MARKHYUCK

MARK LEE

LEE HAECHAN

NCT

GENDERSWITCH

M

DON'T LIKE DO 'T READ

.

.

.

.

.

Haechan mengetuk-ngetuk jarinya bosan. Seseorang yang biasa disebut guru itu seperti mendongeng bagi Haechan. Menjelaskan bagaimana sejarah peperangan pada jaman dulu yang tidak ada menariknya sama sekali. Rasanya malah pengen tidur.

"Permisi"

Semua murid di kelas menoleh dan melihat ketua osis mereka berada di depan pintu kelas bersama dua anggota osis. Mereka membawa kantong yang lumayan besar dan sepertinya para murid mengetahui apa yang ingin dilakukan para anggota osis ke kelas mereka.

"Kami mau melaksanakan razia ibu"

"Iya silahkan"

Mark tersenyum mendengarnya. Dia menyuruh kedua anggotanya buat menggeledah tas dan pakaian para murid. Mark mengedarkan pandangannya dan menemukan Haechan yang sedang tersenyum manis kepadanya. Mark melangkahkan kakinya untuk mendekati Haechan.

"Aku harap kau tidak membuat ulah lagi"

Mark membuka tas Haechan dan memeriksa isi tasnya. Tidak ada yang aneh dan Mark lega karena Haechan telah menuruti kata-katanya.

"Kau juga harus memerika ini kan"

Haechan menunjuk dada besarnya yang sebelah kiri yang mana ada kantong besar di sana. Mark menatap datar Haechan yang mulai lagi dengan sifat binalnya itu.

"Aku sudah memperingatkanmu"

Mark memasukkan tangannya pada kantong baju milik Haechan. Isinya tidak ada yang aneh kecuali uang saku milik Haechan. Mark ingin mengeluarkan tangannya namun ditahan oleh Haechan. Wanita itu memegang tangan Mark dan menggerakkan tangannya dengan meremas yang membuat tangan Mark jadi meremas dada besar Haechan.

"Jangan berulah Haechan"

Haechan seakan tuli dan terus menggerakkan tangannya. Remasan pada dadanya semakin kuat dan kasar. Untung saja kegiatan gila itu tidak diketahui oleh guru yang ada di depan karena tubuh Mark yang lebih besar dari Haechan menutupinya dari depan. Hanya murid di samping Haechan saja yang mengetahuinya dan murid itu juga kedua temannya Jaemin dan Renjun.

"Kami telah selesai"

Mark segera saja melepaskan tangannya dari kantong. Dia menatap tajam Haechan dan kembali ke depan dimana kedua anggotanya sudah selesai menggeledah.

"Pada jam istirahat nanti pergilah ke ruang osis bagi semua yang melanggar. Jika tidak maka point kesalahan kalian akan dilipat gandakan"

Para murid yang melanggar merasa tidak terima akan hal itu. Jam istirahat itu waktu buat mereka makan dan beristirahat sejenak. Kenapa harus jam istirahat yang diambil oleh anggota osis.

"Terima kasih ya ibu sudah mau memberikan waktu kepada kami"

Mark dan kedua anggota membungkuk pada guru yang mengajar di kelas Haechan. Lalu ketiga anggota osis itu pergi untuk memeriksa kelas lainnya.

"Kau pasti tahukan kalau hari ini itu razia?"

"Iya tahu kok, tapi Mark bilang gak boleh diberitahukan ke siapapun itu. Termasuk kalian berdua"

Haechan tersenyum manis pada Jaemin dan Renjun. Kedua temannya itu termasuk daftar yang melanggar karena membawa alat make up di tas mereka.

"Kenapa Jeno tidak memberi tahu kita?"

"Berarti Jeno itu gak sayang sama kalian"

Jaemin maupun Renjun menatap Haechan dengan tajam. Membuat Haechan bergidik dan lebih memilih buat menatap ke depan saja.


Jam istirahat sudah dimulai dari 5 menit yang lalu dan Haechan harus makan sendirian di kantin karena Jaemin sama Renjun yang berada di ruang osis. Haechan jadi gak nafsu makan kalau sendirian gini.

"Boleh gabung di sini?"

Haechan mendongak dan semakin kesal melihat orang yang barusan bicara. Semakin membuat nafsu makannya hilang melihat laki-laki yang sangat dia hindari selama di sekolah duduk di depannya dengan seenaknya saja.

"Apa tidak ada tempat lain bagimu? Bukankah biasanya kau duduk di sana?"

Haechan menunjuk sekelompok murid laki-laki yang berada di sebrangnya. Sangat jelas sekali jika laki-laki di depannya itu sengaja duduk di depannya untuk mengganggunya.

"Tidak masalahkan jika aku duduk di sini. Tidak ada yang melarangnya cantik"

Haechan menampik tangan laki-laki itu yang ingin menyentuh wajahnya. Dia tidak mau wajah cantiknya ternodai sama tangan besar laki-laki itu. Haechan mau pergi dari mejanya saja dibanding harus menikmati makan siangnya sama laki-laki menyebalkan itu. Haechan baru saja mau beranjak tapi kakinya ditahan sama kaki murid di depannya itu.

"Habiskan makananmu di sini cantik"

Haechan memegang sendoknya dengan kuat. Dia tidak mau membuat keributan sama laki-laki itu. Jadi Haechan lebih baik memberi pesan pada Mark.

Haechan

Mark bisa kah kau ke kantin. Aku tidak bisa makan siang karena ada penggangu

Tidak berapa lama pesan Haechan dibalas oleh Mark. Ternyata cepat juga tanggapan Mark. Sepertinya laki-laki itu tidak terlalu sibuk.

Mark

Tunggulah di sana

Haechan tersenyum senang membaca balasan dari Mark. Memang hanya Mark yang sangat mengerti dirinya dengan baik. Haechan pun menunggu Mark datang dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya.

"Ternyata kau senang makan bersamaku ya"

"Dalam mimpimu Lucas"

Hanya saja Lucas itu membuat Haechan kesal. Laki-laki itu tidak pernah merasa lelah selalu mengejar Haechan. Padahal sudah Haechan tolak terang-terangan.

"Haechan"

Orang yang ditunggu Haechan akhirnya datang juga. Haechan melambaikan tangannya dengan semangat melihat Mark yang mendekati mejanya. Haechan menepuk tempat di sampingnya agar Mark duduk di sana. Namun Mark tidak ingin duduk. Dia menarik Haechan agar ikut pergi dengannya tapi kaitan kaki Lucas membuat Haechan tidak bisa kemana-mana.

"Bisa kau lepaskan dia Lucas!"

Mark menendang kaki Lucas yang menahan kaki Haechan. Mark tidak mau membuat keributan di kantin. Dia masih tahu diri jika dia itu ketua osis yang menjadi panutan orang-orang.

"Kau mulai berkuasa ya sekarang. Padahal kau itu hanya ketua osis Mark bukan pemilik sekolah ini"

Lucas memandang remeh Mark yang menatapnya tajam. Lucas tidak akan mau kalah sama si ketua osis itu. Jabatannya itu tidak ada apa-apa baginya yang termasuk salah satu donatur bagi sekolah. Lucas lebih berkuasa dari Mark.

"Bukankah yang berkuasa itu kau. Apa menjadi anak donatur di sekolah ini sangat membanggakan bagimu? Hanya memanfaatkan kekayaan orang tua untuk memaksakan kehendakmu"

Mark menarik Haechan dengan kuat agar wanita itu pergi bersamanya. Namun tangan Haechan yang lainnya ditahan sama Lucas. Laki-laki itu menarik Haechan sampai genggaman tangan Mark terlepas dan menundukkan Haechan di atas pangkuannya.

"Apa yang kau lakukan brengsek?"

Haechan berontak tidak suka. Disentuh oleh laki-laki brengsek seperti Lucas siapa yang mau. Haechan memang terlihat nakal dan binal di luaran. Hanya saja Haechan melakukannya cuma ingin menarik perhatian Mark doang.

"Jangan pura-pura tidak suka. Bukankah kau suka disentuh"

Lucas memeluk pinggang Haechan dengan erat. Telapak tangannya merambat ke atas sampai pada dada besar Haechan. Tangan brengsek itu mau meremas dada sintal Haechan.

BUK

Mark memberikan pukulan keras pada wajah Lucas sebelum tangannya itu menjamah dada Haechan. Mark membawa Haechan untuk bersembunyi di belakangnya. Kemudian menatap Lucas yang tersungkur di lantai dengan luka pada sudut kiri bibirnya.

"Brengsek"

Lucas tidak akan terima dengan tindakan merendahkannya itu. Lucas bangun dan balik memukul Mark. Terjadi kegaduhan yang besar dengan aksi baku hantam di kantin dan murid-murid lain hanya bisa menjadi penonton tanpa ada niatan untuk melerai keduanya. Tidak ada yang berani untuk menghentikan perkelahian Mark dan Lucas.

"Mark berhenti"

Hanya Haechan saja yang sedari tadi berteriak untuk menghentikan Mark. Haechan tidak suka jika Mark terlibat dalam baku hantam. Terlebih dengan si brengsek Lucas.

Buk

Pukulan yang sangat kuat Lucas berikan pada pipi Mark. Membuat ketua osis itu terjatuh ke lantai dengan kacamatanya yang terlepas. Lucas mendekatinya dan menginjak kacamata Mark hingga tidak berbentuk lagi.

"Aku tidak sengaja ketua osis"

Lucas menyeringai melihat Mark yang menunduk dengan kepalan tangannya yang begitu erat. Lucas pikir Mark sangat marah karena kacamatanya sudah tidak bisa digunakan lagi.

"Aku sebenarnya lebih suka menyembunyikannya. Tetapi karena sudah seperti ini apa boleh buat"

Lucas mengernyit mendengar perkataan Mark yang aneh itu. Dia melihat Mark bangun dengan wajah yang masih menunduk. Kemudian dia mendongak dan semua orang yang ada di kantin terkejut melihat Mark yang nampak berbeda. Mark yang sekarang begitu tampan tanpa ada kacamata yang menghiasi wajahnya. Rambutnya yang sebelumnya klimis jadi berantakan dan pakaiannya yang rapi juga berantakan. Penampilan Mark sekarang itu so cool and hot.

"Sayang sekali kau sudah merusaknya"

Mark mengambil kecamatanya yang sudah tidak berbentuk utuh lagi. Mark membuang kacamata itu ke sembarang arah dan menatap Lucas dengan penuh kebencian.

"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau kembali berulah"

Mark berbalik mendekati Haechan yang sedari tadi menangis melihat Mark berkelahi dengan Lucas. Mark tersenyum melihat air mata yang mengaliri pipi berisi Haechan.

"Jangan menangis. Aku tidak suka melihatnya"

Mark menghapus air mata yang menghiasi wajah cantik Haechan. Bukannya berhenti menangis Haechan malah semakin deras mengeluarkan air matanya. Mark jadi bingung harus berbuat apa agar Haechan berhenti menangis.

"Aku juga tidak suka melihat wajahmu penuh luka dan lebam seperti ini"

Tangisan Haechan mulai mereda. Haechan menyentuh wajah Mark yang dihiasi luka dan lebam keunguan. Haechan mengelus lebam itu dengan begitu lembut.

"Ini akan segera sembuh. Ayo kita pergi"

Mark menggenggam tangan Haechan dan membawanya pergi. Kerumbunan yang sedari tadi memenuhi kantin mulai menyingkir memberikan ruang buat Mark dan Haechan. Murid-murid berbisik melihat Mark yang nampak berbeda.

"Aku tidak menyangka ketua osis kita itu sangat tampan dan menggairahkan"

"Benar-benar panas"

"Tatapannya membuatku tidak bisa bernafas dengan baik"

Haechan mendelik kesal mendengar bisikan tersebut. Haechan tidak suka dengan hal itu. Mark hanya miliknya dan akan selalu seperti itu. Mark yang tampan dan menggairahkan hanya milik Haechan seorang.

"Jangan melotot seperti itu. Aku jadi takut melihatnya"

"Mark~"

Haechan merengut tidak suka. Mark yang melihat itu gemas sama Haechan dan mencuri kecupan manis pada bibir mungil Haechan tanpa peduli dengan murid-murid yang melihat mereka berdua.

"Kita ke ruang osis saja ya"

Haechan menganggukkan kelapanya saja mendengar itu. Mark merangkul Haechan tanpa peduli dengan tatapan dan bisikan para murid yang melihatnya. Mark sudah sering menjadi tontonan banyak orang.

BRAK

Semua yang ada di ruang osis terkejut dengan dobrakan pintu. Mereka semua menatap ke depan pintu dan terkejut melihat Mark yang babak belur dengan merangkul Haechan.

"Apa yang terjadi?"

Jeno mendekati Mark dan Haechan yang penampilannya berantakan. Mark dengan wajah lebam duduk di kursinya dan Haechan duduk di meja Mark.

"Bisa aku meminta kotak P3K"

"Ah iya"

Salah satu anak osis segera bergegas mengambil kotak P3K yang Haechan minta. Dia langsung memberikannya pada Haechan setelah mengambilnya.

"Mark berkelahi dengan Lucas"

Haechan mengambil pembersih luka dan kapas. Haechan membersihkan luka yang ada di sudut bibir kanan Mark dan juga luka lainnya. Mark meringis dan tangannya bergerak ke pinggang Haechan.

"Diam biar aku cepat selesai" seru Haechan melepaskan tangan Mark yang ada dipinggangnya.

"Shhh pelan Chan"

Mark mengerang kesakitan karena Haechan menekan lukanya dengan kuat. Haechan gak peduli dan cuma senyum polos doang. Setelah selesai membersihkan luka dan memberikan obat, Haechan menempelkan plester luka. Haechan tersenyum senang melihat hasilnya.

"Awas saja jika kau kembali berkelahi"

"Aku tidak akan berkelahi jika tidak ada yang mengganggumu"

Mark menatap sekelilingnya yang sedang melihatnya dan Haechan. Mark memberi isyarat pada Jeno untuk meninggalkannya saja berdua dengan Haechan. Jeno yang mengerti mengangguk memerintahkan semua untuk pergi keluar. Sekarang hanya tertinggal Mark dan Haechan saja lagi. Mark menarik kursinya untuk semakim dekat dengan Haechan. Tangannya bergerak ke kemaja Haechan dan melepaskan kancingnya sampai menampilkan dada sintal Haechan yang terbungkus bra.

"Dia ingin menyentuh ini"

Mark menyentuh gundukan besar itu dan meremasnya begitu lembut. Mark terus saja meremas dada Haechan hingga remasan itu berubah menjadi kasar. Haechan sampai melenguh merasakan dadanya yang diremas penuh kenikmatam oleh Mark.

"Markhhhh"

"Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi. Tubuhmu ini hanya milikku Chan"

Mark mendekatkan wajahnya dan menarik tenguk Haechan untuk mengajaknya berciuman. Mark mencium Haechan dengan begitu menuntut. Mark menyesap bibir bawah Haechan begitu kuat dan meminta akses untuk memasuki gua hangatnya.

"Enghhhh"

Haechan melenguh dan membuka bibirnya sedikit hingga Mark dengan mudahnya menelusupkan lidahnya ke dalam gua hangatnya. Lidah Mark menginvasi seluruh mulutnya dan mengajak lidahnya untuk bertarung. Haechan dengan semampunya melawan lidah Mark karena konsentrasinya tidak hanya pada ciuman Mark saja. Tetapi juga pada dadanya yang sedari tadi di remas kasar oleh Mark. Tangan Mark itu ke bawah dan masuk ke dalam bra Haechan. Mengelus dan memilin tonjolan kecil yang menegang itu hingga Haechan membusungkan dadanya.

"Lepas Mark"

Haechan melepaskan ciuman Mark dan menanggalkan kemejanya. Haechan melepaskan kaitan branya dan membuangnya begitu saja. Dada bulat dan sintal Haechan sudah terpampang sempurna dengan puting merahnya yang menegang. Haechan meremas dada dan memilin putingnya sendiri mencari kenikmatan.

"Hisap putingku Mark. Hisap dengan kuat dan gigit juga puting ini aahhhh"

Haechan semakin membusungkan dadanya di depan wajah Mark. Laki-laki tampan itu menjulurkan lidahnya dan menjilat puting Haechan secara bergantian terus menerus hingga Haechan frustrasi karena putingnya ingin lahap oleh mulut Mark.

"Masukkan putingku Markhhh. Lahap putingku dengan rakus aakhhhh..."

Haechan memejamkan matanya menikmati Mark yang sedang melahap puting kanannya. Mark menghisapnya begitu kuat dan mengigitinya dengan penuh nikmat. Sedangkan puting kirinya dimanja sama tangan kanan Mark dengan menekan, memilin, dan mencubitinya.

"Hisap terusshhh aahhh! Hisap sampai menghhh..mengeluarkan susu aaakhhhh!"

Mark menghisap puting Haechan seperti bayi rakus yang sedang minum susu. Karena tidak ada susu yang keluar maka Mark akan mengigit puting itu dan dihadiahkan dengan pekikan nikmat dari Haechan.

Selesai dengan puting kanannya, Mark beralih pada puting kiri Haechan. Mark kembali menggilas puting Haechan dengan hisapan rakus dan gigitannya yang kuat. Sementara tangannya merambat ke bawah hingga sampai pada vagina Haechan yang basah tertutupi celana dalamnya.

"Oughhhh... Markhhh"

Haechan semakin menikmati rangsangan yang Mark berikan. Putingnya dimanja oleh mulut panas Mark dan di bawah sana tangan menyusup masuk ke dalam celana dalamnya dan mengelus klitorisnya. Mark menggerakkan jari tengah dan telunjuknya turun naik untuk memanjakan klitoris sensitif itu.

"Kau ingin membolos di sini bersamaku atau kembali ke kelas"

Mark menghentikan aksinya dan melirik pada jam dinding. Sebentar lagi bel masuk berbunyi dan Mark sangat malas untuk masuk ke dalam kelas untuk belajar. Sekarang ini lebih enak menikmati tubuh sintal wanita cantik di depannya dibanding mendengarnya penjelasan guru.

Haechan menyeringai ditanya seperti itu. Dia mengangkat pantatnya untuk melepaskan rok dan celana dalamnya. Dengan tubuh telanjang Haechan turun dari meja dan duduk di pangkuan Mark. Haechan menggesekkan vagina basahnya dengan gundukan besar yang terbungkus sama celananya Mark.

"Apa menurutmu aku akan menolak untuk membolos denganmu?"

Haechan menyusupkan tangannya ke dalam celana Mark dan mengelus penis tegang itu yang masih terbungkus celana dalam. Haechan tersenyum senang melihat raut kenikmatan Mark saat tangannya meremas penis besarnya.

"Persiapkan lubangmu dengan baik sayang. Karena penis besarku akan menggempur lubangmu dengan kuat dan kasar. Lubangmu itu suka dengan yang kasar kan"

Mark berbisik tepat di telinga Haechan. Kemudian Mark berpindah pada leher dan tulang selangka Haechan yang menggodanya untuk membuat tanda di sana. Mark menyesap leher dan tulang selangka Haechan hingga membuat banyak tanda kepemilikannya. Dengan tanda ini Mark akan memberitahu semua orang jika Haechan itu hanya miliknya seorang.

"Aku tidak sabar merasakan penismu itu Mark"

Haechan menjilati bibir bawahnya dan mengigitnya menggoda Mark. Matanya memandang Mark dengan sayu untuk menambah kesan menggoda. Wanita cantik dengan tubuh sintalnya sedang berserah diri pada Mark. Maka Mark tidak akan membuang kesempatan emas itu begitu saja. Mark akan memberikan kenikmatan yang luar biasa agar wanitanya itu mengerang penuh nikmat hingga terus meminta lebih kepadanya.

TBC

Konfliknya ini memang pasaran khas anak sekolah ya dan konflik ini juga gak begitu berat karena aku malas membuat cerita yang penuh dengan konflik. Biarkan Mark dan Haechan bersatu dengan baik meski itu hanya sebuah cerita fiksi