Author Note:

Selamat Hari Senin Semuanyaaa~

Update! Yeay! ~ (?)

Pertama saya ingin ucapkan terimakasih atas reviewnya, dan makasih yang udah meluangkan waktunya untuk baca fanfic ini, sampai saat ini. Berkat kalian semua, saya bisa melanjutkan fanfic ini! ^^

Mmm... Di chapter ini kalo menurut Author sendiri sih, banyak galaunya. (?) Ya, di chapter ini lebih memusatkan sudut pandang ke Elli dan masa lalu dibalik cinta bertepuk sebelah tangannya.. Hehehehe *tawa mencurigakan*. Ada juga sepintas masa lalu Claire yang akan dimunculkan sedikit disini... Jadi... Ya, tunggu apa lagi?

Selamat membaca! Maaf kalau tidak sesuai harapan, gaje, garing, terlalu berlebihan, saya berharap cerita ini dapat menghibur kalian semua! ^^

Mohon kritik dan sarannya! Terima kasih~

-Lutanima-


Apa yang terjadi denganku?

Elli duduk di kursi resepsionis, sambil menghela nafasnya. Dia menutup matanya sambil menopang pipinya, dengan menggunakan tangannya.

"Apa yang barusan kulakukan? Gawat.."

Dia baru saja menghiraukan Claire. Apa yang ada di pikirannya? Masih dapat terbayang di benaknya ekspresi Claire saat dia melewatinya begitu saja, tanpa membalas sapaannya sama sekali. Saat ini dia benar-benar merasa bersalah.

Mungkin dia terdengar bodoh, tetapi jujur, dia merasa cemburu dengan Claire berkat kejadian tadi pagi. Ya, dia cemburu. Ketika Dokter mengelus kepala Claire.

Dokter.

Ya, Elli merasa dialah yang paling mengenal Dokter. Selama ini dia belajar dengan tekun untuk menjadi perawat, salah satunya adalah demi bisa terus berada di samping Dokter seperti sekarang ini.

Sambil menutup matanya, Elli pun mulai mengingat kembali, bagaimanakah awal mula dia bertemu dengan Claire, dan juga Dokter.

-oOo-

(6 tahun yang lalu)

"Ne-nenek.. Akan lumpuh?"

Elli menatap pria tua berjas putih di depannya, sambil menahan tangannya yang terus gemetaran.

"Ya, untuk sementara dia bisa dirawat dulu disini. Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan." Ujar pria itu sambil menatap Elli dengan tatapan sedikit iba.

"Baik.. Terima kasih, dokter." Elli pun menundukkan kepalanya, dan berjalan keluar dari ruang dokter. Setelah menutup pintu, Elli bersandar di dinding. Dia menutup matanya. Menahan air matanya untuk keluar.

Dia baru menginjak kelas 3 SMP. Harusnya saat ini dia hanya fokus memikirkan jadwal belajar untuk ujian SMA nanti. Dia berusaha mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya barusan. Saat tiba di rumah, pemandangan pertama yang dia lihat adalah neneknya, yang terbaring tak sadarkan diri di ruang tamu. Dan Stu adiknya yang masih berumur 2 tahun, menangis di dalam keranjang bayi. Kejadian itu terasa buram di pikiran Elli. Dia berlari keluar rumah, berteriak meminta pertolongan, tak lama ambulans datang dan membawa dia dan neneknya pergi ke rumah sakit. Stu telah dititipkan pada tetangga mereka.

Ya, mereka hanya tinggal bertiga. Orang tua Elli meninggal sekitar 3 bulan setelah kelahiran Stu, akibat kecelakaan lalu lintas. Setelah itu, Ellen lah yang membesarkan mereka berdua dengan sepenuh hati. Sendirian. Para saudara mereka tidak mau mengurus mereka. Hanya Ellenlah yang dengan sabar dan penuh ketulusan hati, merawat mereka berdua hingga kini.

Tapi Elli tidak pernah sadar, bahwa rupanya hal itu juga terasa berat bagi Ellen sendiri. Elli sama sekali tidak menyadari bahwa neneknya telah memaksakan dirinya, hingga kejadian ini terjadi. Sejak dulu sebenarnya, Ellen sudah memiliki penyakit unik ini di kakinya. Dia seharusnya tidak boleh terlalu banyak bergerak. Namun, Ellen tidak mempedulikan hal itu. Dan hal ini pun terjadi. Ya, kaki Ellen tidak bisa berjalan dengan baik lagi. Penyakit yang cukup unik bagi para dokter.

Elli termenung. Dia terdiam. Dia merasa tidak sanggup untuk bergerak dari tempat dia berdiri. Tapi mengingat Stu masih menunggunya di rumah, dengan langkah yang terasa sangat berat itu, Elli pun berjalan menuju rumahnya.

-oOo-

"Elli! Kamu tidak apa-apa? Nenekmu bagaimana?!"

Pertanyaan bertubi-tubi langsung menyambut Elli saat dia membuka pintu kelas. Ya, dia sudah ijin 4 hari untuk tidak masuk sekolah berkat kejadian itu. Para guru memakluminya, mereka tau bahwa perjuangan yang dibutuhkan Elli sangatlah berat. Saat ini Ellen masih belum sadarkan diri, dan masih dirawat inap di rumah sakit. Sementara Stu, dititipkan pada tetangga mereka. Untunglah tetangga mereka sangat baik hati dan memahami kondisi Elli. Mereka bersedia merawat Stu, selama Elli pergi ke sekolah.

"Terima kasih atas perhatian kalian. Nenekku sudah membaik kok, meski belum sadarkan diri. Itu juga berkat bantuan dan doa dari kalian semua." Dengan sekuat tenaga, Elli mencoba untuk tersenyum. Teman-temannya yang menyadari hal itu hanya terdiam dan tidak bertanya lebih jauh lagi.

"Ah, Elli! Tadi bu guru memintamu untuk ke ruang guru sekarang." Uajr salah satu teman Elli.

"Ah, iya. Baiklah aku akan segera ke sana."

Setelah meletakkan tasnya, Elli segera pergi berjalan ke ruang guru. Elli dapat mendengar para siswi di kelasnya menjadi semakin ribut setelah dia keluar dari kelas.

Pasti mereka sedang menggosipiku.

Ujar Elli dalam hati.

Ya, sekolah Elli adalah sekolah khusus putri. Karena itulah jujur, Elli jarang berhubungan langsung dengan anak laki-laki.

"APA MAUMU, HAH?!"

Elli berhenti di tengah perjalanannya. Dia melirik ke arah gerombolan di pinggir lapangan, yang sedang menggerubuni sesuatu. Penasaran, Elli mencoba mendekat.

"Heh. Kau, anak baru. Kau tidak tau bahwa peraturan di sekolah ini, tidak memperbolehkan para murid mengecat rambutnya. Hanya coklat dan hitam yang diperbolehkan disini!" Ujar salah satu siswi yang kelihatannya merupakan pemimpin dari gerombolan itu. Apa ini? Ternyata di sekolahnya masih berlaku geng-gengan?

"Iya benar! Jangan-jangan kau itu preman ya?"

"Menjijikkan! Padahal ini kan sekolah ternama!" Para siswi lainnya pun ikut mencaci maki seseorang yang berada di tengah-tengah mereka. Namun Elli masih belum dapat melihat dengan jelas, siapa yang ada di tengah-tengah mereka. Tampaknya orang itu sedang duduk.

"... Berisik. Sudah kubilang, ini rambut asli!"

Orang yang dikerubuni para siswi itu pun berdiri. Disaat itulah, Elli bisa melihat rambut blonde selehernya, dan juga ekspresi tidak sukanya, yang ia tunjukkan jelas kepada para siswi yang mengerubuninya itu.

"Hee~ kau berani melawan ya? Padahal kau ini murid baru.. Harus kita beri pelajarankah, teman-teman?" Para siswi itu pun mulai cekikikan. Elli tau, dia harus melerai mereka.

"... Hentikan!"

Para siswi itu pun segera menoleh ke arah Elli. Seketika, wajah mereka menjadi pucat.

"K-kak Elli!"

"Apa yang kalian lakukan?"

Mereka hanya bisa tertunduk diam, kemudian satu persatu dari mereka mulai melarikan diri. Kini, Elli bisa melihat dengan jelas siapa orang yang mereka kerubuni tadi itu. Tapi anehnya, Elli sama sekali belum pernah melihat gadis ini.

"Kau murid baru?" Tanya Elli lembut. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pelan, sambil menundukkan kepalanya. Elli pun tersenyum dan mengulurkan tangannya.

"Namaku Elli. Kelas 3-B. Aku ketua osis disini. Salam kenal ya." Elli bisa melihat ada sorot rasa kagum di mata gadis di depannya. Namun itu hanya berlaku sesaat, sampai gadis itu memalingkan wajahnya lagi.

"... Claire. Kelas 1-A."

"Salam kenal, Claire." Ujar Elli sambil tersenyum.

Setelah beberapa menit berlalu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, Elli pun mulai tersenyum dan memutuskan untuk bertanya dengan lembut kepada gadis di depannya ini.

"Apa yang terjadi? Apa para gadis tadi menjahilimu? Kau bisa menceritakannya padaku."

"…. Tidak ada apa-apa. Mereka hanya mengajakku bicara." Ujar Claire, singkat dan agak kasar. Mungkin dia belum mempercayai Elli sepenuhnya. Elli yang menyadari hal ini pun tersenyum.

"Hm? Bicara? Mereka terlihat seperti mengajak bertengkar di mataku." Ujar Elli. Dia bisa mendengar gadis di depannya ini mendecak kecil.

"… Lalu apa urusannya denganmu? Untuk apa kau tau tentang urusanku?"

"Aku harus tau. Karena aku Ketua Osis disini. Dan aku juga ingin menolongmu."

"Menolong? … Aku tidak butuh bantuanmu. Aku sudah biasa seperti ini."

Elli terdiam mendengar ucapan gadis itu. Terlihat sorot mata sedih yang dia sembunyikan di dalam sifat kasarnya itu. Elli harus menolong gadis ini. Ya, dia tau itu.

"Aku sempat mendengarnya tadi.. Apa ini soal rambutmu?" Claire tampak terkejut mendengar ucapan Elli. Dia langsung menutupi rambutnya dengan tangannya. Tampaknya jawaban Elli benar.

"… Aneh kan? Seperti anak nakal? Berapa kali pun aku mengatakan bahwa ini rambut asli, tidak ada satu pun orang yang percaya. Mungkin karena mama berambut hitam, mereka tidak percaya padaku."

"Mmm? Lalu, bagaimana dengan ayahmu?"

"…" Claire tidak bicara. Elli sadar, mungkin seharusnya dia tidak menanyakan pertanyaan itu. Dia pun berpikir sejenak, kemudian berkata lagi.

"Memangnya kenapa kalau terlihat seperti anak nakal?"

"Hah?"

"Apa itu buruk? Itu kan hanya pendapat sebagian orang saja. Yang menilai bahwa kau anak nakal atau tidak, itu kan dilihat oleh kelakuanmu sendiri. Bayangkan, misalnya ada orang yang berwajah seram, penuh luka-luka. Tapi dia ternyata adalah orang yang baik, suka menolong, dan suka bermain dengan anak-anak. Apa yang kau pikirkan? Apa karena dia penuh luka dan seram, sudah membuktikan kalau dia orang jahat?"

"T-tidak…?" Ujar Claire agak ragu.

"Iya kan?" Elli tersenyum menatap Claire. Claire pun tampak terdiam dan masih tertegun akan ucapan Elli barusan.

"Lagipula, aku tidak membenci rambutmu." Ujar Elli sambil menyentuh beberapa helai rambut Claire.

"Kuning itu warna yang sangat cerah, pembawa harapan dan semangat. Itu membuktikan kalau kau itu gadis yang kuat, ceria, penuh semangat, dan selalu diberkati oleh masa depan yang cerah. Arti yang sangat bagus kan? Meskipun mereka mengatakan rambutmu seperti preman atau apapun itu, tapi aku menyukainya! Bagaimana kalau kau mencoba memanjangkannya? Kurasa akan cocok untukmu! Pasti jadi cantik!"

Claire terdiam melihat senyuman Elli. Elli terlihat sangat menyilaukan di matanya. Tanpa sadar, air matanya sudah mengalir. Dia merasa sangat hangat. Baru kali ini ada seseorang yang mengatakan rambutnya indah. Rambut yang sejak dulu orang lain pandang buruk. Bahkan rambut yang ibunya sekali pun, tidak suka melihatnya.

Claire bisa saja langsung mengecat hitam rambutnya, untuk menghilangkan warna kuning ini. Tapi….. Dia tidak bisa. Seberapa pun dia membenci rambutnya, baginya rambut kuning ini tetap berharga. Dia tetap menjaga rambut kuning ini. Karena rambut ini… Adalah peninggalan terakhir yang mengingatkannya akan sosok sang ayah, yang telah meninggalkannya, saat dia kecil.

"…sih.…" Sambil menangis, Claire mencoba mengucapkan sesuatu.

"Hmm?" Elli memberikan sapu tangannya, sambil menunggu lanjutan dari ucapan Claire.

"Terima… Kasih.." Claire menerima sapu tangan dari Elli, sambil menatapnya lekat-lekat dengan mata sembabnya. Melihat hal itu, Elli pun tersenyum sambil menatap Claire kembali.

"Iya, sama-sama, Claire."

-oOo-

Elli berlari di lorong rumah sakit. Dia tidak peduli lagi tatapan tajam dari para pasien dan suster yang dia lewati barusan karena dia telah berlari di rumah sakit. Dia harus segera sampai ke kamar rawat neneknya, dan memastikannya dengan mata kepalanya sendiri.

Sraagh!

Elli membuka pintu kamar neneknya, dan melihat sosok neneknya, yang sedang berbaring di kasurnya, dengan mata terbuka.

"Elli.. Kau sudah pulang?"

Melihat senyuman serta mendengar suara hangat neneknya itu, tanpa sadar air mata sudah membendung di mata Elli, membuat pengelihatannya menjadi kabur. Tanpa menunggu lagi, Elli segera berlari dan memeluk erat neneknya, sambil menangis.

"N-nenek …. NENEK!"

Elli benar-benar lega. Setelah mendapat telepon bahwa neneknya telah sadar, Elli segera berlari dari sekolah menuju rumah sakit. Ellen, segera mengelus kepala cucu perempuannya itu.

"Maaf ya, Elli. Aku membuatmu khawatir… Maafkan nenek ya.."

Elli terus memeluk erat neneknya. Dia sangat takut. Sangat takut. Tapi kini dia benar-benar merasa lega. Pikirannya terasa kosong sekarang. Dia merasa dia tidak bisa berhenti tersenyum lega.

"…. Ehem."

Mendengar suara berat tak asing itu, Elli pun segera melepaskan pelukannya kepada neneknya, dan menatap pria di depannya ini, dengan penuh rasa terima kasih. Saking senangnya dia melihat neneknya telah sadar, dia sampai tidak menyadari kehadiran Dokter yang telah berada di ruangan itu sejak tadi.

"P-pak dokter, terimakasih banyak!" Ujar Elli sambil menundukkan kepalanya. Pria tua di depannya itu menjadi salah tingkah dan menggelengkan kepalanya.

"Ah, tidak. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu. Nenekmu memang sudah sadar, tapi ada baiknya jika dia tetap dirawat disini dulu selama seminggu untuk kami teliti penyakitnya lebih lanjut lagi." Ujar sang dokter.

"Ah! Baik! Mohon bantuan bapak untuk selanjutnya!" Ujar Elli dengan semangat dan penuh rasa terima kasih. Tapi lagi-lagi dokter itu menggelengkan kepalanya.

"Mm.. Sebenarnya.. Mulai hari ini, bukan aku lagi dokter penanggung jawab nenekmu."

"E-eh? Oh begitu.. Lalu siapa?" Tanya Elli sedikit terkejut. Dia sudah senang dengan Pak Dokter yang satu ini, karena dia sangat baik dan perhatian kepada neneknya. Lalu bagaimana dengan dokter barunya?

"…. Mungkin kau akan terkejut. Tapi jangan khawatir. Dia sangat berbakat dan dijuluki dokter jenius. Walau usianya masih sangat muda. Aku rasa, mungkin dia akan berhasil menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit nenekmu." Elli hanya mengedip-ngedipkan matanya mendengar ucapan pak dokter satu ini.

Sraaagh

Muncul seseorang dari balik pintu. Dia pun mendekat dan menatap Elli serta pak dokter yang ada di depannya.

"Ah, ini dia dokter yang barusan kubicarakan. Kenalkan, ini Dokter Trent."

Elli bengong. Dia menatap orang yang ada di depannya. Dia memang pernah mendengar banyak dokter muda yang ahli sering ditemukan pada masa kini. Ta-tapi.. Orang di depannya ini benar-benar muda. Bahkan mungkin seumuran dengannya! Bagaimana bisa?!

"Ah, kau pasti kaget ya. Biar pun dia masih 14 tahun, Dokter Trent ini sudah lulus kuliah kedokteran di luar negeri 3 tahun yang lalu." Mendengar ucapan pak dokter, Elli makin plengo. Ternyata lelaki di depannya ini benar-benar seumuran dengannya. Sadar bahwa dia sejak tadi menatap lelaki itu dengan tidak sopan, Elli pun menundukkan kepalanya.

"M-mohon bantuannya.. E-em.."

"Panggil saja Dokter. Dan jangan sekali-sekali menyebutku Pak Dokter. Aku masih muda." Ujarnya dengan ekspresi datar. Pak dokter di sampingnya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Maaf ya, biarpun kasar begini, dia benar-benar jenius. Kau bisa mempercayainya."

Elli masih mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya. Lelaki ini, dialah yang akan merawat neneknya untuk ke depannya. Elli harap, dia bisa mempercayainya.

-oOo-

"Pagi, Elli!"

"Oh, Claire. Selamat pagi."

Sudah tiga hari semenjak kejadian itu, Elli masih sekolah seperti biasa. Claire, dia sekarang menjadi anak kuat dan ceria. Dia tidak pernah lagi dijahili, karena para gadis yang waktu itu menjahilinya, telah dihajar habis-habisan olehnya. Berkat ketangguhan Claire, dia sekarang menjadi cukup popular dan diandalkan oleh teman-temannya. Elli cukup kaget melihatnya, tapi selama itu membuat segalanya menjadi lebih baik, tidak apa kan?

"Jepit rambutmu manis sekali, cocok denganmu." Ujar Elli sambil menunjuk jepit rambut bintang milik Claire, yang menghiasi rambut kuningnya itu.

"Hehehe, iya! Tapi rambutku masih cukup pendek.. Aku akan memanjangkannya sampai rambutku sepanjang Elli!"

"Mmm? Benarkah? Aku tidak akan sabar melihatnya."

"Hehehe!"

Elli dan Claire pun berjalan menuju lorong sekolah, sampai Claire menyadari Elli membawa sesuatu sejak tadi.

"Elli, apa itu?" Tanya Claire.

"Mmm? Ah. Ini bunga. Pulang sekolah nanti, aku mau ke rumah sakit, menjenguk nenekku." Claire mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah mendengar cerita mengenai nenek Elli.

"Aahh~ Aku ingin ikut juga.. Tapi hari ini tidak bisa.. Aku janji membantu mama mengurus cafenya.." Ujar Claire, dengan nada kecewanya.

"Tidak apa. Lain kali kau bisa menjenguk nenekku, kapan saja kau mau. Oke?"

"Oke! Kalau begitu, aku duluan ya Elli! Pelajaran pertamaku dengan si guru galak itu… Sampai jumpa nanti!" Claire pun berlari ke kelasnya sambil melambaikan tangannya. Elli pun melambaikan tangannya pula, lalu berjalan menuju kelasnya, sambil membawa kantung berisi bunganya itu.

-oOo-

"Minggir-minggir! Pasien Gawat Darurat! Segera hubungi dokter!"

"Aku butuh darah golongan O sekarang juga. Cepat bawa ke ruang operasi!"

"Huweee! Sakittt!"

"Suster, tolong! Ibuku telah sadarkan diri!"

Elli terdiam, berdiri di depan pintu masuk rumah sakit. Dia sudah mulai terbiasa dengan kehebohan di rumah sakit. Awalnya dia merasa takut dan tidak nyaman dengan suasana itu, tapi saat ini dia malah ingin membantu mereka.

"Huweee! Aku gak mau disuntik!"

Elli menoleh ke arah suara anak kecil yang sedang menangis. Di samping anak itu, tampak seorang wanita dan seorang suster berusaha menenangkannya.

"Rian, kalau kau tidak disuntik, kau tidak akan sembuh!"

"Gak mau! Suntik itu sakit!"

"Tidak sakit kok, hanya tiga kali digigit semut saja, ya?"

"POKOKNYA GAK!"

Tangisan anak kecil itu pun semakin menjadi. Para orang-orang disekitar pun satu-persatu mulai menatap anak itu. Ibu dari anak itu pun mulai tampak gelisah.

"Rian, jangan bikin mama malu! Jangan menangis dong, kamu kan laki-laki!"

"Ga mau! Ga mau disuntik!"

"Memangnya kenapa kalau disuntik?"

Anak dan ibunya itu pun segera menoleh ke arah Elli, yang memutuskan untuk mendekati mereka. Elli pun membungkukkan badannya agar bisa lebih mudah bertatapan dengan anak laki-laki di depannya ini.

"Halo! Siapa namamu adik kecil?"

"Hik.. ... Rian.." Anak lelaki itu mulai menghapus air matanya, dan memegang erat kain baju ibunya. Kelihatannya dia sedikit takut akan kedatangan Elli.

"Oh begitu.. Rian, kenapa kamu tidak mau disuntik? Kalau kamu disuntik, kamu tidak akan bisa sembuh." Ujar Elli. Anak lelaki di depannya ini pun memajukan bibirnya.

"Soalnya suntik itu sakit! Aku ga suka!" Elli pun tertawa kecil mendengar jawaban anak kecil itu.

"Hee.. Masa sih? Memangnya berapa umurmu sekarang?"

"7 tahun!"

"Hmm.. Coba kamu lihat disana!" Elli menunjukkan lorong kamar balita.

"Mereka yang masih bayi saja, tidak takut disuntik, masa kamu takut?" Anak lelaki itu pun mulai mengkerutkan alisnya.

"B-biarin! Mereka kan masih bayi! Belum mengerti apa-apa! Beda dengan aku dan teman-temanku! Yang sudah mengerti rasa sakit!"

"Jadi kau hanya ingin ikut-ikutan temanmu? Tidak ingin menjadi lebih kuat dari mereka?"

Anak kecil di depan Elli ini pun terdiam. Dia tampak berpikir dan menundukkan kepalanya. Elli pun menggenggam tangannya.

"Mau kukasih tau caranya supaya tidak sakit?" Mendengar tawaran Elli, mata anak di depannya ini pun berkilauan.

"M-mau! Memangnya bisa?!"

"Ada, sini! Pertama, genggam tanganku ya?" Anak lelaki itu pun menggenggam tangan Elli kencang-kencang.

"Lalu, tutup matamu." Anak laki-laki itu pun menutup matanya.

"Nah, setiap aku bertanya, kamu jawab iya atau tidak ya.. Tapi jangan buka mata sebelum aku perbolehkan, oke?"

"O-oke..." Jawab anak itu sedikit gugup. Elli pun memberikan isyarat pada suster di sampingnya.

"Apa... Kau suka main bola?!"

"I-iyaa!"

"Hmm.. Apa.. Kau suka makan sayur?""

"T-tidak!"

"Masih sering ngompol di celana?"

"TIDAK!"

Mendengar percakapan Elli dan anak lelaki itu, banyak pasien anak-anak yang mulai berdatangan, menyaksikan mereka dan tertawa-tawa.

"Mm... Pernah tidak mengerjakan pr?"

"Mm.. Eh.. I-iyaa..."

"Sudah punya pacar?"

"E-eh?! Tidak!"

"Orang yang disukai?"

"E-ehh! Em..?!"

"Biar kutebak.. Pasti gadis yang kau suka itu… Kulitnya putih!?"

"T-tidakk...!" Muka anak lelaki itu mulai memerah.

"Eh? Jadi kau suka yang berkulit hitam?"

"BUKAN BEGITUU!"

Para pasien anak-anak disekeliling mereka pun mulai tertawa. Sementara itu, suster pun memberikan tanda pada Elli.

"Nah, kau sudah boleh membuka matamu." Anak laki-laki itu pun membuka matanya dan baru sadar bahwa dirinya sudah dikelilingi oleh anak-anak lain.

"Eh? Eh?"

"Kau hebat sekali! Tadi suntiknya tidak sakit?"

"Haha! Jadi pacarmu berkulit hitam ya? Orang afrika kah?" Para anak-anak lainnya sibuk memberikan pertanyaan. Sementara anak lekaki itu, masih tampak kebingungan.

"Eh? Eh? Aku tadi disuntik?!"

"Iya, tidak begitu sakit kan? Ayo, bilang terima kasih sama kakak itu." Ujar ibu dari anak itu. Dia pun tersenyum dan menundukkan kepala kepada Elli.

"Ehh? Tidak apa-apa! Lagipula.. Aku memang ingin mencoba melakukan hal-hal layaknya seorang suster.." Ujar Elli sambil tersenyum. Mendengar hal itu, anak lelaki itu pun mendekati Elli, dan menggenggam tangannya.

"... K-kalo kakak yang jadi susternya, aku mau kok disuntik lagi.."

Elli segera tertawa kecil menanggapi pernyataan tersebut. Namun, belum sempat Elli menjawabnya, seseorang sudah mendahuluinya.

"Ada apa ini ramai-ramai?"

Elli menoleh ke sumber suara, yang ternyata adalah orang yang tidak asing lagi baginya.

"D-Dokter Trent!"

"... Ah. Kau cucunya nenek itu ya?" Elli pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Panggil Dokter saja, rasanya tidak enak mendengar orang lain memanggil namaku." Ujar Dokter. Dia pun berjalan melewati mereka begitu saja. Elli yang sadar akan tujuan utamanya untuk menjenguk neneknya pun, segera pamit dari sana, dan berlari menuju kamar neneknya. Dia sadar, Dokter tampaknya ingin menuju tempat yang sama. Alhasil mereka pun berjalan bersama dalam keheningan.

...

Merasakan suasana yang sangat kaku, Elli berusaha berpikir keras, mencari sebuah topik untuk memecahkan keheningan. Tapi entah kenapa sesuatu di dalam dadanya terus membuatnya gelisah, sehingga dia tidak dapat berpikir dengan jernih. Sesekali, Elli pun mencuri-curi pandang kepada Dokter.

Dia benar-benar terlihat seperti siswa pada umumnya. Hanya saja, saat ini dia memakai jas putih ala dokter, lengkap dengan perabotannya. Postur tubuhnya cukup tinggi, membuat Elli harus menengadah saat berbicara dengannya. Mungkin karena itulah, dia terlihat dewasa. Jujur, Elli jarang bertemu langsung dengan lelaki sebayanya. Mungkinkah itu penyebab rasa gelisahnya selama ini saat dia bersama Dokter?

"... Hm?"

"U-UWAA!"

Elli terhentak mundur. Dia kaget. Tiba-tiba mereka bertatapan mata. Sementara Dokter, tidak menghiraukan Elli dan terus berjalan menuju kamar Ellen. Elli pun segera menarik nafasnya, dan mengejar Dokter.

"... Pasti kau merasa aneh ya?" Tiba-tiba Dokter berbicara.

"E-eh?"

"Yah.. Seorang Dokter, dengan umur semuda aku. Kau pasti meragukanku, kan?" Elli dapat melihat sorot mata menerawang terpancar di mata Dokter.

"I-itu tidak benar! A-... Aku percaya padamu!" Ujar Elli, yang tanpa sadar telah berteriak di lorong rumah sakit. Dia pun segera menutup mulutnya. Dokter tetap cuek, dan kembali berjalan tanpa mengatakan apapun. Elli pun mengikutinya perlahan dari belakang.

"Berteriak di lorong rumah sakit itu adalah hal yang dilarang, kau tau?"

"E-eh?!..." Elli tampak tersinggung mendengar ucapan Dokter. Dia pun menundukkan kepalanya, malu. Tapi, rupanya Dokter masih melanjutkan ucapannya.

"... Kalau kau mau menjadi suster, kau harus ingat baik-baik hal itu."

Elli mengangkat kepalanya. Tanpa sadar mulutnya menganga dan kakinya mulai terasa lemas. Dokter masih berjalan di depannya, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Elli bisa merasakan pipinya menghangat.

Bagaimana dia tau tentang hal itu?

Apa dia mendengarnya tadi?

Apa dia melihatnya tadi?

...

Apa dia barusan mendukungku?

Elli pun tersadar dari lamunannya, dan mendapati bahwa mereka telah sampai di kamar neneknya. Dokter segera melakukan beberapa pemeriksaan pada Ellen. Sementara Elli, mematung di pinggir ranjang neneknya. Entah kenapa dia tidak bisa melepaskan pandangannya pada dokter satu ini.

"Yak, tampaknya kondisimu hari ini sudah cukup stabil."

"Ah, terima kasih, dokter. Maaf sudah banyak merepotkanmu. Padahal kau juga masih seumuran Elli.. Tapi kau sudah sangat hebat sekali.." Ujar Ellen sambil tersenyum.

"... Ini adalah pekerjaanku. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk melakukannya. Jangan khawatir. Aku janji.."

Dokter menatap Ellen dengan sungguh-sungguh.

"Aku akan menyembuhkan penyakitmu."

Deg!

"Wah-wah.. Terima kasih. Mendengarmu mengatakan hal itu, sudah membuatku sangat senang.. Benarkan, Elli?"

"..."

"Mmm? Elli?"

"..." Elli masih terus mengedip-ngedipkan matanya. Dokter, masih tetap cuek, langsung pamit dan keluar dari kamar rawat Ellen. Setelah Dokter keluar dari ruangan itu, Elli pun langsung terjatuh ke lantai.

"E-elli?!" Ellen segera menatap cucunya yang kini sedang terkapar di lantai. Sementara Elli, masih terus mengedip-ngedipkan matanya.

Tadi, saat Dokter berbicara dengan Ellen, dia nampak sangat bercahaya di mata Elli. Dia tampak... Keren. Tapi dalam berbagai arti. Elli sangat kagum ketika dia mengatakan bahwa dia berjanji untuk menyembuhkan penyakit neneknya.

Dan dia sadar ketika Dokter mengatakan hal itu, bahwa...

"Elli? Elli?" Ellen masih terus memanggil nama cucunya yang tak kunjung meresponnya balik. Setelah kesekian kalinya namanya dipanggil, Elli pun berdiri dan menatap neneknya lekat-lekat.

"Nenek..." Ellen mengedip-ngedipkan matanya, heran akan tingkah laku cucunya ini.

"Ada apa, Elli? Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"

"... Aku sudah memutuskan.. Sesuatu…..!"

Krasak!

Elli segera memberikan bunga yang dia bawa kepada neneknya, lalu berlari menuju pintu keluar kamar.

SRAGH!

Elli segera berlari keluar dari kamar neneknya. Ya, dia harus menemukan orang itu, sekarang!

Setelah berlari selama beberapa menit, mencari-cari, akhirnya Elli menemukan sosok yang dia cari-cari, sedang berjalan di lorong rumah sakit. Tanpa basa-basi, Elli segera memanggilnya.

"DOKTER!"

Set!

Semua mata memandang Elli. Elli pun segera menutup mulutnya, sekaligus menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya itu. Celaka. Tanpa sadar, dia sudah berteriak lagi. Dan buruknya. Di depan Dokter lagi, pula.

Elli mengintip dari balik rambutnya, Dokter masih terdiam di tempat dia berdiri tadi, dan menatapnya dengan raut wajah datarnya. Elli menghela nafasnya. Dia mencoba menenangkan dirinya, dan berjalan ke arah Dokter.

"... Ada perlu apa?" Elli merasa ada benda tajam yang menusuk dadanya saat itu juga, setelah dia mendengar suara Dokter. Tenang Elli. Tenangkan dirimu.

"Y-ya.. Ada sesuatu yang ingin... kukatakan.." Dokter menatap Elli. Menunggu kelanjutan dari perkataan Elli.

"... Aku sudah memutuskan.. Kalau aku..."

Elli mengangkat kepalanya dan menatap Dokter.

"Aku akan menjadi perawat."

Ya.

Sejak dulu, Elli sangat senang menjadi petugas di UKS. Kenapa? Karena dia suka ketika orang lain mengandalkannya. Ketika orang lain membutuhkannya, terutama ketika mereka sedang sakit. Ya, saat menolong anak lelaki tadi, Elli juga sadar bahwa dia memang menyukai hal yang berbau dengan pengobatan. Tapi lebih dari itu, dia sadar, akibat dari janji yang diucapkan Dokter tadi. Elli ingin melakukan hal yang sama seperti Dokter.

Menolong orang sakit.

Membantu mereka mempertahankan harapan mereka untuk kembali sehat.

Bersama-sama membantu mereka menyembuhkan diri mereka.

Ya...

Elli….. Ingin menjadi perawat.

"..."

Hening.

Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Baik Elli, maupun Dokter. Elli pun menundukkan kepalanya. Paling tidak, dia berhasil mengatakannya kepada Dokter. Dia tidak tau kenapa dia melakukannya tapi.. Sesuatu di dalam hatinya berkata bahwa dia harus mengatakan hal ini kepada Dokter.

"... Ya, semoga berhasil."

Mendengar suara itu, Elli langsung mengangkat kepalanya. Kini, yang dia lihat, adalah sosok punggung Dokter yang sudah membelakanginya, berjalan semakin jauh.

Aneh.

Ada sesuatu yang aneh di dalam diri Elli.

Elli tidak mengerti.

Tiba-tiba dia merasa dapat melihat sekeliling dengan lebih jelas.

Kakinya pun terasa begitu ringan untuk melangkah.

Tetapi ada satu hal lagi yang lebih sulit untuk dia pahami.

Entah kenapa...

Dia tidak bisa menghentikan senyuman yang sejak tadi terus melekat di wajahnya itu.

Ya, Elli sadar akan suatu hal.

Dia...

Telah jatuh cinta.

-(bersambung)-