Mine

Chapter 11

The End Is Where I Begin

Author: Boomie92

CAST: Song Minho X Kang Seungyoon, Song Minho X Kim Jinwoo

Genre: Romance, Humor, Friendship, Comfort

Rating: T-M

Warning: BL

Haloooo,maaf jika updatenya lama, harap maklum jika ada salah ketik, cerita tidak jelas, ending tidak jelas, alur terlalu cepat hehehe. Terima kasih untuk para pembaca, dan kalian yang mereview .39, Alone779, dumb-baby-lion, ChimChimiJimin, pd, KalunaKang61, Apriyaninurfad1, KrisyeolDragonphoenix, haibob, harmiyuna, preety, kangnamsong-room, diyahpark1004, kyung064, guest. Selamat membaca, dan sampai jumpa lagi

¶¶¶

"Kau yakin akan melakukannya?"

"Hmm, aku sudah yakin Seungyoon akan menerimaku."

"Melepas keabadian bukan perkara sederhana Mino, kau tahu resikonya jika ternyata penilaianmu salah."

"Aku tidak ingin menebak masa depan, aku hanya ingin melakukan apa yang aku yakini saat ini. Bantu aku TOP hyung."

"Haah, baiklah akan aku bantu. Kapan?"

"Secepatnya."

"Kau sudah mengatakannya kepada Seungyoon?"

"Rencananya hari ini akan aku katakan, Hyung boleh ikut menjadi saksi." Ucap Mino kemudian tersenyum lebar membuat TOP tersenyum miring, jatuh cinta benar-benar gila begitu pikirnya.

"Aku akan ikut, aku penasaran sesempurna apa seorang Kang Seungyoon hingga membuatmu tergila-gila. Aku sudah melihat kakek buyutnya, apa mereka sama?"

Mino menggeleng pelan. "Seungyoon lebih baik."

Berada di pemakaman selalu menimbulkan sebuah perasaan aneh, saat kecil Seungyoon takut berada di sekitar pemakaman karena cerita hantu. Dan kini setelah dewasa nyatanya areal pemakaman mampu mempengaruhinya. Bukan takut hantu, tapi pemakaman membuatmu sadar bahwa kehidupan dan kematian, tawa dan tangis, hanya dipisahkan oleh sebuah dinding tipis.

"Seungyoon."

"Hmm."

"Terima kasih sudah menemaniku."

"Ya, sama-sama. Hyung sedang bersedih kewajibanku untuk menghibur Hyung."

"Padahal aku sudah bersiap untuk menghadapi kepergian Jiyong, tetap saja ini terasa berat."

Seungyoon menggigit pipi bagian dalamnya, tak tega melihat kedua mata sembab Jinwoo. Ia peluk Jinwoo dengan erat, berharap tindakannya mampu meringankan beban serta kesedihan yang Jinwoo rasakan sekarang. "Kau—maukah kau kembali bersamaku Seungyoon?"

Seungyoon menelan ludahnya kasar, ia bimbang harus menjawab apa. Ia tatap kedua mata rusa Jinwoo. Bukankah ini yang ia inginkan? "Seungyoon." Panggil Jinwoo dengan nada lemah.

"Hyung aku—ya tentu saja, tentu." Mendengar kalimat tersebut membuat Jinwoo tersenyum lembut kemudian ia peluk Seungyoon erat.

"Jadi itu pilihanmu, Kang Seungyoon." Gumam Mino pelan.

"Beruntung kau belum mengorbakan keabadianmu, jadi apa keputusanmu sekarang?" Mino tidak langsung menjawab pertanyaan TOP. "Kenapa hanya diam? Kau tidak mengambil tindakan apapun?"

"Aku sudah berjanji akan pergi jika Seungyoon memilih orang lain."

"Kau akan pergi?"

"Ya, aku akan pergi sekarang juga."

TOP mengerutkan dahinya, ia menatap lekat-lekat wajah Mino yang nampak putus asa. "Apa kau memutuskan untuk meninggalkan segalanya? Aku tahu kau tidak sekedar pulang Mino, apa kau memikirkan hal lain?"

Mino tersenyum miring. "Seungyoon dan keluarganya telah mencuri hatiku Hyung, aku tidak mungkin melupakan mereka begitu saja, satu-satunya jalan adalah menyeberang."

"Kau tidak bercanda kan? Menyeberang bukan perkara sederhana, sekali kau membuat keputusan tidak akan bisa ditarik kembali."

"Tentu, aku sangat yakin dengan keputusan ini. Aku tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipercayai." Mino berbalik memunggungi TOP sebelum akhirnya menghilang dari areal pemakaman, meninggalkan TOP yang kini memandangi dua orang yang tengah berpelukan tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Kang Seungyoon." Gumam TOP dengan nada bicara yang tak bisa diartikan.

"Langit mendung, sepertinya hujan akan turun, sebaiknya kita pulang sekarang." Ajak Seungyoon.

"Baik, kau tunggu aku di mobil aku ingin mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu." Ucap Jinwoo yang dijawab dengan anggukan oleh Seungyoon.

Pandangan Seungyoon menyapu seluruh areal pemakaman, pemakaman tempat kekasih Jinwoo dimakamkan berbeda tempat dengan Hyejoon. Seungyoon menarik napas dalam-dalam dia tidak sabar untuk mengunjungi Hyejoon dan memberikan bunga matahari hasil kerja kerasnya selama musim panas.

Seungyoon menuruni anak tangga yang terbuat dari semen, ada sepuluh anak tangga Seungyoon menghitungnya karena iseng. Kemudian sesuatu terjatuh dari ataas, mendarat ke atas permukaan sepatu kets birunya. Seungyoon menunduk menjuput sesuatu yang ternyata kelopak bunga. "Sakura…," gumam Seungyoon, ia langsung mendongak dan terkejut mendapati seluruh pohon sakura yang meneduhi jalan setapak sepanjang tiga kilometer berbunga lebat.

"Ada apa ini?" Seungyoon mengerutkan dahinya, angin tiba-tiba bertiup kencang menggoyang pepohonan, lebih banyak kelopak yang berguguran, Seungyoon bahkan jatuh terduduk akibat hembusan angin yang terlampau kencang. Kemudian seluruh kelopak bunga berguguran dan menghilang, saat Seungyoon mengedipkan matanya, semua kembali seperti semula. Pepohonan rindang dengan daun hijau lebat. Tak ada sisa kelopak sakura, kecuali satu kelopak yang masih ia pegang.

"Seungyoon! Kau baik-baik saja kan?!"

"Oh Hyung! Ya aku baik-baik saja." Seungyoon bergegas berdiri, dan membuang kelopak sakura yang ia pegang.

"Kenapa kau terjatuh?"

"Oh itu—tadi ada binatang yang lewat dan aku terkejut."

"Mungkin itu kadal." Balas Jinwoo.

"Mungkin saja, Hyungsudah selesai?."

"Ya, ayo pulang sekarang."

"Aku pulang." Seungyoon menajamkan kedua matanya, tak biasanya rumahnya sepi. Ya, dia memang sudah lama tinggal sendiri tapi biasanya ada Mino yang selalu mengganggunya.

GUK GUK, Seungyoon menunduk melihat Minyoon yang menggonggong keras terlihat gelisah. Tidak ada yang aneh dari rumahnya, tidak ada pintu dan jendela rusak, Seungyoon yakin tak ada seorangpun yang bisa masuk kecuali Mino, dia memang bukan manusia.

"Kau lapar?" Seungyoon bertanya pada anjing kecilnya, ia langkahkan kedua kakinya menuju dapur, mengambil sereal untuk Minyoon. Ia tuangkan sereal yang sedikit dicampur air agar teksturnya lembut. Mino melakukan hal itu sebelumnya, Seungyoon juga mengisi mangkuk air Minyoon, namun anjing kecil itu masih saja gelisah. "Apa yang kau inginkan?!" Seungyoon jengkel. Minyoon masih menggonggong keras, Seungyoon berjongkok membuka kedua tangannya Minyoon langsung lari ke dalam pelukannya.

Ia usap pelan kepala Minyoon, akhirnya anjing kecil itu tenang. Tanpa kehadiran Mino rumahnya terasa sangat sepi dan terlalu luas. Seungyoon menghembuskan napas pelan. "Kau dimana?" bisik Seungyoon tidak menyadari kesalahan besar yang telah ia lakukan. "Mungkin dia sedang sibuk," putus Seungyoon, ia turunkan Minyoon dari pangkuannya. "Aku lapar."

Seungyoon kembali ke dapur, ia buka lemari pendingin semua bahan makanan lengkap ada di sana mulai dari daging, telur, buah, dan sayuran. Seungyoon tersenyum simpul, selama ini ia tidak begitu menyadari perhatian Mino. "Percuma aku tidak bisa memasak," gumamnya. Seungyoon mengambil sebutir telur dan satu bungkus sosis.

Ia keluarkan ponsel dari saku celananya, memilihaplikasi pemutar musik. Ia memutar lagu yang beberapa hari ini menarik perhatiannya, bukan karena lagu baru namun liriknya sangat bagus. Lee Hi ft Suhyun dan Bobby, berjudul I'm different. Seungyoon membesarkan volume, mendengarkan lagu kesukaan adalah cara ampuh untuk mengusir sepi.

Ia pecahkan telur ke dalam mangkuk porselin kecil, kemudian menambahkan potongan sosis ayam dan menaburkan sejumput garam. Seungyoon kemudian memanasakan minyak di atas penggorengan. Makanan standar yang bisa dimakan, daripada membuat masakan sesungguhnya tapi gagal? Perutnya tidak bisa berkompromi lagi.

Suara letupan kecil pertanda minyak telah panas, Seungyoon mengecilkan api kompor lalu menuang telurnya. Sambil menunggu ia masukkan selembar roti tawar ke dalam pemanggang.

"Neoneun molla neoneun neoneun nal molla. Neoneun neoneun neoneun neoneun." Seungyoon ikut bernyanyi sambil membalik telur goreng dan sesekali mengintip roti di dalam mesin pemanggang.

Salah satu kebiasan Seungyoon adalah memutar lagu yang ia sukai berulang-ulang. Ia bersenandung mengikuti irama yang terdengar. Senyuman mengembang melihat telur hasil karyanya matang dengan sempurna, selang beberapa detik roti panggangnya juga siap untuk dinikmati. Seungyoon mengambil piring dan menyiapkan makan malamnya, ia matikan kompor dan alat pemanggang. Sebagai pelengkap segelas jus anggur segar tersaji di dalam gelas berukuran sedang.

Seungyoon mengerutkan dahinya, sekarang pukul tujuh malam dan Mino belum juga kembali. "Apa dia sibuk?" ia abaikan berbagai pemikiran yang terlintas di benaknya untuk menikmati makan malam hasil jerih payahnya.

Even if the world is deep and wide

Even if there's a lot of things to do

Without you, it's nothing

Get it get it get it get it

Sorry for being confusing, babe

It's all the same, same

Well if you don't like it, why don't you leave?

Ain't that what you want

Ain't that what you want

Seungyoon berhenti mengunyah roti panggang dan telur dadarnya, entah mengapa lirik lagu yang kini tengah didengarnya terasa seperti berbicara secara pribadi. "Mungkinkah Mino pergi? Tidak mungkin dia pergi tanpa pamit…,"

"Mino pergi."

PYAR! "Astaga!" pekik Seungyoon, bahkan gelas berisi jus yang tengah ia genggam terjatuh dan hancur berantakan. "Kau siapa?!"

"Maafkan aku. Panggil saja aku TOP."

"Kau bukan manusia?" TOP mengangguk. "Apa kau sejenis dengan Mino?" TOP kembali mengangguk meski hatinya sedikit tidak terima dengan penyebutan sejenis, dia Elf bukan katak.

"Begini saja aku tidak suka menjelaskan panjang lebar Mino pergi karena dia melihatmu memilih Jinwoo di pemakaman tadi sore."

"A—apa? Kalian berada di sana?"

TOP mengangguk dan melempar tatapan tajam khasnya. "Sebenarnya Mino ingin berkata padamu bahwa dia akan menjadi manusia biasa karena yakin akan cintamu."

"Menjadi manusia biasa?" Seungyoon sangat bingung, dan akan sangat menyebalkan jika laki-laki yang berdiri di hadapannya sekarang menolak untuk menjelaskan secara detail.

"Ya ampun—dia sama sekali tidak membicarakan ini denganmu?" Seungyoon menggeleng pelan, ia yakin TOP kini memandangnya seperti orang paling bodoh di dunia.

TOP memijit pangkal hidungnya. "Begini saja, hmm—hubugan antara Elf dan manusia itu dilarang karena itu ada kesepakatan jika seorang Elf sangat mencintai manusia dan ingin hidup bersamanya dia harus menukar keabadiannya, lalu jika manusia itu ternyata ingkar hanya ada dua pilihan, elf yang telah menjadi manusia itu akan mati atau mendapatkan keabadiannya kembali dengan cara membunuh si manusia. Kau mengerti kan?"

"Aku mengerti, terima kasih banyak."

"Baguslah kau cukup pintar, itu kalimat terpanjang yang pernah aku ucapkan. Aku datang untuk menyampaikan salam perpisahan dari Mino untukmu."

"Dia benar-benar pergi?" Seungyoon tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus ia tampilkan saat mendengar kepergian Mino, otaknya bekerja lebih lambat detik ini.

"Hmm, karena kau memilih Jinwoo, bukankah Mino sendiri yang mengatakannya padamu?"

Seungyoon mengangguk lemah. "Apa dia tidak akan kembali?"

"Aku rasa tidak, dia memilih untuk menyeberang."

"Menyeberang? Apa maksudnya?" sungguh, ada banyak sekali hal yang Seungyoon tidak pahami soal dunia para bangsa Elf.

"Hmm—bagaimana ya—bahasa sederhananya, di dunia manusia juga ada, begini saat seorang manusia memutuskan untuk lepas dari semua ikatan duniawi dan mengabdi kepada—kalian menyebutnya Tuhan. Kami memiliki seorang raja yang kami panggil Valinor, setelah menghapuskan berbagai keinginan dan mengabdi kepada Valinor, para elf tidak akan pernah bisa kembali ke dunia manusia bahkan mereka tidak bisa bebas berkeliaran di dunia kami dan berinteraksi dengan para elf yang lain."

"Oh." Hanya itu yang mampu Seungyoon ucapkan. Sedetik kemudian, ia mengerjapkan kedua kelopak matanya dengan cepat, sadar akan situasi yang kini dihadapinya. "Kapan Mino akan menyeberang?"

"Kurang dari satu jam di dunia kami, di dunia manusia— aku rasa sampai besok sebelum matahari tenggelam."

"Sampaikan salamku untuknya, dan aku ingin mengucapkan terima kasih sudah menemaniku selama ini." Bisik Seungyoon.

TOP mengangguk sembari tersenyum simpul. "Akan aku sampaikan, semoga bahagia Kang Seungyoon. Aku pergi dulu, selamat tinggal."

Seungyoon belum sempat membuka mulutnya untuk membalas, TOP sudah menghilang dari hadapannya. Saat ia menunduk gelas yang telah hancur berantakan kini kembali utuh beserta jus di dalamnya.

"Kau bisa mengucapkan selamat tinggal sendiri kan, Song Minho." Seungyoon menatap sedih ke arah dapur, biasanya Mino akan membuat sedikit keributan saat memasak makan malam.

Suara gonggongan kecil menyadarkan Seungyoon, ia menunduk untuk mengusap pelan kepala Minyoon. "Kau merindukan Mino?" Minyoon menjawab dengan gonggongan, Seungyoon tersenyum simpul. "Aku pasti akan merindukannya, mulai sekarang aku akan merawatmu dengan baik."

Seungyoon menggeliat pelan, seluruh badannya terasa pegal karena semalam ia tidur beralaskan karpet di depan televisi ruang keluarga, ditemani Minyoon. Bahkan sekarang anjing kecil itu tengah tertidur di atas perutnya dengan nyenyak. Perlahan Seungyoon menurunkan Minyoon, ia berniat untuk berbaring kembali saat ponselnya bergetar.

Jinwoo deer

Aku di depan pintu rumahmu

"Oh!" pekik Seungyoon pelan, ia angkat tubuh Minyoon dan meletakkannya ke atas karpet, seketika itupula dia langsung bangun dan berlari menuju pintu rumah, mengetikkan kode pengaman kemudian membuka pintunya. "Halo Hyung."

"Kau baru bangun? Aku membawakan nasi goreng kesukaanmu." Jinwoo mengangkat kantong plastik di tangan kanannya.

"Terima kasih Hyung, aku merepotkanmu lagi."

"Tidak masalah."

Seungyoon menyingkir ke samping memberi ruang kepada Jinwoo untuk melangkah memasuki rumahnya. "Cuci mukamu dulu aku siapkan sarapanmu." Perintah Jinwoo, tanpa membalas Seungyoon menuruti perintah itu dengan patuh.

Sebelum matahari tenggelam, kalimat TOP terus terngiang di dalam kepalanya, Seungyoon memandangi wajahnya di dalam cermin, berusaha meyakinkan dirinya bahwa Jinwoo adalah pilihan yang tepat. Dia baik, perhatian, dewasa, dan yang paling penting dia manusia biasa.

"Seungyoon kau masih lama di dalam?!" panggilan Jinwoo mengakhiri pemikiran ragu-ragu Seungyoon.

"Aku keluar sekarang!" ia berlari-lari kecil dari kamar mandi menuju ruang makan. Jinwoo langsung tersenyum saat melihat kedatangan Seungyoon.

"Jus atau air putih?"

"Air putih saja." Seungyoon duduk mengamati nasi goreng yang terlihat menggiurkan tersaji di atas piring keramik.

"Ini." Jinwoo meletakkan segelas air putih di samping Seungyoon.

"Terima kasih Hyung." Seungyoon membalas senyuman Jinwoo, ia raih garpu dan sendok makannya, nasi goreng kesukaannya sudah memanggil, menggoda, menguarkan aroma harum yang mustahil untuk ditolak.

GUK GUK, Minyoon mengganggu acara sarapan. Dengan dongkol Seungyoon terpaksa menunda acara sarapannya dan memberi makan Minyoon terlebih dahulu. "Apa dia lapar?" pertanyaan Jinwoo mencegah Seungyoon berdiri dari kursinya.

"Ya, setiap pagi Min—oh, aku memberinya makan." Seungyoon hampir saja menyebut nama Mino.

"Di mana makanannya? Biar aku yang memberinya makan."

"Di sana." Seungyoon menunjuk bagian atas lemari pendingin, tempat dirinya meletakkan kotak sereal makanan Minyoon.

Jinwoo mengangguk mengerti. "Kau makanlah, akan aku beri makan anjingmu, siapa namanya?"

"Minyoon."

"Minyoon? Apa artinya?"

"Tidak ada hanya iseng, terdengar lucu dan cocok saja." Balas Seungyoon berdusta.

"Minyoon? Apa itu Minyoon?"

"Gabungan nama kita berdua, Minho dan Seungyoon."

Seungyoon menelan ludahnya kasar, kenapa di saat seperti ini bayangan tentang Mino semakin sering terlintas di dalam pikirannya. Gonggongan dan suara tawa Jinwoo mau tidak mau membuat Seungyoon tersenyum, rasanya menyenangkan memiliki teman.

Jinwoo kembali ke meja makan dengan senyum lebar yang menghiasi wajah imutnya. "Dia sangat lucu dan makan dengan lahap." Seungyoon hanya tersenyum mendengar komentar Jinwoo tentang Minyoon. Kini Jinwoo duduk di sampingnya dan mulai menikmati sarapannya juga. "Selama musim panas apa saja yang kau lakukan?"

"Aku—hmm, aku menanam bunga matahari."

"Bunga matahari?" Jinwoo mengangkat sebelah alisnya.

"Ya, bunga matahari, aku ingin menepati janjiku pada Hyejoon."

"Oh." Jinwoo tidak berani berkomentar banyak, ia tahu bagaimana terlukanya Seungyoon jika mengungkit tentang Hyejoon. Tapi ada hal yang mengganjal dalam diri Jinwoo. "Kau sudah menerima kepergian Hyejoon?" Jinwoo bertanya dengan sangat hati-hati.

"Ya, aku sudah menerimanya dan aku akan menepati janjiku untuk menanam bunga matahari."

"Maaf jika aku lancang, tapi aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa menerima semua kenyataan pahit itu?"

Seungyoon tersenyum simpul. "Aku hanya tidak bisa selamanya melarikan diri dan hidup dalam kepura-puraan, itu saja. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa Hyejoon hanya pergi dan suatu hari dia akan kembali, karena kenyataannya dia tidak akan pernah kembali."

Jinwoo tersenyum penuh simpati, kemudian meneruskan acara sarapannya. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang mampu menghibur atau membuat Seungyoon merasa lebih baik sekarang.

"Tinggalkan saja, aku yang akan mencucinya." Seungyoon mencegah Jinwoo yang bermaksud untuk mencuci piring dan gelas kotor. "Hyung." Peringat Seungyoon yang melihat Jinwoo masih bersikeras.

"Baiklah." Ucap Jinwoo menyerah. "Sekarang kau suka bersih-bersih ya?"

"Tidak juga, aku hanya belajar untuk bertanggungjawab."

"Wah, kau semakin dewasa Seungyoon." Puji Jinwoo tulus. "Apa aku boleh melihat bunga mataharimu?"

"Aku rasa mereka belum tumbuh. Tapi baiklah, ayo." Minyoon menggonggong keras, dengan antusias dia berlari di belakang Seungyoon dan Jinwoo mengikuti ke halaman belakang.

"Bertunas!" pekik Jinwoo antusias, Seungyoon sendiri masih terkejut dengan apa yang dilihatnya, ini pertama kalinya dia melihat tanaman tumbuh dari biji. Dulu, biji tomatnya bahkan tidak sempat bertunas, bijinya membusuk dan bercampur dengan tanah begitu saja. "Kita harus menyiramnya."

"Aku belum memiliki sprayer Hyung."

"Guanakan tangan saja." Balas Jinwoo sembari tersenyum ramah. Seungyoon mengangguk pelan. Ia berlari menuju gudang mengambil ember plastik kecil, Jinwoo menbuka keran air dan menggunakan ember plastik sebagai tempat penampungan.

Seungyoon memperhatikan dengan seksama bagaimana Jinwoo menyiram tunas-tunas muda nan rapuh di hadapannya dengan lembut, namun semua yang ia lihat bukanlah Jinwoo tapi Mino. "Hyu—Hyung." Panggil Seungyoon dengan suara bergetar.

"Hmm?"

"Aku—Hyung, aku…,"

"Katakan saja Seungyoon jangan ragu-ragu."

Seungyoon mencoba mengabaikan detak jantungnya yang bergemuruh. "Aku mencintai orang lain Hyung, aku tidak bisa kembali denganmu Hyung."

"Aku bisa mengerti jangan cemas." Senyum tulus Jinwoo melegakan hati Seungyoon. "Lalu dimana orang yang kau sukai itu? Apa kau tidak akan mengenalkannya padaku?"

"Dia—dia pergi karena aku plin plan."

"Kau tidak akan mengejarnya?"

"Apa dia masih bersedia untuk menerimaku, temannya bilang dia sudah memutuskan untuk melupakan aku."

"Kejar dia, kau harus mendengar langsung dari bibirnya jika dia benar-benar ingin melupakanmu, jangan ada penyesalan Kang Seungyoon."

"Hyung…,"

"Kejar dia!" pekik Jinwoo tegas, jujur ini pertama kalinya Seungyoon melihat Jinwoo bersikap sangat serius. "Aku akan pergi sekarang, kejar dia. Semoga berhasil Seungyoon." Jinwoo mengusak pelan puncak kepala Seungyoon, membuat rambut Seungyoon sedikit lembab. Karena kedua telapak tangan Jinwoo masih basah setelah menyiram tunas-tunas bunga matahari.

Seungyoon menyandarkan punggungnya pada pintu, ia gigiti bibir bagian bawahnya hingga terasa perih. Ingin sekali ia berteriak dan meminta seseorang membuat pilihan untuk dirinya. "Apa yang harus aku lakukan?"

"Waktu yang tersisa tidak banyak."

"TOP!" pekik Seungyoon tertahan.

"Apa aku bisa menghentikan Mino?" TOP mengendikkan kedua bahunya.

"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan rumit seperti itu, semua tergantung padamu, apa yang kau inginkan?"

Seungyoon memandangi lekat-lekat wajah Mino selama beberapa saat. "Aku ingin dia kembali." Itu adalah jawaban yang paling ia yakini saat ini.

"Lupakan Mino." balas TOP dengan nada dingin.

"Apa maksudmu?! Bukankah kau ingin aku menghentikan Mino?!" Seungyoon berteriak marah, karena ucapan TOP yang tak bisa dipegang.

TOP tersenyum miring. "Aku tidak yakin cintamu kepada Mino cukup besar untuk menanggung semua resiko."

"Katakan." Perintah Seungyoon tegas.

"Satu jam di dunia kami maka umurmu akan berkurang satu tahun, apa kau bersedia melakukannya?"

"Aku bersedia melakukannya." Balas Seungyoon mantap.

TOP mendesah pelan. "Kalau begitu pakai ini, aku tidak bisa membiarkanmu mati sia-sia."

Seungyoon memandangi kalung perak berliontin jam pasir kecil di tangannya. "Apa ini?"

"Aku hanya akan mentolerir waktu selam tiga jam, setelah pasir di dalam jam pasir itu habis, kau akan kembali ke dunia manusia."

"Bagaimana jika waktunya tidak cukup untuk meyakinkan Mino?"

"Hancurkan jam pasirmu, tapi tanggung resikomu sendiri."

"Terima kasih sudah membantuku TOP. Sebelum pergi aku ingin melakukan sesuatu."

"Sepuluh menit." Balas TOP, Seungyoon mengangguk pelan setuju.

Hal yang ingin Seungyoon lakukan adalah menghubungi ayah dan ibunya, meski dirinya harus menelan pil pahit karena panggilannya terhubung pada pesan suara. "Aku menyayangimu Ibu, maaf aku tidak pernah membuat Ibu bangga, sampai jumpa atau mungkin—selamat tinggal." Seungyoon melirik TOP, dia mengisyaratkan bahwa masih ada beberapa menit waktu tersisa, Seungyoon langsung menghubungi nomor ponsel ayahnya. "Aku merindukan Ayah, selamat tinggal."

Seungyoon meletakkan ponselnya ke atas meja kopi ruang keluarga. "Aku siap." Ucap Seungyoon mantap.

"Pejamkan matamu."

"Hanya itu?"

"Hmm." TOP membalas singkat, perlahan Seungyoon menutup kedua kelopak matanya, telapak tangannya mengepal, sementara jantungnya bergemuruh. Petualangan dimulai, ada rasa antusias sekaligus ketakutan bercampur menjadi satu. "Jangan membuka matamu sebelum aku perintahkan."

"Ya, aku janji." Semuanya hening, Seungyoon menahan godaan untuk membuka kedua matanya dan memastikan bahw TOP tidak sedang berbohong. Seungyoon hampir membuka bibirnya untuk bertanya, saat sensasi melayang tiba-tiba menyergap tubuhnya. Panik, tentu saja, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Seungyoon menggerakkan kedua kakinya perlahan, ia tidak menemukan pijakan. Keringat dingin muncul cepat, pikirannya mulai memutar semua skenario terburuk yang bisa ia alami saat melayang di tempat asing.

Seungyoon merasakan kedua kakinya kembali menyentuh tanah, kemudian ia mencium sesuatu, dan terdengar pula suara yang mirip kicauan burung. "Buka matamu." Suara berat TOP membuat Seungyoon membuka kedua matanya perlahan.

Hutan, mereka berada di tengah hutan dengan pepohonan rindang yang teratur, pohon-pohon menjulang raksasa, lantai hutan ditumbuhi oleh rerumputan dengan bunga berwarna ungu. Menakjubkan, aroma khas tanah basah, daun, dan aroma manis yang mungkin dikeluarkan oleh bunga dan buah di dalam hutan bercampur menjadi satu. "Sembunyikan kalungmu, kita harus bergegas." Ucap TOP, Seungyoon mengangguk pelan, ia tutupi lehernya dengan kerah kemeja yang ia kenakan sementara liontin kalung tersembunyi dengan aman di balik kemejanya.

Sinar matahari memasuki celah-celah pepohonan, menyuguhkan pemandangan seindah negeri dongeng. "Luar biasa," gumam Seungyoon tanpa sadar. TOP tidak memberi komentar. Keduanya berjalan melintasi jalan tanah yang membelah hutan. Tiba-tiba TOP menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Seungyoon.

"Pakai ini." Ucapnya sembari menyerahkan jaket berwarna biru yang tadi ia kenakan kepada Seungyoon. "Pakai saja jangan banyak bicara." Ucapnya tegas, Seungyoon menurut.

Keduanya melanjutkan perjalanan kembali, kini mereka berjalan melintasi jembatan yang terbuat dari rangkain sulur dan akar pepohonan, di bawah sungai yang airnya tampak sebening kaca mengalir tenang. Bebatuan berwarna-warni seindah batu mulia, berkilau terkena sinar matahari. Di ujung jembatan, masih ada hutan kali ini pepohonan yang mirip bunga sakura berbunga lebat, satu pohon memiliki empat warna bunga berbeda, mulai dari warna putih, merah muda, merah, kuning, dan ungu. Jalan tanah setapak dipenuhi oleh guguran kelopak bunga.

Seungyoon terlalu takjub untuk membuka mulutnya, kedua langkah kaki TOP bergerak semakin cepat, Seungyoon tahu tidak ada waktu untuk mengagumi semua pemandangan yang tersaji. Suara gemiricik air terdengar nyaring, tiga buah air terjun menjulang dihadapan Seungyoon, TOP menarik tangan Seungyoon karena ia menilai Seungyoon berjalan terlalu lambat. "Tidak ada waktu untuk melihat-lihat." Ucap TOP tegas.

Keduanya kembali melintasi jembatan, kali ini jembatan terbuat dari batang kayu raksasa yang tumbang. Tanah berawa dengan tunas-tunas pohon yang muncul, mengingatkan Seungyoon akan pemandangan hutan di musim semi. Udara terasa lebih dingin, pepohonan tampak berubah warna. Seungyoon memilih diam mengabaikan semua keindahan serta genggaman tangan TOP. Suhu semakin turun, ia bisa melihat udara hangat yang keluar dari hidungnya, serupa asap putih.

Kaki Seungyoon menginjak sesuatu yang lembut namun padat, ia melihat ke bawah, gumpalan es, ia menginjak gumpalan es. TOP menyingkap tumbuhan rambat yang berbunga mawar, Seungyoon meringis tanpa sadar membayangkan bagaimana kulit TOP terkoyak duri dari mawar liar. "Mawarnya tidak berduri." Ucap TOP pelan, ia tarik tangan Seungyoon.

Udara beku menyambut, hamparan hutan cemara dan pinus tertutup salju tebal. "Hutan empat musim, kita akan mengambil jalan pintas menuju danau Kabut. Di atas bukit nanti kau bisa melihat rumah-rumah penduduk, maaf tidak bisa mengajakmu berkeliling."

"Hmm."

Keduanya terus berjalan menembus jalan setapak yang tertutup salju tebal, Seungyoon menghentikan kedua kakinya dan menatap TOP ragu, pasalnya mereka akan berjalan di atas danau beku. "Apa ini aman?"

"Aman, ayo kita harus bergegas."

Sesuatu bergerak di bawah lapisan es, Seungyoon menajamkan kedua matanya. "Mino!" pekik Seungyoon panik, ia berlutut, berusaha memecah permukaan danau yang beku.

"Hentikan."

"Mino tenggelam!"

"Dia bukan Mino, tidak ada apa-apa di bawah sana. Danau ini akan merefleksikan keinginanmu apapun itu."

Seungyoon berhenti, ia memejamkan kedua matanya selama beberapa saat saat ia membuka kedua matanya di bawah danau tampak wajah ibu, ayah, dan Hyejoon. "Kau benar," gumam Seungyoon, ia berdiri tegak dan kembali berjalan mengikuti TOP.

Tumpukan es berakhir, sekarang keduanya melintasi padang bunga mawar, mawar-mawar berbagai ukuran dan warna, membentuk kanopi tak berujung. "Bawa ini." TOP memberikan sekuntum mawar berwarna perak, warna yang tak lazim di dunia manusia.

"Terima kasih," ketika tangan kanan Seungyoon menyentuh batang mawar perak itu, tiba-tiba kelopak peraknya berubah menjadi biru. "Apa ini?"

"Dia akan berubah warna sesuai dengan suasana hatimu, saat kau merindukan seseorang dia akan berubah menjadi ungu, saat kau jatuh cinta berubah merah, saat kau menyesal dan sedih berwarna biru, saat kau bahagia akan ada warna pelangi, saat kau marah, putus asa, benci, dan semua perasaan negatif lainnya dia akan mengering." TOP menyematkan sekuntum mawar itu ke dalam saku kemeja Seungyoon, menyisakan bagian mahkota bunganya di luar.

Kanopi mawar berakhir, ratusan tangga dari kayu terlihat. "Kita naik?" TOP mengangguk. TOP kembali memegang tangan kanan Seungyoon, saat itulah Seungyoon merasakan keajaiban, tubuhnya terasa ringan dan tidak ada rasa lelah yang ia rasakan. Keduanya sampai di puncak bukit.

"Saat kau menoleh ke kanan seharusnya kau melihat pemukiman para elf. Rumah-rumah kayu dengan jalan setapak berliku-liku, cerobong asap yang mengepul, seperti itu, tidak ada kebisingan kendaraan seperti duniamu. Sayang sekarang sedang berkabut."

"Hmm." Pandangan Seungyoon tertuju pada bangunan megah di arah matahari terbit. "Itu istana?"

"Dulu, sekarang gedung pusat pemerintahan sistem kerajaan dengan raja tunggal dan pemimpin berdasarkan keturuan telah dihapus, terima kasih karena beberapa elf yang ke dunia manusia berhasil kembali dan mengungkapkan aspirasi mereka."

"Oh, lalu itu." kali ini Seungyoon menunjukan bangunan megah lain di arah matahari tenggelam.

"Tempat Valinor tinggal dan para elf yang melayaninya. Tidak banyak waktu yang tersisa. Ayo, kabut sudah mulai tebal artinya penyeberangan akan dimulai."

TOP menggenggam tangan Seungyoon kembali, keduanya berlari menuju sisi lain bukit dengan cepat, menuruni anak tangga kayu yang hampir tak terlihat oleh kedua mata manusia Seungyoon, akibat kabut tebal.

Danau luas dengan permukaan berwarna hitam, dermaga kayu kecil, kapal-kapal kayu dengan lentera tunggal sebagai penerangnya, kabut tebal, dan ratusan elf dalam balutan jubah hitam terlihat mengantri di tepi danau untuk menaiki kapal. "Cari Mino sekarang, jangan berpikir macam-macam. Bukan saat yang tepat, temukan dia." Ucap TOP tegas, Seungyoon mengangguk cepat, ia berlari menuruni tiga anak tangga terakhir, menuju tepian danau.

Tidak peduli saat dirinya menabrak atau mengeluarkan suara keras karena berlarian di atas kerikil, para elf yang mengantri itu terlihat tak bergeming, pandangan mereka lurus ke depan, kosong. Seungyoon melihat satu-persatu wajah-wajah dengan ekspresi datar tersebut, dia benar-benar ingin menangis sekarang, serangan keputusasaan semakin kuat terasa. "Mino, kau dimana…," Seungyoon bertanya kepada dirinya sendiri.

Suara lengkingan yang mirip peluit terdengar memekakan telinga, Seungyoon melihat sebuah kapal kayu bergerak. Berangkat, para elf yang akan menyeberang akan berangkat. Seungyoon berlari mendekati dermaga, mencoba melihat wajah-wajah di dalam kapal. "Mino, Song Minho!" Seungyoon berteriak sekuat tenaga, setelah ia yakin Mino salah satu elf yang berada di dalam kapal.

Seungyoon melompat ke dalam danau, beruntung air di pinggir danau hanya setinggi pinggangnya, ia berenang cepat mencapai kapal. Berhasil, kedua tangannya berpegangan pada pinggir kapal. Menggunakan kekuatan tangan, Seungyoon mengangkat tubuhnya menaiki kapal.

"Mino!" Seungyoon memegang wajah Mino, namun tatapannya sama, kosong. "Mino aku mohon, aku mohon. Aku mencintaimu, aku di sini, aku mencintaimu." Tak terasa lelehan air hangat terbentuk dan kini mengalir menuruni wajahnya.

"Seungyoon…,"

Kedua mata Seungyoon membulat sempurna. "Kau—kau mengenaliku, kau sudah sadar?!" Seungyoon berteriak bahagia, ia memeluk Mino erat. "Aku mencintaimu ayo pergi dari sini, ayo pergi sekarang." Bisa Seungyoon rasakan kedua tangan Mino yang memegang kedua lengannya.

Keduanya bertatapan. "Apa yang kau lakukan di sini? Semua sudah berakhir, maaf Seungyoon."

"Aku mencintaimu, maaf aku terlambat menyadarinya."

Mino tersenyum simpul. "Terima kasih tapi maaf aku sudah memutuskan untuk mengabdi pada Valinor."

"Song Min…," Seungyoon belum sempat menyelesaikan kalimatnya, saat tangan kanan Mino dengan cepat mengambil kalung dan membalik liontin jam pasirnya. Kabut tebal terbentuk dengan cepat, bayangan Mino dan semua yang ada di danau menghilang.

Minyoon menggonggong keras, dan saat itulah Seungyoon sadar bahwa dirinya sudah berada di dunia manusia, di rumahnya, di kamarnya yang hangat dan kosong. Kelopak mawar kering jatuh ke atas permukaan sepatu Seungyoon.

"…saat kau marah, putus asa, benci, dan semua perasaan negatif lainnya dia akan mengering." Kalimat TOP terdengar jelas, Seungyoon menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai berlapis karpet. "Apa salahku? Aku sudah datang dan meminta maaf, aku sudah mengungkapkan cintaku, tapi kau tetap pergi."

Minyoon menatap Seungyoon dengan dua bola mata bulat lebarnya, anjing kecil itu melangkah mendekati Seungyoon dan duduk di pangkuannya dan berbaring. Seungyoon mengusap kepala anjing kecilnya. "Terima kasih, sekarang kau satu-satunya yang mengerti aku." Bisik Seungyoon lirih. "Aku lelah, sebaiknya kita tidur."

"Maaf semuanya gagal."

"TOP, tidak apa-apa terima kasih sudah membantuku."

"Tidurlah, dan kabar baiknya usiamu tidak berkurang karena perjalanan kita kurang dari satu jam."

Seungyoon berusaha menampilkan senyuman namun gagal. "Jangan dipaksa, tidurlah kau pasti lelah." Seungyoon mengangguk pelan, ia lepas kedua sepatunya berbaring dengan selimut tebal sambil memeluk Minyoon.

"Semoga cinta kalian bersatu," gumam TOP sebelum menghilang.

Suara panggilan masuk membangunkan Seungyoon, dengan enggan ia raih ponselnya dan menjawab panggilan tersebut. "Iya?"

"Kami ada di luar tolong bukakan pintunya Seungyoon."

Setengah sadar, Seungyoon menajamkan pandangannya. Mustahil. "Ibu!" pekik Seungyoon, ia melompat turun dari ranjang dan berlari keluar.

"Seungyoon!" pekik nyonya Kim tertahan saat putranya memberi pelukan erat. Nyonya Kim tersenyum maklum. "Kami juga merindukanmu." Seungyoon mengalihkan pelukannya kepada sang ayah. Ketiganya tertawa bahagia.

"Kami sangat cemas kau meninggalkan pesan seperti itu, apa maksudnya?"

"Iseng." Balas Seungyoon kemudian tersenyum lebar.

"Cuci muka dan gosok gigi, Ibu akan menyiapkan sarapan."

"Baiklah!" pekik Seungyoon bersemangat. "Ibu, Ayah, aku menanam bunga matahari untuk Hyejoon di akhir musim panas nanti kita pergi bersama ya? Memberikan bunga hasil jerih payahku pada Hyejoon."

"Tentu Seungyoon." Balas nyonya Kim yang diiringi dengan anggukan setuju dari suaminya sekaligus ayah Seungyoon. Seungyoon kehilangan ingatannya tentang Mino namun dia mendapatkan keinginannya yang lain, cinta orangtuanya.

"Sebelum aku pergi bisakah kau menolongku Hyung?"

"Apa? Katakan saja."

"Aku mohon kembalikan cinta orangtua Seungyoon kepadanya."

TOP tersenyum miring. "Bahkan kau masih peduli padanya, jika aku berhasil membawa Seungyoon kepadamu, apa kau tetap akan pergi?"

Mino terlihat berpikir. "Percuma saja jika aku kembali, Seungyoon sudah lupa kepadaku."

"Dia memang akan melupakanmu, tapi jika cintanya tulus, dia tidak akan lupa pada perasaannya." Mino terlihat sangat ragu. "Buatlah keputusan yang benar Song Minho."

Mino berdiri di hadapan TOP, jubah hitamnya telah ia tanggalkan. "Aku akan pergi ke dunia manusia."

"Bagus."

"Aku penasaran kenapa Hyung mau membantuku?"

"Aku hanya merasa—cintamu patut untuk diperjuangkan."

"Apa TOP hyung yang dingin telah berubah?"

TOP hanya tertawa hambar kemudian memberi Mino sebuah pelukan erat. "Semoga berhasil, dan semoga kau bahagia."

"Terima kasih banyak Hyung."

Waktu di dunia Elf dan manusia sangat berbeda, di dunia Elf mungkin waktu masih berjalan selama beberapa jam, namun di dunia manusia waktu sudah melewati dua musim. Seungyoon mengerucutkan bibirnya, sebal, ia telat naik bus. Karena Taehyun terlalu sibuk memadu kasih dengan Lee Seunghoon. Dan sekarang dirinya duduk di atas bangku panjang besi yang dingin menunggu bus terakhir.

Seorang diri, pantatnya kebas karena dingin, ia putuskan untuk mendengarkan lagu tanpa menggunakan earphone tak masalah toh halte sedang sepi. "Memutar musik dengan keras di tempat umum itu tidak sopan."

"Ah maaf!" pekik Seungyoon terkejut sekaligus malu, ia bermaksud untuk mematikan musik yang sedang didengarnya.

"Aku bercanda, lagu yang bagus aku tidak keberatan mendengarnya. Tapi di sini dingin sekali." Seungyoon menatap wajah seseorang yang mengajaknya berbicara, dia tampan dan tinggi, kulitnya kecoklatan.

Orang asing itu melepas syal yang melingkari lehernya. Kemudian menggunakan syal tersebut untuk melapisi bangku besi. "Duduklah, pasti dingin."

"Itu…," menduduki syal orang asing, tentu saja Seungyoon merasa tidak enak.

"Ayolah, aku memaksa." Ucap orang asing itu kemudian tersenyum ramah. Seungyoon bisa merasakan perasaan hangat yang kini menjalari tubuhnya, perasaan cinta dan seolah-olah kau telah menunggu orang itu begitu lama, seolah-olah kau mengenalnya sebaik teman lamamu. Seungyoon meurut ia berdiri dan kini duduk di atas bagian bangku yang terlapisi syal abu-abu, orang asing itu juga melakukan hal yang sama, lengan keduanya saling menyentuh. "Kau terlambat naik bus?"

"Ya."

"Aku juga." Seungyoon menoleh, ia melihat emblem pada mantel sekolah si orang asing.

"Hei, kita satu sekolah." Ucap Seungyoon.

"Benarkah?!" pekik si orang asing. Seungyoon mengangguk antusias ia buka tiga kancing teratas mantel musim dinginya, menunjukkan emblem yang sama. "Kau kelas berapa?"

"Dua."

"Aku tiga, pantas kita tidak bertemu." Seungyoon tersenyum maklum. "Mulai sekarang kita bisa berteman, apa kau setuju?"

"Tentu, namaku Kang Seungyoon—hyung, boleh aku memanggilmu Hyung?"

"Tentu saja, namaku Song Minho." Minho mengulurkan tangannya, Seungyoon menyambutnya dengan senyum lebar.

"Dia mungkin lupa akan dirimu, tapi dia tidak akan lupa akan perasaannya, datanglah, mulailah dari awal, dengan cara biasa." Ucapan TOP terngiang di dalam kepala Mino, ia genggam telapak tangan Seungyoon lebih erat dan tampaknya Seungyoon tak keberatan dengan itu. "Semoga kita bisa berteman baik, Kang Seungyoon," ucap Mino pelan.

THE END