The Paradox of Lost Complementary
Complementary
Present by RoséBear
[Part 4 : Path of Opportunity 180216]
18th Chapter - KaiSoo
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery
"Jika menggunakan bedah saraf maka kita harus memotong serabut saraf atau menggunakan sinar ultrasonik. Kau tahu jika pshycosurgery bisa sangat efektif untuk pasienmu tapi juga menjadi sangat tidak efektif."
"Kai aku membutuhkanmu, aku tahu kau pasti akan menolongnya."
Ini sudah tengah malam dan Kai hanya menghela napas beratnya. Di mana suasana rumah sakit terasa mencekam dan bagaimana dia masih harus mengatasi keinginan Kris untuk melakukan pshycosurgery terhadap seorang penderita Skizofrenia. Pasien itu telah menerima banyak pengobatan , rasanya sudah lima rumah sakit namun tidak ada yang berhasil dan Kris rasa dia tidak bisa ikut mengabaikan. Kai pikir dia harus melakukan ini. Episode terakhir yang di alami Tao membuatnya tidak bisa mundur lagi. Wanita itu terlalu sering mengalami episode.
"Baiklah. Untuk rencana awal kita hanya perlu melakukan sedikit pemotongan pada bagian otak. Aku pikir butuh satu minggu untuk melihat kondisi pasien ini meyakinkan atau tidak."
Ia mengehela napas berat sekali lagi. Rasanya begitu lelah tapi Kai menolak perasaan yang menghampiri. Ia tetap mengikuti Kris menuju departemen psikiatri. Pada satu ruangan yang menyala terang, seorang pasien masih terjaga. Dia sedang tidak dalam episodenya. Kai melirik bagaimana Kris memperhatikan wanita cantik yang kini menyapa keduanya. Tidak masalah, ini bukanlah masalah besar. Pikirnya segera.
Sudah terlalu lama dia tidak berjumpa dengan pasien sejenis ini. Ia mengecualikan Henry, Kai pikir lelaki itu harusnya mencoba psychosurgery untuk mengatasi komplusifnya. Tapi Kris berkata Ibunya menolak, dia tidak percaya pada dokter bedah. Jika salah, otak anaknya bisa dikontrol oleh sang dokter. Sama hal dengan ketakutan Kris pada awalnya, tapi ia percaya Kai bisa melakukannya. Ia sudah mengamati Kai sejak pria ini menjadi residen dr. Do.
Mereka hanya menyapa pasien sebentar lalu kemudian berjalan keluar. Dengan sekaleng minuman soda pada masing-masing tangan. Kedua pria ini sama-sama mendongak menatap langit untuk berbincang. Bulan sabit di atas sana seolah mengejek keduanya dengan lancang.
"Jika dia sembuh, Ayah mengizinkan aku menikahinya."
Kai melirik Kris. Pria itu tersenyum dengan senang. Membentuk bayangan yang menyenangkan atas masa depannya.
"Kau tahu, Ayahku pikir akan sulit untuk tinggal dengan pasien skizofrenia. Tapi aku tidak peduli, selama dia wanita yang kucintai, aku akan menjaganya. Hanya saja,,, ah! aku percaya operasi ini akan berhasil Kai. Bukankah menyenangkan memiliki pernikahan yang normal?"
"Ya." Dia hanya memberikan jawaban singkat. Di dalam otaknya tiba-tiba bergemuruh tentang Kyungsoo. Yang Kai takutkan Kyungsoo benar-benar menunggunya. Ia telah mematikan ponselnya untuk menghilangkan keraguan. Kai hanya butuh beberapa saat untuk sendirian. Dia selalu bisa mengatasi masalahnya. Ia telah memutuskan kekasih pertama atau mungkin dia yang telah ditinggalkan oleh kekasih pertamanya karena wanita itu berselingkuh.
Luhan.
Wanita itu sangat cantik, mempesona dan tidak ada yang sadar jika dia pernah menderita PTSD. Kai pikir hanya depresi biasa saja. Tapi Luhan mengalami hal luar biasa. Dia benar-benar akan menggoreskan pisau pada pergelangan tangannya.
Mereka berkencan setelah berteman sangat lama. Mungkin hanya Suho yang mengetahui jalinan kasih itu. Kai tidak memberitahu kakeknya karena ia takut kakeknya menolak sebab ibu Luhan bekerja pada kebun anggur mereka. Saat itu semua seperti drama picisan yang menyebalkan dalam hidupnya. Sampai ketika ibu Luhan menikah lagi dan Kai harus ditinggalkan oleh Luhan.
Dia pikir janji kencan yang di buat dalam jarak begitu jauh bisa mengobati rasa rindunya. Nyatanya menemukan Luhan berselingkuh membuatnya sadar. Penderita gangguang mental sangatlah membutuhkan kasih sayang. Kai tidak pernah mau mengoperasi pasien jenis ini. Ia pikir orang-orang di sekitarnya yang harus memberi terapi sendiri.
Tapi untuk kasus kali ini sedikit berbeda, Kris telah berjuang untuk orang yang dicintainya. Tidak ada yang salah jika pada akhirnya dia harus melakukan psychosurgery pada Tao.
~ RoséBear~
SPLASH
"Ya! Apa yang kau lakukan!?"
Seorang wanita modis berteriak pada Kyungsoo. Ia terkejut namun kemudian hanya bisa meminta maaf. Saat itu ibu Chanyeol segera menghampiri Kyungsoo. Membawa anak manis itu berlindung di belakangnya.
"Maafkan anak saya nyonya. Kami sungguh menyesal, akan saya keringkan pakaian anda. Sebagai gantinya..."
"Tidak! Tidak! Aku baik-baik saja. Maaf telah berteriak. Bisakah aku mendapatkan tempat makan dengan tenang?"
Ibu Chanyeol terdiam. Sedikit merasa lega karena perasaan pelanggan di kafe mereka segera membaik karena sebelumnya Kyungsoo tidak sengaja menumpahkan air ke pakaiannya. Ia segera meminta seorang pekerja membawa pelanggan itu pada meja yang diinginkannya. Tangan penuh keriput itu menarik Kyungsoo kebalik dapur penyajian.
"Maafkan aku bibi."
Tidak ada kemarahan setelah kalimat itu meluncur, yang ada justru rasa khawatir. Ia tekan kening Kyungsoo membuat wanita manis itu memejamkan mata erat.
"Kau tidak tidur semalaman? Ada apa?"
"Kai tidak pulang ke rumah."
Kyungsoo berbisik pelan. Wanita tua itu menghela napas. "Seharusnya kami katakan jika kembali tengah malam agar kau bisa kemari. Maaf membuatmu kesepian sayang."
Ia tarik Kyungsoo dalam pelukannya.
"Bukankah babak semi finalmu siang ini? Kau masih bisa istirahat di kamar Chanyeol. Dia akan kembali untuk menjemputmu nanti."
Tidak ada yang bisa Kyungsoo katakan kecuali ucapan terima kasih. Ia segera menurut dan melangkah menaiki tangga. Kamar Chanyeol selalu saja rapi, Kyungsoo terbiasa menggunakan kamar ini jika dia menginap sementara lelaki tinggi akan membentang kasur lipat di lantai.
Sebelum merebahkan diri ia mencoba permainan violinnya. Kyungsoo yakin itu terdengar hingga ke lantai pertama. Tapi dia telah bermain hampir satu malam penuh hingga tidak sadar melukai jari kirinya sendiri.
~ RoséBear~
Orang bilang Mahler Shympony no. 9 in D Major adalah alunan orkestra yang di buat Mahler dengan sangat indah. Jika di mainkan dengan Violin solo pun tidak menghilangkan gairah.
Gaun hitam seperti pengantar kematian. Tapi Kyungsoo tetap cantik dengan gaun itu. Maka dia akan sangat berterima kasih pada Baekhyun, walau wanita itu sedikit tergesa-gesa mendandani Kyungsoo. Tapi hasilnya simpel dan luar biasa.
Kini ia duduk di koridor backstage. Ya Tuhan. Kyungsoo telah disini hampir setengah jam dan dia masih merasa mual. Berkali-kali Chanyeol mengingatkan Kyungsoo jika ada Baekhyun dan dirinya. Tangannya gemetar dan dengan tidak sopan Chanyeol menarik tangan itu untuk menyentuh gelang pemberian Kai.
"Dia ada bersamamu."
Degh
Dari balik bulu mata lentiknya, Kyungsoo mengintip bagaimana Chanyeol memberi peringatan. Padahal lelaki itu tahu tadi malam Kai bahkan tidak pulang.
"Kau bilang mencintainya. Dia akan senang jika kau pulang dengan senyum di wajah. Kau adalah pemain violin solo terbaik. Kita bisa mengunjungi ibumu dan memberitahu segera betapa kau bahagia bermain violin. Paman dan Kai juga harus mendengarkan permainanmu."
Napasnya meluncur begitu halus. Rasa gugup yang tadi mengerubuni Kyungsoo perlahan menghilang. Ia peluk Chanyeol dan Baekhyun bersamaan.
"Kami akan ada di auditorium untuk menyaksikan penampilanmu."
Baekhyun bicara sembari memperlihatkan handycam miliknya. Memberitahu jika mereka akan merekam penampilan Kyungsoo kembali.
"Fighting Do Kyungsoo!"
Nomor urutnya di panggil hanya lima menit setelah Chanyeol dan Baekhyun pergi. Sekarang Kyungsoo telah berdiri di balik tirai. Setengah menit lagi sebelum kakinya harus melangkah ke balik tirai.
Panggung yang lebih luas dengan begitu banyak penonton dan lima juri serta seorang pria paruh baya menanti permainan Kyungsoo.
Parikian Chun.
Lelaki itu juga menantikan permainan Kyungsoo.
Mahler symphony no 9 adalah salah satu musik klasik terbaik hingga sekarang. Seperti mengantar kematian seseorang untuk dikenang. Sebab dari awal gesekan adalah alunan yang terlalu lembut dan tenang. Bersama rindu yang selalu terbayang, orang-orang menyebutnya 'Pure Heaven.'
Ah! Seperti merasakan malaikat membuat musik indah. Mengiring seseorang untuk meninggalkan dunia tanpa kesah.
When you listen carefully you can hear the 5 psychological stage of the death: deniel and isolation, anger, bargaining, depression and finally acceptance. Itu yang sering kita dengar tentang Syimphony no 9 karya Mahler.
Ketika Kyungsoo mengakhirinya, semua orang terdiam menikmati musik yang ia ciptakan. Napas pendek-pendek dan dia tersenyum bahagia. Musik ini berhasil menguras tenaganya.
Tepuk tangan luar biasa dan Kyungsoo tersenyum senang mendapati hasil perjuangan selama ini.
Panitia di belakang stage berkata, jika berhasil lolos maka dia akan menerima surat dalam satu minggu ini untuk mengikuti kompetisi final. Kyungsoo mengangguk senang menutupi kegugupan tentang informasi yang ia terima.
Ia segera keluar dari gedung ditemani Chanyeol dan Baekhyun. Kyungsoo memberitahu kedua temannya mengenai pengumuman dan babak final 20 hari dari sekarang.
Chanyeol menyerahkan tas Kyungsoo. "Tidakkah sebaiknya kau bertemu Kai? Bukankah dia bilang akan ke Gyeonggi? Kita hanya terlambat satu jam dari keinginannya bukan?"
Kyungsoo mengangguk sembari menyalakan ponsel miliknya yang mati sejak pagi. Karena pagi ini ketika mendapati Kai benar-benar tidak pulang, Kyungsoo segera mengirim pesan jika akan selesai sedikit sore. Dia sangat berharap jika Kai bisa menunggu karena lelaki itu hanya mengirim balasan singkat yang menyuruhnya untuk cepat pulang setelah kompetisi.
Ketika dinyalakan ponsel Kyungsoo tak berhenti berbunyi. Dering pesan masuk membuatnya terkejut. Ia panik seketika.
'Yixing noona ke rumah sakit pagi ini. Sepertinya dia akan melahirkan.'
'Pergilah ke rumah sakit. Kita berangkat setengah jam lagi.'
'Kenapa tidak membalas pesanku Kyungsoo?'
'Kita ke Gyeonggi sekarang!'
'Jika kau sudah mengaktifkan ponselmu. Segera ke rumah sakit temui aku.'
'Kakek mengalami serangan. Kau dimana?'
Pesan-pesan itu berasal dari Kai. Mungkin terkirim setelah dia mematikan ponselnya, Suho juga mengirim pesan kepadanya.
'Kyungsoo,bisakah kau menyetir untuk Kai? Kupikir dia tidak baik-baik saja.'
Pesan singkat yang membuat jantungnya berdegup kencang. Seperti terhempas ombak berkali-kali, tapi tak kunjung tumbang.
"Kyungsoo ada apa?" Panggilan Baekhyun menyadarkan Kyungsoo.
Kepala wanita itu terangkat pelan menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian. "Ki-kita ke rumah sakit sekarang."
"Apa? Apa yang terjadi?" Chanyeol setengah panik dan mengerem mobil cepat.
Dia tidak sanggup untuk menyampaikan. Hanya memperlihatkan pesan-pesan yang Kai kirimkan. Chanyeol segera mengecek ponselnya sendiri. Benar saja, ponsel di dalam ranselnya ternyata sejak siang tadi juga mendapat panggilan dan pesan serupa yang meminta Kyungsoo menemui Kai tapi tidak satupun dari mereka yang sadar akan itu.
Hari itu Kyungsoo merasa lelah luar biasa. Jantungnya dipompa begitu cepat.
Tidak ada satu orang pun yang bisa ia hubungi setelah pergi ke rumah sakit dan bertemu kepala perawat yang mengatakan jika Kai pergi tergesa-gesa tiga jam yang lalu.
Oh astaga! Tiga jam yang lalu Kyungsoo di mana? Kenapa dia tidak mengaktifkan ponselnya?
Tiga jam yang lalu? Bukankah dia menghabiskan waktu di taman kota sendirian sementara Chanyeol menjemput Baekhyun. Dia hanya ingin menenangkan diri sebelum perlombaan di mulai.
" Tenangkan dirimu Kyungsoo. Kita ke Gyeonggi sekarang. "
Saat itu Chanyeol segera membawa laju mobilnya ke Gyeonggi. Tidak ada satu orang yang bisa dihubungi. Telepon Kai tidak di angkat. Ponsel ayahnya tidak aktif begitupun dengan Suho. Sementara hanya orang-orang itu yang bisa memberi mereka kabar.
~ RoséBear~
Dia terlambat. Kakeknya di dalam ruangan masih bersama beberapa dokter, termasuk dr. Do yang segera pergi ketika mendapat panggilan. Sementara Suho menemani istrinya yang akan segera melahirkan.
Tubuhnya setengah bergetar, beberapa orang di depan ruangan juga menderita hal serupa dengan Kai walau tidak sedalam yang dirasakan pria tan ini.
"Kai..."
"Biarkan aku sendiri bibi."
Ia bahkan menolak tawaran nyonya Kang untuk memeluknya. Sebagai seorang dokter yang sering melihat pemandangan seperti ini di rumah sakit, Kai tetap merasa asing. Rasanya seperti ditimpa batu besar, seakan membuat tubunya terkapar.
Sore itu, suasana ruang tunggu rumah sakit begitu mencekam. Memang begitu pada umumnya di tambah keresahan oleh keluarga pasien. Di dalam sana, segerombolan dokter dan perawat sedang berjuang pempertahankan nyawa pasien. Sementara di bagian luar, terdengar harapan yang meminta hal sama.
Sore ini Kai terpaksa berada di ruang tunggu, sebab ia tidak bisa berada di dalam sebagai seorang dokter yang bisa saja berjuang membantu menyelamatkan sang kakek. Ini bukan tempatnya. Rumah sakit ini bukan tempat dia bekerja, sementara dr. Do memang telah mendapat izin sejak kakeknya dipindahkan kemari. Pria paruh baya itu bisa saja meminta Kai bergabung, tapi itu terlalu membahayakan jika melihat kondisi mental lelaki itu.
Dari semua keinginan, satu yang begitu Kai harapkan saat ini 'kakeknya bisa di selamatkan dari meja operasi'.
Saat itu dr. Do yang pertama keluar. Ia tersenyum namun begitu perih menatap Kai yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan.
"Kau tahu kakekmu menolak operasi bypass sejak awal. Dia berjanji melakukan terapi dengan obat-obatan dan mengubah prilaku hidup sehatnya..." ada jeda pada saat dia bicara pada Kai. "Dia ingin bertemu denganmu Kai."
"Kakek sadar?"
Pria tua itu mengangguk pelan, "Dia bisa mendengarkanmu."
Kai mengerti maksud perkataan direktur ini. Beberapa dokter dan perawat kemudian keluar dan melewati mereka. Wajah menyesal dan semua harus kembali pada tempatnya.
"Aku akan menemanimu. Bukankah sebaiknya kita masuk?"
Ia menurut. Mengikuti langkah dr. Do masuk dan melihat hidup kakeknya di sanggah dengan banyak alat rumah sakit.
Kai duduk di samping kakeknya. Tangan itu dengan lembut bergerak menyentuh kakeknya. Sementara dr. Do hanya bisa menyaksikan pemandangan itu.
"Kakek ingin mendengar pengakuanku? Aku tahu ini keinginan kakek. Sejak awal mendengar permintaan kakek untuk kembali ke Kota ini, ketika kakek bilang ingin melihat anak Suho di hari pertama dia lahir ke dunia ini. Pangeran kecil kakek sedang berjuang bersama Ibunya. Sejak pagi dia membuat sakit Yixing noona. Membuat resah sang Ayah dan pamannya. Kami berjanji dia akan tumbuh dengan sangat baik. Kami akan memastikan kehidupannya ada pada jalan yang tepat. Kakek jangan khawatir. Aku..." Lelaki itu menarik napas beberapa saat. "Aku juga akan baik-baik saja," Kai menganggukkan kepalanya. Mengatupkan gigi begitu rapat. Menahan diri agar tidak menangis.
"Kakek harus percaya padaku... Ka? Kakek!?"
Saat itu Kai berteriak kencang menyadari jemari yang ia sentuhan terkulai kemas. Sebagai dokter yang bertanggung jawab. dr. Do segera mengambil alih. Meminta tenaga bantuan dan dalam beberapa saat orang-orang itu kembali lalu membuat Kai tersingkir ke belakang.
Astaga! Dia bahkan belum mengatakan yang sebenarnya tentang pernikahannya dengan Kyungsoo. Sekarang rasa takut menyerang pria ini. Ia memejamkan mata erat.
'Kumohon, masih banyak yang belum kukatakan pada kakek.'
Pada era romantic, begitu banyak karya musik yang lahir dari tangan para genius musik. Mahler hanyalah salah satu dari banyak orang. Dia termasuk dalam komposer paling berpengaruh pada musik barat. Symphony no. 9 yang juga menjadi salah satu karya terakhir dan ia selesaikan secara utuh. Sebuah lagu yang mengalun dengan lembut namun membuat sesak. Seni tempatnya berpijak. Saat kita tidak bicara mengenai teori pada zaman romantik, sebab mengingat musik begitu bebas dengan alunan lembut. Menitikberatkan pada emosi dalam hal ini adalah sang komposer. Symphony no.9 seperti menarik seseorang pada kegelapan. Sebuah perpisahan menjadi krisis yang begitu buruk. Sungguh mahakarya yang sangat indah, ketika sebuah kehidupan meninggalkan kita. Kita tahu jika hidup adalah hadiah sempurna yang Tuhan berikan pada kita.
Saat itu Kai hanya bisa berdiam diri. Ia terlalu takut hingga membuat tubuhnya mengalami kram luar biasa. Matanya berusaha menampung air mata itu, menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Memupuk penyesalan di dalam diri.
"Kau bisa di sini. Aku akan mengurus semuanya."
Berapa banyak kenangan yang telah kau buat bersama seseorang? Tersenyum hingga menangis bersama.
Seberapa kuat kau berjuang pempertahankan seseorang? Hanya jika kau berjanji tidak akan mengecewakan.
Terkadang kita tenggelam dalam pikiran sendiri, merasa takut akan kegelapan padahal cahaya itu sendiri adalah kita.
05.43 PM
Musim dingin Korea Selatan.
23 December.
Seorang pria yang sangat mencintai istrinya, berhasil membangun kebun anggur untuk mendiang istrinya. Ia pensiun dari pekerjaannya lalu memilih merawat kebun anggur itu dengan penuh kasih sayang. Telah tinggal bersama kedua pria muda yang begitu dicintainya. Anggota keluarga yang sangat ingin dibahagiakan.
Lelaki itu tetap kuat ketika istrinya meninggal. Seorang anak laki-laki dan keinginan sang istri menjadi alasan agar ia bertahan hidup. Ketika putranya menikahi seorang wanita pemusik, ia begitu senang. Pada awalnya mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Lalu sebuah berita buruk menghampiri, wanita itu memiliki penyakit. Ia tetap bermain musik hingga kemudian melahirkan seorang anak laki-laki untuk kedua kalinya. Anggota keluarga semakin bertambah.
Anaknya ingin membangun rumah sendiri, ketika itu cucu pertamanya telah memasuki taman kanak-kanak dan memilih menemani pria paruh baya itu. Ibu dan adiknya sering kali berkunjung. Kemudian kondisi sang ibu semakin memburuk.
~ RoséBear~
Sudah terlalu lama sejak terakhir kali seorang anak lahir dalam keluarga ini. Pria tua itu telah melewati beberapa generasi.
Suho berlari dengan napas pendek-pendek menghampiri Kai. Yixing telah melahirkan walau harus melakukan operasi. Langkahnya menjadi pelan ketika melihat adiknya hanya duduk di koridor rumah sakit. Saat itu nyonya Kang menghampiri. Memberi berita terburuk dalam sejarah hidup Suho setelah ia pikir kabar siksaan yang Kai terima dari sang ibu adalah hal terburuk dalam hidupnya.
Ia tetap berjalan mendekat berdiri di hadapan Kai walau pandangannya ada pada ruang di mana kakeknya terbaring. Jemari tangannya terulur mengusap lembut rambut sang adik.
"Kau harus tenang, semua ini terjadi atas kehendak Tuhan."
Kai mendongak dan tersenyum canggung pada Suho. "Bagaimana anakmu hyung?" Dia mencoba menyuarakan isi hatinya.
"Bayi laki-laki yang sangat tampan seperti kakek. Kuberi dia nama Kim Anson."
Kai hanya mengangguk. Keduanya menghembuskan napas berat. Dalam kondisi seperti ini tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka tidak benar-benar menjadi dewasa sesungguhnya dalam lingkaran sebuah keluarga. Tiba-tiba ditinggalkan induknya, maka mereka berkesempatan untuk hilang arah.
"dr. Do telah mengurus kakek."
Kai memberitahu Suho segera. Beruntung sekali mereka lelaki tua itu sangat mengerti dan membantu segera.
~ RoséBear~
Kyungsoo tiba menjelang malam hari. Ia bertemu dengan sang Ayah saat menit pertama memasuki bangunan rumah sakit. Sang Ayah segera memeluk Kyungsoo erat.'Dia sedang dalam keadaan yang tidak baik.' Ayahnya berbisik.
Kyungsoo mengeratkan pelukannya.
"Tuan Kim akan sangat senang bila kau bisa menghibur Kai. Oh ya... Bayi Suho juga sudah lahir. Dia lelaki tampan, tampak seperti reinkarnasi tuan Kim."
Sekarang Kyungsoo mengerti maksud ayahnya. Apalagi melihat dokumen apa yang sedang diurus oleh ayahnya.
"Sayang, sebenarnya Ayah ingin bicara kepadamu. Tapi sepertinya kita bicara nanti saja."
Pria itu tersenyum menarik Kyungsoo sedikit menjauh. Ia menunduk untuk menyamakan tinggi badan mereka. "Pergilah temui dia."
Ia mengangguk paham. Membiarkan jemari lembut ayahnya menghapus air mata dan mengecup kening Kyungsoo penuh sayang.
Kyungsoo nyaris terjungkal karena berlari melewati koridor di rumah sakit. Ia melihat pria itu mengenakan kemeja hitam yang berantakan. Dasi longgar, rambut gelap yang tak beraturan. Terduduk di koridor rumah sakit. Beberapa orang bersamanya, tapi tidak ada yang berani mendekat.
"Kai." suara Kyungsoo seperti di telan tenggorokkannya sendiri.
Rasa marah, kesal dan putus asa terbenam dalam diri Kai. Menahan diri agar tidak mendorong wanita yang kini berdiri di hadapannya. Ia tahu wanita ini baru berlari karena napas pendek-pendeknya menghangatkan Kai. Ia mendongak , jelas tidak memiliki fokus pandangan.
"Kenapa kau baru datang sekarang?"
Tidak! Bukan hanya itu yang ingin Kai ucapkan. Lebih daripada darimana saja kau sayang? Aku menghubungimu! Apa musik begitu penting bagimu? Kau menyebalkan! Apa kau tahu aku membutuhkanmu. Aku ketakutan!
"Maafkan aku Kai."
Tapi suara lembut Kyungsoo melunturkan semua emosi yang dia punya. Tubuhnya condong ke depan. Membuat kepala terantuk perut Kyungsoo. Merasakan belaian lembut pada rambutnya. Lebih lembut dari apa yang dilakukan Suho sepuluh menit lalu.
"Maafkan aku."
Kai tidak tahu, kenapa dia harus selemah ini. Tangannya memeluk erat kedua paha Kyungsoo. Lelaki itu kemudian menangis dalam pelukan Kyungsoo.
Lima menit dalam kesenyapan, Kyungsoo bersuara dan dia duduk di sebelah Kai tanpa melepaskan pelukan pria itu. Membuat tangan Kai melingkari tubuhnya. Tubuh lelaki itu gemetar, menunduk berusaha menahan tangis yang sia-sia, pakaian Kyungsoo setengah basah karena air mata Kai, rambut panjang Kyungsoo melekat pada wajah Kai.
Bayi laki-laki itu lahir ke dunia dengan selamat dan terlihat begitu tampan. Matanya belum terbuka, tidak tahu tentang pendengarannya yang pasti dia merasakan seseorang berjongkok didekatnya. Mengusapkan jari telunjuk menyentuh sudut bibirnya.
"Kau sangat tampan, Anson-ie."
Bisikannya begitu lirih.
"Paman akan menjagamu. Jangan merengek, ibumu harus istirahat, Ayahmu juga masih sangat sibuk di luar sana."
Kai
Pria itu berjongkok di dekat bayi Suho. Ia tersenyum pada malaikat kecil yang kini bergerak-gerak mengecup ujung jari telunjuk Kai.
"Kai." suara Yixing membuat Kai menoleh ke belakang. Wanita itu sejak tadi terus memperhatikan adik iparnya. "Bisa berikan dia padaku?"
"Oh. Ya."
Kai sangat penurut. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh mungil Anson ke sebelah Yixing. Saat ini wanita itu telah di pindah ke ruang rawat inap setelah operasi. Sebagai seorang wanita yang baru melahirkan dengan cara operasi ia masih sangat lemah, tapi asupan nutrisi untuk anaknya yang ikut terkena dampak pembiusan sebelum operasi menjadi lebih penting. Kai memposisikan Anson di atas ranjang. Membuat Yixing mengempit bayi itu antara lengan dan badannya. Dalam posisi ini, mereka berhasil melindungi luka bekas operasi pada tubuh Yixing dan mengurangi beban pada bayi mungilnya.
"Sebaiknya kau bawa Kyungsoo pulang. Bibi Kang dan perawat rumah sakit akan menemaniku," Yixing menunjuk Kyungsoo dengan menggunakan pandangannya. Kai ikut melirik Kyungsoo. Setelah Chanyeol dan Baekhyun memutuskan membantu Suho mengurus pemakaman kakeknya. Kyungsoo ditinggalkan. Malam hari hampir lewat dan Kyungsoo terlelap di atas sofa kamar inap Yixing. Masih menggunakan gaun hitam tanpa lengan.
"Pulanglah, besok kalian menghadiri pemakaman kakek."
Lama Kai hanya diam tidak memberi jawaban apapun. Tentang proses pemakaman, dia sama sekali belum siap.
"Kai," Yixing mencoba mengingatkannya.
"Ya. Aku akan membawanya pulang."
Dia tersenyum. Seorang perawat segera mendekati Yixing, membantu membenarkan posisi Anson dalam himpitan Ibunya.
Ingin Kai membangunkan Kyungsoo tapi dia akan terlihat sangat jahat jika melakukan itu. Pada akhirnya ia gendong Kyungsoo bridal lalu membawanya keluar dari rumah sakit. Gadis itu tampak begitu lelah dan juga kedinginan.
~ RoséBear~
Kyungsoo terbangun ketika fajar menyingsing. Ia merasa pegal, menatap dirinya di balik selimut. Mengenakan sweater dan juga celana piyama milik Kai. Beberapa menit ia gunakan untuk menyadarkan diri.
Ia berada di kamar Kai, rumah dua lantai yang pernah ia tempati beberapa waktu lalu. Ia mengenakan pakaian suaminya, tentu saja karena dia tidak memiliki pakaian di sini.
"Nona sudah bangun?"
Seorang wanita masuk ke dalam kamar dan mengejutkan Kyungsoo. "Hari ini upacara pemakaman tuan Kim. Aku sudah siapkan pakaian nona."
"Kai?"
Bibi Kang tersenyum pada pertanyaan pertama wanita itu. Wanita tua itu telah kembali ke rumah atas permintaan Yixing.
"Tuan muda masih di ruang penyimpanan. Aku juga sudah siapkan pakaian untuk tuan muda. Tuan Suho bilang dia berangkat lebih dulu. Dia akan bertindak sebagai Sangju dalam pemakaman tuan Kim."
Kyungsoo mengangguk mencoba mengerti.
Hanya dalam hitungan menit dia telah sangat rapi mengenakan pakaian hitam. Langkahnya begitu pelan melewati tangga menuju ruang penyimpanan, sebab dia tahu Kai berada di sana.
"Kai." Kyungsoo berusaha memanggil pria itu. Tidak ada jawaban untuk panggilan selanjutnya.
"Astaga Kai!" Kyungsoo berseru. Ia berlari mendekat dan mendapati Kai mendongak menatapnya. Lelaki itu tersenyum miring pada kehadiran Kyungsoo.
"Berapa banyak yang telah kau habiskan!?"
Menyingkirkan botol wine dari atas meja dan segera menegakkan tubuh Kai. Mata dan ujung hidungnya memerah. Pria ini terlihat menyedihkan.
"Apa yang kau lakukan di sini Kyungsoo?"
Suara serak dan begitu dalam membuat tubuh Kyungsoo bergetar. Kai baru saja akan bangkit namun tubuhnya ambruk menimpa Kyungsoo.
"Kai."
Dengkuran halus menyadarkan Kyungsoo. Kai baru saja tertidur. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia mengambil ponsel dari saku celana Kai. Menyalakan ponsel itu dan dia beruntung karena ponsel itu tidak memiliki pola. Pada akhirnya dia menghubungi Suho. Meminta maaf kepada pria itu karena tidak bisa menjaga Kai.
'Jangan memaksakan diri. Banyak kerabat yang membantuku, datanglah kemari saat dia telah bangun Kyungsoo.'
Suho begitu tenang seolah dia benar-benar sudah siap melewati waktu seperti ini.
'Kami sedang mengatur peti mati di balik pertisi. Disini kakek begitu tampan.'
Pria itu kini terdengar menyedihkan. Hampir sama dengan Kai yang masih dalam pelukan Kyungsoo. Wanita itu terduduk di atas sofa kulit.
'Aku tutup panggilanmu Kyungsoo. Tolong jaga Kai, aku akan menunggu kalian.'
Wajah damai yang begitu tampan.
"Untuk pertama kalinya aku melihatmu menangis. Maafkan aku," Kyungsoo tidak bisa menahan dirinya. "Aku mencintaimu, kumohon jangan menyiksa diri Kai."
Siang perlahan menyapa, Kyungsoo telah membereskan ruang penyimpanan. Dia menunggu Kai terjaga dan lelaki itu bangun setelah dua jam terlelap. Tidak ada suara keluar dari mulutnya, ia berjalan melewati Kyungsoo. Bersiap diri dengan pakaian hitam. Topi rami serta pita hitam di lengannya. Kai mengendarai mobil dalam diam, tidak ada percakapan dengan Kyungsoo yang duduk di sebelahnya.
Mereka melihat Suho duduk di atas tikar kasar sebagai pemimpin upacara.
Dan selama tiga hari itu banyak pengunjung yang datang, mengenakan pakaian hitam serta menyampaikan doa. Mereka semua memberi penghormatan pada tuan Kim. Selama itu juga Suho hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka semua.
Kai memandang bukit keluarga miliknya. Di sana, nenek, Ayah, Ibunya telah lebih dulu disemayamkan. Kali ini kakek mereka juga diletakkan di sana.
~ RoséBear~
Pagi setelah pakaman selama tiga hari itu Kyungsoo terbangun tanpa Kai disebelahnya, dia telah tidur bersama pria tan itu di ruang penyimpanan selama dua malam. Ia pikir Kai ada di rumah, hasilnya dia menemukan Ayahnya sedang bicara bersama seorang pria. Kyungsoo pikir dia telah melihat pria ini beberapa kali di rumah sakit, pemakaman kakek Kai dan sekarang pagi ini.
"Kau sudah bangun sayang? Kai kembali ke Seoul sejam yang lalu."
Ia terdiam beberapa saat mendengar cerita ayahnya.
"Suho menjemput Yixing, kurasa mereka akan kembali beberapa menit lagi. Kai memintamu tetap berada di sini. Dia sudah menyiapkan pakaian untukmu."
Kyungsoo berjalan pelan, memeluk ayahnya begitu erat. "Ayah~"
"Maaf sayang. Kau merasa lelah? Ayah minta maaf padamu."
Kyungsoo berhasil menarik diri dari pelukan ayahnya tangan kuat yang terasa begitu lembut mengusap air matanya. "Jangan menangis lagi. Kai hanya butuh waktu sendiri, mungkin beberapa hari. Kau bisa kembali dua atau tiga hari lagi. Ayah memberitahumu karena Ayah pernah mengalami hal yang sama."
"A-ayah menghindariku..."
"Maaf. Tapi tidak akan lagi."
"Aku ingin kembali ke rumah," saat itu terucap begitu saja. Ia membuat dr. Do menatapnya bingung.
"Kyungsoo, ada yang ingin Ayah sampaikan padamu. Tapi sebelumnya perkenalkan dia Sehun. Oh Sehun."
Kyungsoo bahkan hampir lupa dengan keberadaan pria ini. Tampak lebih muda beberapa tahun dari Kyungsoo. "Ayah sudah bicara pada Kai. Dia belum memberitahumu?"
"Tentang apa?" Kyungsoo mulai fokus pada ucapan ayahnya.
"Bulan depan Ayah akan ke new York untuk menghadiri konferensi kedokteran. Tadinya ingin membawa Kai dan dirimu sebagai ganti bulan madu kalian. Tapi dia bilang kau terus lolos dalam kompetisimu. Lagipula kalian berencana pindah rumah akhir bulan depan."
Kyungsoo membenarkan. Ia tersenyum miris, izin pengajuan cutinya belum juga ditandatangani oleh Kai. Belum lagi Parikian Chun memintanya bergabung dalam pertunjukkan akhir bulan depan secara pribadi.
"Lalu pria ini?"
Kyungsoo membawa ayahnya untuk menjelaskan keberadaan Sehun. Mata bulat itu menyipit.
"Adikmu."
"..."
Alisnya terangkat, mulut terbuka dan kedua mata melebar mendengarkan satu kata pengakuan ayahnya. Ia berkedip dua kali dalam gerakan lambat, memutar kepala menatap Sehun yang kemudian tersenyum padanya. "Oh Sehun." Pria itu menyebutkan namanya sendiri.
Bukankah ayahnya bilang tidak menikah lagi? Tidak mencintai wanita lain selain Ibunya. Seingat Kyungsoo Ibunya hanya memiliki Kyungsoo sebagai anak.
"Sehun akan tinggal bersama Ayah agar kau tidak perlu khawatir tentang siapa yang akan bersama pria tua ini. Maaf baru memberitahumu sekarang sayang. Sehun baru menyetujui permintaan Ayah seminggu yang lalu."
Kyungsoo sedikit menjauh dari ayahnya, kini mereka memiliki jarak untuk saling melihat satu sama lain. Akibat ucapan ayahnya seperti ada aliran listrik yang mengalir di dalam tubuh Kyungsoo, kabar itu terlalu mengejutkan.
"Jangan salah paham Kyungsoo. Sehun hanya anak angkat Ayah. Ayahnya adalah teman sekolah Ayah."
"Ibu meningal ketika aku berumur sembilan tahun dan ayah meninggal sebulan lalu."
Kyungsoo menoleh menatap pria bersuara ringan di belakangnya. Sehun baru saja bicara pada Kyungsoo.
"Akhh maafkan aku. Hanya saja."
"Ayah yang harus minta maaf padamu karena tidak memberitahu terlebih dahulu. Tapi ini cara satu-satunya agar Sehun tidak hidup berpindah-pindah dari satu saudara ke saudara yang lain."
Maksud Kyungsoo. Bisakah ayahnya memilih waktu yang tepat? Tapi bagaimana mungkin Kyungsoo memberitahu ayahnya mengenai apa yang dia rasakan saat ini. Dia bisa mengubah senyum di wajah ayahnya dengan tatapan kecewa. Ayahnya begitu menyukai Kai, begitu juga dengan Kyungsoo.
"Ayah akan pergi ke New York bersama Sehun. Tidak akan sampai satu bulan."
Ia melihat ayahnya begitu senang. Begitu juga pemuda yang lebih muda.
'Kyungsoo, yang harus kau lakukan adalah menjadi anak baik.' Dia berusaha mengingatkan diri sendiri.
~ RoséBear~
Berapa lama waktu yang telah dia habiskan dengan membantu Yixing mengurus bayi kecil Anson. Ia terlelap, ponselnya berdering menunjukkan panggilan dari Chanyeol.
'Sudah satu minggu kau tinggal di Gyeonggi. Kau akan melewatkan tahun baru bersama kami?'
Ah! Benar sekali. Tahun baru?
Kyungsoo harus mengubur semua itu.
'Ayah bilang surat dari penyelenggara kompetisi itu datang ke rumah kami.'
Kyungsoo segera ingat jika dia menggunakan alamat keluarga Park saat mendaftarkan diri.
'Tapi Ayah meminta pengantar surat ke rumah yang kau tempati bersama Kai. Aku tidak memiliki kunci letterbox rumah kalian. Jadi aku tidak tahu hasilnya Kyungsoo.'
Kyungsoo terdiam sejenak.
'Aku juga tidak bisa bertemu dr. Kim. Dia sepertinya tidak pulang ke rumah.'
Degh
"Kyungsoo-ah, aku harus ke Seoul. Apa ada sesuatu yang kau inginkan?"
Saat itu Suho memanggil Kyungsoo. Lelaki itu berdiri hanya beberapa meter dari Kyungsoo.
To be continue...
Thank You.
RoséBear
