Author Note:
Halo, semuanya!
Author ngaret lagi, untuk kesekian kalinya. Maaf, karena sibuk jadi saya belum sempat update. Tolong maklumi aktor sok sibuk yang satu ini. (-_-")
Author mau ngucapin makasih banyak atas reviewnya! ^^ Dan langsung aja, inilah lanjutan dari cerita sebelumnya. Maaf kalo gaje, garing, banyak typo, dll, semoga menghibur! Mohon kritik dan sarannya~
-Lutanima-
Claire berlari.
Berlari.
Dan terus berlari tanpa arah. Asalkan dia pergi jauh dari klinik.
Dia tidak tau apa yang telah terjadi pada kakinya. Yang jelas kakinya tidak bisa berhenti bergerak sejak, ya. Kejadian yang kurang dari 3 detik itu.
Perlahan Claire berhenti dan memegang rambutnya.
Ya, orang itu telah melakukan hal yang hanya dilakukan oleh Elli dan ayahnya. Mengelus kepalanya.
Oke, jujur Claire suka saat kepalanya dielus oleh orang lain. Karena rasanya sangat nyaman. Tapi terkecuali oleh si muka aspal itu. Tidak. Tidak. Tidak. Sama sekali tidak enak.
Tanpa sadar Claire sudah sampai di depan perpustakaan. Dia pun menundukkan kepalanya. Di saat itulah, dia melihat sebuah kaleng bertuliskan, 'kare kemasan ekonomis, tinggal dihangatkan!' tergeletak tepat selangkah di depannya. Didukung oleh perasaan yang tidak bisa ia kendalikan itu, Claire pun mengangkat kakinya dan..
PRAK!
"BRENGSEK! MEMANGNYA AKU ANJING, APA?!"
KLOTAAKK!
"Yaaww!"
Claire terdiam. Merasa penasaran dengan pemilik suara bass campur cempreng yang agak melengking barusan itu, Claire mengangkat kepalanya. Tidak ada orang. Tapi begitu Claire menurunkan sedikit wilayah pandangnya...
"W-WOAH! Mayor Thomas!"
Claire yang panik, langsung mendekati mayor yang sudah terkapar dengan jidat merah, yang membuatnya terlihat lebih selaras dengan pakaian berwarna merahnya. Masalahnya, Claire saja baru bertemu dengannya sekali, saat Elli memperkenalkannya kepada beberapa penduduk sekitar klinik. Masa sekarang Claire sudah terlibat masalah dengannya?!
"Aw aw aw! Apa yang terjadi barusan...?" Mayor mengelus-elus jidatnya. Claire yang panik buru-buru mencari kaleng yang tadi dia tendang. Setelah dia menemukannya, Claire segera mengambil kaleng itu dan melemparnya ke balik semak-semak, sebelum mayor melihatnya.
"E-em..." Claire mencoba mencari alasan yang bagus. Tapi karena dia sedang tidak bisa berpikir kreatif, dia pun mencoba mengalihkan perhatian.
"Wah, mayor! Entah kenapa, topi anda terlihat lebih berkilau hari ini!"
"Ah? Hohoho! Benarkah? Ini topi yang kubeli di Swiss 75 tahun yang lalu! Sebenarnya Richard memberikannya kepadaku, tapi akhirnya karena tidak enak hati, aku pun membelinya dengan harga yang cukup mahal! Hoho!" Claire menghela nafasnya. Dia tidak peduli mayor ini mau bicara apa, asalkan kelakuannya barusan tidak ketahuan, dan tidak ditilang Haris akibat 'tindakan kekerasan pada orang tua'. Tunggu dulu. Ralat. 'pada orang yang sangat tua'.
"Wah, wah Thomas. Claire. Apa yang kalian sedang lakukan?"
Claire mengenal suara lembut ini. Dia segera menoleh ke belakang dan menghampiri sang pemilik suara.
"Ellen!"
Ellen. Ellen adalah nenek Elli dan Stu. Claire selalu menganggapnya sebagai orang yang unik. Sejak dulu, Claire selalu memanggil nenek satu ini dengan menggunakan nama panggilannya. Bukan berarti Claire tidak sopan ya. Tapi memang itulah keinginan Ellen dari awal. Ellen merasa dengan memanggilnya menggunakan namanya, Claire bisa jauh lebih nyaman saat berbincang dengannya, dan juga agar terdengar lebih akrab.
Tiba-tiba, dari belakang Ellen, muncul Stu dengan muka masamnya.
"Nenek~ Aku sudah mendorong nenek sampai keluar.. Sekarang aku boleh main?" Melihat cucu laki-lakinya menarik-narik bajunya, Ellen pun tersenyum dan mengelus kepala Stu.
"Iya, kau boleh main. Terima kasih ya, sudah menolong nenek keluar."
Seketika muka masam Stu langsung berubah menjadi gembira. Dengan cepat, dia segera berlari menuju ke arah gereja. Sementara Claire, terdiam menatap Ellen. Ya, nenek Elli dan Stu ini sudah tidak bisa berjalan dengan baik lagi. Sehingga dia harus terus menerus berada di kursi goyang. Pasti membosankan.
"Ah, Ellen. Claire. Setelah ini aku harus mengurus beberapa data dulu, jadi jika boleh, aku permisi dulu ya." Ucap Mayor sambil menundukkan kepalanya. Jidatnya masih merah. Ellen terlihat bingung melihatnya, sementara Claire pura-pura tidak tau sambil melambaikan tangan kepada Mayor Thomas.
Selama beberapa menit, suasana hening. Sampai akhirnya, Ellen memulai pembicaraan.
"Hari ini kau sendirian, Claire?" Claire terhentak. Sedikit kaget tiba-tiba diberikan pertanyaan oleh Ellen.
"I-iya! Hari ini sendiri.. Hehehe!"
"Elli masih ada di klinik?"
"Iya, bersama Dokter juga!"
"Oh begitu.."
"Hehehe..."
Suasana pun menjadi hening lagi. Sesekali Claire mencuri pandang ke arah Ellen. Dia sempat ragu, tapi.. Akhirnya dia memutuskan untuk mengeluarkan apa yang ada di benaknya.
"Pasti.. Sakit ya?"
"Eh?"
"Kaki.. Ellen.."
Ya. Seharusnya Ellen masih bisa menjadi orang tua yang segar bugar saat ini. Hanya saja sekitar lima belas tahun yang lalu, penyakit telah menggerogoti kaki Ellen. Sehingga kakinya pun menjadi sering sakit sampai saat ini. Ellen sudah tidak bisa berjalan terlalu lama. Jangankan berjalan, berdiri pun sulit.
Mendengar pertanyaan Claire, Ellen pun tertawa.
"Yah, sakit. Tentunya. Tapi rasa sakit ini menjadi bukti bahwa kakiku ini masih berfungsi." Ujar Ellen. Claire hanya terdiam mendengarnya.
"Apa kaki Ellen tidak bisa diobati?" Tanya Claire.
"Mm... Saat ini belum ada dokter yang bisa menyembuhkannya. Tapi, dengan obat dan perawatan yang mereka berikan, rasa sakit di kakiku ini bisa berkurang." Ujar Ellen sambil menatap kakinya. Dia pun bergumam lagi,
"Kurasa itulah salah satu alasan kenapa anak itu memilih menjadi perawat." Claire terdiam. Dia tau siapa orang yang dimaksud Ellen.
"Maksudnya, Elli?"
"Ya, aku kadang merasa bersalah pada anak itu. Dia kadang terlalu memaksakan dirinya menjadi perawat. Aku harap dia tidak melakukannya hanya demi aku.." Ujar Ellen. Mendengar hal ini, Claire langsung berdiri di depan Ellen dan menatapnya dalam-dalam.
"ITU TIDAK BENAR!"
"Selama ini Elli selalu berjuang keras! Tapi dia tidak terlihat terpaksa kok! Ellen tidak tau kan ekspresinya saat dia mengobati pasien? Dulu di sekolah dia selalu terlihat senang saat merawat murid yang sakit di UKS! Dia juga dipuji oleh guru-guru, dan dia mendapat julukan sebagai 'istri terbaik' satu sekolah! Dia benar-benar suka menjadi perawat!"
Ellen mengedip-ngedipkan matanya. Sementara Claire sibuk mengambil nafasnya. Setelah mencoba mencerna satu-persatu perkataan Claire barusan, Ellen pun tersenyum.
"Begitu ya? Kalau begitu bagaimana denganmu, Claire?"
"Heh?"
"Kau ingin menjadi apa, nanti?"
Kini giliran Claire yang mengedip-ngedipkan matanya. Sebenarnya dia paling bingung jika topik ini dibawa-bawa.
"...u..."
"Hmm?"
"Aku tidak tau.."
Claire menundukkan kepalanya. Selama ini dia merasa hanya ingin berada di samping Elli. Jadi dia berpikir untuk masuk ke jurusan yang sama dengan Elli, sehingga dia masih bisa memiliki kesempatan untuk terus bersama dengannya. Tapi dia tau, hal itu sama sekali tidak cocok untuknya.
"Aku ingin.. memasuki jurusan yang sama dengan Elli.. Tapi aku tau! Aku tidak cocok dalam bidang itu!" Teriak Claire. Ellen terdiam, dan terus mendengarkan Claire berbicara.
"Pertama, kalau aku jadi dokter. Aku tidak sanggup. Aku menyerah. Bahkan hapalan yang kuhapalkan hari ini, dalam 3 jam, aku melupakannya! Mustahil bagiku untuk jadi dokter dengan buku-buku pelajaran yang bisa dijadikan bantal keras itu.."
"Kedua, perawat. Sudah lama aku ingin jadi perawat seperti Elli. Tapi teman, bahkan guruku selalu menolakku melakukannya! Karena sifat ceroboh dan kasarku ini.. Katanya.. Aku.. Tidak.. Cocok.. Jadi.. Perawat..." Claire mulai lemas. Ellen pun tersenyum.
"Claire, cita-cita itu bisa berubah-ubah. Masih ada banyak pekerjaan di luar sana yang aku yakin kau akan suka nantinya. Bagaimana kalau memikirkan hal yang kau ungguli dulu, sebagai pekerjaan? Nah, sekarang.. Kira-kira apa kau punya keahlian di suatu bidang, Claire" Tanya Ellen. Claire meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Mmm... Hmmm.. Ah! Banyak orang yang bilang kalau aku jago memijat orang! Termasuk mamaku!"
...
Senyum Ellen masih melekat pada wajahnya.
"Wah-wah.. Bisa kucoba lain kali. Tapi maksudku... Ah. Begini saja, bagaimana kalau prestasi? Prestasi yang pernah kau dapat?"
"Pres.. Prestasi..? Nilai rapotku sebenarnya cukup bermasalah.. He-he.. Mm.. Tunggu.. Mm.. Ahhh! Ya! Aku pernah menang lomba makan pudding pakai sumpit! Aku yang paling cepat loh!"
...
Senyum Ellen masih... menempel pada wajahnya.
"Wah. Wah. Hebat, cukup sulit loh mengambil pudding dengan sumpit. Apalagi dengan umur setua aku. Kau hebat Claire. Tapi... Ah. Hobi. Ya, bagaimana kalau hobi?"
"Hobi.. Hobi... Apa hobiku? Hal yang sering kulakukan... Mm... Ahh! Hobiku adalah melihat foto-fotoku dulu bersama Elli! Aku mengoleksinya sampai 5 album! Dari SMP-SMA! Nanti akan kulihatkan ke Ellen! Rambut Elli masih panjang loh!"
Dan senyuman Ellen masih tetap melekat pada wajahnya. Walau kali ini, Ellen agak terdiam lebih lama. Sebenarnya di balik senyumannya Ellen sedang berpikir. Berpikir keras.
"Wah wah. Claire.. Kau itu sangat menyayangi Elli, ya?" Claire langsung tersenyum maksimal mendengar pertanyaan Ellen.
"SANGAT!" Ucapnya bangga, tanpa jeda sedetik pun.
"Elli itu baik hati, cantik, dewasa, ramah, tidak sombong, pokoknyaa! Dia adalah perempuan paling sempurna yang pernah kulihat! Tidak ada laki-laki yang akan berani menolaknya! Aku yakin itu!" Mendengar ucapan Claire, Ellen pun tertawa.
"Begitu ya? Haah... Kuharap juga begitu.."
"Eh?" Ellen hanya tersenyum kepada Claire, lalu mengambil tangan Claire dan menggenggamnya.
"Yang jelas, untuk saat ini, carilah dan lakukanlah hal yang kamu sukai. Jangan sampai menyesal akan pilihan yang kamu buat. Masih ada banyak hal yang dapat kamu lakukan, kau tau?"
Ellen pun mengelus kepala Claire.
"Terima kasih karena selalu bermain bersama Elli sampai saat ini. Untuk seterusnya, tolong jaga Elli ya."
Claire merasa pipinya memerah. Secara refleks, senyumannya pun muncul. Ya, dia memang menyukainya. Dia suka saat orang lain mengelus kepalanya. Namun, tiba-tiba senyuman di wajahnya menghilang seketika. Dia pun menatap Ellen dalam-dalam.
"Ellen..." Tanya Claire, sambil sedikit memanyunkan bibirnya.
"Ya?"
"Aku merasa senang saat kepalaku dielus.. Meskipun dielus oleh orang yang kubenci setengah mati.. Mm... Aku masih normal, kan?" Ellen tertawa mendengar ucapan Claire.
"Tentu saja, semua orang pasti menyukainya. Lagipula, elusan di kepala itu merupakan bahasa tubuh, kau tau?"
"Eh?"
"Ya, artinya itu menyampaikan bahwa 'kau sudah berusaha dengan baik'."
Mata Claire terbuka lebar. Jadi... Dia tidak pernah berpikir itu sebelumnya. Dia pikir saat orang lain mengelus kepalanya, itu hanya untuk membuatnya merasa nyaman saja. Tapi rupanya ada artinya segala. Dan...
Claire terdiam.
"Berarti aku dipuji Dokter dong?!" Tanpa sadar, Claire berteriak. Ellen hanya terdiam melihatnya.
"Dokter?"
"Ya! Selama ini aku selalu disuruh mengumpulkan rumput obat sebagai imbalan tinggal di klinik! Aku selalu gagal! Tapi tadi pagi dia tiba-tiba mengelus kepalaku! Aneh kan Ellen?! Apa itu artinya aku sudah berhasil? Aku berhasil?" Ellen mengedip-ngedipkan matanya, sementara Claire terus bertanya bertubi-tubi. Ellen hanya tersenyum.
"Ya, kurasa itu pertanda baik. Syukurlah Claire."
Raut wajah Claire langsung mencerah. Senyuman lebar menghiasi wajahnya. Dia pun melompat-lompat gembira. Dia dipuji oleh muka aspal itu! Akhirnya dia mengakui kehebatan Claire! Muwahahaha!
"Yey! Akhirnya aku diakui! Ellen! Aku ke klinik dulu ya! Aku mau bekerja dulu! Hehehe!" Claire pun melambaikan tangannya kepada Ellen, dan segera melesat ke klinik. Ellen hanya tertawa kecil melihat tingkah Claire. Dia pun memejamkan matanya sesaat, menghirup udara segar, lalu membuka matanya lagi. Dia tersenyum sendiri sambil bergumam,
"Elli.. Tampaknya, kau punya saingan yang cukup tangguh."
-oOo-
"La~la~la"
Claire berjalan sambil menari. Tanpa sadar dia sudah sampai di depan klinik. Dia sangat bangga. Bangga sekali pada dirinya. Ketika dia membuka ganggang pintu klinik...
"Aku pu..."
PLAK!
Claire sudah disambut oleh kain putih yang melayang tepat di tengah-tengah wajahnya.
Pluk.
Kain itu tergeletak di lantai. Saat Claire memperhatikannya dengan seksama, rupanya itu bukan sekedar kain biasa. Itu adalah...
"Apa yang kau lakukan pada jasku, hah?"
"Ah..."
Claire menatap orang yang berdiri di depannya. Ya, dengan dahi mengkerut ala anjing bulldognya itu, dia menatap Claire tajam. Yep. Kita sebut namanya bersama-sama! Satu.. Dua.. Tiga..!
"Dokter." Sahut Claire.. pasrah. Dokter pun mengambil jasnya, lalu memutarnya, menunjukkan sebuah benda mencolok yang tertempel di jas putih itu.
"Jelaskan maksud dari keberadaan benda ini. Sekarang." Ujar Dokter, marah. Oke. Kini, rasa percaya diri yang baru saja Claire dapatkan, lenyaplah sudah. Dia ingin pergi lagi dari sini. Sekarang juga.
"Hehehe..." Claire cuma nyengir kuda.
"Jangan ketawa!" Dokter menyentil jidat Claire. Dengan keras. Sangat keras. Entah Dokter belajar teknik itu darimana, yang jelas Claire sampai meringis, dan spontan, dia melotot karena kaget.
"AW! Hei! Padahal kau baru saja memujiku tadi pagi.. Sekejam itukah kau?!" Bentak Claire. Dokter plengo.
"Hah? Memuji?" Alis mata Dokter turun sebelah. Sial. Claire paling benci melihatnya. Tangannya selalu gatal apabila melihat Dokter menunjukkan ekspresi 'ngajak ribut'-nya itu.
"Iya! Tadi pagi kau mengelus kepalaku kan?! Kau tau? Itu bahasa tubuh! Artinya 'kau sudah berusaha dengan baik'!" Ujar Claire semangat, sekaligus... sok bijak. Padahal dia juga baru mengetahui arti bahasa tubuh itu dari Ellen.
"Hah? ...Oh. Maksudmu saat aku mengelapkan rempah-rempah roti yang ada di tanganku ke kepalamu?"
"..."
Hah?
Claire plengo. Orang di depannya ini barusan bilang apa?
"Rempah... Rempah?"
"Ya, toh rambutmu berantakan juga. Dan kepalamu kebetulan pas, jadi.. Begitulah."
Mengelap.. MENGELAP!?
Si muka aspal ini... Bukan mengelus kepalaku tadi pagi.. TAPI MEMINDAHKAN REMPAH ROTI YANG ADA DI TANGANNYA KE KEPALAKU?!
"...doh..."
"Hah?"
"SI OM MUKA ASPAL BODOH SIALAANN!"
BUUKKK!
"GAAHH!"
Drap drap drap!
Setelah menendang kaki Dokter, Claire segera berlari ke kamarnya. Dia kesal. Kesal. Kesal.
Memang benar! Tidak ada yang bisa dia harapkan dari si muka aspal itu! Dia memang siluman iblis tua muka rata super kejam!
Ckreekk!
Tepat setelah Claire hendak membuka pintu, dari dalam kamar, Elli sudah membuka pintu. Claire pun langsung tersenyum dan menyapa Elli.
"Ah, Elli! Halo..."
Syuuu
Namun, Elli pergi melewati Claire begitu saja, tanpa membalas sapaan Claire. Claire terdiam. Tak lama mukanya memucat. Dia segera menoleh ke belakang. Elli sudah turun ke bawah klinik.
Apa yang terjadi?!
Barusan, Claire tau, dia sudah menyapa Elli. Tapi Elli tidak membalasnya! Seumur hidup, baru kali ini hal ini terjadi. Apa yang telah terjadi?!
"Jangan-jangan.. Elli.. Marah.. Padaku?!"
"... Bagaimana ini..."
Masih tidak tau apa yang telah dia lakukan, Claire pun tertunduk lemas di lantai. Elli marah padanya. Apa sebabnya?!
"Gawat.. Apa yang harus kulakukan...? ... Ellliiiii!"
(O_O") !?
(-bersambung-)
