AN: Hallo, its been a long time. Do you still remember Complementary story? I know it is a long wait between chapters and I apologise. Thanks for sticking with this one so far.


The Paradox of Lost Complementary

Complementary

Present by RoséBear


[Part 4 : Path of Opportunity 180121]

17th Chapter - KaiSoo

Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery

Disclaimer: Just a fanfiction!


"Aku butuh data tentangnya?"

"Ya. Namanya Huang Zi Tao. Menderita skizofrenia dan telah menjalani pengobatan bertahun-tahun. Sayangnya..."

"Bukan cinta pertamamu. Tapi adik tirimu. Kau bilang dia 'bermasalah'. Aku butuh data tentang adikmu."

Alis Kris mengernyit. Ia mundur selangkah dan bersender pada meja kerjanya. Lelaki tinggi itu menggelengkan kepala menolak ucapan Kai. "Jika tentang adik tiriku, sayangnya Henry tidak pernah dirawat di sini. Kau tidak akan menemukan data tentangnya."

Wajah Kai mengeras mendengar penolakan Kris.

"Bukankah dia tampak baik-baik saja? Kau memikirkan ucapanku tempo hari Kai?" ia kemudian bertanya.

Pria tan memilih untuk diam saat mendengarkan Kris melanjutkan. "Aku telah mengikuti saran darimu. Tadi aku baru mengambil formulir untuk Tao. Kupikir kau berubah pikiran dan ingin membantuku."

Kai menyimpulkan bahwa Kris berusaha menutupi tentang adiknya entah karena apa tapi dia perlu tahu karena keberadaan Henry mengganggunya.

"Tapi Kai, apa dia bicara sesuatu tentang Kyungsoo padamu?"

"Yeah." Jawab Kai cepat.

Kris menaikkan alisnya, wajahnya terbentuk untuk menyadarkan Kai jika Henry memang telah bicara sesuatu.

"Sesuatu tentang perlombaan? Maaf aku tidak bisa memberimu data yang lebih akurat. Henry memang memiliki 'masalah' dan dia telah menjalani pengobatan. Dia kembali kemari karena ibu kami yang memintanya."

Kai menghela napas beratnya.

"Dia bukan psikopat, kau bisa tenang Kai."

"Jika kupertimbangkan untuk melakukan psychosurgery pada pasien..." Kai mengambil sebuah dokumen dari atas meja kerja Kris. Itu adalah biodata tentang Tao.

"...ini. Apa kau akan mempertimbangkan permintaanku?"

Dia kini menginginkan kesepakatan baru. Pekan lalu ia menolak permintaan pria tinggi itu, tapi demi Kyungsoo ia akan mengabulkan permintaan pria ini.

"Woaghhhh! Tampaknya kau sangat tidak ingin kehilangan istrimu heum?"

Kai sama sekali tidak berkomentar ketika Kris yang memberinya sebuah sindiran. Pria itu kemudian menjelaskan sesuatu kepada Kai. Memang tidak sulit baginya untuk memahami ucapan Kris.

Ia mengepalkan tangannya menahan emosi.


~ RoséBear~


Sementara di lain sisi, Baekhyun baru saja tiba di rumah keluarga Park. Wanita berparas cantik itu akhir-akhir ini sangat disibukkan oleh urusan pribadinya. Baekhyun mendapat tawaran dari sebuah agensi cukup besar. Ia memulai karier menjadi seorang trainer dan berkali-kali meyakinkan kedua temannya jika dia masih memiliki waktu untuk mereka.

"Kai memberimu kartu debetnya? Wahhh kau akan menggunakannya?"

Baekhyun bertanya antusias sementara Kyungsoo mendelik menatap teman wanitanya itu.

"Kupikir kau akan mentraktir kami di kedai dekat taman kota. Tapi jika begini mau mecoba pergi ke restaurant Italia? Ada beberapa dessert yang bisa kita coba."

Chanyeol memberikan sarannya. Wanita bermata bulat itu kembali menghela napasnya.

"Tempat itu tidak jauh dari concert hall. Sekalian kita melihat daftar musik yang bisa kau mainkan Kyungsoo," sekali lagi Chanyeol berkata.

Tiba saat itu Henry muncul dan menyapa ketiganya. Sedikit rasa canggung akibat perbincangan mereka sore kemarin mengenai pria China ini. Tapi tuduhan tidak beralasan itu terbantahkan ketika pria itu membawaminumandan juga daftar dari panitia penyelenggara perlombaan Kyungsoo.

Wanita itu bangkit dan segera menerima pemberian Henry.

Dari informasi yang di bawa Henry, hanya ada beberapa puluh peserta yang tersisa. Tiap peserta diberi kesempatan memilih satu musik dari lima yang telah ditentukan panitia. Daftar ini harus segera di kembalikan secepatnya, saat itu Kyungsoo mengernyit membaca daftar pada sebelah namanya.

Sonata op.3 karya Paganini

Concerto, op. 64 karya Felix

Symphoni no. 9 karya Mahler

Sonata op. 70 Nikolai Myaskovsky

Viva la Vida dari Coldplay

"Kau bisa kembali dengan Paganini?" Chanyeol menawarkan setelah ia mengintip daftar milik Kyungsoo.

Wanita itu mengabaikan Chanyeol, ia memilih menatap Henry yang sedang membagikan minuman untuk mereka bertiga.

"Henry-ah, apa kau mengenal Parikian Chun?"

"Ya?" Pria China itu terkejut dengan pertanyaan Kyungsoo. Ia bertanya untuk memastikan, namun pandangan lelaki itu berpindah pada daftar musik di tangan Kyungsoo.

"Tentu saja, jika kita bicara orang yang sama, maka Parikian Chun adalah seorang komposer. Dia seorang musisi besar, ia mendedikasikan segalanya untuk mencapai keberhasilan. Dia juga dijadwalkan sebagai juri tambahan pada babak semi final nanti. Kudengar dia akan menggelar konser akhir musim dingin ini. Jadi rencana resitalku harus kutunda. Haha."

Baekhyun sedikit berkerut mendengar penjelasan panjang Henry, namun tiba-tiba dia berseru. "Pria tua sore kemarin?" Baekhyun memastikan dan Kyungsoo mengangguk.

"Kalian bertemu dengannya?" Henry bertanya.

Kyungsoo menganggukkan kepala pelan. "Ya. Kurasa dia orang yang sama. Kemarin dia memintaku memainkan karya Mahler dan tiba-tiba saja muncul sebagai pilihan."

"Kurasa dia menyadari bakatmu Kyungsoo."

Henry hanya memberikan senyuman pada mereka. "Aku akan mentraktir kalian ke restoran Italia setelah kita kembalikan daftar ini."

"Kau sudah tentukan musiknya?" Kali ini Chanyeol tidak bisa menahan rasa penasaran.

Wanita itu mengangguk pasti, "Shymponi no.9 karya Mahler."


~ RoséBear~


Kerap kali orang merasakan kepedulian dengan cara sederhana. Hanya berkirim surel dan kita memberi jawaban singkat terkadang muncul pertanyaan, sudah layak kita dipedulikan dan dicintai?

Kepada masa lalu yang pernah merasakan disakiti, rasanya inilah saat untuk melakukan penilaian ulang.

Bagaimana perasaan saat ini? Bukankah mencari bantuan medis adalah yang terpenting saat ini? Bukankah dokter juga berkata dia memiliki kesempatan untuk sembuh dan menjalani kehidupan selayaknya orang normal.

Bukan sekedar salahnya, pada dasar ini adalah faktor genetika yang ia terima dari sang Ayah. Telah mempengaruhi perkembangan di otak. Dia juga korban, terpuruk dalam pola pikiran lelaki yang menyakitinya. Obsesi itu kemudian muncul dengan sendirinya.

"Obsesif compulsif disorder. Kau pernah mendengarnya? Gangguan otak dan perilaku. ibu menyadari faktor genetika dari ayahnya benar-benar menular ketika dia lolos kompetisi violin tingkat nasional. Semakin hari dia menggila mengikuti kompetisi. Hanya saja, dia terlalu mencintai musik. Dia telah mengambil banyak waktu untuk violin, memperhatikan musik yang sangat pas di telinganya. Pertama kali melihat Kyungsoo di kafe milikku. Aku tahu Henry tidak sepenuhnya sembuh, dia telah berbohong pada ibu kami. Dia mulai terobsesi dengan Kyungsoo. Dia menginginkan Kyungsoo terus bermain, agar pikiran dan komplusinya merasa lega. Tapi kau menghalanginya dengan melarang Kyungsoo bermain. Kau tahu berbeda dengan orang kebanyakan, penderita OCD berkemungkinan melukai diri sendiri ataupun orang lain. Dalam kasus ini antara Henry, Kyungsoo atau kau yang harus menjadi korban perilakunya."

"Lalu kenapa tidak kau kirim dia untuk melakukan terapi lagi?"

"Kau pikir kenapa dia melakukan pengobatan di luar negeri padahal kakak tirinya seorang Psikiater? Ibu kami tidak percaya padaku Kai."

"Jika aku membuat ibumu percaya? Bisakah dia keluar dari kehidupan kami?"

"Apa yang mau kamu lakukan?"

Kai masih sangat ingat percakapannya dengan Kris malam ini. Oh astaga! Dia benar-benar tidak tahu jika kemungkinkan sasaran Henry bisa jadi adalah dirinya sendiri dan bukan Kyungsoo.

Apa lagi yang terjadi sekarang? Mobil itu berhenti di pinggir jalan. Butuh berapa kesialan agar dia bisa sampai di rumah dan istirahat? Lelaki tan itu memilih menghubungi layanan derek untuk membawa mobilnya ke bengkel terdekat. Ini bukan masalah ban yang bisa ia atasi dengan menggantikan benda itu. Padahal hanya tinggal beberapa meter lagi. Ia tidak bisa mengeluh, sebelum menggunakan mobil Kai telah terbiasa berjalan kaki maka kali ini dia kembali merasa beruntung. Lelaki yang mengganggu pikirannya muncul tepat di depan pintu pagar rumahnya. Baru akan melangkah masuk dan Kai pikir Kyungsoo telah sampai di rumah. Ia bergegas berlari menghentikan langkah pria asing itu.

Tatapan kebencian Henry benar-benar nampak di depan Kai. Sekarang apa yang akan dia lakukan? Memperingatkan Henry untuk menjauhi Kyungsoo bukanlah solusi utamanya lagi.

"dr. Kim? Aku kebetulan ingin menemui Kyungsoo."

"Kau yang mengiriminya bunga-bunga sialan itu! Kau juga yang mengetuk pintu di malam hari hingga membuatnya ketakutan?"

Saat itu emosi Kai benar-benar meluap karena Henry terlalu tenang untuk seorang penderita OCD. Jika saja dia bisa tenang, mungkin Henry akan kembali berpura-pura dan Kai bisa menyusun rencana untuk esok hari.

"Ya." Henry maju satu langkah membuat Kai harus memasang gerakan waspada.

"Aku mendengar percakapan Kyungsoo dan Chanyeol. Kau melarangnya bermain musik! Kau pikirkan kau siapa? Berani sekali kau melarangnya!"

Bugh!

Demi apapun Kai benar-benar tidak tahu jika Henry akan memukulnya. Pria tan itu tersungkur ke jalanan. Tidak hanya rasa sakit di perutnya, tapi juga pening. Lelaki itu mengerjap beberapa kali mencoba mengumpulkan kesadarannya setelah hantaman keras itu.

Sakit ketika ia hendak bangkit, merasakan lecet pada sikunya. Selama hidupnya Kai sama sekali tidak pernah menekuni seni bela diri. Hanya sekali ketika dia belajar teknik untuk bertahan dan menyerang dari kakeknya. Dalam gelap malam ia harus berjuang pempertahankan diri akibat serangan Henry.

Mata Kai terbelalak, sejak kapan di tangan Henry memiliki balok kayu. Kai rasa ia mendapatkannya dari pinggir jalan tempat mereka berdiri saat ini. Jalanan gelap yang tidak dilewati siapapun. Dia tidak pernah berlatih bela diri secara spesifik, hanya saja kemampuan manusia untuk bertahan selalu saja lebih kuat.

Gerakan Kai dalam pempertahankan diri adalah gerakan reflek secara alamiah. Ia berusaha menghindari pukulan Henry. Tanpa sadar telah membawa mereka menjauh dari rumah.

"Jika kau tidak ada maka Kyungsoo bisa terus bermain musik!"

Kai hanya berusaha menghindar, tidak sekalipun dia berpikir untuk menyerang. Otaknya terlalu cerdas, walau Kris pernah mengingatkan Kai jika Henry itu sangat pintar sayangnya sedikit gegabah.

"Uhkkk!" Lelaki tan itu mengerang pelan menyadari pukulan balok kayu itu pada punggungnya. Kepala terasa pening dan Kai kira jika dia tidak membalas maka ia bisa berakhir di sini. Rasanya tubuh pria itu telah terpundur sangat jauh dari jarak rumahnya. Henry tak berhenti melakukan penyerangan terhadap dokter muda itu. Dengan bantuan tiang di dekatnya, Kai berusaha berdiri.

"Apa masalahnya?" Terasa perih ketika dia berusaha untuk bicara. Kai masih tersenyum, ia sadar telah menyulut emosi Henry.

Dia benar, adrenalin lelaki China itu bergejolak mendengar satu pertanyaan singkat Kai. Wajah Henry berkerut, ia mendengus, berjalan mendekat melakukan penyerangan kembali.

"Aku melatihnya setiap hari hingga Kyungsoo bisa lolos menuju babak semi final. Berani sekali kau menghalanginya!"

Hanya satu kali saja dia benar-benar ingin menghajar seseorang. Tangan Kai terkepal kuat, mata kelamnya menatap tajam rahang Henry yang semakin mendekat. Pukulannya keras, berhasil dalam sekali coba. Lelaki China itu tersungkur ke jalanan. Ia membiarkan bagian tubuhnya tidak terjaga membuat Kai dengan cepat menyerang bagian perutnya. Pukulan ringan tepat pada ulu hatinya.

"Bukankah sudah kukatakan agar menjauh dari istriku!"

Suara perkelahian itu ternyata tidak bisa diredam. Langkah petugas patroli mendekati keduanya, memisahkan mereka.


~ RoséBear~


Sementara di dalam rumah keluarga Park. Kyungsoo merenggangkan tubuhnya, ia tertidur dan keluarga itu sengaja tidak membangunkan karena merasa Kyungsoo kelelahan apalagi setelah mendengar cerita kencannya bersama Kai.

Ponselnya berdering hingga nampak panggilan dari nomor tidak di kenal.

'Penyidik Cho di sini. Anda Do Kyungsoo? Apakah anda mengenal Kim Jongin? Mohon datang ke Kantor polisi untuk menyelesaikan masalah yang dia buat.'

Alis Kyungsoo terangkat. Ia menatap Chanyeol yang baru saja masuk dan mengantarkan makan malam untuk teman kecilnya itu.

"Ada apa?"

"Kai. Mereka bilang di Kantor polisi," setengah sadar ia memberitahu Chanyeol.

"A-apa?"


~ RoséBear~


Kyungsoo butuh beberapa menit untuk bisa tiba di ruang penyidik. Di sana ia melihat Kai hanya duduk memandangi Kyungsoo seakan menelanjangi wanita itu. Langkahnya menjadi pelan karena mencoba mengabaikan Kai. Harusnya Kyungsoo berkomentar dan menuntut penjelasan namun tatapan Kai membuat nyalinya ciut. Kai tampak marah dan tidak senang dengan kehadiran Kyungsoo.

"Tuan Kim memukul seseorang. Namun kami sudah melakukan penyidikan cepat. Kakak korban juga menjelaskan kepada kami mengenai masalah pribadi korban. Kami meminta anda datang kesini sebagai penjamin agar tuan Kim bisa dibebaskan."

Kyungsoo memandang bingung pada Kai namun pria itu mengalihkan pandangannya.

"Bisa saya bertemu dengan korban?" Kyungsoo mencoba memberanikan diri bertanya pada penyidik.

"Korban sudah berada di Kantor imigrasi bersama saudaranya."

Penjelasan singkat penyidik membuat alis Kyungsoo berkerut. Wanita itu menerima berkas penjaminan untuk Kai, ia tidak banyak bertanya lagi. Bahkan saat membawa Kai keluar Kyungsoo hanya mengekor saja. Di luar Chanyeol menunggu untuk mengantar mereka pulang. Dia hanya meninggalkan Kai dan Kyungsoo dalam keheningan. Terasa begitu canggung walau sekedar untuk bertanya.


Hanya tinggal Kai dan Kyungsoo di depan pagar rumah. Lelaki itu melangkah lebih dulu untuk membuka pintu pagar.

"Salju?" Kyungsoo menghentikan langkahnya. Wajah wanita itu menengadah memperhatikan salju pertama musim ini.

Ia sangat berharap Kai mendengarkan gumamannya. Sayangnya bunyi pintu berderit menyadarkan Kyungsoo jika lelaki itu tidak mendengarkannya.

"Kai!?" Kyungsoo setengah berseru untuk memanggil pria itu.

"Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika dia melatihmu setiap hari!? Tidakkah kau sadar pria itu menderita gangguang otak dan komplusif!"

Degh

Kyungsoo terpundur selangkah. Bahkan ia tersandung kakinya sendiri setelah bentakan Kai barusan. Seperti merasakan sengatan listrik, proses berpikir wanita itu sedikit terganggu.

Takut.

Itu reaksi pertama yang ia rasakan.

"Obsesif compulsif disorder! Henry sangat terobsesi denganmu! Seharusnya kau merasa takut padanya bukan menjadikannya pelatihmu!"

Suara keras dan bentakan yang dilakukan Kai membuat jantung Kyungsoo melemah. Ia terkejut luar biasa, ini pertama kalinya Kai berteriak membentaknya.

"A-aku... Aku minta maaf Kai."

"Dia baru saja mencelakaiku. Jika aku tidak melakukan penyerangan balik dia bisa saja membunuhku karena berpikir aku menghalangi permainan musikmu!"

"Ma-maaf," Kyungsoo berbisik takut.

"Karena musikmu itu aku mengalami penyerangan!"

Jantung Kyungsoo berdetak kuat, napasnya berubah menjadi pendek-pendek.

"Tadinya aku hanya ingin mengajakmu bergandengan tangan. Maaf!"

Kai terdiam mendengar bisikan pelan Kyungsoo. Astaga! Dia menyakiti perasaan wanita ini. Padahal Kyungsoo bahkan tidak tahu siapa yang menyerang Kai sebelumnya karena penyidik tidak memberitahu. Kai telah membuat kesepakatan dengan Kris, mereka membawa Henry ke Kantor imigrasi. Lelaki itu akan dideportasi karena masalah visa ilegal dan juga penyerangan terhadap masyarakat sipil dibuktikan dengan rekaman cctv pada tiang pembuangan sampah di persimpangan.

Tapi terlalu sulit baginya untuk meminta maaf. Pada akhirnya Kai berjalan meninggalkan Kyungsoo, menekan kode akses pintu rumahnya dan membiarkan Kyungsoo yang mengekor di belakang.

Kyungsoo langsung masuk ke kamar. Ia membersihkan diri dan menenangkan pikirannya atas bentakan Kai tadi yang terlalu mengguncang pikiran Kyungsoo. Ia butuh air dingin untuk menenangkan diri. Ketika keluar kamar ia tidak menemukan pria itu.


Wanita itu mendesah pelan, ia telah berganti kaos dengan celana piyama. Samar-samar ia mendengar suara ringisan. Pelan Kyungsoo membuka pintu kamar, melihat Kai sedang mengobati dirinya sendiri.

Sejujurnya, ia sangat takut pada lelaki itu saat ini. Tapi melihat Kai berusaha mengobati dirinya sendiri membuat hati Kyungsoo terasa sesak. Ia berjalan mendekat. Berdiri beberapa saat hingga akhirnya Kai mendongak menyadari keberadaan Kyungsoo.

Tidak ada percakapan, Kai memilih melanjutkan pengobatannya sendiri. Ia menerima beberapa luka lebam dan juga gores akibat pukulan Henry.

Tanpa bicara Kyungsoo merebut paksa kain di tangan Kai. Ia berjongkok di atas karpet berbulu. Sesaat Kyungsoo hanya mengamati luka yang Kai terima. Cairan rivanol itu terasa perih ketika menyentuh kulit Kai. Ia menggunakan kain kasa steril untuk membungkus bagian yang mengalami lecet cukup parah.

Berkali-kali Kyungsoo hanya mendesah menyadari luka di sudut bibir dan juga pelipis. Ia hanya membersihkan bagian yang terbuka dan menempelkan plester luka lada bagian pelipis.

Terakhir Kyungsoo menemukan memar pada buku-buku jari kanan Kai. Bukankah dia seorang dokter bedah? Kenapa lelaki ini tidak bisa menjaga diri? Tangannya terluka, sekarang bagaimana cara dia melakukan operasi pada pasien?

Kai mendesis pelan karena Kyungsoo menempelkan handuk hangat pada punggung tangannya, membersihkan darah akibat luka yang ia terima.

Salju pertama berlalu begitu saja. Kyungsoo beranjak membersihkan semuanya. Kai telah bangkit dan meninggalkan Kyungsoo. Wanita itu bahkan menjadi ragu untuk kembali ke kamar. Ia terlalu takut jika sewaktu-waktu Kai tersulut emosi lagi. Pada akhirnya Kyungsoo putuskan untuk tidur di sofa ruang tamu. Udara dingin membuatnya menarik lutut hingga dada, berusaha menahan diri dari udara dingin.


~ RoséBear~


Ia terbangun di pagi hari karena suara percakapan yang terjadi akibat televisi menyala. Samar-samar Kyungsoo mendengar percakapan dua orang presenter, ia membuka matanya dengan gerakan yang pelan. Televisi menayangkan dua presenter pembawa berita pagi. Butuh beberapa detik agar ia mampu bangkit, rasa pegal menggerayangi Kyungsoo akibat semalaman dia tidur di atas sofa, tubuhnya terasa kaku karena udara dingin dan itu meninggalkan rasa sakit.

Krak!

Kyungsoo terkejut, pagi itu ia melihat Kai menyiapkan sarapan. Lelaki itu sibuk di dapur yang hanya terhalang sekat setinggi satu meter. Kepalanya tertunduk, Kai benar-benar masih marah. Bahkan tidak memberinya selimut ataupun bantal, apalagi memindahkan Kyungsoo ke kamar -seakan semua adalah salah Kyungsoo dan ini adalah sebuah hukuman.

Ia mencoba berdiri, baru memulai langkah pertama tiba-tiba lututnya terasa kram dan membawa jatuh tubuhnya menghantam meja.

Prang!

Vase bunga di atas meja ikut bergeser, terjatuh lalu pecah. Kyungsoo terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Secara reflek ia menatap Kai. Lelaki itu hanya menoleh sebentar kemudian kembali sibuk membuat sandwitch.


~ RoséBear~


Pagi itu tidak ada percakapan sama sekali. Kai masih mengantarkan Kyungsoo ke tempat keluarga Park setelah mobilnya di perbaiki. Namun begitu saja, lelaki itu lebih menyibukkan diri dengan ponselnya daripada bertanya kondisi Kyungsoo.

Kyungsoo pernah di abaikan oleh ayahnya, seharusnya dia tahu bagaimana rasanya, tapi diabaikan Kai terasa begitu menyakitkan. Pria itu hadir dalam jangkauan mata Kyungsoo memandang. Namun tidak bisa diraih seakan dia adalah langit di atas sana.

Hari itu Kyungsoo tidak terlalu bersemangat membuat Chanyeol sedikit sulit untuk bertanya perihal semalam.

Tapi kemudian Kyungsoo sendiri yang mengatakannya. Henry menderita OCD, obsesinya ada pada Kyungsoo hingga membuat Kai menjadi korban penyerangan malam itu. Ya. Chanyeol sudah menduga akan hal itu, tapi tentang penyakit yang Henry derita. Mereka sama sekali tidak bisa memperkirakan itu. Gangguan otak dan perilaku akibat faktor genetika.

"Sebaiknya kau bicara pada Kai. Tidak baik tinggal satu rumah tapi tidak saling sapa. Jika dia tetap mengabaikanmu, aku sendiri yang akan menghajarnya."

Kyungsoo menggeleng pada ucapan Chanyeol. "Sekali ini, biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri. Jangan ikut campur apapun Chan."

Lama Chanyeol berpikir. "Selama kau tidak mencoba melarikan diri. Aku tidak akan ikut campur."


~ RoséBear~


Kai mendapat pertanyaan dari kepala perawat perihal penampilannya. Luka pada sudut bibir membuatnya tidak bisa banyak bicara. Dia hanya menjelaskan perkelahian kecil kepada dr. Do ketika Ayah Kyungsoo bertanya padanya. Hari itu sama sekali tidak ada operasi yang Kai lakukan.

Beberapa waktu ia menjadi sangat sibuk, sisa hari dia habiskan untuk bekerja dengan santai memastikan kondisi pasien pada bangsal.

Kai diberikan jadwal pekerjaan dr. Do. Pria tua itu akan menghadiri konferensi medis international selama beberapa minggu di luar negeri pada minggu kedua awal tahun nanti. Selama beberapa minggu itu dr. Do sebenarnya ingin Kai ikut bersamanya.

"Bisakah aku memikirkannya terlebih dahulu? Rasanya permintaan direktur kali ini sedikit berat untukku."

"Ya. Kau bisa memikirkannya. Kapan kalian akan pindah rumah Kai?"

Ia tersenyum dengan pertanyaan dr. Do.

"Bulan depan."

"Oh. Kalau begitu kau tidak harus ikut denganku."

"Terima kasih direktur."

Begitulah cara dia menghindar dari sebuah ajakkan.


~ RoséBear~


Malam hari ketika Kyungsoo masih berdebat dengan pikirannya sendiri. Antara ia kembali ke kamar dan tidur bersama Kai atau seperti malam sebelumnya, berbaring di atas sofa. Ia telah berjalan mondar mandir di depan pintu kamar ketika kemudian suara deritan mengejutkannya.

Air ludahnya kembali terasa seperti gumpalan bola kentang.

"Tidurlah di ranjang jika kau tidak ingin berdekatan denganku. Biar aku yang tidur di sofa."

Pundak Kyungsoo melorot seketika itu juga saat mendengar pengakuan Kai. Ia memutar tubuh ketika Kai berjalan melewatinya.

"Ahh?"

Kai berbalik badan mendengar Kyungsoo mendesah kecewa.

"Kenapa kau lakukan ini padaku?"

Kyungsoo terluka oleh perbuatan Kai. Ia telah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi seorang istri ataupun wanita yang bisa membantu Kai. Tidak banyak yang Kyungsoo harapkan, hanya dibebaskan bermain musik pada dasarnya dia selalu meminta persetujuan pria ini. Apa salahnya? Menjadikan Henry pelatihnya? Apa yang salah? Kyungsoo bahkan tidak menyadari obsesi yang dipendam lelaki China itu. Jika pada akhirnya itu membahayakan nyawa Kai. Kyungsoo sangat menyesal.

Ia sedikit mendongak untuk menatap mata lelaki ini. Kyungsoo seperti wanita yang terjatuh dari tebing tinggi mengingat sehari sebelumnya mereka bahkan menikmati malam yang panjang. Dia bahkan menahan napas untuk sekedar bicara dengan pria ini.

Kai hanya memandang Kyungsoo sejenak. Lelaki itu menghembuskan napasnya membuat Kyungsoo menutup mata karena terpaan hangat itu.

Sesuatu yang lembut menyentuh dahinya.

"Selamat malam."

Untuk sedetik Kyungsoo merasa kehilangan tempat berpijak. Tapi kemudian ia memandang sedih dirinya sendiri, Kai berbalik dan meninggalkan Kyungsoo. Lelaki itu menuju sofa dan segera berbaring memeluk bantal sofa.

Brak!

Pintu kamar terbanting begitu kuat akibat Kyungsoo menghempasnya kencang.

"Kau tidak boleh menangis Kyungsoo! Sejak awal kau tahu Kai tidak menyukaimu!" Berkali-kali ia mengingatkan dirinya.

Ranjang yang nyaman, selimut tebal yang seharusnya hangat terasa begitu dingin hingga Kyungsoo menarik lututnya. Seperti bayi dalam kandungan. Ia mencari kehangatan seorang diri.


~ RoséBear~


Sebagai manusia kita bisa merencanakan hari agar terlihat persis dengan apa yang diinginkan. Bertanggung jawab dan tidak akan mengeluh atas apa yang terjadi, kita percaya bisa menanganinya.

Kai hanya merasa menjadi pria brengsek dengan mengabaikan istrinya selama beberapa hari. Dia dia terlalu takut karena masa lalu itu masih menghantui Kai seperti bayangan yang terus menempel. Katakan dia adalah pecundang, Kai tidak akan protes tentang itu.

Setiap pagi ia bangun lebih dulu dan menemukan Kyungsoo meringkuk seorang diri di atas ranjang.

Dua hari yang lalu Kyungsoo mengajaknya bicara. Wanita itu berencana mengajukan cuti di semester awal. Ya. Kyungsoo berhasil di terima menjadi seorang calon mahasiswi. Dia tinggal melengkapi persyaratan dan tahun depan dia adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat pertama.

Pagi ini, terjadi lagi. Lelaki itu mengernyit, -menarik tangannya reflek ketika Kyungsoo meletakkan map coklat di atas meja menimbulkan bunyi 'bap' dari dokumen yang telah Kyungsoo siapkan.

"A-Aku tahu kau masih marah. T-tapi, aku tidak akan berhenti di tengah jalan. Tidak ada pelatih aku masih bisa berlatih."

Dia berkata dengan penuh kewaspadaan. Terdengar sekali usaha Kyungsoo menutupi ketakutannya saat berhadapan dengan Kai. Jantung wanita itu berdegup kencang, mata caramel semanis madu itu menatap penuh harap pada Kai.

Sayangnya lelaki itu segera membereskan semua barang-barangnya di ruang kerja. Beranjak tanpa bicara apapun pada Kyungsoo.

Bukan ini yang Kai harapkan. Dia memang menghindari Kyungsoo, sekarang masa sulit untuk Kai dalam perjalanan karier pekerjaannya. Sebaiknya menghindar dari pembicaraan mengenai musik. Kai telah mengingatkan Kyungsoo, jangan pernah membahas musik di dekatnya. Itu membuat Kai dilingkupi bayang-bayang masa lalunya.

Bagaimana sang ibu memukul jarinya menggunakan tongkat bayon sepanjang 60 cm. Itu terjadi tiap kali Kai salah memainkan nada.

"Kai!"

Sekarang apa lagi yang ingin dia lakukan? Suara Kyungsoo setengah bergetar.

"Aku butuh persetujuanmu!" setengah berteriak ia mengambil berkas miliknya membawa kembali ke hadapan Kai.

Kepala lelaki itu miring dan sedikit condong menatap Kyungsoo. "Tidak! Aku tidak akan memberimu izin. Ini di luar kesepakatan kita."

"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku Kai?"

Saat itu ponsel Kai berdering. Panggilan dari Suho membuatnya mengernyit. Tiba-tiba saja ia setengah berseru. Di sebelahnya Kyungsoo tampak bingung namun tidak berani menebak apa yang sedang terjadi.

'Kakek ingin bicara denganmu. Bisakah besok kau berkunjung kemari?'

Kai menimbang-nimbang dan ia mengangguk paham atas pertanyaan Suho. "Aku akan ke Gyeonggi besok. Bagaimana kabar Yixing?"

Mereka bercakap mengabaikan Kyungsoo. Lelaki itu masuk ke dalam kamar masih dengan ponsel menempel pada telinganya.

'Seharusnya dalam minggu ini bukan?'

Suara dari seberang terdengar begitu lelah. Suho membenarkan. Istrinya diperkirakan melahirkan dalam waktu dekat. Betapa bahagia keluarga ini jika satu lagi penerus keluarga Kim akan lahir ke dunia.

Kyungsoo masih mencoba mengekor pada Kai. Ia memperhatikan lelaki itu duduk di sisi ranjang. Sebagai istri yang baik ia bahkan masih menyiapkan keperluan Kai untuk berangkat kerja.

"Milikmu. Jangan lupakan. Hari ini aku hanya akan di rumah."

Lelaki itu mengangguk menyetujui. Keluarga Park juga memiliki urusan mereka sendiri tidak setiap saat mereka bisa menerima kehadiran Kyungsoo.

"Aku akan menunggumu pulang."

Saat itu Kai mengakhiri panggilanya dengan Suho.

"Aku tidak pulang malam ini. Kita ke Gyeonggi besok siang."

Alis Kyungsoo bertaut sementara pria itu mengambil tas kerjanya. Bagaimanapun lelaki ini mejadi sangat sulit untuk Kyungsoo pahami.

"Tapi Kai! Besok semi final kompetisiku."

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Sepertinya lelaki itu tidak mendengarkan ucapan Kyungsoo.

"Setidaknya pulanglah malam ini."

Kali ini Kyungsoo memohon. Ia menahan Kai agar lelaki itu mendengarkan. Kai hanya memandang dengan tatapan tidak.

"Kau bisa pergi ke rumah ayahmu. Aku punya urusan penting." Ketika itu dia telah membuka pintu kamar. Membiarkan Kyungsoo berjalan mengekor.

"Sepenting apa sampai tidak bisa pulang ke rumah!?" Kyungsoo setengah menjerit

"Amat sangat penting! Aku harus membereskan kekacauan yang kau timbulkan!"

Degh

Kyungsoo menunduk. Ia tidak hanya menggigit bibir bawahnya kuat, jemari wanita bertautan satu sama lain.

"Maaf..." Bisiknya begitu pelan.

"Kyungsoo?"

Ia panggil istrinya dengan begitu lembut. Oh astaga. Kai! Kau menyakiti perasaannya lagi. Kyungsoo bahkan tidak tahu jika Kai sedang menyusun rencana pembedahan seorang pasien penderita skizofrenia demi membalas budi atas informasi dan bantuan yang kau dapatkan.

Beberapa hari ini mereka tidak banyak bicara. Sekalinya bicara selalu berakhir seperti ini.

"Bisakah, kau tidak berteriak padaku?"

Pelan, suaranya nyaris seperti ngengat.

Kurasa aku pernah berkata jika tidak pernah ada satu orangpun yang pernah berteriak kasar pada Kyungsoo.

Chanyeol? Lelaki yang sudah seperti saudara Kyungsoo itu hanya meninggikan suaranya. Dia tidak benar-benar berteriak. Tapi Kai? Membuat Kyungsoo terpojok dengan ucapannya barusan.

"Apa maksudmu?"

Kyungsoo diam saja, tidak berniat memberi jawaban atas pertanyaan Kai. Ia lebih memilih mendorong tubuh lelaki itu pelan agar keluar dari rumah mereka.

"Aku akan tetap menunggumu."


~ RoséBear~


Wanita itu membuat ruang pribadi di hatinya hanya untuk sang suami.

Sementara Kai benar-benar tidak kembali. Dia telah bekerja seharian penuh. Operasi panjang bersama dr. Do terhadap putri seorang senator yang menderita tumor otak.

Ia memejamkan matanya erat, rasa lelah menghampiri tapi Kai tidak bisa mengambil istirahat begitu saja. Ia telah berjalan mengecek satu persatu pasiennya, dan yang lebih diutamakan berada di departemen psikiatri. Lelaki itu bekerja dengan sangat giat.

Rasanya baru enam menit ia terduduk di atas kursi ketika dering telepon membuatnya kembali terjaga.

'Kai? Bisakah kau ke ruanganku sekarang?'

Panggilan dari direktur membuatnya harus menjawan 'Ya' ketika pria tua itu bilang ingin mengajaknya makan bersama.

Tentu tidak sepenuhnya makan malam bersama, sudah pasti ada yang ingin dibicarakan Ayah mertuanya itu.

Ia mencoba menyapa dengan begitu sopan. Kai bahkan juga memberi hormat pada seorang pemuda yang juga bersama mereka.

"Kai, perkenalkan ini Oh Sehun."

Ia menerima jabat tangan dari lelaki yang lebih muda itu, tampak menawan dengan kulit putih pucat dan juga rambut coklat. Terlihat seperti seorang yang baru menyelesaikan kelas belajarnya.

"Senang bertemu anda dr. Kim."

Hanya sebuah percakapan singkat. Tentu saja dr. Do akan bertanya tentang putrinya. Kai pikir dia harus memberitahu dokter ini perihal Henry. Tapi nyatanya ia hanya mengatakan semua baik-baik saja. Kyungsoo masih mengikuti kompetisi dan dr. Do juga tidak memberi pembatas untuk hal itu.

"Tuan Kim bercerita banyak tentangmu. Aku senang kau baik-baik saja bersama Kyungsoo. Anak itu, terkadang dia sakit karena bermain musik. Tapi tetap saja tidak pernah mau menyerah."

"Ya. Jadi? Sehun akan pergi bersama direktur?"

"Kau benar Kai..."


To be continue...


Thank You.

RoséBear