Author Note:
Halo semua!
Yak, pertama saya mau ngucapin makasih banyak atas reviewnya! Saya benar-benar senang sekali! Terima kasih! ^^
Langsung saja... Tanpa basa-basi lagi...
Inilah kelanjutan dari cerita sebelumnya, maaf kalau gaje! Mohon kritik dan sarannya
Terima kasih! :)
-Lutanima-
"Claire… Claire.."
Mmm? Seperti ada yang memanggil namaku..?
"Claire.. Bangun Claire.. Claire!"
Plop!
Mata Claire terbuka keduanya. Yang pertama dilihatnya adalah Elli, dan yep. Tampaknya dia tertidur di meja resepsionis.
"Kamu kenapa bisa ketiduran disini? Kamu belajar?" Tanya Elli khawatir.
"A-ah…" Claire melihat ke arah buku yang semalaman dia jadikan bantal itu. "Tampaknya begitu.. Hehehe.."
"Aduh.. Kau ini.. Ya sudah, hari ini hari Rabu, jadi klinik libur. Aku mau mengunjungi nenek dan Stu dulu ya! Kalau kau mau nanti menyusul saja. Oke?" Ujar Elli sambil melambaikan tangannya dan keluar dari klinik.
Claire yang masih setengah bangun itu pun berusaha mengingat kejadian tadi malam. Dia.. Belajar? Ah, iya.. Dan sempat bertengkar dengan muka aspal itu. Eh, tidak. Sekarang panggilannya menjadi om-om muka aspal. Claire tertawa sendiri mengingatnya.
Kemudian dia baru sadar bahwa dirinya diselimuti. Heh? Perasaan tadi malam dia tidak bawa selimut. Pasti Elli! Pikirnya, lalu tersenyum-senyum sendiri.
"Oh? Sudah bangun?"
Claire langsung bergidik mendengar suara itu. Yep. Siapa lagi kalau bukan..
"Kenapa, om?" Tanya Claire. Orang yang merasa dihina itu pun mendecak.
"Berhenti memanggilku om." Ujar Dokter, sambil memakai jasnya. Ups, ternyata jas itu masih berlubang! Hahaha!
"Kalau begitu.. Pak tua. Bagaimana?" Mendengar jawaban itu, Dokter pun memelototi Claire. Claire hanya nyengir.
"Hah.. Cepat cuci muka, sarapan, lalu siap-siap." Ujar Dokter.
"Heh? Siap-siap kemana? Klinik libur kan?" Tanya Claire.
"Ya, klinik libur." Dokter menatap Claire tajam. "Tapi tidak ada yang bilang kau libur."
…..
Hah?! Hah!? HAH?!
Yak, mari kita lanjutkan.
Setelah menyadarkan diri selama 10 menit, sarapan, dan bersiap, Claire dan Dokter pun pergi ke suatu tempat. Selama perjalanan, Claire terus berkomat-kamit. Seharusnya, Claire bisa ikut dengan Elli untuk bertemu dengan nenek dan Stu. Banyak yang Claire ingin bicarakan kepada mereka. Yah, tidak termasuk mengenai orang di depannya ini sih..
"Woi. Kita sudah sampai." Ujar Dokter.
Claire melihat sekelilingnya. Yap, mereka sekarang ada di air terjun dewi. Tapi untuk apa?
"Mau apa kita disini?" Tanya Claire.
"Itu." Dokter menunjuk ke arah tanaman obat di bawah mereka. "Kau, bantu aku mencari tanaman ini." Dokter pun berjongkok, dan mulai mengambil tanaman itu.
Dengan menahan urat yang hampir keluar itu, Claire pun ikut berjongkok dan memilih-milih tanaman.
"Ambil dulu yang biru 10 ya." Ujar Dokter. Claire hanya mengangguk pasrah. Dia tidak bisa menolak.
"Biru… Biru… Biru…" Claire mencari-cari tanaman obat yang berwarna biru.
Kemudian dia melihat salah satu yang mirip dengan yang pernah dia lihat di buku, dan mengambilnya. Tetapi sebelumnya dia melihat ke bagian bawahnya dahulu. Tepat! Ada kawan-kawan di bawahnya. Claire pun menjauh dari tanaman itu. Dokter yang melihat tingkah Claire pun berbicara.
"Rupanya kau sudah belajar." Merasa Dokter bicara pada dirinya, Claire pun membalasnya.
"Tentu saja! Kemarin aku belajar semalaman!" Ujar Claire pamer. Tentu saja bohong.
"Heh. Kalau baru baca halaman pertama sudah tertidur, itu bukan belajar namanya." Balas Dokter.
"Ap…!" Baru Claire ingin membalas perkataan Dokter, dia terdiam. Leh? Darimana Dokter tau kalau dia baru baca sampai halaman pertama? Ah tidak. Bahkan dia baru membuka bukunya tanpa membaca sepatah kata apapun! Jangan-jangan..
Claire pun memelototi Dokter. Merasa dirinya dipelototi, Dokter pun menoleh.
"Apa?" Tanyanya, risih dipelototi.
"Darimana kau tau.. J-Jangan-jangan…" Claire terdiam sebentar.
"DI KLINIK ADA CCTV YA?!"
…
Krik. Krik. Krik.
"Eh? Salah?" Tanya Claire, setelah hampir 5 menit hening.
"… Bodoh."
Claire langsung berdecak mendengar ejekan itu. Dia pun langsung berlari dan bersiap menerjang Dokter.
"Siapa yang kau sebut bodoh hah…!?"
Tapi Dokter dengan santainya menghindari terkaman Claire, dan alhasil..
"Heh?"
BYUURR!
Claire akhirnya tercebur ke sungai.
"Hah… Kau…"
"Cukup. Jangan bilang apapun lagi." Ujar Claire memotong ucapan Dokter., dengan sedikit kesal. Dan malu tentunya. Dia bisa melihat Dokter memalingkan wajahnya untuk menahan tawanya. Emosi Claire pun akhirnya keluar juga.
"Kalo mau ketawa jangan ditahan!" Teriak Claire. Sementara, Dokter hanya menarik nafasnya, lalu menatapnya dengan muka datar ala-nya itu.
"Aku tidak tertawa."
"Gak usah sok suci deh, om! Tadi kau menahan tawa kan!" Ujar Claire sambil meraba-raba dasar sungai yang sangat dangkal itu. Andai ada batu, dia akan mengambil dan segera melemparkannya ke arah orang yang ada di depannya ini.
"Sudah, cepat berdiri. Bantu aku lagi." Ujar Dokter, sambil meninggalkannya begitu saja. Dia bahkan tidak menolong Claire untuk berdiri?! … Sial.
Sambil berkomat-kamit kesal, Claire pun segera naik dari sungai. Dia segera berlari mendahului Dokter, dan kembali berjongkok untuk mencabuti rumput.
"Pfht!"
Claire terdiam. Barusan dia merasa mendengar sesuatu. Dia pun menoleh ke belakang dan mendapati Dokter yang sedang memalingkan wajahnya sambil menutup mulutnya. Kenapa lagi dia?!
"APA LAGI?!" Tanya Claire, setengah emosi.
"Celanamu.." Ujar Dokter, masih memalingkan wajahnya. Sambil menunjuk ke arah celana Claire.
Claire pun melihat ke arah celananya. Tidak ada apa-apa kok. Kemudian dia meraba bagian belakang celananya. Seketika matanya terbuka lebar, masih meraba-raba bagian belakang celananya. Astaga! Karena sungainya dangkal dan dia terjatuh dalam posisi duduk, pantatnya basah! Sial! Kenapa harus bagian critical itu yang terendam air?! Dan kenapa dia tidak sadar tadi saat jatuh?!
"Kau habis ngompol ya?" Ledeknya.
"Tu.. Tutup mulutmu!" Karena malu, Claire pun langsung duduk, membelakangi Dokter. Dia sudah bersiap untuk menerima beribu ledekan dari om muka aspal ini. Karena kalau saat ini dia nekat berlari sampai klinik, itu hanya membuatnya tambah malu. Bisa saja ada orang yang melihatnya, dan benar-benar menyangka Claire mengompol. Claire ingin menangis rasanya.
"Haah…"
Menebak isi pikiran Claire, Dokter pun menarik nafasnya. Dia pun melepas jasnya dan meletakkannya hingga menutupi tubuh Claire.
"Pakai saja. Tidak akan kelihatan kok."
…..
…..
…..
Claire bengong.
Bengong.
Lalu segera mundur menjauh dari Dokter. Kenapa muka aspal satu ini?! Kenapa.. Dia tiba-tiba baik begini?! Tapi.. Entah kenapa Claire malah takut melihatnya. Jangan-jangan… Ada niat terselubung?! Claire pun ragu-ragu menerima jas itu.
Merasa dicurigai, Dokter pun menghela nafasnya.
"Atau kau lebih memilih pulang dengan celana bekas ompolanmu itu?" Dengan secepat kilat, Claire menjawab.
"TIDAK! TIDAK! Dan.. HEI! AKU TIDAK NGOMPOL!"
Muka Claire terasa memanas. Dia malu. Pastinya. Tapi ada hal lain dibalik itu. Dia mulai merasa tidak enak hati karena telah berprasangka buruk pada Dokter. Apa jangan-jangan dia mulai menganggap manusia aspal ini baik hati? Tidak-tidak-tidak-tidak-tidak.
"Terserah." Ujar Dokter sambil membelakanginya, dan melanjutkan kegiatannya, mencari rumput obat lagi. Sementara Claire, masih terdiam di posisinya.
Kalau Claire pikir-pikir, sejak tadi Dokter terus menahan tawanya. Dan selama tinggal disini, Claire belum pernah melihatnya tertawa. Mungkin dia sok cool? Atau mungkin ada sesuatu di balik tawanya? Menyeramkan?
Merasa diperhatikan, Dokter pun menoleh dan mendapati Claire sedang memperhatikannya. Sontak, Claire pun langsung memalingkan pandangannya. Sial, kenapa dia jadi kepo begini?
"… Apa?" Tanya Dokter, dengan satu alis turun.
"Gak kok." Ujar Claire Claire sambil menggelengkan kepalanya.
Dia sudah bertekad membuktikan bahwa lelaki di hadapannya ini tidak pantas untuk Elli. Yup! Jadi kejadian ini pasti hanya kebetulan. Dia mungkin sedang kesurupan sesaat. Ah, benar juga. Ini kan tempat suci. Mungkin barusan dewi membersihkan hatinya dari sifat kotornya itu. Tapi pasti efeknya tidak akan berlangsung lama! Pasti! Pasti!
Claire terus meyakinkan dirinya sendiri.
"Hei!" Teriakan Dokter mengangetkan Claire.
"A-apa?" Tanya Claire, masih setengah sadar.
"Ayo, bantu aku. Kau belum mengumpulkan satu rumput obat pun! Ingat, b.i.a.y.a." Ujar Dokter menekankan kata terakhirnya itu. Claire pun mendecak, kemudian berjongkok dan mulai mencari rumput obat lagi.
Apa kubilang? Efeknya hanya sementara waktu. Benar kan?
-oOo-
Disisi lain…..
"Nenek, Stu! Aku datang!"
Elli masuk ke dalam rumah neneknya itu, dan langsung dipeluk oleh dekapan erat sang adik.
"Elli! Akhirnya kau datang!"
"Stu, kau membuatku susah berjalan! Hahaha!" Ujar Elli sambil mengelus kepala adik kecilnya itu. Nenek mereka, Ellen, hanya tertawa melihat tingkah akrab kedua cucunya.
"Hari ini kau sendiri, Elli?" Tanya Ellen.
"Ah, iya.. Soalnya Claire…" Elli terdiam. Dia teringat kejadian tadi pagi. Mendadak, Dokter membawa Claire pergi ke gunung. Claire juga tidak mengatakan apapun, tapi dari apa yang Elli lihat, Claire terlihat tidak senang. Elli benar-benar ingin tau apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Tapi dia memutuskan untuk melihat keadaan setelah mengunjungi Stu dan nenek.
Ellen tampaknya dapat membaca pikiran Elli. Dia pun tersenyum.
"Masih bertepuk sebelah tangankah?"
Seketika wajah Elli memerah. Dengan kedua mata terbuka lebar, dia menatap neneknya tajam.
"Nenek! Bicara apa sih?!"
"Heee.. Tak usah disembunyikan. Orang tua itu tau segalanya. Hahaha!" Ujar Ellen. Sementara Stu, mulai menarik-narik baju Elli.
"Elli, maksud nenek apa?" Elli hanya menunduk dengan wajah memerah. Apa dia sebegitu mudah ditebak? Bahkan Claire juga langsung mengetahuinya saat mereka baru bertemu setelah sekian lama. Tapi, apakah Dokter menyadarinya…
Ellen menatap Elli yang saat ini sedang tertunduk, tenggelam di dalam pikirannya sendiri. Ellen pun tersenyum, dan menepuk pundak Stu.
"Stu, nenek ingin kau mengantarkan kue ini ke Claire. Kau bisa kan? Elli, tolong temani dia ya." Seketika wajah Elli menjadi cerah.
"Oke! Serahkan kepadaku, nek! Ayo Elli!" Ujar Stu sambil menarik baju Elli.
"Ah, iya.. Mmm.. Nenek…" Elli menatap neneknya yang saat ini sedang menatap balik dirinya sambil tersenyum. "Terima kasih. Aku akan segera kembali!" Ujar Elli sambil berlari keluar, meninggalkan Stu dibelakang.
"Eh! Elli! Tungguu!" Stu pun mengejar Elli. Ellen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar anak itu. Kalau sudah jatuh cinta, beginilah jadinya."
-oOo-
"Elli… Hah… Hah.. Pelan-pelan…"
Elli yang tersadar telah meninggalkan adiknya jauh di belakang, segera berlari menghampiri adiknya. Dia pun menekuk kakinya, agar dapat menatap Stu dengan jelas.
"Stu.. Maaf.. Aku terlalu cepat ya?"
"Uhh.. Bukan begitu! Aku hanya capek, jadi tidak bisa mengejarmu.." Ujar Stu sambil cemberut. Elli menghela nafasnya sambil tersenyum melihat tingkah adiknya. Rupanya dia terlalu berkonsentrasi mengejar Claire dan Dokter hingga melupakan adiknya.
"Maaf ya Stu. Ayo, kita jalan pelan-pelan ya."
Elli segera menggandeng tangan adiknya. Mereka pun berjalan melewati Toko Ayam Rick. Disanalah mereka mulai melihat sosok tak asing yang dipenuhi aura hitam kelam. Saat mereka mendekat, Elli segera berlari menghampiri mereka.
"Claire! Dokter! Apa yang terjadi? Kenapa kalian basah kuyup begini?"
Dokter masih terdiam. Terlihat dia benar-benar marah dan tidak sedang dalam mood untuk menceritakan apa yang telah terjadi kepada mereka berdua. Karena itulah, Claire lah yang berbicara.
"Jadi…. Begini… Tadi itu.."
(flashbackstart)
Dokter dan Claire masih sibuk mengambil rumput obat. Kemudian, Claire merasa sejak tadi ada sosok yang memperhatikan mereka berdua. Claire pun menoleh dan mendapati ada seekor kera yang berdiri di atas batu. Claire pun mendekati batu itu.
"Dokter! Lihat! Lihat! Ada kera!"
Dokter pun menoleh dan melihat kera yang berdiri di atas batu itu. Tapi Dokter kembali mencari rumput obat tanpa mempedulikan kera itu.
"Oh. Ngomong-ngomong kau harus hati-hati pada kera itu. Kusarankan jangan mendekatinya."
"Memangnya kenapa?" Tanya Claire sambil melihat kera yang saat ini sudah turun dari batu dan mendekati Dokter.
"Kera itu sangat lincah. Dan dia suka mengambil barang milik orang lain. Kalau sudah diambil olehnya, susah untuk didapatkan lagi."
Syut!
Kera itu mengambil kertas dari saku Dokter dengan lihainya.
"Ah." Claire plengo. Begitu pula Dokter. Mereka sempat terdiam sampai kera itu mulai berlari ke atas pohon. Dokter pun meraba sakunya.
"GAAAAHHHH!"Claire terhentak. Baru kali ini dia mendengar Dokter berteriak. Dia pun segera berlari ke arah Dokter.
"A-apa?! Apa yang diambil?!"
"Kertas! Kertas penting berisi resep obat yang berhasil kutemukan setelah penelitian 8 hari 9 malam itu… Diambil! Diambil!" Dokter panik. Stress. Dan jujur, Claire agak takut melihatnya.
"Sepenting itu?" Tanya Claire.
"Kejar! Mana kera itu?!" Dokter menolehkan kepalanya kesana kemari, mencari kera itu berada. Claire yang melihat kepanikan Dokter ini pun, mulai tertawa. Mendengar tawa bahagia Claire, Dokter menatap Claire tajam.
"Kenapa…"
"Heh?"
"Kenapa kau bisa tertawaa! Itu hasil perjuanganku kau tau?!" Oke kawan. Dokter murka. Dan kalian tau Claire kan? Tentu saja dia tidak terima diteriaki seperti itu.
"Jadi maksudmu ini salahku?!"
"Tentu saja!Asal mula kera itu mendekat karena kau mendekatinya!"
"Hei! Itu salahmu karena lengah! Jadi kertasmu diambil! Lagipula kenapa kertas sepenting itu dibawa-bawa sih!?"
"Aku takut hilang kalau ditinggal di klinik!"
"Memangnya siapa yang tertarik mencuri informasi tentang obat-obatan begitu hah!?"
"Aku hanya berusaha mencegah! Lagipula kau ini juga termasuk kandidat maling kan?!"
"Enak saja! Apa maksudmu!"
Sementara mereka terus bertengkar, kera di atas pohon itu mulai memainkan kertas yang diambilnya. Setelah bosan, dia pun membuang kertas itu. Begitu melihat hal tersebut, Dokter segera berlari dan berusaha mengambil kertasnya yang kini sedang melayang-layang itu.
"AH! Kertasku!"
"Bahaya! Bisa-bisa kertasnya masuk ke sungai!" Claire dan Dokter lari bersamaan untuk mengambil kertas itu.
DUAK! BYURR!
Alhasil mereka bertabrakan dan akhirnya terjatuh masuk ke dalam sungai.
"…" Kini mereka berdua basah kuyup. Sementara kertas milik Dokter itu, dengan selamat mendarat di pinggir sungai. Kera yang menjadi penyebab semua ini pun, segera berlari masuk ke dalam hutan. Mereka berdua terdiam melihatnya.
(flashbackend)
"….. Begitulah."
Elli dan Stu saling bertatapan, kemudian mereka tertawa. Hal ini tentu saja membuat Claire dan Dokter semakin cemberut. Kemudian mereka pun berjalan, pulang menuju klinik.
-oOo-
-Malamnya-
"Hoaamm!"
Brugh!
Claire merebahkan dirinya di kasur lagi.
"Uhh.. Aku masih belum bisa tidur…"
Kemudian matanya tertuju pada jas Dokter di atas mejanya. Barusan, Claire telah selesai mencuci dan mengeringkannya. Dia pun mendekatinya dan merentangkan jas itu. Yep. Lubang yang dia buat masih ada.
"Phft.."
Claire pun berusaha menahan tawanya. Dia tidak menyangka bahwa sampai sekarang Dokter belum menjahit jasnya itu. Mungkin Dokter tidak bisa menjahit. Kemudian Claire melirik ke arah Elli, yang sudah tertidur pulas. Aneh. Padahal Dokter bisa minta tolong pada Elli.. Kenapa dia tidak melakukannya?
Claire terus memperhatikan jas itu. Kemudian dia ingat bagaimana Dokter memberikan jas itu kepadanya untuk menutupi pantatnya yang basah itu. Dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
No. Dia bukan orang baik. Bukan. Bukan. Tidak sama sekali. Mungkin dia hanya malu berjalan dengan orang yang pantatnya basah. Jadi dia sengaja memberikan jasnya padaku! Yep! Pasti begitu!
Kemudian Claire terdiam lagi. Tiba-tiba mulai timbul perasaan bersalah di hatinya. Tapi, matanya pun tertuju pada peralatan jahit milik Elli, dan beberapa kain yang ada disana. Dia pun tersenyum. Rupanya, kelicikkannya mengalahkan niat tulusnya.
-oOo-
"Dokter, selamat pagi."
"Ah.. Pagi."
Dokter pun duduk di kursinya. Elli pun menuangkan kopi di cangkirnya. Dokter menundukkan kepalanya, sebagai tanda ucapan terima kasih. Kemudian dia terdiam dan melirik ke arah kursi Claire. Tumben dia belum bangun? Biasanya dia paling semangat kalau sarapan.
"Dia belum bangun?" Tanya Dokter setelah menelan tegukan kopinya.
"Mm? Dia?" Elli melirik ke arah kursi Claire. "Oh.. Claire. Tidak, dia sudah bangun kok. Tapi dia tadi pagi-pagi sekali pergi ke rumah nenek.."
"Oh begitu.." Ujar Dokter singkat sambil meneguk kopinya lagi. Lalu mulai memakan sarapannya, roti bakar dengan selai.
Elli melirik ke arah Dokter. Sudah lama mereka tidak makan berdua seperti ini. Bukan berarti Elli tidak senang dengan kedatangan Claire, tapi.. Ada saatnya dia merindukan waktu yang dia habiskan hanya berdua dengan Dokter seperti ini. Dia sangat senang.
Kemudian dia melirik lagi ke arah Dokter, dan kali ini Dokter menatapnya, dan mata mereka pun saling bertemu. Elli langsung menundukkan kepalanya dan pura-pura menyantap sarapannya. Dokter pun tanpa basa basi, kembali meneguk kopinya lagi sebelum..
BRAAKK!
BURR!
Dokter memuncratkan kopinya.
"Ohok! Ohok!" Dokter menepuk-nepuk dadanya.
"A-ah! Lap! Lap!" Elli segera lari ke dapur, mencari lap untuk mengelap kopi yang tumpah itu.
"Dokter! Dokter! Coba lihat… Heh?" Claire terdiam melihat wajah murka Dokter dengan kopi belepotan kemana-mana. "Apa yang terjadi?" Tanyanya polos.
"…. Kau itu…" Dokter berdiri dan mendekati Claire. Menunjuk ke arah pintu yang beberapa detik lalu menjadi korbannya. "Bisakah berhenti merusak pintu rumahku?" Tanyanya dengan nada yang tegas, hampir meledak malah.
"Ups.. Maaf.. Hehehe.." Claire hanya nyengir. Dokter hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Habis darimana kau?" Tanya Dokter sambil melirik ke arah sesuatu yang dibawa Claire. "Mm? Apa itu?"
"Ah! Ini! Pakai!" Tanpa menunggu jawaban Dokter, Claire memakaikan jas putih milik Dokter kepadanya. "Kukembalikan!" Ujar Claire.
Dokter hanya terdiam. Kemudian dia pun menciumi jas itu.
"SUDAH KUCUCI KOK!" Teriak Claire kesal.
"Ah. Baguslah. Hampir saja aku menelepon tukang jahit untuk menjahitkan satu jas lagi untukku.."
" . Jangan khawatir! Jasnya sudah kucuci, kurendam pewangi semalaman, kusetrika, kuberi parfum, dan tentu saja sudah kusemprot dengan cairan anti kuman! Puas kau?!" Ujar Claire. Dokter menatap jasnya.
"Ya, ya. Baguslah." Dokter berjalan untuk mencuci piring kotornya, sambil mengacak-ngacak rambut Claire.
….. Heh?
Claire terdiam. Dokter yang heran pun mendekatinya.
"Kau kena…"
"…..WUAAAAHH!"
JEDUKK!
Kepala Claire pun menyundul dagu Dokter. Dokter pun meringis.
"ADUH!"
Sementara Dokter sibuk mengelus-elus dagunya, Claire pun melesat keluar dari klinik. Saat Claire membuka pintu klinik, Dokter pun berteriak.
"PELAN-PE…"
BRRUAAAKKK!
"….lan.."
Dokter hanya pasrah, sambil terus mengelus dagunya yang masih nyut-nyutan.
"Dia itu kenapa sih? Ckck.." Ujarnya sambil mencuci piringnya. Baik Dokter maupun Claire, tidak menyadari bahwa dari tadi, ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua.
-oOo-
Dokter telah selesai sarapan. Dia pun pergi ke ruang kerjanya, bersiap membuka kliniknya. Dia pun duduk di meja kerjanya. Dia bisa mencium bau harum dari jasnya. Sebenarnya sudah lama dia tidak sempat mencuci jasnya. Tapi dia memutuskan untuk merahasiakannya. Bisa dibayangkan betapa hebohnya Claire jika tau, jas yang dia pakai belum dicuci selama 2 minggu lebih. Dokter tertawa kecil membayangkannya. Saat itulah, ada seseorang yang datang ke klinik.
"Pagi, Dokter."
"Ah, Lilia. Selamat pagi. Mau ambil obat yang seperti biasa?"
"Iya Dokter. Tolong ya."
"Baiklah, sebentar ya."
Dokter pun berjalan menuju rak dan mengambil beberapa obat. Tapi dia merasa mendengar suara tawa Lilia. Dokter pun menolehkan kepalanya.
"….. Ada apa?"
"Ah, tidak.. Maaf Dokter. Aku hanya tidak menyangka Dokter ternyata memiliki selera yang amat imut." Ujar Lilia sambil menahan tawanya. Dokter menurunkan alisnya. Dia sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Lilia.
"Apa maksud…"
BRAK!
"DOKTER! Yoooo!"
Tiba-tiba, Zack masuk ke dalam klinik. Membawa beberapa kotak obat. Dokter sempat menyipitkan matanya, bersiap untuk menceramahi Zack etika membuka pintu rumah orang lain dengan baik dan benar.
"Oh, ada Lilia! Halo! Sedang membeli obat?"
"Begitulah Zack. Hehehe." Jawab Lilia.
"Ah, ini Dokter! Pesananmu! Baru datang tadi pagi!" Ujar Zack sambil mengangkat beberapa kotak obat dengan ringannya.
"Oh iya, terima kasih. Letakkan saja disana."
"Oke baiklah! Mmm…? Pfht!" Tiba-tiba Zack memalingkan wajahnya, menahan tawa. Dokter makin kesal. Ada apa dengan mereka semua?
"Ada apa?!" Zack, masih memegang perutnya, menunjuk ke arah jas Dokter.
"Apa-apaan motif itu! Kau ini.. Diam-diam seleramu begitu rupanya." Ujar Zack sambil menepuk-nepuk pundak Dokter. Dokter yang semakin bingung bercampur kesal itu segera melepaskan jasnya dan merentangkannya. Dapat dilihatnya, pada bagian yang dulu robek, telah ditambal oleh kain bermotif bunga-bunga besar, dengan banyak sekali tambahan manik-manik berbentuk hati dengan warna pink mencolok di sekelilingnya. Dokter pucat pasi. Tangannya mulai bergetar memegang jas yang baginya sekarang rada menjijikkan itu.
"….. Jadi ini ulahnya yang sebenarnya…"
"Heh?" Zack dan Lilia kebingungan menatap Dokter yang sudah murka itu. Dokter menarik nafasnya, lalu berteriak.
"Kemana perginya dia... DASAR BOCAH ITUU! AWAS DIA!"
Tampaknya hubungan mereka berdua, tidak akan pernah berubah, hingga saat ini.
("0_0) …..?!
(bersambung~)
