AUTHOR NOTE:
APA KABAR SEMUANYA?
Author benar-benar minta maaf udah lama banget gak update... Dikarenakan tugas yang merajalela dan waktu luang yang sangat sempit... Benar-benar mohon maaf... (_")
Di samping itu author juga mau ngucapin makasih banyak buat reviewnya! Maaf gak bisa dibalesin satu-satu! Tapi semua review yang kalian tulis benar-benar berarti buat saya... Yang udah favorite storynya juga... Makasih banyak! Kalianlah motivasi saya untuk melanjutkan cerita ini! Kalau kalian tidak ada... (oke, stop lebaynya)
Intinya author mau ngucapin maaf dan makasih yang SEBESAR-BESARNYA! Hehehe! Selama liburan ini, author akan berusaha namatin ceritanya! Yey! (?)
Yak, inilah lanjutan dari kisah fanfiction 'You and Me RIVAL!' Makasih yang udah ngikutin sampe sini, ngeluangin waktunya buat buka dan baca cerita ini, maaf kalo gaje berlebihan, ceritanya kurang mantap, ada typonya, serba kekurangan pokoknya,
mohon kritik dan sarannya! Terima kasih banyak! ^^
- Lutanima-
"Aku tidak akan menyerah, Claire."
Kata-kata tersebut masih terbayang-bayang di dalam benak Claire. Sambil menggeringkan rambutnya dengan handuk, dia terus menerus berpikir.
"Memangnya Elli mau ngapain sih?"
Setelah terdiam beberapa menit, Claire menghela nafasnya. Otak miliknya sudah mencapai batasnya. Dia sudah tidak dapat berpikir dengan jernih lagi. Ada hal lain yang lebih penting yang harus Claire lakukan. Dia segera menjemur handuknya, lalu dengan senyum super lebar di wajahnya, dia pun segera berlari ke arah dapur. Dilihatnya sosok Elli yang sedang sibuk menggoreng ikan.
"Elli! Maaf aku lama! Aku keasyikan mandi… Hehehe…" Claire nyengir kuda. Elli hanya tersenyum melihatnya.
"Tidak apa, aku sudah hampir selesai kok. Bisa tolong siapkan piringnya, Claire?"
"Siap Yang Mulia!" Elli hanya tertawa kecil melihat tingkah Claire. Saat ini Claire benar-benar bersemangat. Dia sangat senang. Ternyata Elli tidak marah padanya! Ini hanya salah paham!
"Hmm~ Hmm~ Aku sangat senang! Senang sekali~ Lalalala~" Claire melantunkan lagu yang baru saja dia ciptakan itu. Dia berjalan menuju rak piring, mengambil piring secukupnya, lalu meletakkannya di atas meja. Sesekali dia melirik ke arah Elli. Elli yang menyadarinya, hanya balas tersenyum kepada Claire. Claire senang sekali!
"Hehehehehehehehehe!"
"Cara tertawamu mirip om-om mesum."
SET!
Seketika Claire langsung menoleh ke belakangnya, dan menyipitkan matanya penuh dendam. Dokter dengan santainya duduk di kursinya, lalu memejamkan matanya. Claire berdengus. Bisa-bisanya orang ini tidur sebelum makan. Ya... Mungkin dia lelah.
Claire pun duduk di kursinya, yang tepat berada di depan Dokter. Kini dia bisa dengan jelas melihat wajahnya.
((Jujur, kalau om satu ini bisa lebih tenang, dia… Lumayan juga. Pantas saja Elli bisa jatuh cinta padanya)), pikir Claire.
"Apa lihat-lihat?" Merasa diperhatikan, Dokter membuka matanya, lalu mengkerutkan kedua alisnya. Melihat reaksi Dokter, Claire memanyunkan bibirnya.
Claire benar-benar tidak mengerti pikiran orang di depannya ini. Baru saja tadi siang dia mengeluarkan kata-kata bijaknya, dan bersikap 'agak sedikit' baik kepada Claire. Sekarang, dia kembali menjadi judes lagi. Dan anehnya, Dokter hanya bersikap seperti ini terhadap dirinya! Claire pun menatap Dokter dengan tajam.
"Hei! Kenapa sih kau hanya judes begitu kepadaku? Ini tidak adil!" Mendengar kritikan Claire, Dokter terkekeh kecil. Dia pun meletakkan telapak tangannya di dagunya, dan dikeluarkannya senyum andalannya itu.
"Yah… Mungkin karena kau itu spesial?"
Deg!
"A-... Apa…"
TRAK!
Tubuh Claire terhentak ke belakang. Dia segera menoleh ke arah Elli yang sedang meletakkan makan malam mereka di meja makan. Claire bingung.
((Eh? Eh? Sepertinya tadi aku mendengar ada suara piring kebanting… Masa sih… Elli? Mungkin… Hanya perasaanku…)), pikir Claire.
Ditatapnya Elli yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya. Elli memang sedang tersenyum, tapi entah mengapa… Claire merasakan ada hawa dingin yang menusuk dirinya saat melihat senyuman manis Elli itu. Tanpa sadar, tubuhnya mulai merinding.
"E-Elli?" Tanya Claire sambil tersenyum kaku.
"Makanannya sudah siap! Claire, bisa bantu aku meletakkan semua ini di atas meja?"
"O-oh! I-iya!" Dengan gugup Claire segera berdiri dan membantu Elli meletakkan makan malam di atas meja. Sesekali dia melirik ke arah Elli yang masih tersenyum sambil meletakkan makanan mereka. Elli tidak marah kan? Dia… Masih tersenyum… Bukan?
Claire memutuskan untuk menghiraukannya. Kini perhatiannya teralihkan pada makan malam mereka. Ikan tuna goreng dengan tumis sayuran buatan Elli. Claire bergumam. Dia sangat menyukai ikan tuna! Tapi… Ada satu benda lagi yang menarik perhatiannya. Dia segera mengambil garpu dan memutuskan untuk memisahkannya dari sayuran lainnya.
"Oh… Rupanya bocah ini tidak suka kacang panjang ya?"
Deg!
Claire langsung menatap tajam ke arah orang di depannya ini. Dia pun kembali memanyunkan bibirnya.
"Ha-habisnya! Ra-rasanya aneh… Aku tidak suka…" Claire memalingkan pandangannya. Dia sudah siap untuk dicaci-maki oleh orang di depannya ini. Tapi…
"Sini, letakkan di piringku. Aku akan memakannya." Claire langsung mengangkat kepalanya. Dia langsung menatap Dokter dengan mata berbinar.
"Su-sungguh?! Kalau begitu…"
"Claire."
Deg!
Hawa dingin itu muncul lagi. Dia segera menoleh ke arah sumber suara yang berada tepat di sebelah Dokter. Elli menatapnya. Sambil tersenyum.
"Kau akan makan kacang panjangnya, kan?" Claire kembali merinding. Entah kenapa Elli terlihat berbeda dari biasanya. Apa dia marah? Tapi… Dia tersenyum!?
"I-iya…" Claire terdiam kaku. Dia kembali memasukkan kacang panjangnya ke dalam mangkuk sayurannya, lalu mulai memakan makanannya. Dokter yang tidak mengerti apa yang telah terjadi, mulai memakan makanannya. Begitulah. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka bertiga makan dalam keheningan.
-oOo-
"Ini aneh."
Mary terdiam. Dia menatap sahabatnya yang sedang meringkuk di tangga perpustakaannya. Mary sudah tidak heran lagi. Dia sudah hapal kebiasaan sahabatnya bila sedang dilanda masalah. Dia pun meletakkan penanya, dan mendekati Claire yang masih menatap lantai dengan tatapan kosong.
"Ada masalah apa lagi kali ini, Claire?"
"Hei, kau ini bicara seakan-akan aku kemari jika aku memiliki masalah saja!" Claire mencibir ke arah Mary. Mary hanya cuek saja.
"Memang begitu kenyataannya bukan? Tempat ini sudah jadi ruang konsultasi bagimu." Entah kenapa Mary sudah tidak gagap lagi. Tampaknya dia mulai terbiasa pada Claire. Dan juga kebiasaan buruknya ini.
"Uhh… Baiklah. Maaf kalau aku terlalu banyak mengeluh disini…" Ujar Claire sambil meletakkan dagunya di atas lututnya. Mary hanya tertawa kecil melihat tingkah Claire yang seperti anak kecil itu.
"Jadi, apa masalahmu kali ini?" Claire sempat terdiam. Kemudian dia menatap mata Mary dengan serius.
"Elli… Menjadi aneh belakangan ini."
"Aneh?" Ujar Mary bingung, "Maksudnya aneh yang bagaimana?"
"Jadi begini…"
Claire pun mulai bercerita, tentang kejadian yang dia alami beberapa hari ini. Dimulai dari tadi malam, setelah mereka bertiga selesai makan.
"Ah! Kenyang! Masakanmu enak sekali Elli! Mmm… Tapi akan lebih enak kalau kau tidak menambahkan kacang panjang…"
"Hahaha! Baiklah, aku mengerti. Lain kali aku akan mengingatnya." Ujar Elli sambil tersenyum.
"Benarkah? Yey! Mmm.. Kalau begitu, aku cuci piring dulu ya!" Baru saja Claire hendak mengangkat piringnya, tiba-tiba Dokter meletakkan piringnya di atas piring miliknya.
"Tolong sekalian ya. Hari ini aku lelah sekali."
"HEI! Apa-apaan itu! Cuci piringmu sendi.."
"Claire."
Deg!
Tanpa basa-basi, Elli mengambil piring milik Dokter.
"Biar aku saja yang cuci ya?" Elli tersenyum.
"E-eh… I-iya… Baiklah kalau begitu…"
Kemudian tadi pagi…
"Hei, bocah."
"Ap…"
PLUK!
Belum selesai Claire bicara, Dokter sudah melemparkan jasnya ke arah Claire. Spontan Claire langsung melempar balik jas itu ke arah Dokter sambil berteriak.
"HEI! APAAN SIH!? Jas itu masih basah! Tidak sopan melemparnya sembarangan ke arah orang lain kau tau!?"
"Justru tidak sopan bagi mereka yang mengotori jas orang lain, tapi tidak mencucinya. Cepat cuci jasku! Oh iya, sekalian. Rumput obat biru 10. Cepat ya." Claire mulai geram.
"APA…"
"Claire."
Deg!
Claire menoleh ke belakang. Sudah ada Elli yang tersenyum menatapnya. Dia segera mengambil jas milik Dokter dari tangan Claire.
"Kalau kau keberatan mencucinya, biar aku saja yang cuci. Sekarang kau bisa langsung pergi dan ambil rumput obatnya."
"E-eh? Ba-baiklah kalau begitu…"
"Hati-hati!"
"Eh i-iya.. Hehehe…"
Dan tadi siang…
"Ini! Sepuluh rumput obat biru! Dalam keadaan sehat walafiat, tidak ada ulatnya!" Ujar Claire kesal sambil membantingnya ke arah meja Dokter.
"Mmm? Oh! Bagus… Tampaknya kemampuanmu sudah meningkat. Lumayan." Claire hanya mendengus sambil menyembunyikan tangan kanannya di belakang tubuhnya. Dokter pun menyadarinya.
"Tunjukkan tangan kananmu."
"E-eh?"
"Tunjukkan."
"A-aku tidak membawa apa-apa lagi!"
"Tunjukkan saja. Cepat."
"Uh…" Merasa kalah, Claire pun menunjukkan tangan kanannya yang sudah penuh dengan tanah dan… Darah. Dokter langsung menarik lengannya dan menatapnya tajam.
"Sudah kukatakan berkali-kali bukan untuk berhati-hati saat mencabuti rumput obat! Kenapa kau masih bisa terluka seperti ini!?"
"Ma-maaf tadi aku… Tidak melihat ada duri di salah satu tanaman dan tanpa sengaja… Aku menyentuhnya…" Ujar Claire takut. Takut dimarahi tentunya.
"Bodoh! Untung saja durinya tidak beracun! Tunggu disitu! Akan kuambilkan obat!"
"E-eh! Tidak usah…"
"Claire."
Deg!
"Kemarilah, biar aku yang mengobatimu. Aku punya obatnya." Ujar Elli, sambil tersenyum.
"Oh? Rupanya kotak obatnya di kau, Elli?" Tanya Dokter.
"Iya Dokter. Serahkan saja padaku. Lain kali, kalau kau terluka, bilang saja padaku. Aku akan mengobatimu. Oke?" Elli masih tersenyum, sambil menatap Claire yang tanpa sadar sudah tersenyum kaku.
"E-eh… I-iya… Ha… Ha… Ha…"
Claire terdiam. Begitu pula Mary. Setelah jeda beberapa detik, Claire menghela nafasnya dan menatap Mary pasrah.
"Begitulah."
"Hmm…" Mary terdiam. Berpikir. Lalu dia menatap Claire, "Bukankah itu bagus? Artinya Elli perhatian padamu. Kau menginginkan hal itu selama ini, kan?"
"Tapi bukan seperti itu caranya!" Claire berdiri dan memelototi Mary tajam, "Elli memang sangat baik dan aku sangat senang ketika Elli perhatian padaku, tapi… Entah kenapa… Aku… Aku… AKU TAKUT MELIHAT SENYUMAN ELLI AKHIR-AKHIR INI!" Claire berguling-guling di lantai perpustakaan. Mary hanya terdiam menatapnya.
"Heh… Benarkah?" Mary benar-benar sudah beradaptasi dengan sikap Claire. Dia jadi super cuek sekarang.
"Entah kenapa ada sesuatu yang membuatku… Merasa… Takut! Hei! Kau kan sudah membaca banyak buku disini! Harusnya kau tau sesuatu yang bisa membantuku!" Claire mengguncang-guncangkan tubuh Mary. Mary hanya terdiam sambil menahan kacamatanya.
"Aku tidak terlalu pandai dalam hal itu… Tapi kurasa, dia bisa membantumu?" Mary menunjuk ke arah lantai dua. Claire pun mengikuti arah yang ditunjuk Mary dan mendapati sosok seorang gadis cantik berambut panjang yang sedang menuruni tangga, dan melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.
"Yuhuu~ Aku sudah dengar semuanya dari atas! Maaf ya kalau aku tidak sengaja menguping, hehe! Hai Claire, apa kabar? Apa kau masih sering belanja di supermarket?"
"Karen!" Ujar Claire kaget. Dia segera berdiri dan menyambut Karen.
"Hei Mary! Aku tidak bisa menemukan lanjutan dari buku ini! Carikan kelanjutannya untukku!" Karen menyodorkan buku yang tak asing lagi di mata Claire. Ya, buku mencolok dengan cover manusia kerdil bertopi merah sedang memeluk pohon. 'Mayor's First Love'. Claire menyipitkan matanya. Ternyata ada juga orang yang mau baca buku beginian!?
"Oh, edisi barunya ya? Sebentar ya, akan aku carikan." Mary segera naik ke lantai dua, meninggalkan mereka berdua.
"Itu… Ceritanya menarik?" Ujar Claire dengan tampang 'super gak yakin' nya.
"He-eh! Ceritanya bikin ngakak sampai guling-guling loh!" Karen mengacungkan jempolnya.
"Ha… Ha… Ha…" Claire tertawa miris. Yang jelas dia tidak akan pernah mau menyentuh buku aneh itu. Karen pun tersenyum menatap Claire.
"Aku tidak menyangka loh, hubungan kalian bertiga seperti itu!" Karen duduk di salah satu anak tangga, diikuti oleh Claire.
"Maksudmu?"
"Ya… Sebelum kau datang kemari… Elli dan Dokter itu terkenal sebagai pasangan kerja super diam! Mereka jarang berbicara satu sama lain! Makanya aku kaget begitu mendengar ceritamu barusan! Dokter bisa bertingkah seperti itu…" Ujar Karen dengan tampang heran. Claire mengkerutkan alisnya.
"Jadi benar kan hanya aku yang di bully oleh om tua itu?! Hah! Ini tidak adil!" Karen menganga menatap Claire.
"Wah… Bahkan kau berani menyebut orang itu dengan sebutan 'om tua'… Kau ini hebat ya!" Ujarnya.
"Memangnya kenapa? Dia duluan sih yang mulai menjahiliku!" Karen tertawa kecil melihat tingkah Claire. Kemudian dia menatap langit-langit berpikir.
"Mmm… Kalau dari ceritamu barusan, aku berpikir. Menurutku…" Claire menatap Karen tak sabar, "Elli bisa saja… Cemburu padamu?"
Claire membatu.
Hah? Apa katanya tadi? Cemburu?
"Cemburu untuk apa? Dia menang segalanya dariku?" Karen tertawa kecil. Rupanya Claire berbeda dari pikirannya. Dia adalah anak yang sangat menarik. Pantas Dokter suka menjahilinya, pikirnya.
"Bukan itu maksudku. Hm… Kau tau Elli menyukai Dokter, kan?"
"Iya, Elli sudah mengatakannya padaku." Tegas Claire.
"Ah, jadi kau baru sadar setelah Elli mengaku padamu ya… Berarti kau memang tidak peka… Ehm! Maksudku, ya…" Karen berusaha mencari kata-kata yang tepat dan mudah dipahami Claire, "Dia cemburu, karena Dokter menujukkan perhatiannya padamu."
Claire membatu lagi.
Dia mengkerutkan kedua alisnya. Karen ber-sweat drop melihatnya.
"Hah?! Perhatian? Hahaha! Dia tidak perhatian padaku… Dia itu menyiksaku."
"Tidak. Dia perhatian padamu. Dia menunjukkannya dengan cara menjahilimu. Terlihat sekali." Ujar Karen.
"TIDAK!" Claire mendekat ke arah Karen hingga Karen hampir terjungkal ke belakang, "PENYIKSAAN ITU BEDA DENGAN PERHATIAN! DIA MENYIKSAKU!"
"A-ah… Bukan begitu maksudku… DENGARKAN DULU!" Karen mendorong Claire mundur, "DIA ITU TERTARIK PADAMU! DIA TIDAK MENYIKSAMU! DIA MENJAHILIMU!"
"ITU SAMA SAJA! LAGIPULA MANA ADA ORANG YANG MENUNJUKKAN PERHATIANNYA DENGAN CARA MENJAHILI ORANG LAIN!?" Claire mendorong Karen.
"AAHH! JANGAN SOK LUGU KAU! TIPE COWOK ITU ADA BANYAK! NAH, SI DOKTER ITU TIPE ORANG YANG MENUNJUKKAN PERHATIANNYA DENGAN CARA MENJAHILI ORANG LAIN!" Karen mendorong Claire.
"HAH!? MANA ADA SEPERTI ITU! AKU TIDAK PERNAH DENGAR ADA ORANG SEPERTI ITU! JANGAN MEMBUAL!" Claire mendorong Karen lagi.
"DIAM DULU! KAU PERNAH SEKOLAH KAN?! BUKANKAH BANYAK ANAK LELAKI YANG MASIH DI SEKOLAH DASAR, MENJAHILI ANAK PEREMPUAN YANG MEREKA SUKAI!? KAU PASTI TAU KAN!?" Karen balas mendorong Claire.
"Ehm… Teman-teman?"
"YA ITU KAN ANAK KECIL! BEDA DENGAN OM TUA INI! TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGANKU!"
"ADUH! KAU INI! LEMOT SEKALI SIH!? DIA ITU TIPE ORANG YANG SAMA DENGAN ANAK KECIL ITU!"
"APA SIH MAKSUDMU?! LANGSUNG KE INTINYA SAJALAH!"
"Teman-teman… Tolong hentikan…"
"ARGH! BAIK KALAU ITU MAUMU! DENGAR BAIK-BAIK! DOKTER MENJAHILIMU SELAMA INI, KARENA DIA PERHATIAN PADAMU! KARENA DIA TERTARIK PADAMU! KARENA DIA MENYUKAIMU!"
"TUNGGU PELAN-PELAN! EHM! Baik! Akan kucerna! Dokter menjahiliku… Karena dia perhatian padaku! Karena dia… Tertarik… Padaku… Karena… Dia… Menyukai… Ku?"
Claire plengo. Dia menatap Karen dan Mary.
"Ngerti?" Tanya Karen sambil mengambil nafasnya. Dia capek dari tadi berteriak.
"Karen, ini bukumu…"
"HUWAHAHAAHHAAHAHAHAHAHAHA!"
BRAK BRUK BRAK!
Mary terpeleset mendengar tawa Claire, sehingga buku yang dibawanya berjatuhan kemana-mana. Karen yang ikut kaget pun sampai hampir terpeleset. Ditatapnya gadis di depannya yang saat ini masih tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Lucu sekali kau ini… Itu tidak mungkin." Urat Karen hampir keluar sebelum Mary akhirnya menahannya sekuat tenaga.
"Terserah kaulah." Ujar Karen, pasrah.
"Dia itu justru membenciku! Lagipula Elli menyukainya! Mana mungkin dia akan menolak wanita sehebat Elli, bukan?" Ujar Claire sambil tertawa. Karen dan Mary terdiam menatapnya.
"Lalu? Seandainya Dokter menerima pernyataan cinta Elli, apa yang akan kau lakukan?"
"Eh?"
Claire terdiam mendengar pertanyaan Karen. Seketika pikirannya kosong. Tunggu. Dia menjadi lupa tujuan utamanya ke desa ini. Menemui Elli dan membawa Elli pulang, bukan? Dan untuk melakukan hal itu, dia perlu memusnahkan manusia yang disebut-sebut sebagai Dokter ini. Manusia yang Elli cintai. Claire harus membuat Elli berhenti menyukai Dokter dengan mencari-cari sisi buruk Dokter, lalu membuat Elli menjadi illfeel kepada om aspal satu ini.
Tapi…
Jika ternyata dia tidak berhasil, dan Elli menyatakan cintanya pada Dokter? Lalu Dokter menerima pernyataan cinta Elli?
Apa… Yang akan Claire lakukan?
Apa yang harus Claire lakukan saat ini?
Apa yang harus Claire cari tau saat ini?
… Bagaimana…
Perasaan Dokter terhadap Elli?
BRAAAAKKKK!
"KAREN! AKU PUNYA BERITA HEBAT! KAU HARUS… Dengar… Heh?"
Tiba-tiba dari balik pintu, muncullah pria berambut orange, dengan pakan ayam disana-sini. Kalian semua pasti tau kan siapa dia?
"Rick. Benar-benar timing yang bagus untuk menghancurkan suasana. Seperti yang diharapkan untuk orang sepertimu." Ujar Karen pasrah sambil menepuk dahinya. Rick yang menyadari kehadiran Karen pun langsung berlari sambil membawa sebuah kertas butut.
"Lihat ini Karen! Aku menemukannya, di lantai bawah tanah tersembunyi di kandang ayamku! PETA HARTA KARUN!" Mendengar kata 'Harta Karun', Claire langsung sadar dari lamunannya dan langsung berlari ke arah Rick dengan mata berbinar.
"HARTA KARUN?! HARTA KARUN YANG DI CERITA-CERITA ITU?!" Claire menatap Rick dengan penuh harapan. Rick pun semakin bersemangat. Dibukanya kertas butut itu lebar-lebar.
"BENAR! LIHAT! Ini petanya! Dan begitu kuperhatikan, ini peta desa ini! Lihat! Benar kan!? Lalu tanda merah ini adalah letak harta karunnya!" Ujar Rick sambil menunjukkan peta yang hampir robek itu.
"WAH! IYA! HEBAT SEKALI! Jadi, apa harta karun yang dikuburkan di tanda aneh ini?" Tanya Claire semangat.
"Ini bukan tanda aneh! Ini tanda 'X'! Mmm… Menurut kertas kecil yang ada di tempat peta ini kutemukan… Katanya harta karunnya adalah tanaman legendaris! Yang bisa menyembuhkan penyakit apapun!" Ujar Rick bangga.
"Hei-hei… Kalian…"
"BENARKAH!? ADA TANAMAN SEPERTI ITU?!" Claire memotong Karen yang hendak berbicara. Dia sudah terlalu terpana pada 'harta karun' itu.
"IYA! KEREN SEKALI KAN!? Aku ingin sekali mencarinya untuk ibuku… Tapi… Aku harus mengurus ayam-ayam keluarga kami…" Terpancar sorot mata kesedihan di kedua mata Rick. Claire pun tersentak. Dia teringat pernah bertemu Lilia di klinik, yang merupakan ibu Rick. Tampaknya memang belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit itu.
"Baiklah! Biar aku saja yang akan mencarikannya untukmu!" Ujar Claire sambil mengambil peta itu dari tangan Rick. Mata Rick mulai berbinar-binar.
"Benarkah?!"
"Iya! Serahkan saja padaku!"
"Hoi… Kalian… Dengarkan aku…"
"PAHLAWAN! AKU… AKU PASTI AKAN MEMBALASKAN BUDIKU PADAMU!" Rick menggenggam tangan Claire.
"Jangan khawatir! Aku pasti akan menemukan obat ini! Hanya tinggal mengikuti peta ini kan? Kalau begitu, aku pergi dulu!"
"CLAIRE! HATI-HATI! TERIMA KASIH PAHLAWAN!"
Setelah Claire pergi dan Rick telah menghapus seluruh air mata harunya, dari belakang, Karen sudah bersiap untuk memukul kepala Rick.
JTAK!
"AIIIIIIYYY! ADUH! SAKIT! APA SIH, KAREN?!" Tanya Rick sambil mengusap-usap kepalanya. Pandangannya mulai buram. Maklum, Karen pemegang sabuk hitam. Jadi pukulannya memang terkenal maut.
"… Dasar kau… BODOH! Kenapa kau masih menyimpan peta tidak berguna itu, hah!? Untuk apa?!"
"Apa maksudmu, Karen!?" Rick masih kebingungan. Ditambah lagi, sejak dipukul Karen tadi, otaknya mulai berjalan dengan lambat.
"Itu peta yang kita buat sewaktu kecil kan!? Itu hanya bohongan! Mainan! Dari awal harta karun itu tidak ada!"
"… Heh?" Rick plengo.
"HARTA KARUN ITU TIDAK ADA BOLOT! ITU PETA MAINAN! KITA YANG BUAT DULU!"
"… A-APA?!" Terima kasih, Rick. Atas 'ke-lemot-an'mu itu.
"Dasar bodoh. Aku tidak mau tau ya bagaimana nasib Claire. Peta itu kan peta asal-asalan. Kita yang membuatnya saat kita anak-anak dulu." Ujar Karen pasrah.
"Memangnya kita sudah berteman sejak kecil?" Rick plengo lagi.
"… Pulang saja kau."
Karen pun pergi keluar meninggalkan teman masa kecil super lemotnya yang masih shock itu. Melihat Karen yang pergi keluar, Mary pun berteriak,
"Karen! Kau mau kemana? Apa kau akan mengejar Claire?"
Karen hanya menoleh sambil tersenyum dengan gembira.
"Jangan khawatir, itu tidak perlu. Aku tau seseorang yang bisa diandalkan. Aku cukup melaporkan hal ini kepadanya!"
-oOo-
"BODOHNYA AKU."
Claire menatap peta yang hampir robek itu. Kemudian dia menatap sekelilingnya. Sedikit lagi, matahari sudah hampir tenggelam. Tidak ada orang. Tidak ada hewan. Pohon dimana-mana. Dan… Dua kata yang bisa dia simpulkan dari apa yang dia lihat saat ini. Dia tersesat.
Claire merenggut kertas butut itu. Bodohnya dia. Semenit yang lalu dia baru melihat tulisan jelek ber -font super kecil di belakang kertas itu yang bertuliskan 'Dibuat by: R1ck & K4r3n'. Dan tulisan alay nan jelek ini… Pasti tulisan anak-anak. Pantas saja petanya sudah butut. Sudah berapa tahun kertas ini terkubur di bawah kandang ayam?
"Bodoh… Bodoh… Bodoh! AAAAA!" Claire menjambak rambutnya. Dia merobek-robek kertas itu, menginjak-injaknya, menguburnya, dan melemparkan batu ke arahnya. Dia bisa gila. Tidak, bukan itu. Dia sudah gila berkat peta itu.
Sejak awal dia sudah curiga dengan rute mencurigakan peta ini mulai dari masuk ke dalam toilet Barley, berputar-putar di pantai, hingga bagaimana jadinya dia bisa tersasar di hutan belakang gereja ini. Sudah sekitar 2 jam lebih dia berjalan dan dia tidak tau sekarang berada dimana. Dia menghela nafasnya.
"Apa yang harus kulakukan… Kalau mulai gelap aku tidak bisa melihat apa-apa…"
Claire berpikir keras. Ya, saat ini ada beberapa solusi yang masih bisa dilakukannya. Cara pertama!
"Haahh…" Claire mengambil nafasnya. Lalu, "TOLOONNGGGGGGG!"
… Hening.
"Tolongg... Ggg… Buwohok! Ohok ohook!"
Oke, gagal. Percuma. Tidak ada orang disini.
Kesimpulan: dia sudah terlalu jauh dari desa sampai tidak ada orang yang bisa mendengarnya.
Claire makin memucat. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Terlalu cepat untuk menyerah. Dia akan mencoba berteriak sekali lagi.
"TOLOOOOOOO…"
"AAAAAAAAAUUUUUUUUUUUUUUU!"
Claire terdiam. Dia membatu. Memucat.
Oke, ada yang membalas teriakannya. Tapi… Claire tidak suka dengan suaranya. Itu suara… Serigala bukan?
"Ha… Ha… Ha… Tidak-tidak. Mana mungkin ada serigala di desa… Ha… Ha… Eh tapi… Ini hutan ya… Hahaha… Ha…"
…
Hening.
SRAK! GUSRAK!
Claire mulai berlari. Sekencang mungkin.
"Tolong tolong tolong tolong tolong TOLONGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG!"
Dia sudah tidak peduli dengan kata 'arah' lagi. Dia terus berlari selama kakinya bisa berlari, tanpa arah. Tangannya mulai bergemetar. Dia takut. Sangat takut. Sambil berlari dia terus berteriak sekencang mungkin, berharap ada yang mendengarnya. Dan tak lupa di dalam hati, dia terus mengucapkan sumpah serapah untuk Rick yang sudah membuatnya mengalami kenyataan pahit ini.
Karena takut, Claire pun memejamkan matanya. Tanpa disadari, salah satu akar semak-semak membuat sepatunya tersangkut, dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dia pun meluncur dengan kencangnya.
ZRRUUTTTTTTTT
"GYAAAAAAA!"
BRUK BRAK KRASAK!
Syukurlah, dia masih terjatuh di semak-semak. Dia bersumpah, merasakan pantatnya mulai berubah bentuk dari sebelumnya. Semoga tidak terlalu parah.
"A-aduh…" Claire mengelus-elus pantatnya, sambil membuka matanya perlahan. Gelap. Dia tidak bisa melihat apapun. Dia mulai panik.
"GYAAAAAA WOAAAAAHHHH TIDAAAAKKKKKK TOOOLONGGGGGG AAAHHHHHHH GELAAPPPPP AAHHHHH!" Dia menggoyang-goyangkan tangannya kesana kemari. Kakinya sudah tidak bisa diajak untuk berlari lagi karena sudah bergetar hebat. Claire memejamkan matanya lagi, dia mulai menangis.
"Hiks! TIDAKK! AKU TIDAK MAU MATI! HUWAAAAA!"
Syuuu
Merasa ada cahaya dari balik matanya, Claire mulai berhenti menangis. Apa… Apa aku sudah berada di surga?
Dia pun mulai membuka matanya dan tanpa sadar mulutnya juga ikut terbuka melihat pemandangan di depannya. Ada banyak kunang-kunang mengelilinginya. Sangat indah sekali.
"A-apa ini? Kunang-kunang?! Besar sekali!"
Claire masih terpana dengan pemandangan yang dia lihat. Kunang-kunangnya sangat indah. Dan besar. Ukuran kunang-kunangnya kira-kira seukuran lebah. Namun indah. Dia pun mulai tenang, sampai…
Salah satu kunang-kunang mendekat dan masuk ke dalam bajunya.
Slub!
"!"
Claire pun mulai berteriak.
"TI-TI-TIDAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKK!" Claire mulai berdiri, menghentak-hentakkan bajunya, membuat kunang-kunang di sekelilingnya berhamburan kemana-mana. Selama apapun Claire tinggal di desa, dia tetaplah anak yang dibesarkan di kota. Dia tetap belum terbiasa berkompromi dengan semua jenis serangga.
"HUWAAAA! HUWAAA! GELI! GELIIII! TIDAAKK!"
Bnyek.
Claire berhenti menangis begitu mendengar suara mencurigakan setelah dia berulang kali menekan bajunya. Dia merasa ada sesuatu di dalam bajunya. Dia pun menghentakkan bajunya, sampai sebuah serangga jatuh ke tanah dalam keadaan tak bernyawa. Dan anehnya, berkat hal itu, para kunang-kunang yang lain mulai mendekat ke arah Claire. Claire makin ketakutan.
"TIDAAKK! HUWAAA! AMPUNI AKU! AKU MEMBUNUH SAHABAT KALIAN! TAPI BUKAN MAKSUDKU! HUWAAA! AKU HANYA BELUM TERBIASA! AKU MASIH GELI! TIDAAKK TOLONGGG!"
KRASAK!
Terdengar suara dari balik semak-semak. Claire yang ketakutan sudah bersiap-siap untuk berlari lagi,
"CLAIRE!"
Claire membeku mendengar namanya dipanggil. Tapi yang membuatnya kaget bukanlah karena namanya disebut, melainkan suara yang memanggil namanya… Adalah…
Claire pun menolehkan kepalanya.
"DASAR BODOH! Hah… Hah… KAU TAU SEBERAPA KHAWATIRNYA AKU?!"
Pandangan Claire mulai buyar tertutupi oleh air matanya sendiri. Kakinya yang sudah lemas itu dia paksa untuk berlari. Tapi bukan berlari untuk menghindar. Dia malah berlari ke arah orang yang kini ada di hadapannya itu, dan segera memeluknya dengan erat. Kemudian dia menangis sejadi-jadinya.
"UHU… HUWAAA! AAAAA! Hiks hiks! HUWAAAA!"
Tubuh Claire mulai bergemetar. Kakinya sudah lemas tak berdaya. Bukan karena ketakutan, tapi karena rasa lega yang luar biasa. Pikirannya sudah kosong. Bahkan untuk bernapas saja, sulit untuknya karena dia masih menangis. Dia sama sekali tidak sadar telah memeluk seseorang. Dan orang yang dipeluknya itu, hanya terdiam, dan membalas mendekapnya, sambil mengusap-usap rambutnya, berusaha menenangkannya.
-oOo-
"Hiks… Hah… Hah… Hiks…" Claire sudah mulai tenang dan mulai mengatur nafasnya. Dia mulai membuka matanya. Dia sadar kunang-kunang itu masih mengelilinginya. Dia pun tersentak mundur, sebelum… Dia menyadari seseorang memeluknya. Dia pun menolehkan kepalanya ke atas.
"Sudah tenang?"
Deg!
Claire membatu. Rasanya darahnya hilang begitu saja dari tubuhnya. Pikirannya kosong. Dia mulai mengingat apa yang terjadi barusan dan seketika, wajahnya pun memucat sekaligus memerah saking kacaunya. Dia segera mengambil beberapa langkah mundur dan bersujud di hadapan orang di depannya itu.
"Ma-… MAAFKAN AKU DOKTER! AKU… AKU… AKU TERSESAT!"
"… Aku tau."
"Heh?" Claire mengangkat wajahnya.
JTUK!
"AW!" Dokter menyentil dahi Claire.
"Aku sudah dengar semuanya dari gadis supermarket itu. Persiapkan hukumanmu di klinik nanti. Mengerti?" Nada Dokter benar-benar terdengar marah. Claire hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah. Dia sadar kali ini dia yang salah.
Syuuu
Para kunang-kunang itu mulai mendekat ke arah Claire.
"HIYA!" Spontan Claire segera terhentak dan memeluk Dokter yang ada di sampingnya. Sadar akan apa yang dilakukannya, dia segera mundur.
Syuuu
Para kunang-kunang itu mulai mendekat lagi, dan tanpa sadar Claire kembali memeluk Dokter lagi. Saat Claire hendak mundur lagi, Dokter menahan pundaknya dan mulai tertawa.
"Pfht… Hahahaha! Kau ini… Masa takut dengan kunang-kunang?" Wajah Claire mulai memanas. Dia mengalihkan pandangannya dan berusaha berpikir jernih dengan berpura-pura tidak tau kalau tangan Dokter saat ini sedang merangkul pundaknya.
"Ha-ha-habisnya! Tadi kunang-kunangnya masuk ke bajuku… Saat aku tekan-tekan agar keluar… Dia malah mati…" Ujar Claire pasrah sambil menunjukkan jasad kunang-kunang yang telah menjadi korban pembunuhan 'gak sengaja' nya itu. Bukannya membaik, tawa Dokter semakin meledak. Claire pun menyesal telah mengatakannya. Sampai, dia merasakan tangan Dokter telah berpindah dari pundaknya, menuju kepalanya.
"Hah… Kau itu benar-benar menarik… Sampai di saat-saat seperti ini, masih bisa seperti itu… Dasar!"
Claire menatap wajah Dokter dan mendapati dia sedang tersenyum lembut menatapnya. Entah kenapa Claire mulai merasa aneh. Sangat aneh. Dia tidak bisa tenang.
"Dokter itu menjahilimu karena dia perhatian padamu! Dia tertarik padamu! Dia menyukaimu!"
BLUSHHH
Tiba-tiba kata-kata Karen muncul di benak Claire. Claire langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha menghapus pikiran itu di benaknya. Dokter hanya menatapnya heran, sambil mengambil posisi duduk di tanah.
"E-eh!? Kenapa kau malah duduk?! Kau tidak ingin… Pulang?!"
"Sayang bukan kalau pemandangan indah ini dibiarkan begitu saja? Lagipula aku agak lelah. Tadi aku sudah berlarian mengelilingi hutan." Ujar Dokter sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang penuh tanah dan keringat itu. Claire terdiam melihatnya.
((Jadi… Dia mencariku selama ini? Sampai tubuhnya berkeringat dan penuh tanah seperti itu…)) Ujar Claire dalam hati.
Claire menyadari tangan kiri Dokter berdarah. Tampaknya lukanya cukup dalam. Perasaan bersalah semakin menggeluti hati Claire. Perlahan, dia mendekat, duduk di samping Dokter, kemudian dia mengambil tangan Dokter. Dokter yang kaget atas tindakan Claire langsung menatapnya heran.
"Kau ini kena…"
"Maaf… Ini semua salahku… Karena aku…" Claire mempererat genggamannya pada tangan Dokter dan mulai meneteskan air mata lagi, "Karena aku kau jadi terluka… Pasti sakit…" Dokter terdiam melihat Claire. Kelopak matanya terbuka lebar. Kemudian, dia pun terdiam dan mulai berbicara.
"Aku tidak apa-apa. Lagipula kau melakukan hal ini untuk mencari tanaman obat demi menyembuhkan Lilia bukan? Yah… Walaupun itu hanya bualan anak-anak…" Claire masih terdiam, dan Dokter pun mulai mengelus kepalanya lagi. "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik."
Claire membuka kelopak matanya lebar-lebar. Kali ini dia tidak akan salah lagi. Dokter telah sungguh-sungguh memujinya. Tanpa sadar air matanya mulai turun semakin deras.
"Huu… Huu… Ma-maaf… HUWAA!"
Syuuuu
Para kunang-kunang itu pun mulai mendekati Claire lagi. Claire pun terhentak lagi.
"Hiyaaaa!" Menyaksikan pergantian ekspresi gadis di depannya ini, Dokter mulai tertawa lagi.
"Hahaha… Kau itu, sudah cengeng, penakut lagi. Benar-benar menarik…" Claire terdiam mendengar perkataan Dokter barusan. Kemudian dia menatap Dokter lekat-lekat dengan tatapan penuh pertanyaan. Dokter pun menjadi ikut terdiam melihatnya. Untuk beberapa detik, suasana menjadi hening.
"Dokter… Kau… Tertarik padaku?"
Dokter hanya mengedipkan matanya mendengar pertanyaan Claire. Dokter tau ketika Claire menanyakan pertanyaan itu, Claire benar-benar bertanya dengan polos menurut rasa ingin taunya, tanpa ada maksud apapun. Dan tentunya Claire bertanya tanpa mengetahui bahaya yang akan ditimbulkan jika pertanyaan itu dilontarkan. Tapi, entah mengapa… Dokter mulai merasa salah tingkah, terlebih lagi karena Claire terus menatapnya lekat-lekat. Menanti jawabannya. Dia tidak tau harus menjawab apa.
Dia pun menenangkan dirinya dan terdiam. Dibandingkan menjawab, dia lebih memilih untuk membalas tatapan Claire lekat-lekat. Sebelum akhirnya, tanpa dia sadari, salah satu tangannya mulai bergerak dan meraih pipi Claire.
"Kau ingin tau…?"
Perlahan tubuh Dokter semakin mendekat. Semakin mendekat, hingga wajah mereka sudah sangat dekat. Hidung mereka pun mulai bersentuhan, dan…
"KOAAAAKKKKKK!"
SRETTT!
Spontan, tubuh mereka berdua terhentak mundur karena kaget mendengar suara gagak yang entah darimana asalnya itu. Para kunang-kunang yang ikut kaget mendengar suara gagak itu pun, juga ikut berhamburan kemana-mana. Kini, keadaan menjadi gelap lagi.
"… Gelap…" Ujar Claire pasrah dan agak sedikit ketakutan. Tapi tak lama, dia menyadari ada cahaya dari belakangnya, yang berasal dari lampu minyak yang dibawa Dokter.
"Tampaknya kita terlalu lama disini. Kita harus segera pulang." Ujar Dokter sambil mengangkat lampu minyak yang cukup besar itu,
"Ayo." Dokter mengulurkan tangannya. Claire plengo. Otaknya masih konslet.
"Eh? Maksudnya?"
"… Ayo." Dokter merentangkan tangannya lebih jauh dari sebelumnya. Berusaha memberi tanda yang lebih jelas. Tapi entah kenapa gadis yang satu ini tidak paham-paham juga. Dia terus melihat tangan Dokter dengan ekspresi kebingungan.
Dokter pun menghela nafasnya, lalu menggandeng tangan Claire,
"Maksudnya begini." Ujarnya sambil menarik Claire.
Claire yang baru sadar akan apa yang baru saja terjadi langsung menundukkan wajahnya yang mulai memanas itu ke arah tanah. Disitulah dia sadar ada sesuatu yang kurang.
"Mmm… Tunggu sebentar…" Claire menarik lengan Dokter. Mereka pun berhenti berjalan. Dokter pun menatap Claire sesaat sebelum dia teringat akan sesuatu.
"Oh, iya. Aku lupa." Dokter melepaskan salah satu sepatunya, "Nih. Pakai. Sepatumu hilang kan? Disini banyak duri. Bahaya kalau kau tidak pakai sepatu." Claire plengo lagi.
"Ta-tapi… Kau…"
"Kakiku kuat! Kau pikir aku ini siapa? Jangan samakan aku denganmu!"
Claire menghela nafasnya lagi. Sifat Dokter telah kembali normal, kawan-kawan. Tapi… Meskipun begitu… Dia… Bisa menyadari sepatuku hilang. Bahkan meminjami sepatunya sendiri.
"Oh iya, selain itu… Kakimu juga terluka kan? Nanti saat kita sampai di klinik, akan aku obati." Claire terdiam dan menghentikan langkahnya.
"Kau juga tau… Aku terluka?"
Dokter terdiam tanpa menoleh ke belakang. Dia hanya mempererat genggaman tangannya pada Claire, lalu menariknya untuk berjalan lagi.
"… Tentu saja." Jawabnya singkat. Masih belum puas dengan jawaban Dokter, Claire memberanikan dirinya untuk bertanya lagi.
"Ke… Kenapa?"
…
Hening.
Tap tap tap tap
Hanya langkah kaki mereka saja yang terdengar saat itu. Sampai akhirnya Claire mulai berbicara lagi.
"Lalu… Kenapa kau menolongku… Padahal selama ini kau jahat padaku! Kau selalu menyiksaku! Menjahiliku! Tapi di saat aku hampir membencimu… Kau tiba-tiba baik padaku! Aku… Aku tidak mengerti… Aku tidak tau harus membencimu atau tidak…"
Claire menggenggam tangan Dokter lebih erat. Namun Dokter tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Dia masih terus berjalan, dengan hening.
"Apa kau… Menyukai Elli?"
Tap tap tap tap
Dokter masih terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
"Apa kau… Membenciku?"
Tap.
Seketika Dokter menghentikan langkahnya. Tersadar Dokter berhenti, Claire menjadi panik.
"A-ada apa?! Kau sakit? Atau jangan-jangan kau menginjak sesuatu?!" Dokter masih belum merespon. Dia masih terdiam, tanpa menoleh ke belakang. Claire pun memutuskan untuk berjalan ke depannya,
"Kau lelah? Kalau kau mau kita bisa beristira…"
*Cup!*
Untuk sesaat Claire merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh pipinya barusan. Sesuatu yang hangat… Dan lembut… Tapi sangat singkat.
"Ayo cepat. Kita harus keluar dari hutan ini. Untung saja aku tau jalannya." Dokter segera menarik Claire untuk berjalan lagi.
Kini Claire benar-benar terdiam. Pikirannya masih kosong. Tangan kirinya masih digenggam erat oleh Dokter, sementara tangan kanannya masih berusaha mencari tau apa yang baru saja terjadi pada pipi kanannya itu. Satu hal yang bisa dirasakan tangan kanannya itu. Pipinya mulai terasa panas. Sangat panas. Dadanya pun sesak tidak karuan. Pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih.
Ada apa ini…?
Kenapa…
APA YANG BARU SAJA TERJADI PADAKU?!
-bersambung- (*3*)/
