AN: Sebaiknya aku menyampaikan di awal. ada sex scane pada akhir chapter. jadi kalian bisa melewatkan sampai menunggu last chapter update. hehe
uhmmm ya, terima kasih banyak karena telah membaca sampai sejauh ini ^^
The Paradox of Lost Complementary
Complementary
Present by RoséBear
-Preview chapter 21-
"Jadi menurutmu aku bagaimana?"
"Bisakah aku terus menjadi istrimu?"
"Tentu saja. Aku menjanjikan banyak hal padamu, kebahagiaanmu, aku tidak akan melarangmu bermain musik. Aku akan bertanggung jawab kepada Ayahmu, semua yang membuatmu senang, aku akan melakukannya Kyungsoo."
[Part 4 : Path of Opportunity 180629]
22th Chapter - KaiSoo
Content: GS. Family. Friendship. Marriage life. Musik. Surgery
Lelaki itu hanya pergi beberapa jam saja, menyusul kedua orang tuanya. Memberikan mobil miliknya lalu ia kembali dengan menaiki bus setelah sebelumnya mengantar pulang sang kekasih ke rumah. Jarak halte ke rumahnya cukup menguras tenaga, ia menghubungi wanita yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri namun panggilan tidak diangkat, ia mulai menjadi cemas bagaimana rupa seorang saudara lelaki ketika saudara perempuannya tidak kunjung kembali padahal sudah tengah malam. Setengah berlari dengan napas pendek-pendek, melahirkan beberapa bulir keringat ia mendapati kemesraan sepasang suami istri di dapur rumahnya.
Chanyeol
Pria itu mengetuk sup labu menggunakan sendok. Tak pelak, sebagian memercik keluar mangkuk. Ia duduk berhadapan dengan Kyungsoo dan Kai. Melotot seperti ingin mengubah sendok menjadi garpu dan mencabik muka Kai dalam beberapa gerakan.
"Chan?" Kyungsoo mencoba memanggilnya. Mungkin saja dia bisa langsung melunak tapi Chanyeol kembali melotot ketika Kai menarik pinggang Kyungsoo merapat padanya menciptakan bunyi deritan kursi yang bergeser tiba-tiba.
Pandangan lelaki tinggi itu sangat ingin mengatakan 'jauhkan tanganmu dari saudariku.'
"Bagaimana caranya kau bisa berbaikan dengan pria brengsek ini dalam beberapa jam setelah hampir dua minggu menyiksaku?"
"Aku tidak menyiksamu," Kyungsoo berkilah. Ia membuang muka. Hanya mereka berdua yang mengerti maksud ucapan Chanyeol, sementara Kai menatap keduanya bergantian meminta penjelasan. Pria tan itu kebingungan.
"Ya! Kau menyiksaku Kyungsoo! Make my lying in the floor, take Baekhyun time's from me... Oke! Ask yourselves!" Putus Chanyeol kemudian. Ia melipat kedua tangan di depan dada. Sejujurnya Chanyeol masih tidak rela Kyungsoo bersama Kai walau Baekhyun sudah memberi penjelasan. Lebih buruk lagi dia sendirian di antara dua anak manusia di hadapannya.
Kyungsoo terkikik pelan semakin membuat Kai menaikkan alisnya.
"Ya. Ya! Anggap saja kau memberiku hadiah ulang tahun! Kau yang merusak violinku dan Baekhyun yang menggantinya."
Saat itu Kai tersenyum dan sebuah kebetulan Chanyeol menyadarinya. "Violin itu di kirim dr. Kim untukmu."
Mata Kyungsoo membulat lebar menatap Chanyeol dan Kai bergantian.
Tapi sentuhan lembut tangan Kai pada rambutnya menyadarkan Kyungsoo segera.
"Aku senang kalau kau menyukainya."
"Oke! Tell me, what is the prime determinant in this care?" Chanyeol menarik perhatian keduanya. Menghilangkan rona kemerahan di wajah Kyungsoo yang baru saja muncul karena pengakuan Kai barusan.
"Sebaiknya kita perjelas hubungan kalian agar aku tidak menghajar dokter ini."
"Oh tuan Park! Sejujurnya pukulanmu tadi sore sama sekali tidak menyakitiku," Kai membela.
"Okay. I believe that using our brain to memorize things are sometimes important Chan."
Kyungsoo memulainya. Tapi kemudian ia memegang lengan Kai menatap pria itu. "Bisakah kami bicara berdua saja? Lima belas menit. Lalu kita kembali ke rumah."
Chanyeol baru saja akan protes namun kemudian Kai mengacak rambut Kyungsoo pelan. "Berapa lamapun untuk waktumu bersama saudaramu. Aku akan menunggu di luar."
Dalam hati Chanyeol benar-benar terpesona oleh perlakukan Kai terhadap Kyungsoo. Di antara mereka, seharusnya ada yang mengalah jika ingin meneruskan hubungan. Tampaknya orang itu adalah Kai.
Lelaki tan itu beranjak meninggalkan keheningan beberapa saat pada Kyungsoo dan Chanyeol.
"Keep an open mind and heart and you will see amazing things happened in your life..."
"Never close the door to any opportunity, as you never know what you will be able to gain by it for yourself and family."
Chanyeol melanjutkan kata-kata Kyungsoo. Sejujurnya itu adalah kata-kata yang sering diucapkan ibu Kyungsoo. "Pernikahan ini adalah kesempatan yang diberikan padaku. Aku ingin memperbaiki semuanya, mulai berjalan bersama..."
"Pada dasarnya kau telah jatuh cinta pada suamimu sendiri. Katakan padaku apa yang bisa kulakukan sebagai saudaramu?
Kyungsoo tersenyum saat Chanyeol memotong ucapannya. "Berteman baiklah dengan Kai."
"Kalau begitu aku juga punya permintaan untukmu."
Kyungsoo mengangguk pasti, menunggu perkataan Chanyeol selanjutnya.
"Berbaikanlah dengan Baekhyun."
Keduanya hening sejenak. Wanita itu memejamkan matanya pelan, ia tersenyum seperti berada di dunianya sendiri. "Aku menyayanginya. Aku sungguh takut kehilangan kau dan juga Baekhyun. Tentu saja!" Kyungsoo membuka matanya. "Mungkin mulai sekarang aku akan lebih banyak bercerita padanya dan melupakanmu."
"Heh? Ya! Maksudku tidak begitu..."
Kyungsoo menepuk punggung tangan Chanyeol karena pria itu terlihat panik.
"Ketika mulai dewasa, ada beberapa hal yang tidak bisa dibicarakan wanita dengan saudara laki-lakinya. Maka dia membutuhkan saudara perempuannya. Kau sendiri yang mengatakan padaku."
Chanyeol menarik tangan dan memalingkan wajah dari Kyungsoo. Dia masih sedikit merasa tidak senang jika harus diabaikan oleh Kyungsoo dan Baekhyun secara bersamaan. Terkadang sikap kekanak-kanakkan seseorang muncul tat kala dia merindukan seorang saudara. Tapi Chanyeol sadar mereka sudah dewasa, seseorang berubah ketika menjalani fase ini, dia tahu akan hal itu.
"Ya! Ya! Pulanglah. Jika dia menyakitimu jangan salahkan aku jika menghukum dr. Kim detik itu juga."
Kyungsoo terkikik geli ketika Chanyeol menarik tubuhnya. Mendorong wanita itu keluar dari dapur bahkan rumah. Di luar, Ia melihat Kai masih menunggu. Pria itu sedikit terkejut, tapi Chanyeol telah mendorong tubuh Kyungsoo hingga masuk ke dalam mobil Kai. Ia menghampiri Kai dan merangkul pundak Dokter muda itu.
"Dia saudara perempuanku satu-satunya. Juga wanita yang sangat disayangi kekasihku. Kali ini aku benar-benar-benar menyerahkannya padamu. Aku minta tolong..."
Kai mengangguk. "Aku pasti akan melindunginya."
Ketika dua pria berkomitmen untuk seorang wanita dengan status yang berbeda. Maka dia adalah wanita paling beruntung. Hidupnya akan baik-baik saja.
~ RoséBear~
Dua minggu setelah itu, Kai dan Kyungsoo tampak sibuk mengepaki barang-barang mereka. Hari ini dan beberapa hari sebelumnya mereka telah memindahkan semua barang-barang ke rumah baru yang telah selesai direnovasi. Meninggalkan segala kemewahan dari keluarga Do maupun luas perkebunan dari keluarga Kim. Tinggal di Kota besar seperti Seoul sedikit menyulitkan, namun Kai berhasil menemukan lokasi yang tepat, dia telah melakukan renovasi pada sebuah rumah sejak pernikahan mereka.
Rumah dua lantai yang direnovasi menggunakan design townhouse Kyoto. Saat membuka pintu pertama, orang-orang akan disuguhi koridor memanjang hingga ke sisi lain, mereka memiliki taman kecil di tengah-tengah bangunan. Taman tradisional yang bisa diakses langsung dengan beberapa ruangan seperti perpustakaan milik Kai, dapur, ruang televisi sekaligus tempat untuk mereka menikmati wine ataupun teh, ruang tamu, lalu kamar mandi di ruang bawah dibuat begitu spesial, dimulai dari dinding hingga penampungan air terbuat dari kayu, bisa digunakan untuk tempat berendam dan dari kamar mandipun langsung bisa melihat ke taman jika tirai bambu ditarik. Berendam air panas sembari menghirup aroma kayu-kayuan dengan pemandangan sebuah taman. Kyungsoo menjadi tidak sabar untuk mulai tinggal di rumah ini. Sementara di lantai dua dihiasi furniture antik.
'Apa malam ini kita mulai tidur di sini?'
Kai mendapatkan sebuah pesan yang dikirim Kyungsoo. Istrinya itu, baru memiliki ponsel baru. Beberapa hari ini selalu mengirim pesan singkat yang membuatnya ingin cepat-cepat pulang. Tentu saja memeluk Kyungsoo untuk mengisi tenaganya.
"Terima kasih banyak dr. Kim."
Kai tersenyum pada Tao dan sosok Kris yang setia menemani kekasihnya itu. Perkembangan wanita itu tampak lebih baik setelah melakukan operasi walau dia masih harus tinggal di rumah sakit dan mengkonsumsi obat-obatan dalam kadar rendah.
"Ya. Apa masih ada yang membuatmu penasaran nona muda?"
Wanita itu menggeleng. "Tidak. Kalau begitu aku akan kembali ke ruang perawatan."
"Ya. Terima kasih banyak Kai. Sampai bertemu minggu depan."
Kris memutar kursi roda Tao. Membawa wanita itu menjauh.
Sekarang waktunya dia berkemas dan bergantian jadwal dari seorang dokter menjadi seorang suami.
~ RoséBear~
Pria itu berkendara, berhenti sebentar ke sebuah minimarket dan dia menemukan seorang pemuda penjual tiket konser. Tanpa sadar kakinya melangkah mendekat.
Konser musik akhir musim dingin.
Oleh Parikian Chun
Bukankah Kyungsoo bergabung di sini? Tapi seingat Kai, istrinya tidak pernah mengungkit tentang konser musik walau sekali-kali dia terlihat memainkan violinnya. Dari Kyungsoo, Kai mulai merasa nyaman dengan alunan musik, sudah sangat lama sejak terakhir dia menikmati alunan musik yang sesungguhnya. Tapi pertemuan pertama dengan Kyungsoo adalah pintu kesempatan untuk Kai.
Pria itu tiba-tiba saja membeli dua tiket. Harusnya dia membeli satu, tapi entah kenapa dia membeli dua. Mungkin dia bisa memberikan pada orang lain atau menyimpannya.
Pria itu kembali melaju, sekarang jarak tempuhnya sedikit lebih jauh, mereka benar-benar pindah rumah. Kai memarkir mobilnya di garasi sebelah rumah. Halaman parkir yang dipisah dengan tembok setinggi dua meter.
Ia melewati koridor pertama setelah meletakkan sepatu di rak.
"Aku pulang, kau tidak menyambutku?" Ia merasakan keterkejutan Kyungsoo ketika Kai memeluknya dari belakang. Membuat pundak istrinya menerima beban berat akibat kepala yang bersender manja di sana.
"Hmmppmm. Kau sangat wangi, apa kau sudah mandi?" Ia bertanya dengan suara serak.
"Kai, aku sedang menyiapkan makan malam."
Pria itu terus saja menempel walau Kyungsoo berusaha menyusun makanan di atas meja. Ruang makan itu tidak terlalu luas, memiliki dinding pemisah dengan area dapur, dua bantal diletakkan di lantai dengan sebuah meja kayu memanjang untuk menempatkan hidangan, serta sebuah lemari. Sudah tentu lemari itu berisikan bantal tambahan jika mereka menerima tamu. Tapi untuk malam ini mereka tidak akan menerima tamu dari manapun. Sebab tidak ada yang sadar jika mereka benar-benar telah pindah rumah.
"Kenapa kau tidak mandi sementara aku menyiapkan makan malam?"
Kai diam sejenak. Ia melonggarkan pelukannya memberi akses untuk Kyungsoo lebih leluasa dalam bergerak. Setelah mangkuk terakhir ia tarik pundak wanita itu agar berhadapan. Menangkup pipi gembil Kyungsoo untuk mendaratkan sebuah ciuman.
Bibir lelaki itu terasa panas, membakar gelora menunduk merasakan nikmat yang hanya bisa diberikan istrinya. Ia mengakhiri ciuman itu, menyaksikan bagaimana wajah Kyungsoo memerah karena kesulitan bernapas.
"Kenapa manis di bibirmu tidak pernah habis? Aku menyukainya."
Chup
Satu kecupan terakhir sebelum dia beranjak dan melarikan diri ke dalam kamar mandi. Ruangan yang terdapat di sebelah area dapur.
~ RoséBear~
Kyungsoo masih mengatur debar jantungnya. Sudah dua minggu sejak hubungan mereka menjadi sangat baik.
'Seperti Itulah wajahnya ketika ibu masih ada. Dia tertawa, memeluk orang disekitarnya dan yang paling penting Kai sekali lagi berani menyampaikan penyesalannya dengan berkata maaf. Semua itu karena keberadaanmu.'
Saat itu ia ingat akan ucapan Suho. Kyungsoo benar-benar tidak tahu banyak mengenai Kai. Tapi lelaki itu telah berjanji, ia akan menjawab setiap pertanyaan Kyungsoo. Tidak akan ada yang disangkal, Kai akan meluangkan waktu untuk memberikan jawaban.
Seperti saat Kai telah selesai mandi dan kembali ke area dapur, lelaki itu segera duduk, menerima pelayanan yang Kyungsoo berikan. Mereka selalu memulai makan malam dengan pertanyaan basa basi yang amat sangat penting dalam sebuah hubungan.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
"UGD menerima korban tenggelam. Kau tahu, seorang wanita muda menjambak rambut kepala perawat hari ini. Ahhhh~ UGD benar-benar ramai."
"Aku masih tidak mengerti kenapa kau harus sering berkunjung ke UGD. Bukankah kau dokter bedah saraf yang ditugaskan di bangsal?"
Kai mendongak. "Apa yang salah? Menyenangkan melihat orang baru setiap harinya."
"Aku boleh mengajukan pertanyaan?"
Kai mengangguk segera.
"Semasa kuliah, berapa banyak wanita yang kau kencani?"
"Uhuk!"
Ia tersedak makanannya sendiri mendengar pertanyaan Kyungsoo.
Wanita ini, bukannya membantu Kai dengan memberikan air ia malah mendesis. "Eissshhhh begitu banyak wanita, huh!?"
Kai meneguk air minumnya. Ia melotot pada Kyungsoo. "Jangan coba-coba berkencan dengan pria manapun atau aku akan menghamilimu sebelum kau memulai jadwal kuliah."
Kyungsoo memutar bola matanya kesal. Ia kembali menatap Kai masih menuntut jawaban.
"Tidak pernah. Study 'ku terasa membosankan!"
Entah kenapa tiba-tiba Kyungsoo tersenyum.
"Tapi kau bukan wanita pertama yang bercinta denganku."
Degh!
Dengan gerakan patah-patah Kyungsoo melotot pada Kai. Oh astaga! Pria itu adalah yang pertama baginya, bagaimana Kai bisa berkata begitu mudah. Tanpa sadar Kyungsoo menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya menatap pria itu tidak berkedip.
"One night stand! Beberapa kali, itu tidak termasuk kencan. Aku tidak mengingat mereka."
Kyungsoo semakin menekan bibirnya sendiri. Bibir bawahnya secara penuh masuk ke dalam mulutnya membuat Kai tersenyum pada Kyungsoo. Pria itu menyudahi acara makannya. Dibelainya pipi Kyungsoo dan melepas bibir wanita itu.
"Sudah kukatakan jangan menggigit bibirmu sendiri sayang."
Kai setengah condong ke depan. Menangkup wajah Kyungsoo dan mengecup bibir itu lembut.
"Aku pernah bilang jika tidak peduli pada masa lalu. Kau mau menata dan melangkah ke masa depan denganku, itu yang sangat aku pedulikan?"
Tanpa sadar Kyungsoo kembali menggigit bibir bawahnya di hadapan Kai. Mata bulat itu kambali berkedip.
"Ahh Kyungsoo!"
Kai menangkup wajah Kyungsoo, membuat wanita itu mendongak. Menciumnya dengan rakus, dia sudah menahan diri sejak tadi tapi Kyungsoo tak berhenti menggoda. Ciuman itu memberitahu Kyungsoo jika suaminya sangat ingin Kyungsoo percaya. Di masa depan hanya ada Kyungsoo sebagai wanita yang paling Kai cintai.
Napas keduanya memburu, Kai menekan kepala Kyungsoo, ia tersenyum sangat tampan untuk istrinya.
"Ka-kau mau apa?"
Tangan Kyungsoo berusaha bertahan pada sisi meja. Kai tersenyum menyeringai, "Apalagi? Sudah lama aku tidak mengajarimu. Aku mau melihat seberapa banyak perkembangan bercintamu? Kau menyudahi siklus bulananmu beberapa hari yang lalu."
"Y-Y-Ya,!" Kyungsoo berusaha melepaskan diri tapi Kai menahan wajahnya untuk tetap mendongak. Memperhatikan sebagaimana wajah istrinya merona merah karena perkataan vulgar barusan.
"Bukankah tiga hari lalu kau membaca novel erotis yang dibelikan Baekhyun? Aku melihat dia memberikannya padamu saat kita mengepak barang."
"Aku harus membereskan meja makan."
Dia berkata dan tidak bisa menutupi kegugupannya.
Lama hingga akhirnya Kai mengangguk pelan. "Aku akan membantu."
Lelaki itu benar-benar membantu, saat itu tiba-tiba bel rumah berbunyi membuat keduanya saling bertatap walau memiliki ekspresi berbeda. Kai tampak bingung dengan alis berkerut sementara Kyungsoo tersenyum sumringah.
"Kau mengundang teman-temanmu?"
Spontan Kyungsoo menggembungkan bulatan di wajahnya. Tanpa berkata dia melepas sarung tangan karet, membalikkan badan, melangkah meninggalkan Kai dengan beberapa cucian piring.
"Ya Kyungsoo!"
Sayangnya panggilan Kai tidak dipedulikan wanita itu.
Kai buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Saat mendekati koridor pintu utama, samar-samar ia mendengar suara percakapan dan gesekan benda. Beberapa orang terdengar berteriak.
'Ya geser... Ya di sana. Sedikit lagi!'
Dengan seribu langkah penasaran dia mendekat.
Oh astaga. Betapa terkejutnya Kai melihat mobil crane di depan rumahnya.
Ia berjalan mendekati Kyungsoo, memegang kedua sisi pundak istrinya.
"Ada apa?" Kai setengah bertanya penasaran. Kyungsoo mendongak dan tersenyum padanya.
"Hadiah untukmu. Maaf terlambat,,,"
Alis pria itu naik satu tingkat. Satu langkah lagi dia maju setelah menarik Kyungsoo ke posisi belakang. Ia mendongak melihat apa yang ada di dalam crane.
"Ya Tuhan..." Ia berbalik menatap Kyungsoo yang bersedekap tangan.
"Piano?"
"Ya. Aku membelinya dengan uangku sendiri."
"Kau harus menjelaskannya padaku sayang."
Mereka menyelesaikan urusan kedatangan piano itu. Malam hari di akhir musim dingin, istrinya merepotkan jasa pengangkut barang.
Kyungsoo memulai ceritanya. Menjelaskan banyak hal pada Kai dengan posisi duduk dipangkuan lelaki itu. Kai duduk bersila sembari memeluk Kyungsoo. Menikmati pemandangan di taman traditional mereka dengan hanya pencahayaan lampu pijar. Kyungsoo tak bisa banyak bergerak karena kurungan Kai.
Dia mengakui semuanya, pertama Kyungsoo menukar tiket beasiswa yang dia dapatkan dari kemenangan lomba itu dengan uang tunai yang kemudian ia belikan Piano untuk Kai. Kedua, Kyungsoo tidak memasukkan formulir pengajuan cuti semester awal yang artinya dia juga akan memulai kegiatan belajar musim semi ini. Yang artinya dia juga tidak berpartisipasi dalam perjalanan musik milik Parikian Chun yang akan dimulai dari Seoul.
Kai tersenyum sumringah mendengar pengakuan Kyungsoo.
"Aku mencintaimu Kyungsoo... Kupikir kau akan sangat sibuk dengan perjalanan musik itu."
"Ya. Berterima kasihlah aku memikirkanmu sepanjang perjalanan menuju babak final."
Pria itu merapatkan tubuh mereka. "Apa kau juga memikirkanku bercinta denganmu?" Ia berbisik begitu seduktif dengan suara berat membuat Kyungsoo merinding.
Tiba-tiba perkataan Kai di meja makan tadi teringat kembali, tentang one night stand Kai bersama para wanita yang tidak dikenalnya. Ia mendongka dengan wajah mengeluh. Sebab Kyungsoo merasa cemburu.
"Ada apa sayang?"
Ia menghela napas pelan. "Wanita-wanita itu... Apa..." sejenak dia tampak ragu. Tapi sepertinya novel erotis Baekhyun berhasil memutuskan satu urat malu Kyungsoo. "Apa kau menikmati bercinta dengan mereka?"
Hening.
Arghhh!
Rasanya seperti di pertengahan malam. Tiba-tiba terdengar suara kekehan membuat Kyungsoo menoleh.
Ya. Urat malunya sekarang kembali tersambung lagi. Kyungsoo menunduk, menggigit bibir bawahnya menahan malu karena Kai baru saja menertawakannya.
"Hm. Aku tidak ingin membahasnya."
"Kai!" Tanpa sadar ia memekik namun tidak bisa melepaskan diri dari dekapan Kai.
"Bagaimana jika kau mencobanya? Memuaskanku? Kita bisa mencobanya di ranjang."
Wajah Kyungsoo memerah mendengar perkataan spontan Kai. Namun dalam satu gerakan tubuhnya di balik, lelaki itu mengangkat Kyungsoo seperti mengangkat bayi koala masuk ke dalam. Melewati satu pintu menuju kamar di lantai pertama yang ikut menghadap ke taman tradisional. Kai menurunkan Kyungsoo di atas ranjang, pria itu menarik tirai hingga tertutup satu bagian. Menyisahkan pencahayaan terputus-putus dari ruangan lain setelah ia mematikan lampu di dalam. Kyungsoo duduk di pinggir ranjang, matanya mengikuti kemana Kai melangkah, pria itu mengeluarkan sebotol red wine, menuangkan ke dalam satu bowl lalu ia juga mengeluarkan botol 'wine' tanpa alkohol yang dikirim Suho tiga hari lalu saat mereka mulai mengepak barang untuk pindahan, sesuatu yang dikhususkan untuk Kyungsoo. Setidaknya itu yang diucapkan Suho.
"Kemarilah," Kai mengangkat bowl yang telah diisi wine tanpa alkohol milik Kyungsoo. "Tidak akan membuatmu mabuk."
Ia bergeser mendekat, duduk menghadap Kai yang bersender di sisi meja.
Kyungsoo mengernyit pada tegukkan pertama. "Rasanya asam, tapi jejak buahnya masih terasa."
Kai tertawa geli mendengar komentar Kyungsoo. Ia meneguk sedikit red wine miliknya. Ia mengintip Kyungsoo dari balik bulu mata, melihat bagaimana perhatian wanita itu. Seperti sedang mencari sesuatu dalam pikirannya.
"Kau masih punya pertanyaan Kyungsoo?"
Setengah ragu Kyungsoo menatap Kai. Ia meletakkan gelas anggur miliknya di atas meja, memegang lutut Kai meminta jawaban jujur. "Jadi? Apa yang kau lakukan dalam satu malam?"
Sejenak mata kelam Kai tak berkedip mendengar pertanyaan Kyungsoo. Ia mengerti, sepertinya Kyungsoo begitu memikirkannya. Oh Tuhan. Kai tidak boleh membuat istrinya bingung apalagi salah paham. Tapi ekspresi polos Kyungsoo membuatnya ereksi.
"Oral sex."
"Bagaimana melakukannya?"
Degh
Mulut Kai tetutup perlahan akibat pertanyaan spontan Kyungsoo. Apa dia harus melakukannya agar Kyungsoo mengerti?
"Kau cukup katakan saja. Aku... Aku akan melakukannya."
Kai meletakkan bowl anggur miliknya. Kyungsoo saat ini sedikit berbeda, -terlalu menggoda. Entah apa yang telah mempengaruhinya. Sekedar novel erotis dari Baekhyun? Dia yakin Kyungsoo belum membaca novel setebal 300 halaman itu sampai selesai.
"Kemarin aku bertemu Kris. Dia bilang agar kau bertahan bersamaku maka aku harus membuatmu menyukaiku."
Saat itu napas Kai seperti tertahan. Ia benar-benar bergeser ke sebelah Kyungsoo.
'Oh playboy itu. Dia yang mempengaruhi Kyungsoo ternyata.'
"Jangan dengarkan dia. Hanya dengan kau berada di dekatku, dalam pelukanku, maka aku tidak akan bisa lepas darimu. Percayalah, aku akan bertahan di dekatmu. "
Kai berbisik pelan merangkul bahu Kyungsoo. Mendaratkan kecupan hangat pada pipi Kyungsoo.
Tiba-tiba ponsel Kai berdering, membuat pria itu melihat ke layar ponsel.
"Ayahmu," bisik pria itu segera.
"Ada apa Ayahmu menghubungi? Seharusnya dia ada di konferensi terakhir New York."
Pada akhirnya dia mengangkat panggilan.
'Menantuku, bisakah kau scan beberapa jurnal milikku lalu kirim padaku. Aku membutuhkannya untuk bahan tambahan presentasi selanjutnya. Laptop yang kubawa mengalami masalah.'
Ia memandang Kyungsoo sebentar, meminta izin untuk pergi ke perpustakaan melaksanakan tugas ayahnya. Direktur itu, sepertinya tidak sadar jika di Seoul telah memasuki waktu untuk langit menggelap.
Sepeninggal Kai, Kyungsoo meraih ponselnya ia mengetuk beberapa keyword, menemukan beberapa bacaan singkat. Ia tampak serius menatap layar ponsel.
~ RoséBear~
Kai kembali ke kamar setelah lima belas menit, dan lihatlah apa yang dia temui. Ia terperangah seperti orang bodoh, kakinya tertanam di lantai, hanya alis saja yang bergerak semakin bertautan.
"Kyungsoo?" Dengan suara lembut ia panggil wanita itu.
"Hah!?"
Kyungsoo berbalik badan dan terjungkal ke ranjang karena terkejut akan kehadiran Kai. Menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
Oke. Apa yang barusan di lihat Kai? Istrinya? Ya. Kyungsoo tengah mengenakan pakain dalam berenda berwarna hitam transparan. Menampilkan lekukkan tubuhnya walau hanya dalam pencahayaan terputus-putus. Kini wanita itu beringsut ke atas ranjang dan menghindari tatapan Kai.
Kai tidak perlu mempermalukan istrinya sendiri. Perlahan ia berjalan melangkah mendekati Kyungsoo. Duduk di pinggir ranjang.
Dia tidak pernah sebegitu menginginkan menyentuh wanita seperti saat bersama Kyungsoo. Tapi istrinya seperti wanita yang siap bercinta.
Ia menarik Kyungsoo ke arah dadanya, memeluk wanita itu dan meluruskan rambut bagian belakang Kyungsoo. "Kau tidak perlu menutup tubuhmu dariku. Aku suamimu, lagipula aku pernah melihatnya tanpa sehelai benangpun. Apa kau masih malu padaku?"
Kai merasakan Kyungsoo balas memeluknya. "Bagaimana aku harus memulainya?"
Kai terkekeh pelan. Kyungsoo benar-benar serius tentang ucapannya, jika dia menolak maka dia hanya akan membuat istrinya merasa malu.
"Mulailah dengan menyentuh seluruh tubuhku."
Kyungsoo mendongak meminta persetujuan Kai. "Gunakan lidahmu," jarinya masuk ke dalam mulut Kyungsoo, "Untuk menstimulasi agar aku mendapatkan orgasme. Kau tahu betapa nikmat orgasme itu."
Kyungsoo mengangguk pelan. Perlahan ia keluar dari dalam selimut, mendekatkan wajahnya untuk mencium Kai. Bibir hati Kyungsoo turun menyentuh rahang tegas itu.
Sementara pria itu membawa jemari Kyungsoo ke sisi kaos yang ia kenakan. Menuntun tangan Kyungsoo melepaskan kaosnya. Melepas ciuman Kyungsoo sejenak. Ia memandangi bagian tubuh atas Kai yang tidak mengenakan pakaian.
Kyungsoo menatapnya setengah ragu. "Maukah kau menutup matamu?"
Sejenak Kai terdiam. Baik. Ini pertama kali Kyungsoo yang memulainya. Kai tersenyum, memberitahu Kyungsoo jika di dalam laci ada dasi yang bisa ia gunakan. Wanita itu bergegas mengambilnya merangkak menaiki tubuh Kai. Menutup mata pria itu. "Jangan mengintip Kai."
Sekali lagi Kai tersenyum, "tidak akan. Jadi kau bisa fokus pada permainanmu."
Ia merangkak mundur hingga punggungnya menyentuh kepala ranjang.
Kai merasakan rambut Kyungsoo di wajahnya, wanita itu mendaratkan sebuah ciuman singkat yang membuatnya mendamba menginginkan bibir hati itu lebih. Tapi Kai harus bisa menahan ereksinya lebih lama untuk mengajari Kyungsoo. Suara seretan kain karena Kyungsoo merangkak turun membuat Kai tersenyum. Ia merasakan kulit tangan Kyungsoo mencoba menarik celana piyamanya.
Ia sangat yakin Kyungsoo kini memandangi miliknya yang mengeras. Salahkan Kyungsoo yang sejak tadi telah menggodanya. "Jangan hanya kau pandangi sayang," sekarang Kai yakin Kyungsoo terkesiap. Dalam beberapa detik dia merasakan jemari Kyungsoo menyentuh miliknya.
"Ahhhh! Kyungsoo!" Kai mendesah karena sentuhan Kyungsoo. Tangannya mencengkram kepala ranjang untuk tetap bertahan. Ia tidak boleh mengacaukan keinginan Kyungsoo.
Merasakan lidah Kyungsoo yang basah naik turun sepanjang penisnya. Mulut Kyungsoo benar-benar hangat, tak luput bola kembar miliknya tertelan dalam mulut Kyungsoo membuat Kai mengerang.
"Arghh kau menyiksaku sayang~"
~ RoséBear~
Kyungsoo mendongak menatap Kai. Dada pria itu naik turun sebagaimana pelari marathon menyelesaikan lintasannya.
Mulut Kyungsoo kembali lagi pada penis Kai, sementara tangan kirinya menopang tubuh sendiri, tangan kanan Kyungsoo meremas bola kembar milik suaminya. Wanita itu merangkak menaiki tubuh Kai, mendekatkan bibirnya pada telinga Kai. "Want some more?"
"Touch me... More and more... Yes honey..."
Kai hanya mengerang, ia mendamba sentuhan Kyungsoo. Ia merasakan bibir Kyungsoo mencium dadanya, membuat pria itu membusung. Ciuman Kyungsoo turun ke perut, semakin turun membuat mulutnya mendarat dan lidahnya menyapu bola kembar Kai sekali lagi.
Kyungsoo memandangi Kai yang terengah-engah. Wajahnya ikut memerah... Tangan Kyungsoo meraih red wine yang tersisah. Ia benar-benar tidak sadar memgambil bowl yang salah, meneteskannya dari perut hingga kejantanan Kai. Mulutnya bergerak mengikuti aliran wine di tubuh Kai. Mengulum kejantanan pria itu, bergerak naik turun merasakan milik Kai seperti berkedut.
"Oh honey, I'm about to come!" Padahal Kyungsoo baru saja memulai namun Kai melepaskan orgasmenya.
Ya Tuhan. Dia benar-benar tidak bisa menahan diri hanya karena apa yang dilakukan Kyungsoo barusan.
"Ya Kyungsoo... Darimana kau belajar melakukan itu heum?"
Pria itu melepas ikatan yang menutup matanya. Ia terkekeh pelan dan menarik Kyungsoo ke atas. Memeluk wanita itu. "Perlu kubantu melepaskan pakaian sialanmu ini? Mereka membelaiku tiap kali kau bergerak sayang."
Wajah wanita itu memerah luar biasa.
Ia membaringkan wanita itu ke ranjang, menekuk lututnya. Kai menahan tubuhnya dengan siku. "Kau sangat cantik Kyungsoo."
Kyungsoo memalingkan wajahnya. Tawa kecil Kai menyapu wajah manisnya. Pria itu meminta izin melepaskan bra berenda Kyungsoo. Menampilkan puting kyungsoo yang telah mengeras, ia menyentuh dengan ujung lidah dan membuat Kyungsoo berjingkat. Kai mencium bibir Kyungsoo sekali lalu, ia melepas celana dalam berenda Kyungsoo.
"Aku janji tidak akan menyakitimu."
Ia menekuk lutut Kyungsoo semakin ke atas, menampilkan kewanitaan Kyungsoo yang basah dan panas. Sepertinya dia juga merasakan adanya dorongan seksual ketika mencobanya. Kai memandang Kyungsoo sejenak. "Kau sangat siap untukku sayang."
"Ahhhhh~" Kyungsoo mendesah ketika ujung penis Kai mencoba masuk.
"Ohhhh you're so tight Kyungsoo~" protes Kai bersusah payah menerobos kewanitaan istrinya. Tangan Kyungsoo meremas seprai kuat membagi rasa sakit dalam dirinya. Kai berhenti sejenak. Menggenggam jemari Kyungsoo, mengecup dan menggigit satu persatu ujung jari Kyungsoo.
"Don't bite. Don't bite please," Kai menyeringai mendengar desahan Kyungsoo.
Astaga! Istrinya benar-benar menggairahkan. Ia semakin mengulumi jemari Kyungsoo.
"Arghhhhh!" tubuh atas Kyungsoo naik saat Kai mencoba menerobos. Ia berhenti menggigit tangan Kyungsoo, menahan kedua tangan itu di sisi-sisi kepala Kyungsoo. Wajah Kai turun, mencium Kyungsoo dengan lembut.
Ia melesak memasukkan kejantannyannya.
"Ya Tuhan."
Ia melihat Kyungsoo menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit. Kai mendekatkan wajahnya berbisik pelan. "Kau sangat nikmat sayang," Ia mulai bergerak perlahan, mengerang tiap kali berhasil menyentuh Kyungsoo.
"Kau luar biasa Kai," Kyungsoo berkata dengan suara mendesah. Lelaki ini membuatnya sangat penuh, nikmat... dan merenggang.
"Owghhh owhhh.." Pria itu menghujam dengan gerakan pelan, menatap pusar gairah yang menyatukan mereka.
"Kau terasa sangat nikmat," Kai menambah kecepatan, ia pikir dia akan meledak di dalam Kyungsoo.
Tapi Kai tidak ingin mengakhiri percintaannya dengan segera. Kai menikmati setiap ekspresi Kyungsoo, desahan dari bibir hati istrinya.
"Owhhhh Kai!" Kyungsoo mengerang frustasi. Ia tertahan tautan tangan Kai, ia membanting kepalanya ke ranjang. "Kumohon Kai! Jangan menyiksaku."
"Akan kulakukan apapun yang kau mau," Kai mendekatkan wajahnya. Mencium Kyungsoo mencoba menenangkan wanitanya. Hujamannya semakin cepat, "Siapkan dirimu menerimaku sayang," setelah hujamannya semakin cepat dan keras. Kai terus bergerak keluar masuk dengan kecepatan yang semakin meningkat. Menarik, menghujam secara trus menerus tidak peduli pada ranjang yang telah berantakan dan menimbulkan suara berderit.
Kyungsoo merasakan tubuhnya setengah melayang ketika Kai membalik tubuhnya, ia memunggungi lelaki itu dengan tengkurap di atas ranjang. Tanpa jeda yang panjang, milik Kai kembali menghujam kewanitaannya. Wanita manis itu memekik ketika Kai trus menerus menghujam dirinya. Kai menahan pundak Kyungsoo, dia sama sekali tidak berhenti.
"Kaihhhh!" Kyungsoo berteriak kencang. Ia tidak tahan lagi, dia benar-benar merasa akan mencapai puncaknya dalam hitungan detik.
"Owhhhhh sebentar lagi sayang."
Kyungsoo mendongak, menggigit bibir bawahnya, sementara tangannya meremas seprai kuat ketika tangan Kai bermain pada klitorisnya.
"I'am coming honey!" Kai menambah kecepatan hujamannya. Dia merasa klimaks, kejantaannya berkedut dan menumpahkan benih dalam tubuh Kyungsoo. Dia bercinta tanpa kondom walau begitu Kai tahu Kyungsoo tidak akan hamil dengan segera walau ini masa suburnya. Rasanya sangatlah nikmat.
Kai berguling ke samping tidak ingin menambah beban Kyungsoo. Ia tarik Kyungsoo berseder pada dadanya. Napas keduanya terengah-engah.
"Kau menyukainya?"
Ia merasakan belaian rambut Kyungsoo sebagai anggukan ringan. "Kau ingin tidur?"
Sekali lagi rambut Kyungsoo membelai tubuh Kai saat dia mengangguk.
"Ya. Sebaiknya kita pindah ke kamar atas sayang. Tidak akan nyaman tidur di sini."
"Tapi kau menguras tenagaku Kai," Kyungsoo berkata lirih.
"Aku akan menggendongmu."
Tubuhnya terasa melayang ketika Kai membawanya berjalan. Kejantanan pria itu menghujam membuat Kyungsoo mendesah tiap langkah yang Kai ciptakan. Apalagi ketika pria itu menaiki tangga.
"Owhhhh."
Ia terkekeh pelan mendengarkan Kyungsoo mendesah. Ia membaringkan tubuh Kyungsoo dan dalam hitungan detik istrinya telah terlelap.
To Be Continue...
Terima kasih,
RoséBear
