-Preview chapter 20-

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Bisakah kau kembali padaku Kai?"

'Aku bukan siapa-siapa. Kupikir dengan bermain musik bisa membuat seseorang tersenyum bahagia.'

"Tadinya aku mencemaskanmu ketika Kris bilang kau sakit. Tapi sepertinya aku terlambat, malaikat penolongmu selalu tahu kondisi."

"Kyungsoo! Maafkan aku!"


The Paradox of Lost Complementary

Complementary

Present by RoséBear

[Part 4 : Path of Opportunity 180503]

21th Chapter - KaiSoo

Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery


~ RoséBear~

"Kai?"

Ia menolak bantuan Luhan. Kepalanya masih sedikit pening walau seharian telah beristirahat. Ia berpegangan pada dinding saat berjalan mendekati nakas di dekat televisi. Tempat di mana Kyungsoo telah meninggalkan barang-barangnya.

"Itulah kenapa aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." Suaranya terdengar sekali lalu.

"Karena aku membuatmu kehilangan orang-orang yang kau cintai." Luhan melanjutkan apa yang ada di dalam pikiran Kai. Wanita itu menghela napas pelan. Ia sadar, tidak ada tempat untuk dirinya.

"Kau mencintainya?"

"Biarkan aku menyelesaikan masalahku."

"Kai?" Sekali lagi Luhan terlihat ingin membantu. Setidaknya, ada hal yang bisa dia lakukan.

"Aku baik-baik saja!" Pria itu membentak Luhan membuat jantungnya berdegup kencang. "Kumohon padamu berhenti mendekatiku dengan pandangan kasihan! Aku tidak mencintaimu Luhan. Tidak akan pernah bagaimana pun kau ingin aku mencobanya!"

"Kau butuh bantuanku untuk menjelaskan padanya."

"Aku tidak butuh bantuanmu! Sebaiknya kau pergi dari sini."


~ RoséBear~


Musim dingin berhembus dengan lembut, seharusnya Kai mendengarkan kata hatinya. Dia mencintai Kyungsoo, entah sejak kapan tidak mendengarkan suaranya saja membuat Kai mencari. Dia merindukan Kyungsoo. Dia merasakan cinta yang begitu besar dari Kyungsoo, tapi hari ini dia mengacaukan semuanya. Atau mungkin sejak awal keputusannya memang salah. Sejak hari itu, ketika dia mengatakan membenci musik pada Ibunya. Kai telah membuat kesalahan besar. Kesalahan yang terus bergulir hingga hari ini. Ponsel di atas nakas berdering beberapa saat setelah Luhan meninggalkan dirinya. Itu adalah panggilan dari Suho.

"Hyung?" Kai menyapa Suho membuat pria itu terkejut.

'Oh? Kau yang mengangkat panggilanku? Suaramu kenapa? Kau sakit?'

Sekarang saudara lelakinya terdengar panik. Ia tersenyum miris mendengarkan Kakaknya mengintrogasi prihal kesehatan pada dokter muda seperti Kai.

'Bagaimana kompetisi Kyungsoo? Kau sudah berbaikan dengannya?'

Kai memejamkan matanya sebentar untuk menghilangkan rasa pening akibat pertanyaan Suho yang seperti laju kereta.

"Dia semakin marah padaku."

'Adik bodoh! Apalagi yang terjadi? Kemarin dia kemari untuk memgambil sesuatu dari ruang penyimpanan.'

Kai membuka kotak yang ditinggalkan Kyungsoo. Matanya membulat, perlahan ia mengeluarkan satu persatu barang dari dalam sana.

"Hyung? Kau tahu alasan kenapa kakek menyukai keberadaan Kyungsoo sejak pertemuan pertama mereka?"

'Tentu saja. Dia terlihat seperti seorang putri. Kyungsoo juga bisa menjagamu.'Suho terkekeh pelan. 'Jadi bagaimana Kyungsoo? Aku akan sangat marah jika kau melepaskannya begitu saja.'

"Apa menurutmu dia mencintaiku?"

'Ya bocah ini!'

Mungkin jika tidak melalui panggil telephone Suho bisa saja memukul kepala Kai. Tapi sekarang dia hanya bisa berteriak.

'Tentu saja. Dengar Kai, kami semua bisa tahu bagaimana dia mencintamu. Kali terakhir dia kemari, aku menceritakan tentangmu. Saat itu dia seperti menyesal padamu.'

"Hyung, kau ceritakan tentang Luhan padanya?"

'Ya! Dia juga harus tahu itu!'

"Tapi dia menjadi salah paham padaku kan!"

Kai mematikan panggilan Suho. Ia telah membuka dan membaca beberapa bagian buku harian milik Ibunya saat berbicara dengan Suho.

'Musim panas ketiga Kai, lomba piano pertama Kai. Maaf ibu tidak bisa pergi, dokter bilang ini bagian dari terapi ibu.'

Tertulis di bagian belakang sebuah photo Kai saat di atas panggung.

Beberapa lembar memiliki gambar yang serupa.

'Tahun pertama Suho pergi ke sekolah. Ibu minta maaf tidak bisa membantu Suho menyiapkan perlengkapan sekolah, Kai demam.'

'Musim gugur ke sepuluh Kai. Maaf, ibu tidak bisa menghadiri pekan olahragamu. Terima kasih Kai selalu bermain musik untuk Ibu.'

Jantungnya berpacu kencang membaca lembaran bernoda. Ia menutup buku harian ibunya segera. Rasanya menyesakkan, seolah sesuatu menekan tepat pada bagian dada. Mendorong Kai untuk terjun ke jurang terdalam.

Sebab photo yang ada di sana hasil polaroid lama di mana pertumbuhan Kai dan Suho setiap tahunnya. Dilengkapi musim pada tahun yang telah mereka dilewati.

Ia memejamkan matanya erat.

'Tidak bisa dipercaya kau bertemu dengan cinta pertamamu lagi.'

Ucapan Kyungsoo masih terngiang dalam pikiran Kai.

'Luhan bukan cinta pertamaku! Pertama kali aku jatuh cinta saat bermain musik, perasaan yang sama saat aku bersamamu.'

'Kurasa kita memang berada di dunia yang berbeda. Bagaimana pun sulit bagiku mengerti dirimu.'

Ia merasakan kekecewaan yang dirasakan Kyungsoo.

'Karena aku berbohong padamu. Pada kenyataannya aku merindukan saat bermain musik. Aku merindukanmu Kyung.'

Tekadnya menguat, ia mengambil mantel yang tergantung dan mencari kunci mobil.

"Kyungsoo maafkan aku."


~ RoséBear~


"Kyungsoo! Ya Do Kyungsoo! Apa yang kau lakukan di kamarku!?"

Chanyeol masih menggedor pintu kamar dengan kuat ketika mereka mendengar suara bantingan benda dari dalam kamar. Karena ia tahu Kyungsoo pasti menghancurkan isi kamarnya.

"Chan!" Baekhyun menahan lengan Chanyeol supaya dia berhenti menyakiti tangannya untuk menggedor pintu kamar.

"Dia harus dihentikan Baek!" Tanpa sadar Chanyeol setengah berteriak. "Aku akan sangat marah jika kau memecahkan satu barangpun!" Kembali pria itu berteriak lantang.

"CHANYEOL!"

"Ekh?" Chanyeol terdiam setelah mendengar pekikan Baekhyun. "Jangan mencoba hal sia-sia ketika kau sendiri tahu bagaimana cara menghadapi Kyungsoo. Aku tahu kau berpura-pura marah di depanku agar aku tidak cemburu."

Chanyeol memejamkan matanya. Ia memeluk Baekhyun pelan. "Maafkan aku."

"Kyung? Kyungsoo-ah?"

Sekarang panggilannya tetap terdengar tegas namun tidak ada pukulan pada pintu. Chanyeol menarik napas dalam.

"Bisa tinggalkan kami berdua?" Dia meminta pada Baekhyun dan juga keluarganya.

"Kau bisa melakukannya. Bukankah dia saudaramu?" Baekhyun menepuk pundak Chanyeol pelan. Ia percaya pada kekasihnya.

Keheningan berlangsung hampir lima menit, ketika suara di dalam mulai berubah menjadi isakan.

"Aku masih di depan pintu Kyungsoo," ia mencoba mengingatkan. Kini terdengar suara isakan yang lebih jelas. Dia yakin wanita itu juga ada di balik pintu.

"Ada apa Kyung? Sekarang kau sudah bisa bercerita padaku? Kita membagi semuanya bersama. Kau bahkan berbagi darahmu kepadaku. Apa kau tidak mau membagi kesedihanmu?"

"Pergilah. Aku hanya ingin sendirian!"

"Bagaimana aku bisa pergi ketika tidak ada yang menjagamu?"

Mereka hening kembali.

"Aku tidak memintamu menemaniku."

"Aku akan tetap di sini. Kau mengalami hari yang buruk, aku akan menjadi saudara yang lebih buruk jika meninggalkanmu."

Setiap bersahutan mereka kembali hening. Jelas sekali Kyungsoo memikirkan cara untuk mengusir Chanyeol.

"Kai tidak menginginkanku."

"Aku akan menghajar pria itu nanti."

Dia diam kembali setiap kali Chanyeol memberi jawaban cepat.

"Kai tidak bisa dimengerti. Sesaat dia begitu baik, aku mencintainya. Maksudku, dia membuatku gila hanya untuk menebak bagaimana perasaannya padaku." Dan wanita itu tidak bisa menutupi isakannya.

"Baik! Baik Kyungsoo! Aku akan benar-benar menghajarnya nanti. Kumohon..."

"Ini hal buruk. Tolong dengarkan aku Chan! Beberapa hari ini, sebenarnya aku sangat merindukannya. Pertama kali melihat Kai, kebaikannya padaku, dia membawaku mengenal musik lebih dalam. Semakin hari ketika tinggal bersama, dia selalu berusaha untukku."

"Apa kau bahagia?"

Tiba-tiba Chanyeol memotong ucapan Kyungsoo. Wanita itu hening sejenak.

"Ya. Aku bahagia ketika melihat dia setiap pagi menanti sarapan yang kubuat, mendengarkan ceritaku, menemaniku..."

"Baiklah Kyungsoo. Beri aku waktu untuk berpikir sebentar."

Mereka saling bergelut dalam pikiran masing-masing kembali.

"Aku tidak bisa menyalahkan dia Chan. Kai tidak pernah bilang dia mencintaiku."

Tangan Chanyeol mengepal kuat mendengar ucapan Kyungsoo. Selama ini, apa pria itu benar-benar tidak bisa mencoba mencintai Kyungsoo?

"Dia memiliki kenangan buruk tentang musik. Suho telah menceritakan alasan Kai. Jika aku memaksakan diri mencintainya, Kai akan semakin terluka. Aku mengerti kenapa dia tidak pernah menyampaikan alasannya langsung padaku, itu tidak hanya akan menyinggungnya, tapi lebih menyakiti perasaanku. Aku harus bagaimana Chan?"

"Jangan biarkan dia membebanimu. Kenapa kau tidak coba melupakannya?"

Kyungsoo menghela napasnya. "Aku memang harus melupakannya Chan. Aku tidak bisa memaksa Kai, aku lebih tidak bisa masuk di antara dia dan Luhan."

"Luhan?" Chanyeol setengah bertanya.

"Cinta pertama Kai. Wanita yang selalu ada di dekatnya, membuat Kai bisa berdiri lebih baik. Aku melihatnya sendiri, Luhan merawat Kai yang sakit."

Terlalu banyak alasan, begitulah pendapat Chanyeol. Kai terdengar seperti seorang pecundang.

"Segeralah buka pintunya Kyungsoo!"

"Tidak! Biarkan aku sendirian! Aku tidak akan melarikan diri! Kau harus percaya padaku."

Chanyeol kembali berdiri, ia mengetuk pelan pintu kamar. "Tidak? Terakhir kali kau membohongiku! Kau melarikan diri hingga halte terakhir! Cepat buka pintunya Kyungsoo!"

"Chan!"

Saat itu Baekhyun muncul di bawah anak tangga. Ia memekik tertahan, seperti ingin membisikkan sesuatu. Lambaian tangan Baekhyun membawa Chanyeol menuruni tangga.

"dr. Kim ada di depan, dia mencari Kyungsoo," ia berbisik pelan.

Tangan pria itu mengepal pelan. Bagaimana pun, dia sangat ingin memberi pelajaran pada dokter muda itu. Bagaimana dia bisa datang menemui Kyungsoo setelah apa yang dia lakukan. Dia menyerahkan segalanya, mempercayakan Kyungsoo pada pria seberengsek Kai adalah kesalahan Chanyeol.


~ RoséBear~


Pria itu datang, wajahnya masih tampak pucat. Sedikit berantakan namun tidak melunturkan ketampanan dan kedewasaanya. Ia berjalan mendekat mencoba memasuki bagian depan kafe milik keluarga Park.

Ia tahu apa yang harus di tuju, istrinya kemungkinkan besar ada di rumah ini. Satu-satunya pilihan yang dia miliki adalah maju melangkah. Apapun yang dia dapat, Kai hanya ingin mengatakan semuanya pada Kyungsoo.

'Berhenti menjadi pecundang. Kau adalah pria untuk tempat berlindung.'

Ia memberanikan diri untuk mendekati pintu masuk kafe setelah lama berdiri di depan. Menengok ke dalam dan perasaan lega ketika tidak ada pelanggan di dalam. Melangkah maju dan tiba-tiba sebuah hantaman keras membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Chanyeol baru saja menendang Kai keluar dari pintu kafe. Pria itu kini berdiri di depan Kai. Ia bisa melihat amarah dan kebencian dari tatapan pria tinggi itu.

Ia sedikit condong ke depan, rasa pusing dan mual menyerang bersamaan. Kai memegangi perutnya erat akibat sakit yang diciptakan tendangan Chanyeol.

"Untuk apa kau kemari!?" Chanyeol menjerit kuat. Ia melangkah maju mendekati Kai membuat pria itu terpundur kembali ke belakang.

Keluarga Park dan Baekhyun berjalan mendekati mereka mencoba menahan Chanyeol.

Ia berpaling, memandang ke atas tepatnya jendela lantai dua yang terbuka setengah. Kai tersenyum walau penglihatannya sedikit berkabut.

"Biarkan aku bertemu Kyungsoo."

"Yak! Berani sekali kau ingin menemuinya!"

"Biarkan aku menemuinya. Aku dan Luhan tidak memiliki hubungan apapun. Hanya sebuah kebetulan,,, Ukh!"

Bagian atas tubuh Kai semakin condong ke depan dan kakinya seketika lumpuh akibat pukulan Chanyeol yang tiba-tiba. Pria itu tersungkur ke depan dengan darah keluar dari mulutnya.

"Ya! Kenapa kau memukulnya lagi! Baekhyun panggil dokter Bae kemari. Dan kau bawa dia ke atas."

Ayah Chanyeol saat itu meneriaki putranya. Membuat Chanyeol terdiam dalam detik itu juga.

Dalam kepanikan dia menuruti ucapan ayahnya. Membawa tubuh Kai masuk dan menaiki tangga ruang kamar. Kai terasa berat, dia benar-benar tidak sadarkan diri. Lelaki tan ini sakit dan Chanyeol berani sekali memukulnya hingga dua kali walaupun pukulan sebelumnya tidak terlalu kuat.

"Kyungsoo! Kai tidak sadarkan diri! Cepat buka pintunya!"

Saat itu pintu kamar Chanyeol terbuka seketika. Chanyeol bersama ayahnya segera melangkah masuk dan membaringkan Kai di ranjang.

Oh kamar ini! Apa dia baru saja di serang badai lokal?

Chanyeol menatap garang pada Kyungsoo tentang perbuatannya di dalam sini.

"Sebaiknya kau bereskan kamarmu sebelum dokter Bae tiba beberapa menit lagi," teguran Baekhyun yang baru tiba di lantai dua membuat Chanyeol menatapnya menyerah.

AHH! Pada akhirnya Chanyeol juga yang harus membereskan kamarnya.


Kai pingsan beberapa saat lalu. Keluarga Park meninggalkan Kyungsoo dengan Kai di dalam kamar. Sebelumnya Chanyeol ingin mengirim Kai ke rumah sakit. Tapi dokter Bae bilang Kai pingsan bukan karena pukulan Chanyeol, dia kelelahan dan membutuhkan istirahat.


Pria itu memandang garang pada sosok lelaki yang kini terbaring di atas ranjangnya. Masih tidak sadarkan diri setelah setengah jam berlalu.

Chanyeol sejak tadi terus saja berdiri di depan pintu. Sementara Ayah dan Ibunya memiliki urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Membuat mereka harus pergi keluar kota.

"Bukankah sebaiknya kita turun?" Baekhyun setengah berbisik menarik lengan baju Chanyeol. Tapi lelaki itu memalingkan wajah. Ia sangat fokus pada Kai dan Kyungsoo.

Hembusan napas berat terdengar, Baekhyun melangkah melewati Chanyeol. Ia mendekati Kyungsoo dan berbisik.

'Aku akan membawa Chanyeol pergi. Kau akan baik-baik saja. Kami ada di bawah jika terjadi sesuatu.'

Kyungsoo setengah melotot pada Baekhyun. Begitu juga dengan Chanyeol walau lelaki itu tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Baekhyun memejamkan matanya erat, sejujurnya wanita itu sedang menahan emosi. "Bisakah kalian tidak memandangiku seperti itu?" Memijit kepalanya sendiri, wanita itu menghela napas berat.

"Aku butuh bicara denganmu Chan!"

Ia meninggalkan Kyungsoo. Menarik kuat lengan Chanyeol yang ingin bertahan di dalam kamar.

"Sebaiknya kau menyeka dr. Kim."

Dan disaat terakhir dia memberi pesan pada Kyungsoo lalu benar-benar membawa Chanyeol menjauh.

"Baek! Bagaimana kau bisa meninggalkan Kyungsoo..."

"Aku akan meninggalkanmu jika kau ingin bertahan di sana! Lelaki manapun tidak akan mau menyakiti wanita yang dipedulikannya. Apalagi wanita itu istrinya, kekasih hatinya. Kau sendiri yang mengatakan itu padaku."

Chanyeol terdiam di tengah menuruni tangga. Ia memandang Baekhyun yang berada lebih tinggi mensejajarkan posisi mereka.

"Kau mau mendengarkan aku?" Setengah meminta Baekhyun menyentuh wajah Chanyeol.


~ RoséBear~


Aroma masakan menguar dari dapur kediaman keluarga Park. Sejak siang kafe memang sudah di tutup karena kedua orang tua Chanyeol harus berkunjung ke pesta pernikahan saudara mereka. Hanya sekedar makanan yang dipanaskan, semangkuk sup labu diletakkan Baekhyun di atas meja bulat.

"Kau lapar bukan? Pagi ini kau hanya makan roti panggang."

Wanita itu tersenyum lembut. Menyadari emosi masih ada pada diri Chanyeol. Menarik napas dalam, Baekhyun mengulurkan tangannya menangkup pipi kanan Chanyeol.

"Kyungsoo akan baik-baik saja."

Pria itu mengalah, mengambil sendok dan mulai menyendok sup labu yang telah dipanaskan Baekhyun.

"Bisakah kau tenang? Aku di hadapanmu Chan." Ia masih menempelkan tangannya pada wajah Chanyeol. Merasakan bagaimana mulut lelaki itu mulai menelan sup labu.

"Kenapa kau meninggalkan mereka?"

"Karena mereka tidak membutuhkan kita. Jangan membuat sulit dr. Kim untuk memperbaiki hubungan dengan Kyungsoo," Ia tersenyum lembut.

"Apa maksudmu sayang?"

Wanita itu merasa mendapat kesulitan untuk sekedar memberitahu Chanyeol, Tapi dia harus memberitahu sesuatu, "Malam itu, kau tertidur setelah kita membantu Suho mengurus upacara pemakaman kakek mereka. Dia memberitahuku sesuatu, yang saat itu aku pikir tidak masuk akal."

"Maksudmu?" Chanyeol tidak bisa menutupi rasa penasarannya.

"Malam itu Suho bertanya tentangmu dan juga Kyungsoo. Aku katakan bagaimana persaudaraan kalian, lalu dia bilang sesuatu padaku."

Chanyeol tidak bisa menutupi rasa penasaran tentang apa yang ingin dikatakan Baekhyun.

'Dulu Kai sangat pandai bermain piano. Tidak peduli tentang ibu yang ternyata menderita OCD, dia terus bermain untuk menenangkan ibu. Lalu sebuah tragedi terjadi, membuat kami kehilangan ibu dan juga musik milik Kai. Sampai ketika dia membawa Kyungsoo ke rumah, aku dan kakek sangat senang. Kami melihat bagaimana Kai sangat berusaha melindungi Kyungsoo seperti dia menjaga permainannya dulu. Yang paling menyenangkan adalah melihatnya tertawa bahagia.'

"Tapi dia tidak pernah bilang mencintai Kyungsoo! Semua dilakukan untuk kakeknya, dia meninggalkan Kyungsoo begitu kakeknya tidak ada," Chanyeol memotong cerita Baekhyun membuat wanita manis itu melotot padanya.

"Kurasa dr. Kim punya masa lalu yang menyedihkan. Ketika itu Suho tidak bilang mengenai alasan kenapa mereka kehilangan ibu dan juga musik dr. Kim. Tapi aku mendengar percakapan kalian tadi, kurasa Kyungsoo sudah tahu alasannya. Kupikir kepergian ibu mereka menjadi alasan perginya musik dr. Kim atau mungkin sebaliknya."

Chanyeol mengehela napas panjang sebentar. "Kau menguping lagi?"

Wanita itu mengangguk pelan.

"Kyungsoo bilang itu akan menyakiti mereka berdua jika dia memaksakan diri."

Baekhyun menggeleng pelan, "bagaimana jika dr. Kim tidak benar-benar membenci musik? Seumpama sebagai pelarian akibat tragedi masa lalunya."

Alis Chanyeol berkerut.

"Sama ketika aku memutuskan tinggal bersama nenek. Aku melarikan diri karena menyakiti Kyungsoo. Aku terlalu takut, aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan penyesalan kepada kalian."

"Pada akhirnya itu menyakiti kita bertiga dengan kepergianmu."

Chanyeol menarik tangan Baekhyun dari pipinya. Menggenggam erat tangan mungil itu. "Kau tahu kami tidak bisa marah padamu. Hanya sedikit kecewa..."

"Aku paham."

Saat itu ponsel Chanyeol berdering. Panggilan dari ayahnya. Meminta bantuan Chanyeol karena mobil yang mereka kendarai mengalami kerusakan padahal kedua orang tua itu masih berada di setengah perjalanan untuk tiba di rumah saudara mereka.

Chanyeol sedikit kebingungan. Bagaimana dia bisa meninggalkan Kyungsoo dan Kai berdua saja. Jika terjadi sesuatu bagaimana? Tapi Baekhyun meyakinkan akan tidak masalah. Mereka tidak bisa meninggalkan pesan begitu saja, pada akhirnya Chanyeol berusaha mengetuk pintu dan menyembulkan kepalanya ke dalam.

'Ayah dan ibu mengalami masalah di perjalanan,' ia setengah berbisik membuat Kyungsoo terkejut dengan kabar yang dibawa Chanyeol.

'Kau mau pergi?"

Ia mengangguk pelan walau ingin berkata untuk mengajak Kyungsoo dan meninggalkan Kai.

"Akan kuhubungi jika terjadi sesuatu."

Saat itu Chanyeol segera menarik tubuh masuk sepenuhnya ke dalam kamar untuk berdiri berhadapan dengan Kyungsoo.

"Kau masih mencintainya?"

Wanita itu melirik Kai yang masih terbaring di ranjang. "Menurutmu aku harus bagaimana?"

Chanyeol mendorong kepala Kyungsoo dengan jari telunjuknya. "Saat aku ragu bagaimana cara menyatakan perasaan pada Baekhyun kau memaksaku. Tapi untukmu, aku tidak akan memaksamu melakukannya. Jika dia pria terhormat, alasan apapun tidak seharusnya ia gunakan untuk menolakmu. Aku akan pergi."

"Ya. Berhati-hatilah saat berkendara."

Di bawah sana Baekhyun telah menunggu, melambaikan tangan pada Kyungsoo.


~ RoséBear~


Cukup sekali dia hidup tanpa alunan musik setelah memulai tragedi mengerikan itu. Ia bahkan menderita banyak kesulitan setelah itu, kali ini ia tidak ingin hidup tanpa Kyungsoo, wanita dengan segala kelembutan dalam permainan musiknya, dalam sesi percintaan mereka dan semua sikap Kyungsoo. Membayangkannya saja sungguh menyesakkan, lihatlah dalam dua minggu saat Kyungsoo tidak bersamanya, perlahan ia hancur, begitu usang dan tidak memiliki tenaga untuk memulai hari. Jika yang pertama adalah musik, sekarang dia mengalami cinta pertama untuk seorang anak manusia. Untuk pertama kalinya dalam hidup Kai, dia ingin pempertahankan seseorang dengan sangat kuat. Memaksakan diri memperjuangkan wanita yang ingin dijaganya. Dia tidak ingin mengulang kesalahan seperti pada Ibunya atapun Luhan. Dia tidak ingin berada dalam penyesalan terdalam.

Dengan sangat brengseknya dia meminta Kyungsoo menjalani kehidupan yang baik-baik saja tanpa dirinya. Padahal dia tahu itu akan sangat menyakiti dirinya sendiri. Dia tidak ingin Kyungsoo menjauh, sekalipun dia harus mengakui penyesalannya. Karena yang Kai inginkan adalah Kyungsoo berada di sampingnya, di tempat di mana dia bisa melihat dan menjaga Kyungsoo, istrinya.

Rasanya dingin namun ada beberapa bagian yang terasa hangat, Kai mulai meraih kesadaran ia bergerak gelisah merasakan sentuhan hangat pada bagian kepala. Mata kelam itu perlahan mengerjap lalu menyadari keberadaan Kyungsoo.

"Kau sudah sadar?"

Suara berat dan terdengar serak baru saja bertanya pada Kai. Ya Tuhan. Apa yang telah dia lakukan pada istrinya sampai suara Kyungsoo begitu serak. Tenaganya belum terkumpul secara normal. Kai memaksakan diri untuk bangun dengan bantuan Kyungsoo. Ia memegang erat lengan Kyungsoo membuat wanita itu setengah meringis.

Menerima air minum dan juga obat yang disuapkan Kyungsoo. Kai hanya bisa melihat dan merasakan kebaikan Kyungsoo.

"Kita di mana?" Satu pertanyaan itu lolos dari pikiran Kai.

"Rumah keluarga Park. Kamar Chanyeol tepatnya. Mereka semua sedang bepergian. Kau pingsan dan dokter bilang kau akan baik-baik saja."

Ia melihat Kyungsoo membereskan baskom berisikan air dan handuk. sepertinya saat dia tidak sadarkan diri, Kyungsoo menyeka tubuh bagian atas Kai.

Saat wanita itu akan beranjak Kai mencengkram tangan Kyungsoo. Menghempaskan ke atas tubuhnya sendiri. Tidak peduli pada baskom air yang terjatuh ke lantai. Lelaki itu menarik Kyungsoo dalam sebuah pelukan.

"Apa yang kau lakukan?" Kai mendengar Kyungsoo setengah berteriak di depan dadanya.

"Biarkan aku mengisi tenagaku Kyungsoo," Kai berbisik pelan.

Tubuh Kyungsoo merasakan getaran ketika Kai bicara dengan menekan bibirnya pada pucuk kepala Kyungsoo.

"Lepaskan aku! Kau tidak bisa bersikap begini padaku," ia semakin memeluk wanita itu erat ketika Kyungsoo berusaha melepaskan diri.

Memegang kepala dan pinggang Kyungsoo, menahan tubuh itu agar tetap berada dalam dekapannya.

"Aku ingin bersamamu. Sekarang dan seterusnya aku ingin hidup bersama denganmu. Karena berpikir begitulah aku ingin berusaha, tapi ternyata itu membuatmu menderita."

Kai merasakan pertahanan Kyungsoo mulai runtuh, tidak ada dorongan untuk menjauhkan tubuhnya. Ia tersenyum, semakin mendekatkan diri. Mencari kenyamanan saat memeluk Kyungsoo.

"Maafkan aku Kyungsoo," suaranya terdengar lirih membuat Kyungsoo mendongakkan kepala. Pria itu mengusap punggung Kyungsoo.

"Aku sangat menyesal untuk banyak hal. Suho hyung sudah mengatakan padamu, seharusnya aku yang mengatakannya langsung. Tapi tidak pernah menemukan waktu yang tepat."

"Ke-kenapa?" Ia merasakan Kyungsoo mulai melunak. Kai melonggarkan pelukannya. Ia menarik tubuh untuk bersender ke kepala ranjang. Membuat tubuh Kyungsoo ikut tertarik dalam pelukan.

Pikiran Kai menerawang begitu jauh. "Karena kau begitu bahagia saat bermain violin. Aku merasa mendapat hukuman atas perbuatanku pada ibu."

"Artinya aku menyakitimu setiap kali bermain violin."

Kai buru-buru menggeleng. "Tidak seperti itu. Aku... Tidak bisa menyampaikan penyesalanku pada ibu. Aku terlalu takut, aku menjadi pria brengsek tiap kali melarangmu bermain. Setiap kali melihatmu memainkan violin, penyesalanku semakin meningkat."

"Aku menyakitimu Kai."

Kai kembali menggeleng. "Tidak Kyungsoo. Justru kau menyadarkan aku. Aku tidak ingin mengakhiri hubungan denganmu, kumohon percayalah padaku. Kumohon," jemari halusnya menyentuh bibir bawah Kyungsoo. Ia menatap wanita itu dengan senyum tulus, namun sebuah harapan besar dan ketakutan ada di tempat yang sama.

"Tapi kau memintaku pergi. Kau Pantas memintanya karena aku tidak bisa menjaga janjiku untuk kesehatan kakekmu," suara Kyungsoo seperti bisikan. Kai sungguh menyesal.

"Tidak. Kau tidak seharusnya pergi saat itu. Aku banyak melakukan kesalahan padamu, aku minta maaf karena memanfaatkanmu, aku minta maaf karena aku terus mengancam dan mengekangmu. Aku benar-benar menyesal."

Ia melepaskan pelukannya, membuat Kyungsoo mengambil posisi duduk di pinggir ranjang. Kai menunduk menghindari tatapan Kyungsoo.

"Maafkan aku Kyungsoo," bisiknya pelan.

"Kau telah mengurusiku dengan sangat baik. Pagi itu kau memainkan musikmu hingga menarikku datang, lalu ketika aku menyebutkan musik yang kau mainkan dengan suara beratku. Kau bahkan membuatku menahan napas, aku tidak pernah memikirkan arti pertemuan itu. Tapi kupikir itu bukanlah sekedar sebuah kebetulan, sejak awal Tuhan memberiku kesempatan untuk keluar dari penyesalan."

Kyungsoo mengangkat wajah Kai meminta kepastian. Tapi pria itu bersungguh-sungguh, wajahnya menampilkan penyesalan mendalam.

"Aku pernah bilang pada ibu betapa aku membenci musik, tapi tidak berapa lama kemudian ibu meninggal karenaku, aku semakin ketakutan..."

Ia merasakan sentuhan hangat Kyungsoo. Wanita itu datang sendiri. Memeluk Kai begitu erat.

"Aku berkata membenci musik untuk melindungi diriku dari penyesalan. Aku sangat ketakutan setiap kali mengingat hari itu."

"Sssttt, apa kau baik-baik saja jika mengatakan ini padaku?"

Kai diam sejenak, kemudian ia mengangguk pasti. "Aku melarikan diri, berlindung di balik Luhan karena tidak memiliki keberanian mengungkapkan penyesalan pada kematian ibu. Tapi anak perempuan itu juga menghianatiku. Semakin hari aku tumbuh dalam kondisi penuh penyesalan. Tapi setelah bertemu denganmu, aku bisa merasakan ketenangan lagi, aku ingin memulai semuanya kembali."

Wajah pria itu menunjukkan penyesalan mendalam, berapa banyak rasa sakit yang telah dia terima karena memendam perasaan selama ini.

"Aku menyukaimu setelah semua yang terjadi. Perasaan itu semakin dalam. Aku bersungguh-sungguh mencintaimu, aku akan melindungimu. Menjaga apa yang kau sukai. Kumohon jangan meninggalkan aku Kyungsoo."

Kyungsoo menyadari jika posisi membuat tubuh mereka menyatu. Ia merasakan jantungnya berdebar karena pengakuan Kai. Lelaki itu pasti bisa mendengarnya.

Suasana menjadi canggung beberapa saat.

"Apa kau masih ingin meninggalkanku?" Kai bertanya hati-hati. Jantung pria itu juga berdetak kencang menanti jawaban Kyungsoo.

Kyungsoo berusaha menyamankan diri berada dalam dekapan suaminya. "Dari awal aku tidak pernah ingin meninggalkanmu. Tapi perempuan itu? Dia..."

"Kau masih tidak percaya padaku?"Kai setengah tersinggung oleh ucapan Kyungsoo.

"Bukan begitu maksudku," hingga membuat Kyungsoo menjadi gugup. Rupanya pria ini masih mengintimidasi.

Kai menahan diri saat merasakan tatapan Kyungsoo yang begitu penuh harap. "Apa kau tahu Chanyeol marah besar dan memaksa membawaku pergi dari rumah. Aku menangis seharian setelahnya, tapi kau tidak mencariku. Sampai akhirnya aku beranggapan kau benar-benar ingin melepaskan aku." Air mataya tumpah. Kyungsoo ingat hari itu dia menangis hingga rasa lelah memaksanya tertidur. Tapi keesokan pagi saat terbangun, dia tetap berada di tempat yang sama. Di ranjang Chanyeol, tanpa Kai yang dia harapkan.

"Maafkan aku Kyungsoo,,,"

"Aku tersiksa karena kau tidak memberiku kepastian!" Wanita itu memotong ucapan Kai dengan setengah berteriak. Sekarang pria ini harus mengalah dan mendengarkan Kyungsoo. Ia hanya bisa mencoba menghapus air mata istrinya.

"Sampai ketika aku pergi ke rumahmu untuk mengambil barang yang kutemukan. Suho mengatakan banyak hal padaku. Lalu tiba-tiba Kris mengatakan kau sakit, aku sangat menghawatirkanmu, tapi apa yang kulihat. Kau merayakan ulang tahunmu bersama seorang wanita..." Ia ber jeda setelah kalimat panjang, "sementara aku harus sendirian."

Saat itu Kai tidak bisa menahan dirinya lagi. Oh. Betapa dia telah banyak menyakiti Kyungsoo.

"Maafkan aku Kyungsoo... Maaf," ia mengusap punggung Kyungsoo. Sekarang wanita ini semakin menangis, air mata Kyungsoo membasahi dadanya.

"Jika kukatakan aku benar-benar telah jatuh cinta padamu. Apa yang kau pikirkan tentangku?"

Sebuah pertanyaan yang membingungkan. Kyungsoo mendongak menatap Kai. Tapi pria itu malah tersenyum, semakin lebar hingga deretan gigi rapi terlihat.

Untuk beberapa saat mereka kembali diam dengan saling menatap. Pria itu berusaha meyakinkan jika dia telah jatuh hati pada istrinya sendiri.

"Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau boleh membunuhku jika aku melakukan hal seperti itu lagi."

"Ka-kau yakin?" Kyungsoo bertanya gugup. Tapi yang dia dapat adalah anggukan pasti Kai.

"Walau Luhan memaksa merayakan ulang tahunku untuk menghiburku. Tapi kau membawakan kado terindah dalam hidupku."

Mereka diam sejenak.

"Aku bertanya-tanya apa ibu memiliki perasaan kepadaku karena dia hanya tersenyum saat mengingat nada yang kuhasilkan. Tapi kau meyakinkan aku, ibu menyayangiku. Kotak itu, buku harian ibu, polaroid yang mencetak pertumbuhan aku dan Suho. Terima kasih telah menemukannya. Jika kau tidak datang dalam hidupku, mungkin aku tidak pernah tahu hal besar ini. Aku akan terus hidup di dalam penyesalan. Aku hanya akan berpikir yang ibu inginkan adalah musikku, tapi nyatanya dia sangat mencintai kami."

"Kotak itu, jika kau menggeser rak di ruang penyimpanan maka kau akan menemukannya," Kyungsoo memberi jawaban yang membuat Kai terkekeh pelan.

"Aku tidak akan pernah merubah apapun dari ruangan itu. Karena itu satu-satunya tempat yang membuatku nyaman. Tapi aku mengetahui kenyataannya sayang," suara Kai mengalun begitu lembut. Ia membelai rambut Kyungsoo. Tiap bicara, bibirnya bergetar di atas kepala Kyungsoo. "Bukan ruangan itu yang membuatku nyaman. Tapi apa yang telah disembunyikan di sana. Terima kasih banyak."

"Jadi menurutmu aku bagaimana?" Kai kembali bertanya membuat Kyungsoo menatapnya mencari arti pertanyaan itu.

"Bisakah aku terus menjadi istrimu?"

Saat itu dekapannya menjadi semakin erat. "Tentu saja. Aku menjanjikan banyak hal padamu, kebahagiaanmu, aku tidak akan melarangmu bermain musik. Aku akan bertanggung jawab kepada Ayahmu, semua yang membuatmu senang, aku akan melakukannya Kyungsoo."


~ RoséBear~


"Kai kau yakin baik-baik saja? Maksudku, tadi kau pingsan dan baru sadarkan diri."

Pria itu menoleh menatap Kyungsoo bingung karena pertanyaan istrinya yang terdengar khawatir.

"Istirahat saja, biar aku yang menyiapkan makan malam."

Lelaki di sebelahnya menggeleng pelan. Ia bergeser dan memeluk Kyungsoo membuat wanita itu terdiam. Pelukan Kai semakin erat, "Battery full."

Mata bulat Kyungsoo terbuka lebar mendengar perkataan Kai.

"Tenagaku kembali lebih cepat ketika memeluk istriku yang manis."

Oh astaga! Dia hampir lupa. Jadi ini maksud perkataan Kai tempo hari.

Kai membawa tangan Kyungsoo ke mulut dan mengecupnya. "Aku mencintaimu, sangat."

Wajah itu mulai memerah kembali. Ia menunduk dan mengigit bibir bawahnya. Sensasi kali ini memiliki pengaruh lebih hebat dari sebelumnya setelah keduanya mengakui perasaan masing-masing.

"Sudah kukatakan jangan menggigit bibir bawahmu. Kau mau kita bercinta sekarang? Di sini?"

"Ya brengsek!"

Dua anak manusia itu menoleh bersamaan setelah mendengar suara geraman dari seorang lelaki yang muncul dengan napas pendek-pendek berdiri di ambang pintu menatap marah pada keduanya, akhh tepatnya pada Kai. Seperti akan menghunuskan pedang ke jantung Kai.

Making mistakes in the business world or workplaces is actually something common. However, to let opportunities slip out of hands is foolishness!


To be Continue...


Best Regards

~ RoséBear~