DESCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATED :T SEMI M
NOTE: YOSH INI DIA CHAPTER 5 NYA. MAAF KALAU MASIH ADA TYPO. . . HEHEHEHE. OKE MINNA HAPPY READING YAH :D
Tapi keindahan dua insan yang tengah di mabuk cinta itu tanpa sadar tengah di awasi dua mata, mata yang menatap tajam menyiratkan akan kemarahan dan kecemburuan.
Chapter 5
Mata biru aquamarize milik Ino menulusuri setiap sudut ruangan , pikirannya menyadari bahwa sahabatnya itu sudah tidak ada di dalam ruangan pesta.
Ino mendengus pelan. "Ini kan pesta ulang tahunnya, tapi kenapa dia tidak ada di dalam ruangan sih. Kemana dia?" gumam Ino pelan yang kini melangkahkan kakinya menuju pintu betuliskan 'EXIT'.
Sakura tidak mungkin pulang, kak Sasori masih ada di auditorium,pikir Ino. Langkah kakinya menuju ke taman belakang hotel. Mungkin di sana ia bisa menemukan sosok gadis bergaun merah maroon.
Di area yang cukup gelap ini matanya ia paksakan untuk mencari keberadaan sahabatnya, untunglah beberapa lampu taman cukup untuk membantu penglihatannya.
"Di sana kau rupanya Sakura" Ino mendengus pelan setelah melihat Sakura dari kejauhan bersama seorang pria sedang berpulakan. APA? BERPELUKAN?.
.
.
Sakura menyadari ada seseorang yang sedang melihatnya dari kejauhan. Ia pun melepaskan pelukannya dari Kakashi. "INO" teriaknya memanggil seorang gadis yang hampir saja berbalik.
Ino pun berbalik karena mendengar Sakura meneriakkan namanya. Dilihatnya gadis itu tengah melambai mengisyaratkan untuk datang ke tempatnya. Tanpa ragu Ino pun melangkah menuju tempat dimana Sakura tengah berdiri disamping pria tampan berambut perak dengan gaya rambutnya yang melawan gravitasi.
"Aku mencari mu tau Sakura, ini kan pestamu, nikmatilah forehead" tukas Ino yang kini tengah menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
Sakura tertawa kecil melihat sahabatnya itu, tampaknya Ino khawatir akan dirinya. "Maaf Ino" itulah yang keluar dari mulut Sakura.
"Kau tak salah Sakura, maaf nona Ino, akulah yang pantas kau salahkan karena aku telah 'menculik' Sakura dari acara pestanya" Kakashi menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.
Pria ini sangat sopan, berbeda dengan pria pada jaman sekarang ini, pikir Ino ."Ya ya, umm, tunggu . . .kau . . . .Sakura apa dia. . ." Ino melirik ke arah Kakashi dengan tatapan penuh pertanyaan.
Sakura bingung mau menjawab bagaimana, kalau ia menjawab apa yang dimaksudkan Ino bagaimana kalau ternyata Kakashi menganggap sebaliknya? itu kan memalukan, tapi bagaimana dengan ciuman tadi?. Ah ini membingungkan, lebih membingungkan dari pada menjawab soal tes dari Tsunade-sama.
"Ya ano. . .Sakura sekarang adalah kekasihku" ucap pria dihadapan Ino dengan senyuman manis diwajahnya. Ino saja hampir meleleh dengan senyuman manis dari pria dihadapannya itu.
"Wah wah wah, Sakura, apa kalian baru jadian? Dan kapan kalian melakukan pendekatan? Lalu mengapa kau tak memberi tahu ku forehead?" Ino menyerbu Sakura dengan banyak pertanyaan.
Sakura mendengus pelan. 'Dasar Ino, ia pasti ingin tau segalanya' batin Sakura.
"Sebelumnnya mari kita berkenalan dulu, aku Kakashi Hatake" ucap Kakashi mengulurkan tangannya. Ino membalas uluran tangan dari pria bernama Kakashi. "Ino Yamanaka, ummm, Kakashi. . sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya"Ino melepaskan tangannya dandan memegang dagunya . Ia tampak berfikir keras mengingat nama 'Kakashi'.
'jangan –jangan' batin Sakura ketika mengingat sesuatu.
Ino menjentikkan jarinya, "ah, aku ingat, namamu itu seperti nama seek-''
Buru-buru Sakura menutup mulut Ino, ia tau apa yang akan Ino katakan. Sahabatnya adalah gadis yang blak-blakan.
"Tidak apa Sakura, aku takkan marah jika waktu di kelas Tsunade kau menyebut namaku adalah nama seekor anjing" tukas Kakashi.
'JLEB'
"A-a, kau masih ingat ya" Sakura melepas tanganya dari mulut Ino.
"Sakura" desis Ino kesal yang sekarang megap-megap mencoba mencari udara sebanyak-banyaknya.
"Seperti yang kubilang , tidak apa-apa Sakura" ucap Kakashi lagi.
Sakura tertunduk malu mendengar kalimat dari sang pujaan hati. "Bagaimana kalau kita kembali kedalam dan nikmati pestamu Sakura" ajak Kakashi merenggangkan lengan kirinya yang langsung disambut dengan gandengan dari tangan Sakura.
'TSK, sepertinya aku disini yang belum punya kekasih' batin Ino merasa sedih dengan dirinya yang tak kunjung mendapatkan tambatan hati. Habis mau bagaimana lagi yang ia tunggu adalah Sasuke. Eh tunggu bukankah itu malah bagus. Setau Ino, Sasuke menyukai Sakura, dan sekarang Sakura sudah mendapatkan kekasih, bukankah ia memiliki peluang . Gotcha.
.
.
.
"Oi teme kau mau kemana?" panggil Naruto ketika melihat Sahabatnya pergi dengan terburu-buru. Pemuda berkulit tan itupun mengerjar seorang pemuda yang telah menjadi Sahabatnya dari kecil.
"Tunggu Sasuke!" Naruto berhasil mendapatkan pergelangan tangan Uchiha bungsu itu. "Lepaskan Naruto baka !" Sasuke menghentakan tangannya namun hal itu tak berhasil membuat pergelangan tangannya terlepas dari genggaman Naruto.
"Kau kenapa teme? Kenapa tiba-tiba pergi hah?" Tanya Naruto.
"Cih" dengus Sasuke kesal.
"Bukankah. . . aku ini tempatmu mengadu cerita? Tapi kenapa kau tak mau berbagi masalahmu denganku Sasuke?" Naruto merendahkan nada suaranya.
"Hn"
Naruto menaikan sebelah alisnya. Sudah lama ia tak melihat Sasuke sedingin ini. Seperti pertama kali ia bertemu dengan Uchiha bungsu itu. Ia sudah tak melihat Sasuke seperti ini selama 5 tahun.
Sasuke menatap sahabatnya dari ekor mata miliknya. Mata biru saphier itu terbelalak mendapati tatapan tajam dari sahabatnya. Tatapan itu, tidak . Sasuke memang sudah kembali seperti dulu. Perlahan ia lepaskan tangannya dari pergelangan tangan Sasuke.
Tanpa sepatah katapun pemuda tampan bermata onyx itu pergi meninggalkan Naruto di belakangnya.
"Ada apa Sasuke?" gumam Naruto pelan menatap punggung Sasuke yang semakin menjauh. Naruto berbalik, lebih baik ia bertanya besok pada Sasuke. Ia berharap Sasuke mau menceritakan apa masalahnya.
Tepat ketika ia berbalik matanya menemukan Sakura tengah bergandengan mesra dengan sesosok pria bertubuh tinggi dan sempurna, tubuhnya yang tampak atletis itu berbalut tuxedo berwarna putih. Bentuk wajahnya yang seolah di pahat sempurna, mata tajam dengan iris berbeda warna,hidung yang mancung sempurna, sungguh itu adalah ciptaan yang luar biasa, belum lagi rambut peraknya yang menambah keindahan di wajahnya. Oh apakah sekarang Naruto mimisan?.
Naruto langsung teringat pada Sasuke, "ya benar, Sasuke seperti itu karna Sakura dan lelaki berambut perak itu. Hanya Sakura yang bisa membuat emosi Sasuke berubah drastis" gumam Naruto.
Perlahan ketika Sakura tengah melangkah bersama Kakashi, Naruto menarik lengan Ino dari belakang.
"Hei, . .Ap-'' Ino mengurungkan niatnya untuk meninju orang yang lancang menarik dirinya secara paksa. "N-naruto? Ada apa?" Tanya Ino begitu melihat siapa yang menarik lengannya.
"Um, ini memang bukan urusanku, tapi apa kau bisa memberi tahuku tentang siapa lelaki yang digandeng Sakura?" Tanya Naruto yang matanya kini tengah menatap sepasang insane tengah mengobrol asyik dengan Sasori.
"Oh itu" Ino juga melihat kearah Sakura dan Kakashi. "Ya mereka pasangan yang serasi bukan?" bukannya menjawab pertanyaan Naruto, dirinya malah meminta pendapat dari pria dengan rambut kuning mencuat.
"J-jadi mereka sepasang kekasih?" Tanya Naruto yang hampir tak percaya dengan ucapan Ino. Tapi perlahan ia mulai percaya, tentu saja itu mereka sepasang kekasih, karna tak mungkin Sasuke bisa semarah itu kan, lagipula ia baru melihat Sakura sedekat itu dengan pria selain kakaknya sendiri. Jadi bisa ditarik kesimpulan kalau mereka benar-benar sepasang kekasih.
"Baiklah, terima kasih Ino" ucap Naruto yang meninggalkan Ino sebelum gadis itu membalas dengan ucapan 'sama-sama'.
.
.
.
.
"Kak, kau sudah membawa obat mabuk perjalanan kan?" Tanya Sakura yang menutup koper milik kakaknya. Kakak berambut merahnya itu memang punya kebiasaan mabuk perjalanan, ini membuktikan kalau faktanya orang setampan Sasori dan se-perfect Sasori punya kelemahan juga.
"Ya mana mungkin kakak lupa Sakura" ucapnya yang tengah mengancingkan kemejanya. "Benarkah? Apa kakak tidak ingat terkhir kali kakak keluar kota kakak malah harus menunda meeting karna tidur seharian di kamar, masih ingat kan penyebabnnya apa?, lupa membawa obat mabuk perjalanan" dengus Sakura yang dibalas tawa kecil dari kakaknya.
"Maaf ya, seharusnya kakak tak harus membuat pesta untukku semalam, kakak bisa gunakan waktu itu untuk istarahat kan?" ucap Sakura sambil membantu memasangkan dasi di leher kakaknya.
"Tidak juga Sakura, kakak yang ingin membuatkan pesta itu untukmu. Lagi pula itu untuk menebus acara ulang tahunmu yang sudah 2 tahun tidak dirayakan karna kakak harus keluar kota" ucap Sasori lembut.
Sakura hanya bisa terdiam mendengar ucapan kakaknya.
Setelah memasang jas hitam milik Sasori, pria dengan surai merah itu pun melangkahkan kakinya ke ruang depan yang diikuti dengan Sakura di belakangnya. Selanjutnya ia memakai sepatunya.
"Sakura"
"ya kak?" respon Sakura.
Perasaan Sasori menjadi tidak enak ketika meninggalkan Sakura. ini lebih dari perasaan khawatir. Di peluknya adik satu-satunya itu dengan erat dan mencium kening Sakura dengan lembut. Tangan Sakura balas memeluk Kakaknya.
"Jaga dirimu baik-baik ya, ingat jangan telat makan, kalau tidak maag mu bisa kambuh, jangan tidur terlalu larut, dan jika hari sudah malam apalagi hendak tidur pastikan pintu rumah dan semua jendela terkunci dengan rapat. Kalau ada apa-apa kau bisa minta tolong pada Konan ataupun Ino, kau punya nomor mereka kan?" ucap Sasori panjang lebar. Tak biasanya kakaknya meninggalkan pesan seperti itu sebelumnya, paling hanya berpesan 'jaga diri, jaga kesehatan' lalu sebuah pelukan hangat itu saja.
"hm, tidak seperti biasanya kakak seperti ini, apa semua baik-baik saja?" Tanya Sakura.
"Tidak apa-apa Sakura,hanya perasaan kakak saja" ucap Sasori lalu melepaskan pelukanya. "Oke, kakak pergi dulu ya Sakura, jaa nee" Sasori membuka pintu dan menyeret kopernya lalu masuk ke dalam mobil taksi yang sudah menunggunya. Kali ini kakaknya harus pergi ke Suna untuk mengadakan rapat dengan cabang perusahaan yang ada di Suna.
Sakura melambaikan tangannya kearah mobil taksi yang pergi meninggalkan dirinya.
"Hati-hati kak" gumamnya pelan.
.
.
.
.
Kediaman keluarga Uchiha
Uchiha bungsu itu mendaratkan pantatnya di atas bangku meja makan, dihadapannya kini sudah tersedia sarapan yang sudah di siapkan oleh para pembantu. Itachi dan adiknya hanya tinggal berdua dan 2 orang pembantu. Ibu mereka sudah lama meninggal karena kecelakaan pesawat 10 tahun yang lalu, sedangkan ayahnya sering berada di luar negri untuk menjalankan bisnis. Sedang Itachi harus menjadi pemimpin di perusahaan yang berada di kota konoha ini.
Mata onyx Sasuke menatap datar makanan yang ada dihadapanya. Bukan karna tidak enak tapi karna dia sedang tak berselera.
Itachi menatap adiknya dari sebrang meja. Sampai selesai sarapan baik Itachi maupun Sasuke tidak ada yang membuka pembicaraan seperti pagi-pagi biasanya. Setelah acara sarapan pagi , Itachi mengikuti adiknya itu yang berjalan menuju halaman belakang rumah. Sasuke mulai memanjati tangga yang tertempel pada sebuah batang pohon, tangga itu menuju kearah atas dahannya. Namun langkah Sasuke terhenti.
"Aku ingin istirahat kak" ucap Sasuke dingin.
Itachi mendengus mendengar pernyataan dari adiknya. "Kalimat dingin lagi eh?" gumanya yang masih menatap kearah adiknya. Sasuke malanjutkan memanjat pohon dan masuk kedalam sebuah rumah pohon yang dibuatnya bersama Itachi.
"Ada apa?" Tanya Itachi yang ikut berbaring di sebelah Sasuke. Tapi Sasuke tak menjawab, ia malah memunggungi Uchiha sulung itu.
"Hm, aku tau kau sedang gelisah Sasuke, tapi meredam kegelisahan dan juga masalah sendirian tak akan ada ujungnya" ucapnya pelan.
"Diamlah kak, aku hanya ingin sendiri"
Itachi melirik adiknya dengan ekor matanya. Ia tau apa yang sebenarnya terjadi. Ya Sakura. Ah wanita memang susah untuk di tebak kan. Itulah mengapa itachi tak memiliki pacar sampai saat ini. Padahal dengan wajahnya yang tampan itu ia bisa dengan mudah mendapatkan gadis-gadis yang menarik. Tapi Itachi lebih memilih menikmati masa muda (udah kayak maito guy aja -_-), lagipula umurnya masih 24 tahun.
"Kau yakin tak ingin cerita dengan kakak?" Tanya Itachi memberi penawaran yang lebih terdengar dengan permintaan.
"Hn"
"Baiklah" Itachi bangun dari posisi berbaringnya. "Mungkin nanti kau mau cerita dengan kakak, kapanpun itu kakak akan selalu mendengar mu" ucap Itachi sambil melangkahkan kakinya keluar dari rumah pohon itu dan bersiap untuk pergi ke kantor.
Sasuke menutup onyxnya perlahan.
.
.
.
.
Naruto menatap bangku di sampingnya, tak biasanya Sasuke datang terlambat. Pasti Uchiha bungsu itu selalu datang lebih awal dari biasanya. Fugaku Uchiha memang mendidik anak-anak mereka dengan kedisiplinan tingkat tinggi. Berbeda 180 derajat dengan dirinya yang selalu datang terlambat sewaktu SMA. Tapi sekarang Naruto bisa sedikit lega karna universitas tidak mengikat mahasiswa ataupun mahasiswinya dengan peraturan-peraturan seperti di SMA dulu, tapi sebagai ganjarannya maka nilai semester lah yang menjadi taruhannya. Mau tak mau dengan begitu membuat para mahasiswa maupun mahasiswi harus tetap hadir pada mata kuliah mereka.
Sampai jam terakhir mata kuliah pun iris biru saphier Naruto tidak melihat batang hidung sahabatnya. 'Mungkin ia butuh untuk menyendiri' batin Naruto yang menatap langit yang mulai berubah berwarna orange kemerahan.
.
.
.
.
Kerajaan malam mulai menggantikan kerajaan siang pada hari ini, bulan sudah menggantung di langit dengan di temani beberapa bintang-bintang di sekitarnya.
Seorang gadis dengan surai merah muda tengah berbaring membaca buku novel yang baru saja ia beli tadi. Baru 3 halaman ia membaca gadis itupun menutup bukunya. Matanya kini menerawang ke luar jendela menampilkan pemandangan langit malam yang sangat indah.
"Kakashi, apa kabar dia ya?" gumam Sakura pelan.
.
.
.
'DING DONG. . . DING DONG . . . DING DONG'
"Siapa yang bertamu pada jam segini?" ucap Sakura melirik jam dinding yang menunjukan pukul 10.15.
Tapi kaki Sakura melangkah menuju pintu depan rumahnya. "Iya tunggu sebentar" sahut Sakura dari dalam rumah.
Ia menyibak sedikit gorden jendela untuk melihat siapa orang yang bertamu malam ini.
"Sauske?" ucap Sakura membukakan pintu rumahnya. Wajah Sasuke menampilkan senyuman terbaiknya.
"Ada apa?" Tanya Sakura yang melihat pria itu berdiri di ambang pintu.
"Etto, Sakura-chan, ini masalah di BEM, ada yang ingin ku bicarakan" jawab Sasuke. Sakura melihat tangan Sasuke yang memegang dua map coklat. Tadinya Sakura ingin menolak, tapi ini sepertinya penting.
"Baiklah silahkan masuk" ucap Sakura mepersilahkan Sasuke untuk masuk ke rumahnya. Sasuke pun duduk di sofa ruang tamu milik keluarga Haruno itu.
Tak berapa lama Sakura muncul dengan nampan berisi dua gelas teh dan asap yang masih mengepul, ia meletakkan dua gelas itu di atas meja.
"Baiklah apa kita bisa mulai sekarang tuan Uchiha?" ucap Sakura.
"Tunggu Sakura, a-aku mau ke toilet dulu" pinta Sasuke yang sepertinya menahan buang air kecilnya.
"Huh,dasar. Yasudah kamar mandinya ada di sebleh kiri. Jalan lurus saja lalu belok ke kanan dekat sengan dapur kok" ucap Sakura memberi arahan dimana toilet rumahnya berada.
"Baiklah" Sasuke pun buru-buru pergi dari ruang tamu.
Tangan Sakura mulai membuka isi map yang di bawa pria berambut biru donker itu. Ia mengeluarkan kertas yang berisi beberapa grafik dan perencanaan untuk organisasinya.
Ia pun mulai membaca sekaligus menganalisa apa yang tercantum di dalam kertas tersebut.
'CTAR'
"Astaga" petir yang datang tiba-tiba itu membuat Sakura terkejut. "Sepertinya akan turun hujan" gumamnya. Ia pn mulai kembali pada aktivitasnya membaca kertas yang dibawa Sasuke.
'GREP'
"S-Sasuke, apa yang kau lakukan?"
TO BE CONTINUE
AKHIRNYA CHAP 5 SELESAI JUGA. BAKALAN MASIH ADA LAGI KOK CHAP SELANJUTNYA. MAAF YA KALAU MASIH ADA TYPO..MAAF JUGA KALAU CERITANYA MASIH BELUM BAGUS.
TERIMA KASIH UNTUK :
KUROAI1013 : WAH, MAKASIH BANYAK YA UDAH MUJI FIC INI . PADAHAL INI FIC PERTAMA SAYA YANG BELUM ADA APA-APANYA. YOSH TERIMAKASIH UNTUK SEMANGATTNYA ^_^. SOAL YANG AYUMI ITU SAYA BARU INGAT WAKTU BIKIN CHAP 1 NYA ADA ADIK SAYA, TERUS DIA TANYA NAMA UNTUK FANFICTION SAYA APA, LALU SAYA JAWAB 'AYUMI' SEPERTINYA SEWAKTU SAYA MENYEBUT ITU MALAH KEKETIK JUGA. BALUM LAGI CHAP 1 DAN CHAP 2 NYA TIDAK SAYA BACA ULANG. TAPI CHAP BERIKUTNYA SAYA SADAR HARUS BACA ULANG. HEHEHE
SENGAJA SAYA BELUM FINAL FICNYA, KARNA BAKALAN ADA CERITA LANJUTANNYA LAGI, DAN JUGA BELUM KEJAWAB TUH BAGAIMANA KAKASHI BERUBAH JADI MANUSIA. HEHEHE. TADINYA MAU DIBIKIN DI CHAP 4, TAPI GAK JADI BIAR BIKIN PARA PEMBACA PENASARAN :P. MAKASIH SEKALI LAGI YA :)
OKEE MINNA, JANGAN LUPA REVIEWNYA YA ^_^ TERIMAKASIH BANYAAAK . JAA NEE. . .
