AN: Tempat yang akan kugambarkan di bagian ini benar-benar ada. aku tidak tahu secara pasti, tapi tempat itu ada di daratan Taiwan dengan sedikit gambaran tambahan dariku. Tidak banyak yang bisa kusampaikan sekarang,karena aku merasa tidak terlalu baik dalam beberapa waktu ini, but I was in a very good condition now, dan aku harap bagian ini tidak mengacaukan cerita selanjutnya ^^
-Chapter 15-
"Kyungsoo ada yang ingin kau sampaikan?"
"Ayah ingin menikah lagi?"
Hening beberapa saat kemudian terdengar tawa menggelagar dari tuan Do. "Ya anak ini! Jika Ayah ingin menikah, sudah kulakukan sejak lama."
Kyungsoo memantapkan hati untuk kembali bertanya. "Lalu bagaimana dengan pertanyaan Ayah tentang seorang adik untukku?"
Saat itu kedua dokter itu tersedak minum mereka mendengar pertanyaan Kyungsoo. Tidakkah wanita ini terlalu polos.
"Jangan menjadi bodoh Kyungsoo!"
Sekarang wanita itu merasa menjadi bodoh. Ayahnya hanya menggoda saja? Oh astaga! Kenapa dia sensitif sekali.
The Paradox of Lost Complementary
Complementary
Present by RoséBear
[Part 4 : Path of Opportunity 171224]
16th Chapter - KaiSoo
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery
Kai tak hentinya menertawakan Kyungsoo sepanjang perjalanan pulang. Bahkan ketika keduanya telah berada di rumah, saat Kyungsoo selesai membersihkan diri ia masih mendapati tawa geli dari wajah Kai. Wanita itu mulai kesal, menghempaskan pantatnya kasar ke ranjang membuat deritan yang cukup jelas untuk didengar. Kyungsoo hanya butuh berbaring dan membuat tubuhnya hilang di balik selimut tebal. Mengabaikan Kai yang masih menertawakannya.
Sungguh sangat bodoh bagi Kyungsoo berani bertanya seperti itu pada ayahnya. 'Arwah ibumu akan mengutuk ayah jika berani memiliki wanita lain.'
'Benarkah?'
Bagaimana caranya Kyungsoo percaya ayahnya hanya bercanda atau sekedar menggoda Kyungsoo saja. Terlalu larut dalam perdebatan di dalam otaknya Kyungsoo mulai merasa gelisah saat sesuatu mengelus perutnya. Terasa hangat dan begitu menempel. Ia tersentak dan memilih menyibak selimut. Disadarinya Kai melingkarkan tangan di perut dan bergelung memeluk Kyungsoo begitu protektif.
"Aku belum ingin tidur. Bagaimana kau bisa meninggalkan aku dengan cara seperti ini?" Suara pria itu parau walau ia berkata tidak ingin tidur. Kyungsoo membawa tubuhnya berbalik menghadap Kai. Wajah tampan itu tersenyum menyambut kehadirannya.
"Bagaimana rencanamu selanjutnya?"
Kai terdiam dengan pertanyaan Kyungsoo. Sesungguhnya wanita itu ragu untuk menanyakan ini. Tapi pernikahan mereka telah berlangsung cukup lama. Bercinta beberapa kali dan itu meninggalkan bayangan yang luar biasa di dalam otak Kyungsoo, -Hingga dia berani melayangkan pertanyaan ini Sementara dia telah mengikuti permintaan Kai, tapi masih sulit bagi Kai untuk membuka diri kepada Kyungsoo.
"Aku tidak akan melepaskanmu kecuali kau memintanya. Sebaiknya jalani saja seperti ini. Tidak ada masalah bukan? Kurasa kau juga tidak menyukai pria lain."
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, bagaimana caranya dia menyukai pria lain ketika Kai ada di hadapannya. Tapi bagaimana dia bisa melangkah jika Kai memasang tembok melingkar dalam kehidupan mereka. Sementara tidak ada cara untuk kembali lagi.
~ RoséBear~
Ahh, saat itu cuaca menjadi tidak menentu, tentang kabar yang dia terima, apa yang dia kerjakan semua mengalir seperti air sungai, namun juga memberi kehidupan di sekitarnya.
"Kau tampil no urut 20. Pengumuman keluar jam empat sore ini."
Baekhyun memberitahu Kyungsoo prihal perlombaan tahap kedua. Ada banyak peserta yang lolos dalam tahap pertama, dan mereka kembali bersaing dalam seleksi ke dua. Berbeda dengan seleksi pertama di mana pengumuman langsung diberitahukan. Maka untuk tahap kedua, pengumuman serentak dalam selembar kertas yang akan di tempel pada papan pengumuman.
Kyungsoo duduk di koridor backstage -sendirian setelah Baekhyun meningalkannya.
'Aku tidak bisa melihatmu, tapi aku bersamamu.'
Berkali-kali dia mengingat ucapan Kai. Tapi tetap saja menjadi gugup. Panggilannya berdering, Kyungsoo tersenyum hanya karena lelaki dalam pikirannya yang menghubungi.
"Aku sangat takut. Bagaimana ini?"
Kyungsoo segera melontarkan pendapatnya. Hening beberapa saat dari seberang sana hingga Kyungsoo memberanikan diri memastikan.
"Kai? Kau masih di sana?"
"Ya."Sebuah jawaban yang begitu singkat.
"Lalu kenapa tidak bicara!?" Kyungsoo menyentak pria itu.
"Kau mau aku bicara apa?"
Suaranya selalu saja terdengar begitu lembut. Berat namun menenangkan. Karena Kai tidak pernah berteriak marah jadi sewajarnya jika Kyungsoo jatuh dalam pesona pria ini. Sekarang dia jadi ragu untuk bicara bagaimana lagi.
"Jam berapa kau akan selesai dari sana?"
Akhirnya Kai bertanya.
"Kurasa jam setengah lima."
"Aku selesai jam tujuh malam. Bagaimana jika kau bersiap dan aku menjemputmu di rumah keluarga Park? Bisakah kuminta teman wanitamu menemanimu selama kau bersiap di rumah untuk kencan satu malam penuh kita
Alis Kyungsoo naik satu tingkat.
"Baekhyun?"
"Ya. Siapapun itu namanya."
Astaga! Kyungsoo sempat lupa mengenai kencan satu malam penuh mereka. Mendadak jantungnya berdegup begitu kencang. Pergi kencan dengan Kai ternyata lebih membuatnya gugup daripada sebuah penampilan untuk kompetisi di atas panggung. Tapi... Bukankah pengumuman mengenai seleksi kedua akan diumumkan nanti sore, bagaimana jika dia gagal?
"Aku tidak menerima penolakan Kyungsoo! Pakaianmu telah kusiapkan di atas meja rias. Gunakan itu."
Jadi apapun hasilnya mereka tetap akan berkencan? Mungkin Kai punya rencana sendiri, jika dia lolos bisa saja mereka pergi makan malam romantis. Jika gagal?
"Tapi jika kau tidak berhasil aku ingin melanjutkan yang semalam."
Degh
"A-apa maksudmu?" Napasnya pendek-pendek padahal dia hanya duduk mendengarkan Kai bicara. Tapi melanjutkan yang semalam artinya percintaan mereka di atas ranjang karena Kyungsoo meninggalkan Kai tidur lebih dulu tadi malam? Lelaki di seberang sana tidak sedang bercanda kan?
"Heii kau bukan lagi anak di bawah umur Kyungsoo. Kau sudah dewasa untuk mengerti ucapanku. Sampai bertemu nanti aku sangat berharap jika kau gagal."
Belum sempat Kyungsoo memaki tapi lelaki itu telah memutuskan panggilan. Sejenak perasaan Kyungsoo menghangat hanya karena bicara dengan Kai. Dia harus berhasil, Kyungsoo sangat ingin pergi ke suatu tempat. Perjalanan beberapa jam dengan bus. Sudah sangat lama dia tidak pergi ke tempat itu.
Wanita itu berdiri cukup lama di belakang stage hingga no. Urutnya kemudian di panggil. Kyungsoo menarik napas dalam-dalam. Tangannya menggenggam erat violin miliknya.
'Aku percaya kau bersamaku. Memperhatikanku dengan sangat baik.
Langkah pertama yang dia buat sangat meyakinkan. Dalam hati Kyungsoo telah memantapkan diri. Dia akan menyelesaikan kompetisi ini dengan baik. Dia sudah berlatih sangat lama untuk lagu ini, Henry adalah pemain violin profesional yang membantunya menggembangkan teknik bermain. Kesalahan demi kesalahan dikurangi sedemikian rupa.
Tiap gesekan yang Kyungsoo lakukan berhasil menghentak pada telinga orang yang mendengarkan.
Semula violin hanyakah instrumen pengiring, lama kelamaan berhasil berkembang menjadi instrumen solo. Lalu kemudian bisa diiringi. Tapi Kyungsoo tahu saat ini dia sedang bermain solo.
Yang pada saat itu dia mengalami kesulitan untuk bermain violin, nyatanya sekarang menjadi tidak sulit lagi. Ia mampu berkonsentrasi penuh dan menggembangkan tiap gesekan yang dilakukan.
~ RoséBear~
"Kau sangat luar biasa Kyungsoo! Bagaimana kau bisa mengeluarkan nada yang begitu jernih, musikmu cepat tapi kau tidak melewatkan satu bagianpun."
Kyungsoo berlari menghampiri kedua orang yang selalu melihat penampilannya. Memeluk mereka berdua dengan senang, jemarinya masih gemetaran, napas pendek-pendek namun dia tersenyum sangat lebar. Di belakang mereka sosok Henry juga mendekat.
"Semua orang yang mendengarkan menganggap teknik yang kau mainkan luar biasa," Kali ini Chanyeol berkomentar.
"Kau mau melihat penampilan yang lain atau menunggu di lobby?" ketika Baekhyun bertanya Kyungsoo segera menoleh. Ia ingat ucapan Kai saat itu. "bagaimana jika menunggu di lobby?"
"Tidak ingin melihat permainan peserta yang lain?"
Ia menggeleng ketika Henry menawarkan sekali lagi.
"Sebaiknya tidak," Kyungsoo berkomentar.
Mereka berjalan meninggalkan area kompetisi. Melewati lorong-lorong gedung hingga tiba di lobby. Hanya dia sendiri dari peserta kompetisi yang berada di lobby. Sementara peserta lain saling mencemaskan dengan memperhatikan penampilan yang lain.
Pada saat itu Kyungsoo memperhatikan layar televisi, menampilkan sebuah wacana dengan seorang dokter.
"Kami akan membelikan cemilan. Tidak apa jika di tinggalkan?"
Baekhyun bertanya kemudian mendapat persetujuan dari Kyungsoo dan Henry. Kedua orang itu meninggalkan mereka. Awalnya Kyungsoo masih memperhatikan layar televisi kemudian ia merasakan pemuda ini terus menatapnya.
"Henry? Ada apa? Apa ada yang aneh denganku?"
Lelaki itu hanya memandang tangan kiri Kyungsoo. Dia menggeleng pelan. "Semua baik-baik saja."
Hening sejenak.
"Kyungsoo, jika aku boleh bertanya. Sejak kapan kau bermain violin?"
Kyungsoo menoleh sebentar. Ia menahan tubuhnya pada kursi kayu panjang kemudian menarik tubuhnya untuk bersender pada tembok di belakang. Kepalanya mendongak mencoba mengingat kapan pertama kali dia bermain violin.
"Itu sudah sangat lama, bersamaan dengan aku mengenal huruf dan angka. Selama dua tahun teman ibu mengajariku sebelum akhirnya dia pindah ke luar negeri. Aku masih bermain violin dengan ditemani ibu. Tapi kemudian ibu sakit, aku telah menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit..."
"Aku juga."
Kyungsoo menoleh ketika mendengar Henry memotong ucapannya. "Kapan kau masuk rumah sakit Henry?"
"Setelah menyelesaikan kuliah aku terus berada di rumah sakit."
Jika boleh berpendapat Kyungsoo takut melihat ekspresi Henry barusan. Wajahnya mengeras dan tampak seperti akan meluapkan amarah.
"Tapi sekarang aku di sini. Melihat permainanmu yang luar biasa. Jadi? Dari kecil kau telah bermain violin?"
Ia mengangguk sebentar. "Terhenti ketika aku fokus belajar sains. Aku menghabiskan waktu di ruang belajar, kelas persiapan, perpustakaan daerah setelah Ibu meninggal. Bermain violin hanya sekali-kali saja. Ketika aku merasa sangat sedih dan keluarga Park tidak ada untuk menghiburku. Tapi dua tahun yang lalu kuputuskan untuk memulai semuanya dari awal. Kupikir aku harus bermain violin lagi." Dia mengakui semua itu dengan lebih mudah.
"Ya Kyungsoo. Teruslah bermain violin."
Untuk pertama kalinya Kyungsoo ingin melepaskan diri. Ia menarik tangannya yang tiba-tiba di genggam oleh Henry. Sedikit canggung dan dia berterima kasih ketika Chanyeol segera muncul. Wanita itu berdiri dan menyambut minuman kalengnya segera.
"Aku punya janji. Aku tahu kau akan lolos Kyungsoo. Sampai bertemu di latihan selanjutnya." Pemuda itu ikut bangkit dari tempat duduk, mendekat dan tersenyum ramah.
"Ya. Terima kasih banyak."
Mereka bertiga mengucapkan terima kasih dalam kecanggungan. Chanyeol menarik Kyungsoo untuk segera duduk kembali. Memastikan lelaki China itu telah pergi menjauh.
"Ada apa Chan?"
Pria tinggi menggaruk kepala bagian belakangnya. Ia memandang Baekhyun dan melihat kekasihnya mengangguk.
"Kyungsoo dengarkan aku!"
Ia menoleh pada Baekhyun segera. "Chanyeol juga percaya pada instingku. Jadi aku coba untuk bicara denganmu, apa kau menyukai Henry? Maksudku, kau telah bersamanya."
"Haha. Jangan bercanda. Aku tidak menyukainya Baek."
"Tapi dia bisa saja menyukaimu."
Kedua wanita itu memandang kearah Chanyeol. Pria tinggi itu memutar matanya bosan.
"Aku pria yang selalu di dekatmu sejak kau lahir. Jadi aku bisa mengartikan pandangan lelaki terhadapmu."
Kyungsoo terdiam sejenak. Perempuan itu tersenyum, "aku janji tidak akan mengabaikan Kai. Kau harus percaya padaku. Kau ingin agar aku tidak berselingkuh bukan?"
Chanyeol menganggukkan kepalanya. Tangannya mengacak pelan rambut Kyungsoo, "sudah seharusnya begitu. Kita pernah berjanji untuk setia pada satu pasangan saja, terlepas dari perjanjianmu dengan Kai."
"Seperti angsa liar."
Baekhyun menyahuti. Mereka telah tumbuh dalam lingkungan keluarga baik-baik. Tidak ingin membuat masalah ataupun pemberitaan sejenisnya.
Angsa liar? Hewan itu hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya.
~ RoséBear~
Orang-orang mulai membuat kerumunan di dekat papan pengumuman. Chanyeol telah menahan Kyungsoo dan Baekhyun, sebagai gantinya ia sendiri yang akan ke sana. Dengan memanfaatkan tinggi tubuhnya, Chanyeol tidak akan banyak mengalami kesulitan.
"Do Kyungsoo?"
Baekhyun dan Kyungsoo terkejut ketika seseorang menghampiri mereka berdua. Seorang pria paruh baya segera menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Kyungsoo terlebih dahulu walau ragu ia menerima uluran itu.
"Parikian Chun."
"Do Kyungsoo... Temanku, Byun Baekhyun."
Tidak hanya memperkenalkan diri sendiri, Kyungsoo juga memperkenalkan Baekhyun pada pria paruh baya ini.
"Senang berkenalan denganmu Do Kyungsoo. Aku sangat terkagum, maksudku teknik gesekanmu sangat luar biasa. Kau mengembangkan intonasi dengan sangat baik."
"Tuan! Anda di sini? Kita harus segera kembali."
Pada saat itu seseorang menghampirinya. Seorang Nona muda mungkin lebih tua beberapa tahun dari Kyungsoo. Tampak panik karena kehilangan atasannya. Ketika menyadari keberadaan Kyungsoo dan Baekhyun. Wanita Korea itu menunduk lalu mencoba membawa atasannya menjauh.
"Aku menantikan penampilanmu. Mungkin dengan karya Mahler."
Dia melambaikan tangan, meninggalkan kedua wanita itu dengan kebingungan mendalam.
Saat lelaki itu menghilang di balik pintu kaca, sebuah pelukan erat menyadarkan kedua wanita itu.
"Congratulation nona Do! You're the best. Kau kembali lolos."
"Benarkah!?"
Kyungsoo masih tidak percaya. Ia berlari meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun. Melewati kerumunan dan mencari no. Urut serta namanya. Hanya butuh beberapa saat dengan tubuhnya yang mungil untuk menerobos kerumunan orang-orang itu. Kyungsoo tersenyum sumringah saat kembali pada dua sahabatnya.
"Arghhhh! Aku senang sekali."
"Jadi kita akan merayakannya kemana?"
Kyungsoo melihat jam di pergelangan tangan Chanyeol. "Sebenarnya Kai berjanji mengajakku berkencan jika aku lolos. Mau menemaniku bersiap? Aku janji akan mentraktir kalian lain waktu."
Wajahnya merah merona ketika melakukan pengakuan pada dua sahabatnya namun Ia mendapatkan pelukan yang begitu hangat.
"Tentu saja," Baekhyun ikut berseru senang.
Sementara Chanyeol di tinggalkan beberapa langkah. "Ya! Aku mulai merasa lelaki itu mengambilmu sepenuhnya dari kami!" Ia menyampaikan protes, sayangnya Chanyeol tidak bisa bersungguh-sungguh. Pada kenyataannya Kyungsoo adalah istri Kai. Sementara mereka hanyalah sahabatnya.
Dan disinilah mereka setelah perjalanan singkat. Chanyeol menghabiskan cemilan yang diberikan Kyungsoo sementara dua wanita itu memiliki urusan di dalam kamar. Sangat lama tanpa ada tanda-tanda mereka akan menyudahi urusan di dalam sana.
~ RoséBear~
Di satu sisi Kai sedikit kesulitan bagaimana harus berkomentar mengenai penampilan Kyungsoo. Rupanya kemana mereka akan pergi malam ini? Makan malam romantis? Atau Kyungsoo memang ingin pergi ke suatu tempat?
Kai sudah mendengarkan ceramah kepala perawat sepanjang jam setelah ia melakukan pekerjaannya. Tentu saja tentang kencan bersama Kyungsoo. Di rumah sakit ini hanya beberapa orang saja yang menyadari prihal pernikahannya dengan putri direktur.
Ia mendapatkan proyek, dimana dr. Do memberinya kesempatan untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan. Dia sangat serius dengan proyek pembangunkan gedung baru rumah sakit. Sebagai seorang dokter bedah dia telah mendapat pengakuan. Namun untuk menjadi bagian dari direksi? Kai masih tidak terlalu mengerti. Di sisi lain, pandangan anggoda Dewan direksi terasa begitu menjengkelkan dan dia perlu pengakuan dari mereka untuk selalu bisa berada di dekat dr. Do. Sejauh ini tidak ada yang mendesak prihal keberadaan Kai, akan tetapi beberapa orang mulai bertanya benarkah Kai mendapatkan pembelajaran khusus dari direktur utama rumah sakit ini? Sementara dia bukan siapa-siapa kecuali dokter bedah dengan berbagai pujian luar biasa. Namun di pihak lain yang menyadari pernikahannya dengan Kyungsoo memberikan bantuan yang ia butuhkan. Mengingat hal ini, Kai masih sangat berusaha untuk melindungi wanita itu. Kyungsoo yang setiap hari dilihatnya, istrinya begitu polos dan masih berusaha mengerti Kai.
Kembali lagi pada dirinya. Kai hanya mengenakan kaos polos dilapisi jas abu-abu berpadu celana dasar senada. Sementara Kyungsoo? Ya benar. Itu gaun yang disiapkan Kai untuk digunakan Kyungsoo. Hanya saja, seingatnya gaun itu berada di bawah lutut, lengan hingga siku berwarna hitam dengan renda dari leher. Ia sudah melihat Kyungsoo mencobanya ketika mereka membeli gaun itu beberapa waktu lalu. Tapi apa yang dia lihat sekarang?
Kyungsoo sangat cantik dengan rambut hitam, sepertinya dia baru memotong pendek pada bagian depan. Terjalin begitu rapi hingga disampirkan pada bahu kirinya.
"Hah~" Napas beratnya meluncur begitu saja.
"Apa yang terjadi dengan gaunmu?" Akhirnya Kai bertanya. Kyungsoo tersenyum canggung. Ia berjalan mendekati dan memutar tubuhnya memastikan apa yang Kai lihat.
"Baekhyun memaksa memotong di beberapa bagian gaun juga ketika kuminta dia memotong rambutku."
Kai mengangguk mencoba mengerti. Jadi wanita itu mengubah penampilan Kyungsoo? Sekarang dia harus bagaimana. Memujii penampilan Kyungsoo yang terlihat sangat cantik atau menutupi istrinya yang terlihat sedikit lebih seksi?
"Apa aku harus berganti pakaian?"
Ia menggeleng untuk pertanyaan Kyungsoo. "Kau sangat cantik Kyungsoo."
Wajahnya merah merona walau tidak menggunakan blush on. Hanya sapuan make up ringan. Dengan gaun di atas lutut, tanpa lengan membuat bahunya terekspose sekalipun masih menyisahkan tali spagethi pada gaun yang dia kenakan, juga emperlihatkan kalung yang pernah Kai berikan padanya ketika pesta di Gyeonggi.
"Tadinya aku pikir kita bisa makan malam di luar. Tapi jika seperti ini aku ingin pergi ke restoran Jepang."
Kai mengusulkan dan Kyungsoo hanya menurut saja. Yang terpenting bagi Kyungsoo adalah perjalanan setelah makan malam.
Lelaki itu membukakan pintu mobil agar Kyungsoo masuk, ia segera memutari mobil dan duduk di balik kemudi. seperti biasa Kai akan memasangkan sabuk pengaman Kyungsoo. Jarak wajahnya menjadi begitu dekat hingga wanita itu harus menarik kepalanya ke belakang menghindari tatapan tajam Kai.
"Kenapa?"
Bukan menjawab. Kyungsoo mengigit bibir bawahnya jantung wanita itu berdetak begitu cepat. Reaksinya dianggap berlebihan namun pada kenyataannya memang seperti itu.
Lama lelaki itu memandangi wajah Kyungsoo dari dekat, membuat hidung keduanya bersentuhan.
Kyungsoo menahan napas, menunggu Kai menciumnya. Mata bulat itu terpejam ketika jemari kuat itu menarik tengkuknya. Mereka merasakan lembut bibir lawan masing-masing. Kai hanya mendaratkan ciuman yang begitu ringan. Rasa wine hinggap dalam Indra pengecap Kyungsoo saat Kai memasukkan lidahnya. Rupanya lelaki itu telah meminum winenya terlebih dahulu.
"Manis?"
Kai bertanya tanpa menjauhkan wajahnya membuat Kyungsoo tidak bisa melarikan diri. Dia mengangguk pelan. "Tapi bibirmu jauh lebih manis Kyungsoo."
Lelaki itu memberikan sebuah getaran di wajah Kyungsoo ketika ia tersenyum sebelum menarik diri. Oh astaga, Kai sangat senang menggoda Kyungsoo membuat wajahnya merah merona.
~ RoséBear~
Peampilan Kyungsoo membawa mereka benar-benar makan malam di restoran Jepang.
"Jadi? Tuan putri ingin ke mana malam ini? Kupikir kita bisa naik sepeda malam tapi sepertinya aku harus mengubah rencana."
Kyungsoo tersenyum canggung ketika Kai bicara prihal rencana mereka. Oh hei! Bukankah malam ini adalah rencana Kyungsoo, wanita itu telah menyusun rencana kemana mereka akan menghabiskan waktu. Tidak perlu mengikuti rencana lama Kai atau menyusun yang baru.
"Bisa parkirkan mobilmu di stasiun?"
Kai mengernyit ketika mendengar Kyungsoo meminta karena sangat jarang wanita ini mengajukan permintaan, dan tiap kali itu terjadi suaranya masih bergetar karena ia takut Kai menolak permintaannya.
"Ya. Akan kulakukan."
Senyumnya tidak bisa bisa disembunyikan ketika mendengar persetujuan Kai.
"Kita mau kemana Kyungsoo?"
"Kau sudah berjanji tidak akan menolak kemanapun aku ingin pergi malam ini."
Kai terdiam mendengar alasan Kyungsoo. Wanita ini benar-benar pandai merayu tanpa ia sadari pesonanya begitu polos.
"Baiklah," setengah ragu Kai meninggalkan mobilnya di stasiun.
Kyungsoo membawanya menaiki bus malam. Kemana mereka akan pergi masih menjadi pertanyaan bagi Kai bahkan ketika Kyungsoo mengambil posisi duduk di bagian belakang.
~ RoséBear~
Aroma malam hari akhir musim gugur. Entah kapan salju pertama akan turun untuk memulai musim dingin. Bukankah ini sudah pertengahan Desember. Kai melepaskan jaznya. Membungkus tubuh Kyungsoo agar wanita itu tidak kedinginan. Mereka melewati malam di perjalanan dengan hanya diam tanpa percakapan.
Kyungsoo yang berada lebih rendah memudahkan Kai untuk memperhatikan bagaimana wajah manis istrinya.
"Kita sudah sampai."
Ia mengangguk. Memegang pundak Kyungsoo ketika menuruni bus pertama. Malam itu masih ada beberapa penumpang lainnya. Berjalan hampir lima menit Kyungsoo dan Kai menaiki bus lainnya di halte malam itu dengan beberapa orang lain.
Kyungsoo membawanya kembali duduk di bagian belakang, pada kursi yang berjejer empat.
"Kita akan berhenti di pemberhentian terakhir," Kyungsoo memberitahu.
Alis Kai terangkat, membuatnya mengangguk pelan.
"Boleh aku memelukmu?"
Rasanya ini yang kedua Kyungsoo meminta izin untuk memeluk Kai. Lelaki itu tersenyum. "Tidak perlu meminta izin jika kau ingin memelukku."
Kyungsoo segera melingkarkan tangannya pada perut Kai. Degup jantung yang selalu tenang. Kyungsoo menyukai pria ini, tapi ia masih menjaga jarak. Karena Kai tidak membuka diri sepenuhnya.
Rasanya sudah puluhan halte mereka lewati. Bus membawa mereka keluar dari provinsi sebelumnya. Karena gelap Kai tidak terlalu tahu keberadaan mereka. Ia hanya coba percaya pada Kyungsoo. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul empat malam hari dan Kyungsoo belum juga terbangun.
"Kau yakin kita belum sampai?"
Kai mendengar suara deruan ombak. Lama sejak halte terakhir mereka belum berhenti lagi.
Kyungsoo bergerak kecil. Dia terbangun dan menyadari mereka adalah penumpang terakhir.
Supir bus membunyikan lonceng dan berkata "lower Halte."
"Kita turun."
Kai sedikit terkejut ketika Kyungsoo menariknya untuk turun. Angin kencang yang pertama menyambut mereka.
Hanya sebuah halte di pinggir jalan. Dengan lampu pijar dan halte ini sangat terawat. Deruan ombak menyadarkan Kai jika mereka ada di pinggir jalan.
"Kau sering kemari?"
Kyungsoo hanya duduk dan Kai menyusulnya. Wanita itu menggeleng pelan. Ia menikmati angin dingin yang menghempas tubuhnya.
"Duduklah. Aku kedinginan."
Kyungsoo benar-benar kedinginan. Suaranya menggigil. Kai segera menurut dengan duduk di sebelah wanita itu. Kyungsoo kembali memeluknya membuat perasaannya sangat nyaman.
"Kyungsoo, apa tempat ini mengingatkanmu pada seseorang?"
Ia merasakan kepala Kyungsoo menggeleng. "Tidak, aku menemukan tempat ini tanpa sengaja. Sewaktu melarikan diri dari Ayah. Tanpa sadar aku berada di halte terakhir. Ini kedua kalinya aku kemari."
"Melarikan diri?"
Wanita itu menganggukkan kepala. "Saat itu aku sangat marah karena ayah melarangku mengisi formulir untuk akademi musik. Itu pertama kalinya dia kembali, mengajakku makan malam bersama lalu bicara tentang perguruan tinggi, tetang fakultas kedokteran."
"Apa yang terjadi setelah kau sampai di kemari."
"Seperti yang kita lakukan sekarang."
Kyungsoo membuka mata bulatnya. "Hanya duduk, tapi saat itu aku sendirian, ketakutan. Tapi sekarang aku senang, kau ada di sebelahku."
Tanpa sadar Kai mengacak rambut Kyungsoo gemas ketika wanita itu tersenyum memandangnya.
"Kai... Kau tidak mau menceritakan apapun tentangmu?"
Kai menggeleng. "Tidak ada yang menarik dalam hidupku. Dua bersaudara yang dibesarkan oleh seorang pria tua paruh baya."
"Tapi kakek bilang kau tinggal bersamanya setelah ibu kalian meninggal."
"Aku tidak ingin membahasnya."
Kyungsoo menghela napas beratnya. "Yang kita naiki adalah bus terakhir. Bus pertama akan tiba dua jam lagi. Aku ingin mendengar tentangmu. Bagaimana hubunganmu dengan orang tuamu?"
"Ya Do Kyungsoo!"
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Oh astaga! Dia salah memilih pertanyaan. Padahal Kai sudah memberinya peringatan. Sulit sekali bagi Kyungsoo menahan dirinya untuk bertanya. Tanpa sadar Kyungsoo mengeratkan pelukannya. "Aku hanya ingin tahu Kai. Tidak perlu berteriak."
Lama hingga Kai menghembuskan napasnya berat. "Lebih baik kau tidak tahu Kyungsoo."
~ RoséBear~
Pagi itu, Kyungsoo harusnya sadar. Kai punya hubungan yang sangat buruk dengan kedua orang tuanya. Entah apa yang telah terjadi Kyungsoo tidak diberitahu karena dia bukan siapa-siapa. Pada dasarnya pernikahan mereka hanya untuk menyelamatkan Kyungsoo. Terlepas dari kesehatan kakek Kai. Bisa dipastikan ini setengah menyiksa bagi lelaki tan.
Mereka hanya duduk hingga fajar perlahan menyingsing. Ketika Kyungsoo menawarkan diri untuk turun ke bibir pantai. Saat itulah Kai benar-benar menyadari posisi mereka. Halte terakhir ini terletak di pinggir jalan lintas. Tidak banyak kendaraan yang melintas bahkan hampir bisa dihitung dengan jari dalam satu jam terakhir. Di seberang jalan lintas terdapat tembok untuk kendaraan. Lalu bebatuan dan segera saja pantai yang hanya beberapa meter.
"Mau mengambil beberapa gambar?" Kai menawarkan diri. Ia mengeluarkan ponselnya dan menyadari benda itu mati.
"Ponselmu?"
"Apa?" Kyungsoo diam sejenak. Ponselnya? Oh ponsel yang Kai pinjamkan. Sedikit ragu ia mengeluarkan benda itu dari dalam saku gaunnya.
Lelaki tan membuka aplikasi kamera, ia mengambil beberapa gambar dan ketika menyadari Kai ingin melihat hasilnya. Kyungsoo tiba-tiba teringat sesuatu. Ia merebut paksa benda itu.
"Apa yang kau lakukan? Aku hanya ingin mengirim gambar itu padaku."
Tenggorokkannya terasa begitu kering seperti ada bola-bola kentang yang ingin lewat tanpa di kunyah.
"Ya. Kau bisa memilikinya Kyungsoo." Kai tidak akan memaksa Kyungsoo, apalagi saat melihat wanita itu memandangnya dan menggeleng menolak keinginan barusan.
~ RoséBear~
Wanita itu melepaskan sepatu tinggi yang ia kenakan. Berlari dibibir pantai membiarkan butiran pasir menempel pada kakinya. Kyungsoo berdiri membekakangi Kai. Mengambil posisi berdiri seolah dia sedang memainkan violin. Matanya terpejam erat, Kai memang menyadari Kyungsoo memiliki lagunya sendiri. Bibir hati itu tersenyum ketika Kai berada tepat di sebelahnya.
"Kau tidak ingin bertepuk tangan untukku?"
"Sonata Concertata?"
Kyungsoo terdiam beberapa saat hingga matanya melebar, bagaimana Kai bisa tahu lagu apa yang dia mainkan padahal Kyungsoo hanya menggunakan angin sebagai imajinasinya.
Tanpa sadar Kai berdiri di belakang Kyungsoo, memegang kedua pergelangan tangannya dengan tangan yang sama. Membantu Kyungsoo membuat gesekan selanjutnya dalam posis memeluk dari belakang.
"Paganini Picolo, semua pemain violin pasti pernah memainkan karyanya." Bisiknya tepat pada telinga wanita ini.
Kyungsoo hendak membalikkan badannya tapi Kai melarang. "Da-dari mana kau tahu lagu apa yang kumainkan?"
Permainan Kai selesai. Ia membiarkan Kyungsoo membalikkan badannya sekarang. Lelaki itu mengangkat bahu dengan wajah mengernyit.
"Hanya menebak dan sepertinya benar."
"Kai!"
Tadinya Kyungsoo ingin mendesak lelaki itu. Tapi ia ingat Kai sudah memperingatkannya. Pria tan ini tidak ingin membahas hubungan keluarganya, lagipula sejak awal Kai sudah memperingatkannya. Kai akan bicara jika waktunya tiba. Alih-alih bertanya, Kyungsoo menyentuh rahang tegas itu. Berjinjit dan menempelkan bibirnya. Tangannya merambat menekan tengkuk Kai. Ciuman yang sarat akan emosi, namun juga sebuah permintaan.
"Bus pertama akan segera tiba."
Kyungsoo melepaskan ciumannya. Ia hanya tersenyum. Tidak seperti mentari pagi hari itu, karena Kyungsoo sangat menyedihkan.
Langkahnya terhenti ketika Kai menarik tubuhnya dalam sebuah pelukan. Ciuman kali ini lebih memiliki nafsu dan gairah, ia membawa Kyungsoo dalam ciuman yang panas, seolah memberitahu wanita itu untuk tidak kembali bertanya dan biarkan Kai menyampaikan sendiri nantinya.
"Kyungsoo, aku tidak tertarik dengan masa lalu."
Kyungsoo memejamkan matanya, ia masih menahan napas ketika Kai mengakhiri ciuman pagi itu dengan kalimat menyedihkan.
Sepanjang perjalanan pulang, Kyungsoo sama sekali tidak banyak bicara. Matanya memandang keluar jendela. Karena mengikuti arah pandang Kyungsoo, barulah Kai tahu apa yang telah mereka tempuh sepanjang malam. Ia bersyukur menuruti Kyungsoo dengan tidak mengendarai mobil. Jika tidak, ia bisa melewatkan pemandangan ini. Mereka ada di jalan perbukitan, namun memandang ke samping. Laut terbentang begitu luas sepanjang perjalanan, hijau tumbuhan, jalan aspal yang panjang serta biru langit dan laut dengan warna yang sama.
Hanya saja, Kyungsoo sama sekali tidak bicara sekalipun telah berada di dalam mobil Kai.
"Ada apa lagi?"
Tanpa sadar wanita itu setengah berteriak ketika Kai menarik pergelangan tangannya. Mereka baru saja tiba di rumah saat siang hari.
"Kau akan kemana hari ini?"
"Baekhyun dan Chanyeol ingin aku mentraktir mereka."
Kai hanya mengamati wanita ini untuk beberapa waktu yang cukup lama. "Kalian hanya bertiga?"
Kyungsoo mengangguk pasti.
Ia putuskan untuk mengantarkan istrinya ke rumah keluarga Park setelah menunggu Kyungsoo bersiap.
Sepanjang waktu yang dilewati, tidak banyak percakapan. Kyungsoo hanya terlalu ragu untuk bertanya. Di otaknya hanya terangkai mengenai hubungan Kai dan orang tuanya. sesuatu yang dilarang sebaiknya di simpan terlebih dahulu.
"Kyungsoo, kau bisa gunakan kartu debitku."
Wanita manis itu membulatkan matanya ketika Kai mengeluarkan kartu debit dari dalam dompetnya. "Kau berhak menggunakannya. Kupikir aku tidak pernah memberimu uang."
Kyungsoo sangat ingin menolak. "Aku masih memiliki uang Kai."
"Tidak. Gunakan kartu ini untuk mentraktir teman-temanmu. Beli apa yang kau mau. Kita bertemu nanti malam. Aku akan mengirim sebuah pesan. Kau membawa ponselmu bukan?"
"Ponselmu," Kyungsoo meralat perkataan Kai dengan menampilkan ponsel yang pernah Kai pinjamkan padanya. Tanpa sadar jemari lelaki itu terulur menyentuh wajah Kyungsoo. "Kau istriku, jadi itu milikmu."
Kai tidak langsung pergi bekerja. Masih ada yang harus dia urus membuatnya kembali ke rumah.
Sebuah buket bunga terletak di bawah meja. Sedikit terselip dan ia bernapas lega ketika tadi Kyungsoo tidak menyadarinya. Tadinya Kai tidak peduli tentang Henry, selama Kyungsoo tidak menemui lelaki itu dia bisa bernapas lega. Tapi sepertinya Henry butuh disingkirkan, firasatnya buruk tentang keberadaan pria itu.
'Have I told you that you have your own song?'
Sekali lagi sebuah kutipan dari buku of thee I sing menjadi pesan singkat pada buket bunga itu. Sekarang lebih jelas. Tertera inisial nama yang membuat Kai berdecih. Lelaki itu menghubungi sebuah nomer. Sembari menunggu Kai memilih membereskan rumahnya, mengecek persediaan di kulkas dan semua barang milik Kyungsoo.
Seorang petugas layanan datang, untuk membantu Kai memasang keamanan ganda pada pintu rumahnya. Tadinya itu tidak dibutuhkan, karena pertengahan musim dingin nanti mereka akan pindah ke rumah yang sekarang masih dalam tahap renovasi.
Dirasa cukup lelaki itu mengirim pesan pada Kyungsoo.
"011214"
"Apa ini
Ia menerima balasan membingungkan dari Kyungsoo.
"Aku merindukanmu."
Kai hanya ingin bercanda namun ia terdiam membaca pesan balasan yang selanjutnya.
"Kenapa kau tidak berhenti mengirim pesan sementara aku bisa mulai berlatih?"
"Kau sudah mulai berlatih? Bersama siapa saja?"
"Hanya aku dan Chanyeol. Sampai bertemu nanti malam."
Kai terkekeh membaca balasan Kyungsoo. Itu artinya dia benar-benar mengganggu Kyungsoo.
Sekarang hanya perlu menemui satu orang lagi. Namun Kai tidak terlalu beruntung. Kris, lelaki yang ingin ditemuinya belum datang ke rumah sakit. Maka ia harus menunggu beberapa saat.
"Kai! Bagaimana kencanmu semalam?"
Kepala perawat menyapanya. Iasegera berbalik dan mengangkat bahunya.
"Apa anda pernah pergi ke pemberhentikan terakhir bus?"
Lawan bicaranya hanya terdiam mendengar pertanyaan Kai. "Tidak."
"Tadi malam aku ke sana. Sekali-kali cobalah mengajak pasangan anda ke sana."
"Kris!"
Kai berteriak pada sosok tinggi yang baru saja tiba di rumah sakit. Lelaki itu baru mengambil beberapa kertas di bagian administrasi dan bertemu Kai.
"Aku ingin bicara denganmu. Bisakah aku ikut?"
"Ke Departemen Psikiatri? Oke!"
Tanpa tahu apa yang ingin Kai tanyakan, ia membawa pria tan ke ruang kerjanya.
"Aku butuh dokumen tentangnya."
To be Continue...
-Preview Chapter 17-
"Bukankah sudah kukatakan agar menjauh dari istriku!" –Kai
"Tadinya aku hanya ingin mengajakmu bergandengan tangan. Maaf!" –Kyungsoo
Thank You
RoséBear
