EVERLASTING
.
.
PARK CHANYEOL
BYUN BAEKHYUN
.
.
ini fanfic GS! DON'T LIKE, DOB'T READ!
.
.
BASHER AND SILENT READERS NOT ALLOWED
.
.
.
.
.
#sebelumnya~
"Aku jadi penasaran dengan chanyeol ini. Kau harus mengenalkannya pada ku. Sabtu ini kita ajak dia untuk minum coffee di cafe dekat apartemen kita" perintahnya.
"Tidak bisa, kyung. Minggu ini ada pesta di rumah baru nya, aku di undang ke sana." Aku duduk di tepi tempat tidur.
"Makan-makan ya? Kalau begitu, aku juga ikut. Jam berapa acaranya?"
"Pukul 8 malam. Tapi chanyeol yang akan menjemputku. Kantornya dekat dengan kantorku. Aku janji untuk bertemu dengan nya disana."
Kyungsoo duduk disampingku. "Tidak masalah. Apa nama kantornya? Nanti aku langsung ke kantornya."
"Skytek Executive. Tapi kyung," aku menatapnya skeptis. "Aku harus bilang apa dengan chanyeol?"
"Ya terserah kau saja. Berbohong sedikit juga tak apa,"
Kyungsoo bangkit dan berjalan ke pintu. "Thanks ya," ia mengangkat CD di tangannya. "Nanti aku ganti" kemudian dia menghilang di balik pintu.
Aku masih duduk di tepi tempat tidur. Seenaknya saja kyungsoo mengundang dirinya sendiri. Memang nya ini acaraku ?
.
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 3
.
.
.
.
Benar saja, sampai hari sabtu siang aku masih belum menemukan alasan yang cocok untuk meloloskan kyungsoo sebagai tamu tak di undang. Aku sudah mempertimbangkan beberapa alasan, antara lain :
'Kyungsoo itu penakut, jadi dia tidak berani ditinggal sendirian di apartemen.' (Kyungsoo bisa mengamuk kalau aku mengatakan ini).
'Kyungsoo sudah lama tak bertemu dengan orangtua ku, dia merindukan ibu ku.' (Bagian pertama memang benar, tapi bagian kedua sedikit meragukan)
'Aku dan kyungsoo selalu melakukan sesuatu bersama-sama' (ini terlalu kekanakan)
'Kyungsoo ingin bertemu dengan mu' (ini bisa menimbulkan kecurigaan).
'Kyungsoo dan aku sebenarnya ada acara malam ini, daripada dia sendirian di apartemen menunggu ku pulang jadi lebih baik aku ajak dia saja' (hmm...)
Alasan terakhir ini kedengaran lebih masuk akal.
Skytek Executive bisa dicapai kurang dari 10 menit dengan berjalan kaki dari kantorku. Aku menatap gedung tinggi menjulang di depan ku. Gedung yang keren, batin ku.
Aku pun masuk dan segera menuju meja Resepsionis.
Resepsionis itu memandangiku lebih lama dari yang diperlukan. Sebagai sesama wanita, aku tau apa yang dilakukannya dan aku tergoda untuk bertanya, "Jadi berapa nilaiku dari sekala 6-10, Hm?" Dan pertanyaan ku sukses membuat nya berhenti memandangi ku.
Ia mengangkat gagang telpon dan memencet beberapa angka di sana lalu menggumamkan, "ada tamu untuk tuan Park Chanyeol." Aku geli mendengar sebutan 'Tuan' di depan nama Chanyeol. Menurutku, chanyeol masih pantas menggunakan seragam sekolah. Resepsionis itu menunggu sambil mencoret-coret kertas di hadapannya. Kemudian ia mengangkat wajahnya, "sudah membuat appointment sebelumnya?" Tanya nya.
"Hah?" Ujar ku tak sadar.
"Ap-Point-Ment," ia sengaja mengejanya seolah sedang berbicara dengan orang bodoh.
"Dia tahu kalau aku akan datang kesini," sahutku sedikit defensif.
Resepsionis itu mengulang kata-kataku kepada orang di ujung telpon. Ia mengangguk-angguk sebentar lalu meletakkan gagang telpon. "Silahkan tunggu disana," dia menunjuk deretan sofa merah disebrang tanpa ekspersi. Sungguh tak sopan, bagaimana dulu ia mendapatkan pekerjaan ini?
Sebelum sempat berbalik, sebuah pemikiran melintas di benakku. "Maaf, tapi apa Tuan Chanyeol ada?" Aku sengaja membuat penekanan pada kata 'Tuan'
"Ia sedang menerima telpon," jawabnya singkat.
Yah, setidaknya ia ada di dalam sana. Aku melangkah ke sofa. Tak lama kemudian ponselku berbunyi. Nama Chanyeol berkedip-kedip.
"Yoboseo?"
"Baekhyun, kau ada dimana?" Tanyanya riang.
"Aku Diminta untuk Menunggu di resepsionis karena aku belum membuat appointment," sindir ku.
Ia tertawa. "Aku kesana sekarang," katanya.
Tak berapa lama Chanyeol muncul dengan wajah segar dan berseri, padahal ini sudah pukul 5 sore.
Dia pun menyuruhku untuk mengikutinya naik kelantai 10. Begitu pintu lift terbuka kami pun berjalan kesebuah meja. Dan ada seorang wanita berkacamata duduk di sana. Ia tersenyum manis. Bukan padaku. Aku rasa wanita itu adalah Sekertaris nya Chanyeol.
"Yerin, kenalkan ini Baekhyun," aku tersenyum kearahnya dan ia membalas senyumku dengan sikap profesional. "Oia yerin, khusus untuk Baekhyun, ia tak perlu membuat Appointment. Dia boleh datang kapan saja," kata chanyeol lagi. Aku melongo mendengarnya.
"Ayo," katanya menujuk ke arah pintu ruangannya.
Sepertinya Chanyeol cukup penting di sini, Karena : (1) ia dipanggil 'Tuan' (2) ia memiliki sekertaris Pribadi dan (3) ruangannya besar dengan desain dominan putih, menggunakan aspek seni dengan fungsi. Ada meja kerja melengkung berwarna putih, lengkap dengan sebuah kursi Ergonomic, di satu sisi ada meja gambar dan rak-rak berisi buku. Foto-foto bangunan berwarna hitam putih menghiasi dinding. Di salah satu sudut ada meja Krom Bundar dengan kursi Hitam bergaya Modern, ia membimbingku ke sana. Setelah meletakkan segelas air putih di Hadapanku, ia duduk di kursi sebelahku.
Chanyeol bercerita tentang proyek yang sedang di kerjakannya-membuat desain Kompleks 'Townhouse' yang akan di bangun di daerah Incheon. Ia menunjukkan beberapa gambar padaku. Aku mengamati gambar-gambar itu, ternyata bagus-bagus. Chanyeol menjelaskan beberapa detail dan aku mendengarkan sambil menunggu celah yang tepat untuk memberitahu kedatangan kyungsoo. Tapi sampai air minum ku habis dan semua gambarannya sudah dibahas aku masih belum mengatakan apa-apa.
Saat ponselku berbunyi, aku langsung tahu itu pesan dari Kyungsoo.
'Aku sudah di Lobi', begitu isi pesan kyungsoo. Aku melirik jam tanganku, setengah enam.
"Berangkat sekarang?" Tanya chanyeol. Ia merapikan gambar-gambar tadi.
Otomatis aku berdiri. Sekarang bagaimana? Chanyeol mengambil ponselnya lalu mematikan Lampu sebelum keluar Ruangannya.
Ia tersenyum dan mengguk kepada orang-orang yang menyapa nya. Aku tidak sempat lagi memperhatikan mereka karena sibuk mencari jalan keluar dari situasi yang sangat mendesak ini.
Saat pintu lift terbuka dan aku berjalan beberapa langkah terdengar sebuah suara yang sudah sangat aku kenal memanggilku. Aku menoleh. Kyungsoo melambaikan tangannya sambil berjalan menghampiriku. Senyumku terasa agak dipaksa.
"Eh, kau disini? Kenapa?" Tanyaku sambil memberi isyarat dengan mata. Kyungsoo melotot, ia langsung tahu aku belum mengatakan apa-apa pada Chanyeol.
"Aku habis wawancara tadi," katanya.
"Hmm.. Kyung ini Chanyeol," kyungsoo mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya lalu diam-diam mengedipkan mata kearahku. "Kyungsoo ini sahabatku dari zaman kuliah dulu. Sekarang kami satu apartemen." Kataku menambahkan. Aku memandang kyungsoo dengan tatapan 'sekarang bagaimana?'
"Kebetulan kita bertemu disini, baekhyun. Ayo pulang bersama," katanya. Harus ku akui aktingnya cukup meyakinkan.
"Eh, tapi aku ada acara di rumah Chanyeol. Dia baru pindah di daerah Gwanghwamun. Ada pesta di rumahnya barunya." Sahutku sambil menatapnya pasrah.
"Ikut saja sekalian," Chanyeol menawarkan dengan ramah.
Dan Kyungsoo menyambar tawaran itu tanpa basa-basi. "Oke," ia mengedip kearahku.
Aku langsung menghembuskan napas lega.
Saat sebelum masuk mobil, kyungsoo menarik tanganku dan berbisik, "byun, What's Wrong With You?" Desisinya sambil mendelik.
"Yang seperti ini seharusnya menjadi kekasih mu saja."
"Jangan aneh-aneh, Do Kyungsoo." Sahutku. Aku baru akan membuka mulut untuk menegaskan supaya kyungsoo tidak mencoba strategi apa pun yang akan mampir di kepalanya ketika terdengar suara jendela kaca di sebalah ku diturunkan. Aku menoleh.
"Ada masalah?" Tanya Chanyeol.
"Oh, tidak ada," sahutku. Kyungsoo tersenyum penuh arti sebelum menghilang kedalam mobil. Aku tak suka senyum nya itu.
Dalam perjalan, aku lebih banyak diam dan membiarkan kyungsoo asik mengobrol dengan Chanyeol.
"Wah, ini bukan wawancara kan?" Tanya Chanyeol sambil tersenyum saat kyungsoo memberitahu pekerjaan nya sebagai jurnalis. Kyungsoo terkekeh.
"Bukan, tenang saja. Kalau wawancara aku akan mengorek Dirt. That's What People want."
Aku meringis mendengar kyungsoo.
Chanyeol tertawa. "What kind of dirt?"
"The dirtiest." Mereka tertawa.
"Mm.. Sepertinya aku tak memiliki itu." Kata chanyeol lagi.
"Setiap orang pasti memiliki itu." Timpal kyungsoo sok tahu.
Mendadak aku teringat Sehun. Bagaimana reaksi kyungsoo kalau ia tahu tentang Sehun? Tanpa sadar aku mengetuk-ngetukkan jari ku diatas paha. Chanyeol melirik kearahku. Aneh, kenapa dia memandangku seperti itu?
Aku mendapat jawabanya tak lama kemudian.
"Mm... Kyungsoo, kau kan teman kuliah Baekhyun, pasti kau tahu dirtiest-nya Baekhyun," katanya. Aku menyipitkan mata dengan menatapnya penuh ancaman seperti biasa dilakukan para jagoan saat berhadapan dengan penjahat. Sia-sia. Pandangannya tetap fokus ke jalan.
"Dia memiliki banyak dirtiest" Terdengar kyungsoo menyahut. Aku mengganti sasaran dan menatap kyungsoo dengan pandangan paling kejam yang kumiliki. Tapi kyungsoo malah membalasnya dengan senyuman jahil.
"Pacarnya banyak tidak?" Tanya Chanyeol.
"Hey!" Kataku menyela. Memangnya mereka pikir aku ini boneka gantungan mobil? Aku bisa mendengar apa yang mereka katakan, jangan lupakan itu.
"Hmm.. Sewaktu kuliah dulu Baekhyun paling banyak peminatnya. Bisa dibilang pesertanya datang dari semua fakultas," oceh kyungsoo tanpa menghiraukan keberadaanku.
"Tidak usah berlebihan, kyung" tukasku.
Chanyeol menoleh dan menatapku sejenak. "Terus pemenang nya yang seperti apa?" Kemudian ia memandang ke depan lagi.
"Oke, guys. Time Out!" Aku memberi tanda dengan tangan ku. Mereka terdiam. "For Your Information, Byun Baekhyun yang sedang kalian bicarakan itu ada disini dan dia tak suka kalian bicarakan," kataku gusar.
"Memangnya tak ada topik lain untuk kalian bicarakan, huh?"
Mereka tertawa, padahal aku tidak bermaksud untuk melucu.
"Kenapa chanyeol? Kau tertarik untuk mendaftar? Kebetulan dia sekarang lagi single." Ujar kyungsoo lagi.
Tentu saja mereka tak peduli. Setatusku memang tidak lebih sebagai boneka gantungan di dalam mobil.
"Sangat tertarik," jawab Chanyeol. Aku menoleh begitu cepatnya. Sehingga hampir membuat leherku terkilir dan mendapatinya yang sedang tersenyum lebar.
"Pendaftaran sudah di tutup, Tuan Park" ujarku ketus.
"Tenang saja. Aku bisa memasukkan mu melalui jalur khusus," kata kyungsoo. Ia mencondongkan tubuhnya kedepan lalu berbisik di telinga Chanyeol, "tapi hati-hati. Persaingannya ketat and... She's a heartbreaker," katanya disambung dengan gelak tawa.
"Thanks for the warning, But I think I can handle that," sahut Chanyeol. Kembali ia menatapku sebelum ikut tergelak.
.
.
.
.
.
.
.
.
Rumah keluarga Park sudah ramai waktu kami sampai, padahal chanyeol bilang mereka hanya mengundang keluarga dan teman-teman nya saja. Aku mengenali mobil ayahku yang diparkir tak jauh dari mobil box catering.
Rumah bertingkat dua itu bergaya spanyol dengan tekstur tembok yang khas, dicat putih dan memiliki halaman yang luas (apa chanyeol sendiri yang mendesainnya?). Beberapa pohon cemara berjajar dibagian depan seperti pasukan penjaga yang siap siaga. Disisi lain halaman tampak beberapa pohon african tulip yang rindang dengan bunga orange bergerombol di pucuk-pucuk dahan yang menjuntai. Beberapa daun kering tercecer di atas hamparan rumput hijau yang kelihatan baru ditanam.
Dari dalam rumah terdengar dengungan suara percakapan. Saat kami mendekat, tiba-tiba suara percakapan terhenti. Seseorang mengucapkan salam. Sepertinya acaranya akan dimulai. Aku dan kyungsoo masuk melalui pintu samping.
Setelah sambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan malam. Suara percakapan terdengar memenuhi ruangan lagi. Aku mengajak kyungsoo mencari orang tua ku.
"Hai, kyungsoo. Apa kabar?" Seru ibuku. Ibuku mencium pipi kyungsoo. Sudah kebiasaan lama jika ibuku bertemu kyungsoo pasti selalu menciumnya.
"Sudah lama kau tak main kerumah" kata ayahku.
"Belum sempat, paman." Jawab kyungsoo.
"Ayo makan dulu," kata ibuku. " Eh, kalian tidak makan ramen setiap hari kan ?" Tanya ibuku dengan nada khawatir. Dulu waktu kulian, ibuku rajin mengirim makanan ke apartemen kami, tapi sekarang tidak lagi. Mungkin ia berfikir dengan usia kami sekarang ini.
"Tidak ibu, kan kyungsoo sekarang sudah mahir memasak. Jadi aku selalu makan makanan yang bergizi" jawab ku.
Kyungsoo pun tersenyum malu, ibu ku pun mengusak rambut kyungsoo. "Maafkan baekhyun ya, kyungsoo. dia selalu merepotkan mu. Seharusnya dia juga pintar memasak." Ibu memelototiku.
Kyungsoo menggeleng, "tidak, dia tidak merepotkan sama sekali"
Kyungsoo kalau sedang bersama ibu ku pasti dia selalu menjadi anak yang menggemaskan.
Aku dan kyungsoo makan sambil mengobrol dengan ayah dan ibuku. Dulu sewaktu masih kuliah, kyungsoo sering berkunjung dan menginap dirumah ku, begitu juga sebaliknya. Aku berkenalan dengan kyungsoo atau lebih tepatnya Do Kyungsoo pada hari pertama kuliah. Ia kebetulan duduk disampingku. Kami langsung Klik begitu pertama kali bertemu. Sejak itu kami seperti tak terpisahkan. Kami mengambil mata kuliah yang sama, dan terlibat berbagai kegiatan kampus bersama-sama kecuali majalah kampus. Sejak awal kyungsoo memang tertarik dengan jurnalistik. Kyungsoo anak tertua dari 3 bersaudara. Kedua adiknya semua laki-laki, kembar. Beda umur mereka cukup jauh, 11 tahun. Jadi kyungsoo terbiasa menjadi anak tunggal sebelum kelahiran si kembar.
Dulu aku sempat tinggal di apartement yang sedikit jauh dari kampus, saat kemudian kyungsoo mengajakku untuk tinggal di apartement nya yang berada di dekat kampus. Dia berujar kalau dia bosan tinggal sendirian di apartement nya, lagi pula apartement nya memiliki dua kamar. Lagipula dengan tinggal berdua maka pengeluaran akan semakin ringan karena biaya apartement dipikul bersama.
Dan sampai sekarang kami masih tetap tinggal di apartement yang sama. Aku sudah sangat cocok dengan kyungsoo.
Setelah mencicipi begitu banyak makanan, aku mengajak kyungsoo untuk berkenalan dengan tuan dan nyonya park, orang tua chanyeol. Kemudian aku mengenalkan nya pada Park Minho, kakaknya chanyeol. Di teras belakang, tampak Chanyeol dikelilingi beberapa wanita. Kelihatannya ia sedang sibuk untuk waktu yang lama.
"Kyung, aku ke toilet dulu ya." Kataku. Kyungsoo hanya mengangguk. Aku pun meninggalkan kyungsoo yang masih sibuk memindahkan beberapa kue ke piringnya.
Kamar kecil di bawah, semua terisi, jadi dengan sedikit ragu aku naik ke lantai dua. Di atas sepi, tak ada orang sama sekali. Aku harus membuka beberapa pintu sebelum menemukan kamar mandi. Selesai dari kamar mandi, aku melewati sebuah kamar dengan pintu terbuka dan secara refleks kepalaku menoleh. Langkah ku terhenti. Di dalam kamar, di atas kasur, duduk seorang anak laki-laki berumur sekitar dua tahunan, telanjang bulat dengan kepala nyaris gundul. Anak itu mengangkaat wajahnya dan pandangan kami bertemu. Tampangnya polos dan lucu. Matanya yang bulat besar menatapku tak berkedip. Aku menyapukan pandangan sekilas. Kamar itu kosong. Sedang apa anak itu sendirian disana? Aku melangkah menghampirinya. Siapa ibu yang tega meninggalkan anaknya seorang diri disini? Tunggu dulu! Langkahku terhenti. Apa jangan-jangan... Aku memandang anak itu, tetapi anak itu memandangi ku tak berkedip. Sesaat jantungku seperti ikut berhenti berdetak, setelah itu mulai berdetak lebih dengan sangat cepat.
Aku mengerjapkan mata tak percaya dengan penglihatanku. Aku mencoba untuk memejamkan mata ku, siapa tau aku hanya berhalusinasi saja. Ketika aku membuka mata lagi, anak itu tetap disana. Memandangku dengan mata bulatnya. Tiba-tiba anak di atas tempat tidur itu pun tersenyum dan mengulurkan tangan nya kearah ku. Otakku seketika memberi perintah kepada kaki ku. Aku pun membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Begitu tergesa-gesa nya sampai aku hampir terjatuh di tangga. Jantungku sudah tak karuan lagi. Di ujung tangga aku menabrak seseorang, kalau ia tidak menangkapku mungkin aku sudah jatuh tersungkur.
"Baekhyun, ada apa?"
Aku mengangkat wajah, chanyeol menatapku khawatir. Aku membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Tubuhku gemetaran dan badanku mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Baekhyun?" Chanyeol memegang wajahku dengan kedua tangannya. "Ada apa? Kenapa?"
Aku hanya bisa menatapnya. "Byun baekhyun," ia mulai menepuk-nepuk pipiku. Aku menoleh dengan ragu ke arah tangga, membayangkan anak kecil itu sedang berdiri diatas sana, menyeringai dan melihatkan taringnya yang runcing. Tapi tak ada apa-apa di sana. Aku mengerjap sekali lagi untuk memastikan. Tetap tidak ada siapa-siapa. Aku sedikit tenang. Setidaknya makhluk itu tak membuntutui ku. Chanyeol mengikuti arah pandang ku.
"Ada apa?" Tanya nya lagi. Tapi aku cuma bisa menggeleng lemah
Ia menggenggam tangan ku dan menariknya. Tanpa melawan aku mengikutinya. Nyonya park yang kebetulan berpapasan menatap kami sambil menyipitkan mata, tapi tak mengatakan apa-apa. Chanyeol terus berjalan.
Sampai di dapur, ia mengambil segelas air dan menyodorkannya kepadaku. Aku menghabiskannya dalam sekejap sementara ia tak melepaskan pandangannya dari wajahku.
"Bagaimana? Sudah merasa tenang?" Ia mengambil gelas kosong dari tangan ku.
Aku mengangguk.
"Sekarang bilang padaku ada apa tadi?"
Aku menatapnya ragu. "Mm... Tidak apa-apa" ujarku pelan.
"Baekhyun, muka mu pucat. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa."
Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenernya. "Tidak ada apa-apa, sumpah"
Ia menatap lurus ke mataku. "Dengar baek, ini rumah ku. Kalau ada sesuatu sebaiknya kau beritahu aku.
"Tidak ada apa-apa, chanyeol" aku bersikeras. Beberapa Maid yang sedang bekerja menoleh kearah kami.
Chanyeol menghela napas. "Ya sudah" akhirnya dia mengalah. "Sudah coba Dessert ?"
"Belum," sahutku. Kami kembali ke ruang keluarga.
Aku sedang melihat-lihat dessert yang tersedia di atas meja buffet ketika aku melihat anak kecil itu lagi. Ia berlari-lari di sela-sela orang dewasa. Kali ini ia berpakaian lengkap, tapi aku yakin kalau itu anak kecil yang sama. Jantungku mulai berdebar lagi. Aku meletakkan piringku lalu tanpa sadar meraih tangan Chanyeol dan mencengkramnya. Ia menoleh, kemudian mengikuti pandanganku. Tapi anak kecil itu sudah menghilang.
Chanyeol meraih dagu ku dan mengangkat nya supaya menatap ke arah nya.
"Ada apa, Hm?" Suaranya terdengar cemas sekaligus putus asa.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau aku mengatakan menertawakanku. Aku melepaskan tangannya yang memegang daguku dan mengedarkan pandangan mencari kyungsoo. Ia tak kelihatan batang hidungnya. Aku mencari orang tua ku, sama saja. Kemana mereka di saat aku membutuhkan?
"Aku mau mencari kyungsoo,"kataku lalu berjalan menjauhinya. Tapi baru beberapa langkah, aku mendengar suara tawa anak kecil dan langkah ku terhenti lagi.
Aku memutar tubuhku, chanyeol masih berdiri di sana mengamatiku dengan alis bertautan. Aku terpaku di tempatku, tak bisa bergerak. Perlahan Chanyeol melangkah menghampiri ku lalu tanpa berkata apa-apa, ia menarik tangan ku. Sekali lagi, aku hanya mengekor di belakangnya.
Kemudian aku melihatnya. Makhluk kecil itu! Ia sedang tertawa girang di dalam gendongan seorang perempuan muda berdress merah. Pasti ibunya. Dan siapa laki-laki di sebelahnya? Berapa banyak mereka? Dan apa hanya aku yang bisa melihat mereka? Ya tuhan, kalau boleh memilih aku lebih suka diberi kemampuan bisa meramal cuaca atau bisa membaca pikiran seseorang dari pada ini. Aku menarik tangan Chanyeol agar berhenti.
"Kau lihat anak kecil yang di gendong wanita itu?"
"Hn,"
Aku mengernyit heran. Ia juga bisa melihatnya? Tunggu dulu... "Kau mengenalnya?" Tanyaku ragu.
"Itu Daniel Lee. Anak sepupuku, Sungmin." Jawab Chanyeol.
Oh! I see... Jadi begitu. Dasar Bodoh, maki ku dalam hati. Aku menyatukan kembali puzzle itu di kepalaku. Tentu saja. Mungkin tadi Sungmin sedang mengambil baju di suatu tempat jadi tidak telihat.
"-Hyun, Baekhyun" panggilan Chanyeol menyadarkan ku dari lamunan ku. Ia menatapku sejenak dan kemudian perlahan-perlahan sudut bibirnya terangkat. Sialan! Aku yakin ia bisa menebak. Ya tuhan, ini terlalu memalukan. Tapi memangnya siapa yang tak takut dengan hantu? Aku cepat-cepat memasang senyuman terbaikku. "Ayo cari kyungsoo," kata ku riang.
Begitu aku hendak berjalan menjauhinya, tiba-tiba Chanyeol menarik tanganku dan menahanya. Aku benar-benar tidak suka melihat senyum licik nya itu. Perlahan ia menunduk dan berbisik di telingaku, "menurutku dia lucu, mungkin memang ia sedikit mirip dengan... Casper," ia terkekeh.
Aku harus menahan diri untuk tidak mencakarnya.
"Baekhyun," terdengar seseorang memanggilku. Aku mencari sumber suara itu. Ibuku berdiri di samping Nyonya Park dan melambaikan tanganya. Aku pun mendekati mereka, Chanyeol mengikuti di belakangku.
"Ayo makan lagi, makanannya masih banyak," kata Nyonya park.
"Iya, ajhumma" Ujarku singkat. Aku menoleh kepada ibuku. "Ibu pulang jam berapa?" Aku sedikit khawatir kalau ayahku harus menyetir ke bucheon malam-malam. Aku hendak mengusulkan agar mereka menginap di apartemen ku saja sementara aku tidur di kamar kyungsoo.
"Oh, ibu dan ayah menginap di sini," jawab ibuku.
"Kalau kau ingin menginap juga, masih ada kamar kosong disini, baekhyun-ah" kata Nyonya Park sambil tersenyum. Aku merasa ada makna lain dalam senyumnya itu.
Aku menggeleng kuat, "ah, tidak perlu repot-repot, Ajhumma. Aku kesini bersama kyungsoo, jadi aku harus pulang bersama nya" sahutku. Setelah kejadian tadi rasanya tidak bijaksana untuk menginap di sini. Siapa yang bisa menjamin disini tidak ada 'anak kecil' yang lainnya.
"Kalau begitu, biar chanyeol yang mengantarmu pulang," kata Nyonya Park sambil menoleh kearah anaknya.
"Oke," jawab chanyeol sambil tersenyum geli.
"Aku naik taxi saja, Ajhumma" kataku cepat.
"Malam-malam seperti ini terlalu berbahaya untuk kau dan kyungsoo pulang dengan taxi," sahut ibuku.
"Tapi bu-"
"Sudah, biar di antar Chanyeol saja. Jadi kami lebih tenang." Sela Nyonya park.
Aku mendesah. Kalau ibu-ibu sudah bersekutu seperti ini akan sulit untuk melawannya. Sebaiknya aku cepat pergi dari sini. Aku pamit dan meninggalkan mereka.
Belum terlalu jauh aku melangkah, ibu kembali memanggil nama ku.
"Ada apa lagi bu?" Aku kembali berjalan mendekati ibuku dengan malas.
"Besok jangan lupa temani ibu dan nyonya park berbelanja." Ibu ku tersenyum sembari mengelus pipiku.
Nah! Ibu mulai lagi.
Aku terlalu lelah untuk membantah ibu kali ini, "Hn." Hanya gumaman yang aku lontar kan, kemudian aku berjalan meninggalkan mereka.
Di mana kyungsoo? Bocah itu terlalu kecil sehingga aku sulit untuk mencari nya di antara keramaian orang seperti ini.
Aku pun berjalan menuju meja yang penuh dengan dessert menggiurkan.
Aku meletakkan potongan blueberry cheesecake dan tiramisu di atas piringku. Dan memutuskan untuk menikmatinya dengan tenang. Aku mencari tempat duduk yang agak jauh dari keramaian. Dan mulai makan perlahan-lahan. Tapi baru beberapa suapan, kedamaian ku terusik. Chanyeol berdiri dihadapanku, menggendong Daniel.
"Ada yang ingin berkenalan dengan mu, Nyonya Byun," katanya sambil duduk di sebelahku. Aku mendengus sebal. Kenapa dia tak bisa membuatku tenang?
"Daniel, ayo beri salam pada noona," katanya.
Anak kecil itu menundukkan kepalanya dan mengucapkan namanya kemudian ia tersenyum dengan giginya yang kecil-kecil. Astaga, Imut sekali bocah ini. Aku pun tak kuasa untuk tak mencubit pipinya yang gembul. Chanyeol memperhatikan ku sambil tersenyum. Well, Daniel memang lucu setelah aku mengetahui kalau dia hanya seorang anak manusia biasa.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku dan kyungsoo diantar Chanyeol pukul sebelas malam, setelah ibuku membuatku bersumpah untuk datang besok pagi. Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang kebih 20 menit itu, kami tidak terlalu banyak berbicara. Mungkin karena kami terlalu banyak makan dan mulai mengantuk. Setelah memastikan kami masuk kedalam gedung apartemen dengan selamat, Chanyeol pulang. Aku cuma sanggup menggosok gigi, cuci muka dan mengelap tubuhku dengan handuk basah lalu menyambar sembarang piyama ku. Untung lemari pakaian kami dan kamar mandi terdapat dalam satu ruangan, jadi aku tak perlu repot-repot mengambil baju ku di kamar.
Saat aku keluar dari berganti baju, aku melihat kyungsoo sedang mengobrol dengan seseorang di ponsel nya. Sesekali kyungsoo tersenyum tak jelas. Itu pasti Jongin. Apakah kyungsoo tak lelah?
Setelah melontarkan ucapan selamat malam kepada kyungsoo, aku pun masuk kedalam kamarku dan merebahkan tubuhku kemudian tertidur.
.
.
.
.
.
Aku terbangun ketika ponselku berdering menandakan ada telpon masuk. Dengan mata masih terpejam, aku mengambil ponsel yang tak jauh dari ku.
"Baekhyun," Terdengar suara bass di sebrang sana.
"Hn." Jawab ku singkat. Aku tahu ini suara chanyeol.
Ia pun tertawa di sebrang sana, "aku tahu kau belum bangun, Nyonya byun"
"Hn. Kau tau, kau manusia pengganggu yang pernah aku kenal, tuan Park" Kata ku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Haha, cepatlah bangun. Aku akan menjemput mu."
"Terserah,"
Aku pun mematikan sambungan telpon ku, dan meletakkan ponselku sembarang. Aku terlalu malas meladeni orang seperti chanyeol. Oh ayolah, aku masih mengantuk sekarang.
Aku pun memutuskan untuk tidur kembali dan melanjutkan mimpiku.
.
.
.
Tok Tok Tok...
.
Aku mengabaikan suara itu.
.
Tok Tok Tok...
.
Aku menutup telingaku dengan bantal, siapa orang yang tega lagi-lagi membangunkan nya.
"Baekhyun-ah, Kekasih mu menjemput mu!" Terdengar teriakan kyungsoo di balik pintu kamar ku.
Hah? Kekasih?
"Aku tak memiliki kekasih, bilang padanya kalau dia salah alamat!" Balasku ikut berteriak.
Terdengar kekehan di balik pintu kamarku lalu, "baekhyun, ini aku." Panggil Chanyeol.
Hah? Cepat sekali orang itu sampai kesini.
Aku langsung mendudukkan tubuhku dengan malas. Aku pun mengikat rambutku dengan malas. Dan berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Apa?" Kataku malas.
Chanyeol tersenyum, "aku sudah bilang kan kalau aku akan kesini? Kenapa kau belum bersiap-siap?"
"Bersiap untuk apa?" Aku menggaruk tengkuk ku yang memang gatal.
"Kau lupa? Kau ditunggu ibumu dirumah," katanya lagi. Aku melirik jam dinding, disana menunjukkan pukul setengah sembilan. Aku menguap, sungguh aku masih mengantuk.
"Aku belum mandi, nanti aku kesana sendiri" ujarku.
"Misiku pagi ini adalah membawa mu kerumah. Kalau gagal nanti para ibu itu akan memarahi ku," katanya.
Itu kan bukan urusanku, pikirku geram. Aku meniup poniku kesal. Chanyeol sudah rapi dan segar, sedangkan aku masih berantakan.
"Terserah," kataku sambil berbalik dan menutup pintu.
"Kau harus merayu nya lebih dari itu, chanyeol-ssi" terdengar sayup-sayup suara kyungsoo.
Apa-apaan si kyungsoo itu. Ikut campur saja.
Aku pun menidurkan kembali tubuhku ke kasur kesayangan ku. Aku ingin bergelung di selimutku dan meneruskan tidurku. Biar saja chanyeol menunggu. Tapi baru saja aku menutup mata ku, ponselku berdering. Aku mengerang melihat nama yang muncul di layar.
"Iya, bu?" Sapa ku.
"Chanyeol sudah menjemputmu kesana kan? Ini sudah pukul 9 pagi kenapa kau tak segera kesini? Ibu sudah menunggu dari tadi. Segera lah mandi, ibu menunggumu." Terdengar suara ibuku mencecar. Sepertinya ibu mengatakan itu dalam sekali tarikan napas.
"Tapi bu, aku masih mengantuk. Ini kan hari li-"
"Ibu tidak mau tau, segera lah kesini." Dan ibu memutuskan hubungannya sepihak. Apa-apaan ini?
"Aish!" Erang ku dan terdengar kekehan di luar sana.
Aku pun berjalan dengan malas dan membuka pintu kamar, dan disana chanyeol masih berdiri memasukkan tangan kedalam kantong celananya sambil tersenyum licik.
"Bagaimana?" Tanya nya masih dengan senyumannya.
"Dasar tiang listrik, minggir kau!" Ujar ku padanya yang menutup jalan ku.
Aku berjalan menuju kamar mandi dengan menyentak-nyentakkan kaki tanda aku sedang marah. Kyungsoo yang tengah duduk menonton tv pun ikut tertawa.
.
.
.
.
.
.
Aku menatap bayangan ku di cermin. Aku menggunakan Ripped Jeans dan dipadukan dengan Blus berwarna biru tanpa lengan serta sweater biru-pemberian Chanyeol- yang diikat di pinggang. Lumayan. Tapi kemudian aku teringat penampilan Chanyeol. Rasanya tidak cukup kalau aku hanya mengandalkan Inner Beauty. Dengan malas aku menggunakan foundation dan bedak. Agar wajah ku terlihat cerah, aku membubuhkan sedikit blush On dan sentuhan terakhir, aku mengoleskan Lipstik warna soft nude di bibir ku. Tak lupa, aku menggunakan eyeliner kesayangan ku. Oke aku rasa cukup. Tunggu, aku pun mengikat rambut ku ala Ponytail. Sempurna!
Kemudian aku menyemprotkan parfume Bvlgari Rose ke tubuhku.
Aku menatap bayanganku sekali lagi dan memutuskan untuk keluar dari kamar. Aku melihat Kyungsoo dan Chanyeol tengah tertawa terbahak-bahak karena menonton Gag Show di tv. Saat aku menghampiri mereka, tiba-tiba tawa mereka hilang.
Mereka mengamati ku.
"Apa?" Tanyaku sambil memeriksa penampilan ku. Apa aku melupakan sesuatu? Seperti menutup resleting celanaku mungkin.
"kalian membohongi ku ya? Kata mu kau ingin menemani para ibu berbelanja. Beritahu aku Apa kalian akan berkencan?" Kata kyungsoo sambil menatap kami bergantian.
"Tidak!" Ujar ku dan chanyeol berbarengan.
"Oh, lihat kalian tambah kompak saja hahah" kyungsoo tertawa sambil memegangi perut nya.
Astaga, ada apa dengan bocah ini ?
Aku mendekati nya dan menjitak kepalanya pelan.
"Aish! Sakit, baekhyun!" Rengek kyungsoo.
"apa yang kau pikirkan, huh?" Ujar ku sengit. Chanyeol hanya tersenyum.
"Ayo," chanyeol berujar sambil berdiri dari duduknya.
"Kalian tidak ingin sarapan dulu?" Tanya kyungsoo ketika melihat aku dan chanyeol hendak pergi.
"Tidak usah, kami akan berkencan di restoran jadi tak perlu makan dulu." Saut chanyeol kemudian tersenyum kearahku.
"Hey, kau ingin mati ?" Ujar ku sambil menatap Chanyeol sengit, tetapi yang di tatap malah tertawa bersama kyungsoo.
Sialan!
.
.
.
.
.
.
.
Aku mengalami Deja vu. Kejadian seperti di Bucheon beberapa waktu lalu terulang lagi. Aku menemani Ibuku dan Nyonya park berbelanja. Tapi kali ini berbeda, kali ini mereka berbelanja untuk melengkapi rumah baru keluarga Park yang di Gwanghwamun. Mulai dari perlengkapan makan, taplak meja, gorden, bantal kursi, hingga perlengkapan kamar mandi.
Aku tak habis pikir, sebenarnya apa peranku di dalam sekenario ini? Ibu-ibu itu sibuk sendiri dan tidak pernah meminta pendapatku sekali pun. Aku jadi curiga bahwa sebenarnya mereka tidak terlalu memperhatikan keberadaanku. Kalau tiba-tiba aku diculik gerombolan penjahat, barangkali mereka baru menyadari nya setelah sampai dirumah.
Apa aku hanya dianggap sebagai figuran yang hanya lewat? Atau aku hanya pajangan untuk menemani Chanyeol supaya ia tidak dikira sopir mereka? Aku melirik Chanyeol sekilas. Dari sudut pandang mana pun, ia tak terlihat seperti sopir. Dengan kacamata hitam mahal miliknya yang bertengger di hidung nya yang mancung dia sangat tak pantas di bilang sopir.
Aku mengeluarkan iPod dan mulai mendengarkan lagu-lagu kesukaan ku. Music can sooth even the savage beast. Dan benar saja. Mood ku kembali normal. Aku menyandarkan kepalaku di kursi mobil. Untunglah kali ini Chanyeol tak perlu penunjuk jalan seperti saat di bucheon.
Aku tak memperhatikan kemana kami pergi, dan tiba-tiba mobil sudah memasuki area Dongdaemun. Oh, jadi kita berbelanja di sini. Astaga.
Begitu mobil terparkir dengan sempurna, dengan bersemangat para ibu keluar dari mobil. Aku pun ikut keluar dari mobil. Dongdaemun pagi ini agak ramai. Sudah jarang sekali aku berkunjung ke pasar ini. Terakhir bersama kyungsoo saat kuliah dulu.
"Oke, nanti kalau sudah selesai ibu akan menelpon mu" ujar nyonya park kepada Chanyeol.
Hah? Maksudnya?
"Have fun, Byun" kata ibuku sambil mencium pipiku sekilas lalu berjalan menghampiri nyonya Park. Keduanya berjalan menjauh meninggalkan ku yang masih belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi.
Tunggu dulu! Mereka tidak mengajak ku? Mereka memaksa ku bangun dari tempat tidur kesayangan ku dan menyeret ku jauh-jauh hanya untuk meninggalkan ku? Ibuku bahkan tidak berfikir bahwa momen ini menjadi momen antara ibu dan anak? Kami kan tidak bertemu setiap hari.
Aku menoleh kearah Chanyeol. Dia hanya mengangkat bahu. Rasa kesal mulai berkumpul di kepala ku. Aku masuk kembali ke dalam mobil dan menutup pintu dengan keras. Aku akan tidur di dalam mobil sampai mereka kembali. Chanyeol mengitari bagian depan mobil dan membuka pintu di sebelah ku.
"Ayo turun," ajaknya.
Aku sengaja memejamkan mata, "Aku mau tidur,"
"Baekhyun, kau bisa mati kehabisan oksigen kalau kau tidur di mobil." Katanya lagi.
Aku membuka mata dan menoleh. Dan mendelik padanya. Enak saja dia bilang aku akan mati.
"Kalau begitu berikan kunci mobil mu, aku akan menghidupkan mobil mu supaya ac nya hidup dan aku tak akan mati kehabisan oksigen," kataku bersikeras.
Chanyeol tampak menghela napas, putus asa mungkin.
"Oke, ini kunci nya. Nanti jika ada orang tidak di kenal mengetuk jendela, jangan di buka." Aku memejamkan mata sambil menengadahkan tangan ku, meminta kunci mobil. Ia kemudian menjatuhkan kunci mobil ke telapak tangan ku.
"Hati-hati, disini Rawan khasus perampokan dan penculikan," ia berbisik di telinga ku. Mataku langsung terbuka. Chanyeol sedang memandangi ku dengan senyum liciknya. Sialan! Aku memaki dalam hati. Ia menutup pintu dan mulai melangkah. Aku cepat-cepat menegakkan tubuh dan menengok kesekelilingku. Well, memang ramai di pasar ini. Tapi mana mungkin di tempat ramai terjadi penculikan.
Sebaiknya aku tidur saja, Chanyeol hanya mencoba menakutiku. Aku menekan earphone di telingaku dan memejamkan mata kembali. Tapi seketika aku mengingat sesuatu. Tunggu dulu! Bukannya khasus penculikan seorang gadis seminggu yang lalu di koran juga disaat gadis itu sedang di pasar? Wait, bukannya pasar itu... Dongdaemun?
Sebentar-sebentar aku membuka mata dan menoleh ke jendela samping kiri dan kanan, lalu mengecek kaca spion dan membayangkan akan melihat seseorang yang menakutkan di sana. Sialan!
Dengan kesal aku membuka pintu dan mengunci nya lalu berjalan menjauhi mobil. Tapi tak jauh dari mobil, Chanyeol tengah duduk sambil melipat kedua tangannya dan tersenyum licik kearah ku. Berengsek!
Aku pun tetap berjalan menjauhinya. Tapi dalam sekejap ia sudah berada di sampingku. Aku mempercepat langkah ku, tapi tangan Chanyeol menahanku.
"Baekhyun, tunggu. Kau mau kemana?"
"Bukan urusan mu!" Aku berusaha melepaskan tangannya.
"Dengar, Byun. We can do this hard way or the easy way," ia memegangi kedua pundakku sekarang. Aku mendongak dan menatapnya galak. Orang-orang disekitar kami mulai memperhatikan. Aku kurang lebih bisa menerka apa yang mereka pikirkan, jadi aku menahan untuk tidak melawan Chanyeol. Chanyeol yang merasakan tatapan ku tidak semarah tadi pun langsung melepaskan tangannya dari bahuku.
"Kau tahu, ibumu, ibuku dan shopping-it's a deadly combination. Kita bisa menanggung penderitaan ini bersama atau sendiri-sendiri."
Aku ingin tertawa mendengar kata-katanya dan pura-pura menunduk untuk menyembunyikan senyumku.
"Kita bisa tunggu mereka disini atau-," aku mengangkat kepala dan menatapnya. "Kau tau tempat-tempat asik di seoul? Kita tinggalkan saja mereka dan pergi ke sana."
Sekarang aku benar-benar terkekeh. Chanyeol tersenyum.
"Kau gila? Bisa-bisa kita dipecat jadi anak nya," aku tertawa.
"Atau kita bisa pergi berdua," ujarnya. "Ke Hakodate?"
Aku memiringkan kepalaku. "Mm... Ada yang lebih jauh, huh?"
Ia tergelak. "Oke, bagaimana kalau Paris?"
Aku langsung tertegun. Teringat pembicaraanku dengan kyungsoo bertahun-tahun lalu ketika kami berlibur ke Jeju. Saat itu, kami sedang berjalan menyusuri pantai ketika kakiku tersandung bodol yang tertanam di pasir. Botol itu berwarna putih dan tidak terlalu istimewa, tapi aku berhenti. "Siapa tahu ada jin di dalamnya, kyung" aku berjongkok dan mulai menggali pasir nya. Kyungsoo tertawa dan ikut menggali supaya botol itu bisa keluar dari pasir.
"Jika didalamnya ada jin dandia meminta satu permintaan darimu, kau ingin berliburke mana ?" Tanya ku.
"Aku ingin berlibur ke brazil," jawab Kyungsoo berbunga-bunga, pasti ia sedang membayangkan pria-pria latino yang hot itu. "Kau?"
"Paris," sahutku mantap.
Sekarang 'jin' itu berdiri dihadapan ku, terlambat 3 tahun. Ia juga mendobrak gambaran tipikal jin yang selama ini berperut buncit, berkepala botak dengan kumis jelek itu. Dan tentu saja, aku lebih suka versi jin berperut rata dan berambut tebal seperti ini. Aku tersenyum geli. Chanyeol mengerutkan keningnya. "Eh, aku ingin ke Coex Mall saja," ujarku cepat-cepat.
"Mm... Oke, aku dengar tempat itu memang asik. Ayo," ia meraih tanganku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah sampai di coex mall aku langsung menuju sebuah toko buku dan membeli beberapa novel terjemahan. Dengan menenteng buku baru ku, aku menghampiri Chanyeol yang sedang membolak-balik buku Digital Photography.
"Sudah?" Ia meletakkan majalah itu. Aku mengangguk.
"Jadi kita mau kemana lagi?" Tanyanya saat kami melangkah keluar.
"Kita ke starbucks saja, aku ingin minum Caramel Macchiato." Ujar ku, tiba-tiba aku ingin minum coffee itu.
"Just show me the way,"
Kami pun berjalan menuju starbucks begitu kami sampai di sana, aku langsung menuju tempat duduk yang kosong di dekat jendela dan Chanyeol pun memesan coffee yang aku ingin kan tadi, dia pun memesan Coffee yang sama dengan ku. Begitu Coffee yang kami pesan telah sampai kami pun menikmati coffee kami masing-masing. Tak ada pembicaraan dan aneh nya aku tidak merasa terganggu dengan kebisuan ini.
Chanyeol tengah asik memainkan ponsel nya mengetik-ngetik beberapa pesan di dalamnya. Aku pun mengeluarkan Novel yang aku beli tadi dan membacanya. Tiba-tiba Chanyeol bangkit dari kursinya dan aku otomatis mendongak. Entah dari mana tiba-tiba seorang gadis berbaju pink sudah berdiri di samping kami. Mereka saling bertatapan dan memberi salam.
"Sedang apa kau disini?" Tanya si gadis berbaju pink itu. Ia melemparkan pandangannya sekilas kearah ku.
"Jalan-jalan saja. Oh iya, ini Byun Baekhyun." Chanyeol menunjuk kearah ku. "Baekhyun, ini Wendy son."
Aku menunduk memberi salam dan melemparkan senyum kepadanya, tapi Wendy hanya memberikan ku senyum sekilas dan kembali menatap chanyeol. Aku yakin di dalam kepalanya ia sudah memberikan penilaian padaku dan berani taruhan nilaiku pasti tidak memuaskan.
Wendy menyentuh tangan Chanyeol dengan gerakan kasual dan berkata dengan manja, "kapan-kapan kita jalan bersama ya."
Chanyeol mengangkat bahu, "sure, kenapa tidak?"
Wendy tersenyum lebar, kemudian dengan bersemangat ia menjelaskan sebuah club malam yang bernama Nightmare yang sering ia datangi bersama teman-temannya. Dia mengajak Chanyeol untuk pergi bersama dengannya, sudah lama Chanyeol tidak kesana katanya.
Blah... Blah... Blah...
Mereka terus berbicara. Aku meneguk Caramel Macchiato dengan pelan karena masih panas. Kemudian melanjutkan membaca Novelku yang lebih menarik dari pada pembicaraan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
Wendy telah pergi meninggalkan aku dan Chanyeol. Katanya dia ada janji dengan temannya untuk makan bersama di rumahnya, jadi dia harus pergi meninggalkan kami.
"Aku ke kamar mandi dulu," ujar ku kepada Chanyeol. Dia hanya mengangguk dan kembali fokus ke ponselnya. Aku pun berjalan menuju kamar mandi.
Begitu aku kembali menuju mejaku, aku terkejut melihat kyungsoo sedang duduk di depan chanyeol bersama Jongin. Aku mengucek mata ku. Bagaimana mungkin Kyungsoo bisa menemukan ku disini? Aku kan tidak dilengkapi GPS. Bukannya kyungsoo hari ini berkata ingin mengunjungi ibunya bersama Jongin ? Firasat ku tak enak.
Aku menghampiri mereka. Kyungsoo memandang ku dari atas sampai bawah, kemudian memandang ku dan Chanyeol bergantian.
"Katanya kalian menemani para ibu berbelanja, sudah ku tebak pasti kalian berbohong pada ku. Kalian berkencan kan ?" Kata kyungsoo menatap ku.
"Kencan dari mana, huh?" Aku menjitak kepala kyungsoo pelan. Dan yang di jitak hanya meringis. "Bukannya kalian akan berkunjung ke rumah ibunya kyungsoo?" Tanya ku pada Jongin.
"Ibunya hari ini sedang keluar kota, jadi kami membatalkan rencana. Dan kyungsoo memaksaku ke mall ini dan ketika melewati Starbucks ia menjerit dan menghampiri kekasih mu ini" jawab Jongin santai dan diakhiri dengan kekehan kyungsoo.
Siapa yang dia sebut kekasih?
"Kau ingin mati, huh?" Ujar ku sambil melototi Jongin.
Aku pun mendudukkan diriku di kursi samping Chanyeol sedangkan Kyungsoo dan Jongin duduk di depan ku.
Sementara Kyungsoo masih memilih-milih makanan, Aku dan Chanyeol mengobrol dengan Jongin. Aku belum pernah bertemu dengan Jongin akhir-akhir ini. Terakhir aku bertemu dengannya sekitar sebulan yang lalu.
Jongin bekerja di salah satu organisasi Internasional di bawah PBB dan pekerjaannya itu sering membuatnya bepergian ke luar Negri. Ia baru kembali setelah bertugas beberapa minggu di Manila. Sejauh ini, Kyungsoo tidak masalah dengan ritme kerja Jongin yang sering membuatnya absen dari seoul itu. Kyungsoo sendiri juga sibuk dan tidak jarang ia harus pulang malam, apalagi kalau deadline tengah mengejar nya dan narasumber nya seorang artis yang super sibuk sehingga harus dikejar-kejar untuk mewawancarai, terkadang weekend pun ia masih juga bekerja.
"Sesudah ini kita nonton bioskop, ada yang setuju?" Ajak kyungsoo kemudian menyeruput Vanilla Latte nya
Kaum pria hanya mengangguk sedangkan aku berdecak kesal, "tidak, terimakasih"
Kyungsoo menatapku seolah-olah itu sebuah kejahatan. "Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? Melamun di cafe ini?" Tanya nya sambil mendelik.
Aku mengangkat Novel ku.
"Astaga, kau jauh-jauh ke Coex hanya untuk membaca novel? Ayolah, byun. Kau bisa membacanya nanti" rengek kyungsoo.
"Baekhyun tidak suka tempat gelap, itulah kenapa dia tidak ingin ke bioskop" celetuk Chanyeol. "Nyctophobia," tambahnya sedikit berbisik.
Aku menatap Chanyeol tajam. Awas kalau dia sampai mengungkap-ungkap kejadian Casper itu kepada Kyungsoo.
"Takut gelap?" Tanya kyungsoo heran. Dia melihat kearahku dengan tampang menyelidik. Aku rasa ini bukan saat nya untuk berbantahan dengannya. Itu cuma akan membuat nya tambah penasaran. Dan aku tidak sudi di permalukan oleh Chanyeol.
"Oke, aku ikut, puas?" Ujarku dengan senyum dibuat-buat.
"Emang benar kau takut gelap, byun? Kenapa aku tak pernah tau?" Tanya kyungsoo. Ia memandang ku dan Chanyeol bergantian.
Dasar Jurnalis, gerutuku. Belum puas kalau belum menggali informasi sedalam-dalamnya. "Kau seperti tidak tau Chanyeol saja, jangan percaya perkataannya ," sahutku, berusaha terdengar tak acuh.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara wanita di pengeras suara mengatakan bahwa pintu teater sudah dibuka dan kami di persilahkan menuju ruangan teater. Chanyeol dan Jongin menyudahi permainan mereka dan berjalan menghampiri aku dan kyungsoo.
"Eh, Chanyeol terlihat segar dan berkarisma seperti itu kalau dilihat dari jauh." Bisik Kyungsoo.
"Kau juga melihat karisma itu ya?" Seru ku tertahan. "Dia juga tampak segar walaupun sore jam pulang kantor. Aku curiga kalau dia meminum ramuan atau semacamnya."
"Apa mungkin dia minum suplemen, kalau begitu Jongin juga harus minum suplemen itu,"
"Sepertinya," ujarku singkat.
"Aku rasa memang wajahnya berkarisma seperti itu dari lahir. He's just damn lucky" katanya kemudian dia memutar kepalanya kearah ku. "Kau tidak menyukai nya?"
"Tidak" aku menggeleng cepat.
"Kenapa?"
Aku hanya mengangkat bahu. Ia menyipitkan matanya dan mengamatiku. Terus terang aku tak suka kalau kyungsoo memandangiku seperti itu, pasti otak nya sedang merencanakan sesuatu yang gila. Chanyeol dan Jongin sampai di depan kami. Jongin tersenyum penuh isyarat dan merangkul pundak kyungsoo.
Kyungsoo mengeluarkan tiket dari dalam kantong celanya dan merobek dua tiket kemudian memberikannya padaku, "ini," ujarnya. Kemudian ia merangkul pinggang Jongin.
"Good Luck," Jongin menepuk pundak Chanyeol dan menatap ku dengan senyum jail. Kyungsoo dan jongin pun meninggalkan ku sendirian bersama pria tiang dengan telinga caplang ini.
Sialan! Sudah kuduga.
Firasat ku saat di cafe dan saat kyungsoo memandangku tadi memang benar. Kyungsoo dan kekasih nya itu memang merencanakan sesuatu.
Aku menatap tiket di tanganku lalu mengangkat kepala. Chanyeol sedang memandangku, perlahan senyumnya mengembang. "Ayo," katanya seraya meraih tanganku dan menariku kearah pintu masuk.
Aku menurut saja seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Juga ketika ia meletakkan tangannya di bahuku dan menarikku lebih mendekat. Tiba-tiba aku jadi sangat sadar dengan keberadaan tubuhnya yang begitu dekat, kehangatan yang memancar dari kulitnya, aroma parfumenya dan tangannya yang menempel di pundakku. Dan entah bagaimana ceritanya, sekarang aku jadi ingin merangkul pinggangnya. Aku tersipu. Aku merasa tak setia dengan Sehun.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selesai nonton, tiba-tiba ponsel Chanyeol berdering menandakan kalau telpon masuk. Dan itu dari ibunya. Ibunya mengatakan kalau mereka sudah selesai berbelanja sehingga meminta nya untuk segera menjemput. Mereka menunggu kami di sebuah Resto.
Begitu kami sampai di Resto itu, aku melihat para ibu tengah meminum sebuah minuman berwarna merah di dalam gelas panjang mereka. Aku melihat kantong-kantong belanjaan yang bertumpukan di lantai di sekitar mereka dengan takjub.
"Halo, sweetheart," sapa ibuku. Ia mengusap rambutku begitu aku duduk di depannya.
"Kalian tidak bertengkar kan?" Tanya nyonya Park kemudian tersenyum.
Aku melirik Chanyeol yang duduk disebelah ku, "Tidak, bu" jawabnya. Nyonya Park tersenyum lebar kearah ibuku lalu menengadahkan tangannya. Dengan menggerutu ibuku membuka tasnya dan mengambil dua lembar 10.000 won. Ia meletakkan uang itu di tangan Nyonya park dan Nyonya Park pun tertawa. Aku menyaksikan kajadian itu dengan mulut tenganga.
Mereka bertaruh untuk itu? Aku melirik ke Chanyeol dan mendapati ia juga sedang memandang ibunya dengan tidak percaya.
"Kau ingin memesan sesuatu?" Tanya ibuku setelah menyimpan tas nya kembali. Aku tidak segera menjawab, masih berusaha memahami kejadian barusan. Ibuku menyerahkan buku menu padaku kemudian mengangkat gelasnya dan meneguknya dengan santai.
Aku memesan Chicken BBQ dan segelas Lemon Squash. Saat makananku datang aku memandangnya penuh antisipasi. Potongan ayam itu terlihat empuk dan enak.
"Apa itu? Sepertinya enak," seru Nyonya Park membuatku mengangkat wajah. Ia tengah menatap piring Chanyeol dan otomatis aku melirik ke piringnya juga. Aku tak tahu apa itu, tapi memang terlihat enak sekali. Lelehan keju di atasnya menebar aroma yang membangkitkan selera.
"Ibu ingin mencobanya?" Tawar Chanyeol pada ibunya. Nyonya Park menjulurkan garpu dan menusuk sesuatu di balik lapisan keju tadi kemudian memasukkannya kedalam mulut.
"Hmm... Enak," komentarnya. Ia menyenggol lengan ibuku, "ini enak, cobalah,"
Chanyeol mengangkat piringnya dan mengangsurkannya kearah ibuku yang dengan antusias menyendok sepotong apa pun itu dan mengunyah menggumamkan sesuatu seperti "Hn. Enak"
Chanyeol menggeser piringnya kearahku, "mau?" Katanya sambil memiringkan kepalanya, senyumnya playful.
Terus terang aku tergoda, tapi melihat senyumnya itu aku jadi tak berminat. "Tidak, trimakasih" aku memandang piringku yang sekarang kurang menarik. Tanpa semangat aku memotong ayam itu dan mencicipinya. Enak, tapi aku penasaran dengan yang ada di piring Chanyeol. Aku menoleh kearah Chanyeol dan sepertinya ia memang sudah menungguku untuk melakukannya. Ia mengangkat tinggi garpunya dan dengan sengaja memasukkan makanannya ke dalam mulut sedemikian rupa lalu dengan demonstratif menjilat bibirnya. Matanya bersinar jail. Dasar tukang pamer ! Aku mengangkat kaki ku dan menginjak kaki nya.
"Aw!" Ia berseru, aku berpura-pura tak peduli.
"Ada apa?" Tanya Nyonya Park.
Chanyeol memandangku dan aku membalas tatapannya dengan sikap menantang. "Diinjak Baekhyun," ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
"Baekhyun!" Seru ibuku.
"Tidak sengaja,"
"Kenapa bertengkar nya tidak dari tadi? Ibukan bisa menang taruhan," gerutu ibuku. "Ayo minta maaf," perintahnya seperti memerintah anak 3 tahun. Aku bengong. "Byun Baekhyun?" Ulangnya.
"Sorry," kataku tanpa merasa bersalah. Ia menatapku sejenak kemudian tergelak.
.
.
.
.
.
Kami pulang kerumah Keluarga Park dengan mobil penuh sesak oleh belanjaan. Ayahku sedang minum kopi bersama Tuan Park di teras belakang. Setelah mengeluarkan belanjaan, ibuku dan Nyonya Park bergabung dengan mereka. Aku pergi ke ruang keluarga untuk menonton TV. Chanyeol menghilang entah kemana.
Di tv tengah memutar film The Brave One. Aku sudah pernah menontonya, tapi film itu menarik, jadi aku melipat kaki ku diatas sofa, siap mengikuti aksi Jodie Foster membalas dendam. Cerita sudah sampai dimana saat tokoh polisi mulai curiga pada Jodie sebagai pelaku penembakan ketika Chanyeol duduk di sampingku. Ia seperti nya baru selesai mandi, samar-samar aku dapat mencium wangi sabunnya.
"Film apa?" Tanyanya. Aku sengaja tidak menjawab.
Aku merasakan gerakan di sebelahku dan tiba-tiba gambar Jodie Foster hilang dilayar, digantikan oleh gambar mobil-mobil yang sedang melaju kencang kemudian gambar ubur-ubur di laut lepas. Aku menoleh, Chanyeol sedang memencet-mencet remote tv. Secepat kilat aku mengulurkan Tangan untuk merebutnya kembali, tapi ia berhasil mengelak. Tangan ku tak menangkap remote nya.
"Kembalikan, Park Chanyeol!" Aku berusaha sekali lagi. Lagi-lagi ia berhasil menyelamatkan Remote itu dari jangkauan ku. Ia pun tertawa kemudian berdiri.
"Ambil ini, Byun Baekhyun" ejek nya dengan mengangkat remote dengan tangan nya yang keatas.
Sialan! Dia memanfaat kan ketinggian nya yang menjulang itu.
Dengan kesal aku berdiri dan berancang-ancang ingin melompat mengambil remot itu. Saat aku melompat, ia menggeser tubuh nya. Aku kembali mendekatinya dan siap melompat saat tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tubuhnya. Aku yang masih penasaran masih mencoba untuk mengambil remote dari tangannya. Gagal lagi. Tawanya semakin keras terdengar. Aku mengerang frustasi.
"Ada apa ini?"
Kami menoleh bersama kearah datangnya suara. Ibuku dan Nyonya Park memandang kami dengan alis bertautan. Aku baru menyadari kalau aku berada diatas tubuh chanyeol dengan satu tangan Chanyeol memeluk pinggangku.
Aku melepaslkan tangannya dan menegakkan tubuhku. "Chanyeol yang memulai duluan, bu" seruku sambil menudingnya kekanakan. Chanyeol hanya meringis.
"Sudah, sudah." Kata ibuku dengan nada tinggi. Mungkin masih belum rela kalah taruhan tadi.
"Kalau dulu kami tak pindah, bagaimana ya?" Kata Nyonya park pelan. Ia menoleh kepada ibuku. "Apa kita sudah-"
"Bu!" potong Chanyeol. Rahangnya mengeras.
Nyonya park tersadar, "Oh!" serunya kemudian menutup bibirnya rapat. Wajah nyonya park merona kemudian dia menatap ibuku sekilas lalu cepat-cepat tersenyum. Aku kebingungan melihat kejadian itu.
"Ayo bantu ibu, ibu dan ayah akan pulang sore ini," kata ibuku. Mereka berbalik dan mulai berjalan.
Aku menarik Tangan Chanyeol dan menghentikannya, "ibumu ingin mengatakan apa tadi?"
Ia menatapku sejenak, lalu melirik tanganku yang masih memegangi lengannya. Aku buru-buru melepaskannya. "Bukan apa-apa." Ujarnya kemudian.
Aku tidak percaya. Mereka semua bertingkah sangat aneh. "Chanyeol?" Tapi dia tak menunjukkan tanda-tanda akan berbicara." Kalau ini ada hubungannya dengan ku, aku berhak tahu."
Ia tersenyum samar lalu membungkuk dan mendekatkan mulutnya di telingaku. "Ada hubungannya dengan ku juga, jadi aku berhak untuk tidak memberitahukannya."
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
hai hai!
bagaimana chapter kali ini? memuaskan kah ?
hahaha maaf ya aku ngelanjutin nya agak lama, soalnya lagi UN kemaren, tapi sekarang udah enggak.
btw, itu yang mau diomongin sama Nyonya Park apa ya? kok Chanyeol malah takut pas nyonya park mau ngomong sesuatu itu?
hahah
kalo penasaran, ayo... banyak-banyak review biar aku juga semangat ngelanjutin hehe
btw yang minta hunhan momen, sorry ya guys cerita ini kan dari sudut pandang nya baekhyun jadi kalo hunhan momen tergantung baekhyun ngeliat apa enggak nya #lah?
hahah
nanti aku usaha in deh bikin HunHan momen nya, maka nya banyak REVIEW biar aku semangat nge post nya juga
yaudah cuma ini yang mau aku ucapkan (?) btw makasih yang udah review di chapter 2
sekian dari saya, Sampai jumpa di Chap berikutnya~~
Btw, Jangan lupa nonton Call Me baby di Official Youtube acc nya SMTOWN biar viewers nya bertambah, kita tunjukkan kekuatan EXO-L kepada dunia (#apasih ini) hahah
