Author note:

Hai semua~!

Maaf karena untuk sementara agak lama updatenya, karena author masih menghadapi ujian... *mojok di kamar*, tolong didoakan semoga tidak remedial ya! Amin! (?)

Sebelumnya mau ngucapin makasih buat reviewnya! Author akan berusaha membuat jalan ceritanya lebih menarik, seru, kocak, dan pastinya semoga jelas jalan ceritanya!

Ariel Wu'i : makasih banyak selama ini udah baca ff sayaa! / Buat harta berharga, lagi dipikirin mau bikin sequelnya kayak gimana.. hehe...

Yak, langsung saja, selamat membaca! Semoga menghibur! Mohon kritik dan saran~ ^^

-Lutanima-

Cip cip cip

...

Cip cip cip

...

Cip cip

BRAAKKK!

"BERISIK WOOOOIIIII!"

Seketika, burung yang tadinya sedang bernyanyi ria, langsung terbang semua begitu Claire menghentakkan jendelanya dengan penuh amarah. Betul-betul pas ditambah dengan tampangnya yang sangat mendukung. Rambut super kucel kayak tidak dikeramas berhari-hari, mata sembab, gigi bergemetar, dan air mata kering menghiasi pipinya. Serta tidak lupa, boneka sapi kesayangannya yang sudah mulai remuk ia peluki semalaman.

Yap teman-teman,

Claire syok.

Seperti yang kita ketahui, Claire sangat mengidolakan Elli. Kakak seniornya. Tetapi begitu mendengar kabar duka yang sangat menyiksa batinnya semalaman itu, dia pun langsung kehilangan semangatnya. Kenapa? Ya.. Kakak idolanya itu.. Menyukai si muka aspal itu.

Elli sangat cantik. Memang rambutnya sudah tidak sepanjang dulu, tapi dia tetap terlihat anggun. Sepantasnya dia mendapatkan pria yang lebih baik, seperti yang ada di dongeng-dongeng. Seorang pangeran sejati.. Berkuda putih.. Dengan penuh wibawa dan dengan otot..

TRING!

Tiba-tiba muncul wajah Ade Rai dengan badan supernya, menjadi pengantin pria Elli di hayalan Claire. Claire langsung cepat-cepat menghapus hayalannya. Lupakan soal otot. Lupakan.

Paling tidak.. Lelaki yang pantas mendampinginya tidak seperti dia. Bagaimana.. Kalau mereka sampai menikah..

Teng teng tereng.. Teng terereng... *BGM nada kawin* (?)

"Elli.. Apa kau bersedia mencintai orang ini, dalam susah maupun senang, suka maupun duka, dan sampai akhir hayatmu?"

"Aku bersedia."

"Dokter.. Apakah kau bersedia.."

"Hm."

"A-ah.. Baiklah.. De-demikianlah.. Ha.. Ha.."

"Selamat! Selamat!"

"Selamat! Elli! Dokter!"

"Terima kasih semuanya.."

"Hm."

"Ayo, kita foto dulu! 1.. 2.. Semua senyum!"

Claire langsung geleng-geleng kepala. Dia bahkan tidak bisa membayangkan wajah si muka aspal itu kalau tersenyum. Mungkin bakal mirip wajah voldemort lagi senyum. Ah, itu aja masih kebagusan!

Lalu saat mereka punya anak.. Kalau anaknya persis dengan orang itu..?!

"Elli, bawakan obat ini ke rak. Cepat ya."

"Ah, baik suamiku~!"

"Ibu! Mana peralatan penelitianku?! Cepatlah! Sebentar lagi mikroba ini akan membelah dirinya!"

"Sebentar anakku~!"

"ELLI!"

"Iyaa~!"

"IBUUU!"

"Iyaa~!"

"TIDAAKKKK! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN ELLI MENGHADAPI KEHIDUPAN MERANA SEPERTI ITUUU!" Claire mencak-mencak sendiri di kasurnya sambil melempar boneka sapinya ke atap rumah. Dengan nasib naas yang menimpa dirinya, boneka itu pun terjatuh dan mental ke kolong kasur. Elli yang baru saja datang hanya menatap Claire dengan penuh kekhawatiran.

"C-Claire? Sarapan sudah siap.. Ayo, makan dulu.. Atau lebih baik.. Mandi dulu..?" Melihat senyuman di wajah Elli, Claire merasa hatinya luluh.

"Baiklah Elli.. Tenang saja! Aku akan melindungimu!" Ujar Claire sambil berlari keluar dari kamarnya menuju kamar mandi. Sementara Elli, hanya plengo melihat tingkahnya itu.

Kemudian….

...

...

"... hei. Apa yang sedang kau lakukan?"

Merasa dirinya sudah ketahuan, Claire pun segera keluar dari kolong kasur pasien. Dokter pun menghela nafasnya.

"Ternyata anak kota zaman sekarang itu punya hobi yang semakin aneh sa.."

"INI BUKAN HOBI!" Bantah Claire, dengan muka memerah karena malu. Elli sedang pergi mengantar obat, jadi dia pikir ini kesempatan bagus untuk meneliti manusia satu ini.

"Hmm..." Lagi-lagi jawaban singkat padat tapi gak pernah jelas itu. Claire pun berdecak.

"Heh, kau! Selama ini kau tidak pernah berbuat yang macam-macam pada Elli kan?"

"Apa maksudmu?"

"Jangan sok lugu!" Claire membanting meja kerja Dokter. "Pokoknya selama aku ada disini, aku tidak akan membiarkan orang sepertimu dekat dengan Elli! Tidak akan!"

"Hm..." Claire mendecak lagi mendengar jawaban yang menurutnya tergolong songong.

"Kaau..!"

KREEKK

"Permisi Dokter.. Aku ingin memeriksa kondisi badanku.."

Claire langsung buru-buru mundur. Dan dilihatnya seorang wanita berambut pink, masuk ke dalam ruangan periksa. Dia tampaknya menyadari kehadiran Claire.

"Loh? Siapa gadis manis ini? Aku belum pernah melihatnya.. Pendatang baru?"

"Ah, salam kenal! Aku teman Elli.. Namaku Claire, selama beberapa minggu akan tinggal disini!"

"Menumpang." Tambah Dokter. Dengan sedikit penekanan.

"Ck!" Claire mendecak pada Dokter.

"Hahaha! Oh begitu! Salam kenal, aku Lilia. Pasien tetap di klinik ini. Aku adalah pemilik peternakan ayam disini."

"Oh begitu.. Hahaha!" Entah kenapa langsung terbayang di benak Claire berita di dalam radio waktu itu. Rupanya pemilik ayam itu, orang ini?

"Baiklah, bagaimana keadaanmu?" Dokter memulai pemeriksaannya.

"Ahh, aku sudah mulai baikan. Aku juga sudah sering melakukan pekerjaan rumah." Dokter terdiam mendengarkannya.

"Karena itu.. Aku rasa aku sudah tidak perlu rehabilitasi lagi.."

"Lebam di tumit, kantung mata, bibir memutih." Tiba-tiba Dokter memotong ucapan Lilia.

"E-eh?"

"Kau masih sering merasa pusing dan kehilangan keseimbangan kan? Dan lebammu itu adalah bukti bahwa kau pernah jatuh. Selain itu, kulihat kau juga jarang tidur. Dan bisa kutebak, lidahmu masih kurang peka terhadap rasa kan?"

"A-ah..."

"Terserah kalau kau ingin menghentikan rehabilitasi ini. Tapi resikonya, nyawamu sendiri."

"H-Hei! Dokter!" Claire langsung mencela. "Ja-jangan setegas itu.." Claire merasa agak tidak tega melihat wajah Lilia yang sangat sedih itu.

"... Tidak Claire. Dia benar. Penyakitku memang sudah parah." Ujarnya sambil tersenyum. "Baiklah Dokter, tolong obat yang seperti biasa ya. Dan bayarannya.." Dia terdiam sebentar. "Akan kuusahakan secepatnya." Jawab Lilia, kemudian pamit untuk pulang. Tersisalah Claire dan Dokter di klinik.

...

Sunyi.

"H-hei.."

"6.."

"Hah?"

"Kau nganggur kan? Carikan 6 daun obat biru dan 3 daun obat hijau."

"Eh! Enak saja kau me.."

"Di gunung banyak. Dari sini kau ikuti jalan saja. Lama-lama sampai gunung kok."

"Hei! Dengarkan ak.."

"Sekarang ya."

"Kenapa kau jadi menyuru.."

"Kau kira makan disini gratis?"

"Tunggu tapi kan aku..."

"Hm."

... Sialan.

-oOo-

SRAK! SRAK! SRAK!

"HAAARRGGHH! NYEBELINNN!"

Entah apa yang merasuki Claire, dia jadi mencabuti seluruh benda yang dia lihat di tanah. Yep, lalu dia masukkan semuanya dalam kantung plastik besar. Dan dia terus melanjutkan mencabut rumput sembari berkomat-kamit.

" . . . .sialan!"

Kenapa sih Elli harus suka sama dia?! Orang tanpa perasaan kayak dia?! Kenapa?! Kenapa?!

"KENAPAAAAAA?!"

Koak.. koak.. koak... *ceritanya bunyi burung di sore hari, terus latar belakangnya matahari terbenam gitu* (?)

-Malamnya-

"... Dokter.."

"Hm?"

"Apa kau melihat Claire? Dia belum pulang.. Padahal sudah malam.." Elli melihat keluar jendela. Hari sudah gelap. Yap, sudah pukul 7 malam. Tapi batang hidung Claire belum kelihatan juga. Sementara, Dokter hanya terdiam, kemudian tiba-tiba berjalan ke arah pintu keluar.

"Loh Dokter mau kema.."

BRAAKKK!

Tiba-tiba pintu klinik terbuka, dan muncullah sosok mengerikan penuh tanah yang membawa empat kantung plastik hitam besar di tangannya. Dia pun berjalan ke arah Dokter dan segera melemparkan kantung plastik itu ke arahnya.

SRAAKK!

"NIH! PUAS KAU!"

Kemudian dia langsung berlari menuju lantai dua. Elli pun menjadi panik dan segera menyusulnya.

"Claire? Claire! Tunggu! Apa yang terjadi?"

Sementara itu, Dokter, dengan empat kantung plastik penuh tanah, terdiam di tempat. Kemudian dia melihat ke dalam kantung plastik itu dan mendesah kecil.

"Apa saja sih yang dia cabut? Sampai sebanyak ini.. Benar-benar bukan manusia biasa.."

-Tengah malam, di kamar Elli-

"Mmm..."

Srek srek

Claire membalikkan badannya berulang-ulang kali. Dan kini… Kedua mata Claire terbuka lebar.

((AKU TIDAK BISA TIDURRRRRR!))

Mata Claire terbuka sepenuhnya. Yep, dia tidak bisa tidur. Sama sekali. Walaupun ditemani boneka kesayangannya yang baru saja dia temukan tergeletak di kolong kasur, dia tetap tidak bisa tidur. Entah kenapa.

Claire pun melirik ke arah Elli. Elli sudah pulas tertidur. Dia jadi tidak enak untuk membangunkannya. Maklum, sekarang sudah pukul 1 pagi. Siapa yang masih bangun? Kecuali dia keturunan vampire atau semacamnya.

"Auch!"

Claire merasa tangannya sakit. Benar saja, saat dia melihat telapak tangannya, darah keluar dari goresan-goresan luka yang ada disana. Kelihatannya dia terlalu bersemangat mencabut rumput.

"Aahh.. Apa boleh buat.."

Dengan malas, Claire pun berdiri dan turun ke bawah untuk mencari obat merah. Dia berusaha tidak menimbulkan suara apapun agar tidak membangunkan Elli.

Kemudian…..

Claire menuruni tangga, seorang diri. Dilihatnya ruang klinik yang benar-benar sepi. Claire mulai merinding.

"Aduh.. Ternyata klinik kalau malam-malam itu seram juga ya.." Ujarnya sambil berjalan menuju rak obat.

Kemudian matanya pun tertuju pada sebuah jas putih di atas meja resepsionis. Claire tertawa kecil begitu melihat ada lubang di pojok kiri bawah jas itu. Siapa penyebab lubang itu ada? Tentu saja Claire! Hohoho!

Sambil melihat ke kiri dan ke kanan, dia pun mengambil jas itu dan mencoba memakainya.

((Sebentar saja gak apa-apa kan?))

Jas putih itu sangat kebesaran di tubuhnya. Tapi memakainya saja sudah membuat Claire bangga. Dia merasa menjadi seperti seorang professor, hanya gara-gara memakai jas putih itu. Aneh. Claire mencium aroma jas itu. Aroma obat. Seperti aroma di rumah sakit yang dulu sempat sering ia kunjungi.

Sebenarnya dulu, Claire cukup tertarik di dunia kedokteran. Dulu, saat Elli masih kuliah dan sering praktek ke rumah sakit, Claire selalu membuntutinya. Bahkan dia sempat ingin mengikuti jejak Elli sebagai perawat. Tapi, mimpi itu langsung ditolak oleh guru dan teman-temannya. Alasannya karena dia liar. Katanya.

"Huh! Mereka memang menyebalkan! Aku bisa kok menjadi seorang wanita sejati!"

Claire pun mulai duduk di meja resepsionis, dan mulai menghayal jika dirinya adalah seorang perawat yang cantik, baik hati, seperti Elli.

"Ah, selamat datang! Apanya yang sakit?" Claire tersenyum sendiri di meja resepsionis seolah-olah ada tamu di depannya.

"Eh.. Kesannya kok gak enak banget ya? Jadi kayak restoran kalau bilang selamat datang.." Claire berbicara pada dirinya sendiri.

"Ehm! Hai! Hari ini apanya yang sakit?" Tanya Claire pada angin, sambil tersenyum pepsodent.

"Heh? Kok jadi kayak pasiennya sakit setiap hari? Salah-salah.."

"Ehm! Halo! Apa kabar? Bagaimana keadaanmu?" Claire mencoba malambaikan tangannya.

"Eh, tapi kesannya sok kenal banget ya.. Ahh.. Aku memang tidak cocok jadi perawat... Kalau begitu.. Jadi Dokter!" Claire membenarkan kerah jasnya, membetulkan posisi duduknya, meletakkan jari tangan di dagunya dan mengambil suara.

"Ekh! Ehm! Yak, tampaknya penyakit anda memang cukup berat.. Tapi INGAT! Seperti yang kita ketahui, penyakit itu adalah anugrah dari Tuhan juga! Jadi.. Anda harus menjalaninya dengan penuh semangat!" Claire mulai berdiri dan membanting tangannya ke meja, lalu tangannya dikepalkan ke atas, layaknya seorang pendemo.

"Kerahkan.. Jiwa dan raga! Seluruh iman anda! Percayalah! Dengan perawatan dan niat yang kuat, penyakit anda akan segera sembu.."

"Kau ini ngapain sih?"

...

Claire plengo. Dia mematung. Melihat orang yang ada di depannya.

"Do-dodo-do-do…" Claire gak bisa ngomong lagi. Dokter, hanya menghela nafas melihat Claire, yang sudah mulai memucat itu.

"Jangan khawatir. Aku akan pura-pura tidak melihatnya, asal kau segera melepaskan jasku dari tubuhmu."

Jawabannya gak membantu. Sangat gak membantu. Mendengar jawaban itu, bukannya membaik, wajah Claire bertambah merah. Dan malam itu, teriakan Claire terdengar begitu keras. Untungnya tidak ada yang bangun.

Beberapa menit kemudian…

"Maafkan aku..." Untuk pertama kalinya, karena sudah merasa malu tingkat dewa, Claire menundukkan kepalanya. Dia masih menutup wajahnya. Setelah ini, dia harus mempelajari cara untuk membuat orang lupa ingatan. Harus.

"Tidak bisa kupercaya.. Ada orang yang saat subuh melakukan hal seperti i.."

BRAAKKK!

"Hentikan! HENTIKAN! AKU TAU ITU MEMALUKAN!" Claire segera berdiri dari kursinya, dan menutup mulut Dokter. Sementara Dokter segera menepis tangan Claire dan menutup kupingnya.

"Hm. Bisa kau kecilkan suaramu itu? Hah.." Dokter terdiam sebentar. Lalu dia bertanya lagi.

"Kau mau apa malam-malam begini?"

"Aku..." Claire garuk-garuk kepalanya. Dia tidak menyadari luka di tangannya tampak semakin parah.

"Waoww!"

Brrukkk!

Claire terhentak sampai ia terjatuh.

"..." Dokter hanya menatapnya dengan tatapan tanpa rasa kasihan sedikit pun. "Kau itu.."

"Aku tau! Sudah! Hentikan ceramahmu!" Claire mengarahkan tangannya ke arah wajah Dokter untuk menghentikan dia bicara. Disitulah Dokter menyadari keadaan tangan Claire, dan langsung menggenggam tangannya.

"Wadaw! A-apa yang kau lakukan?!" Claire merintih menahan sakit.

"Luka ini?" Tanya Dokter dengan wajah serius-datarnya itu.

"Darimana lagi?! Tentu saja dari mencabuti rumput sialan itu.."

"Maksudmu.. Kau cabut pakai tangan kosong?!" Tiba-tiba Dokter langsung marah tanpa alasan. Claire hanya plengo melihatnya.

"I-iya..."

"Ckk! Diam disini! Aku akan segera ambil obat!"

"He? He? He?" Claire yang masih tidak mengerti apa-apa hanya menurut saja. Tak lama, Dokter pun membawa semacam antiseptik dan mengoleskannya ke tangan Claire.

"Wow waow! Apa ini!? Kenapa saki.. Aww! Wiw! WOAAWW!" Claire menjerat jerit layaknya ayam kejepit pintu. Jeritannya makin kencang tergantung dari bagaimana Dokter mengoleskan antiseptik itu.

"Tahan! Salahmu sendiri mencabut rumput beracun dengan tangan kosong!"

"R.. RUMPUT BERACUN?!" Claire heboh sendiri.

"Rupanya kau tidak bisa membedakan mana rumput beracun, mana yang tidak. Hm!" Claire pun tidak terima atas ejekan tersebut.

"Apa maksudmu?! Aku bisa membedakan kok!"

Gyyuuut!

Dokter menekan telapak tangan Claire.

"HIIIIYYYY!"

Claire bersumpah, ekspresi wajah yang barusan dibuatnya pasti super jelek. Untung yang ada di depannya ini bukan mamanya. Coba kalau iya, mamanya pasti sudah berguling-guling di lantai, terbahak-bahak melihat ekspresi menderita anaknya. Ya, mamanya memang seperti itu.

"Kalau kau mengerti, kau tak akan mau menyentuh rumput beracun itu. Lain halnya kalau kau memang berniat bunuh diri."

"B-BUNUH DIRI?!" Claire langsung pucat. Ternyata, rumput warna warni yang dia cabut tadi.. Salah satunya ada yang bisa membuatnya mati?!

"Dan asal kau tau saja ya.. Dari empat kantung itu.. Kau hanya mencabut 2 rumput obat biru, 1 rumput obat hijau, dan satunya lagi rumput daun merah. Ini yang beracun. Sisanya, rumput liar semua." Dokter sedikit menekankan pada kata 'rumput liar'. Sial, dia pasti berpikir aku tidak dapat membedakan mana rumput liar dan rumput obat. Tapi tunggu dulu.. Dia memeriksa 4 kantung itu? Semuanya?!

Claire pun melihat ke arah baju Dokter. Dia baru sadar ada sedikit noda tanah di bajunya. Mungkin dia memang memeriksa 4 kantung itu sungguh-sungguh sampai subuh begini. Tiba-tiba Claire jadi merasa tidak enak.

"Mmm.. Itu.."

"Karena itu, tugasmu masih belum selesai."

"...Hah?"

Dokter memberikan sebuah kertas pada Claire. Isinya adalah daftar-daftar judul buku mengenai rumput obat. Tapi.. Kenapa jumlahnya sampai 3 digit angka begini?!

"... Apa ini?"

"Daftar buku tentang rumput obat."

"Lalu kenapa kau berikan padaku?!" Tanya Claire.

"Kau tidak bisa membedakan rumput obat kan? Bisa kau pelajari disana. Perpustakaan. Belok kanan, lurus terus sampai mentok." Urat Claire pun mulai keluar.

"Tapi siapa juga yang mau baca buku sebanyak ini?! Memangnya.."

"Rumput obat."

"Hah?!" Urat Claire mulai keluar. Rasanya butuh kesabaran ekstra kalau mau bicara sama orang ini. Ngomongnya selalu setengah-setengah.

"Selama kau tinggal disini, kau harus mengumpulkan rumput obat setiap harinya. Menumpang itu tidak gratis tau. Jadi kau harus membayarnya dengan bekerja. Kau tidak punya uang kan?"

"Aah.. Ukh..." Claire tidak bisa membantah. Dia tidak punya uang. Ibunya hanya memberinya uang untuk membeli tiket kapal. Sementara tabungannya ludes untuk membeli perlengkapannya. Dia juga tidak mungkin meminta Elli untuk bertanggung jawab atas dirinya kan?!

"Jadi paling tidak kau harus tau mana yang merupakan rumput beracun. Tapi tidak masalah kalau kau mau bunuh diri sih.." Dua kali! Dua kali dia mengucapkan kata itu!

"Ukh... Baik! BAIK! Akan kubawakan rumput obat untukmu setiap hari! Dengan begitu tagihanku disini jadi gratis kan?!" Claire menyerah.

"Hm. Bagus." Claire menahan kakinya yang sudah gatal untuk menendang bokong orang songong ini.

Mulai sekarang, Claire harus membiasakan dirinya. Harus.

Di klinik kecil yang terletak di pelosok desa ini, dia akan tinggal bersama Elli. Perawat serba bisa yang anggun, cantik, manis dan baik hati. Satu kata untuknya, "sempurna".

Sekaligus dengan bonusnya, yaitu seorang Dokter tanpa nama yang tidak memiliki hati nurani, bermuka datar layaknya aspal yang baru di pel pake super pel, dan super pelit. Oh iya, satu lagi. Tukang ngutang.

Hanya satu kata yang tercipta untuknya.

S.I.A.L.A.N.

(-_-") ….