~A Wonderful Mistake~
by Park Eun-Gi
Genre: Hurt/Comfort; Romance; Drama
Disclaimer: BTS are BigHit Ent's
Warning: Typo(s); Shounen-Ai, Boy x Boy
Don't Like Don't Read
Enjoy~
Ctarr
"Tak bisa berkata apa-apa hah? Anak idiot!" terdengar suara berat dari seorang lelaki paruh baya yang tengah mencambuki seorang pemuda manis bersurai hitam yang menyandang status sebagai anaknya – atau lebih tepatnya, anak tirinya.
Ctarr
"Tak bisa kah kau sehari saja tidak bermain dengan piano bodohmu itu dan fokus pada pekerjaan utamamu, hah?" kembali lelaki paruh baya itu membentak kepada anak tiri yang sudah terkulai lemas dengan tangan terkepal yang setia bertengger di atas meja tempat ia menumpu tubuh kurusnya.
Ctarr
"Arghh" sebuah rintihan kesakitan keluar begitu saja dari bibir manis sang anak yang sedang meringis menahan perih di punggungnya.
"Tak sadarkah kau posisi mu dirumah ini? Tak lebih dari se-onggok debu yang terpaksa bekerja disini demi menghidupi keluarga yang sama bodohnya dengan mu!" bentak lelaki paruh baya itu sambil menunjukkan seringaian yang menyeramkan.
Memang benar. Pemuda manis itu bukan sepenuhnya anak tiri dari lelaki paruh baya tersebut. Dia hanya lah seorang anak tunggal dari sepasang suami-istri miskin yang terancam kehilangan tempat tinggal mereka – jika saja pasangan suami-istri itu tidak menyerahkan pemuda itu – anak mereka satu-satunya kepada seorang lelaki pemilik rumah – atau lebih tepatnya, kontrakan tersebut untuk dijadikan, sebut saja budak. Walaupun penyerahan pemuda tersebut menggunakan surat adopsi layaknya ingin mengangkat seorang anak, pemuda itu tidak pernah diperlakukan dengan baik.
Ctarr
"Hiks" isakan kecil pun lolos dari bibir pemuda itu.
"Kau seharusnya sadar Jeon Jungkook, tidak ada satu pun barang putraku yang boleh kau sentuh!"
"Ma..maafkan aku Tuan." Seru pemuda manis itu lemah lengkap dengan isakan-isakan kecilnya.
"Berdiri kau" perintah lelaki paruh baya itu sambil menyudahi acara cambuk-mencambuknya.
Pemuda manis bersurai hitam itu pun beranjak berdiri dari posisinya. Matanya bengkak dikarenakan menangis terus-menerus. Tubuhnya bergetar dan kepalanya masih senantiasa menduduk, tak berani menatap pria dipanggilnya "Tuan" itu.
"Tatap mataku" pria itu kembali bersuara seraya melipat kedua tangan di depan dada tegapnya.
Pemuda itu – Jeon Jungkook, mendongakkan wajahnya yang masih sembab kearah pria yang memang lebih tinggi beberapa senti darinya.
"Besok putraku akan kembali ke Korea. Dia sudah menamatkan sekolah menengahnya di luar negri. Katanya, dia ingin berlibur disini." Seru pria itu dengan tatapan yang melembut.
"Dan kuminta padamu, bersikap lah seolah aku err, bagaimana mengatakannya, bersikaplah seolah kau bukan pembantu disini, yah seperti itu." Ucap pria sedikit canggung.
Jungkook sedikit tak mengerti. Memangnya mengapa jika mengatakan yang sebenarnya pada putra Tuannya? Jungkook bahkan belum pernah bertemu dengannya, mengetahui namanya saja tidak.
"Mulai besok panggil aku .. " ucapannya terhenti sejenak. Pria itu menarik nafasnya gusar dan menghembuskannya perlahan. "Panggil aku .. Appa."
Jungkook membulatkan kedua bola matanya. Sejak dua tahun dia telah bekerja menjadi pembantu – atau lebih tepatnya budak karena perlakuan Tuannya yang sangat tidak manusiawi, belum pernah sekalipun dia memanggil Tuannya itu dengan sebutan 'Appa', walaupun secara teknis, ia diangkat menjadi seorang anak tiri oleh Tuannya itu.
"Ba..baik Tuan – eh maksudku Ap..Appa" ucap Jungkook dengan sangat hati-hati lalu beralih menatap lantai yang kelihatannya jauh lebih menarik dari wajah tegas Tuannya itu.
"Dan panggil dia dengan sebutan 'Hyung'. Ia lebih tua dua tahun darimu." Tatapan pria itu menajam kembali, entah kenapa. "Dan tolong, minimalkan interaksimu dengannya, walaupun kau berperan sebagai adiknya, tapi tolong jangan terlalu dekat dengannya. Aku tak mau dia jadi err, terikat denganmu"
Matanya belum kembali ke posisi normal. Jungkook masih terlalu kaget dengan ini semua. Jungkook memang sudah tau jika Tuannya itu mempunyai seorang putra, tetapi Ia sama sekali tidak pernah melihatnya.
Ting Tong
Keduanya diam membeku.
"Daddyyy, Aku pulangg!" seru seseorang dari balik pintu kediaman pria itu dan Jungkook. dengan nada yang terdengar gembira.
"Hey, itu dia!" seru pria itu. Matanya tiba-tiba memancarkan sinar kebahagiaan yang tidak pernah dilihat Jungkook dua tahun terakhir ini.
"Cepat ganti bajumu, dan juga basuh wajahmu. Aku tak mau putraku melihat keadaanmu yang seperti ini" seru pria itu tanpa menoleh kepada Jungkook dan mulai mendorong pemuda manis itu untuk segera menyingkir dari tempatnya sekarang. Ya bisa dilihat dari kondisinya saat ini, mata bengkak dengan wajah memerah yang terlihat sangat kusut lengkap dengan pakaian yang sudah robek sana-sini ditambah bercak darah– Terima kasih kepada Tuannya, oh atau sekarang yang Jungkook panggil 'Appa' yang sudah mencambukinya hanya karena hal sepele.
Taehyung's POV
"Pak berhenti disini pak!" seruku pada sopir taxi yang kutumpangi sejak mendarat Incheon Airport. Ya, sudah hampir tiga tahun aku tidak pernah pulang ke kediaman ku di Korea. Sudah hampir tiga tahun pula aku tidak pernah melihat wajah daddy-ku yang kian tahun kian menua itu. Setelah membayar tarifku ke sang sopir dan mengambil koperku dari bagasi, aku pun langsung berlari menghampiri pintu depan rumahku.
"Daddyyy, Aku pulangg!" teriakku didepan pintu kayu yang tidak berubah sedikitpun sejak tiga tahun aku meninggalkan tempat tinggalku ini. Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Sempat kupikir daddy sedang tidak ada di rumah, karena memang aku tiba sehari lebih cepat dari perkiraanku sebelumnya, dan kurasa daddy juga sedang tidak menunggu kedatanganku di rumah.
Sempat kurogoh sakuku untuk mengambil ponselku, hendak menelpon daddy ku sebelum–
"Taehyung-ah kau sudah sampai!"
-daddy membukakan pintu rumah.
"Oh, daddy aku sangat merindukanmu" kupeluk daddy ku dengan tanganku yang bebas dari pegangan koper. Daddy pun langsung membalas pelukanku.
"Aku juga sangat merindukanmu Taehyung-ah. Kau bertambah besar rupanya" katanya seraya mengeratkan pelukannya padaku.
"Tentu saja dad. Makanan di Inggris sangat enak dan berperan banyak dalam pertumbuhanku" Ya kuakui, tiga tahun lalu aku jauh lebih pendek dari daddy tapi sekarang, wah wah aku lebih tinggi satu senti darinya haha, peningkatan yang bagus.
Setelah puas berpelukan, daddy pun mengajakku masuk ke dalam. Kudapati wangi rumahku yang tidak berubah sedikitpun, dan juga semua pajangan dan furniture yang masih setia diposisinya selama tiga tahun dan ada ikat pinggang yang tergeletak di pojok ruangan – tunggu, untuk apa ada ikat pinggang disana?
"Daddy, kurasa kau menjatuhkan ikat pinggangmu" kataku pada daddy seraya beranjak dan mengambil ikat pinggang itu.
"Ah iya untung kau melihatnya. M..mungkin karena terlalu lelah bekerja aku jadi lupa pernah menaruhnya sembarangan disana" ucap daddy sedikit terbata. Raut wajahnya berubah menampilkan ekspresi kaget. Entah dorongan apa yang membuat mataku menelisik setiap inci dari ikat pinggang itu, sampai-sampai..
"Loh Dad, apa ini? Ini seperti bercak..darah?" tanyaku sedikit hati-hati. Kulihat raut wajah daddy yang semakin menegang.
"Ah m..masa? Aku tidak terlalu memperhatikannya. M..mungkin itu bekas tumpahan sirop" ucapan daddy semakin terbata-bata. Kami terdiam sesaat dengan aku yang masih betah untuk menyelidiki ikat pinggang kulit kepunyaan daddy-ku itu.
"Ah iya, ada seseorang yang ingin kuperkenalkan kepadamu, tunggu disini sebentar Taehyung-ah" kata daddy memecahkan keheningan. Aku mengerutkan keningku. "Seseorang? Siapa? Apa jangan-jangan daddy…" ucapan ku tergantung sesaat. Kupalingkan wajahku dari wajah daddy yang mulai menampilkan raut wajah kebingungan.
"Ap..apa jangan-jangan daddy sudah menikah lagi?" tanyaku seraya mendongakkan kepala untuk wajah daddyku. Dia tersenyum. Sebenarnya siapa yang akan dikenalkannya itu?
"Tidak mungkin, Taehyung-ah. Tidak akan ada satu orang pun yang dapat menggantikan posisi Eomma-mu didalam hatiku … kecuali kau tentunya" ucap daddy sambil mengacak-acak surai caramelku.
"Tunggu sebentar disini, ne?" Tanya daddy sambil beranjak menaiki tangga.
"Ne, dad."
Jungkook's POV
"Cepat ganti bajumu, dan juga basuh wajahmu. Aku tak mau putraku melihat keadaanmu yang seperti ini". Aku pun langsung mengangguk dan menuruti perintah Tuanku-ah atau yang sekarang harus kupanggil 'Appa' lalu bergegas menaiki tangga menuju kamarku.
Cklek
Kubuka pintu kamar ku dan menutupnya perlahan. Tepat setelah kututup pintu kamar ku, suara pemuda tak dikenal pun memenuhi kediaman kami. Sudah dipastikan itu pasti putra dari Tuan Kim, maksudku Appa.
Tak perlu menunggu waktu lama, aku pun langsung mengganti baju dan membersihkan sedikit diriku yang dipenuhi bercak darah dan juga keringat. Rasa perih menghujam tubuhku begitu air shower mengucur tepat keatas punggungku. Sudah sering aku mendapatkan perlakuan seperti ini dari 'Appa', sudah sering pula aku merasakan rasa perih yang teramat sangat seperti ini. Sudah tak terhitung banyaknya luka di tubuhku, baik punggung maupun bagian tubuh lainnya. Siksaan demi siksaan sudah menjadi makananku sehari-hari.
Setelah selesai dengan semua pekerjaanku, aku pun mendudukkan diriku keatas kasurku yang minim. Yah, seperti itulah aku hanya diberi kamar kecil berisikan satu kamar mandi sederhana, satu single bed dan juga satu lemari pakaian. Benar-benar minim untuk seseorang yang menyandang status sebagai anak tiri dari seorang pengusaha kaya raya, siapalagi kalau bukan Kim Dae Hyun. Wajah tampannya sangat bertolak belakang dengan perlakuannya terhadapku.
Cklek
Pintu kamarku yang tak terkunci terbuka dan menampilkan sosok yang baru saja dipikirkan oleh ku. Seseorang yang sekarang harus kupanggil 'Appa'.
"Ingat dengan semua yang sudah kukatakan kepadamu, ne?" katanya dengan nada dingin dan tegas seraya menutup kembali pintu kamarku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan. Tak terasa ia sudah berada tepat dihadapanku.
"Dan ingatlah, kau masih seorang pembantu disini. Semua ini hanya rekayasa sampai putraku mulai berkuliah. Jangan bersikap seenaknya" ucapnya setengah berbisik kepadaku.
"Dad! Apa yang kau lakukan? Kenapa memanggil orang saja membutuhkan waktu selama ini?" terdengar teriakan dari lantai bawah. Siapa lagi kalau bukan putra Tuan.
"Saatnya turun" ujarnya singkat sebelum meninggalkanku yang masih terdiam.
Taehyung's POV
Tap Tap Tap
Dua pasang kaki terlihat menuruni tangga. Yang di depan itu adalah daddy sedangkan yang di belakang itu.. tunggu. Siapa dia?
'Oh itu pasti seseorang yang ingin dikenalkan daddy padaku' batinku.
Tubuhnya mulai terlihat seutuhnya. Mulai dari kaki putih jenjangnya yang hanya dibalut dengan celana pendek hitam selutut lalu tubuhnya yang mengenakan kaos putih polos bergambar pororo dan sampai kepada.. apa aku tak salah lihat?
Lalu sampai kepada wajahnya yang -menurutku- cantik, imut, manis, semuanya menjadi satu. Ditambah dengan raut wajahnya yang menampakkan ekspresi takut dicampur dengan malu dan surai kehitamannya yang terlihat sedikit acal-acakan.
"Nah Taehyung, ini dia namja yang ingin kuperkenalkan kepadamu" ucap daddy yang tanpa kusadari sudah berada tepat di depanku bersama seorang namja ... mwo? namja? Wajah semanis ini mana bisa dibilang namja?
"A..annyeonghaseyo, naneun Jeon Jungkook imnida" ujarnya sembari membungkuk 90 derajat, dan oh dengarlah suaranya yang melantun dengan lembutnya. Seperti ini dibilang namja?
"Annyeonghaseyo, Kim Taehyung imnida"
"Mulai sekarang Jungkook akan menjadi adikmu, Tae." kata daddy sambil tersenyum. Adik? Daddy mengangkat namja ini menjadi adikku?
Aku pun menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Entah kenapa ada yang mengganjal disini, lihat saja tubuhnya yang terkesan kaku, kepala terus menunduk, dan bibir yang sedikit bergetar.
Kupikir ada sesuatu yang disembunyikan Daddy dariku.
To be continued...
Annyeong Haseyo, Park Eun Gi imnida^^. Aku author baru disini, jadi mohon maklumin kalau bahasa masih sedikit kaku dan bertele-tele. Kalau kalian enggak suka bisa bilang kok, aku bisa delete trus ganti yang baru deh~ (Itu juga kalo ada ide) hehe, Thanks yang udah nyempetin buat baca^^
Mind to review? Gomawoyeo~
