EVERLASTING
.
.
PARK CHANYEOL
BYUN BAEKHYUN
.
.
.
DONT LIKE, DONT READ
.
.
#sebelumnya~
"Kalau dulu kami tak pindah ke dubai, bagaimana ya?" Kata Nyonya park pelan. Ia menoleh kepada ibuku. "Apa kita sudah-"
"Bu," potong Chanyeol. Rahangnya mengeras.
Nyonya park tersadar, "oh!" serunya. Wajah nyonya park merona kemudian dia menatap ibuku sekilas lalu cepat-cepat tersenyum. Aku kebingungan melihat kejadian itu.
"Ayo bantu ibu, ibu dan ayah mau pulang," kata ibuku. Mereka berbalik dan mulai berjalan.
Aku menarik Tangan Chanyeol dan menghentikannya, "ibumu ingin mengatakan apa tadi?"
Ia menatapku sejenak, lalu melirik tanganku yang masih memegangi lengannya. Aku buru-buru melepaskannya. "Bukan apa-apa." Ujarnya kemudian.
Aku tidak percaya. Mereka semua bertingkah sangat aneh. "Chanyeol?" Tapi dia tak menunjukkan tanda-tanda akan berbicara." Kalau ini ada hubungannya dengan ku, aku berhak tahu."
Ia tersenyum samar lalu membungkuk dan mendekatkan mulutnya di telingaku. "Ada hubungannya dengan ku juga, jadi aku berhak untuk tidak memberitahukannya."
.
.
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 4
.
.
.
.
Persiapan Penyelenggaraan Away Day membuat departemen kami sibuk. Banyak hal-hal yang harus di kerjakan. Tahun ini away day di adakan di Star Hill Resort, daerah gyeonggi-do. Sekitar 32 km dari seoul.
Kamis, pukul sembilan pagi, rombongan kami berangkat dengan bus yang telah di sediakan oleh departemen kami. Udara pegunungan yang sejuk dan suguhan jus jeruk dingin menyambut kedatangan kami.
Tempat peristirahatan ini terdiri dari sejumlah cottage yang terpisah seperti sekelompok rumah-rumah kecil dalam satu cluster. Pemandangan lapangan golf yang terhampar luas dan hijau dikelilingi bukit kecil dan pepohonan dapat di nikmati dari deretan cottage di sebelah selatan. Setiap cottage terdiri dari dua kamar dengan satu ruang santai. Aku, Yixing, Kei, dan Bora beruntung menempati salah satu cottage di sebelah selatan itu.
Setelah meletakkan barang-barang, kami semua berkumpul di aula. Di aula sudah di sajikan beberapa macam menu makan siang. Kami di perkenankan untuk makan siang terlebih dahulu.
Setelah makan siang, kami boleh melakukan kegiatan sendiri-sendiri sampai waktu makan malam. Banyak yang mengisinya dengan acara jalan-jalan menikmati pemandangan di sekitar resort sambil foto-foto, ada yang hanya duduk-duduk sambil bernyanyi diiringi petikan gitar, ada juga yang memilih bermain tenis atau mungkin juga ada yang diam-diam berkencan.
Fasilitas resort ini cukup lengkap. Selain lapangan golf, ada lapangan tenis dan kolam renang. Kolam seluas 10x5 meter itu, sore ini menjadi milik kami berempat. Usai berenang, kami duduk di samping kolam sambil menikmati kentang goreng dari Yixing.
"Sejak kapan kau memasak ini ?" Tanya kei sambil menyomot kentang goreng dan mencolek nya ke saus tomat.
"Sejak kalian berenang dan aku kembali ke kamar dan mengambil ini." Ujar Yixing sambil tersenyum.
"Ku kira kau memasaknya tadi" Yixing terkekeh mendengar gumaman ku.
"Kau kira disini ada dapur untuk memasak?" Katanya sambil memakan kentang goreng.
"By the way, bagaimana bisa kau mengundang E&EC untuk meliput event kita waktu itu? Kau tau, itu luar biasa. Ketika event yang kau buat di liput oleh tv nasional." Tanya Kei menggebu-gebu.
"Haha, produser E&EC adalah teman nya sahabatku. Kebetulan kami waktu itu bertemu. Dan ya seperti itu" jawabku sambil memakan kentang.
"Tapi kenapa malah Luhan yang di wawancarai? Seharusnya kau yang di wawancara." Bora yang sedari tadi diam kini ikut berbicara.
Sebelum aku menjawab, Yixing terlebih dulu menjawab, "Luhan memang begitu. Selalu ingin menang, dan tidak peduli dengan cara yang dia pakai untuk itu."
"Sepertinya dia tidak suka kalau lihat orang lain senang" Kei tampak mulai emosi. "Mungkin dia sakit jiwa" celetuk nya lagi.
Kami pun tertawa mendengar perkataan sepontan kei. Tapi kemudian bora terdiam.
"Ada apa?" Tanya ku.
"Yang aku dengar keluarga nya berantakan," kata bora pelan. Kami sentak terkejut. Dan menatap Bora dengan rasa ingin tahu.
Bora terdiam sejenak. Biasanya ia memang tidak banyak berbicara. Bora berkerja di bagian finance, jadi sehari-hari lebih banyak mengutak-atik angka dan memelototi worksheet dari pada berbicara.
"Waktu high school dulu, ayah nya berselingkuh dengan anak kuliahan yang hanya beberapa tahun lebih tua dari Luhan. Keluarga nya berantakan. Ayahnya lupa diri, sibuk mengurus pacar gelap nya itu dan tidak peduli dengan keluarganya. Luhan marah. Dia datang kerumah pacar ayah nya dan mengamuk di sana."
"Lalu?" Tanya yixing.
"Ayahnya malah kabur dengan pacarnya itu, dan tidak jelas keberadaannya. Luhan stress berat selama beberapa bulan." Sambung Bora.
"Nah, sudah ku bilang dia gila" celetuk Kei lagi.
"Tapi kenapa harus melampiaskan dendam nya kepada kita. Kita kan tak ada sangkut paut nya dengan masalah nya" protes Yixing. Aku mengangguk.
"Sepertinya sampai sekarang dia masih belum bisa terima," kata Bora kemudian.
Kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Meskipun selama ini Luhan memang menyebalkan dan tidak bisa dibenarkan, tapi setidaknya sekarang aku bisa memahami mengapa dia bersikap seperti itu. Aku jadi teringat sebuah pernyataan yang mengatakan. 'Family is the source of your greatest joy, but also of your deepest pain' . Sekarang terbukti kebenarannya. Keluarga adalah akar dari segalanya. Bahkan menurut teori ibuku, Hitler menjadi kejam seperti itu karena ibunya dulu tidak cukup lama menyusuinya.
Bisa dibilang, sekarang aku punya sudut pandang yang berbeda terhadap Luhan.
.
.
.
.
.
.
.
Acara permainan dilakukan setelah makan malam. Seperti sengaja ingin membuatku kesal, Luhan terus 'menempel' ke Sehun. Oke, barangkali ia hanya kehilangan figur ayah, aku mencoba menghibur diri. Tapi Sehun kan sama sekali tidak cocok untuk dibayangkan sebagai sosok ayah. Tidak untu perempuan dengan umur 25 tahun seperti Luhan. Apa Luhan masih berharap ayahnya kembali? Tiba-tiba aku tersadar betapa beruntungnya aku. Selama ini, hidupku selalu terlindungi. Keluarga ku utuh, meskipun ayahku belum masuk ke dalam daftar 150 orang terkaya di Korea selatan, aku tidak pernah kelaparan. Ayahku bertanggung jawab dan ia ayah yang terbaik.
Aku tidak bisa membayangkan ayahku berkencan dengan gadis muda yang seumuran denganku. Sebenernya apa yang mereka cari-para lelaki itu? Apakah sekedar wajah yang cantik dan muda? Padahal menurut statistik, pada akhirnya banyak laki-laki yang kehilangan segalanya karena selingkuh. Kehilangan keluarga, reputasi, karier, uang dan status. Lihat saja, Bill Clinton atau Tiger Wood. Dan masih banyak lagi. Tapi kenyataan itu tidak membuat orang jera.
Apa ayah ku juga rentan? Aku bergidik. Tapi kedua orangtuaku kelihatan rukun-rukun saja. Tentu saja mereka bertengkar, tapi bukan jenis pertengkaran yang disertai piring-piring berterbangan atau ancaman perceraian. Dan selama ini ibuku tidak pernah mengeluh. Tapi bukankah ada seorang wanita yang memilih bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia karena ia tak ingin mengorbankan anak-anak nya? Apa ayah dan ibu hanya berpura-pura bahagia didepan ku dan Kris? Secara refleks aku mengeluarkan ponsel dan men-dial nomor ayahku.
"Halo sayang, bagaimana acaranya?" Sapa ayahku riang.
Aku beringsut ke sudut mencari privasi. "Seru. Ayah sedang apa?"
"Nonton Tv"
Aku tak mendengar suara apa-apa di sebrang sana. "Dimana? Dengan siapa?"
"Di rumah, sendiri"
"Ibu dimana?"
"Lagi browsing internet"
Aku terdiam. Apakah ibuku sedang asik chatting dengan pemuda berumur 17 tahun di California sana? Perempuan juga rentan terhadap perselingkuhan, bukan? Apalagi sekarang banyak situs-situs pertemanan yang memberi peluang untuk itu. Apalagi ibuku senang bergaya ala remaja. Dengan wajah cantiknya, tubuh langsing, dan potongan rambut model pixie, ia masih sering disangka berumur tiga puluhan. Nah, kenapa orang tuaku tidak melakukan kegiatan bersama seperti layaknya pasangan bahagia?
"Ayah sedang bertengkar dengan ibu? Kenapa asik sendiri-sendiri?" Tanyaku cemas.
Ayahku tertawa disebrang sana sebelum menjawab, "ya tidaklah, ibumu lagi mencari info. Rencananya ayah dan ibu akan berlibur ke bali."
"Ooh," aku tidak menyembunyikan kelegaanku. "Aku di ajak?"
"Tidak, ini khusus untuk ayah dan ibu saja"
"Hahah, honeymoon ya?" Ledek ku. "Pulang dari sana nanti aku pasti punya adik"
Ayah ku tertawa, "sepertinya ayah lebih cocok kalau punya cucu," sahutnya. "Mana pacar mu? Kenapa belum dikenalkan dengan ayah? Sudah ada yang baru? Apa perlu ayah yang mencarikan? Hm.. Kau masih suka laki-laki kan?" Tawanya semakin keras.
Sepertinya sudah waktunya untuk mengakhiri pembicaraan ini. "Wah, Game-nya sudah dimulai. Sudah dulu ya. Salam buat ibu, bye ayah"
"Oke, hati-hati ya."
Aku memasukkan ponsel ke kantongku dan kembali ke tengah permainan. Saat itu sedang berlangsung lomba menari di atas koran yang dilipat-lipat sampai kecil. Entah bagaimana Luhan bisa berpasangan dengan Sehun. Tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Lihat saja cara ia memegang lengan Sehun. Begitu posesif. Menyebalkan. Dan sekarang ia sengaja memeluknya dan menekan kan dadanya.
Dan Sehun hanya tertawa. Dasar laki-laki!
Aku mendengus sebal. Iya, aku tahu. Luhan punya masa lalu yang menyedihkan. Tapi, aku kan juga manusia. Seharusnya ia bersaing secara wajar. Jangan menggunakan fisik seperti itu. Aku tidak akan menang dengan dada nya yang lebih montok itu.
Keseluruhan acara selesi jam sepuluh malam. Sampai di cottage, kami menonton tv dulu sambil mengobrol dan main kartu. Chen, Donghae, Jonghyun ikut bergabung. Hampir pukul satu dini hari ketika mereka kembali ke cottage masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku meletakkan ransel di dekat kakiku. Bus yang akan membawa kami kembali ke seoul sudah siap. "Baekhyun, nanti kau turun dimana?" Tanya chen.
"Di kantor saja, nanti aku naik busway lagi."
"Dari pada kau naik busway lagi setelah sampai kantor, lebih baik kau ikut Sehun." Tiba-tiba Yixing menyela. Aku kaget dan sebelum aku sempat menyahut, ia berkata lagi."Nanti aku yang bilang ke Sehun" dan tanpa menunggu persetujuanku, Yixing sudah berjalan menjauh. Dengan ngeri aku melihatnya mendekati Sehun. Kedua nya berbicara. Kemudian Yixing menoleh kearah ku dan melambai, Sehun ikut menoleh kearahku dan tersenyum.
Yixing menghampiriku dengan wajah berseri-seri. "Dia mau mengantarmu." Katanya riang. Tubuhku langsung panas dingin. Berduaan dengan Sehun? Di dalam mobil yang jaraknya hanya 30 cm? Apa aku sudah siap untuk ini?
"Tapi-"
"Hey, ayolah ini cuma Sehun. Sana, kau ditunggu olehnya" potongnya.
Aku tidak mungkin menolak, karena : (a) tidak enak dengan Yixing yang sudah baik hati membantuku mendapat tumpangan, dan (b) aku tidak mau menyinggung perasaan Sehun.
Dengan enggan aku meraih Ranselku. "Thanks" ujarku pelan.
"See you monday"
Aku sempat melihat chen mengedipkan mata ke arahku. Aargh. Aku melangkah perlahan kearah Sehun. Semakin dekat langkah ku semakin berat. Sehun berdiri di samping Hyundai Equus hitam miliknya. Ia tersenyum dan aku rasa ingin pingsan.
Seperti robot, aku hendak duduk di kursi belakang ketika Sehun berbicara, "duduk di depan bersama ku lebih baik, Byun"
Dengan menahan rasa malu , aku pun pindah duduk di depan bersama Sehun.
"Sudah siapa?" Tanyanya. Aku mengangguk. Lupa bagaimana cara berbicara.
Sepanjang perjalanan, aku hanya menjawab pertanyaannya dengan jawaban pendek-pendek. Lupa bagaimana membuat kalimat dengan subjek dan predikat yang lengkap. Aku begitu tegang, telapak tanganku berkeringat.
Ketika Sehun berhenti di Lobi apartemen ku, aku tak bergerak dari tempatku.
"Benar yang ini apartemen mu?" Tanyanya.
"Oh, eh, iya benar," sahutku gugup. Aku membuka pintu mobil lalu tergesa-gesa turun. Kemudian aku menutup pintunya dengan pelan. Sehun menurunkan kaca jendela dan tersenyum. Sepertinya ia menunggu sesuatu. Tiba-tiba ia menautkan alisnya dan aku tersadar.
"Eh, iya, terimakasih, pak." Kataku gugup. Tentu saja. Wajahku merona, bodoh sekali.
"Kalau sedang berdua, tak usah memanggil ku pak, cukup Sehun saja." Katanya dan sukses membuatku kaget. Kemudian ia tersenyum, "have a nice weekend, Baekhyun" ia melambaikan tangan dan mulai menjalankan mobilnya.
Aku masih terpaku sampai mobil itu menghilang dari pandangan.
Sialan! Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan kesampatan ini? Seharusnya aku bisa membuatnya terkesan dengan perbincangan yang menarik atau dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas. Tapi tidak. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala seperti orang idiot. Kalau nanti Luhan berhasil mendapatkan Sehun, itu karena kebodohan ku sendiri.
Dengan lunglai, aku langsung masuk kedalam gedung apartemen.
.
.
.
.
.
.
.
.
Begitu sampai dikamar aku langsung menghempaskan tasku lalu dengan terburu-buru mengambil catatan rahasiaku. Tanpa ganti baju kantor, aku memasukkan sebuah entry baru dengan hati-hati.
'Dia suka Michael Buble'
Waktu Sehun memberi ku tumpangan sabtu lalu, ia menyetelnya di mobil. Awalnya aku tidak mengenali jenis musik dan suara baritone itu sampai aku melirik kotak CD yang tergeletak di situ.
Aku tersenyum puas. Kututup buku itu lalu kuselipkan di bawah bantal. Kemudian dengan tidak sabar aku meraih tas dan mengeluarkan CD Michael Buble-Crazy Love- yang ku beli pulang kantor tadi dan memasangnya di player. Track pertama 'Cry Me A River' mulai mengalun. Hm... Tidak sampai setengah lagu, aku beralih ke lagu ke dua 'All Of Me'. Mmm... Tidak sampai 15 menit, aku sudah sampai di Track terakhir. Apanya yang salah? Waktu di mobilnya kemarin aku bisa menikmatinya.
Oke, mungkin aku harus mendengarkannya dengan rileks. Aku kembali memutar track pertama lagi dan berbaring di tempat tidur sambil memejamkan mata. Tapi tak lama tanganku sudah terulur meraih remote. Sampai track kelima, aku menyerah. Sebaiknya tidak usah dipaksakan. Mungkin aku terbiasa dengan jenis musik energik yang memadukan rock progresif dan musik klasik sehingga aku tidak, eh, belum bisa menikmati jenis musik swing seperti ini. It's an acquired taste, seperti bir atau kopi. Pertama kali mencicipinya memang terasa pahit, tapi lama-lama bisa kecanduan.
Aku memasukkan CD itu kembali ke kotaknya. Mungkin kalau sambil menghayal Sehun, aku akan bisa menikmatinya. Suara ketukan mengalihkan perhatianku. Kepala Kyungsoo muncul dari balik pintu.
"Kenapa kau pulang telat, hm?" Tanyanya sambil duduk di tepi kasur ku.
"Tadi berhenti di mal beli CD dulu," aku mengangkat CD di tanganku.
Kyungsoo mengambilnya. Setelah membaca judul dan penyanyinya, alisnya langsung bertaut, ia memandangku dengan wajah penuh tanda tanya. "Sejak kapan kau suka musik genre seperti ini?"
"Ingin tahu saja," sahutku tanpa menatap matanya.
Kyungsoo mengulurkan CD itu kepadaku. "Aku lapar, ayo makan sekarang. Aku mamasakkan makanan kesukaan mu." Katanya.
"Aku mandi dulu," aku berdiri dan berjalan keluar menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi, aku mengganti baju dan menyisir rambutku kemudian keluar. Begitu masuk ke kamar, jantungku seperti ingin lepas dari tempatnya.
Kyungsoo sedang membaca- BUKU RAHASIA KU!
Secara refleks, aku berlari dan merebut buku itu dari tangannya. Aku menatapnya nanar, jantungku berdegup kencang.
"Kau dapat buku ini dari mana?" Tanya ku, napasku menderu tak beraturan.
"Ada dibawah bantal," katanya bingung melihat kepanikanku.
Aku baru ingat, tadi aku memang menyelipkan buku ini di situ. Aku lupa menyimpannya karena terburu-buru ingin mendengarkan michael Buble. Bagaimana mungkin aku bisa seceroboh ini?
"Itu buku apa?" Tanyannya.
Aku tak menjawab. Cepat-cepat aku amankan buku itu ke dalam laci dan menguncinya. "Ayo makan," kataku.
Kyungsoo langsung beranjak dari tempat tidurku dan kami berjalan menuju meja makan.
Begitu kami duduk, kyungsoo bertanya. "Itu tadi buku apa?"
Aku mengerang dalam hati, "buku catatan," jawabku pelan.
"Catatan apa?"
Aku berfikir keras-bagaimana cara berkelit dari pertanyaan itu? Sementara kyungsoo menunggu dengan tidak sabar. Akhirnya aku hanya bisa berkata, "ya catatan biasa, seperti yang kau buat saat wawancara. Aku hanya mencoba untuk mengumpulkan data, siapa tau nanti aku bisa menulis biografi."
Kyungsoo memandangku seolah-olah aku baru saja mengatakan ingin merampok bank. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Byun Baekhyun" tuduhnya. Aku mati kutu. Aku tahu Kyungsoo tidak akan melepasku begitu saja. Ketika aku tak kunjung menjawab, ia melanjutkan,"kau tak mau bercerita dengan ku lagi? Sudah tak percaya dengan ku lagi?"
Kalau ia sudah melakukan serangan psikologis seperti ini, aku tak bisa berkutik lagi.
"Bukan begitu, kyung. Aku hanya... Malu" kataku sambil memindahkan daging panggang kedalam mangkok nasi ku.
Kyungsoo yang awalnya sedang asik memakan nasi dan daging nya tiba-tiba berhenti mengunyah dan menaruh sumpitnya. "Sejak kapan ada kata malu di kamus hidup mu, hm?" Katanya. "Itu data tentang siapa?" Tanya nya.
Aku mendesah sambil memandangi daging panggang yang berada di mangkuk nasi ku. Sebenar nya daging sapi panggang ini makanan kesukaan ku, tapi kenapa sekarang aku kurang selera hanya untuk mengunyah nya.
"Sehun," akhirnya aku mengaku.
"Sehun? Bos mu? Kenapa kau membuat catatan tentang nya? Seperti tidak ad-" kyungsoo terdiam, kemudian matanya yang besar pun membulat. "Oh my god, kau suka padanya?!" Teriak nya.
"Hey, bisa tidak usah teriak" ujarku sinis. Oh ayolah, kami hanya berdua di apartemen seluas ini dan aku hanya berjarak satu meter dari hadapan nya, kenapa dia harus teriak-teriak.
"Aku sudah curiga. Pantas saja kau tidak ada ketertarikan dengan Chanyeol , ternyata... Aish, ini kan berita besar, Kenapa kau tidak bercerita dengan ku, huh?" Kyungsoo memukul kepalaku dengan sumpit nya. Ada apa dengan bocah ini? Apa dia tidak tau ini rasanya sakit.
"Ish.." Rintih ku sambil mengusap kepalaku yang sakit.
"Tell me!" Kyungsoo melotot kearahku.
Aku berdeham. "Mm... Aku suka dengan nya karena... Dia keren, dewasa, pekerja keras-," dan memiliki bokong yang sexy, tambahku dalam hati.
"Lalu?" Desak nya excited
Seperti bendungan yang jebol, aku menumpahkan semua detail tentang Sehun. Kyungsoo mendengar dengan terpana, sampai lupa dengan nasi dan daging panggang nya.
"Aku senang mendengarnya, Baek. Nanti kita harus kencan bersama. Double Date, oke?" Kata Kyungsoo setelah aku selesai bicara.
"Wait! Kau melupakan sesuatu. Aku belum-berpacaran-dengannya"
"Itu hanya masalah waktu, Baekhyun." Ia mengibaskan tangannya. "Aku pasti membantumu. Maka dari itu kau harus mengenalkan ku padanya" katanya.
Aku memutar mataku, "bagaimana caranya? Kau lupa kalau dia bos ku, hm? Aku berhubungan dengan nya hanya batas pekerjaan. Itu juga tidak terlalu sering. Mana mungkin pegawai rendahan seperti ku mengajaknya untuk hang-out"
Kyungsoo berfikir sejenak. "Kita harus menyusun strategi," ujar kyungsoo serius. Keningnya langsung mengkerut tanda ia sedang berfikir keras. Aku langsung bergidik mendengarnya. Dalam kamus kyungsoo, kata strategi selalu melibatkan tindakan-tindakan yang ekstrem.
Setelah beberapa saat matanya berkilat. Ia sudah menemukan ide cemerlang.
"Apa?" Tanya ku khawatir.
Ia tersenyum. "Tenang saja. Serahkan saja padaku. Kau tidak perlu tahu." Kyungsoo mengambil sumpit nya dan melanjutkan makannya. Aku semakin khawatir.
Dua minggu berlalu pun tak ada update apa pun dari kyungsoo. Jangan-jangan ia lupa, atau jangan-jangan ide briliannya itu tidak mungkin direalisasikan. Terus terang, aku tidak terlalu yakin dengan apa yang ada di kepala kyungsoo.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bola mataku seperti ingin meloncat keluar melihat Kyungsoo berjalan di koridor ditemani Yubin, resepsionis kami. Ia mengenakan baju kantor nya. Siapa yang akan ia wawancarai?
Aku hendak berdiri memanggil nya tetapi tertahan ketika Kyungsoo mengangkat tangannya tanda agar aku tak perlu menyapanya. Ia lewat di depanku seolah-olah tidak mengenalku. Jantungku langsung melompat-lompat di dalam dadaku begitu aku tahu kemana tujuannya.
Yubin mengantarnya ke ruangan Sehun.
Aku berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh. Apa yang akan dia lakukan? Ide berlian macam apa itu? Kenapa ia tak membicarakannya pada ku? Aku terjatuh di kursiku, berusaha menenangkan jantungku. Kyungsoo tak mungkin mengkhianatiku kan? Tidak mungkin.
Aku tidak bisa konsentrasi lagi dengan pekerjaan ku. Aku bahkan tidak bisa duduk dengan tenang. Rasanya seperti duduk diatas -sebentar aku berdiri; pergi ke pantry mengambil minum, pergi ke mesin fotokopi sambil melirik ke ruangan Sehun, mengambil Print Out.
Kurang lebih satu jam kemudian, kyungsoo keluar dari ruangan Sehun. Mereka bersalaman di depan pintu dan mengucapkan salam perpisahan sambil saling tersenyum. Sehun kembali ke ruangannya dan Kyungsoo melangkah dengan percaya diri menuju pintu keluar. Ketika melewatiku, ia mengedipkan mata.
Tak lama kemudian ponselku berbunyi.
.
'Aku di lobi'
.
Begitu bunyi pesan singkat kuterima. Secepat kilat aku meninggalkan mejaku. Sampai di bawah, aku langsung menghampiri Kyungsoo dan menariknya ke tempat yang lebih aman.
"Kau gila?! Kenapa kau tak bilang dengan ku?" Seruku.
Kyungsoo hanya tersenyum. "Aku punya informasi menarik," katanya sambil menepuk-nepuk tasnya. Aku terdiam, rasa ingin tahuku mulai menggoda. Tapi aku harus memastikan satu hal lebih dulu.
"Kau tadi mewawancarainya tentang apa?" Tanyaku khawatir.
"The deepest desire," jawabnya dengan gaya dibuat-buat.
Aku mengerutkan kening. "Kenapa dia mau di wawancarai?"
"Ceritanya sambil lunch saja" usulnya.
Aku melihat jam tangan ku. "15 menit lagi,"
"Oke, aku tunggu di sana." Ia menunjuk salah satu resto di depan kantor ku. Aku hanya mengangguk.
Aku kembali ke atas dan cepat-cepat memeriksa kalenderku, memastikan tidak ada rapat yang harus kuhadiri hari ini. Jam dua belas tepat aku turun menemui kyungsoo.
"Sudah pesan?" Tanya ku pada kyungsoo yang tengah duduk mengamati leptop nya.
"Sudah, aku memesan curry ramyun, kau juga ku pesan kan itu." Jawab nya sambil memasukkan leptop kedalam tas nya. Aku mengangguk.
"Jadi?" Tanyaku tak dapat menyembunyikan rasa ingin tahu.
"Aku pikir, cara efektif supaya aku bisa bertemu dengan Sehun dan mengorek segala sesuatu tentang nya ya hanya dengan wawancara. Tadinya aku hanya ingin mengangkat profilnya saja, tapi sepertinya kurang dirty. Aku rasa itu paling cocok untuk tujuan kita ini." Kyungsoo menjelaskan.
Kita? Dia menggunakan kata ganti yang salah. Seharus nya dia saja.
"Aku mengusulkan ide ini kepada pimpinan redaksi, dan dia langsung setuju. Begitu dia meminta daftar 'eligible bachelors' yang ingin di tampilkan. Aku langsung masukan nama bos mu itu."
"Sehun langsung setuju?"
"Awalnya tidak, aku kemudian menjelaskan padanya mengenai majalah kami, visi dan misinya. Kemudian tujuan wawancaranya, informasi apa saja yang diminta dan lain-lainnya. Aku mengerti, tidak semua orang mau mengungkapkan hasrat terdalamnya." Katanya. Kalimat terakhir itu dimaksudkan untuk menyindirku.
"Lalu kau tanya apa saja?"
"Nanti malam saja kau dengar sendiri,"
Aku tidak mau menunggu sampai nanti malam. "Kasih tau aku sedikit saja," desakku.
"Aku tanya tentang ambisinya dalam pekerjaan, tentang kehidupan, harapannya terhadap situasi sekarang ini, rumah seperti apa yang dia idamkan, tempat-tempat yang ingin dia datangi, dan pastinya... Wanita impiannya" katanya dengan nada menggoda.
Aku mencondongkan tubuh kearahnya. "Seperti apa wanita impiannya?"
Kyungsoo ikut-ikut mencondongkan tubuhnya. "Dia menyukai wanita yang independent dan sedikit liar," bisik nya dan disertai kerlingan nakal.
"Sedikit liar bagaimana?"
"Sabar Byun, nanti malam kau bisa mengetahuinya, sekarang makan dulu. Aku sudah lapar," matanya bertuju kearah pelayan yang sedang menuju ke meja kami sambil membawa dua buah mangkuk berwarna putih beserta dua gelas jus jeruk.
Setelah mangkuk dan gelas itu sampai di meja kami, kami pun sibuk mengaduk dan mencicipi ramyun yang kami pesan.
"Menurut mu bagaimana Sehun?"
Kyungsoo yang tengah mengangkat ramyun nya dengan sumpit pun terhenti. Ia menatap ku sejenak kemudian memakan ramyun nya.
Setelah ramyun itu di telan nya, dia pun berkata "kau ingin jawaban yang jujur atau jawaban yang compromised?"
"Aku ingin jawaban menurut mu."
"Dia terlalu tua untuk mu," katanya datar.
"Tua dari mana? Dia baru 27," aku menolak mentah-mentah analisisnya.
"Maksud ku bukan dari segi umur, tapi secara karakteristik. Menurut ku dia terlalu serius, monoton, ingin terlihat sempurna. Sedangkan kau, kau itu bukan orang yang bisa membimbing semangat mu sendiri, passion mu. Someone with a spark."
Aku memandangnya heran. "Memangnya Sehun tidak menyukai wanita yang bersemangat?"
Kyungsoo mengangkat bahu. "Dia memang mengatakan kalau dia tertarik dengan wanita yang bebas, independent, yang melakukan sesuatu sesuai kata hatinya. Tapi menurutku, dia tidak menginginkan wanita itu sebagai partner yang sejajar, dia hanya ingin wanita itu sebagai nilai tambah untuk nya." Kyungsoo kembali memasukkan ramyun nya kedalam mulutnya sementara aku terdiam mencerna kata-katanya. Tapi hanya sebentar. Aku tidak peduli. They don't call it 'love is blind' for nothing.
"Hm.. Kalau menurutmu, dia tertarik tidak dengan tipe seperti ku?"
"Laki-laki mana yang tidak tertarik dengan seorang Byun Baekhyun" ledeknya.
Aku cemberut, "aku serius, Kyung"
"Kemungkinan kan selalu ada." Aku tersenyum cerah mendengar kata-katanya. "Tapi, Baekhyun. Dia belum tentu cocok dengan mu. Kau pasti akan bosan dengan nya. Feeling ku, Sehun itu tidak seperti penampilannya."
"Maksudmu dia terlalu menjaga image?" Kyungsoo tak menjawab. "Itu bukan hal yang buruk" tambah ku.
Kyungsoo menggeleng. "Bukan itu. Yang penting menurut ku, dia itu- apa ya? Sepertinya dia terlalu diatur-atur, tidak apa adanya." Ia terdiam sejenak kemudian menambahkan, "Baekhyun, don't get me wrong, tapi kau itu lebih cocok dengan pria yang terbuka, easy going, yang dinamis. Seperti-" kyungsoo mengerutkan keningnya beberapa saat. Aku menunggu nya sambil meminum jus ku. Kemudian ia menjentikkan jari nya.
"Seperti Chanyeol, ya si Park Chanyeol itu" serunya.
Dan kemudian aku melihat wajah kyungsoo berlumuran jus jeruk karena semburan ku yang tak sengaja.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sepertinya hari ini bumi memutuskan untuk mengurangi kecepatan putarannya sehingga waktu berjalan sangat lambat. Aku tidak sabar menunggu hingga jam kantor usai. Pukul 5 sore, aku langsung membereskan meja dan mematikan komputer. Di jalan aku menelpon kyungsoo untuk memastikan ia tak pulang terlambat.
Sampai di apartement , aku menunggu kyungsoo sambil menonton tv. Aku langsung melompat ketika pintu apartement berbunyi tanda ada yang tengah memasukkan password pintu dan pintu pun terbuka.
Tubuhku memompa adrenalin seperti ketika sedang naik roller coaster. Tampak kyungsoo sedang melepas sepatu kerja nya, kemudian dia berjalan menuju kamar nya. Aku hanya mengekor di belakangnya.
Kami duduk di atas tempat tidurnya. Kyungsoo mengeluarkan recorder dengan gaya berlebihan, sengaja berlama-lama sehingga membuatku tegang. "Cepat, kyungsoo!" Desak ku.
Ia tertawa. "Oke, oke"
Kyungsoo memencet tombol play dan kami langsung terdiam. Tak lama terdengar suara kyungsoo mengajukan pertanyaan pertama, "apakah pekerjaan anda yang sekarang ini adalah pekerjaan yang memang anda inginkan sejak dulu?"
"Bisa dikatakan begitu. Tentu saja dulu kalau ditanya tentang cita-cita, saya tidak menjawab 'Assistant Director Program and Business.' " Sehun tertawa. "Saya senang bekerja keras dan selalu menginginkan pekerjaan yang bisa melibatkan saya dengan orang banyak. Saya merasa memiliki kemampuan persuasif dan saya ingin memanfaatkan potensi saya itu. Pekerjaan saya sekarang ini adalah sebuah proses bukan titik puncak. Saya masih berusaha menuju kesana."
"Menurut anda dimana puncaknya?"
"Tidak bisa dikatakan secara pasti karena segala sesuatu di sekeliling kita selalu berubah. Mungkin beberapa tahun yang lalu posisi yang saya tempati sekarang ini merupakan puncak, tapi sekarang kebutuhan dan tuntutan zaman berubah dan itu menyebabkan terjadinya pergeseran dan memunculkan posisi baru yang lebih tinggi. Kita ingat sebelum internet diperkenalkan tidak ada posisi web manager. Saya rasa hal-hal seperti itu akan selalu terjadi. Mungkin tahun depan akan ada jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Who knows?"
Pembicaraan berlanjut mengenai pandangan tentang kondisi sekarang ini dan apa harapannya terhadap situasi global saat ini. Setelah itu pertanyaan kyungsoo mulai beralih kepada hal-hal peribadi : rumah idaman nya adalah rumah modern yang memiliki fasilitas lengkap dan salah sati kota favorite nya adalah New York. Waktu ia menyebutkan Michael Buble sebagai penyanyi favorite nya, Kyungsoo memandangku sambil memutar matanya. Aku mengabaikannya.
Akhirnya kami sampai ke bagian yang paling di tunggu.
"Wanita seperti apa yang akan menarik perhatian anda?" Tanya kyungsoo.
"Saya menyukai wanita yang mempunyai semangat, seseorang yang mandiri, smart, punya sisi humor yang tinggi." Ia terdiam, "Dan saya akan lebih tertarik lagi kalau perempuan itu memiliki sisi lain yang tak terduga. Dia bisa melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh perempuan kebanyakan. Mungkin sedikit liar" Sehun tertawa perlahan.
"Liar disini dalam konteks apa?" Aku bisa mendengar Kyungsoo ikut tersenyum.
"Dia berani mencoba hal-hal baru walaupun itu mengandung resiko."
"Contoh konkretnya seperti apa? Apa perempuan ini harus melakukan pendakian di puncak himalaya?"
Sehun tertawa.
"Mungkin itu contoh yang ekstream. Tapi ya, saya akan tertarik dengan wanita yang memiliki semangat seperti itu. Meskipun misalnya, dia tidak berhasil mencapai puncaknya karena dia bukan pendaki profesional, saya akan menghargai semangatnya dan usahanya."
"Apakah membuat tatto di tubuhnya dan menindik lidahnya bisa dikatagorikan sebagai contoh yang tidak ekstrem?"
Sehun tertawa lebih keras. "Ya, saya rasa itu juga termasuk."
Sehun terdengar santai dan menikmati wawancaranya. Seandainya aku ada disana. Betapa beruntungnya Kyungsoo.
"Apakah anda sudah bertemu wanita seperti yang anda gambarkan tadi?" Tanya Kyungsoo kemudian. Sehun tak langsung menjawab. Jantungku berdebar-debar.
"Saya mengenal beberapa wanita yang seperti itu," jawabnya kemudian. Wajahku langsung terangkat dan menatap Kyungsoo tegang.
"Dan apakah anda memiliki hubungan khusus dengan salah satu dari mereka?"
Mataku membesar, tapi kyungsoo tetap tidak bereaksi. Wajahnya tetap datar. Sialan!
"Hmm... Sejauh ini belum bisa dikatakan ada hubungan khusus." Sehun kedengaran enggan untuk membahasnya dan Kyungsoo sepertinya mengetahui hal itu.
Aku menarik napas lega.
"Bagaimana dengan penampilan para wanita ini, apakah anda memiliki preference tertentu? Apakah anda lebih suka mereka berpakaian sexy atau elegan misalnya?"
"Saya suka penampilan yang wajar, tapi terus terang saya juga tidak munafik. Sebagai seorang pria, saya tidak keberatan mereka berpakaian sexy, tapi tentu saja harus ada konteks,"
"Dan bagaimana anda menyikapi mereka yang di luar konteks?"
"Itu hidup mereka, jadi mereka boleh melakukan apa pun yang mereka inginkan sejauh tidak merugikan orang lain."
"Memang kerugian apa yang bisa ditimbulkan?" Tanya Kyungsoo. Sehun terdiam. Sepertinya ia sedang mempertimbangkan apakah akan menjawab atau tidak.
"Mungkin anda harus menjadi pria untuk dapat memahaminya." Katanya kemudian.
Kyungsoo tertawa."Baiklah, saya rasa cukup."
"Bagaimana?" Tanya kyungsoo sambil mematikan recorder.
"Kau memang yang paling terbaik" puji ku sambil merangkulnya. Kyungsoo hanya tersenyum.
"Dan yang paling penting dia belum memiliki kekasih, yay! Berarti aku masih memiliki kesempatan." Ujarku riang.
"Selama ini sikap dia kepada mu itu bagaimana?" Kyungsoo menatapku penuh simpati.
"Seperti yang aku bilang, hanya sebatas pekerjaan saja."
Kyungsoo mengernyit. "Memangnya kau tidak pernah berbicara dengannya di luar kantor?"
Aku mengerucutkan bibirku dan menggeleng.
"Waktu Away day kemarin?" Cecarnya. Aku menggeleng lagi.
"Kalau dia tidak mengambil inisiatif, ya kau saja yang bergerak. Kalau sama-sama menunggu seperti itu kapan kau akan menjadi kekasihnya."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Kesal pada diri sendiri. Kalau aku bisa mengulang kejadian di mobil waktu itu, akan aku tunjukkan pada Sehun sisi lain dariku yang mandiri, bebas, tak terduga dan sedikit liar. Nah!
"Ayo byun, kau harus bergerak. Dulu waktu kuliah, kau selalu bisa mendapatkan semua pria yang kau sukai." Kyungsoo menyemangati.
"Maybe, I'm loosing my touch," keluhku. Rasa percaya diriku mulai terkikis.
"Bullshit! Kau itu hanya butuh strategi yang tepat."
Oh tidak. Aku harus mencegahnya bertindak terlalu jauh.
"Aku juga sudah menyimpan strategi, tenang saja." Ujarku buru-buru. Kyungsoo menyipitkan matanya dan menatapku sangsi. "Lihat saja. Dalam waktu satu bulan aku pasti bisa berkencan dengannya."
"Berani taruhan?" Tantang Kyungsoo.
"Siapa takut."
"Oke, winner takes it all"
Sialan! Itu artinya kyungsoo meminta traktiran apa saja. Dimana saja, sepuasnya. Untuk urusan makan gratis, Kyungsoo memang tidak kenal ampun. Tapi aku tidak bisa mundur lagi. Ini soal harga diri. Selain itu aku memang butuh sedikit dorongan supaya tidak jalan di tempat. Aku harus menantang diriku sendiri supaya tidak hanya bermimpi.
"Oke!" Kataku yakin.
.
.
.
.
.
.
to be continued~
.
.
.
hai hai... bagaimana chapter kali ini?
membosan kan? atau menarik?
keluarkan unek-unek kalian di REVIEW ya?
semakin banyak review semakin bersemangat saya ngepost lanjutannya.
btw chap 5 nya sudah saya ketik tinggal di post doang hehe makanya review!
oia, udah pada liat post an IG nya Chanyeol belom?
itu chanyeol sama baekhyun dan anaknya hahah
oke sekian dari saya, salam super!
