyung."
Seungyoon menelan kunyahan Sandwichnya dengan kasar, kedua matanya menatap Seunghoon dan Taehyun tidak percaya, bergantian dari Seunghoon ke Taehyun dengan cepat. Dia tidak percaya telah dikhinati. Merasa kunyahan Sandwichnya berhenti di tenggorokkan Seungyoon menenggak teh panas di dalam cangkirnya. "Kalian tega sekali padaku!" pekiknya kesal, ia meraih daftar menu dan PLAAK! PLAAK! Menghadiahi kepala Seunghoon dan Taehyun dengan pukulan telak, mangabaikan fakta bahwa Seunghoon lebih tua darinya.
"Kau ini!" protes Taehyun. "Kami hanya ingin menjaga perasaanmu."
"Seungyoon jika kami mengabarkannya padamu, kesannya kami jadi bersenang-senang di atas penderitaan orang." Sambung Seunghoon menjelaskan.
"Aku tidak menderita." Seungyoon terdiam sejenak, entah mengapa sekarang pikirannya justru beralih kepada Mino. Keberadaan Mino membuatnya tak lagi memikirkan Jinwoo sebanyak dulu. "Nikmati kebersamaan kalian aku akan pura-pura buta." Ucap Seungyoon santai.
Seunghoon dan Taehyun masih terlihat canggung dan malu-malu, Seungyoon ingin muntah rasanya. Ia tidak menghabiskan Sandwichnya, bukan karena tidak lapar atau merasa jengah menjadi peran pendukung. Dia hanya berpikir untuk menyisakan ruang di dalam perutnya untuk masakan Mino. Seungyoon merasa bingung kenapa sekarang dirinya mulai peduli. "Kalian lanjutkan saja, aku harus pulang."
"Seungyoon apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Taehyun dengan cemas dan tatapan Seunhoon yang terlihat menyesal.
"Bukan seperti itu, tapi memang ada sesuatu yang harus aku kerjakan." Balas Seungyoon tersenyum lebar. "Bayar makananku ya, kalian baru jadian kan." Seungyoon mengerlingkan sebelah matanya kemudian bergegas pergi sebelum kedua sahabatnya bertanya macam-macam.
Seungyoon mendesah pelan, ia berjalan pelan merasa bosan sekaligus bingung, meski seandainya ada seseorang yang bisa membaca hatinya dan bertanya apa yang membuatnya bingung, dirinya akan berkata dengan yakin jika tidak tahu.
Dan sekarang dirinya juga tidak mengerti kenapa langkahnya terhenti di depan toko binatang. Membuang keraguannya, Seungyoon melangkah memasuki toko, mendorong pelan pintu kaca toko dan tersenyum kepada si penjaga toko yang dengan ramah sudah menyambut kedatangannya. Kedua matanya langsung tertarik kepada anak anjing jenis Shih Tzu dengan bulu lebat berwarna putih dan hitam.
Harganya memang sedikit mengurang kantung, namun Seungyoon tetap ingin membawanya pulang padahal dirinya tidak begitu suka memelihara binatang karena mereka merepotkan. "Kan ada Mino," gumamnya pelan.
Seungyoon memeluk anak anjingnya di dalam jaket yang ia kenakan, meski anjing memiliki bulu namun dia takut anak anjingnya kedinginan, selain itu tadi malam dia melihat Mino melakukan hal yang sama dengan anak anjing titipan Taehyun. Seungyoon merasa langkah kakinya lebih ringan dengan anak anjing di dalam dekapannya sekarang.
¶¶¶
"Kau di rumah?" Seungyoon bingung melihat Mino yang duduk di depan televisinya dengan santai.
"Hmmm, kau pulang lebih cepat?" Mino menoleh dan seketika perhatiannya tertuju kepada anak anjing dalam dekapan Seungyoon, ia langsung berdiri dan berlari menghampiri Seungyoon.
"Kemarin kau bilang suka anak anjing makanya aku…,"
"Terima kasih Kang Seungyoon." Ucap Mino tulus memotong kalimat Seungyoon. "Dia lucu sekali." Gumamnya kemudian ia mengambil alih anak anjing dalam pelukan Seungyoon dan mencium kening Seungyoon.
"Apa yang kau lakukan?" gumam Seungyoon bingung sementara itu Mino sudah terlihat sangat bahagia dengan anak anjing yang baru dia dapatkan.
"Aku akan memberimu nama, hmm…., siapa ya, Minyoon."
"Minyoon?" Seungyoon tidak terlalu suka dengan pilihan nama yang Mino berikan. "Aneh, kenapa tidak memberinya nama normal seperti Siro dalam bahasa Jepang artinya putih, atau nama sejenisnya yang umum dipakai anjing. Aku suka Hachiko." Ucap Seungyoon panjang lebar bahkan ia tidak sadar dengan Mino yang memperhatikan dirinya dengan seksama. "Kenapa?" tanya Seungyoon setelah menyadari tatapan Mino kepadanya.
"Aku suka Minyoon itu gabungan namaku dan namamu. Mino dan Seungyoon."
"Kau ini!" dengus Seungyoon. "Kita kan tidak memiliki hubungan apa-apa," keluhnya kemudian berjalan meninggalkan Mino menuju ruang makan.
"Mau kemana?!" pekik Mino penasaran.
"Makan siang!" pekik Seungyoon membalas pertanyaan Mino. Mino beranjak dari sofa masih mendekap Minyoon kemudian berlari menyusul Seungyoon. "Ada apa?" Seungyoon melempar tatapan heran.
"Biar aku panaskan supnya untukmu."
"Tidak, aku bisa memanaskannya sendiri. Lebih baik kau rawat Minyoon mungkin dia lapar, coba tanyakan."
"Oh." Gumam Mino tampak kecewa.
Seungyoon mendesah pelan kenapa sekarang dirinya merasa bersalah setiap kali melihat wajah sedih Mino. "Dia lebih membutuhkan bantuanmu, kau tahu sendiri aku tidak pernah memiliki hewan peliharaan. Aku akan sangat canggung merawatnya." Seungyoon mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman untuk meyakinkan Mino.
"Aku bisa mengajarimu, sangat menyenangkan."
"Ahhh, ya, lain kali saja." Seungyoon mencoba tersenyum.
"Sebentar lagi libu musim panas kan? Kau bisa mengisi waktu liburanmu dengan belajar merawat anjing atau hal positif lainnya."
Seungyoon hanya mengangguk-angguk kemudian bergegas pergi sebelum Mino kembali menawarkan diri untuk membantunya belajar merawat anjing. Memiliki tanggung jawab adalah hal yang menyebalkan, Seungyoon ingat musim panas tahun lalu dia mencoba menanam tomat namun semua bibit tomatnya mati karena dia lupa menyiram.
"Aku akan mengawasimu jadi nasib Minyoon tidak akan berakhir seperti benih tomatmu."
"Jangan membahas itu!" dengus Seungyoon kesal kemudian memilih berjalan cepat meninggalkan Mino di ruang keluarga. Seungyoon membuka lemari es dan melihat sup buatan Mino. "Sup ayam," gumam Seungyoon saat membuka penutup wadah supnya. Ia masukkan sup tersebut ke dalam Microwave menyetel waktunya kemudian duduk bersabar sembari memainkan sendok.
"Ahh!" pekiknya saat sesuatu yang berbulu, empuk, dan hangat, menyenggol kaki kanannya. Ia hampir menendang sesuatu yang asing tersebut jika dia tidak mengeluarkan gonggongan kecil. Seungyoon langsung menaikkan kedua kakinya ke atas kursi.
"Apa kau takut anjing?" tanya Mino sembari berjongkok memanggil Minyoon.
"Tidak, dia hanya datang tiba-tiba. Itu mengejutkan." Balas Seungyoon ia bergegas berdiri saat mendengar bunyi dari Microwave. Ia keluarkan wadah supnya dan mematikan Microvawe. "Bisakah kau memberinya makan di luar areal dapur?"
"Di ruang keluarga?"
Seungyoon ingin membalas keluarkan anjing itu namun ia yakin Mino tidak akan setuju. "Bagaimana jika di kamarmu saja. Aku tidak mau dia…,"
"Dia tidak akan mengotori rumah aku janji. Jika dia mengotori atau membuat berantakan aku yang bertanggungjawab."
"Terserahlah," balas Seungyoon jengah.
Mino bergegas membawa Minyoon pergi saat dilihatnya Seungyoon sudah siap untuk memakan supnya. "Kau tidak perlu membeli anak anjing jika merasa tidak nyaman, Seungyoon."
Seungyoon menelan ludahnya kasar, sekarang kalimat Mino berhasil menghilangkan selera makannya. "Kenapa jadi aku yang merasa bersalah." Gerutunya pelan.
"Aku tidak suka melihatmu sedih dan merasa tidak nyaman." Balas Mino.
"Aku membelinya untukmu, agar kau senang."
"Tapi kau merasa tidak nyaman dengan kehadiran Minyoon."
"Itu karena aku tidak pernah memelihara anjing sejak..," Seungyoon menghentikan kalimatnya. "Lupakan." Dulu dia pasti akan melempar sendok dan pergi begitu saja, menyalahkan semua yang terjadi kepada Mino namun sekarang melakukan hal kasar seperti itu terasa tidak pantas. "Baiklah, aku akan belajar menyukai dan merawat Minyoon saat libur musim panas nanti."
"Benarkah?!" pekik Mino antusias.
"Apa wajahku terlihat main-main?"
Mino menggeleng pelan kemudian tersenyum lebar. "Apa kau juga mau belajar menanam tomat lagi?"
"Jangan bahas itu." balas Seungyoon tegas. Menanam tomat adalah kegagalan terbesar yang tidak pantas untuk diingat bagi seorang Kang Seungyoon.
TBC
