-Preview Chapter 18-
'Kenapa tidak membalas pesanku Kyungsoo?'
'Jika kau sudah mengaktifkan ponselmu. Segera ke rumah sakit temui aku.'
'Kakek mengalami serangan. Kau dimana?'
-'Kumohon, masih banyak yang belum kukatakan pada kakek.'
Kita tahu jika hidup adalah hadiah sempurna yang Tuhan berikan pada kita.
"Kenapa kau baru datang sekarang?"
Tidak! Bukan itu yang ingin Kai ucapkan. Lebih daripada darimana saja kau sayang? Aku menghubungimu! Apa musik begitu penting bagimu? Kau menyebalkan! Apa kau tahu aku membutuhkanmu. Aku ketakutan!
"Maafkan aku Kai."
The Paradox of Lost Complementary
Complementary
Present by RoséBear
[Part 4 : Path of Opportunity 180321]
19th Chapter - KaiSoo
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery
Memasuki musim dingin, salju tidak berhenti turun. Walau terkadang tidak dalam bentuk badai, hanya terpaan yang begitu ringan.
Kebun anggur yang tidak seberapa luas itu sedang mengalami masa dormant. Sebagai organisme hidup dia berhenti tumbuh untuk beberapa saat karena faktor musim.
Tapi jangan pikir kebun anggur itu mengikuti jejak pemiliknya. Sebab mereka akan kembali berkembang saat musim semi nanti tiba.
"Anson-ie," suara Kyungsoo terdengar begitu lembut ketika memanggil bayi mungil di dalam gendongan bibi Kang. "Auntie akan kembali lagi secepatnya. Sekarang auntie punya urusan. Jangan menyusahkan ibumu, anak pintar."
Yixing yang duduk di dekat mereka hanya tersenyum mendengar pesan Kyungsoo pada putranya. Bukankah Kyungsoo terdengar begitu manis. Tapi kenapa terselip kesedihan di dalam setiap kata yang dia ucapkan.
~ RoséBear~
Karena itu, Kyungsoo putuskan untuk kembali ke Seoul. Bukan sekedar memastikan pengumuman babak semi final. Tapi dia juga ingin mengetahui keberadaan Kai. Sepanjang perjalanan pulang bersama Suho, dosen tampan itu banyak bercerita dan mencoba tertawa walau tatapannya tak bisa berbohong. Masih tertinggal kesedihan dalam diri pria ini.
"Kai? Apa dia baik-baik saja?" Sedikit ragu namun Kyungsoo memastikan diri untuk bertanya membuat Suho meliriknya sebentar.
"Sudah empat hari kita tidak melihatnya bukan? Dia juga tidak menghubungi kita."
Suho benar, Kai menghindari keluarganya.
"Kyungsoo-ya, aku ingin memberitahumu satu hal. Kai pernah menghindari kami setelah kematian Ayah. Saat itu dia pikir Ayah kami bunuh diri. Hingga Kai sangat benci pada Ayah karena meninggalkan kami. Dia terus bersikeras jika ayah bunuh diri."
Pundak Kyungsoo terasa lemas. Bagaimana Suho bisa membicarakan ini tanpa ada pembatas. Tapi, apakah ada yang lebih pantas? Rasanya lebih baik Kyungsoo mendengarkan kisah tentang suaminya.
"Tapi sekitar dua minggu yang lalu kakek mengatakan yang sebenarnya padaku. Ya. Ternyata Ayah memang berniat bunuh diri. Melakukan kecelakaan tunggal agar tidak menyusahkan siapapun, karena ayah kehilangan wanita yang sangat dia cintai."
Ia melihat genggaman tangan Suho mengeras pada stir mobil. "Aku menyesal tidak mempercayai Kai. Rasanya sangat ingin marah pada kakek tapi kemudian kakek bilang jika awalnya Ayah memang berniat melakukan kecelakaan tunggal. Tapi hari itu, Kai kembali ke rumah dengan membawa piala kemenangannya. Sebenarnya bukan piala pertama, dia telah mengumpulkan puluhan piala dalam kompetisi piano. Hanya saja piala hari itu, pertama kalinya kompetsi selain piano. Kemenangannya dalam lomba sains. Dari dulu dia memang anak yang cerdas, dan ketika itu Ayah ingin meletakkan piala Kai pada makam ibu, tapi kecelakaan itu terjadi. Ayah koma selama tiga hari, dia sadar beberapa jam hingga kemudian benar-benar pergi meninggalkan kami selamanya."
Kyungsoo menarik tisu dan memberikannya pada Suho.
"Tidak perlu diteruskan, aku akan menemaninya. Aku berjanji tidak akan meninggalkannya."
Suho menggeleng pelan, "Aku tidak bisa menjelaskan lebih padamu. Aku hanya memintamu untuk sedikit lebih sabar."
~ RoséBear~
Rumah sakit itu tidaklah besar, namun cukup dikenal. Tidak terlalu luas namun cukup untuk menampung pasien rawat jalan dan rawat inap setiap harinya. Jumlah dokter dan perawat cukup dalam kesehariannya, sebab mereka menggunakan teknologi medis yang sangat modern.
Sebuah rumah sakit dengan beberapa departemen, di antaranya pusat rehabilitasi, pengobatan jantung, psikiatri, pengobatan anak, sakit mata dan THT.
Setiap tahunnya terjadi ribuan operasi, merupakan salah satu rumah sakit swasta yang setiap hari semakin berkembang secara kualitas maupun kuantitas. Tahun depan rumah sakit ini akan melanksanakan rencana pembangunkan gedung rumah sakit baru di sebuah daerah sub urban, lahan yang cukup luas untuk pusat pengobatan. Sebuah bangunan yang nanti dikhususkan untuk pengembangan penanganan penyakit saraf.
Seorang lelaki berdiri di taman rumah sakit. Memandang seorang psikiater bersama pasiennya.
Kai
Dia telah berdiri selama lima belas menit lebih mengamati perkembangan Tao yang sekarang sedang bersama Kris. Selama empat hari sejak kembali ke Seoul, dia menerima banyak laporan dari Kris mengenai Tao. Operasi yang akan dilakukan pada Tao bukanlah jenis operasi biasa. Dengan dukungan dr. Do juga mereka membentuk sebuah Tim, serta bantuan wakil direktur.
Kris berjalan menghampiri Kai, lelaki itu balas tersenyum setelah merasakan sekaleng minuman dingin menyentuh lengannya.
"Kau yakin akan melakukan operasi Tao lima hari lagi?"
Kai mengangguk pelan, "dr. Tan akan membantuku."
"Membantumu?" Kris tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya. Oh astaga! Betapa senang dia sekarang. Wakil direktur rumah sakit akan turun tangan membantu operasi Tao. "Bukan kau yang membantunya?" Kris masih tidak percaya ucapan Kai.
"Apa sebaiknya aku ke New York untuk menghadiri konferensi bersama direktur saja?"
"Ya! Ya! Maafkan aku Kai! Kau ketua Tim nya. Oke!"
Kai melirik malas Kris. Tapi kemudian dia tersenyum ketika Tao menghampiri dan meengampit lengan Kris. Menarik perhatian psikiater muda itu.
"Kris, mau makan siang bersamaku?"
Kris mengangguk pasti membuat Kai memilih menyingkir perlahan. Tidakkah sebaiknya dia kembali ke ruang kerjanya. Sementara tidak ada panggilan operasi maupun pekerjaan lain. Hanya ingin memejamkan matanya sebentar.
Ia berhasil membawa langkah kakinya tiba di ruangan. Mata Kai tertuju pada sebuah ponsel, seketika dinyalakan ponsel itu segera berdering.
'Kau sudah tiba di Seoul?'
'Jangan lupa makan.'
'Jangan gunakan bahan makanan di lemari pendingin. Aku mematikan aliran listriknya pagi itu.'
'Kau tidur dimana?'
'Kau sudah bekerja? Ingat untuk sarapan.'
Ia menunduk mendapati pesan dari Kyungsoo. Astaga! Wanita itu masih mengingatkannya untuk makan saat mereka memiliki jarak. Bukankah dia begitu jahat. Baru saja Kai ingin mematikan kembali ponselnya, sebuah pesan dari Suho masuk.
'Rumahmu sangat berantakan! Apa kau tidak pernah pulang atau memanggil petugas kebersihan? Haruskah Kyungsoo membersihkan rumah kalian sendirian? Aku tidak bisa membantu karena punya urusan pribadi di Seoul. Segeralah pulang dan tolong istrimu membersihkan rumah.'
~ RoséBear~
Sesuatu yang hangat dan membahagiakan berkembang dalam hati Kyungsoo. Rasanya tiga jam dia habiskan sekedar membersihkan rumah seorang diri. Sekarang benar-benar bersih terutama bagian dapur. Dia mengeluarkan semua sisa bahan makanan dari lemari pendingin. Satu jam ia habiskan sekedar duduk di sofa mengistirahatkan tubuh lelahnya. Kyungsoo tidak menemukan surat yang Chanyeol maksud di dalam letterbox di depan rumah.
"Apa Kai memgambilnya?"
Ia mulai bergumam tidak jelas atas pikiran barusan.
Ia memukul pelan bagian lutut karena merasa lelah. Tiba-tiba saja Kyungsoo ingin mencoba permainan violinnya. Sejak ditinggalkan Kai, dia memainkan violin untuk Anson dengan izin Yixing dan juga Suho. Sekarang Kyungsoo hanya ingin mengulangi permainannya. Ia mulai menguasai Caprice no.23 karya Paganini untuk violin solo. Hanya sebuah ketidaksengajaan tentang komponen di dalamnya.
Kyungsoo memainkan violin dalam posisi duduk. Tangan kanannya memegang erat busur violin yang selalu ia rawat.
Nada pertama mengalun dengan lembut, tarikan kedua mencobanya agar lebih berkonsentrasi. Musik ini menuntut jari kirinya agar bergeser ke leher violin.
"Awgh!" Gadis itu berteriak tanpa sadar ketika menggores jari kelingking kirinya. "Aishh!" Ia mendesis kesakitan.
Luka gores adalah hal biasa bagi seorang pemain violin amatiran sepertinya. Ia bergegas meletakkan violinnya. Mencuci tangan dan mengeringkan lukanya barulah Kyungsoo menempelkan plester. Sebagai seorang pemain violin, dia sudah terbiasa dengan cedera, rasa sakit pada area punggung, leher, bahu, pergelangan tangan, maupun jari-jarinya sendiri. Kyungsoo mengamati lukanya, hanya gores kecil seperti ini tidak akan menghalangi Kyungsoo. Saat itu ia berdiri di dapur dan baru sadar jika persediaan di lemari pendingin benar-benar kosong. Ia menyingkirkan semua bahan makanan hanya karena beberapa yang tidak layak namun menyebar pada bahan makanan yang lain. Bergegas ke kamar dan mengambil kartudebet milik Kai yang pernah dia terima.
'Kau tidak akan marah jika uangmu kugunakan untuk belanja bukan?'
Ia tersenyum membayangkan apa saja yang harus dia beli. Kyungsoo perlu berjalan kaki ke halte terdekat untuk menuju supermarket. Jika hanya ke mini market di dekat rumahnya, dia hanya akan mendapatkan beberapa bahan makanan instan saja. Dan wanita itu kini berjalan seorang diri.
Mendorong troli dan mulai berkeliling di dalam supermarket.
Jamur
Tahu
Roots vegetable
Telur
Meets
Peanuts
Vegetables
Fruits
Ia tersenyum ketika mengantre di kasir. Kyungsoo berhenti sebentar. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada Kai.
'Aku gunakan uangmu untuk berbelanja di supermarket biasa.'
Dengan begitu ia telah memberitahu Kai. Tapi hati wanita itu tak kunjung tenang. Ia kembali mengirim pesan pada Kai.
'Bisakah kau menjemputku? Belanjaannya banyak sekali.'
Tetap tidak ada balasan, panggilan Kyungsoo pun tidak tersambung. Pada akhirnya Kyungsoo mengangkat semua belanjaan itu sendiri. Ia pikir Kai pasti menyibukkan diri dengan bekerja untuk mengalihkan perhatian atas kematian sang kakek.
Gerbang rumah berderit. Wanita itu bersusah payah mengangkat satu persatu kantung belanjaan. Berada di rumah seorang diri, Kyungsoo memilih mengunci semua akses pintu dan jendela.
'Pulanglah untuk makan malam. Aku memasak banyak makanan untukmu.'
Entah itu adalah pesan keberapa yang dia kirim pada Kai. Namun tidak ada perasaan lelah untuk tetap menunggu.
Tahukah kau kenapa dia mampu menunggu begitu lama? Karena ia pikir memiliki harapan tentang menunggu seseorang. Bukan sekedar rasa khawatir yang tidak beralasan, bukan pula keegoisan semata. Tidak juga tentang mengasihani, tapi bicara bagaimana mencintai.
Dia sudah terbiasa hidup untuk menunggu kepulangan sang Ayah, berselang waktu dia memaksakan diri menunggu suaminya kembali terlepas dari apapun.
Pertanyaannya, sampai kapan dia akan menunggu? Ketika jam berputar membawa jarum pendek menyentuh angka sebelas. Sudah terlalu larut dan pintu tak kunjung berbunyi untuk memberitahu Kyungsoo seseorang seharusnya membuka pintu saat dia kembali.
Wanita itu masih memaksakan diri menahan laparnya. Pada akhirnya menelungkupkan kepalanya di atas meja makan. Saat itu pintu berderit, ingin rasanya Kyungsoo mendongak dan berlari karena ia tahu itu pasti adalah Kai. Tapi sekali saja Kyungsoo ingin Kai menyadari keberadaannya. Wanita itu berpura-pura tidur. Jantungnya berdegup cukup cepat. Sulit sekali mengendalikan bagian organ tubuh yang satu ini. Sekarang seperti sepasang mata sedang mengawasinya. Ya. pria itu berdiri setengah meter darinya. Terdengar helaan napas dan tubuhnya seperti melayang.
Hangat
Beberapa saat ia merasakan Kai menggendongnya. Kemudian tubuhnya menyentuh ranjang.
Lama dalam kesunyian Kyungsoo masih bertahan. Ia merasakan sisi ranjang di sebelahnya berderit. Aroma parfum milik Kai masih tersisa walaupun Kyungsoo yakin pria itu pasti sudah membersihkan diri. Terlalu larut dalam pikirannya, akhirnya wanita itu tertidur.
~ RoséBear~
Ia kemudian tersadar ketika terusik oleh sentuhan seseorang pada ujung jari. Mata bulat Kyungsoo berputar gelisah di balik kelopak matanya. Ia tidak bermaksud mengintip, tapi ia bisa tahu jika Kai menggantikan plester lukanya. Jika dia terbangun sekarang, Kyungsoo pikir itu akan menjadi sebuah kesalahan. Ia manetapkan hati untuk bertahan sebentar lagi. Sampai menyadari Kai beranjak dari tempatnya.
Rasanya lima menit berlalu dan Kyungsoo memberanikan diri bangun. Ia berharap Kai belum berangkat.
Kaki - kaki telanjangnya berjalan keluar kamar, menemukan Kai tampak sibuk di dapur mereka. Setidaknya ia senang, pria ini kembali ke rumah.
"Selamat pagi."
Lelaki itu terkejut karena sapaan mendadak Kyungsoo.
"Kau memanaskan supnya? Biar aku saja."
Dirinya pikir Kai masih sangat terluka. Lelaki itu bahkan tidak bicara saat menyerahkan spatula pada Kyungsoo. Duduk diam di depan meja makan menunggu istrinya menuangkan semangkuk sup panas.
Pagi itu mereka melewati sarapan dalam keheningan. Berkali-kali hembusan napas berat Kyungsoo meluncur dengan kurang sopannya. Dia harus bicara, bagaimanapun caranya Kai harus memberitahu Kyungsoo.
"Kai..."
"Aku tidak masalah kau menggunakan uangku."
"Ah!?" Sesaat Ia bingung Kai memotong ucapannya."ada yang mau kukatakan." Kyungsoo melanjutkan.
"Aku sudah memakan masakanmu."
Sekali lagi pria ini memotong ucapannya.
"Maksudku..."
"Lain kali tidak perlu menungguku pulang. Makan dan tidurlah di kamar."
"Kai!" Kyungsoo setengah berteriak.
"Aku mungkin akan pulang sangat malam. Jika tidak pulang aku akan memberitahu pelayan di rumahmu untuk kemari."
Kyungsoo menggigit bibir bawahnya kuat. Pria ini bicara tapi tidak sekalipun ia menaikkan pandangan.
"Lain kali masak untukmu sendiri. Jangan pedulikan aku."
"Kai! Kau mengambil semua surat di letterbox? Ada surat untukku."
Barulah kepala lelaki itu terdongak menatapnya.
"Aku selesai!"
Ia beranjak dari kursi tanpa sebuah jawaban. Meninggalkan sisa makanan beserta Kyungsoo.
"Kai! Aku menginginkannya."
Kai berbalik badan menatap Kyungsoo tajam. Detik berikutnya membuat Kyungsoo meragu.
"Surat pengumuman itu, bagaimana pun hasilnya. Aku ingin tahu."
Suara Kyungsoo berubah lirih.
"Ya. Kau lolos. Kau boleh melanjutkan ke final."
"La-lalu bagaimana dengan pengajuan izin cuti semester awalku?" ia bertanya karena penasaran, menyembunyikan perasaan senang karena diberitahu telah berhasil.
Kai menatap Kyungsoo tajam. "Untuk apa kau mengajukan cuti semester awal?"
Jemari wanita itu bertautan satu sama lain di bawah meja, ia mengigit bibir bawahnya pelan. "Tadinya aku berencana untuk mengikuti resital musik Henry. Tapi kemudian Parikian Chun, seorang komposer menawariku bergabung dalam pertunjukkannya yang dimulai pada bulan februari..."
Kyungsoo memejamkan matanya erat. Sekarang ia tahu Kai sedang dalam kondisi tidak terlalu baik untuk bicara. Gerakan menghindar itu terjadi secara reflek. Dia hanyalah gadis polos yang telah tumbuh dalam kasih sayang pelayan dan juga keluarga teman-temannya. Tidak pernah ada yang memarahinya sampai ia bertemu dengan Kai.
Kyungsoo bertahan memejamkan matanya sampai kemudian ia mendengar suara pintu tertutup. Napasnya meluncur begitu saja menyadari Kai telah menghilang dari balik pintu, –menghindarinya.
Baiklah! Tidak seharusnya dia berkata mengenai pertunjukkan padahal ia belum menyelesaikan kompetisi ini. Tidakkah Kyungsoo terdengar serakah jika begitu.
~ RoséBear~
31 desember. Malam pergantian tahun baru.
Malam akhir tahun Kyungsoo menyalakan televisi. Sejak dua jam yang lalu bahkan ia tidak sadar tentang acara apa yang telah ia tonton. Kemarin ia menyusahkan Chanyeol dengan mengunjungi gedung penyelenggaraan kompetisi. Mereka bilang Kyungsoo bisa melanjutkan jika menyerahkan kembali formulir yang telah dikirim panitia. Sementara ia yakin formulir itu berada di tangan Kai.
"Kyungsoo? Bagaimana dengan rencana bergabung dalam pertunjukkanku? Tidak peduli tentang hasil akhir kompetisi. Aku harap kau bisa bergabung untuk memulai latihan rutin. Tidak hanya di satu gedung pertunjukkan. Aku berharap bisa berkeliling Korea Selatan membawa anggota musikku hingga akhir musim semi nanti."
Bukankah tawaran itu terdengar sangatlah bagus untuk amatiran seperti kyungsoo?
"Argh!" Ia berteriak kesal karena begitu banyak keinginan Kyungsoo justru datang pada saat seperti ini.
Ponselnya berdering. Panggilan dari Chanyeol yang mengajaknya bergabung untuk merasakan tahun baru.
'Sampai bertemu besok siang!'
Kalimat pendek Kyungsoo tersebut sudah termasuk penolakan dalam rencana Chanyeol dan pertanda dia tidak ingin diganggu. Di hadapan meja hanya ada beberapa cookies yang semakin berkurang serta beberapa minuman kaleng dan... sebotol wine milik Kai.
'Kau tidak akan.....'
Kyungsoo membatalkan rangkaian kalimat yang ingin ia kirim pada Kai. Sudah pasti pria itu akan kembali tapi tidak tahu pada pukul berapa.
Pada saat seperti ini satu yang dia inginkan, menumbuhkan perasaan benci tapi sejak kecil dia tidak pernah diajarkan melakukan satu hal itu. Seberapa marahnya Kyungsoo pada sang ayah, dia menyayangi lelaki tua itu. Begitu juga terhadap Kai.
Sejak kapan perasaan itu semakin hari kian bertumbuh. Ia salah meletakkan tempat, terlalu cepat berkembang dan pada akhirnya mengakar dengan kuat.
Apa yang telah Kyungsoo harapkan? Apresiasi dari sang Ayah. Ayahnya tidak mempermasalahkan selama dia mendapat izin Kai. Walau sampai saat ini tidak sekalipun ayahnya melihat bagaimana Kyungsoo bermain violin di panggung pertunjukkan.
Apa yang Kai harapkan dari Kyungsoo? Kesehatan kakeknya? Lalu apa yang akan terjadi ketika pria tua itu telah tiada. Inilah yang Kai lakukan pada Kyungsoo.
Menghindar.
Tiba - tiba air mata mengalir menyadari kebodohannya. Kenapa dia bisa mencintai pria seperti Kai. Rasanya seperti menyakiti diri sendiri.
Tanpa sadar ia tertidur karena terlalu lelah. Begitulah Kyungsoo, dia tidak terbiasa sendirian hingga membuat matanya terus terjaga. Hanya saja, sesekali dia juga merasa lelah hingga memaksa tubuhnya untuk mengistirahatkan diri sendiri.
~ RoséBear~
Di malam tahun baru begitu banyak kesibukan. Seolah semua kecelakaan akibat jalan licin, kelalaian pengendara atau apapun lainnya telah berkompromi terlebih dahulu agar para korban bertemu pada satu malam itu.
Rumah sakit tempat Kai bekerja menjadi sangat sibuk, terutama bagian UGD. Tiba-tiba banyak pasien rawat jalan maupun rawat inap yang mendaftarkan diri akibat mengalami kecelakaan di satu malam yang terasa panjang.
Tak pelak dokter muda itu merasa lelah, dia telah bekerja keras di saat seperti ini. Pada saat orang-orang menikmati malam tahun baru mereka, dia harus menikmati kentalnya darah yang mengalir dari seorang korban penusukkan.
Bahkan seua dokter pun harus turun tangan malam ini. Semuanya menjadi begitu sibuk, perawat bolak balik menyiapkan semua kebutuhan pengobatan sementara para dokter berkonsentrasi menyelamatkan pasien.
"dr. Kim, are you okey?"
Sepanjang malam tanpa jeda istirahat. Mereka telah bekerja sangat keras.
"Minumlah, kau pasti sangat lelah."
Kai mengangguk menerima minuman dari kepala perawat.
"Selamat tahun baru," setengah sorakkan dan Kai membenarkan.
Sudah lewat empat jam sejak lonceng berdenting dengan kuat menandakan pergantian tahun.
"Kau akan pulang? Aku boleh menumpang?"
"Kau yang akan menyetir sampai tempat tinggalmu." Tawar Kai kemudian.
"Oh ayolah dr. Kim. Aku berniat menumpang agar tidak menyetir. Aku sangat lelah."
Mereka berdua sama-sama lelah. Kai memandang ponselnya, tiba-tiba saja dia ingat pada Kyungsoo! Astaga. Dia melupakan mengirim pesan pada pelayan rumah Kyungsoo ataupun pada istrinya sendiri untuk memiliki rencana pada malam tahun baru. Bukankah setiap awal tahun rumah sakit memang semakin sibuk.
"Maaf. Aku harus pulang segera."
Perasaannya setengah kacau. Bagaimana jika Kyungsoo menunggunya? Dia bajingan brengsek membuat istrinya harus menunggu setiap malam. Tubuh wanita itu juga semakin ringan setiap harinya. Karena dia tertidur setiap kali Kai pulang ke rumah.
Menembus malam, Kai menekan pedal gasnya. Jalanan sedikit lebih sepi. Mungkin manusia-manusia itu telah merasa lelah untuk berkeliaran setelah menimbulkan banyak kekacauan.
Napas Kai terputus-putus ketika sampai di rumah. Lampu di dalam belum dimatikan. Ia menekan kode akses dengan begitu pelan. Seakan terserang aliran listrik langkah kakinya terhenti.
Kyungsoo tertidur di atas sofa dengan televisi menyala, gadis itu hanya mengenakan kaos polos dan celana piyama seperti biasa. Makanan ringan berserakkan dan apa yang baru saja Kai lihat di lantai. Botol wine pecah membuat warna merah anggur mengotori lantai keramik sementara Kyungsoo tertidur, wajah wanita ini setengah memerah.
Dia demam
Ia pikir bukan sekedar karena anggur. Tapi benar-benar karena kelelahan.
Dihembuskannya napas pelan kemudian memindahkan Kyungsoo ke kamar. Menyeka keringat dan menggantikan pakaian Kyungsoo untuk membuatnya nyaman.
"Apa yang telah kulakukan padamu?"
'Peraturanmu membuatnya menderita.'
Saat itu perkataan Chanyeol terngiang dalam pikiran Kai.
"Aku menyakitimu?"
Pria itu merasakan suhu tubuh Kyungsoo dengan telapak tangan. Istrinya benar-benar demam.
Pikiran Kai membawanya keluar dari kamar. Mengambil tas kerja dan mengeluarkan beberapa berkas. Formulir pendaftaran babak final Kyungsoo, formulir pengajuan cuti semester awal. Surat permohonan bergabung dengan sebuah pertunjukkan yang akan dimulai pada akhir musim dingin hingga akhir musim semi yang akan menjadi alasan pengambilan cuti semester awal Kyungsoo.
"Haruskah aku melepasmu?"
Ia menoleh pada Kyungsoo yang terlelap. Meletakkan kertas itu di atas meja. Meninggalkan Kyungsoo untuk pergi ke kamar mandi. Lelaki itu bersiap diri, merapikan diri sendiri ternyata sangatlah sulit.
Beberapa hari tanpa Kyungsoo dia bahkan tidak mengenakan dasi. Lalu beberapa hari Kyungsoo kembali, wanita itu merawatnya. Menyiapkan makan malam walau terkadang ditemukan dalam keadaan dingin. Kai kembali duduk di sebelah Kyungsoo. Ada satu hal yang bisa dia lakukan. Mengisi semua formulir itu, ia juga menandatanganinya. Tidak ada alasan lagi untuk pempertahankan Kyungsoo. Sebaiknya Kai membebaskan Kyungsoo. Lagipula dia juga sudah mau menjalani pendidikan dokter walau harus tertunda satu semester. Kai yakin Ayahnya tidak bisa menolak permintaan Kyungsoo. Mereka hanya berperang mental tapi pada akhirnya sama-sama mengalah satu sama lain. Belum lagi mengenai sosok Sehun, seorang pemuda sekarang menjadi anak angkat Direktur. Mungkin Direktur akan sangat marah pada Kai karena melakukan ini, tapi jika dia menjelaskan semuanya nanti. Pria itu tidak memiliki hak untuk marah. Kai punya hak untuk tidak selalu bersama Kyungsoo. Mereka telah melengkapi keinginan satu sama lain. Tentang pernikahan ini? Bukankah tidak ada resepsi pernikahan? Walau sumpah yang telah terucap di hadapan Tuhan dan beberapa orang anggota keluarga. Biarlah dia menanggung pemberitaan di hadapan keluarga dan tidak melibatkan Kyungsoo lebih banyak lagi.
~ RoséBear~
Sudah jam tujuh pagi tapi langit masih gelap membuat musim dingin terdengar mengerikan.
Kai mengambil ponselnya. Mengirim pesan pada seseorang di luar sana.
"Kau kembali? Ekhh~"
Saat itu Kyungsoo terbangun. Kai segera membantunya untuk bersender di ranjang.
"Jangan banyak bergerak. Kau demam."
Dia bicara dengan kalimat pendek. Segera meletakkan kembali ponselnya, lelaki itu merasakan suhu tubuh Kyungsoo. Memberinya minuman mineral.
"Rumah sakit sangat sibuk pada malam tahun baru. Aku benar-benar lupa menghubungimu."
Lelaki itu sama sekali tidak berbohong. Dia tidak akan marah jika Kyungsoo menamparnya, mendorong tubuhnya ataupun menyiram air dari gelas ke hadapan Kai. Tapi apa yang dia dapatkan, belaian lembut pada wajahnya. Tangan Kyungsoo merapikan dasi yang Kai kenakan.
"Kau sudah akan berangkat kerja?"
"Ya." Ia menjawab pelan.
"Tidak bisakah kita bicara sebentar? Sebentar saja kau mendengarkan aku."
Kyungsoo benar-benar memohon kali ini. Pada akhirnya Kai tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia bergeser ke sisi ranjang untuk lebih dekat dengan Kyungsoo.
"Sudah kukatakan sebelumnya. Bicarakan apa yang ingin kau katakan. Aku akan mendengarkan."
Dia pernah berjanji seperti itu walau selanjutnya begitu sulit.
"Su-Suho bilang kau pernah bermain piano. Bahkan mendapat banyak piala dalam kompetisi."
Kai memandang Kyungsoo dingin. Mata kelamnya tak berkedip membuat Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Padahal wanita ini baru memulai, namun gerakan Kyungsoo segera menyadarkan Kai.
"Sudah kukatakan jangan menggigitnya Kyungsoo."
Jemarinya memisahkan bibir Kyungsoo. "Lanjutkan apa yang ingin kau katakan."
Dia hanya ingin mengetahui sejauh mana yang Kyungsoo tahu tentang dirinya. Sebanyak apa Suho bercerita kepada Kyungsoo, tapi pernyataan berikutnya mengejutkan Kai.
"Aku sama sekali tidak mengenalmu. Seberapa banyak informasi yang ada mereka terpotong-potong. Yang aku tahu, kau pernah bermain musik tapi kenapa kau harus melarangku? Maksudku... Kau membuatku bingung Kai."
Lelaki itu masih bertahan untuk mendengarkan perasaan frustasi Kyungsoo. Dia telah berjanji dan harus menepati janjinya. Kini Kyungsoo terlihat setengah gelisah. "Kai... Aku benar-benar tidak mengerti... Bisakah kita akhiri semua ini? Aku... Aku sangat lelah. Kau begitu baik padaku. Aku sangat berterima kasih, kau membuatku mengenal musik lebih jauh hingga mengikuti kompetisi ini. Maksudku... Aku sungguh tidak ingin mengganggumu. Tapi..."
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Pada siapapun tentang diriku. Maaf."
Untuk pertama kalinya Kai mengatakan maaf kepada Kyungsoo secara langsung.
"Kai, aku belum selesai bicara."
"Aku tahu apa maksudmu Kyungsoo. Semua yang kau butuhkan ada di sini," lagi-lagi Kai memotong ucapan Kyungsoo. Ia juga menyerahkan berkas yang seharusnya dimiliki Kyungsoo.
"Berjuanglah untuk masa depanmu, juga musikmu. Aku tidak akan menghalanginya. Aku juga akan bertanggung jawab pada Ayahmu."
Kyungsoo membaca bagian atas kertas-kertas itu. Tanpa sadar ia tersenyum membawa pandangan menatap Kai.
"Ya Kyungsoo. Kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan. Kau juga harus tahu jika Ayahmu sangat mencintaimu, tapi aku kesulitan."
Degh
Mendengar kalimat terakhir membuat Kyungsoo terdiam. Senyumnya yang hanya beberapa detik memudar dengan cepat.
"Seperti perkataanku sebelum kita menikah. Aku akan menuruti keinginanmu tanpa memikirkannya selama itu tidak berhubungan dengan musik di hadapanku. Aku tidak akan melarang lagi mulai sekarang. Ini kunci rumah yang telah di renovasi. Kau berhak menempatinya. Temanmu akan kemari mengurusmu. Beristirahatlah agar kau bisa berlatih dengan baik."
"Kai!?" Kyungsoo setengah berteriak saat Kai beranjak dari tempat duduknya. Lelaki itu menoleh sebentar. "Jangan memanggilku lagi. Aku hanya bisa mengancam dan mengekangmu saja."
~ RoséBear~
Kau adalah pria bodoh, lebih bodoh lagi karena ada wanita yang mencintaimu.
Pagi pertama di tahun baru langit menumpahkan salju yang mulai menumpuk di beberapa bagian sudut kota. Jalanan menjadi licin, tersisa beberapa bekas perayaan tahun baru. Dinas kebersihan bekerja keras menyingkirkan salju dan juga sampah di sepanjang jalan.
Pria tinggi itu berlari tergesa-gesa. Ia menekan kode akses ke dalam rumah yang ditempati Kyungsoo setelah menerima sebuah pesan singkat.
'Kyungsoo sakit. Kuharap kau bisa mengurusnya sebagai seorang saudara. 011214. Itu kode akses rumah kami.'
'Dokter brengsek itu!' dia telah mengumpat sepanjang perjalanan kemari.
"Kyungsoo!?"
Chanyeol.
Pria itu berlari sembari mengedarkan pandangannya. Tangannya membuka segera pintu kamar dan menemukan Kyungsoo menangis di atas ranjang. Wajah memerah dan pandangan sayu menatap kehadirannya.
"Chan~"
Wajah Chanyeol mengeras merasakan rengekan Kyungsoo. Secara umur, pertumbuhan badan serta jalan pemikiran, Chanyeol lebih dewasa dari Kyungsoo. Ia memeluk Kyungsoo lembut, mengusap rambutnya yang setengah berantakan. Tubuh wanita itu juga terasa panas.
"Ada apa? Kenapa menangis? Kai memberitahuku kau sakit. Apa yang terjadi? Dia menyakitimu?" tumpah sudah keingintahuan Chanyeol.
Lama dia menunggu agar Kyungsoo berhenti menangis. Walau masih sesegukan ia merasakan pelukan Kyungsoo mengendur.
Tatapan mata bulat itu seperti anak anjing yang telah ditelantarkan di bawah hujan salju. Membutuhkan kehangatan.
"Kyung? Kumohon beritahu aku."
"Di-dia bilang akan melepaskan aku"
Kyungsoo mengeratkan kembali pelukannya membuat tubuh Chanyeol terpundur hingga hampir terjatuh.
Otaknya yang tak secerdas Kyungsoo dipaksa untuk berpikir lebih cepat. Memahami arti ucapan Kyungsoo yang singkat.
~ RoséBear~
Pagi itu Chanyeol mengemasi pakaian Kyungsoo. Membawa koper berisikan barang-barang Kyungsoo. Dia sangat marah, bagaimanapun wanita ini sudah seperti saudaranya. Amarahnya pun terbakar mendengar Kyungsoo terus disakiti Kai padahal dia sudah memberi peringatan keras pada dokter muda itu.
Ketika masih kecil, sama seperti anak-anak lain. Mereka bermain bertiga, saling mengejek satu sama lain. Ketika ibu Kyungsoo meninggal lalu Baekhyun juga meninggalkan mereka. Saat itu masa tersulit untuk Chanyeol dan Kyungsoo.
Lebih buruk ketika Chanyeol mengalami kecelakaan parah. Saat itu mereka baru menginjak semester awal sekolah menengah. Kyungsoo memohon dengan sangat pada ayahnya agar menyelamatkan pria itu. Chanyeol yang kekurangan darah harus menerima transfusi darah dari Kyungsoo. Ikatan mereka semakin kuat saja sejak saat itu.
Ketika keadaan sudah sedikit lebih tenang, ia meletakkan nampan makanan di hadapan Kyungsoo. Saat itu kafe keluarga Park memang tutup karena Tahun baru. Ayah, dan ibunya ikut prihatin melihat kondisi Kyungsoo.
Sayangnya mereka tidak bercerita, semua hanya disimpan berdua.
"Setelah makan, kau bisa istirahat di kamarku. Tapi makanlah terlebih dahulu."
Kyungsoo menatap Chanyeol.
"Maaf merepotkan."
"Lebih baik. Ayahmu akan berangkat ke New York?"
Ia mengangguk pelan. "Satu jam lagi."
"Tidakkah kau ingin membicarakannya pada ayahmu?"
Kyungsoo menggeleng. Ayahnya pasti akan sangat kecewa. Entah itu pada dirinya atau Kai. Ia tarik ujung kemeja yang digunakan Chanyeol.
Sedikit mendongak, ia berkata "Bisakah aku memperbaiki hubungan dengan Kai jika kukatakan menyukainya?"
Chanyeol menarik kursi. Duduk di depan Kyungsoo dan mendorong kepala wanita itu dengan jari telunjuk. "Lalu melepas musik selamanya? Aku tidak setuju! Pria itu hanya akan menyakitimu. Dia pengecut! Bahkan tidak ada alasan untukmu mempertimbangkannya."
Kyungsoo mempout bibirnya lucu. Alisnya berkerut menatap Chanyeol. Dia merasa percuma bicara pada Chanyeol. Bukankah mereka kumpulan orang-orang keras kepala.
Kyungsoo mengeluarkan sebuah map dari tas violin yang dia bawa. Ia menunjukkan pada Chanyeol. "Kai yang mengisinya."
Alis Chanyeol berkerut membaca berkas yang Kyungsoo berikan. Formulir pendaftaran final kompetisi violin yang Kyungsoo ikuti, formulir pengajuan cuti semester awal pada universitas di mana Kyungsoo diterima, lalu formulir pendaftaran keikutsertaan dalam pertunjukkan keliling Parikian Chun. Mata pria itu membulat sempurna. Lebih terkejut saat membaca tulisan tangan Kai yang begitu rapi pada sebuah kolom di formulir pendaftaran final. Ia melingkari nama Paganini. Lalu menulis...
'Caprice for solo Violin, Op. 1 No. 23 in E flat Major (Posato)'
"Bagaimana si bodoh itu menginginkan perpisahan yang sangat manis denganmu?" Chanyeol tersenyum mengejek. Ia menatap Kyungsoo dan menyesal dengan kata-kata kasarnya.
"Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang? Aku akan membantumu."
Kyungsoo menatap Chanyeol lembut atas pertanyaannya. "Bukankah aku harus menjalani hidupku?" Kyungsoo menghembuskan napas berat. "Aku akan tetap melanjutkan kompetisi itu. Jadi kau mau membantuku kan?"
"Dengan musik ini?" Chanyeol bertanya.
"Ya."
~ RoséBear~
Untuk menunjukkan perhatian dan cinta, seseorang harus berjuang. Sekecil apapun, hasilnya harus diusahakan sebaik mungkin. Pada tahun-tahun penuh pengharapan dan seberapa besar jumlah usaha yang dia lakukan. Waktu akan terus berlalu.
"Kyungsoo aku benar-benar minta maaf!"
"CHAN!"
Wanita itu berteriak nyaring pada sosok Chanyeol.
Rumah itu seperti biasanya, riuh dengan suara teriakan Chanyeol dan Kyungsoo hampir di setiap hari belakangan ini. Kondisi Baekhyun di luar kota membuat Chanyeol memiliki banyak waktu kosong. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga dan juga Kyungsoo. Lelaki itu membentang kasur lipat pada studio kecil miliknya di lantai pertama pada malam hari.
Bibi Park hanya menggelengkan kepala dengan kedua anak itu. Sudah berapa lama sejak terakhir kali Kyungsoo menginap selama ini? Mungkin beberapa tahun yang lalu. Ah! Dua tahun lebih ketika dia melarikan diri menolak mengikuti ujian. Selebih dari itu Kyungsoo hanya menginap untuk satu malam.
"Aku akan menggantinya! Aku berjanji padamu! Kau dapatkan violin barumu sebelum kompetisi!"
Violin baru?
Kyungsoo menghela napas panjang atas kebodohan Park Chanyeol yang sulit dimaafkan. Tapi dia juga harus menyadari jika violin ini sudah terlalu tua dan meminta kotak kaca untuk tempat beristirahat selamanya. Chanyeol benar-benar tidak sengaja pagi itu ingin membangunkan Kyungsoo. Ia hanya berniat mengucapkan selamat ulang tahun pada Kyungsoo tapi ternyata terlalu fokus pada gulungan selimut di atas kasur ia tidak sengaja menginjak violin Kyungsoo yang tergeletak di atas karpet. Rupanya wanita itu telah bangun meninggalkan bantal tergulung selimut dan berada di kamar mandi untuk membasahi handuk tangan agar ia bisa membersihkan violinnya.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat untuk satu malam. Besok kita bertemu di perlombaan. Jangan terlambat dan bawa violin baru untukku."
"Kau mau kemana? Bicara dengan ibumu? Aku akan mengantar."
Kyungsoo menggeleng pelan.
"Halte terakhir?"
Kyungsoo terkekeh pelan. "Tidak! Jangan bertanya lagi atau aku akan memukulmu! Violin itu anggap saja hadiah untuk ulang tahunku!"
To be Continue...
Terima kasih karena kalian sudah sampai pada bagian ini.
RoséBear
