Mine

Chapter 10

Stay

Author: Boomie92

CAST: Song Minho X Kang Seungyoon, Song Minho X Kim Jinwoo

Genre: Romance, Humor, Friendship, Comfort

Rating: T-M

Warning: BL

Halo ini chapter 10, maaf jika ada salah ketik, atau cerita yang semakin aneh, terima kasih untuk pembaca setia yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita aneh saya juga terima kasih untuk review dan masukannya, love you all, and happy reading…. (salam penulis aneh)

Seungyoon melempar ponselnya ke atas ranjang tempat tidur dengan jengah. Hari ini adalah hari pertama libur musim panas, seharusnya Taehyun bermain dengan dirinya dan membuat rencana-rencana gila seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, dia terlalu mabuk cinta dengan Seunghoon untuk sekedar mengingatnya. Suara gonggongan kecil mengagetkan Seungyoon. Ia melihat ke bawah dan melihat Minyoon tengah menatapnya. "Apa kau lapar? memberimu makan itu tugas Mino." ucap Seungyoon cuek.

"Katanya kau mau belajar memelihara anjing."

"Astaga! Sudah berulang kali aku katakan untuk muncul dengan cara biasa!" ucap Seungyoon dengan nada kesal, ia mengambil ponsel yang sempat dicampakannya kemudian bergegas pergi.

"Mau kemana?"

"Entahlah, kemana saja asal tidak di rumah. Aku bosan."

"Hmm…, aku rasa sekarang waktu yang tepat untuk belajar merawat Minyoon."

Seungyoon mengerutkan dahinya terlihat enggan dengan usul Mino. "Ayolah, apa tidak bisa ditunda ke hari lain? Aku sedang tidak ingin belajar apapun, ini kan libur musim panas."

"Belajar merawat Minyoon tidak sesulit memecahkan rumus Matematika, percayalah, kau akan menikmatinya."

Seungyoon menggeleng pelan. "Aku sudah melihat bagaimana caramu memberi makan dan minum Minyoon, masalah lain kau saja yang urus, aku tidak mau." Seungyoon berjalan melewati Mino.

"Mau kemana?"

"Sudah aku bilang kan, kemanapun asal tidak di rumah."

"Mungkin kita bisa mencoba berkebun, saat akhir musim panas nanti semua tanaman akan siap panen." Mino tidak menyerah untuk membujuk Seungyoon.

"Kau terdengar sangat putus asa untuk memintaku tetap tinggal." Sindir Seungyoon.

"Karena aku tahu kau akan pergi kemana Kang Seungyoon."

Seulas senyum miring tercipta pada wajah tampan Seungyoon. "Oh, kau tahu ya. Kenapa? Kau akan mencegahku?"

"Tidak, jika aku mencegahmu kau akan membenciku."

"Baguslah kalau begitu." Ucap Seungyoon datar.

"Seungyoon." Seungyoon berhenti melangkah, menatap Mino, namun terlihat jelas bahwa dia sama sekali tidak tertarik dengan keberadaan Mino sekarang. "Apa tawaranku tempo hari sama sekali tidak berarti?"

Seungyoon tidak mengatakan apa-apa, namun Mino sudah mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Seungyoon. "Tawaranku untuk selalu di sisimu sampai kau memutuskan apakah kau masih mencintai Jinwoo atau tidak."

"Oh itu, maaf, aku lupa. Jangan membicarakannya sekarang aku tidak ingin memikirkan apa-apa." Seungyoon bergegas melangkah pergi, mengabaikan keberadaan Mino.

"Seungyoon, aku akan pergi di akhir musim panas ini." Kalimat yang Mino ucapkan jelas terdengar, namun Seungyoon benar-benar tidak ingin memikirkannya sekarang, akhir musim panas, kepergian Mino adalah hal yang baik jika kakek buyutnya menolak Mino sekarang kenapa dirinya harus menerima kehadiran Mino. Menjalin hubungan dengan manusia saja sudah merepotkan bagaimana jika menjalin hubungan dengan makhluk lain? Seungyoon tidak ingin menanggung beban hidup yang lebih berat lagi.

"Kau berjanji padanya."

Seketika langkah kaki Seungyoon terhenti. "Kau berjanji untuk menanam bunga matahari bersama saat musim panas."

Seungyoon menelan ludahnya dengan kasar, janji itu sudah sangat lama. Dan janji yang belum sempat untuk ditepati. "Dia sudah mati, janjiku tidak berlaku." Ucap Seungyoon dingin.

"Dia menunggumu membawa kan bunga matahari dan mengunjungi makam."

"Jangan bercanda Mino, aku tidak suka."

"Aku tidak bercanda. Hyejoon menunggumu Seungyoon."

Rasa sesak itu datang dengan cepat, semua kenangan indah dan kenangan buruk berpadu menjadi satu rangkaian memori yang tak terpatahkan. Berulang kali Seungyoon mencoba menekan semua memori itu, berpikir seolah Hyejoon tidak pernah ada dan sekarang Mino menariknya kembali dalam sebuah ruangan nyata yang mau tidak mau harus ia hadapi. Seungyoon melangkah cepat meninggalkan Mino, ia membanting pintu kasar tidak peduli dengan gema yang ditimbulkan.

"Aku suka bunga matahari Seungyoon, apa kau mau menanamnya denganku, adikku yang manis?"

"Tidak, berkebun itu hanya untuk anak perempuan."

"Tapi aku ingin sekali Seungyoon."

"Beli saja di toko bunga, saat musim panas stok bunga matahari melimpah."

"Tidak, aku mau menanamnya sendiri melihat mereka tumbuh, berkuncup, lalu mekar."

"Kenapa kau jadi melankolis sekali."

"Seungyoon aku ingin menanam bunga matahari kau juga harus menanamnya bersamaku."

"Kenapa aku harus ikut menanam sih?!" protes Seungyoon sembari menghentakkan kaki kanannya ke tanah.

"Untuk membuat kenangan yang indah bersamaku, mungkin kita tidak akan bertemu lagi suatu saat nanti."

"Kakak mau pergi? Kemana? Aku ikut, kenapa tidak bisa bertemu lagi?"

Seungyoon menghapus kedua matanya yang mulai sembab dengan kasar, menggunakan ujung lengan kaos panjang yang ia kenakan. Kakinya tanpa sadar membawanya menuju toko bunga. Ia masuk ke dalam dan membeli satu kantong bibit bunga matahari bahkan tanpa disadarinya, otaknya dipenuhi oleh kenangan-kenangan tentang Hyejoon.

"Seungyoon!" pekik Mino sembari menarik lengan kanan Seungyoon menariknya kembali ke sisi jalan yang aman. "Apa yang kau pikirkan?!" teriakkan Mino tertelan oleh suara klakson nyaring dari truk besar yang hampir melindas tubuh Seungyoon jika dirinya datang terlambat.

"Oh." Balas Seungyoon bingung melihat wajah panik Mino yang kini tengah memandangi wajahnya dengan intens.

"Kau hampir tertabrak truk! Apa kau tahu itu?!" pekik Mino frustasi, Seungyoon melongokkan kepalanya melihat jalanan yang terlihat cukup sepi.

"Jangan mengarang." Balas Seungyoon sembari melepaskan genggaman tangan Mino pada lengannya.

"Kita menyeberang bersama." Ucap Mino tegas. Seungyoon menutup mulutnya rapat-rapat membiarkan Mino menggenggam tangannya. "Apa tadi malam kau bermimpi buruk?"

"Tidak."

"Seungyoon."

"Apa? Aku tidak bermimpi buruk, apa aku harus berbohong."

"Kau memikirkan Hyejoon lebih banyak hari ini."

"Itu salahmu karena kau menyebut namanya."

"Dia sangat merindukanmu dan aku hanya menyampaikan pesan saja."

"Kau bisa melihat arwah?"

"Aku bukan manusia, apa kau melupakan fakta itu."

"Aku ingin bertemu dengannya apa kau bisa membantuku. Maksudku—kau bisa membuat keajaiban—sebentar saja." Seungyoon melempar tatapan memohon.

"Kita bicarakan ini setelah sampai di rumah, apa kau berniat menanam benih bunga mataharinya sekarang?"

"Aku rasa lebih cepat lebih baik." balas Seungyoon.

"Baiklah, kau juga belum sarapan."

"Setelah sarapan dan menanam benih, kita harus membicarakan soal Hyejoon lagi." Ucap Seungyoon tegas. Mino hanya menganggukkan kepalanya meski wajahnya terlihat sangat tidak yakin dengan permintaan Seungyoon.

"Kau mau sarapan apa?"

"Hmmm…, aku rasa sandwich tuna kalau tidak ada terserah isinya apapun."

"Kita beli di kafe saja." Ucap Mino sembari menarik tangan Seungyoon menuju salah satu kafe yang memajang menu sandwich pada papan menu. Seungyoon berhenti membuat Mino menoleh, ia melepaskan tangannya dari genggaman Mino.

"Aku ingin makan di rumah." Ucapnya pelan.

"Aku akan masuk sebentar, tunggu di sini, jangan kemana-mana." Wanti Mino.

Seungyoon hanya mengerutkan kening tanpa berniat untuk membalas ucapan Minoyang sejujurnya sedikit menyinggung, memang dirinya anak usia lima tahun yang akan tersesat. Abaikan masalah hampir tertabrak tadi, yang jelas dirinya sudah cukup dewasa untuk mengingat jalan pulang. Seungyoon menyingkir dari pintu ia bersandar pada salah satu sisi dinding kafe yang tidak teramati oleh pengunjung kafe di dalam. Ia amati kantung benih di tangannya. "Kenapa aku bisa membeli bibit tanpa sadar," gumam Seungyoon bingung. Saat pikirannya kacau ternyata dia bisa melakukan sesuatu yang berbahaya, berbahaya karena dirinya hampir tidak mengingat detailnya sama sekali.

Berulang kali Seungyoon terkecoh untuk melihat ke arah pintu ternyata orang lain yang keluar meninggalkan kafe. Seungyoon menghembuskan nafas jengah, menunggu itu sangat membosankan ditambah lagi jika kau menunggu seorang diri. "Kemana dia?" gumam Seungyoon mulai tidak sabar. Pintu kembali terbuka, Seungyoon menajamkan pandangannya sembari berharap jika itu Mino.

Saat Mino keluar Seungyoon hampir saja berteriak kegirangan, beruntung dirinya masih bisa mengendalikan diri. Ia tetap bersandar pada dinding dan memasang wajah datar saat Mino berjalan menghampirinya. "Maaf, di dalam pembelinya cukup banyak."

"Hmmm," balas Seungyoon malas, meski perasaannya berkata sebaliknya. "Apa?" Seungyoon memandangi tangan kiri Mino yang menengadah dengan bingung.

"Biar aku bawakan benih bunganya." Seungyoon bermaksud menolah namun Mino lebih cepat mengambil kantung berisi benih di tangannya, ia masukkan kantung benih berukuran kecil itu ke dalam saku jaketnya kemudian menggandeng tangan Seungyoon.

"Lepaskan, kita tidak akan menyeberang jalan lagi." Ucap Seungyoon yang sengaja diabaikan oleh Mino.

"Cuci tanganmu," ucap Mino kepada Seungyoon. Seungyoon mendengus pelan ia merasa Mino berperan sebagai ibunya. Seungyoonpun menurut ia mencuci tangannya di bawah keran air. Minyoon bermain-main di kaki Mino mengganggunya menyiapkan makanannya.

"Apa kau sudah mencuci tanganmu?"

"Sudah, aku mau memberi Minyoon makan dulu karena aku mengejarmu tadi aku sampai lupa memberinya makan."

"Kenapa sekarang menjadi salahku?" tanya Seungyoon kepada dirinya sendiri. Setelah acara mencuci tangannya selesai, Seungyoon mengambil dua buah piring dan dua gelas. Ia berjalan menuju meja makan, membuka pembungkus sandwich dan meletakkannya ke atas piring. "Kau membeli dua sandwich yang sama?"

"Ya, lebih praktis dibanding membeli dua sandwich dengan isi berbeda."

"Hmmm," gumam Seungyoon, ia menuang jus jeruk ke dalam gelas kemudian duduk dan memakan sarapannya terlebih dahulu. Mino masih sibuk dengan anjing kecil kesayangannya Minyoon. Seungyoon mengunyah roti isinya dengan pelan sembari membayangkan tempat yang cocok untuk menanam bibit bunganya.

"Kunyah makananmu dengan benar, pikirkan pekerjaan lain setelah selesai makan." Ucap Mino setelah dirinya selesai dengan Minyoon dan kini bergabung di meja makan dengan Seungyoon.

"Kau sudah cuci tangan?!" pekik Seungyoon, Mino mengangkat kedua tangannya menunjukkan kepada Seungyoon betapa bersihnya kedua telapak tangannya.

"Baiklah," balas Seungyoon percaya. Keduanya duduk dan memakan sarapan dengan tenang sesekali gonggongan kecil Minyoon menjadi latar suara yang menyenangkan.

"Aku sudah siap!" pekik Seungyoon girang, mengejutkan Mino yang masih mengunyah sarapannya.

"Tunggu sebentar." Balas Mino.

"Aku pergi menyiapkan semuanya ya!" pekik Seungyoon antusias kemudian dia berlari ke halaman belakang meninggalkan Mino. Mino hanya menggaruk pelipisnya pelan, suasana hati Seungyoon yang berubah-ubah adalah hal yang sampai sekarang selalu membingungkan.

"Minyoon kau mau ikut ke halaman belakang?" Minyoon berlari menghampiri Mino yang berjongkok dengan kedua tangannya yang terbuka bersiap menggendong Minyoon. Anjing kecil itu melompat dengan lincah ke dalam pelukan Mino. "Hap!" pekik Mino. "Baiklah mari berkebun anjing manis."

Di halaman belakang Seungyoon sedang sibuk menggemburkan tanah, Mino yang datang dengan Minyoon di dalam gendongannya terlihat heran. Dia tidak pernah melihat Mino terlihat antusias seperti sekarang ini. "Mino! Aku sudah menggemburkan tanah dan menyiraminya, tanahnya harus gembur kan?!" pekik Seungyoon melihat kedatangan Mino.

Mino menurunkan Minyoon, membiarkan anjing kecil itu berlarian di halaman belakang rumah Seungyoon. Ia bergegas mendekati Seungyoon untuk melihat hasil pekerjaannya. Tanahnya digemburkan dengan cukup baik, dibasahi dengan cukup, dan…,

"Kau mengambil benihnya dari kantung jaketku?" Mino melirik Seungyoon.

"Hmm, setelah kau menggantung jaketmu. Bagaimana pekerjaanku lumayan kan?" Seungyoon menoleh, menatap Mino dengan senyum puas.

"Seungyoon, kenapa kau menebar benihnya seperti itu? Menanam benih bunga matahari berbeda dengan menanam benih tomat."

"Sudah aku bilang jangan mengungkit soal tomat lagi." Ucap Seungyoon kemudian menggembungkan pipinya sebal.

Mino berjongkok dan mulai memunguti bibit bunga matahari yang tadi disebar Seungyoon. "Kemari." Ucap Mino setelah semua benih terkumpul di tangannya.

"Apalagi?! Kau mau menghinaku?!"

"Tidak, kemarilah jangan marah-marah terus." Seungyoon meletakkan sekopnya kemudian berjongkok di dekat Mino. "Apa ini?" Mino membuka telapak tangannya.

"Tentu saja bibit bunga matahari, kenapa bertanya hal yang konyol."

"Lihat dulu, lihat baik-baik apa kau melihat perbedaannya?" Seungyoon hanya melempar tatapan bingung. "Haaah,"desah Mino. "Baiklah aku beritahu." Mino mengambil salah satu benih ke hadapan Seungyoon. "Apa warnanya?"

Seungyoon mengerutkan kening, mulai kesal karena dia ingin cepat-cepat menanam benih. Namun melihat wajah Mino yang begitu serius membuatnya tidak tega untuk menyela. "Itu benih bunga matahari berwarna putih dengan garis cokelat kehitaman." Jawab Seungyoon setengah hati.

"Ukurannya?" tentu saja ukurannya kecil, ingin sekali Seungyoon berteriak seperti itu namun sekali lagi keseriusan Mino membuatnya tidak tega untuk marah. Seungyoon melirik kepada biji-biji lain yang berada di dalam telapak tangan Mino.

"Biji itu terlihat paling besar."

"Ya, kau benar ini bibit Sun Flower Mammoth Grey. Saat tumbuh pohonnya bisa mencapai dua meter."

"Ohhh…," gumam Seungyoon sembari mengangguk-anggukan kepalanya.

"Lalu ini?" Mino kembali mengambil biji lain dan menunjukkannya kepada Seungyoon.

"Bentuk benihnya lebih ramping dari yang putih tadi."

Mino tersenyum. "Mana tanganmu." Seungyoon menurut ia menengadahkan tangan kanannya, Mino memindahkan empat biji bunga matahari ke tangan Seungyoon.

"Kenapa mereka beda warna?"

"Ini Sun Flower Evening Sun. Warna bunga yang muncul dari kuning yang paling cerah, sampai merah semburat oranye."

"Lalu ini?" Seungyoon mulai antusias, ia menunjuk biji yang berada di dalam genggaman Mino. Biji yang terlihat berbeda dari dua jenis biji yang tadi Mino tunjukkan.

"Ini jenis Velvet Queen. Pohonnya akan tumbuh setinggi satu meter dan bunganya berwarna merah darah."

"Wow, aku pikir bunga matahari hanya berwarna kuning."

Mino tersenyum mendengar kalimat Seungyoon. "Sekarang kita tanam, perhatikan baik-baik." Mino mengambil salah satu biji, menekan bagian yang lancip atau bagian bawahnya yang berukuran lebih kecil ke dalam tanah yang sebelumnya telah digemburkan oleh Seungyoon.

"Tidak dikubur?"

Mino menggeleng. "Ayo kau juga menanamnya sekarang, perhatikan jarak penanamannya jangan terlalu rapat."

"Tidak masalah." Balas Seungyoon antuasias, dia mengambil biji-biji lain dari telapak tangan Mino. "Setelah ini apa yang akan kita lakukan?"

"Kita tunggu sampai bijinya tumbuh."

"Berapa lama mereka tumbuh?"

"Dua sampai tiga hari?"

"Tidak disiram lagi?"

"Untuk sementara tidak, kita siram saat mereka mulai bertunas. Saat menyiram kita harus menggunakan sprayer air agar percikan air yang ditimbulkan turun dalam butiran kecil dan lembut, tunas sangat rentan."

"Kau tahu banyak." Puji Seungyoon tanpa sadar. "Selesai!" pekik Seungyoon ia menoleh dan melihat Mino yang ternyata juga sudah menyelesaikan acara menanam benihnya. Mino berdiri, berjalan mendekati Seungyoon untuk memeriksa pekerjaannya. "Bagaimana?"

"Lumayan, kau melakukan pekerjaanmu dengan baik." puji Mino.

"Kapan pohonnya tinggi dan berbunga?"

"Dua sampai tiga bulan tenang saja di akhir musim panas bunga-bunga ini akan mekar."

"Tidak bisa dipercepat?" Seungyoon menatap Mino penuh harap.

"Dipercepat?" Mino membalas dengan tatapan bingung.

"Ya, dipercepat, seperti dulu—kau pernah membuat pohon sakuraku mekar di luar musim. Mudahkan membuat biji-biji yang kita tanam ini tumbuh dan berbunga dalam waktu singkat."

"Oh itu, bisa saja dilakukan."

"Bagus."

"Tapi apa kau akan memberikan bunga matahari dengan cara seperti itu kepada Hyejoon?"

"Aku hampir melupakan hal itu." Seungyoon tersenyum ia berdiri dan membersihkan tangannya yang kotor pada permukaan celana jinsnya, Mino yang melihat hal itu hanya bisa menahan tawa.

"Celanamu kotor," ucap Mino yang diabaikan oleh Seungyoon karena sekarang perhatiannya sudah tertuju pada Minyoon. Seungyoon berlari menghampiri anjing kecilnya yang sibuk bermain dengan rerumputan.

"Minyoon! Minyoon!" pekik Seungyoon mencoba menarik perhatian Minyoon. Sayang, anjing kecil itu lebih tertarik dengan rerumputan yang bergerak ditiup angin dibanding Seungyoon. Seungyoon mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut halaman belakang rumahnya. Ia menemukan ranting kecil di bawah pohon, Seungyoon bergegas mengambil ranting tersebut kemudian berjalan mendekati Minyoon.

"Minyoon!" pekik Seungyoon, ia berjongkok sembari menggoyang-goyangkan ranting di tangannya. Minyoon masih acuh, Seungyoon sebal, ia lempar ranting di tangannya kemudian menggendong Minyoon dengan paksa. "Kenapa kau mengacuhkan aku?!" ucap Seungyoon sebal.

Minyoon menggonggong tidak senang namun Seungyoon mengacuhkan gonggongan itu dan terus mendekap Minyoon. Anjing kecil itu terlihat semakin tidak nyaman dan GRAUUK! "Ah!" pekik Seungyoon ia langsung mendorong Minyoon kemudian memegangi jempol tangannya yang menjadi korban gigitan.

"Bhuahahahahahahahahaha!" tawa keras Mino membuat Seungyoon semakin sebal. Ia berjalan pergi meninggalkan halaman belakang. "Kau marah Seungyoon?" Seungyoon tetap melangkah pergi, marah? Tidak, hanya kesal karena diacuhkan. "Kau ingin dekat dengan Minyoon?"

"Tidak."

Mino hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Seungyoon, ia menarik pelan tangan kanan Seungyoon menuntunnya mendekati Minyoon yang kembali sibuk dengan rerumputan. Setelah keduanya dekat dengan Minyoon, Mino melepaskan genggaman tangannya. "Duduklah." Seungyoon menurut dia duduk di atas rumput.

Mino mendekati Minyoon, berjongkok mengulurkan kedua tangannya. Anjing kecil itu tertarik dan berlari mendekat. "Berhenti bermain sebentar ya," ucap Mino lembut sembari mengangkat tubuh mungil Minyoon, mengusap kepalanya dan membawanya mendekati Seungyoon. Mino duduk di atas rumput berhadapan dengan Seungyoon.

Mino mengusap-usap kepala Minyoon lembut perlahan ia pindahkan tubuh mungil Minyoon ke atas pangkuan Seungyoon. "Usap kepalanya dengan lembut." Seungyoon terlihat ragu, insiden gigitan Minyoon membuatnya sedikit ragu.

"Jangan takut." Ucap Mino ia meraih tangan kanan Seungyoon kemudian meletakkannya ke atas puncak kepala Minyoon. Seungyoon menggerakkan tangan kanannya, mengusap kepala Minyoon lembut.

"Hei, dia tidak memberontak." Ucap Seungyoon dengan nada takjub.

"Perlakukan dia dengan lembut jangan memaksanya, kau sendiri tidak suka dipaksa kan?"

"Hmmm." Gumam Seungyoon lembut. "Kenapa kau memaksaku dulu?"

"Heh?!" pertanyaan Seungyoon membuat Mino terkejut. "Ah itu kan di masa lalu."

Seungyoon mengerutkan hidungnya. "Benarkah?!" goda Seungyoon melihat raut wajah Mino yang tampak lucu sekarang.

"Tomat!" pekik Mino menyerang balik Seungyoon.

"Jangan mengungkit tomat!" teriak Seungyoon kesal.

"Kalau begitu jangan mengatakan aku pemaksa!"

"Dulu kau pemaksa! Itu fakta."

"Dulu kau gagal menanam tomat itu juga fakta."

"Terserah." Dengus Seungyoon kemudian perhatiannya kembali kepada Minyoon mengusap-usap kepala Minyoon dengan lembut. "Oh ya mengenai Hyejoon. Apa kau bisa membantuku? Aku ingin berbicara dengannya."

"Aku bisa membantumu tapi dia belum datang sekarang, apa kau mau aku memanggilnya?"

"Kenapa kau terdengar seperti paranormal. Aku ingin melihatnya secara langsung, apa dia sudah berubah banyak sejak terakhir kali kami bertemu, aku ingin melihat wajahnya, apa luka-lukanya masih ada, apa suaranya berubah menjadi berat, aku ingin tahu semuanya."

"Jadi—dengan kata lain kau ingin melihat Hyejoon secara langsung?" Mino menatap Seungyoon intens, Seungyoon mengangguk pelan.

"Itu sedikit berat, aku bisa sedikit membantumu."

"Benarkah?!"

"Ya, tapi itu tidak akan baik untuk tubuhmu."

"Tidak masalah sekarang libur musim panas. Memang seperti apa efeknya?"

"Kelelahan yang sangat. Itu saja."

"Lakukan sekarang aku tidak ingin menyimpan pertanyaan ini lebih lama lagi."

"Aku mencemaskan kondisimu nanti. Aku yakin kakakmu sudah memaafkan semuanya dan dia tidak pernah mengganggap semuanya adalah kesalahanmu."

"Tidak Mino! Aku harus mendengarnya secara langsung." Ucap Seungyoon bersikeras. Ia berdiri dengan tiba-tiba mengabaikan gonggongan Minyoon yang terkejut dengan teriakkan Seungyoon.

Mino berdiri memegang kedua bahu Seungyoon mencoba menenangkannya. "Dia tidak pernah menyalahkanmu."

"Lalu jika selama ini kau mengawasiku kenapa kau tidak mencegah hal itu terjadi?!" pekik Seungyoon dengan amarah memuncak, bahkan dia mendorong tubuh Mino menjauh dengan kasar.

"Itu takdir kalian—aku tidak memiliki kuasa untuk mengubahnya."

"Pembohong!" pekik Seungyoon.

GREEP! Mino mencengkeram pergelangan tangan Seungyoon dengan kuat. "Aku tidak bisa mencegah kematian seseorang Kang Seungyoon. Kau pikir siapa aku? Aku bukan Tuhan." Desis Mino tidak mampu lagi menahan amarahnya. Berkali-kali Seungyoon melampaui batas dan menguji kesabarannya.

Seungyoon tidak mampu mengingkari bahwa ketakutan yang sangat hebat kini merasuki dirinya, namun dia tidak akan menunjukkannya, dia tidak akan terlihat lemah di hadapan Mino. "Lakukan sekarang." Ucapnya bersikeras.

Mino mengatupkan rahangnya. "Baiklah jika itu yang kau inginkan kita tunggu sampai matahari tenggelam." Setelah menyelesaikan kalimatnya Mino berbalik dan berjalan meninggalkan Seungyoon. Minyoon berlari mengejar Mino meninggalkan Seungyoon seorang diri di halaman belakang. Seungyoon membuang nafas perlahan. "Jika dulu aku bisa melihat Mino kenapa aku tidak bisa melihat Hyejoon?" sebuah kecemasan muncul, Seungyoon bergegas pergi, berlari menyusul Mino.

"Mino! Mino! Song Minho!" panik, Seungyoon mencari keberadaan Mino disetiap sudut rumahnya, nihil, tidak ada jawaban. Gonggongan Minyoon membuat Seungyoon bergegas berlari menaiki tangga.

"Kenapa berteriak sekeras itu?"

"Kalau mendengarnya kenapa tidak menjawab panggilanku?" Balas Seungyoon kemudian berjalan mendekati Mino yang sedang termenung di balkon lantai duanya.

"Aku tidak mau menjawab karena kau berteriak seperti orang barbar."

"Aku pikir kau pergi karena marah."

"Aku tidak akan mengingkarijanjiku."

"Kau kan bisa muncul dengan ajaib di hadapanku." Mino tidak menjawab, Seungyoon berjalan mendekat, ia menumpukan beban tubuhnya pada pagar pengaman. "Kau tampak keberatan dengan permintaanku."

"Karena kau pasti akan terluka."

Seungyoon tersenyum simpul. "Jadi kau menolak permohonanku, aku kecewa sekali. Tapi melihatmu terbebani seperti itu aku bisa mengerti jika kau menolak."

"Tapi kau sangat ingin bertemu dengan Hyejoon, aku tidak mungkin mengabaikannya."

"Jadi bagaimana? Jalan terbaiknya untuk kita berdua?"

"Aku akan mempertemukanmu dengan Hyeejon dan saat kau terluka aku akan merawatmu, aku rasa itu jalan keluar terbaik yang bisa aku pikirkan."

"Saat aku terluka hubungi saja rumah sakit, tidak perlu merawatku." Ucap Seungyoon sembari memalingkan wajahnya tidak ingin Mino melihat perubahan warna pada wajahnya.

"Sebaiknya kau makan dan tidur siang, kita lakukan tengah malam."

"Kenapa harus tengah malam? Apa sesuatu yang berhubungan dengan dunia lain haru dilakukan di tengah malam?"

"Kau terlalu banyak menonton film otakmu terkontaminasi."

"Kau sendiri yang bilang akan melakukannya tengah malam?!" pekik Seungyoon tidak terima dengan kalimat Mino yang tedengar seperti mengatainya.

"Saat tengah malam suasananya sangat tenang, kau akan mudah menyampaikan apapun yang sudah lama terpendam kepada Hyejoon, jika melakukannya sekarang terlalu bising. Energimu akan terbuang sia-sia jika melakukannya di siang hari yang bising."

"Baiklah kalau begitu, hmmm—sebelum aku pergi aku ingin meminta maaf padamu. Maaf sudah menyalahkanmu tadi, aku sedang kacau."

"Kau memang selalu kacau." Balas Mino santai.

"Terserahlah." Balas Seungyoon sebelum berbalik pergi.

"Kau mau kemana?"

"Makan dan tidur siang, mungkin aku akan melakukan hal yang lain."

"Seperti?"

"Membuat daftar pertanyaan untuk aku tanyakan pada Hyejoon."

"Oh." Balas Mino singkat, ia diam dan membiarkan Seungyoon pergi.

"Seungyoon."

"Oh hah! Aku tertidur!" pekik Seungyoon panik, tanpa sadar dirinya tertidur di atas meja belajar dan lebih parah belum ada satupun pertanyaan yang berhasil ia tulis. "Pukul berapa sekarang?"

"Delapan malam, aku sudah menyiapkan makan malam jika kau siap segera ke meja makan."

"Hmm." Gumam Seungyoon pelan. Mino berbalik, berjalan meninggalkan kamar dengan Minyoon di dalam gendongannya.

"Gawat, aku harus bagaimana?" Seungyoon benar-benar kebingungan, ia mencari-cari sesuatu yang berhubungan dengan Hyejoon. Nihil, ironisnya dia bahkan tidak memiliki satupun foto Hyejoon karena ayah dan ibunya sudah menyimpan seluruh barang-barang Hyejoon di salah satu kamar di rumah lama mereka. "Sudahlah," ucap Seungyoon menyerah.

Seungyoon bangkit dari kursinya, berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Mino sudah duduk tenang sedangkan Minyoon berbaring pada salah satu kursi makan. Saat dirinya sampai di meja makan. "Apa yang kau masak?"

"Hanya nasi dan ayam goreng pedas manis."

"Terima kasih." Ucap Seungyoon singkat, iapun duduk dan mengambil mangkuk nasi yang sudah Mino siapkan untuknya.

"Kau memikirkan banyak hal."

"Hmm?"

"Aku bisa melihat dari ekspresi wajahmu."

"Ya—kau benar, tapi aku tidak akan menjelaskannya padamu karena aku juga tidak tahu harus mulai dari mana."

"Makanlah, kunyah makananmu dengan baik lalu—kita akan melakukannya, aku rasa hari sudah cukup tenang."

"Hmmm. Baguslah tidak perlu menunggu hingga tengah malam." Hanya beberapa detik setelah membalas perintah Mino, Seungyoon menggenggam erat sumpitnya kemudian meletakkannya ke atas meja. "Aku tidak bisa menahannya lagi, lakukan sekarang."

"Makanlah dulu."

"Mino!" bentak Seungyoon dengan tatapan mata menuntut.

Mino menghembuskan nafas perlahan, sudah ia duga Seungyoon tidak akan bisa lagi bersabar seharusnya melihat dia bisa bertahan sampai matahari tenggelam adalah hal yang luar biasa. Tidak mungkin meminta Seungyoon untuk mengurungkan niatnya. "Baiklah."

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Duduk saja."

"Tidak ada hal yang lain?"

Mino tidak menjawab, seluruh penerangan di dalam rumah tiba-tiba padam. Angin yang cukup kencang berhembus selama beberapa detik membuat tirai jendela berkibar, Seungyoon melihat ke arah jendela tidak ada apa-apa di sana.

"Tidak ada apa…,"

"Seungyoon." Panggilan itu seketika membungkam Seungyoon, ia langsung berdiri dari kursinya dengan kasar, membuat kursinya terjatuh ke belakang dan menimbulkan suara benturan yang cukup keras.

"Hyejoon?" Bisiknya lemah bahkan suaranya hampit tak tertangkap oleh kedua telinganya sendiri. "Hyejoon, kau…," Seungyoon berjalan mendekati kakaknya.

Hyejoon terlihat sama, seperti dalam ingatannya yang terakhir sebelum kecelakaan tragi itu menimpa. perlahan Seungyoon menggerakkan tangan kanannya. "Tidak ada luka lagi di tubuhmu, apa kabar Hyejoon? Kau tampak lebih muda dariku."

"Aku baik-baik saja, aku selalu baik-baik saja Seungyoon. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Suatu saat aku yakin Ayah dan Ibu akan kembali untukmu."

Seungyoon menelan ludahnya dengan susah payah, air matanya berusaha keras untuk mendorong keluar. Tangan kanannya terus bergerak ke wajah Hyejoon tidak berharap untuk dapat menyentuhnya. "Hah!" pekik Seungyoon tertahan saat telapak tangannya berhasil menyentuh permukaan kulit wajah Hyejoon. "Hangat, kau terasa hangat Hyejoon." Ucap Seungyoon perlahan.

"Aku baik-baik saja Seungyoon, kau tumbuh setiap hari." Hyejoon tersenyum. "Aku akan sama seperti dalam ingatanmu Seungyoon. Aku tidak akan berubah karena begitulah aku adanya dalam ingatanmu, aku menyayangimu Seungyoon, kau adik kecilku yang manis, kejadian di danau itu bukan salah siapa-siapa. Jangan siksa dirimu dengan memikirkan hal-hal yang hanya akan menjadi beban."

"Hyejoon, Kakak, aku—aku menanam bunga matahari untukmu, setelah berbunga aku akan membawakannya untukmu. Maaf aku butuh waktu yang sangat lama untuk menepatinya, maafkan aku."

"Terima kasih Seungyoon, selamat tinggal."

"Tidak! Jangan pergi! Aku mohon, tinggalah lebih lama. Kakak tinggalah lebih lama. Aku selalu sendiri, aku mohon tinggalah." Air mata kini mengalir dengan deras membasahi wajah Seungyoon.

"Kita berada di dimensi yang berbeda jika kita berinteraksi terlalu lama hal itu tidak akan baik untukmu."

Seungyoon langsung menggenggam tangan kanan Hyejoon dan memeluk kakaknya dengan erat. Menghirup aroma Hyejoon yang sama sekali tidak berubah, merasakan suhu tubuh Hyejoon yang hangat di dalam dekapannya, Hyejoon nyata, sangat nyata, dan kali ini dia belum siap untuk mengucapkan perpisahan untuk kedua kalinya. "Maafkan aku Kakak, aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu, bisakah kau tinggal, seharusnya kita pergi ke sekolah bersama, membuat kekacauan bersama, jatuh cinta bersama, bertengkar, Hyejoon…,"

Seungyoon menghentikan ucapannya saat tubuh Hyejoon benar-benar menghilang dan dirinya hanya mendekap udara hampa. Seungyoon jatuh terduduk, dia membungkuk dan membiarkan lebih banyak air mata keluar. "Seharusnya kau tetap disisiku Hyejoon, kakakku! Seharusnya kau tetap tinggal bersamaku! Hyejoon! Kembali, kembalilah, aku mohon!" teriak Seungyoon sekuat tenaga. "Kenapa takdir begitu kejam padaku?"

Seungyoon berdiri dengan cepat dan berniat berlari namun Mino menghentikannya. "Apa yang kau lakukan?!" pekik Mino sembari menahan tubuh Seungyoon yang memberontak.

"Jika aku menyusul Hyejoon sekarang aku yakin dia belum jauh, lepaskan aku Mino. Lepaskan!"

"Hyejoon sudah meninggal aku hanya memanggil energinya, dia berada di dimensi yang berbeda."

"Omong kosong! Aku memeluk tubuhnya tadi! Dia nyata!"

"Tidak! Kau tidak bisa menemukannya di belahan dunia manapun, relakan dia."

"Tidak! Panggil Hyejoon kembali. Kembalikan Hyejoon padaku!" Seungyoon menarik kerah kemeja Mino. "Kembalikan Hyejoon padaku sekarang juga."

"Maaf Seungyoon aku tidak bisa melakukannya."

"Tidak berguna!" Seungyoon mendorong tubuh Mino menjauh kemudian melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menuju pintu keluar. Tidak peduli dengan semua ucapan Mino, dirinya harus menemukan Hyejoon dimanapun malam ini. Hanya tinggal beberapa senti saja jarak antara tangan kananya dengan knob pintu, saat pandangannya mulai kabur.

Sesuatu yang basah mengenai kaosnya. Seungyoon menunduk dan melihat noda darah di atas kaos cokelat muda yang ia kenakan. Tangan kirinya bergerak untuk menyentuh hidungnya, darah menetes dari sana, pandangannya semakin kabur, nafasnya juga sesak, kemudian semuanya gelap.

"Seungyoon," gumam Mino sembari memeluk tubuh Seungyoon sebelum dia sempat jatuh dan membentur lantai kayu yang keras. "Inilah yang aku cemaskan." Mino mengangkat tubuh lemas Seungyoon ke kamarnya. Perlahan ia baringkan Seungyoon kemudian menyelimutinya. Mino duduk di sisi ranjang sembari membersihkan darah yang keluar dari hidung Seungyoon menggunakan tisu basah. "Maaf aku menyakitimu," bisik Mino.

Mino terkejut saat Seungyoon menggenggam pergelangan tangan kanannya, meski dengan lemah. "Mino..," bisiknya terlihat berusaha keras untuk menjaga kesadarannya.

"Tidurlah kau sudah kelelahan." Mino menatap wajah Seungyoon yang tampak pucat. Kedua mata itu, menampakkan kesedihan yang begitu mendalam. Tatapan yang sama ketika semua yang berharga terenggut dari diri Seungyoon. Tatapan yang membuat hati Mino tercabik-cabik.

"Jangan pergi. Tinggalah."

Mino tidak mempercayai pendengerannya, benarkah Seungyoon memintanya untuk tinggal? Benarkah Seungyoon pada akhirnya membalas cintanya, setelah penantian selama ratusan tahun, akhirnya hari yang membahagiakan ini tiba juga. "Seungyoon?" Mino masih ragu, tentu saja.

"Aku memintamu untuk tinggal."

Perlahan Mino memeluk tubuh Seungyoon yang masih terbaring dengan lembut. "Terima kasih banyak, ini sangat berarti untukku," bisik Mino.

"Apa kau menangis? Suaramu terdengar parau."

"Hmm," gumam Mino.

Seungyoon tertawa pelan. "Jangan menangis bukankah ini yang kau selama ini kau inginkan?"

"Aku menangis bahagia, bodoh."

"Kau mengataiku saat aku tidak berdaya." Balas Seungyoon.

Mino mengakhiri pelukannya menatap wajah Seungyoon dengan air mata yang masih mengalir dari kedua mata kelamnya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Seungyoon, ia kecup pelan bibir Seungyoon, melumatnya lembut tanpa perlawanan dari Seungyoon. Kali ini Seungyoon menerima kehadirannya. "Tidurlah," bisik Mino. "Aku akan di sini saat kau membuka kedua mata besok pagi."

Seungyoon tersenyum simpul. "Terima kasih," gumamnya sembari memejamkan kedua kelopak matanya yang sudah terasa sangat berat.

TBC