-Preview chpater 19-
"Jangan memanggilku lagi. Aku hanya bisa mengancam dan mengekangmu saja."
"Kyung? Kumohon beritahu aku."
"Di-dia bilang akan melepaskan aku"
"Aku ingin pergi ke suatu tempat untuk satu malam. Besok kita bertemu di perlombaan. Jangan terlambat dan bawa violin baru untukku."
The Paradox of Lost Complementary
Complementary
Present by RoséBear
[Part 4 : Path of Opportunity 180415
20th Chapter - KaiSoo
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery
Matahari musim panas bersinar begitu terik, anak lelaki itu menginginkan piknik. Dia akhir musim panas, di akhir pekan itu juga dia sangat ingin bermain bersama saudara laki-lakinya, keduanya jelas terlihat seperti kakak beradik. Mengabaikan luka di jari tangan, -Kai- Anak laki-laki itu dengan semangat menyanyikan lagu musim panas sepanjang perjalanan ke rumah sang kakek walau harus mengganti lirik.
Libur musim panas tahun pertama dia di taman kanak-kanak, pertemuan pertama dengan seorang anak perempuan yang baru dibawa pindah oleh kakeknya ke kebun anggur keluarga mereka. Awalnya mereka sama sekali tidak bicara, tapi perlahan menjadi teman lalu ikatan itu semakin erat saja.
Anak perempuan itu banyak membaca, dia memberitahu Kai banyak hal tentang perjalanan yang sejauh ini ia lakukan. Gadis yang berani mengungkapkan apa yang dia suka dan tidak sukai. Anak perempuan pemberani dan juga tangguh.
Mereka menjadi teman.
Lalu tahun-tahun berlalu. Ia tidak hanya menanti musim panas untuk bersama saudara, tapi juga gadis itu. Selalu bersama ketika Kai berkunjung ke rumah kakeknya. Walau kegiatan mereka sekedar bermain di danau buatan atau sampai berendam di sana saat musim dingin tiba.
Selain itu, sejak kecil ada hal yang paling dia cintainya. Kai kecil sering mengikuti kompetisi piano, dia selalu pulang dengan membawa piala kompetisi. Ada alasan untuk bermain musik.
Ibunya
Wanita cantik yang telah melahirkan Suho dan Kai. Mengajari Kai bermain piano, mengenalkan musik begitu dalam. Hampir setiap hari dia berlatih tanpa mengenal rasa lelah. Terkadang seperti anak laki-laki pada umumnya, Kai menangis karena rasa perih di jarinya. Tapi jika dia mengeluh, Ibunya akan merasa tersakiti. Ia bisa melihat dari ekspresi kesedihan di wajah sang ibu.
Satu hari, di mana ibunya memberitahu Kai untuk mengikuti sebuah kompetisi piano di saat dia ingin menunjukkan hal lain kepada sang ibu. Hal lain yang telah diajarkan teman perempuannya.
Kompetisi itu sebelum libur musim panas berlangsung. Ia pikir melewatkan satu kompetisi tidak akan menjadi masalah. Nyatanya ia melihat sisi lain sang ibu.
Untuk pertama kali Kai melihat,,, ibunya mengerikan. Wanita yang telah mengajarinya itu memliki sesuatu yang baru dia sadari saat berada di luar zona kenyamanan untuk sang Ibu.
Dia bermain piano, mengikuti setiap kompetisi. Bukan untuk melatih diri, melainkan sebuah dorongan untuk menghilangkan rasa takut yang dimiliki sang Ibu. Sesuatu yang tidak masuk akal, pada akhirnya telah menyiksa Kai.
Ibunya, wanita itu menderita obsessive compulsif disorder. Penyakitnya semakin parah sejak menyadari kemampuan Kai, atau tepatnya sejak kemenangan pertama Kai.
Namun hari itu, karena sebuah kesalahan dia gagal. Ibunya menjadi sangat cemas, marah dan meluapkan semuanya kepada Kai. Padahal yang dia butuhkan hanya dua kalimat pendek akibat kegagalan itu.
"Tidak apa Kai, kau sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih telah bermain musik untuk Ibu.'
Kalimat manis itu tidak dia dapatkan. Yang ada sebuah kondisi tidak menyenangkan.
"Bagaimana kau bisa melakukan kesalahan hingga kalah!?"
Membuat ia dipermalukan, hingga menangis tersendu-sendu lalu melarikan diri ke rumah kakeknya. Ia bahkan tidak ingin bertemu sang ibu walau anggota keluarga yang lain membujuknya.
Hari itu, seperti sebuah tragedi. Pagi hari anak perempuan itu bicara pada Kai walau terhalang oleh pintu kamar. Ia berbicara banyak hal hingga siang hari.
Ketika sore hari, Ibunya yang terlihat sedikit lebih tenang kemudian datang. Selama ini wanita itu menggunakan kursi roda untuk waktu bertahun-tahun lamanya. Ia mencoba melepas kursi roda agar bisa berjalan menaiki tangga menemui putra tersayangnya. Menyentuh dinginnya lantai rumah.
"Kai-ah, ibu ingin bicara padamu."
Suaranya mengalun begitu lembut.
"Kai-ah, kalau kau tidak membukakan pintu segera," Ada jeda pada kalimat itu.
"... ibu akan meninggalkanmu selamanya."
Sebuah ancaman yang untuk anak seusianya terdengar sangat menakutkan. Ia perlahan keluar dan melotot pada Ibunya. Saat itu rasanya ia kembali mendongak untuk menatap sang ibu yang berdiri. Jelas ada kekhawatiran di dalam diri agar tidak ditinggalkan.
"Aku tidak mau bermain piano lagi!" Ia berteriak hingga suaranya terdengar ke lantai bawah.
"Lalu apa yang akan kau mainkan?"
Kai terdiam karena tidak menyangka tentang pertanyaan sang ibu. Ia pikir Ibunya akan meminta maaf.
"Jika kau terus bermain seperti itu. Kau tidak akan pernah menang kompetisi manapun lagi. Kau harusnya menyadari itu!"
Karena permulaan hari itu adalah sebuah kengerian yang tidak mampu tertahan oleh diri. Sebab hidup tanpa musik adalah sebuah kesalahpahaman yang memerangkapkan seseorang di dalam keindahan seni.
"Aku membenci ibu!"
Kai berteriak sangat lantang. Napasnya pendek-pendek, mata kelam itu mengisyaratkan pemberontakan yang ingin dia lakukan.
"Setiap hari aku bermain piano bersamamu. Setiap hari juga kau memukul jariku. Kau tidak pernah bertanya bagaimana perasaanku terhadap musik dan dirimu. Kau adalah ibu terburuk yang pernah ada!" Sekarang dia mulai terisak. Sebab kata yang keluar bukan berasal dari dalam hatinya.
"Kau tidak pernah memujiku. Kau bahkan tidak pernah berterima kasih atas musik yang kumainkan."
Hingga matahari menjadi begitu terik, seakan nada-nada menghasut dengan berbisik. Menghancurkan tembok pembatas rasa kesopanan tanpa pemilik.
Tangisnya semakin pecah.
"Apa yang membuatmu begini Kai-ah!?"
"Ibu Luhan selalu memujinya. Kakek juga tidak pernah memukul Suho, kakek selalu berterima kasih atas kehadiran Suho di sini. Tapi kenapa ibu melakukan ini kepadaku?"
Saat itu Kai berlari meninggalkan Ibunya. Menuruni anak tangga dan menatap tajam anggota keluarga yang ada di bawah sembari berteriak jika dia tidak ingin bermain piano lagi.
Tidak pernah ada yang menduga hal itu akan terjadi. Ibunya berusaha mengejar, sayang kakinya yang lemah membuatnya terpeleset dan berguling dari tangga.
"Ibu!"
Suho yang pertama menyadari dan disusul anggota keluarga yang lain kemudian mereka melarikan wanita itu ke rumah sakit.
Sayangnya Tuhan berkehendak lain. Ibu mereka meninggal.
Ketika pemakaman, Kai menolak bergabung, dia bersembunyi di ruang penyimpanan. Saat itu, Suho yang pertama kali dan dia mencari keberadaan adik lelakinya.
"Maafkan aku Kai. Aku tidak tahu jika rencana pemberontakan itu berakhir seperti ini."
Suara anak perempuan itu. Suho yang berdiri di balik pintu hanya diam. Dia sudah cukup dewasa untuk bisa menahan diri. Kakeknya telah mengajari banyak hal tentang kesabaran.
"Aku benar-benar minta maaf padamu. Kupikir bibi akan bertindak sama seperti ibuku."
Suaranya masih berusaha meminta maaf. "Ibu selalu menuruti permintaanku. Dia tidak pernah menyakitiku."
Satu hal yang Suho pelajari, jangan pernah samakan setiap anggota keluarga kita dengan orang lain.
"Lu, berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku."
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji padamu. Apa yang kau inginkan?" Anak perempuan itu bertanya lembut.
Suho meninggalkan mereka, ia pikir setidaknya Kai menjadi sedikit lebih tenang.
Beberapa minggu berlalu begitu cepat, walau masih dalam suasana berduka. Tapi satu hal yang diharapkan anggota keluarga. Kai kembali bicara pada mereka. Sebab dengan dia menghindar, mereka sadar jika itu menyakiti dirinya sendiri. Menyakti Kai secara fisik maupun mental.
Saat itu pesta tahunan keluarga.
"Aku tidak ingin ada musik!" Dia membuat bingung satu meja makan karena ucapannya yang mendadak. Sebab begitu lama tidak mendengarnya bicara.
"Ya."
Kakek mereka langsung menyetujui begitu saja. Tahun itu menjadi tahun tersuram bagi keluarga Kim. Pesta tahunan menjadi seperti acara kematian.
Kai mulai tinggal bersama kakeknya, sementara sang Ayah menyibukkan diri bekerja, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang penyimpanan membagi botol-botol wine. Kakek yang baru pensiun memiliki waktu luang bersama kedua cucunya. Mengajari mereka banyak hal dari berbagai buku yang dia beli.
Untuk keluar dari kesedihan itu, dia teringat tentang lomba sains di sekolahnya, ia mencoba dan segera kembali membawa piala kemenangan. Lalu tragedi itu terjadi. Ketika ayahnya meninggal dalam kecelakaan.
Selang beberapa tahun Suho melihat Kai bergandengan tangan dengan Luhan. Akhirnya dia menyadari, adiknya bisa sedikit tersenyum karena anak perempuan itu. Tapi kemudian ibu Luhan menikah dan meninggalkan Gyeonggi. Kai masih baik-baik saja. Sesekali Luhan berkunjung ke Gyeonggi dan mereka bermain bersama. Ada satu tahun di mana Luhan tidak bisa berkunjung karena dia mengalami kecelakaan. Buruknya lagi membuat wanita itu mengalami PTSD. Traumanya sulit diatasi, Kai pikir ia bisa membantu tapi jarak membuat mereka kesulitan.
Sampai ketika mengunjungi Luhan ia melihat wanita itu bersama seorang pria di dalam rumah. Dengan busana berserakan di lantai.
"Mulai sekarang jangan menemuiku lagi!"
Luhan terlalu takut pada Kai.
"Kai! Aku membutuhkan seseorang. Tapi kau tidak pernah ada untukku! Jangan salahkan jika aku bersama pria lain!"
"Apa dengan melakukan ini kau merasa puas!?"
Luhan menatap Kai lebih emosi. "Kau tidak pernah ada untukku. Kau tidak bisa melindungiku! Kau tidak tahu bagaimana suasana di sekolah baruku! Mereka menghinaku karena aku mengalami trauma. Kau tidak bisa melindungiku~"
Sebagai seorang kakak, Suho merasa kasihan pada adiknya.
Tidak tahu sejak kapan Kai mulai tidur di ruang penyimpanan. Tahun-tahun berlalu, dia mulai membuka diri.
"Kakek menginginkan musik? Kalian bisa memilikinya."
Mati-matian dia mengutarakan keinginan yang telah terpendam. Karena Kai mulai menyadari jika mereka bertiga merasa kesepian. Sebab musik menghilang dari kehidupan.
"Aku akan tidur lebih cepat, nikmati pesta kalian."
Dan selalu seperti itu setiap tahun. Dia menyiksa dirinya sendiri. Tidak membawa orang untuk merasakan kesakitan yang sama.
Mudah bagi kita untuk mencintai, tapi akan sangat sulit melindungi orang yang kita cintai.
"Kim dengarkan kakek... Kakek mencintai nenek kalian. Kakek tidak bisa melindunginya hingga dia meninggal saat melahirkan Ayah kalian. Tapi dia ingin kakek melindungi apa yang dia cintai. Kebun anggur ini dan Ayah kalian. Karena itu kakek berusaha menjaganya sekuat tenaga. Dengan begitu cinta kita terus berjalan."
~ RoséBear~
Kyungsoo terdiam di ruang penyimpanan anggur milik keluarga Kim. Tidak banyak yang berubah dari terakhir dia datang, hanya pergeseran beberapa rak saja.
Kyungsoo itu anak penurut, dia kemari untuk memgambil kotak yang pernah ia temukan di ruang penyimpanan. Kotak pribadi milik Ayah Suho dan Kai. Entahlah apa isinya, Kyungsoo tidak ingin menjadi kurang ajar dengan membuka sembarangan.
Besok adalah babak final dalam kompetisi. Violin yang dia miliki rusak karena Chanyeol, tapi pria itu berjanji akan menggantinya. Saat datang kemari Yixing menyambut Kyungsoo bersama bayi Anson. Dia meminta maaf tidak bisa memainkan nada untuk pangeran kecil di keluarga Kim. Ia mengatakan alasannya dan Yixing turut prihatin.
Suho yang pulang lebih cepat bertemu Kyungsoo. Mereka bicara banyak hal hingga Kyungsoo mengakui perjanjiannya dengan Kai dan pada akhirnya apa yang dia dengarkan? Sebuah cerita yang tidak pernah diduga Kyungsoo.
Sekarang dia menyesal meninggalkan Kai. Tapi lelaki itu yang memilih melepaskannya. Kyungsoo justru menjadi pihak yang ditinggalkan.
Sore hari ia memberanikan diri membuka kotak kayu itu. Berisikan buku biru, buku harian milik ibu Kai serta beberapa Photo perkembangan Suho dan Kai secara bersamaan. Hanya dengan melihatnya membuat Kyungsoo tersenyum. Ia tahu bagaimana perasaan wanita itu.
Cukup Do Kyungsoo!
Benda ini harus diberikan pada Kai. Dia sudah berjanji pada kakeknya.
Sebuah kebijaksanaan di mana dia sekarang berdiri dengan perasaan bimbang. Ada perasaan bahagia mendalam di mana dia menyadari kehidupan yang sangat manis telah bersembunyi di tempat ini. Namun sebuah ketakutan, jika dia tidak bisa memperbaiki keadaan.
"Kyungsoo... Kau akan makan malam bersama bukan? Bibi Kang memasak seafood dengan wine. Kau harus mencobanya!"
Itu suara Suho. Kyungsoo bergegas menutup kembali kotaknya. Ia setengah berteriak untuk mencapai pendengaran Suho di anak tangga ruang penyimpanan.
~ RoséBear~
Sementara di rumah sakit, seorang pria tan menyiapkan diri untuk melakukan sebuah operasi. Dia telah berhasil dengan pshycosugery untuk seorang pasien skizofrenia seminggu yang lalu.
"dr. Kim kau baik-baik saja?"
Kai mengangguk pelan. Memberitahu jika dia baik-baik saja, namun pada kenyataannya dia merasa sedikit pusing.
Ponselnya berdering memaksa Kai membuka pesan yang masuk. Saudara laki-lakinya mengirim pesan singkat. Seperti biasa bertanya kabar dan hal semacamnya. Kai terlalu malas membalasnya. Ia memilih segera mengenakan pakaian bedah untuk melanjutkan pekerjaan yang lain.
"Pinggang kiri patah, tempurung kepala pecah dan masuk ke dalam."
Kai mengangguk memahami situasi dengan segera. Dia bekerja dengan cepat, melempar semua rasa sakit yang sejak tadi menyerang dirinya. Operasi berlangsung beberapa jam memaksa pria itu untuk terus berdiri.
Sebagai dokter spesialis bedah syaraf dia telah terbiasa dengan operasi semacam ini. Namun untuk kondisi seperti ini, rasanya sangat asing.
"Terima kasih dr. Kim."
Semua bagian kelompok siang itu memberi hormat padanya.
Lelaki itu keluar dari ruang operasi, menyerahkan sisanya pada dokter dan perawat lain. Pandangannya setengah berkabut.
"Kau kelelahan Kai!"
Tubuhnya ditopang seorang pria yang lebih tinggi.
Kris
Ia datang tepat pada waktu sebelum tubuh Kai terjatuh menghantam ubin rumah sakit.
"Terima kasih. Aku baik-baik saja."
Kris mengeram sebentar. "Bagianmana yang mengatakan kau baik-baik saja?"
Dia membantu Kai berjalan menuju ruang istirahat para dokter. Membaringkan tubuh lelah itu di ranjang tetapi pria tan itu menolak segera. Dia sekedar duduk di pinggir ranjang.
"Sudah berapa lama kau menyiksa diri seperti ini? Aku berterima kasih kau masih dalam keadaan sehat ketika mengoperasi Tao."
Kai terkekeh pelan mendengar sindiran Kris. "Untuk apa kau datang ke bagian bedah lagi? Operasi wanita itu telah selesai."
Pundak lelaki tinggi di sebelahnya turun beberapa bagian ketika Ia menghela napas panjang. "Tadinya aku ingin agar Tao berkonsultasi denganmu. Kau masih dokternya. Dia ingin keluar besok siang. Aku akan menemaninya."
"Sebagai kekasih atau sebagai dokternya?"
Kris terkikik kecil mendengar pertanyaan Kai, "Kedua-duanya."
"Ya. Kau bisa membawanya keluar. Tetap gunakan kursi roda. Jangan membuatnya terlalu lelah."
Lelaki itu mengangguk, "Aku juga akan beritahu kepala bedah untuk memberimu waktu istirahat. Sebaiknya kau pulang dan tidur. Di sini dokter merawat pasien, bukan dokter merawat dokter!"
Itu sebuah kepedulian dalam bentuk sindiran. Kai tidak sanggup membalasnya. Karena sebuah kebenaran ada di sana.
Saat Kris pergi, kembali ponselnya berdering. Suho mengirim sebuah pesan lagi. Ia mengernyit pelan lalu kemudian kepala bedah benar-benar datang menghampiri Kai. Memaksanya untuk pulang.
"Apa aku harus menghubungi direktur agar kau pulang dan beristirahat?"
Kali ini dia tidak bisa menolak. Dengan gerakan pelan ia menghubungi supir panggilan membawanya ke sebuah tempat. Dia perlu membeli sebuah barang karena pesan Suho.
Ketika sadar Kai baru ingat jika kartu debetnya bersama Kyungsoo. Ah! dia beruntung memiliki uang tunai yang cukup untuk benda ini.
"Terima masih. Bisakah anda memberiku papper bag dan mengantarnya ke alamat ini?"
Kai memberikan sebuah alamat kepada petugas kasir. Mereka mengangguk, tempat ini memang menerima layanan delivery order. Saat melangkah keluar toko. Ia segera menghampiri mobilnya di mana seorang supir bayaran telah menunggu di dalam.
"Kai?" Saat itu sebuah suara memanggilnya. Suara yang cukup diingat Kai.
Pandangan pria tan itu setengah berkabut. Ia tidak yakin dengan apa yang ia lihat.
"Luhan?"
Satu nama itu ia sebutkan sebelum kemudian kesadarannya menghilang. Membuat panik orang-orang di sekitar.
"Kai! Astaga! Kau demam. Bagaimana ini?"
~ RoséBear~
Keadaan rumah itu sangat berantakan. Hanya ada bekas mie, bubur instan serta botol wine yang menjadi pemandangan menjijikkan. Sementara pemiliknya dakam kondisi tidak sadarkan diri.
Luhan meminta bantuan supir yang Kai panggil untuk membawanya ke kamar. Dia membaringkan pria itu, meminta supir itu juga menggantikan pakaiannya sementara Ia mencari obat untuk Kai.
Mengurusi orang sakit bukan hal baru untuk Luhan. Dia telah terbiasa dengan itu, tapi lain hal jika orang itu adalah Kai. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Lelaki yang begitu ia cintai tetapi telah bersama dengan wanita lain.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Bisakah kau kembali padaku Kai?"
Dalam hati kecilnya, wanita itu mengharapkan Kai kembali. Maka ia membereskan rumah itu. Benar-benar membersihkan rumah itu untuk bisa ditempati. Ia juga pergi berbelanja mengisi keperluan dapur. Menggunakan kunci manual yang ada di mobil Kai seolah rumah itu telah biasa dia kunjungi.
Kai yang sedang sakit, berulang kali bergerak gelisah di atas ranjang. Luhan juga yang harus mengompresnya. Tubuh lelaki itu sangat panas, keringat mengalir ketika selimut tebal membungkus tubuhnya.
Kai yang tidak terlalu terurus. Luhan tidak menyadari apa yang terjadi. Ia menghubungi Ibunya, meminta izin jika malam ini dia tidak kembali ke rumah. Kai lebih membutuhkan Luhan daripada anggota keluarga barunya.
"Kai-ah," dia memanggil lelaki itu dengan begitu lembut.
Hanya duduk di kursi kayu memandangi wajah gelisah Kai ketika terlelap. Sejak kembali pria itu sama sekali tidak sadarkan diri dengan penuh.
"Kai?" Panggilan berubah menjadi kekhawatiran ketika Lelaki itu semakin bergerak gelisah.
"Kyung~"
Tangan Luhan terhenti di udara mendengar nama yang dipanggil Kai.
"Kyungsoo~ maafkan aku."
Ia menggigit bibir bawahnya begitu kuat.
"Maafkan aku Kyung~"
Sekali lagi pria itu bergumam tidak jelas. Pada akhirnya Luhan menepuk - nepuk kepala Kai pelan. "Ya. Kau jangan khawatir lagi."
Dia berbisik pelan barulah Kai diam dan kembali tidur tenang.
"Kau bahkan tidak pernah meminta maaf padaku Kai."
Hatinya menjerit merakasan sesak melihat pria yang masih dicintainya menyebut nama wanita lain. Luhan mengehela napasnya pelan. Ia menatap seisi kamar, ruangan ini terlihat nyaman. Ia tersenyum miris ketika mengangkat sebuah figura di atas meja. Wajah seorang wanita yang pernah bertemu dengannya.
"Wanitamu sangat cantik. Lalu di mana dia sekarang Kai?"
Luhan berbisik pelan. Ia memandangi wajah tampan itu mulai tenang. Ia memilih tidur di ruang tamu menggunakan sofa.
~ RoséBear~
Pagi ketika fajar menyingsing, Luhan terbangun dengan segera. Ia bergegas menyiapkan sarapan untuk Kai dengan beberapa bahan yang dibelinya kemarin.
"Kyungsoo!?"
"Eoh?"
Wanita itu terpekik karena terkejut dengan teriakan seseorang yang muncul di pembatas dapur. Ia berbalik badan dan menemukan keterkejutan yang sama dari wajah Kai. Pria itu terbangun, terlihat begitu berantakan. Senyumnya yang tadi mengembang tiba-tiba luntur dengan segera.
"Apa yang kau lakukan di rumahku!?"
Tiba-tiba saja dia menjadi kikuk karena pertanyaan Kai.
"Ka-Kau kemarin pingsan. Aku membawamu kembali."
"Darimana kau tahu rumahku?"
Bagaikan diinterogasi, Luhan berinisiatif untuk melangkah mundur. Pria ini tidak menyukai keberadaan Luhan. "Supir yang di mobilmu. Kau memberikan alamatmu padanya. Dia yang membantuku membawamu kembali juga menggantikan pakaianmu. Kami juga menemukan kunci rumahmu di dalam mobil."
Kai terdiam sesaat. Ia memandangi Luhan seperti menelanjangi wanita itu.
"Kau benar-benar sakit Kai. Aku... Aku hanya ingin membantu saja."
Satu langkahnya kemudian membawa serangan pada bagian kepala. Terasa begitu pening walau Kai berusaha memegangi bagian kepalanya. Dia benar-benar kelelahan.
Tadinya ia pikir suara gaduh di dapur karena Kyungsoo kembali. Nyatanya wanita yang sangat tidak ingin dia lihat menjadi objek di dapur rumahnya.
Tidak bisa dipungkiri, hati kecilnya mengharapkan Kyungsoo kembali. Kai menjalani hidup yang tidak normal hanya memikirkan kepergian Kyungsoo walau dia yang melepas gadis itu.
"Kai? Kau baik-baik saja." Sentuhan Luhan pada lengannya tersingkir begitu saja kala Kai menepis cukup kuat.
"Jangan menyentuhku! Aku baik-baik saja!"
"Pada kenyataannya kau tidak dalam kondisi baik!" Luhan memaksa pria itu untuk duduk setelah ia menarik satu kursi di ruang tengah.
"Duduklah! Aku akan mendinginkan bubur untukmu."
Memaksa dan keras kepala. Seperti itulah dia walau tetap cantik namun Kai tidak menginginkan Luhan kembali.
~ RoséBear~
Kenapa kamu bermain musik?
'Aku bukan siapa-siapa. Kupikir dengan bermain musik bisa membuat seseorang tersenyum bahagia.'
- Kyungsoo for Daddy
- Kai for Mommy
Mereka telah memulai bermain musik untuk orang yang begitu dicintainya. Bisakah musik terus dimainkan hingga akhir?
"Kalian membawanya?"
Kyungsoo baru saja turun dari taksi dan bertemu Chanyeol serta Baekhyun. kedua orang itu menyapanya.
"Baekhyun yang membawakannya untukmu."
Chanyeol mengambil violin dari tangan Baekhyun dan menyerahkannya pada Kyungsoo. Tidak membuang waktu Kyungsoo segera mencobanya, tidak ada bagian yang mengecewakan. Semua telah ada pada tempatnya.
"Jadi berapa harga yang harus kau bayar untuk membelinya?"
Percayalah pertanyaan itu hanya gurauan Kyungsoo kepada Chanyeol.
"Sudah kukatakan Baekhyun yang membawanya. Aku tidak jadi membeli violin untukmu. Sebagai gantinya akan kutraktir kau nanti."
Kedua jarinya membentuk V sigh menghindari ledekan Kyungaoo selanjutnya.
"Sudahlah, sebaiknya kita ke backstage. Aku akan meriasmu. Aku juga bawakan pakaian untukmu." Dan Baekhyun selalu menjadi penengah untuk pertikaian kecil mereka.
Dia menggandeng tangan Kyungsoo, mereka berjalan bersebelahan. "Kau menyukai violin itu?" Ia kemudian bertanya.
Kepala Kyungsoo mengangguk pelan. Tentu saja dia menyukai violin baru ini.
"Baguslah kalau kau menyukainya."
Untuk banyak hal Baekhyun itu sangat good looking. Dia mampu mendandani Kyungsoo untuk terlihat sangat cantik. Gaun selutut dengan stoking hitam membuatnya terlihat sangat cantik untuk bagian akhir kompetisi. Sebuah jepit perak disematkan pada rambut Kyungsoo yang diikat setengah. Membebaskan bagian leher dari hiasan apapun, kecuali sebuah kalung yang masih betah melingkar di sana, membuat Kyungsoo nyaman untuk menyanggah Violinnya nanti.
"Kau masih mengharapkan dr. Kim?"
Baekhyun bertanya ketika dia merapikan penampilan akhir Kyungsoo. Sesaat wanita itu terdiam. Ia menunduk menatap lantai namun segera mendapat teguran Baekhyun.
"Jangan menunduk. Kau sangat cantik Kyungsoo."
Ia tersenyum menatap teman wanitanya. "Aku harus melupakan pria yang kusukai dan mulai bertanggung jawab kepada ayahku. Aku yakin bisa menjalani keduanya. Mulai sekarang aku tidak boleh menyusahkan orang yang kusukai."
"Ya. Tidak baik mengikuti terlalu banyak kompetisi. Kau sendiri yang mengatakannya Kyung," Baekhyun mengingatkan.
"Makanya..."
"Menang dan jadilah dokter yang baik tanpa melepaskan musik."
Kyungsoo memeluk Baekhyun erat. "Terima kasih banyak. Aku tahu kau jauh lebih dewasa dariku ataupun Chanyeol."
~ RoséBear~
Oh my God. She is absolutely amazing! Her articulation and intonation such perfect octaves.
Ada makna dalam kehidupan yang dibenarkan. Tentang musik yang membuat kebahagiaan hingga mengantar kematian.
Di sini, di hadapan banyak orang. Dia berusaha dengan musik yang selalu membaik setiap waktu.
Dia benar-benar bermain dengan baik. Berapa banyak waktu yang dia miliki untuk berlatih? Tidak terlalu banyak, tapi dia bersungguh-sungguh. Pandangan matanya tidak bisa berbohong. Betapa dia ingin mengalirkan musiknya pada semua orang hingga keluar dari auditorium.
Great performance!
Kyungsoo mendapat banyak pujian atas pertunjukkan empat menitnya. Tepuk tangan mengalun begitu meriah.
'Caprice for solo Violin, Op. 1 No. 23 in E flat Major (Posato) karya Paganini.'
Dia layak disebut pemain Violin berbakat karena alunan musiknya yang mengalun begitu indah. Tidak melewatkan satu nadapun. Kyungsoo pantas untuk berdiri di depan saat sebuah pertunjukkan akan berlangsung. Dia akan membuka pertunjukkan orkestra dengan penampilan yang memukau.
Hanya ada lima orang sebagai peserta final. Perlombaan hari itu tidaklah berlangsung lama. Wajahnya tersenyum begitu senang.
"Kau yang terbaik! Ponselmu!" Chanyeol menyerahkan ponselnya. Sementara Kyungsoo menyerahkan violinnya untuk Chanyeol bawa.
"Kali ini aku akan mentraktir kalian," Kyungsoo setengah terpekik.
"Nona Do? Bisakah kita mengambil gambar dan melakukan wawancara singkat? Kami dari surat kabar harian daerah."
"Ya. Lakukanlah," kedua temannya mendorong tubuh Kyungsoo untuk maju. Sebuah wawancara singkat untuk kemenangan hari ini. Bibir hati itu tak hentinya tertarik.
"Penampilan yang luar biasa nona Do. Tapi sayang sekali aku tidak bisa satu panggung bersamamu."
Kyungsoo kembali tersenyum pada sosok pria tua yang kini menyalaminya.
"Tuan Parikian Chun? Bisakah kami mengambil gambar anda bersama nona Do?"
Sekarang dua orang itu yang mendapatkan permintaan untuk dipotret bersama.
Mereka saling menyapa satu sama lain.
"Kyungsoo!"
Oh. Siapa lagi sekarang yang menghalangi langkah mereka bertiga untuk meninggalkan bagian gedung? Ketiganya telah berada di luar dan udara terlalu dingin untuk pempertahankan Kyungsoo dengan dress selutut itu. Mereka berbalik mendapati sosok seorang pria tinggi yang tersenyum sumringah. Ada jarak yang cukup jauh di antara mereka. Alis Kyungsoo naik satu tingkat. Begitu juga dengan kedua temannya. Reflek Chanyeol menarik Baekhyun ke belakangnya, begitupun dengan Kyungsoo. Lelaki itu adalah Kris. Dia masih ingat akan pria ini.
Tapi Kyungsoo mendorong sedikit tubuh Chanyeol ketika ia menyadari Kris bersama seorang wanita. Pria itu mendorong kursi roda di mana ada orang sakit dengan selang infus masih menancap di tangannya, berusaha menyapa Kyungsoo.
"Kita pernah bertemu sebelumnya."
"Heum," bukan sebuah jawaban pasti. Lebih tepat disebut sebuah gumaman.
Kris semakin mendekat. "Perkenalkan. Ini kekasihku."
Baik! Kini ketiganya saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba saja terkekeh dalam dunia mereka sendiri. Menyingkirkan pemikiran tentang mendengarkan adiknya dan juga tampang playboy Kris. Mereka menyapa wanita cantik itu.
"Selamat siang."
"Tao sangat menyukai permainan musikmu. Bisakah dia mengambil gambar bersamamu?"
"Oh ya. Selama tidak kau perlihatkan pada adikmu!" Chanyeol menyindir Kris dan pria itu mendorong tubuh Kyungsoo untuk maju.
"Jangan terlalu lama, kami punya urusan kain," lelaki itu kembali bicara mencoba mengingatkan.
"Hanya satu gambar saja."
Suara Tao terdengar begitu pelan membuat Baekhyun menyenggol lengan Chanyeol. "Aku akan mengambil gambarnya untuk kalian." Pada akhirnya Chanyeol menawarkan diri, hanya sebagai permintaan maaf karena intonasi dan pemilihan kata yang bisa saja menyinggung Tao.
Jepret
"Ya Kyungsoo. Terima kasih banyak. Oh aku hampir lupa, bagaimana kabar Kai? Apa dia sudah sembuh?"
Alis wanita itu bertautan satu sama lain mendengar pertanyaan Kris.
Melihat kebingungan Kyungsoo, lelaki itu balik menatapnya penuh tanya. Tidak ada yang salah, dia hanya bertanya sebab kemarin dia melihat sendiri Kai dalam keadaan tidak sehat.
"Dia sakit?"
"Heoh?" Kris terkejut dengan pertanyaan yang datang dari Baekhyun sementara Kyungsoo diam saja.
"Ya. Kemarin dia hampir pingsan setelah melakukan operasi padahal kondisinya tidak terlalu baik. Apa dia sudah membaik?" Kembali pria itu bertanya lada Kyungsoo.
Kyungsoo tidak tahu bagaimana dia harus memberi jawaban.
"Kupikir dia berlebihan melakukan banyak pekerjaan di rumah sakit."
"Apa yang dia lakukan di rumah sakit?"
Kyungsoo bertanya tapi pandangannya tidak menatap Kris. Saat itu Tao menarik tangan Kyungsoo menarik perhatiannya. "Sampaikan terima kasihku pada dr. Kim."
"Ya. Dia berhasil melakukan operasi berat pada kekasihku di awal tahun. Berhari-hari Kai harus menemaniku mengawasi perkembangan Tao hingga larut malam. Aku minta maaf membuatmu pasti menunggu kepulangannya saat itu. Ya. Kami harus kembali ke rumah sakit sekarang. Sampaikan salamku padanya Kyungsoo."
Kyungsoo membuka pintu mobil Chanyeol cepat untuk mengambil barang yang sempat ia titipkan sebelum memasuki gedung.
"Aku harus pergi!"
Setengah berseru, Kyungsoo memotong perkataan Kris membuat pria itu kebingungan. Ia berlari meninggalkan mereka, menghentikan taksi di pinggir jalan.
"Kyung!" Chanyeol berteriak namun lengannya ditahan oleh Baekhyun. Wanita itu menggeleng pelan.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalahanya."
"Tapi Baek~" Chanyeol setengah merengek pada Baekhyun. Sayangnya wanita cantik itu menggeleng pelan. "Tidak Chan. Sebaiknya kita pulang sekarang."
"Tunggu! Masalah?" Kris bertanya membuat pasangan itu menatapnya bingung.
"Terima kasih untuk informasi yang begitu mendadak. Biar kuberitahu padamu,,,"
"Chan! Hentikan!"
Chanyeol tidak melanjutkan ucapannya ketika Baekhyun melotot.
"Kami harus pergi. Sampai jumpa. Semoga cepat sembuh nona."
Dengan erat Baekhyun menarik lengan Chanyeol untuk menuju kursi kemudi.
"Kenapa kau menghentikanku?"
"Kita tunggu saja Kyungsoo di rumahmu. Aku mohon kau tidak ikut campur lagi untuk hal semacam ini."
~ RoséBear~
Kenapa kita bertemu dengan orang itu?
Untuk apa kita melihat orang itu?
Dia benci ketika harus mengakui perasaannya, tapi ia sendiri merasa kecewa jika harus pergi begitu saja.
Salju menyelimuti jalan dan bangunan kota. Di atas sana, langit terlihat begitu luas dengan warna biru, sementara dahan-dahan pohon tidak memiliki sehelai daunpun. Wanita itu tidak mempermasalahkannya ketika angin musim dingin menembus pakaiannya, pikirannya setengah kacau karena rasa khawatir berlebihan.
Kai sakit!
Kyungsoo hanya memikirkan perasaannya sendiri tanpa menyadari bagaimana pria itu sekarang. Hanya butuh kesabaran, seharusnya dia bisa membuat perayaan kecil bersama Kai. Bahkan setelah hampir dua minggu dia masih merindukan pria itu. Ia berusaha untuk fokus memberitahu alamat yang tepat pada supir taksi, wanita itu bergerak gelisah. Ia menemukan mobil Kai terparkir di depan rumah, keadaan sunyi dan dengan pelan ia membuka pagar rumah. Alisnya bertautan menemukan dua pasang sepatu di depan rumah.
Jantung Kyungsoo berpacu seolah dia baru menyelesaikan lari marathon. Menekan kode akses tapi sayangnya pintu rumah memang tidak terkunci. Kyungsoo mendorong pintu pelan.
Melangkah setengah berjingkat.
"Kai bagaimana jika kau meniup lilinnya?"
"Ekh?"
Kakinya terhenti pada langkah pertama. Dia mengenali anak perempuan itu walau samar-samar, Kai pernah memperkenalkannya pada Kyungsoo.
Kini ia menunduk. Tersenyum miris menertawai dirinya sendiri. Ia mulai berasumsi betapa bodoh dirinya selama ini.
"Kyungsoo."
Ini sebuah kejutan! Kai menyadari kedatangan Kyungsoo. Suara pria itu terdengar serak.
Ia mendongak mengabaikan tatapan Luhan. Wanita yang kini berdiri di hadapan Kai dengan sepiring cake kecil.
Kyungsoo menarik napasnya dalam, ka menghela napas dan kemudian tersenyum. Oh pandangan mata bulat itu! Kyungsoo tidak bisa berbohong jika dia tersakiti oleh keadaan ini.
"Oh hai." Dia tersenyum canggung.
'Kyungsoo! Berikan lalu kembali!'
Ia meyakinkan dirinya sendiri. Membuat langkah maju mendekati Kai. Tidak! Kyungsoo hanya melewati pria itu untuk menuju nakas di dekat televisi.
Ia berbalik sebentar menatap Kai dan Luhan bergantian. Ia teringat kembali cerita Suho, "Tidak bisa dipercaya kau bertemu dengan cinta pertamamu lagi. Yeah," kini dia membalikkan badannya menatap dinding, sebab dia sadar akan segera menangis. "Aku kemari ingin mengembalikan barang-barangmu. Ponselmu, Kartumu, akan kuganti apa yang telah kugunakan, kalung yang kau berikan, lalu aku menemukan kotak ini di ruang penyimpanan ketika menggeser rak-rak wine. Kakek bilang harus memberikannya padamu ketika kompetisi terakhirku, sepertinya yang kakek maksud adalah hari ulang tahunmu. Maaf aku sedikit tidak sopan, ini dari ibu dan Ayahmu." Dia meletakkan semua barang-barang itu begitu saja.
Kai spontan terkesiap ketika Kyungsoo berjalan mendekatinya. Wanita itu hendak melepaskan gelang milik Kai.
"Tidak! Kau tidak boleh melepaskannya," Kai setengah berseru menahan gerakan tangan Kyungsoo.
"Tidak?" Kyungsoo menatap Kai dan Luhan bergantian. "Kai aku belum selesai bicara, kurasa kita memang berada di dunia yang berbeda. Bagaimanapun sulit bagiku mengerti dirimu."
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan."
Kyungsoo melepaskan gelangnya. "Aku kembalikan padamu. Ini benda yang sangat berharga bukan?"
Ia memandang Kai, sebisa mungkin Kyungsoo mencoba tersenyum. Kyungsoo bergetar, tapi bukan karena kedinginan. Dia tidak tahan lagi berada di ruangan yang sama dengan dua orang ini.
"Tadinya aku mencemaskanmu ketika Kris bilang kau sakit. Tapi sepertinya aku terlambat, malaikat penolongmu selalu tahu kondisi."
Mendengar perkataan Kyungsoo. Kai sedikit tersinggung.
"Aku harus pergi."
Dia melangkah pelan. Mengabaikan panggilan Kai.
"Kyungsoo! Maafkan aku!"
Langkah kakinya semakin cepat. Menghampiri supir taksi yang tadi mengantarnya. Kyungsoo mengatakan alamat rumah Chanyeol. Saat ini dia tidak memegang uang tunai. Maka dia butuh keluarga Park untuk membayar biaya taksinya.
Kenangan ketika dia bertemu Kai satu persatu berputar di kepalanya. Bagaikan keleidoskop memilukan.
"Apa yang kau lakukan di sana?" –Sapaan pertama.
"Violin concerto no 4 in D major, K. 218 oleh Mozart, Wolfgang Amadeus." –Teguran pertama.
"Aku akan bilang pada kakekmu. Aku bukan kekasihmu. Aku bahkan berniat mengatakan kalau kau adalah seorang gay dan..."
"Baik. Mari kita bicara baik-baik." -Perdebatan mereka,
"Aku memberikannya karena kau berlaku sangat baik pada keluargaku," –Hadiah pertama yang Kai berikan.
"Aku boleh memelukmu?" –Juga permintaan Kai.
"Karena kakek memintaku memikirkanmu. Tidak mungkin selamanya aku tidur di sana sementara kau ada di dalam." Cara pria itu menjaga Kyungsoo.
"Beri aku alasan kenapa kau melarangku bermain musik!?"
"Saat dewasa nanti kau akan mengerti."–Bagaimana Kai berusaha menghindar. Dan saat dia tahu jawaban yang sebenarnya atas pertanyaan itu, Kyungsoo segera sadar dia telah menyakiti Kai terlau sering.
"Nona kita sampai."
Teguran supir taksi menyadarkan Kyungsoo, jika mereka telah sampai di tujuan.
"Eoh? Tunggu di sini."
Ia mengusap air matanya. Berlari memasuki kafe dan menemukan Chanyeol bersama Baekhyun menatapnya bingung. Kyungsoo bicara pelan prihal supir taksi yang menunggunya di depan.
"Kyungsoo ada apa?"
Baekhyun yang pertama menyadari air mata wanita itu membasahi wajahnya.
"Biarkan aku sendirian!"
Punggung sempit itu perlahan menjauh ketika menaiki tangga dan menghilang di balik pintu kamar Chanyeol.
Pria tinggi itu kembali ke dalam setelah membayar biaya taksi. Ia bertanya pada Baekhyun dan suara dentuman dari lantai dua mengejutkan semuanya. Keluarga Park beruntung ketika itu mereka tidak memiliki pelanggan.
"Kyungsoo!"
Semuanya segera berlari ke atas.
"Ya! Buka pintunya! Apa yang kau lakukan di kamarku!? Ya! Kyungsoo!"
To be continue...
