Author note:

Halo semua! Apa kabar?

Padalah besok masih ulangan, tapi author nekat malah main ff.. Ckck.. Jangan ditiru ya! (?)

Yap, langsung saja! Update chapter 3~ yeay! Maaf kalo gaje, dan segala macem kekurangan lainnya!

Semoga menghibur! Mohon Kritik dan sarannya!~ ^^

-Lutanima-

.

.

.

"Loh? Claire? Pagi-pagi begini mau kemana?" Tanya Elli di meja resepsionis.

"Perpustakaan!"

BRAK!

Claire segera menutup pintu klinik keras-keras, lalu berjalan ke perpustakaan. Mau tidak mau, dia harus menuruti perkataan si psikopat muka aspal itu. Yep, sebagai imbalan-atau-semacamnya itu, Claire harus mengumpulkan rumput obat setiap harinya. Karena itu, di pagi hari yang sebenernya-sama-sekali-gak-cerah-baginya itu, dia akan mencoba menjadi anak rajin, di perpustakaan. Yang sebelumnya..

Sama sekali tidak pernah ia lakukan.

"Lurus terus.. Sampai mentok.." Ujar Claire, sambil berjalan terus menyusuri jalan setapak.

Dan.. Dia sudah mentok.

Dilihatnya bangunan setinggi menara di depannya. Buset?! Ini perpustakaan? Kurang gede apa coba? Pantas saja si muka aspal itu bisa menuliskan judul buku sampai berentet begini! Perpustakaannya aja sebesar ini!

Dengan agak sedikit ragu, Claire pun membuka pintu perpustakaan itu.

"Permisi..."

Begitu dia masuk, yang pertama kali dia lihat adalah dunia buku. Yep. Ini-luar-biasa-banyaknya. Bahkan sampai ke lantai dua! Astaga.. Hebat.. Hebat..

"Mmm.. A-anu.."

Claire yang masih mangap pun tersadar, dan segera menutup mulutnya. Dia pun menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis berambut hitam yang baginya kelihatan lemah.

"P-perpustakaannya ba-baru buka.. J-j-jam 10.00..." Ucapnya terbata-bata. Hoi, baru belajar ngomong ya?

Lalu Claire baru tersadar setelah menyimak kata-kata gadis itu dengan baik. Claire melihat ke arah jam tangannya.

Pukul 06.00

...

Rupanya dia terlalu bersemangat.

"Tapi.. Khusus untuk hari ini.. Tolong bukalah pagi demi aku! Kalau tidak aku akan tertimpa bahaya besar! Sangat besaarr! Tolong aku!" Claire mendekap tangan orang itu. Dan aktingnya pun dimulai. Orang itu langsung pucat.

"Ba-ba-bahaya...?! Ga-ga-gawat.. Silahkan!" Ujarnya terburu-buru.

"Hehe, makasih!" Claire nyengir. Tampaknya gadis ini cukup polos. Untuk dimanfaatkan, tentunya. Rupanya, sifat licik Claire muncul lagi.

Kemudian…

"Obat.. Obat.. OBAT DIMANA?!"

BRUK!

Claire terjatuh di lantai. Sudah hampir 30 menit dia berputar-putar, namun dia tidak menemukan buku yang ia cari. Dari tadi yang dia temui hanyalah "Kisah menawan sang pahlawan, mayor kita semua!" Atau "Lelaki sejati? Itulah mayor!" Dan juga "Best Seller! Kisah cinta masa muda terindah! Mayor at the Paris."

Apa pula itu?! Dan siapa pula yang mau membaca BUKU SUPER MENCURIGAKAN KAYAK BEGITU?!

Oke. Claire mulai emosi.

Gadis itu pun mendekati Claire.

"A-ada yang bisa.. ku-kubantu...?"

Bukannya tersenyun, Claire malah memelototi gadis itu. Sial. Setelah 30 menit Claire manjat-manjat untuk melihat judul buku di paling atas, bersin-bersin karena debu yang ada di beberapa buku, dan pegel linu karena sudah beberapa kali keliling-keliling.. Dia baru tanya 'ada yang bisa dibantu' SEKARANG?! Oh Harvest Goddess..

"A-ada apa?" Tanya gadis itu sambil mundur beberapa langkah. Sadar Claire memelototi dirinya.

"Kaauu..." Claire pun menghela nafas. Percuma dia marah dan buang-buang energi. "Bisa tolong perlihatkan buku tanaman obat dimana?" Gadis itu langsung tersenyum.

"A-ah! Kalau itu ada di lantai dua! Coba kau tanya dari tadi.. Jadi tidak perlu berputar-putar di lantai satu..."

...

Claire berusaha sekeras mungkin menutup mulutnya yang sudah penuh dengan beribu umpatan untuk gadis di depannya ini. Tahan Claire. Jangan keluarkan uratmu sekarang.

-Kemudian-

"Rangkuman mengenai tanaman obat.."

Claire membaca satu persatu judul buku itu. Dia memutuskan untuk mengambil buku dengan judul 'Rangkuman tanaman obat, super praktis, singkat, padat, yang pastinya jelas!'. Walaupun judulnya singkat, tapi tebelnya udah ngalahin kamus dunia. Hebat bener.. Apa isi buku ini?

"Baiklah, ayo kita pelajari!"

Claire pun membuka halaman pertama dan..

Brak!

Claire langsung menutupnya lagi.

Tubuhnya mulai berkeringat. Dia gak salah liat kan? Barusan itu.. Dia melihat tulisan kecil-kecil tanpa spasi. Tidak mungkin dia harus membacanya kan?!

Claire mulai membukanya lagi per halaman, kali ini lebih cepat. Bahkan semua buku yang ada di rak itu dia coba buka satu persatu.

. .

"WOHH! BAGAIMANA AKU BISA MEMBACA BUKU INI?!"

BRAK!

Tanpa pikir panjang dia pun membanting buku itu. Gadis penjaga perpustakaan itu segera naik dan menghentikan Claire sebelum bertindak lebih jauh.

"A-ah! Hentikan... Nanti bukunya rusak.." Ujarnya.

"Kenapa... Kenapa buku ini isinya tulisan semua..?!" Claire merintih. Sumpah, pasti mukanya kelihatan jelek. Banget.

"I-itu karena di rak ini memang buku seperti itu semua.. Ka-kalau mau aku punya yang bergambar.. dan lebih mudah.. I-ini.." Dengan mudahnya gadis itu mengambil salah satu buku di rak, dengan tebal gak sampe 50 halaman, dan isinya gampang sekali dibaca.

"... KENAPA GAK BILANG DARI TADI..." Kalau Claire bisa nangis darah, dia akan melakukannya dari tadi.

"K-kau kan tidak tanya.."

...

Lupakan Claire. Tahan. Sabar. Tarik nafas. Ayo, kita belajar.

-oOo-

Setelah sekitar 40 menit membaca buku itu di perpustakaan, Claire merasa jauh lebih mengerti. Dia sudah mulai bisa membedakan mana yang beracun, dan mana yang tidak. Lewat gambar setidaknya. Kemudian, Claire memutuskan untuk meminjam buku itu.

"Mmm.. Maaf.. Boleh kupinjam buku ini?" Tanya Claire.

"A-ahh.. Bu-buku itu.. Kelihatannya kau akan membutuhkannya nanti.. Ja-jadi.. Kuberikan.. Untukmu.." Claire langsung melotot. Ternyata dia baik juga.

"Su-sungguh?!"

"I-iyaa.."

Tanpa pikir panjang, Claire langsung memeluk gadis itu.

"Wuaaahh! Kau ternyata baik hati! Terima kasih! Mulai sekarang kita akan jadi teman ya!"

"Te-teman..?" Muka gadis itu memerah malu.

"Ya, oh iya, ngomong-ngomong aku Claire! Kau siapa?"

"Ma-Mary.."

"Oh begitu! Salam kenal, Mary!"

Claire sangat senang. Dengan memiliki buku itu, dia dengan mudah bisa membandingkan mana rumput beracun dan tidak. Tapi buku itu kelihatan mahal.. Karena gambarnya sangat bagus.. Apa benar dia boleh memilikinya?

"Mmm.. Tapi gak apa-apa nih aku ambil?" Tanya Claire.

"Tidak apa kok.." Ahh, Gadis ini memang baik hati. "T-toh.. Buku itu gak laku disini.. S-Siapa juga yang ma-mau baca buku yang bahkan anak kecil juga ngerti i-itu.." Ujarnya sambil tersenyum kecil.

... Mmm... Boleh kutarik kata-kataku tadi?

-Sore hari, di klinik-

"Inii~!"

Claire memberikan sekantung plastik berisi rumput obat ke Dokter sambil tersenyum bangga. Dia sangat yakin kali ini, meskipun buku itu untuk anak-kecil-atau-apalah-itu, buku itu sangat membantunya.

"Hm?" Dokter pun mulai memeriksa tanaman itu satu persatu. Kemudian dia melihat ke arah Claire.

"... Buku apa yang kau pinjam?"

((Yes! Akhirnya! Hasil kerjaku diakui juga!)) Pikir Claire.

Dengan bangga Claire menunjukkan buku keramatnya itu pada Dokter.

"Lihat ini! Jeng jeng!" Setelah memperhatikan buku itu, Dokter langsung menghela nafasnya. "Pantas."

"He?"

"Di buku 'mengenal dunia tumbuhan seri bergambar' untuk anak-anak begitu, kau tidak akan bisa membedakan mana tumbuhan yang masih layak dikonsumsi atau tidak."

Dokter mengambil salah satu tanaman yang Claire petik dengan sarung tangan, dan membalikkan tanaman itu. Jeng-jeng~ Rupanya ada teman-teman di balik tanaman yang dibawa Claire.

"W-WUAH! APA ITU?!" Tanya Claire sambil mundur menjauh dari Dokter.

"Ini jamur. Dan ulat. Makanya, pelajari baik-baik."

"J-JADI.. Ta-tadi aku menyentuhnyaa?!" Claire langsung memucat dan segera berlari ke kamar mandi. Sementara Dokter menghela nafasnya. Rupanya dia masih mencabut rumput dengan tangan kosong. Percuma dinasehati juga.

Kemudian melirik ke arah buku yang ada di samping mejanya. Buku yang Claire pinjam tadi. Dan membuka halamannya satu persatu. Tulisan dengan font sebesar hampir setengah halaman itu, nampak sangat jelas dan terbaca bahkan dari jarak 5 meter sekalipun.

'Ini namanya B.U.N.G.A L.I.L.I.'

Lalu ada gambar bunga lili yang cukup besar di halaman itu. Dokter meringis.

"Ini sih beneran buat anak kecil.. Dia itu.."

-Malamnya-

"... Huh.."

" Ada apa Claire? Masakanku tidak enak?"

"Bukan begitu..."

Saat ini, Claire dan Elli sedang makan malam bersama. Dokter sedang mandi, jadi dia masih berdua saja dengan Elli. Claire pun menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada si muka aspal itu. Lalu berbisik pada Elli.

"Elli.. Maukah.. Kau mengajariku cara mencari.. Tanaman obat yang baik dan benar..?" Tanya Claire. Dia memutuskan untuk tidak bilang apa-apa soal imbalannya kepada Dokter. Dia tidak mau Elli menanggung biaya hidupnya selama disini.

"Hmm? Ada apa? Kok tiba-tiba tertarik pada tanaman obat begitu?" Tanya Elli, terkejut.

"Sudahlaah! Ajari saja aku.. Oke?" Paksa Claire.

"Mmm.. Baiklah. Tapi jujur aku tidak terlalu mengerti mengenai tanaman obat. Karena itu bukan bidang spesialisku. Lebih baik kau tanyakan pada Dokter.."

"Siapapun selain dia, Elli?!"

"Kenapa denganku?"

Claire langsung menoleh ke belakang. Dokter muka aspal itu sudah tepat berada di belakangnya. Dan yep. Dengan rambut setengah basahnya. Claire pun risih melihatnya.

"Hoi, muka aspal. Rambutmu masih basah tuh!"

"Hm? Ini? Biarkan saja. Nanti juga kering sendiri." Ujarnya, sambil mengambil posisi duduknya. Lalu makan.

"Ck.. Terserah!" Claire pun melanjutkan makannya juga. Tapi dia sadar. Elli kemana?

Tiba-tiba Elli datang membawa sebuah handuk, dan meletakkannya ke rambut Dokter.

"Ini Dokter. Tidak baik kalau anda sampai sakit karena masuk angin." Ujar Elli sambil mengeringkan rambut Dokter.

"Hm? Ah.. Aku bisa sendiri."

"Tidak usah, Dokter makan saja dulu. Aku sudah selesai, jadi.." Elli agak tersipu.

PRAK!

Claire menggigit sumpitnya sampai patah sebelah. Lalu dia berdiri dan berlari menuju kamarnya.

"Aku sudah selesai. Aku duluan."

"Eh? Claire.. Tapi masih ada si.."

BRAK!

Dari suara pintu yang terdengar barusan, nampaknya Claire sudah masuk ke dalam kamarnya.. Mm.. Ralat. Kamar Elli sih… Dan dia menutup pintunya rapat-rapat. Dokter menggeleng-gelengkan kepalanya, bersiap-siap untuk memanggil Gotz kalau-kalau pintu rumahnya rusak. Sementara Claire, di dalam kamarnya, segera membaringkan tubuhnya ke kasur, dan masuk ke dalam selimutnya.

Menyebalkan.

Dia merasa dirinya bagaikan serangga pengganggu diantara mereka berdua. Dia masih tidak rela kalau Elli menyukai laki-laki itu. Tapi melihat wajahnya saat Elli bersama muka aspal tadi itu..

BUK!

"Ihhh! Aku sebaalll!"

BUK! BUK! BUK! BUK!

Claire memukul boneka sapinya itu berulang kali. Boneka itu hanya pasrah saja. Ya iyalah, dia kan boneka.

"Hah.. Kenapa sih.."

Claire mulai merasa sesak di hatinya. Dia kira selama ini, dialah yang paling mengerti Elli. Tapi ternyata, setelah sampai disini, dia baru tau kalau dia itu salah. Justru masih banyak hal yang dia tidak ketahui tentang Elli. Termasuk soal muka aspal itu. Sejak Claire ada disini, dia menyadari bahwa tatapan Elli hanya tertuju pada manusia aspal itu.

Ya, dia memang cemburu.

Dia merasa.. Kakaknya telah direbut, oleh lelaki yang sama sekali tidak disukainya.

Dan tanpa sadar..

Claire pun terlelap dalam tidurnya.

-oOo-

Tik. Tik. Tik.

"Mmm?"

Claire membuka matanya. Gelap. Bagus. Claire terbangun di tengah malam. Lagi-lagi.

"Ck... Kenapa harus bangun di tengah malam sih?" Claire mencoba mencari posisi tidur yang enak. Sia-sia. Matanya tetap terbuka.

Kesal dengan apa yang terjadi pada dirinya itu, Claire pun beranjak dari kasurnya dan melirik ke arah Elli. Yap. Elli tidur dengan pulasnya. Claire pun menghela nafas. Dan tiba-tiba, dia teringat akan buku miliknya yang ketinggalan di bawah.

((OH IYAA! BUKUKU!))

Claire pun segera berdiri. Panik. Jangan-jangan buku itu sudah dijadikan bungkus gorengan sama Dokter! Hei.. Meskipun itu buku bergambar anak-anak, buku itu tetap berguna untuk Claire!

Kreet

Claire membuka pintu perlahan-lahan, memastikan tidak ada siapa pun, lalu turun ke bawah.

-oOo-

"Aahh, syukurlah masih adaa!"

Claire segera memeluk buku keramatnya itu. Rupanya, buku itu tidak dijadikan bungkus gorengan oleh Dokter. Eh? Emang di desa pelosok begini ada gorengan?

Claire menatap bukunya itu. Kemudian dia membuka satu persatu halamannya, dan terdiam. "Memang sih ini buat anak-anak.." Claire menghela nafas.

Dia gagal lagi. Yep. Tapi paling tidak dia sudah bisa membedakan mana rumput beracun dan tidak. Namun, belum untuk yang layak dikonsumsi atau tidak.

"Lagi-lagi kau.."

Claire menoleh ke arah sumber suara. Yep. Muka yang tidak asing lagi. Datar semulus aspal. Tapi kali ini dia memakai piyama dan rambutnya agak acak-acakan. Entah kenapa kalau begini dia tidak terlalu terlihat culun. Ta-tapi Claire tetap tidak suka pada muka ngajak ributnya!

"A-apa?" Tanya Claire, sambil menyembunyikan buku miliknya di belakang tubuhnya.

"Hah.. Kurasa aku harus panggil Haris kemari untuk berjaga tiap malam.."

"Aku bukan maling!" Teriak Claire, lalu sadar suaranya terlalu keras, dia pun menutup mulutnya.

"Lalu apa yang kau lakukan lagi-lagi di tengah malam begini?"

Dan apa yang kau lakukan, setiap malam selalu menghampiriku? Rutuk Claire dalam hati.

"Bukan apa-apa. Hanya.. Mengambil buku ini.. Dan tidak bisa tidur." Ujar Claire.

"Buku?" Dokter melihat ke arah meja resepsionis. "Ah.. Buku bergambar itu.."

"Aku tau itu buku bergambar anak-anak! Tapi aku hanya bisa mengerti lewat buku itu! Buku lainnya isinya tulisan semua! Aku gak ngerti!" Muka Claire super kacau. Air mata sederas air terjun keluar dari matanya.

"Iya, iya. Hah.. Bersihkan dulu mukamu." Dokter pun duduk di meja resepsionis dan mengeluarkan sebuah buku. Lalu melambai-lambai pada Claire. "Sini."

"Heh?" Tanya Claire sambil menghapus air mata kekesalannya.

"Duduk. Mau kuajari tidak?"

Claire langsung mundur. Diajari? Diajari orang ini?! Dia?! Dia!? Mau sih.. Tapi aku kan benci dia?! Tidak-tidak.. Aku tidak akan mau.. Tapi.. Ini kesempatan bagus untuk bisa belajar mengenai tanaman obat! Tapi.. Dia?!

Merasa dicemooh, Dokter pun menghela nafas. Dan berdiri dari kursi.

"Ya sudah kalau tidak ma.."

"TUNGGUUUUU!" Claire dengan cepat duduk di kursi yang ada di depan meja resepsionis. Dokter hanya memandangnya dengan tatapan mau-apa-kau-ini.

"Hehe.. Ayo. Ajari aku.. Pak guru?"

"..." Dokter terdiam. "Baiklah, ayo kita mulai." Dia pun menyerah, dan memulai pelajarannya.

Beberapa menit kemudian….

"Jadi, dengan adanya bakteri ini, dia akan memperoleh sebuah bakteri baru yang akan menyebabkan tumbuhan ini berekasi dengan reaksi ini, lalu akan membuat sebuah reaksi baru yang jika disatukan dengan reaksi ini, akan membuat reaksi ini, dan menyebabkan reaksi ini menjadi reaksi ini."

"..." Claire memelototi buku yang Dokter keluarkan tadi, dan sedang dijelaskan olehnya itu. Matanya mulai memerah.

"Mengerti?"

Dengan kedua mata memerah yang melotot, Claire menatap Dokter. Kalau orang biasa, melihat ekspresi Claire saat ini, entah sudah kencing di celana, atau sudah kabur sejak tadi. Tapi si Dokter satu ini masih damai-damai saja. Ckck, kebal juga dia.

"Bagaimana..."

"Hm?"

"BAGAIMANA AKU BISA MENGERTI SEMUA HAL BELIWET ITU?!" Claire membanting meja. Keluar juga sifat aslinya.

"Beliwet? Bahasa apa itu? Maksudmu ribet? Ah.. Tidak juga."

"Ya, tapi caramu menjelaskan itu.. Bikin semuanya jadi beliwet.. OM!" Claire sudah hilang kesabaran. Otaknya berasap. Makanya dia mulai kehilangan kewarasannya.

"O-OM?!" Dokter yang tadinya damai-damai saja, mulai bereaksi sekarang. Claire pun nyengir sinis. Yes, ketemu juga titik kelemahannya. Rupanya dia tidak terima dipanggil om-om.

"Dasar OM-OM! OM TUA! OM-OM!" Claire meledek Dokter.

"... Umurku masih 20 tahun..." Urat Dokter mulai kelihatan. Rupanya dia masih seumuran Elli? Hahaha, melihat ekspresi Dokter sekarang, Claire merasa menang.

"Dan aku 17 tahun! Kan lebih tua! Makanya, sudah tua terima saja, om!" Dokter nampak emosi. Tapi tetap menjaga image coolnya.

"Hee.. 17 ya? Pantas saja masih gemar baca buku anak-anak. Bocah." Claire naik pitam. Wuoh! Orang ini bisa nantang juga ternyata! Oke, Claire terima!

"Biarin! Dari pada jadi om-om pemabuk! Bocah polos jauh lebih baik!" Claire mengangkat lengan tangannya. Buset! Kamu mau apa nak? Tawuran?

"Maaf saja ya, aku bukan pemabuk. Dan apa katamu tadi? Bocah polos? Orang yang diam-diam memata-matai seseorang dengan sembunyi di kolong kasur pasien itu.. Polos?" Muka Claire memerah. Rupanya dia membicarakan tentang dirinya.

"Siapa juga yang memata-mataimu!?" Jawab Claire, agak panik. Tapi sok gak tau.

"Oh ya? Lalu apa argumenmu bisa berada di kolong kasur pasien?"

"A-... Aku..." Claire terdiam sebentar. Mampus. Jawab apa nih? "M-mencari.. boneka sapiku yang hilang disana!" Jawab Claire. Berbohong tentunya. Mana mungkin Claire bilang kalau dirinya memata-matai Dokter? Bisa mendadak gila karena kege-eran nanti.

"Boneka.. Sapi?" Dokter speechless. Alisnya turun satu. Wajah Claire langsung memerah. Sial. Pasti dia dianggap bocah betulan sekarang.

"Maksudku.. Bukan boneka kesayangan seperti di film-film.. yang harus kupeluk tiap malam baru bisa tidur! Itu.. Cuma pemberian dari mamaku yang sejak kecil kubawa-bawa lalu tanpa sadar kebawa kesini..!" Claire panik, malah membongkar aibnya.

"Lalu, dari semua tempat di klinik, kenapa harus di kolong kasur pasien nyarinya?" Dokter pura-pura bego. Claire makin panik. Di dalam hatinya dia tau, kelihatannya Dokter sudah tau dia berbohong. Tapi Claire tidak akan menyerah!

"Bu-bukan! Itu tidak seperti yang kau pikirkan!"

"Tunggu.. Berarti kalau bonekanya bisa ketemu disitu.. Itu artinya kau membawa-bawa bonekamu ke kamar pasien?"

"Ti-tidakk! U-untuk apa aku membawa boneka sapiku ke kamar pasien! Aku selalu menaruhnya di kamar Elli!"

...

Hening.

"Heh. Kau ngaku bohong juga." Claire terdiam. Dia baru sadar dia salah ngomong. Dia gagal bohong.

"T-Tunggu! Ta-tapi.." Melihat ekspresi Dokter yang seolah berkata aku-sudah-menang-hohoho, Claire pun hanya bisa berdecak dan menyembunyikan wajah memerahnya.

"Terserah! Pokoknya sekarang aku mau belajar dulu!" Claire mengalihkan perhatian, lalu melanjutkan membaca buku Dokter, yang hampir isinya tulisan semua. Walau gak separah buku di perpustakaan. "Dan aku tidak butuh bantuanmu!" Tambah Claire.

"Baik, silahkan." Dokter pun naik ke lantai dua, meninggalkan Claire yang berkoma-kamit sendirian di lantai satu.

20 menit kemudian….

"Ck."

Sial. Desah Dokter.

Berapa kali pun Dokter membolak-balikkan tubuhnya, dia tidak bisa tidur. Ini gara-gara gadis sial itu, pikirnya. Kenapa setiap malam dia selalu berbuat ulah? Ah.. Tidak. Lebih tepatnya, kenapa dirinya harus bangun setiap gadis itu berbuat ulah?

Dokter pun bangun dari kasurnya, dan mengacak-acak rambutnya. Tiba-tiba dia jadi mengingat kejadian tadi. Dan dia pun bergumam sendiri.

"Tidak bisa kupercaya.. Di umur 17 tahun masih tidur sambil memeluk boneka. Dia benar-benar bocah."

Kemudian, dia terdiam dan teringat satu hal lagi. Dia segera berdiri dan melihat dirinya di cermin.

"… Aku belum tua kok." Rupanya, Dokter masih kepikiran ledekan Claire.

Karena tidak bisa tidur, Dokter memutuskan untuk membuat minuman di lantai satu. Dia pun turun, sambil mengecek keadaan Claire. Saat dia menuruni tangga, dia langsung menghela nafas.

"Sudah kuduga."

Dokter pun berjalan menuju meja resepsionis. Dilihatnya Claire yang sudah tertidur pulas di atas buku yang baru dia buka halaman pertamanya itu. Dokter menghela nafas lagi.

"Katanya tidak bisa tidur.. Baru baca halaman pertama saja, sudah ambruk."

Dokter pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Claire. Dia hanya terdiam, sambil memperhatikan Claire.

"Ngrrookk…"

Heh?

Dokter melihat ke kanan dan kiri. Suara apa barusan?

Dia tau, bahwa sebagai seorang Dokter, dia tidak boleh percaya dengan hal-hal yang rada non-ilmiah. Tapi, dia juga tau. Memang banyak kejadian di rumah sakit yang ya.. Berbau mistis. Dan dia melihat keadaannya saat ini.

Hanya ada dia sendiri. Gelap. Sekarang masih terhitung tengah malam. Suasana yang perfect abis untuk membuat cewek, modus merangkul tangan cowoknya erat-erat dengan alasan takut tiba-tiba muncul setan dari berbagai arah, sisi, dan sudut. Eh tunggu. Kok jadi bahas kesana?

Ehm! Dan barusan, dia merasa mendengar suara yang familiar. Ya. Dia ingat sekali. Dulu, dia sering sekali mendengaer suara familiar itu. Suara ngorok dosennya saat kuliah. Namun, sang professor sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Masa sih, saat ini, sang professor mengunjunginya?

Dokter menggelengkan kepalanya.

Tak mungkin. Dia tak percaya pada hal seperti itu. Mari berpikir dengan logika. Sebenarnya dia tidak sendirian disini. Dan dia tau hal itu. Tapi mungkikah...

"..."

Dengan muka curiga, dia menatap Claire. Dia pun menunggu, dan terdiam beberapa menit. Sebelum terdengar suara lagi.

"... Ngrrook... NGRROOKK..."

Dokter mengedip-ngedipkan matanya, lalu menatap Claire dengan alis mengkerut.

"Ngrroookk... Mmm..." Claire membalikkan kepalanya. Gile. Gadis ini beneran ngorok. Dia yang ngorok.

"Pfht!" Dokter menahan tawanya.

"...Dasar... Merepotkan."

Dokter pun berdiri dan meninggalkan Claire, yang sama sekali tidak sadar, bahwa aib keduanya, telah diketahui oleh orang yang paling dibencinya saat ini.

(._.) ...

~bersambung~