EVERLASTING

.

.

.

.

PARK CHANYEOL

BYUN BAEKHYUN

.

.

.

.

DONT LIKE, DONT READ!

.

.

.

CERITA INI BUKAN MILIK SAYA, SAYA HANYA ME-REMAKE

.

.

.

#SEBELUMNYA~

.

.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Kesal pada diri sendiri. Kalau aku bisa mengulang kejadian di mobil waktu itu, akan aku tunjukkan pada Sehun sisi lain dariku yang mandiri, bebas, tak terduga dan sedikit liar. Nah!

"Ayo byun, kau harus bergerak. Dulu waktu kuliah, kau selalu bisa mendapatkan semua pria yang kau sukai." Kyungsoo menyemangati.

"Maybe, I'm loosing my touch," keluhku. Rasa percaya diriku mulai terkikis.

"Bullshit! Kau itu hanya butuh strategi yang tepat."

Oh tidak. Aku harus mencegahnya bertindak terlalu jauh.

"Aku juga sudah menyimpan strategi, tenang saja." Ujarku buru-buru. Kyungsoo menyipitkan matanya dan menatapku sangsi. "Lihat saja. Dalam waktu satu bulan aku pasti bisa berkencan dengannya."

"Berani taruhan?" Tantang Kyungsoo.

"Siapa takut."

"Oke, winner takes it all"

Sialan! Itu artinya kyungsoo meminta traktiran apa saja. Dimana saja, sepuasnya. Untuk urusan makan gratis, Kyungsoo memang tidak kenal ampun. Tapi aku tidak bisa mundur lagi. Ini soal harga diri. Selain itu aku memang butuh sedikit dorongan supaya tidak jalan di tempat. Aku harus menantang diriku sendiri supaya tidak hanya bermimpi.

"Oke!" Kataku yakin.

.

.

.

.

.

CHAPTER 5

.

.

.

.

.

H!People edisi terbaru terbit hari ini. H!People adalah nama majalah yang di terbitkan oleh perusahaan redaksi tempat Kyungsoo Bekerja. Aku mendatangi kios majalah di dekat kantorku untuk membelinya. Sampai di lantai 14, aku langsung masuk ke kamar mandi eksekutif dan menguncinya. Dengan berdebar-debar aku mengeluarkan majalah itu dari tas ku, "halaman 22..." Gumamku sambil membalik-balik majalah. Ini Dia!

Sehun yang memandangku dengan Senyum nya dari halaman majalah itu. Ia tampak mempesona dengan celana hitam, kemeja biru muda dan jaket warna gelap. Ia sedang bersandar sambil memegang gelas, di sebuah bar.

Dengan senyum lebar aku mulai membaca. Setelah mengulang dua kali dan mencium foto Sehun, aku menyimpan majalah itu di dalam tas dan bergegas keluar.

Suasana kantor sangat ribut. Sepertinya semua orang sedang membicarakan hal yang sama. Tentu saja tentang Sehun. Waktu kenaikan Gaji saja tidak se-Gaduh ini. Beberapa orang tampak sedang membaca. Membaca majalah H!People.

Sehun menjadi selebritas dadakan. Ia menjadi topik dalam semua pembicaraan.

"Baekhyun, sudah baca majalah H!People?" Tanya Yixing begitu melihat ku.

"Mm... Sudah beli," aku mengeluarkan majalah itu. Yixing tersenyum dan mengangkat majalah di tangannya. Kami tertawa.

Di tengah-tengah euforia ini, aku membaca artikel itu sekali lagi-sambil bersembunyi di balik monitor-.

"Wah.. Ada penggemar satu lagi sepertinya"

Aku mengangkat wajahku. Luhan berdiri di samping mejaku dengan cibiran sinis di bibirnya. Oke, tidak perlu ditanggapi. Don't drag yourself to her level. Aku membalas tatapannya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Menunggu apa yang akan ia lakukan.

Luhan mencondongkan tubuhnya kearahku, "Jangan bermimpi..." Desisnya. Ia tertawa dan berlalu dari hadapanku.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tak disangka-sangka Luhan mengambil cuti dua hari. Aku senang jika ia tak ada. Kami merasa tenang. Tak ada suara-suara 'aneh' yang selalu terdengar mengiringi Luhan bekerja. Ia memiliki kebiasaan membaca keras-keras supaya bisa memahami apa yang sedang dibacanya. Suara keyboard nya terdengar berisik padahal itu jenis softkey yang tak perlu di tekan keras-keras. Ia juga suka mengomentari apa saja. Meskipun ia tak mengatakannya kepada satu orang tertentu, tapi suaranya cukup keras sehingga semua orang bisa mendengar.

Dua hari kemudian, saat masuk kantor lagi, ada perubahan dalam penampilan Luhan. Ia memakai Blus tertutup, tak ada lagi pamer dada. Tapi perubahan yang paling menonjol adalah ekspresi wajahnya yang begitu arogan.

Teka-teki itu baru terungkap seminggu kemudian ketika Luhan kembali memakai Blus yang memperlihatkan kemolekan tubuhnya itu. Oh sial! Ternyata dia membuat Tatto berbentuk burung merpati di dada atas sebelah kanan. Dan itu terlihat ketika dia menggunakan Blus nya yang berleher V.

Ini Gila! Aku ternganga. Ini tidak boleh dibiarkan. Dengan kecepatan seperti ini, Luhan bisa memimpin di depan.

Selama beberapa hari hidupku bergejolak. Aku terombang-ambing diantara dua pilihan dengan konsekuensinya masing-masing. Selama berhari-hari pula aku tidak bisa memutuskan. Tapi sore ini, ketika Sehun memuji Tatto di dada Luhan dan membuat Luhan menjadi terbang keawan, aku pun membulatkan tekat.

Sampai di kamar ku, aku langsung browsing dan mencari informasi sebanyak-banyak nya tentang tatto. Ternyata seni tatto ini sudah dilakukan sejak 5000 tahun yang lalu. Awalnya terjadi secara tidak sengaja ketika seseorang terluka, kemudian ia menggosok lukanya itu dengan tangan yang berlumuran abu dari sisa pembakaran. Saat lukanya sembuh, bekas hitam itu tidak pernah hilang.

Aku membaca dengan teliti prosedur pembuatanya, keamananya, perawatannya, dan sebagainya. Aku juga membaca pengalaman orang-orang ketika pertama kali menato tubuhnya. Semua menyebutkan tentang rasa sakit yang luar biasa-aku tidak perlu memikirkan tentang hal ini-. Setelah itu aku menelpon teman lama ku, Kim Kwangsoo. Dia adalah teman kuliahku dulu, satu fakultas tapi berbeda jurusan. Kami sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan kampus. Kwangsoo adalah anak Band. Ia dan teman-temannya sering mengisi acara musik di kampus dan aku sering diminta untuk menjadi Backing Vocal. Kata Kwangsoo, suaraku punya karakteristik unik.

Ketika aku mengontaknya, tentu saja Kwangsoo kaget menerima telpon dariku dan lebih kaget lagi ketika aku bertanya perihal tatto.

"Kenapa ? Kau mau memasang tatto?" Tanyannya tertawa. Waktu aku mengiyakan, tawanya langsung terhenti. Ia terdiam beberapa saat.

"Baekhyun, kau yakin?" Suaranya terdengar sangat serius sekarang.

"Iya, sangat yakin." Ujarku. "Kapan Aku bisa bertemu dengan mu?"

.

.

.

.

.

.

.

.

Kwangsoo langsung berdiri begitu melihatku, senyumnya mengembang. Ia tak banyak berubah, mengenakan jeans dan kaus seperti biasa. Rambutnya yang panjang diikat dengan rapi.

"Semakin cantik saja kau" komentarnya.

"Sekarang kan aku sudah memiliki modal untuk memperhias muka ku." Jawabku. Ia tergelak.

Aku duduk di hadapannya. Seorang pelayan menghampiri dan menyerahkan menu.

"Kau sudah berfikir dengan matang?" Tanyanya.

Aku hanya bisa mengangguk dan menatap tatto di sepanjang lengan kiri Kwangsoo.

"Aku tidak habis pikir. Diantara semua wanita yang aku kenal, kenapa harus kau yang ingin membuat tatto?" Ia menunjuk kearahku lalu menggeleng.

"Emang ada apa dengan ku?" Tanyaku agak tersinggung.

"Hanya saja, kau kan takut jarum" Kwangsoo mengingatkan. Dulu setiap kali ada acara donor darah di kampus, aku selalu menolak karena takut melihat jarum besar itu ditusuk ke lenganku.

"Aku ingin membuat nya di belakang, jadi tidak perlu melihat jarumnya." Jawabku.

"Tapi Baekhyun, ini permanen. Kalau sudah jadi nanti akan susah untuk di hapus. Teknologi penghampusan tatto masih jarang di negara kita ini dan aku dengar-dengar menghapus nya lebih sakit dari pada membuatnya."

Aku menatapnya gemang. "Iya, aku tahu." Sahutku pelan.

"Kenapa kau tiba-tiba ingin membuat tatto?" Kwangsoo menatapku ingin tahu.

Karena pria yang sedang aku sukai setengah mati menganggap wanita bertatto itu sangat menarik. Dan saingan terberat ku sudah memiliki tatto terlebih dahulu. Tapi tentu saja aku tidak bisa berterus terang pada Kwangsoo. "Kenapa tidak? Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru." Kataku berusaha terdengar riang.

"Bagaimana dengan tatto yang tidak permanen? Sekarang tatto itu sedang di gemari oleh kaum hawa. Kalau kau bosan, kau bisa menggantinya. Mudah, tidak beresiko, dan painless."

Aku mendengus. "Aku ingin yang asli." Kataku.

Kwangsoo tertawa. "Kalau ketahuan ayahmu bagaimana?" Di kalangan teman-temanku, terutama kaum pria, ayahku memang terkenal galak.

Itu sih mudah. Aku hanya perlu menyembunyikan tatto itu dari pandangannya. "Dia kan tak perlu tahu."

Tawa kwangsoo semakin keras sehingga beberapa kepala menoleh kearah kami.

Setelah tawanya mereda, aku menatap lengannya. "Sakit tidak?"

"Beberapa orang biasanya nervous ketika ingin di tatto, biarpun dia sudah pernah di tatto. Nah, apalagi untuk orang baru pertama kali sepertimu. Masalah psikologis, kalau sakit itu relatif. Tiap orang kan memiliki toleransi rasa sakit nya. Yang penting rasanya itu seperti ditusuk jarum. Menurutku, rasa sakitnya hanya di menit pertama."

Aku mengangguk. Kedengarannya tidak terlalu menakutkan, bukan? Hanya nyeri seperti ditusuk jarum selama beberapa menit. I can handle that.

"Oke, kapan aku bisa bertemu dengan temanmu itu?"

Kwangsoo melihat jam tangan berwarna hitam di pergelangan tangannya. "Dia sedang di studio. Kalau kau mau, aku bisa menemanimu ke sana sekarang."

Kami meluncur ke studio tatto milik Youngmin, teman Kwangsoo itu, di kawasan namdemun. Studio itu seperti salon pada umumnya, dilengkapi dengan private room (untuk pembuatan tatto di bagian-bagian private sesuai namanya). Youngmin bertubuh kurus tapi berotot. Kedua lengannya dihiasi tatto dengan desain rumit. Dengan ramah ia memberi salam padaku. Kwangsoo sudah menceritakan maksud kedatangaku, jadi Youngmin tidak terlalu terkejut. Selain sebagai pemilik studio tatto, Youngmin ini juga artis tatto yang sudah berpengalaman dan bersertifikat.

"Aku tidak yakin kalau kau 23 tahun" godanya. Aku cuma meringis.

Youngmin kemudian menjelaskan prosedur pembuatan tatto di studionya dan jenis-jenis tinta yang digunakan. Setelah itu Youngmin menyerahkan beberapa album berisi desain yang tersedia dan aku dipersilahkan untuk melihat-lihat.

"Kalau kau memiliki desain sendiri juga boleh. Bawa saja desain mu kesini" kata Youngmin.

Aku tidak menemukan desain yang pas dengan keinginanku. Aku akan mencari di internet nanti. Kemudian aku membuat appointment untuk pengerjaannya dengan youngmin sabtu ini. Aku ingat kyungsoo akan menghadiri acara pernikahan sepupu nya Jongin. Kwangsoo berjanji akan menemaniku. Sempurna.

Sampai di apartemen, aku lega karena Kyungsoo belum pulang. Aku tahu ia pasti akan berusaha menggagalkan rencanaku kalau dia mengetahuinya. Setelah browsing beberapa saat, aku menemukan gambar kupu-kupu dengan sayap yang sangat cantik. Aku mengunduh gambar itu lalu membuat beberapa modifikasi dengan photoshop. Aku akan mencetaknya besok.

Aku baru saja memasak ramen ketika Kyungsoo datang. Ia langsung mendudukan diri di sebelah ku.

"Mau?" Tanya ku menawari mi ramen ku.

"Tidak, sudah makan" sahut nya sambil berjalan menuju kulkas dan menuangkan air minum kedalam gelas. Ia meminum airnya perlahan.

"Pernikahan sepupunya Jongin Hari sabtu kan?"

"Hn." Gumamnya.

"Bagaimana? Baju pernikahannya sora untuk hari sabtu nanti sudah jadi?" Tanyaku. Kim Sora adalah nama sepupu Jongin.

"Tadi sudah fitting. Jumat sudah bisa diambil," jawabnya. "Kau ada acara apa weekend ini? Tidak pulang ke bucheon kan? Ikut aku saja ke pesta hari sabtu besok." Bujuknya.

Aku menggeleng,"mereka tidak mengenalku,"

"Memang siapa yang ingin bertanya?"

"Ya tidak ada, tapi siapa tahu ada yang iseng bertanya." Aku menjaga ekspresiku agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Aku capek, kalau bisa besok aku akan ke salon, creambath lalu ke Spa." Aku pura-pura memijat tengkukku.

Kyungsoo mengerutkan keningnya,"sebenernya aku juga sedikit malas untuk ke sana." Katanya mengejutkan.

Aku langsung tercekat. Aku cepat-cepat meneguk air minum ku. Gawat. Bagaimana kalau tiba-tiba ia ingin ikut ke salon? Aku berdeham kecil sebelum berkata. "Kyungsoo, kau harus kesana. Kan tidak enak dengan keluarga nya Jongin, kalau Jongin datang sendirian nanti mereka berfikir kalau kau tidak menghargai mereka." Ujarku tenang. "Sekarang coba bayangkan, kalau kau nanti menikah dengan Jongin tapi keluarga Jongin tidak ada yang datang,"

Kyungsoo tertawa. "Kau kenapa hm? Aku kan hanya bilang sedikit malas bukan berarti aku tidak ingin pergi."

Oohh. Oke, aku rasa aku hanya terlalu tegang. Kalau begini terus aku bisa keceplosan.

.

.

.

.

.

.

Sabtu pagi aku meninggalkan apartemen dengan hati berdebar-debar. Sepanjang jalan aku berdoa semoga semuanya berjalan lancar. Semoga jarumnya tidak ada yang rusak nanti dan mudah-mudahan cepat selesai. Kwangsoo dan youngmin sudah menunggu. Mereka tersenyum membesarkan hatiku. Aku mengeluarkan gambar kupu-kupu cantik dari tas dan menyerahkan nya pada youngmin. Ia mengamatinya sebentar kemudian mengangguk-angguk. Youngmin masuk ke sebuah ruangan dan aku segera menyelesaikan urusan administrasi.

"Kyungsoo dimana? Kenapa dia tidak ikut?" Tanya Kwangsoo.

"Hari ini dia ada acara, pernikahan sepupunya Jongin." Jawabku gugup.

Youngmin muncul kembali. "Mau mulai sekarang?" Tanyanya.

Aku langsung meremas tanganku yang dingin. Kwangsoo berdiri mengikutiku masuk ke ruangan private. Youngmin memintaku menurunkan jeans-ku sedikit supaya tidak menghalangi proses pengerjaan sementara ia memakai sarung tangan karet. Dengan tangan sedikit gemetar aku melakukannya. Kemudian ia menyuruhku duduk di kursi tatto. Setelah itu, ia mengoleskan alkohol ke pinggul kanan ku. Dingin. Aku menarik napas dalam-dalam.

Youngmin melakukan persiapan dan aku menunggu dengan jantung berdebar.

"Oke, kita mulai" kata Youngmin. Aku hanya mengangguk.

Begitu jarum pertama merajah kulitku, aku langsung berteriak. Youngmin berhenti dan Kwangsoo langsung menatapku cemas.

"Ada apa?" Kata kwangsoo cemas.

"Sorry, aku kaget." Kata ku buru-buru.

"Tenang baekhyun, atur napas," kata Youngmin sabar. Aku memejamkan mata dan menarik napas. "Oke, kita lanjut." Ia kembali menancapkan jarum tadi ke kulitku, ratusan kali per menit.

Sialan! Rasanya sakit sekali. Aku menutup wajahku dengan tangan. Kwangsoo mengusap punggungku. "Jangan tegang, napas seperti biasa saja." Katanya.

"Santai saja, sebentar lagi selesai," kata Youngmin. Tapi rupanya definisi 'sebentar' nya Youngmin di sini tidak sama dengan definisiku.

Aku menarik napas lega ketika akhirnya outline itu selesai juga dan sekarang tinggal memberi blok atau istilahnya 'shading and colouring'

Aku mengangkat kepalaku menatap kwangsoo. "Bagian terburuknya sudah lewat, Byun." Katanya sambil tersenyum.

"Oke, kita mulai lagi." Youngmin memberi aba-aba. Penyiksaan kembali berlanjut. Youngmin mengganti jarum dengan satu set yang disebut Magnum. Sekarang lima jarum sekaligus menancap di kulitku.

Aw...aw...aw! Kenapa aku percaya kata-kata Kwangsoo. Kenapa aku begitu bodoh mengira Sehun akan langsung menjadi miliku begitu aku memiliki tatto! Kenapa Luhan harus memamerkan tatto sialan itu!

"Oke, sudah selesai." Kata Youngmin. Ternyata proses pemblokan lebih cepat dibanding outlining. Akhirnya penderitaan ku berakhir. Youngmin menyeka tatto yang sudah jadi itu dengan handuk hangat. Setelah luka ku dibersihkan dengan obat luka, langkah terakhir adalah menutupinya dengan perban.

Youngmin kemudian menjelaskan panjang lebar mengenai proses perawatan. Proses penyembuhan akan memakan waktu beberapa hari seperti luka pada umumnya. Kalau sudah sembuh, kupu-kupu itu pasti akan indah, begitu kata Youngmin. Aku juga merawat tatto ku dengan aftercare khusus untuk tatto. Harganya lumayan mahal. Kwangsoo berjanji akan menanyakan pada teman nya. Kemudian Youngmin menyerahkan selembar kertas petunjuk perawatan seperti yang tadi dijelaskannya untuk dibawa pulang.

"Harus rajin merawatnya, baekhyun. Agar tak infeksi," pesan Youngmin sebelum kami meninggalkan studio.

"Masih sakit, baekhyun?" Tanya Kwangsoo dalam perjalanan.

"Menurutmu?" Sahutku sambil meringis.

Kwangsoo tersenyum geli. "Jangan lupa di bersihkan. Kau bisa minta tolong Kyungsoo kalau tidak bisa merawat sendiri."

"Hn." Sahutku singkat. Aku lebih suka Kyungsoo tidak terlibat dalam urusan ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sampai di apartemen, aku langsung menuju kamar mandi dan mengganti Jeans dan bajuku dengan hotpans dan kaus polos. Setelah itu, aku membaringkan tubuh dengan hati-hati. Tak lama kemudian aku tertidur.

Ketika aku terbangun, kamarku sudah remang-remang. Aku melirik jam dinding, pukul 6 lewat. Aku bangkit lalu meringis ketika rasa sakit itu datang dan bersumber di pinggul kanan ku. Aku ke kamar mandi, membuka pembungkusnya dan membasuh tattoku dengan air hangat dan sabun anti bakteri kemudian mengeringkannya. Aku kemudian berjalan ke lemari baju dan mencari baju. Dan menemukan sweater biru pemberian dari Chanyeol. Aku pun memakainya.

Aku keluar dari kamar mandi dan kemudian melihat jam dinding menunjukkan pukul 7 malam. Kenapa Kyungsoo belum pulang juga? Apa acara pernikahan selama ini ? Aku lapar.

Karena malas memasak, aku pun memesan pizza dan kemudian duduk menonton tv. Baru beberapa detik aku meletakkan ponsel sesudah memesan pizza, kemudian Suara Bel berbunyi.

Aku berjalan perlahan menuju layar 7 inch di dekat pintu dan disana terdapat Chanyeol yang tengah berdiri di depan pintu. Dari semua waktu yang ada, kenapa dia memilih waktu sekarang ini.

Dengan malas, Aku pun membukakan pintu. Chanyeol masuk dengan senyum andalannya. Senyumnya tambah lebar begitu dia melihat pakaian yang ku kenakan.

"Hey kenapa kau tidak bilang kalau mau kesini?" Tanya ku sambil menutup pintu.

"Ada titipan dari ibuku." Katanya sambil mengangkat sebuah kotak di dalam plastik bening di tangannya.

Dari aromanya, aku tahu itu isinya makanan. Aku sedikit terhibur. Aku pun mengambil plastik dari tangannya dan berjalan menuju dapur kemudian membuka kotak makanan di dalam plastik tadi. Lasagna yang harum membuat perutku berekasi. Kalau tahu akan dapat makanan gratis seperti ini, aku tidak akan pesan pizza tadi.

"Yah, padahal aku tadi barusan pesan pizza." Keluhku.

"Hm? Pizza? Aku bisa menghabisinya." Kata Chanyeol tersenyum.

Oke, aku punya ide. Dia bisa membantuku menghabiskan semua makanan ini. Aku mengeluarkan lasagna dalam kotak makan dan memindahkannya ke piring.

"Kau mau?" Ujarku duduk di meja makan dan mulai menyendok lasagna buatan Nyonya Park.

Chanyeol mendekat dan duduk di sebrang ku. Aku mengambil piring dan sendok untuk Chanyeol dan memberikan padanya, aku pun duduk perlahan di kursi. Aku meringis saat pinggul ku tertarik ketika aku hendak memotongkan lasagna untuk Chanyeol.

"Kenapa?" Tanya Chanyeol. Aku mendongak dan mendapati ia sedang mengamatiku.

"Tidak apa-apa," sahutku cepat. Chanyeol pun menyantap lasagna buatan ibunya.

Lasagna ini enak, begitu aku memakan ini aku langsung lupa dengan rasa sakit di pinggulku. Tidak lama, bel berbunyi Chanyeol langsung berdiri dan membuka pintu. Ternyata pizza pesanan ku datang. Aku hendak mengambil dompet, tapi Chanyeol terlebih dahulu membayar Pizza tersebut.

"Kenapa kau yang bayar?" Protesku.

"Karena aku yang makan." Jawabnya santai sambil meletakkan pizza di atas meja. Dia kembali duduk dan memakan lasagna dengan cepat. Kemudian ia mengambil sepotong pizza dan mulai memakannya.

"Kau belum makan malam ya?" Sindir ku.

Dia hanya tertawa. Bagaimana bisa orang seperti Chanyeol memiliki napsu makan yang besar seperti orang tak pernah makan.

"Kau tak ada acara?" Tanyaku. Aku sudah menghabiskan satu potong lasagna dan sekarang sedang menikmati potongan kedua.

"Acara apa?" Ia balik bertanya.

"Ini hari libur. Kau tidak clubbing dengan.. Hm... Wendy?"

Matanya berkilat jenaka. "Tidak. Besok aku ingin bersepeda di daerah namsan dengan teman-teman lama." Jawabnya. "Mau ikut?"

"No, thanks." Aku menggeleng cepat. "Memangnya kau tidak punya kekasih untuk kau ajak berkencan di hari libur?"

Ia menatapku sesaat. "Kau sendiri, tidak ada yang mengajak kencan di hari libur?"

"Kan aku yang bertanya." Ujar ku.

Ia terdiam sejenak. "Tidak," jawabnya sambil menggigit pizza. Ini menarik. Seharusnya dengan tampang seperti Chanyeol ia bisa menggandeng dua wanita sekaligus dan mengencani mereka. Bukanya mengantar lasagna ke sini. Kalau di pikir-pikir kenapa dia mau disuruh ibunya mengantar lasagna di hari libur?

"Memangnya di kantormu tidak ada yang cantik atau... Sexy?" Tanya ku penasaran.

"Banyak." Sahutnya singkat.

Mataku membesar. "Lalu, ada yang suka padamu?"

"Banyak," ia tersenyum lebar.

Aku mencibir. "Tapi tak ada yang sesuai dengan selera mu?"

Ia tergelak. "Kurang lebih begitu."

Aku mendengus keras. "Memang selera mu yang seperti apa?" Tanya ku. "Siapa tahu di kantorku ada yang cocok dengan mu"

Ia berhenti mengunyah dan menatapku ragu. Ia menggeleng dan berkata, "sekarang giliran ku yang bertanya. Apa benar kau belum memiliki kekasih?"

Aku diam saja.

"Kenapa diam? Kau curang, aku tadi menjawab semua pertanyaan mu." Katanya.

Aku mendesah, "belum," sahutku enggan. Tapi lihat saja nanti, Sehun pasti akan bertekuk lutut di depan ku setelah melihat tatto kupu-kupu ku.

"Di kantor tidak ada yang tampan?"

Aku memutar mataku. "Banyak." Sahut ku sedikit kesal.

"Ada yang kau sukai?"

Sial. Aku memotong lasagna dan mengunyahnya perlahan-lahan. Mengulur waktu.

"Tidak ada yang kau sukai?" Ulang nya.

Dia mulai memaksa. Ia menatapku sambil memiringkan kepala.

Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu, kan?

Perhatian ku terpecah begitu suara ponsel ku yang berada di kamar berdering. Terima kasih tuhan!

"Aku angkat telpon dulu." Aku berdiri dan berjalan pelan menuju kamar.

Begitu sampai kamar aku mencari ponsel ku dan melihat layar yang tertera di ponsel. Kwangsoo menelpon.

"Yeoboseyo" sapaku.

"Baekhyun, aku tadi hendak masuk ke gedung apartemen mu. Aku ingin memberikan lotion aftercare pesanan mu tadi kepadamu, tapi aku melihat Kyungsoo jadi aku titipkan padanya."

Seketika aku seperti di timpa dengan bebatuan dengan berat satu ton.

"La-lalu bagaimana katanya?" Tanya ku terbata-bata.

"Dia tampak pucat, mungkin lelah. Tapi dia akan memberikannya pada mu. Apa dia belum sampai di apartemen mu?"

Aku berjalan menuju pintu kamar dan mengintip kyungsoo yang tengah melepas sepatu high heelsnya.

"Dia sudah sampai. Terimakasih, kwangsoo. Besok aku antar uang nya ke rumah mu." Ujar ku sambil menutup pintu kamar pelan, takut kyungsoo membunuh ku sekarang.

"Tidak usah, itu kuberikan padamu gratis."

"O-oh, iya. Trimakasih kwangsoo" kataku.

"Oke, aku tutup telpon nya sekarang ya? Ada keperluan yang harus aku selesaikan sekarang." Katanya tampak tergesah-gesah.

"Oke, terima kasih sekali lagi, Kwangsoo." Dan terima kasih sudah memberi tahu kyungsoo tentang hal ini.

"Hn. Bye.."

Dan telpon di terputus. Aku melempar ponselku ke atas kasur. Bagaimana ini? Apa kyungsoo marah besar?

Aku pun berjalan hendak keluar kamar, begitu membuka pintu aku di kejutkan oleh kyungsoo yang tengah berdiri di depan pintu kamar ku.

"Astaga. K-kau mengagetkan ku, kyungsoo" ujar ku mengelus dada. Kyungsoo menatapku datar.

"Ada titipan dari Kwangsoo." Katanya, suaranya sedingin es.

Sialan!

Aku menarik tangan kyungsoo masuk kedalam kamar. "Dimana Kwangsoo?" Tanya ku berpura-pura tak tahu.

"Dia buru-buru ingin latihan, tidak bisa mampir."

Aku melirik kearah tangan kyungsoo yang tengah memegang bungkusan putih berisi sebuah botol ukuran sedang. Kyungsoo mengikuti arah pandang ku. Dia mengulurkan tangannya kearahku. "Kata Kwangsoo cara menggunakannya... Bersihkan dulu tatto mu baru oleskan dengan lotion ini." Suara Kyungsoo terdengar mengejek.

Aku menatap Kyungsoo, sorot matanya sedingin suaranya.

Aku mengambil bungkusan itu dan mengeluarkan lotion nya dan melihat nya.

"Pantas saja kau tak ingin ku ajak hari ini." Semburnya. "Ternyata kau punya acara sendiri." Sindir nya.

Aku tersenyum menghibur. "Bagaimana acara wedding sepupunya Jongin?"

"Yak! Byun Baekhyun!" Teriak Kyungsoo membuat telinga ku sedikit berdenging.

"Hey! Jangan berteriak di depan ku." Kataku sedikit emosi.

Terdengar suara langkah kaki menuju kamar ku.

"Bagaimana bisa kau seperti ini, Baekhyun? Bagaimana kalau ayah mu tau? Bagaimana bisa kau seceroboh ini?!" Kyungsoo meninggikan suaranya kembali.

Begitu Kyungsoo menyebut ayahku, aku langsung tersulut emosi. "Aku tak perlu izin siapapun untuk membuat tatto, Do Kyungsoo!" Seruku. Aku tahu, menurut undang-undang negara usiaku sekarang ini bukan tanggungan orang tua lagi.

"Baekhyun, Kyungsoo. Ada apa ini?" Tanya Chanyeol yang sudah di ambang pintu.

"Tanya saja dengan orang ini," Kyungsoo mengedikkan kepala kearahku. Chanyeol sekarang menatapku. Sialan. Semakin banyak saksi mata, semakin besar kemungkinan berita ini sampai ke telinga ayah. Diam lebih baik.

"Baekhyun?" Desak Chanyeol. Aku tidak akan buka mulut.

"Dia baru membuat tatto tadi siang." Kata Kyungsoo akhirnya. Aku melotot kearah kyungsoo. Seharusnya ia berpihak kepadaku.

"Jadi karena itu kau kesakitan tadi?" Komentar Chanyeol. Aku tetap membisu.

"Aku tak habis pikir kenapa kau seperti ini. Kau kan pintar. Memang nya kau pikir dengan kau memiliki tatto lalu Sehun akan lari kepelukan mu?" Kata Kyungsoo kesal.

Kulihat raut wajah Chanyeol mengeras. "Jadi kau melakukan ini semua untuk menarik perhatian seorang pria?" Tanya nya.

Aku hanya bisa memandangi mereka berdua bergantian, merasa terpojok.

"Kau menyakiti diri sendiri hanya untuk mengesankan seorang pria?" Tanya nya lagi. Suaranya terdengar melecehkan.

Emosiku mulai naik. "Bukan urusan mu, dan sekarang kau boleh pulang, Chanyeol."

Ia mendengus keras. "Jadi, pria itu baru bisa menyukai mu kalau kau memiliki tatto, begitu?" Ejeknya. "Dia tak bisa menyukaimu apa ada nya?" Tambahnya sinis.

"Kau tidak perlu ikut campur, Park Chanyeol." Aku memperingatkan.

"Tapi baekhyun, kalau perjuangan mu membuat tatto ini tidak berhasil bagaimana? Kau ingin masuk hutan sendirian atau ingin mendaki puncak Gunung Himalaya supaya dia terkesan?" Tanya Kyungsoo. Kekesalan telah hilang dari wajahnya digantikan kecemasan.

Aku tidak pernah berfikir sampai disitu. Aku sangat yakin dengan kekuatan tatto ku. Tatto ku lebih besar dan lebih cantik dari punya Luhan. Tapi sekarang pertanyaan Kyungsoo membuatku kecut. "Kenapa tidak," sahutku hampir tak terdengar.

"Baekhyun, Jangan konyol!" Seru Chanyeol marah. "Demi mendapatkan laki-laki itu kau rela melakukan apa saja yang tak masuk akal. Kau bahkan tak peduli dengan dirimu sendiri untuk hal-hal tak penting seperti itu." Tambah Chanyeol geram.

"Tapi cinta harus diperjuangkan!"

"Oh ya?" Dengusnya. "Itu bukan cinta. Kalau iya, laki-laki itu pasti menerima mu dengan semua kelebihan dan kekurangan yang kau miliki," seru Chanyeol.

Aku menunduk kemudian Chanyeol berkata, "You're Obsessed, Byun Baekhyun!"

Aku mendongak dan melotot kearahnya. "Tidak ada yang meminta pendapatmu, Chanyeol." Timpalku ketus.

Chanyeol mendekat kearahku dan memegang tanganku. "Dengar, kalau sampai terjadi apa-apa kepadamu hanya karena laki-laki itu. Aku akan cari dia dan menyeretnya ke sini. I swear!" Ujarnya gusar.

Aku menepis tangannya. Napasku menderu, menahan amarah yang meledak-ledak di dadaku. Apa yang dia bilang barusan? "Memangnya kau siapa?!" Teriak ku.

"Kalau kau memang sangat menginginkan laki-laki itu, aku akan membawanya kesini dan memaksanya untuk menerima mu."

"Cih!" Desis ku meremehkannya.

"Jangan kau pikir aku tak bisa melakukannya." Suaranya seperti nada ancaman.

"Dasar gila!" Teriak ku mundur beberapa langkah.

"Kau sendiri bagaimana? Kau yang tak punya akal sehat, Baekhyun." Ia mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari.

"Keluar!" Teriak ku mundur tanpa menoleh kebelakang. Tanpa sadar kaki ku tersandung kotak tissue di bawah lantai dan aku jatuh terduduk dengan cepat di lantai.

"Aw!" Aku menjerit tertahan.

Kyungsoo berjongkok di depan ku, "kau tak apa?"

Aku mengangguk dan mulai menitikkan air mata. Rasa nya pinggangku perih dan panas. Sialan!

"Baekhyun? Kau tak apa?" Ujar Chanyeol cemas dan ikut berjongkok di depan ku. Ada apa dengan Pria ini? Aku menyuruhnya keluar, kenapa tak kunjung keluar?

"Kyungsoo, tolong usir orang ini, aku tak mau melihat nya"

Chanyeol tampak kaget ketika aku mengatakan nya. Dia tak bergerak, masih berjongkok di depan ku.

"Kubilang keluar, Park Chanyeol!" Teriakku tak tertahankan. Aku mengambil kotak tissue itu dan melemparnya kearahnya. "Keluar!" Teriakku lagi.

Dengan mudah ia menepis kotak itu dan tetap tidak beranjak dari tempatnya. Kami saling berpandangan dengan marah seperti dua ekor banteng yang hendak menyerang satu sama lain.

Kyungsoo berdiri dan menarik tangan Chanyeol keluar dari kamar ku. Dengan wajah masih sarat oleh kemarahan, Chanyeol berjalan keluar kamar. Kyungsoo masuk kembali kedalam kamar, merapatkan pintu, tetapi tidak menutupnya. Kemudian ia menghampiriku.

"Coba aku lihat," katanya sambil membantuku berdiri dan mendudukkan ku di kasur.

Aku berdiri dan membiarkan Kyungsoo mengecek Tatto ku.

"Mana obat nya?" Tanya Kyungsoo. Aku menunjuk botol kecil di meja. Ia mengambil obat dan mengoles lukaku menggunakan Catton Bud. Kami terdiam beberapa saat.

"Kalau aku bertemu Kwangsoo lagi, lihat saja. Aku akan pukul dengan palu orang itu." Kata Kyungsoo geram.

"Kyungsoo, kau jangan marah dengan Kwangsoo. Dia tidak salah. Kalau dia tidak ingin membantuku, aku pasti akan melakukan nya juga."

"Baekhyun, aku tidak menyangka kalau kau telan mentah-mentah perkataan Sehun. So what kalau dia suka wanita yang bertatto? Memangnya kalau besok dia bilang dia suka penari strip tease, kau akan langsung loncat ke atas meja dan berliuk-liuk menari tanpa pakaian?"

Aku mendengus. Kenapa Kyungsoo menggunakan analogi yang norak seperti itu ?

"Kau kan juga memiliki Bargaining Power. kau cantik, pintar, Fun, dan menarik. Jadi kenapa kau yang harus menyesuaikan diri dengan keinginannya? Kau kan juga memiliki keinginan sendiri. Sebuah hubungan baru bisa dibilang sehat jika tidak ada yang pihak yang merasa tertindas."Lanjutnya. "Kalau tahu seperti ini, aku tidak akan mewawancarai Sehun waktu itu. Jangan-jangan kau memang terobsesi dengannya."

"Kyungsoo, kenapa kau jadi ikut menuduh ku seperti itu? Dan satu hal lagi, ini bukan salah mu. Ini pilihan ku. Kalau terjadi sesuatu, aku siap menanggung semua konsekuensinya."

"Aku cuma berharap usaha mu ini tidak sia-sia." Katanya kemudian. Aku hanya diam. Kyungsoo berdiri lalu melangkah ke hadapanku.

"Baekhyun, menurutku Chanyeol ada benarnya juga. Kalau Sehun memang suka dengan mu, dia harus bisa menerima kau apa adanya. Kau tak perlu jadi orang lain."

"Kyungsoo, Bukan hanya aku yang ingin mendapatkannya. I have to try," ujar ku agak putus asa. Kenapa semua orang tidak dapat memahami ku?

Kyungsoo mendesah, "terkadang kau memang keras kepala, Byun. Dan sedikit gila," gerutunya. "Ya sudah, kau lapar? Akan ku masakkan makanan kalau kau mau."

"Tidak, tadi aku sudah makan. Kau tidak perlu masak, di meja ada lasagna. Aku ingin istirahat saja."

Aku perlahan berbaring dan di bantu oleh Kyungsoo. Pinggul kanan ku masih sakit akibat jatuh tadi. Kyungsoo pun keluar dan menutup pintu kamarku.

"Bagaimana keadaannya?" Terdengar samar-samar suara Chanyeol di Luar sana.

Apa? Kenapa ia masih ada disana?

"Tidak apa-apa, sudah di obati tadi." Jawab Kyungsoo.

"Aku ingin bicara dengannya," kata Chanyeol.

Berani-beraninya dia. "Aku tidak mau! Suruh Orang itu pulang!" Teriakku.

Tak ada suara di luar sana. Kemudian, "oke, kalau ada apa-apa telpon aku" kata Chanyeol.

Kemudian terdengar langkah kaki yang mulai menjauh. Kemudian pintu terbuka tampak Kyungsoo menyembulkan kepala. "Dia sudah pulang" katanya.

"Aku tak peduli." Sinis ku.

Kyungsoo terkekeh. "Kalau kau perlu sesuatu teriak saja, aku pasti akan datang."

Aku tersenyum. "Thanks, Kyung." Kataku.

Kemudian Pintu tertutup. Aku mencoba memejamkan mata. Kemudian aku terpikir perkataan Chanyeol tadi. Aku? Obsessed? Yang benar saja. Aku tidak setuju. Aku hanya berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku menginginkan Sehun. Memang apa salahnya kalau aku mencoba beberapa cara? Apa yang aku lakukan ini kan masih dalam batas wajar. Maksudku, aku kan tidak mengikutinya kemana-mana atau mengeriminya hadiah-hadiah misterius tanpa nama atau meneror nya dengan telpon-telpon yang langsung di tutup begitu ia menyahut. Aku hanya sedang berjuang meraih cintaku. Chanyeol tahu apa? Dan walaupun orang tua kami bersahabat, itu bukan berarti ia boleh ikut campur dalam urusanku! Dasar kurang ajar!

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah seminggu, tattoku mulai memperlihatkan kecantikannya karena warna aslinya mulai tampak. Bahkan Kyungsoo juga mengakuinya.

Tapi sekarang aku punya masalah baru. Bagaimana cara memperlihatkan tatto ini kepada Sehun. Dulu aku memilih lokasi tattoku dengan pertimbangan psikologis (supaya tak melihat jarum itu menancap di tubuhku) dan protektif (supaya dapat di sembunyikan dari pihak-pihak yang tak boleh melihatnya). Dan aku melupakan tujuan awal membuat tatto ini, yaitu memamerkannya pada Sehun.

Tidak mungkin aku menyingkap blusku di hadapannya atau melorotkan celanaku, bukan? Pernah beberapa kali aku berniat pura-pura menjatuhkan pulpen saat Sehun lewat di depanku supaya aku bisa membungkuk dan membuat kupu-kupu cantik ini mengintip di balik blusku, rupanya trik ini tidak terjalankan karena Sehun selalu tiba-tiba belok atau batal lewat di depanku.

Aku hanya berharap kesempatan itu akan datang.

Dan kesempatan itu akhirnya datang ! Hari ini Sehun mengajak Departement kami Hang-out ke club tempat Sehun melakukan pemotretan H!people dulu.

Aku mempersiapkan penampilanku dengan seksama-Tank top putih, plus hipster dan menutupnya dengan blazer. Rencananya, sampai di club nanti aku akan melepas Blazer ku sehingga kupu-kupuku bisa memamerkan keindahannya. Aku tersenyum puas saat melangkah meninggalkan apartemen.

Sekitar pukul tujuh malam kami sudah berada di club. Tempat ini memang dibuat sesuai dengan pengunjungnya, benar-benar berkelas. Setelah memesan segelas Lemonade Lush, aku segera ke toilet untuk menjalankan rencanaku.

Aku sedang mematut-matut penampilanku di cermin ketika Luhan masuk. Mata kami bertemu di depan cermin. Wajahnya tak menunjukkan kemarahan sama sekali. Aku melemparkan senyuman padanya, Bukan berarti aku ingin beramah tamah padanya tapi hanya sekedar basa-basi teman sekantor.

Aku melirik tatto di dadanya. Kalau biasanya burung itu hanya mengintip malu-malu dari balik blusnya, kali ini burung itu tampil seutuhnya.

Luhan hendak pergi seketika terhenti, pandangannya bertuju ke pinggulku.

"Kenapa kau ikut membikin tatto?" Katanya gusar.

"Memang kenapa? Setahu ku, tidak ada larangan untuk membikin tatto."

"Kau pikir kau bisa mengalahkan ku?" Cibirnya.

"Sorry, tapi aku belum mendengar ada pengumuman pemenangnya." Aku tertawa. "Jadi semua orang masih memiliki kesempatan." Kataku lagi.

Luhan balas tertawa mengejek. "Asal kau tahu saja, Kau tidak se-level bersaing dengan ku, Byun Baekhyun." Luhan tersenyum licik ke arahku dan kemudian melesat keluar.

Aku mendengus sebal. Memang dia pikir dia siapa?

Aku mengecek penampilanku sekali lagi dan memastikan tatto cantikku masih melekat pada tempat semula. Lalu dengan senyum lebar, aku meninggalkan toilet. Club sudah ramai. Musik DJ mengalun di seluruh sudut Club.

Ketika aku hendak berjalan menuju meja rombongan kami, entah dari mana tiba-tiba seseorang menabrakku dan perutku terasa dingin dan basah. Aku menunduk dan mendapatkan kaus putihku terdapat noda merah besar. Aku meraba noda tersebut, ternyata lengket. Aku mengangkat wajah, dan mendapati Luhan yang sedang berdiri di depanku.

"Oops," katanya dengan mimik wajah menyesal yang dibuat-buat. Gelas bertangkai di tangannya kosong. Seluruh isinya sudah pindah ke kausku. Aku menatapnya sengit tetapi Luhan tertawa seperti setan. Luhan pergi meninggalkanku sendirian.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wajah kyungsoo merah, menahan emosi. "Kenapa tidak kau tampar saja?" Katanya geram. Aku baru selesai menceritakan kejadian yang kualami di Club kemarin malam. Kaus putih ku tidak bisa diselamatkan, aku terpaksa memakai kembali blazerku. Dan kupu-kupu ku kehilangan debutnya.

"Memang kau pikir aku tak ingin mencakarnya juga? Kalau aku tidak ingat itu di Club dan sedang bersama teman-teman kantor yang lainnya, sudah aku tampar dia tanpa disuruhpun"

"Tapi orang seperti itu harus diberi pelajaran."

"Otaknya sudah penuh, tidak bisa lagi diberi pelajaran."

Kami terdiam beberapa saat.

"Jadi bagaimana hasil pendekatan mu dengan Sehun? Kau sudah mengajaknya kencan?"

Aku menghela napas, "aku saja tak sempat mengobrol dengannya. Luhan menempel terus padanya."

"Mungkin Sehun memang bukan jodoh mu."

Aku menatapnya tajam. Kemudian ia melanjutkan, "coba kau pikir. Setiap usaha mu selalu mendapat halangan. Seperti alam semesta memang tak merestui adanya antara kau dan Sehun. It's trying to tell you something."

"Bullshit. Kita buktikan saja. Aku akan mengajaknya berkencan dan kita lihat apa bumi masih mengelilingi matahari."

"Oke." Kyungsoo mengangkat tangan. "Dan kau hanya punya waktu satu minggu lagi. Masih ingat taruhan kita kan?"

Aku mengangguk.

"Oh iya, biar kau tak kaget nanti, aku kasih tahu saja dari sekarang... Kalau aku menang, kau harus traktir aku di KFC."

Aku mengerutkan dahi, "hanya itu saja? Aku pikir kau akan meminta ku mentraktir mu di restoran mewah daerah Apgujeong."

Kyungsoo tertawa dan tersenyum licik, "jangan santai dulu kau, Byun Baekhyun. Aku akan mengajak Jongin juga"

"Shit!"

Kyungsoo tergelak.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua hari berlalu, aku belum mendapatkan ide apapun. Kalau gagal, aku harus siap menguras tabungan ku untuk mentraktir Kyungsoo + Jongin.

Masalahnya bukan karena KFC atau Kyungsoo nya, masalahnya adalah Jongin. Kekasih Kyungsoo itu adalah Maniak ayam tergila yang pernah aku jumpai. Dia bisa menghabiskan 3 paha ayam dalam waktu 2 menit. Dan nafsu makan Jongin terhadap ayam sangat lah tinggi. Mengajak Kyungsoo + Jongin ke KFC sama saja mengajak Kyungsoo makan di restoran mahal di daerah Gangnam atau Apgujeong.

Dan masalah lainnya adalah, bagaimana caranya mengajak Sehun untuk berkencan?

Sehun seperti Tas Hermes yang dipajang di etalase-eksklusif, berkelas, dan susah di jangkau. Aku hanya bisa memandangi nya sambil menahan diri.

Disaat aku hampir menyerah, nasib memutuskan untuk ikut campur tangan. Tanpa disangka-sangka aku mendapat undangan untuk menghadiri acara 'penanaman 10.000 pohon' dari komunitas yang peduli keselamatan bumi. Sehun juga di undang ternyata.

Dengan kenekatan yang kumiliki, aku membawa undangan itu keruangan Sehun.

Begitu sampai di ruangannya- setelah mendapatkan izin dari sekertaris nya- aku langsung meletakkan Undangan itu di meja nya. Sehun mendongak kearahku.

"Apa ini , Byun?" Tanya nya mengambil undang itu dan membacanya.

"Itu undangan untuk Anda dari tuan Lee BongSun, ketua organisasi peduli keselamatan bumi, Pak. Acaranya hari Sabtu." jawab ku.

"Ohh," gumam nya. "Apa kau dapat juga?" Tanyanya lagi.

"Iya Pak," jawabku singkat. Dan tiba-tiba aku berkata, " Apa Anda ingin pergi bersama saya, Pak?"

Apaan ini, Byun Baekhyun! Kau gila?! Bagaimana kalau dia menolaknya? Bisa-bisa kau kehilangan muka di depannya.

Ia tersenyum. "Oke, aku akan menjemput mu." Katanya.

Yes! Akhirnya kami berkencan! Walaupun sebenarnya hanya mengahadiri undangan, tapi ini termasuk kencan juga kan?

"Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya, Pak. Permisi." Aku keluar dari ruangannya. Dan begitu di luar aku langsung menelpon Kyungsoo sambil menari-nari bahagia.

"Aku akan kencan dengan Sehun sabtu ini." Kataku sombong. "And You can Forget About KFC" aku menambahkan.

"Damn!" Maki Kyungsoo. Aku pun memutus sambungan telpon dengan nya sebelum ia mengoceh lebih jauh.

Tiba-tiba aku ingat, Luhan mungkin mendapatkan undangan yang sama. Kali ini ia tak boleh mengacaukan rencanaku. Aku menunggu sampai keadaan aman, lalu menghampiri mejanya. Begitu menemukan undangan itu, secepat kilat aku menyelipkannya diantara tumpukan kertas di atas meja nya, di bagian paling bawah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku terbangun di hari sabtu ini pagi sekali karena tidurku tak nyenyak. Aku segera mempersiapkan diri. Dengan susah payah aku juga behasil memasukkan setangkup roti kedalam perutku. Aku tidak ingin gara-gara aku kelaparan dan pingsan acara ku dan Sehun jadi berantakan.

Jam tujuh tepat, Aku langsung melesat keluar ketika Sehun menelponku dan mengatakan kalau dia sudah di depan Lobi gedung Apartemen. Begitu aku sudah sampai di Lobi, ia tersenyum melihatku dan jantungku langsung berdebar kencang. Ia mengenakan jeans dan kaus. Ah, dia terlihat seksi sekali. Terimakasih tuhan, akhirnya aku bisa melihat bokong itu dalam balutan Jeans.

Kami langsung meluncur ke Lokasi penanaman pohon. Di dalam perjalanan, aku mengajak Sehun untuk mengobrol. Sesekali kami tertawa. Dan aku senang mendengar nya tertawa.

Acara dimulai tepat jam setengah delapan. Setelah sambutan singkat dan penjelasan prosedur pelaksanaan, kelompok kami mengambil bibit pohon dan berangkat ke lokasi yang telah di tentukan. Cuaca lumayan panas, tapi aku sudah mempersiapkan diri dengan baik-topi dan beberapa botol air mineral. Aku menanam pohon dengan bersemangat, begitupun dengan Sehun.

Ketika Sehun membungkuk dan aku mendapat pemandangan bokongnya yang menggemaskan itu-tubuhku langsung panas dingin.

Sekitar pukul sebelas kami berkumpul kembali di lokasi awal. Semua bibit pohon sudah di tanam. Kami beristirahat sambil minum dan menyantap snack yang disediakan. Tuan Bongsun menghampiri kami dan berbincang-bincang. Tidak lama, Sehun mengajak untuk pulang. Aku kecewa. Itu berarti kencan kami akan berakhir? Tapi aku belum ingin berpisah dengan nya. Aku harus segera mencari akal. Begitu di dalam mobil aku berpura-pura diam dan memasang muka letih.

"Lelah?" Tanyanya.

"Tidak, hanya sedikit lapar saja." Jawabku tanpa menatap matanya.

"Oke, kalau begitu kita makan dulu."

Dan aku pun bersorak gembira dalam hati.

.

.

.

.

.

.

.

.

Begitu selesai makan, Aku dan Sehun langsung tancap gas menuju arah Apartemen ku.

"Bapak memiliki berapa saudara?" Tanyaku.

"Tiga dan Aku satu-satunya laki-laki," jawabnya. Aku mengangguk-ngangguk. "Baekhyun, rasanya kita sudah cukup lama saling kenal, jadi kau tidak usah memanggil ku dengan se formal itu." Tambahnya.

"Oh iya." Aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku yang panas. "Apa saudara-saudara Bapak, eh maaf, sudah bekerja semua?"

"Ada satu yang masih kuliah." Ia terdiam sejenak. "Ayah ku meninggal waktu aku masih High school. Sebagai anak tertua, aku harus membantu mengambil alih tanggung jawabnya," ia berkata perlahan, rahangya terlihat mengeras.

Kyungsoo salah besar. Sehun memang serius, tapi bukan berarti ia seorang yang monoton. Dan sekarang aku tahu alasannya.

"Kau sangat beruntung," katanya sambil menoleh kearahku. "Bisa melalui masa remaja tanpa perlu memikirkan hal-hal lain selain sekolah dan bersenang-senang." Katanya dengan wajah serius.

Aku menelan ludah. "Oh, hm...,"sahutku gugup. Aku harus bilang apa? Aku tidak siap dengan perkembangan topik ini.

Kemudian Sehun mulai berbicara mengenai para orang tua yang selalu memanjakan anak-anak mereka dan menuruti semua keinginan anaknya. Orang tua yang sibuk bekerja dan tidak punya waktu untuk anak mereka. Meski tidak mau mengakuinya, aku sedikit kecewa. Bukan seperti ini kencan yang aku inginkan.

"Dan akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi yang lemah, semangat juangnya rendah karena hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya."

Aku tak berkutik, merasa terpojok dengan topik ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku duduk di kasur sambil memeluk lutut, menumpahkan keluh kesah dan curhatku sementara Kyungsoo mendengarkan. "I'm not good enough for him." Kataku menutup ceritaku.

Kyungsoo masih diam.

"Tapi aku bakal membuktikan padanya kalau aku bukan anak manja yang hanya bisa menghabiskan uang orangtua. Aku akan membuktikan kalau aku bikan orang yang lemah dan lembek," kataku sungguh-sungguh. "Kalau aku bergabung dengan Peace Corp atau Red Cross International, aku bisa dikirim ke somalia untuk mengurusi anak-anak terlantar di sana. Atau ke jalur Gaza-"

"Dan Kau memunguti potongan kaki atau tangan di mana-mana? memangnya kau berani?" Potong Kyungsoo.

Aku terdiam.

"Sudahlah Byun Baekhyun, ambil saja pelajarannya. Setidaknya kau tidak langsung jatuh miskin karena harus mentraktir Jongin ke KFC, kan?"

Benar juga. Aku tersenyum kecil.

"Nah dari pada kau hanya terus memikirkan Sehun, Bagaimana nanti malam kau ikut kami."

Kata kami pada kalimat Kyungsoo pastilah dia dan Jongin.

"Aku harus melihat orang pacaran? Tidak mau."

"Aku berjanji tidak akan ada kejadian seperti waktu itu."

Aku mendengus sebal mengingat kejadian dimana aku menemani Kyungsoo dan Jongin jalan dan mereka tanpa Malu berciuman di depan mataku.

"Kami akan berain Bowling," katanya. "Ayolah, Baekhyun. It's gonna be fun. Daripada kau terus memikirkan bos mu itu. Nanti kalau kau tiba-tiba bunuh diri bagaimana?"

"Apa kau gila? Aku tidak sebodoh itu." Sahutku sengit.

Kyungsoo tertawa. "Jadi tidak masalah kan kalau kau ikut nanti malam?" Sebelum aku sempat menjawab, ia menambahkan. "Pukul tujuh kita berangkat." Ia bangkit dan berjalan menuju pintu. Diambang pintu ia berbalik, "siapa tahu kau bertemu Jodoh mu disana."

Sialan!

"Kyungsoo!" Teriakku. Tapi ia sudah menghilang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tempat Bowling itu berada di sebuah mal besar di kawasan Gangnam. Teman-teman Jongin sedang asyik main ketika kami datang. Aku pun di kenalkan oleh Jongin kepada teman-temannya, kemudian aku ikut bermain.

Aku belum pernah memegang bola bowling dalam hidupku, jadi Jongin harus mengajariku dulu. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya aku bisa menggelindingkan bola di jalan yang benar dan merasa bangga pada diriku ketika tiga buah pin ikut terjatuh.

"Ayo kyungsoo, kita tanding."

"Baru bisa melempar bola lurus saja sudah sombong. Pakai taruhan tidak?"

"Taruhan lagi? Kau gila?" Dengusku. "Lama-lama kau bisa kecanduan, kau tahu?"

"Sudah, jangan banyak bicara. Tunjukkan saja kemampuan baru mu itu. Pokoknya yang kalah traktir," Kyungsoo mengambil bola dan mulai mengambil ancang-ancang.

Aku sedang meneguk air mineralku ketika Chanyeol memasuki arena bersama seorang gadis berambut panjang. Jadi ini rupanya rencana busuk Kyungsoo. "Hey, kau tak memberitahuku kalau dia juga datang?" Seruku marah pada Kyungsoo.

Kyungsoo tertawa. "Kalau aku memberitahumu, kau pasti tak mau ikut."

"Sialan! Aku mau pulang." Aku membalikkan badan hendak mengambil tas ku tiba-tiba Kyungsoo menarik tangan ku.

"Baekhyun, jangan seperti itu. Sorry kalau aku tak memberitahu mu terlebih dahulu, tapi maksud ku kan baik. Aku ingin kau have fun dari pada kau memikirkan-"

"Tapi bukan berarti kau boleh seenaknya." Potongku.

"Apa masalahnya, Byun? Kau masih marah padanya?"

"Hey," aku menjentikkan jariku di depan wajah nya. "Kau lupa kejadian waktu itu?" Seruku panas.

Kyungsoo tidak menyahut. Sementara Chanyeol sudah selesai berkenalan dengan teman-teman Jongin dan bersiap menghampiri kami. Gadis itu bergelayut manja di lengannya. Aku mendengus keras. "Dan sekarang aku harus melihat mereka pacaran juga?" Desis ku.

"Byun, sumpah. Aku juga tidak tahu kalau dia akan datang bersama wanita." Kata kyungsoo sungguh-sungguh. "Lagi pula, belum tentu mereka berpacaran."

"Kau mau bukti apa lagi? Apa kau akan bergelayut manja seperti itu kepada temanmu?"

"Hm.. Kalau aku tidak. Tapi kan memang ada tipe wanita seperti itu." Jawabnya. Kyungsoo menyipitkan matanya. "Kau cemburu?"

"Apa? Jangan gila kau, kyungsoo." Semburku.

"Ya sudah, kalau begitu kau jangan marah-marah seperti itu." Katanya enteng.

Terkadang Kyungsoo bisa sangat menyebalkan.

Saat itulah mereka sampai di hadapan kami. "Hi Kyungsoo," kata Chanyeol. Ia melempar senyum kearahku. "Baekhyun."

Aku melihat Kyungsoo memberi salam. Aku hanya diam.

"Ini Gayoung," Chanyeol memperkenalkan gadis berambut panjang itu. Demi alasan kesopanan, aku mengikuti Kyungsoo membungkuk memberi salam. Gadis itu ikut membungkuk.

"Sudah lama?" Tanya Chanyeol.

"Lumayan, sudah berkeringat dan menang taruhan." Jawab Kyungsoo. Chanyeol melirik kearahku dan tertawa. Aku hanya diam.

"Ayo main lagi," ajaknya.

Apa-apaan dia? "Sorry, aku permisi ke toilet." Aku beranjak dari tempatku.

Kyungsoo menarik tas ku. "Baekhyun, jangan seperti anak kecil." Desisinya.

"Justru aku bertindak seperti layaknya orang dewasa, makanya aku perlu melakukan nya di toilet." Jawabku.

"Ingat, kau harus kembali kesini." Ancam Kyungsoo.

Aku memutar mataku jengah. Ia menarik tasku lagi. "Byun?" Desaknya.

"Iya, iya, Do Kyungsoo." Gerutuku.

Aku pun berjalan menuju toilet. Aku hanya membasuh muka dan mencuci tangan beberapa menit, tetapi Kyungsoo terus-terusan menelponku. Aku pun terpaksa kembali. Saat aku kembali, aku melihat Chanyeol sedang mengajari Gayoung melempar bola. Entah kenapa aku tak suka melihatnya. Aku pun duduk di sebalah Kyungsoo yang tengah memainkan ponselnya. Diam-diam aku melirik kearah Chanyeol dan Gayoung. Lama-lama aku kesal sendiri melihat mereka. Gayoung adalah wanita yang berlebihan menurutku. Apa perlu dia loncat-loncat kegirangan seperti itu?

"Kita mau sampai jam berapa?"

"Jongin dan Chanyeol mau tanding dulu." Kyungsoo meletakkan Ponselnya dan menoleh. "Kenapa kau buru-buru ingin pulang? Kau juga besok tidak kemana-mana, iya kan?"

"Bertanya atau menyindir, hm? " Kataku geram. Aku benar-benar ingin keluar dari sini.

"Gerah ya melihat Chanyeol dengan Gayoung?" Aku langsung menoleh kearah Kyungsoo dan melotot setelah dia mengatakan itu. Kyungsoo hanya terkekeh.

"Aku lapar." Aku berkilah.

"Pesan french fries dulu. Selesai mereka bertanding, kita cari tempat makan yang enak."

Tiba-tiba Gayoung berteriak. Aku dan Kyungsoo menoleh bersamaan. Ia sedang melompat kegirangan dan merangkul Chanyeol. Rupanya ia baru saja melakukan Strike. Sepertinya aku memang tidak dapat mengelak dari takdir ini. Dengan kesal aku berdiri dan melangkah ke konter untuk memesan kentang goreng.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah melakukan pertandingan bowling akhirnya kami memutuskan untuk makan. Pertandingan tadi di menangkan oleh Chanyeol. Gayoung yang melihat Chanyeol memenangkan pertandingan itu langsung merangkul Chanyeol dan tersenyum bangga. Cih!

Meskipun aku biasanya bukan termasuk orang yang terburu-buru dalam menilai orang lain, tapi kali ini aku memutuskan untuk tak terlalu menyukai Gayoung.

"Baekhyun, kau ingin makan apa?" Tanya Kyungsoo kepadaku. Kami sedang menunggu Jongin dan Chanyeol menyelesaikan pembayaran.

"Apa saja, yang penting makan." Sahutku malas.

"Pizza Hut?"

"Oke," aku mengangkat jempolku.

Ketika Jongin dan Chanyeol sudah bergabung Kyungsoo langsung berkata, "kita ke Pizza Hut." Kami pun melangkah.

"Tapi disana ada makanan lain selain pizza kan?" Suara Gayoung menghentikan kami.

"Kau mau makan apa, hm?" Tanya Chanyeol.

"Aku tidak ingin terlalu banyak makan Junk Food," katanya manja.

"Disana ada salad," sahut Kyungsoo datar. Aku hampir terkikik. Sepertinya Kyungsoo juga mulai tak menyukai Gayoung.

Gayoung menoleh kearah Chanyeol, tapi Chanyeol tidak mengatakan apa-apa. Akhirnya ia mengangguk. "Mm.. Oke." Katanya sedikit kecewa. Mungkin ia berharap bisa makan romantis berdua saja dengan Chanyeol.

Sampai di sana, Shindong langsung duduk di sebelahku. Shindong adalah teman Baik Jongin sejak High School dulu. Teman Jongin yang lain menolak ikut dan tetap lanjut Bowling. Shindong yang lucu ini membuat suasana menjadi meriah.

"Baekhyun, sudah punya kekasih?" Tanya nya sambil mengaduk minumnya. Ia menatapku dengan pandangan menggoda.

"Eh? Kenapa bertanya seperti itu?" Sela Kyungsoo.

"Boleh kan? Aku kan hanya bertanya." Jawab Shindong sambil tersenyum.

"Well, she's not available." Kata Kyungsoo lagi.

Shindong berpura-pura memeriksa jariku. "Selama belum ada cincin melingkar di jari, peluang masih terbuka." Katanya terkekeh. Mau tak mau aku ikut terkekeh.

"Pacarmu di simpan di rumah ya? Takut diambil orang?" Goda Shindong lagi.

"Atau jangan-jangan lagi bersama wanita lain," celetuk Gayoung dengan bahasa korea yang beraksen inggris.

Hey, apa maksud bocah ini?

Aku dan Kyungsoo langsung melirik dan melempar isyarat. Ternyata keputusanku untuk tak menyukai nya sangatlah tepat. Terus terang aku tersinggung.

Aku pasang muka datar dan berkata, "aku kan juga sedang bersama laki-laki lain."

Mereka semua tergelak, kecuali Gayoung.

"Nah betul kan, kalau jodoh tak kemana." Kata Shindong sambil mengedipkan mata. Ia kembali tergelak.

"By the way, kau mengenal Chanyeol dari mana?" Tanya Kyungsoo sambil mengedipkan mata kearahku penuh arti.

"Di Singapore. Ayahku Minister Counselor di sana. Aku dan Chanyeol sering bertemu kalau ada acara pertemuan orang-orang Korea." Ia menoleh kearah Chanyeol sambil tersenyum. Chanyeol hanya mengangguk.

"Ohh, sekarang dalam rangka apa kau ke Seoul?" Tanya Kyungsoo lagi.

"Aku hanya Holiday di sini. Aku merindukan Chanyeol." Ia mengangkat tangannya dan mengelus lengan Chanyeol pelan. Chanyeol tidak bereaksi. Aku menaikkan alisku. Dan diiringi rasa ingin tahu yang besar aku menunggu kelanjutan drama ini.

"Terus kau tinggal dimana?"

"Dirumah paman ku. Sebenarnya Ibunya Chanyeol menawariku untuk menginap dirumahnya tapi pamanku memaksa aku harus menginap dirumahnya." Ia menyibak rambut nya dengan tangan. "Tapi nanti kalau aku ke sini lagi, aku pasti menginap di rumah Chanyeol. Keluargaku dengan Keluarganya Chanyeol sudah kenal baik. Mereka sudah menganggap kami sebagai keluarga." Tambahnya. Di sebelahnya, Chanyeol tetap mengunyah pizza nya seolah Gayoung sedang membicarakan orang lain. Ini benar-benar menarik.

"Sewaktu di Singapore kami sering ke laut bersama untuk Diving atau snorkeling, kemana-mana selalu bersama" Lanjut Gayoung. Ia melingkarkan tangannya di lengan Chanyeol, tapi Chanyeol hanya diam. Mungkin Chanyeol bukan tipe orang yang suka mengumbar kemesraan di depan publik. Sangat berbanding terbalik dengan Gayoung. Tapi kesannya jadi bertepuk sebelah tangan.

"Kau memang benar-benar suka Diving atau hanya mengikuti Chanyeol saja?" Sindirku. Memang bukan perbuatan terpuji, tapi aku tidak bisa menahan diri. Biar Chanyeol tahu kalau wanitanya itu juga bisa melakukan perbuatan tolol seperti yang dituduhkannya padaku.

Gayoung terlihat kaget, tapi ia menutupinya dengan tertawa. "Oh, dua-duanya," jawabnya. Ia menoleh ke Chanyeol yang ternyata sedang menatapku dengan tajam. Eh, apa dia pikir aku akan takut dengan tatapannya itu. Aku membalas tatapan tak kalah tajam. Kita lihat siapa yang paling kuat. Tapi sebelum ada pemenang, suara Gayoung membuyarkan segalanya.

"Chanyeol, Chanyeol," panggilnya. Dengan terpaksa Chanyeol mengalihkan pandangannya. "Mereka mau ke club setelah ini," katanya dengan suara merajuk.

"Kami mau clubbing. Mau ikut?" Tanya Jongin.

"Boleh," jawab Chanyeol.

"Tapi Chanyeol, besok kita ada acara seharian." Gayoung mengingatkan. "Aku harus istirahat, kalau tidak besok aku bisa kelelahan."

Aku menatap Chanyeol, menunggu jawabanya. Di dalam hatiku, aku berharap Chanyeol akan menolaknya. Tapi ia mengedarkan pandangannya kearah kami dan berkata, "sorry, besok kami ada acara. Mungkin lain kali."

Senyum kemenangan Gayoung di tunjukkan kepadaku. Ketika mereka berpamitan, diam-diam aku merasa kecewa. Kenapa Chanyeol lebih memilih Gayoung? Tanpa bisa kutahan, aku merasa kesal.

"Chanyeol," seruku tiba-tiba. Aku kaget mendengar suaraku sendiri.

Apa?

Apa aku barusan memanggilnya? Tapi kenapa?

"Ada apa, Baekhyun?" Ia menatapku ingin tahu.

Sialan! Cepat cari alasan, Byun Baekhyun! "Hm.. Salam untuk ibu mu ya." Sahutku tak yakin. Is the best I can do? Sekarang bahkan Kyungsoo menatapku dengan alis terangkat. Benar-benar tolol.

"Oke," jawab Chanyeol datar. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apa-apa, tapi sorot matanya seperti mengatakan sesuatu. Entah apa.

.

.

.

.

.

to be continued

or

end?

.

.

.

hai hai

maaf ya lanjutan nya agak lama, soal nya aku udah mulai males ngelanjutin fanfic ini

aku nepatin janji kan kali ini ada chanbaek nya :D

review ya!

gimana menurut kalian ? ff ini di lanjut apa stop sampe sini aja, soalnya aku udah males ngelanjutin nya :(

yaudah deh sekian dari saya, btw semakin kesini semakin romantis aja ya si chanbaek, biasanya Chanyeol yang umbar-umbar kemesraan duluan tapi sekarang Baekhyun yang frontal banget hahah suka deh aku :D

jangan lupa REVIEW!

.