DESCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATED : T SEMI M
NOTE : INI DIA CHAPTER KE TIGA KAKASAKU. MAAF KALAU MASIH ADA TYPO DAN MASIH BANYAK KESALAHAN LAINNYA. MAKLUM MANUSIA TAK LUPUT DARI KESALAHA *DI GAMPAR* OKE HAPPY READING :)
Tanpa mereka sadari sejak tadi mereka mengobrol sepasang mata tengah mengawasi pembicaraan mereka. Makhluk berambut perak yang mengawasi mereka tersenyum sinis ketika mendengar kalimat Sasuke yang terakhir kalinya. Ia menatap Sasuke dengan tajam,seakan ingin mencabut nyawa orang itu. Sayang ia tidak ditugaskan.
Chapter 3
Hari ini sakura sudah kembali beraktivitas masuk kuliah seperti biasanya.
"Aaa, sakura aku kangen tau dengan mu" seruduk Ino memeluk Sakura begitu melihat sahabatnya di parkiran.
"ha ha ha, aku jangan kangen denganmu Ino" balas Sakura memeluk sahabatnya.
Hari ini dosen mereka masuk , jadi mau tidak mau mereka harus menghadiri kelasnya. Jurusan Sakura dan Ino adalah kedokteran, sedangkan Sasuke berada di kelas bisnis dan politik bersama sahabatnya Naruto.
Hari ini mereka memperaktekan memasukkan jarum suntik dan jarum infuse setelah menerima materi dari sang dosen. Tapi Sakura memperhatikan dosen tersebut dengan setengah hati karna di sampingnya berdiri Kakashi sang malaikat pecabut nyawa yang tengah menatapnya tersenyum, ia heran entah berapa kali Kakashi tersenyum kearahnya.
"AAWW" ringis Ino ketika Sakura menyuntikkan jarum infuse ke punggung tangan Ino. "Maaf" ucap Sakura pelan, dilihatnya darah tak kunjung keluar menunjukan kalau jarum infuse tersebut berada di jalur yang salah. Banyak bekas memar yang tercipta di tangan Ino karna sakura selalu salah dalam memasukkan jarum infuse.
"Coba disini. Lihat, ini adalah pembuluh darah yang cukup tebal meskipun tersamarkan karna berada sedikit dalam dari permukaan epidermisnya" tunjuk Kakashi di tangan Ino yang satunya lagi.
Sakura bingung karna Kakashi bahkan lebih tau banyak di bandingkan dengan dirinya, atau karna Kakashi adalah malaikat?
"Aku sering melihat para perawat memasukkan infuse ke tangan para targetku" sambung Kakashi lagi. Ya target yang dimaksud adalah manusia yang akan dicabut nyawanya oleh Kakashi.
Sakura menautkan kedua alisnya yang hampir menyatu. Dia melihat tangan Ino yang satunya lagi, di cobanya perlahan , di tepuknya punggung tangan wanita berambut blonde itu secara pelan, Ino mengepalkan tangannya agar pembuluh darah nya mudah timbul, kemudian Sakura mengusapkan kapas yang sudah di beri alkohol, perlahan namun pasti "TING" ujung jarum yang kelihatan tajam itupun ia masukkan dan menembus kulit epidermis Ino dan 'TARAAA'
"Yahooooo aku berhasil, kau benar Kakashi" ucap Sakura kegirangan.
"Kakashi?"Tanya Ino terlihat asing mendengar nama yang diucapkan sakura. Seketika Sakura terdiam dan melihat seisi ruangan sedang memperhatikan Sakura. ia menutup mulutnya dengan tangannya. oh tidak, ini memalukan. "Apa-apaan dia itu" samar-samar terdengar ocehan pelan dari rekan-rekannya di dalam kelas. menit berikutnya kepala bersurai pink itu tertunduk malu karna sikap spontannya menunggu lama suasana pun kembali seperti semula.
"Hey, siapa Kakashi? apa kekasih barumu?" Tanya Ino antusias. Tentu saja ia antusias, berhubung sudah lama Sakura tidak menemukan tambatan hati.
"Oh bukan, i-itu. Itu.. nama um. ." Sakura mengerlingkan mata hijau emeraldnya ke samping mencoba mencari jawaban yang pas untuk ia lontarkan. "anjing tetangga ku, iya anjing tetanggaku" ucap Sakura berbohong.
'apa? anjing tetangga, malaikat elit sepertiku disamakan dengan anjing tetangga, ukkhh astaga' batin si malaikat menepuk jidatnya.
"Kok bisa kau reflek menyebut kan namanya?" Ino semakin menginterogasi sahabatnya. "Tentu saja Ino, belakangan ini aku sering main dengannya dan menyebut namanya untuk melatih anjing bernama Kakashi itu, jadi kebawa-bawa deh" dusta Sakura.
Mata Ino menatap intens ke arah Sakura, sedikit tidak percaya , tapi yasudahlah, kalau memang sahabatnya berbohong pasti cepat atau lambat akan ketahuan juga.
"Oke sekarang gantian ya Sakura" ucap Ino setelah Sakura melepas jarum infuse dari tangannya.
.
.
.
"AAAWWWW, INOO" pekik Sakura, "ssh,Ino ini sudah yang kesepuluh kalinya, bahkan ini lebih banyak di banding kan aku yang menyuntikkannya padamu" ringis Sakura menahan sakit karna Ino lagi lagi salah menyuntikkan jarum infusnya.
"Maaf Sakura, sekali lagi ya" ucap Ino gugup, keringat sudah menetes dari keningnya. Ia melihat tangan Sakura yang sudah penuh dengan bekas memar. Ia pun bingung mau menyuntikkan dimana lagi.
"Cukup Ino. Kau bisa membuat pembuluh darah Sakura pecah" ucap Tsunade yang menjadi dosen mereka.
"go-gomen Tsunade –sama" Ino menjadi gugup karna merasa ia gagal. "Lanjutkan di pertemuan selanjutnya" ucap dosen yang berumuran setengah baya yang entah mengapa masih terlihat muda dan menarik.
Jam hari itupun selesai dan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.
.
.
.
Seperti biasa Ino dan Sakura menuju ke perpustakaan kampus. Dengan menunjukan kartu ID mereka kepada petugas perpustakaan Sakura dan Ino pun melangkah menuju rak-rak buku . Sakura mencari bacaan apa yang menarik, di jelajahinya rak demi rak dan buku demi buku, namun mata emeraldnya tertuju pada sebuah buku berwarna hitam berjudul "malaikat kematian" . Sakura lantas mengambil buku itu dan membawanya ke meja yang tersedia di lantai dua perpustakaan. Lantai dua adalah tempat untuk membaca buku.
Ternyata Ino sudah lebih dulu sampai di lantai dua. Tampaknya Kakashi sedang tidak memantau Sakura.
"Kematian? Kau membaca buku yang beginian?" Tanya Ino bingung melihat judul buku Sakura.
"Yeah, aku hanya ingin membacanya" ucap gadis bernama belakang Haruno itu. sahabatnya pun tak ambil pusing dengan buku pilihan sakura, karna pada dasarnya sahabatnya itu memang suka membaca buku yang unik dan menarik. Mereka berdua pun terhenyak dengan bacaan masing-masing. Di jelaskan di buku itu malaikat kematian yang menampakkan wujud mereka di hari-hari sebelum manusia mati. Mereka akan mencabut nyawa manusia bisa melalui mana saja, jantung,mata,tenggorokan,telinga atau bahkan pori-pori kulit manusia. Sakura menutup buku itu dengan keras. 'Percuma' pikirnya. Itu takkan mengubah apapun tentang kematian dirinya. ia memijitkan keninya yang terasa sedikit pusing.
"Hai nona" sapa Kakashi tiba-tiba dari arah jendela.
'mau apa kau' ucap Sakura dalam hati. kalau ia ucapkan melalui mulut takut sahabat blondenya itu akan berfikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Memperhatikanmu tentu saja" jawab Kakashi tersenyum.
'Kau, ukkhh' ringis Sakura dalam hati.
"Tenang lah" Kakashi melangkah menuju meja Sakura dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya. Ia terpaku pada judul buku yang Sakura baca atau lebih tepatnya buku yang baru saja selesai Sakura baca. "Buat apa kau membaca buku itu hm? Tak ada gunanya itu tidak membantumu untuk keluar dari lingkaran takdir" jelas Kakashi yang masih menatap buku di depan pembacanya.
'Siapa juga yang ingin melanggar takdir, aku pasrah, kalau aku memang harus mati, setidaknya aku ingin mati dengan senyuman'
Kakashi hanya tersenyum mendengar pernyataan Sakura. Baru kali ini ada manusia yang berkata seperti itu. Kebanyakan malah kehilangan semangat. Sakura bukan kehilangan semangat karna ia pasrah. Justru itu mendorongnya berbuat kebaikan.
.
.
.
Sakura memang berbuat kebaikan dalam beberapa hari menjelang kematiannya, yap satu hari lagi adalah hari dimana semua kenangan dunia ini akan menghilang, lembaran kehidupannya akan segera ditutup. Sakura semakin banyak berbuat kebaikan. Contohnya saja ia selalu membantu Kotetsu dan Izumo merapikan seisi perpustakaan, ia juga membuang sampah yang tergeletak di tanah atau lantai kampus dimanapun ia berada, membantu nenek-nenek dan orang buta menyebrang jalan, yah masih banyak lagi yang dilakukan Sakura.
"Besok ya" gumam Sakura melihat langit-langit kamarnya. Menatapnya seakan langit-langit kamarnya adalah angkasa yang sangat luas.
"Hai" sapa Kakashi yang tiba-tiba muncul dari langit-langit kamarnya.
"UUKKHH apa kau tidak bisa tidak datang secara tiba-tiba seperti itu tuan?" bentak Sakura marah karna kakashi yang mengagetkannya. Ia membalikkan tubuhnya menjadi posisi berbaring miring.
Malaikat berambut perak itu kini sudah memposisikan dirinya berdiri di samping sang gadis. Ia tertawa kecil melihat tingkah Sakura yang menggemaskan.
Selama Kakashi mengikutinya, Kakashi cukup banyak membantu , seperti ketika Sakura hendak terjatuh karna tersandung batu, Kakashi malah menolong Sakura dengan menggunakan kekuatan yang ia miliki, dan ketika membersihkan perpustakaan seorang diri Kakashi membantu Sakura meletakkan buku-buku pada tempatnya, khusunya di rak-rak yang tinggi. Untung saja kamera tersembunyi yang ada di perpustakaan sudah di manipulasi oleh Kakashi, kalau tidak bisa jadi masalah besar jika ada yang melihat buku-buku tersebut melayang diudara dengan sendirinya.
"Hm, kau tampaknya sudah siap ya" ucap Kakashi tersenyum. kelopak mata dengan bulu mata yang panjang menutup iris emerald itu rapat-rapat, ia pasrah, ya pasrah, tapi ketika ia menutup hijau emeraldnya yang terlintas adalah pemandangan istana malaikat yang ia kunjungi kemarin .
Flash back on
"Hm Kakashi" panggil Sakura yang tengah berbaring dikamarnya.
"Ya?"
"Sebenarnya asalmu dari mana? Apa dari surga atau dari neraka?" Tanya Sakura yang masih menerawang langit-langit kamarnya.
"Bukan surga ataupun neraka, kau tau kami itu di ciptakan dari setetes embun pagi hari. Setiap malaikat akan lahir di pagi hari , tapi hanya embun yang benar benar sempurna"
"Sempurna?" Tanya sakura yang kini mengalihkan pandangannya kearah pria yang sedang berdiri tanpa menginjakkan kakinya di lantai.
"Ya embun itu harus mempunyai ukuran tersendiri, dan harus di tembus oleh cahaya pertama dari matahari terbit dan kemudian kami akan tinggal di sebuah istana langit, kami biasanya menyebutnya dengan Amulthea" jelas Kakashi yang menatap jauh kedalam emerald Sakura. ia bisa melihat Sakura yang seeakan tertarik dengan kehidupan malaikat.
"Bolehkah aku berkunjung kesana?" Tanya sakura antusias. ia kini tengah duduk untuk mendengar jawaban lebih lanjut dari sang malaikat.
"Tidak, manusia tidak boleh berkunjung kesana" jawab Kakashi. Sakura meghela napasnya kecewa,pandangannya sedikit meredup. Ia hempaskan kembali tubuhnya keatas kasur .Diliriknya gadis berambut pink yang sedang menggembungkan kedua pipinya.
"Kecuali kau memakai ini" Kakashi merentangkan telapak tangannya kemudian muncullah kalung di tengahnya ada bentuk seperti bunga teratai dan setiap kelopaknya terbuat dari permata bening.
"Hm? Apa ini?" Tanya Sakura yang kembali memposisikan tubuhnya dari berbaring menjadi duduk, tangan lentiknya mengambil kalung dari tangan Kakashi. kalung itu terlihat sangat indah di mata emerald miliknya.
"Kau bisa menyembunyikan hawa kemanusiaanmu di tempat kami, tapi itu hanya bertahan 3 jam dan kemudian kalung itu akan kehilangan kekuatannya untuk 40 tahun kedepan" ucap Kakashi.
"Apakah benda ini memang diciptakan untuk membawa manusia ke tempat kalian?" Tanya Sakura yang mulai memakaikan kalung itu di leher jenjangnya.
"Tidak, aku yang menciptakannya" jawab Kakashi yang memandangi Sakura tengah kesusahan mengaitkan kalung tersebut di lehernya, Kakashi berinisiatif membantu sakura dnegan kekuatan yang ia miliki , dengan jari yang ia angkat perlahan kalung itu terpasang dengan sendirinya di leher jenjang Sakura.
"Kau menciptakannya, wow, tapi untuk apa?" Tanya Sakura lagi yang merasa belum. Sepertinya Sakura menjadi banyak bertanya sejak mengetahui tentang tempat sang malaikat.
"Entahlah,ku fikir akan ada seseorang yang akan menggunakannya" jawab Kakashi. 'Dan itu dirimu Sakura' lanjut Kakashi dalam fikirannya.
"Oh ya ngomong-ngomong apa kalian punya emosi seperti kami juga? Maksudku amarah dan ya apa kalian tidak punya perasaan apa-apa ketika mencabut nyawa seorang manusia?" Tanya Sakura membalikan tubuhnya setelah Kakashi berhasil memasangkan kalung pemberiannya di lehernya.
"ya , kami malaikat nona, tidak bisa membeberkan rahasia kami lebih dari ini" ucap Kakashi tersenyum.
Tiba-tiba kalung itu mengeluarkan cahaya dan merubah baju tidur Sakura menjadi gaun putih panjang tanpa lengan yang sangat indah, ada permata di bagian dadanya, motif bunga teratai berwarna hijau tua muncul di kaki gaun tersebut, gaun itu sungguh cantik, lalu muncul sepasang sayap yang keluar dari punggung Sakura, tapi bukan sayap seperti milik Kakashi, melainkan sayap menyerupai sayap kupu-kupu dan warnanya putih.
"Siap?" Tanya Kakashi, ia menggenggam tangan Sakura, kini ia dapat menyentuh Sakura secara fisik,karna mereka sudah sama sekarang. Gadis berambut pink itu pun mengangguk mantap , dan Kakashi mulai mengepakkan sayapnya begitupun dengan Sakura, mereka menembus bangunann apapun.
Pemandangan kota di malam hari dengan lampu-lampu yang menyala menambah kesan indah kota tempat kelahiran Sakura, ia sungguh takjub dengan keindahan kota dibawahnya, mata sakura tak henti-hentinya menatap kagum dengan apa yang ia lihat. sungguh luar biasa bisa melihat pemandangan indah seperti ini terlebih lagi dirinya dapat terbang. Mereka tiba di tengah hutan yang berada dekat sebuah danau. Hutan yang sunyi, hanya ada suara nyanyian jangkrik dan sewsekali gemerisik daun yang diterpa angin. suasana hutan itu cukup menyeramkan tapi ada unang-kunang terbang di sekitaran hutan sehingga kesan menyeramkan perlahan hilang, sinar bulan menerangi Kakashi dan Sakura, saat sinar bulan tersebut menyinari mereka cahaya pun muncul dari tubuh masing-masing.
"WOW" Sakura lagi-lagi takjub dengan apa yang dilihatnya, ia memandangi tangannya yang mengeluarkan cahaya yang lembut.
Kakashi berjalan beberapa langkah dari Sakura, ia mengangkat tangannya dan muncullah sebuah cahaya kuning dari tanah, "ayo Sakura" ucapnya mengulurkan tangan kearah Sakura. Ia pun berjalan mendekati Kakashi dan menggapai uluran tangan Kakashi.
Cahaya itu menembus jauh ke atas langit. "Ini sebuah jalan?" Tanya Sakura yang dibalas anggukan pria dibelakangnya , tubuh mereka terangkat melalui cahaya tersebut. Kini tubuhnya ia rapatkan dengan gadis yang membelakangi tubuhnya, ia memegang pinggang sang gadis. Awalnya Sakura sedikit terkejut, tapi entah mengapa ia membiarkan Kakashi melakukannya.
Malaikat bersurai perak yang melawan gravitasi bumi itu pun menyesap aroma dari surai pink milik Sakura, tangannya perlahan ia lingkarkan di pinggang Sakura.
"Wow lihat Kakashi, aku bisa melihat bumi dari sini" Sakura takjub melihat pemandangan bumi dari luar angkasa.
"Kau suka?" Tanya kakashi yang masih memeluk sakura. Sakura hanya menangguk. gadis itu benar-benar takjub melihat pemandangan planet dan bintang-bintang di luar angkasa. Ini benar-benar, sesuatu.
.
.
.
Sakura terlihat lebih takjub lagi ketika melihat sebuah pulau yang luas sekali dan pulau itu sangat-sangat indah, mirip keadaan dibumi hanya saja langitnya berhiaskan planet-planet, tidak seperti dibumi yang hanya menampilkan matahari , bulan , dan bintang. Di sini langit sangat jelas menampilkan pemandangan planet-planet hanya tidak ada bintang,langitnya berwarna biru seperti di bumi.
"Jangan terlampau terkejut, ini masih belum ada apa-apanya" bisik Kakashi yang berjalan di sebelah Sakura.
Sakura mengangguk megerti. Tampat ini sangat luas, ada danau putih seperti susu, dan ada danau yang sangat jernih sekali airnya. Sakura juga belum pernah melihat bunga-bunga yang tumbuh indah di tempat ini, dan aromanya sangat wangi sekali. Ada bunga yang kelopaknya dari berlian, dan serbuk sarinya berupa mutiara yang berukuran kecil, ada banyak sekali pohon dengan buah-buah yang unik. (author mulai bingung), di sekitar danau ada pohon yang daunnya berwarna putih ,Sakura pikir itu salju tapi begitu ia melihat lebih dekat ternyata itu daun.
Kini mereka melangkah masuk menuju halaman istana, pagar tinggi dari emas pun terbuka begitu Kakashi menempelkan telapak tangannya disisi pagar istana, dan nampaklah para malaikat yang sedang beraktivitas di sekitas istana. Oh Sakura dapat melihat banyak makhluk tampan dan cantik yang berjalan di sekitar istana.
"Itu pohon apa?" Tanya Sakura pada Kakashi. yang dimaksud Sakura adalah sebuah pohon yang berada di halaman istana dan di kelilingi dengan pagar emas. Dedaunan pohon tersebut berbentuk oval tanpa tulang daun.
"Itu pohon kehidupan, di setiap helai daunnya terdapat nama manusia, satu helai daun satu nama manusia. Ketika daun itu menguning malaikat malaikat pencatat akan mencatat nama yang ada di helai daun yang menguning tersebut di sehelai kertas, berikutnya mereka akan mengambil buku catatan kehidupan kalian di sebuah ruangan seperti perpustakaan dan membawanya kehadapan pemimpin, selanjutnya pemimpin akan menugaskan seorang malaikat untuk menyabut nyawa orang tersebut. Setelah nyawa tercabut arwah manusia akan di bawa beserta buku amalnya kekehadapan tuhan untuk di hakimi" tukas Kakashi pelan. Diliriknya Sakura yang kagum dengan pohon besar di hadapannya.
"Lalu, manusia yang lahir bagaimana?" Tanya Sakura ingin tahu lebih banyak.
"Saat bayi berumur 4 bulan maka roh di kirim kepada janin tersebut, sebuah daun akan tumbuh namun tanpa nama. Setelah orang tua memberikan anak tersebut nama untuk sang bayi barulah nama akan muncul di daun dengan sendirinya, begitu juga dengan buku amal yang akan dengan sendirinya mencatat perbuatan mereka" jelas Kakashi lagi.
Mereka melangkah masuk ke istana, dan betapa terkejutnya Sakura melihat isi di dalam istana tersebut, ini begitu indah, cahaya putih menyelimuti isi istana tersebut, otaknya tak dapat memeperkirakan berapa luas istana yang sekarang ia masuki. Namun disisi kirinya ada lukisan seorang malaikat dengan sayap emas, mata hijaunya memandangi lukisan tersebut.
"Itu pemimpin kami" ucap Kakashi ketika melihat gadis disebelahnya memandangi sebuah lukisan. Sakura hanya ber 'oh' ria mendengar ucapan Kakashi. matanya kini tertuju pada lantai yang ia pijak, lantai kaca dan di bawahnya mengalir air dan pada dasarnya tumbuh berlian yang sungguh cantik.
Sakura baru menyadari ada alunan melodi yang begitu lembut dan indah.
"Itu melodi apa?" Tanya Sakura. Kakashi tak menjawab pertanyaan Sakura,ia malah menarik tangan sang gadis menuju sebuah tempat, dan disinilah ribuan harpa mengeluarkan melodi yang indah, satu harpa di mainkan oleh satu bidadari. Y I. Sakura sungguh terbuai dengan keindahan wajah mereka. Mungkin artis-artis dunia kalah dengan keindahan wajah mereka. Rambut yang senada dengan warna emas, mata sewarna biru lautan,kulit putih seputih salju, bibir merah semerah strawberry, tangan lentik, dan yah sempurna, sangat sempurna.
Kakashi mengajak Sakura ke tempat yang lainnya dimana ada sebuah bola besar dan menampilkan aktivitas para manusia.
Kakashi melirik kalung yang Sakura pakai mulai berubah warna menjadi perak menandakan waktu Sakura berada di sini akan segera habis.
"Ayo pulang" ajak Kakashi. Tapi sepertinya Sakura berat hati meninggalkan tempat yang indah ini.
"Baiklah" Sakura mau tak mau mengikuti perintah Kakashi. Dan mereka pun turun ke bumi.
TO BE CONTINUE
terima kasih ya yang udah review. sejujurnya saya pusing tujuh keliling bikin ni cerita. bingung mau di bikin sad ending apa happy ending, kalau bisa kasih saran dong sekalian revie *modduud -_-'* . dan selanjutnya saya ucapkan terimakasih buat :
Taskia Hatake 46 : iya taskia, saya memvavoritkan kakashi sih, dia itu keren banget, aku juga gak tau gimana jadinya kalau malaikat pencabut nyawa yang dikirim ke hadapanku setampan kakashi. rasanya pengen nempel terus sama kakashi *ditabok* T_T. terimakasih buat sarannya. sepertinya saya menemuakan sahabat baru juga yaang bernama typo :v . di chap ini udah mulai saya perbaiki kok. arigatou tattebayoo~
kiroy 123: oke oke siippp. bakalan dilanjutin kok sampai ceritanya tuntas tuntas tuntas.. tetap di tuntas (emang acara gosip :V)
yosh makasih reviewnya. selanjutnya yang pada baca pleassseee *puppy eyes* isi dong kotak revie yang ada di bawah ya :) *senyuman termanis* .
