AUTHOR NOTE:
HAI HAI!
Oke, author mau update lagi! Yey! (?)
Mmm.. Kayaknya disini unsur komedinya udah rada-rada berkurang. Banget malah. Disini lebih ditonjolin romance, drama, dan lebay-lebay gitunya deh pokoknya (?). Maklum, konfliknya lagi meledak-ledak. Jadi bagi yang berharap di chapter ini banyak komedinya... Maafkan saya.
Dan maaf juga kalo ceritanya kelewat lebay. Maklum, author korban drama, visual novel, sama komik shoujo. Hehehe.
Oke! Inilah kelanjutan ceritanya! Selamat membaca!
Maaf kalo gaje, banyak typo, kelewat lebay, dll. Mohon kritik dan sarannya! ^^
-Lutanima-
"Kalian tidak apa-apa?!"
Berkat Dokter, entah bagaimana caranya mereka berdua bisa keluar dari hutan itu hingga posisi mereka saat ini berada di gereja. Karen, Mary, dan Carter pun segera menghampiri mereka dengan tatapan cemas.
"Syukurlah kalian baik-baik saja. Aku sudah dengar ceritanya dari Karen." Ujar Carter lega. Begitu pula Mary yang langsung menghembuskan nafasnya lega. Tapi tidak untuk Karen. Dia masih terus menatap Claire yang menurutnya... Agak... Aneh?
"Claire? Kau tidak apa-apa kan?" Tanyanya. Claire yang masih berada di belakang Dokter itu pun, menatapnya dengan tatapan kosong sambil menjawab dengan suara kecil.
"I-iya..."
Karen terdiam. Dia pun menurunkan jarak pandangnya dan mendapati 'sesuatu' yang dapat menjelaskan semuanya. Dia pun berdeham kecil, sambil menahan tawanya.
"E-ehem! Tampaknya mereka baik-baik saja! Jadi... Bagaimana kalau kita pulang saja dan biarkan mereka berdua pulang ke klinik?" Karen mendorong Mary dan Carter untuk segera menyingkir dari hadapan Dokter dan Claire.
"Ta-tapi Karen... Apa kita membiarkan mereka pulang berdua saja? Bukankah..."
"MARY."
Mary tersentak setelah melihat tatapan 'diam atau kuhajar kau' dari Karen. Dia pun menutup mulutnya rapat-rapat, dan segera berlari pulang ke rumahnya. Begitu pula Carter yang menyadari maksud dari perkataan Karen, langsung memasuki gereja sambil tersenyum kecil. Kini hanya mereka bertiga yang tersisa di depan gereja. Karen pun tersenyum dan bersiap untuk mengangkat kakinya.
"Baiklah! Kalau begitu aku pulang dulu!"
"Gadis supermarket."
Mereka dirinya dipanggil walaupun bukan dengan namanya, Karen menolehkan kepala ke arah Dokter, yang baru saja memanggilnya.
"Ya?" Tanyanya agak bingung dan jujur... agak sedikit takut. Dokter menatapnya dengan penuh keseriusan. Ada apa ini?
"... Terima kasih sudah memberitahuku tentang ini." Dokter mempererat genggamannya pada Claire yang sejak tadi belum dia lepas, "Kau tau, hanya aku yang dapat menemukannya dengan mudah." Ujar Dokter sambil tersenyum kecil. Namun Karen dapat melihat ada kebanggaan besar dalam senyuman kecil itu. Tanpa sadar, dia pun ikut tersenyum.
"Hee~ Tentu saja aku tau. Kau pikir aku ini siapa? Sering-seringlah belanja di supermarket, oke?"
Karen pun membalikkan badannya dan mulai berjalan pulang sambil melambaikan tangannya. Kini mereka benar-benar tinggal berdua. Dan Claire... Masih terdiam sejak tadi.
"... Kita pulang." Ujar Dokter singkat, dan hanya dibalas anggukan dari Claire yang sejak tadi terus menatap tangannya yang masih belum dilepas oleh Dokter.
-oOo-
Kreeekkk
Dokter membuka pintu klinik. Lampunya mati. Itu pertanda tidak ada siapapun di dalam klinik. Akhirnya, Dokter melepaskan genggamannya dari tangan Claire dan berjalan untuk menyalakan lampu.
"Kelihatannya Elli masih belum pulang. Dia juga ikut mencarimu tadi. Padahal sudah kularang sebelumnya." Claire pun tersadar dari lamunannya. Dia langsung menatap Dokter tidak percaya.
"E-Elli ikut mencariku?" Dokter menghela nafasnya. Dia pun berjalan sambil mengelus kepala Claire singkat.
"Sekarang lebih baik kau mandi dulu. Apa kau lapar? Kau belum makan, kan?" Claire menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak... Aku tidak lapar. Tapi yang lebih penting, Elli...!"
Jtuk!
Dokter menyentil dahi Claire.
"Sekarang kau mandi, lalu tidur. Soal Elli biar aku yang urus. Aku janji."
"Ta-tapi..." Dokter sudah bersiap ingin menyentil Claire lagi. Claire pun menutup mulutnya, dan menundukkan kepalanya. Entah kenapa dia merasa bersalah pada Elli.
"Hei. Tumben sekali. Hari ini kau banyak diam. Kau sakit?" Tanya Dokter sambil meletakkan lampu minyaknya di atas meja. Tapi setelah sekian detik menunggu, Claire belum juga merespon. Karena kesal, Dokter pun memilih mendekat dan melakukan tindakan. Claire yang baru sadar akan kehadiran Dokter, mengangkat kepalanya dan mendapati wajah Dokter sudah mendekat, mengangkat poninya dan poni Claire lalu...
Tuk!
Dokter menempelkan dahinya pada dahi Claire.
"Mmm... Ya, kau tidak demam." Dokter pun menarik wajahnya mundur dan mendapati Claire sudah membatu. Merasa bingung, dia pun bertanya lagi,
"Kau ini kena..."
"AKU MANDI DULUAN!"
BRAK BRAK BRAK BRAK BRAK
Dengan cepat, Claire menaiki tangga dengan langkah penuh tenaga. Dokter menatap tangganya miris dengan harapan tangga kayunya itu masih bisa bertahan. Dia pun menghela nafasnya, lalu beranjak pergi keluar klinik, untuk menepati janjinya pada Claire.
Blam!
Setelah memastikan Dokter telah pergi dari klinik, dari balik tangga di lantai dua, Claire pun memunculkan kepalanya. Dia bernapas lega. Kakinya yang lemas itu sudah menyatu dengan anak tangga. Dia meraba pipi kanannya yang mulai memanas. Saat Dokter tadi mendekatinya, dia menjadi teringat akan kejadian di hutan tadi.
*cup!*
BLUSSSHHH
Seketika wajah Claire memerah. Dia segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berdiri, mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi.
Tidak. Tidak. Tidak. Itu tidak mungkin.
Dia menyalakan shower, lalu mengguyur kepalanya hingga basah dan terdiam untuk beberapa saat. Mungkin dengan mendinginkan kepalanya, dia akan berhenti bersikap aneh. Dia pun menghela nafasnya, dan merentangkan tangannya untuk mengambil shamponya.
"Kau ingin tau...?"
PRAAKKKK!
Claire membanting shamponya ke lantai kamar mandi. Dan begitu dia sadar, dia segera mengambil shamponya lagi. Dia mencoba mengatur nafasnya.
Tenang Claire. Tenang. Tenang.
Sepertinya mandi bukanlah hal yang tepat. Lebih baik dia segera cepat-cepat mandi, dan langsung tidur saja.
Claire membuka tutup shamponya, dan mulai menekan shamponya keluar.
*cup!*
CRROOOOOTTTTTTT!
Tanpa sadar shampo yang Claire keluarkan sudah melebihi kapasitas seharusnya. Sadar apa yang telah dilakukannya, Claire pun mulai panik.
"Aahhh! Bagaimana ini! Claire! Kau bodoh!"
"Kau ingin tau...?"
"AAARGGHH TIDAAKK!"
Suara Dokter tadi terus bergema di dalam telinga Claire. Untuk mengalihkan perhatiannya, dengan sekuat tenaga Claire menggosokkan cairan di tangannya itu ke seluruh sadar... Cairan yang ada di tangannya adalah shampo.
SROK SROK SROK SROK!
Tenang Claire. Tenang. Tenang. Tenang!
Dia segera membilas badannya, mengeringkannya, memakai piyamanya, lalu dia langsung berlari ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia segera menutupi kepalanya yang panas itu dengan selimut.
"Apa... Yang terjadi padaku..."
Claire memejamkan matanya. Dan yang terjadi, kejadian di hutan tadi mulai terbayang lagi di benaknya. Sontak, Claire pun membuka matanya, mengambil boneka sapinya, dan memeluknya dengan erat.
"AAHHH LUPAKAN LUPAKAN LUPAKAN LUPAKAN!"
Dia berguling-guling di atas kasurnya. Berusaha mengalihkan perhatiannya dari kejadian tadi sore. Apa... Apa yang bisa dia lakukan agar pikirannya bisa teralihkan?
Claire mulai berdiri, dan melompat-lompat sambil bernyanyi sendirian.
DUK! DUK! DUK!
"Yeey! Yeeyy~ Aku tidak ingat apapun~ Aku lupa! Aku lupa! Aku tidak tau apapun!"
"Kau ingin tau...?"
BRAAKKKKK!
Claire menendang boneka sapinya ke arah pintu kamarnya. Claire pun kembali berguling-guling sambil menjambak rambutnya.
"AHHH AAHHH! TIDAK!"
"Kau ingin tau...?"
"TIDAAKKK!"
"Kau ingin tau...?"
"AAHHH!"
Entah kenapa suara Dokter terdengar makin seduktif di benak Claire. Claire pun memukul-mukul pipinya, sambil menutup telinganya erat.
"TIDAK! CLAIRE! JANGAN MESUM! TIDAK! TIDAK!"
Kini yang terbayang di benak Claire hanyalah wajah Dokter yang semakin mendekat, dan bagaimana hidung mereka saling bersentuhan.
"TIDAK! AKU TIDAK INGIN TAU! AKU TIDAK INGIN TAU! MENJAUHHH!"
Claire menutupi wajahnya dengan selimut dan terus berguling-guling di atas selimut. Saat dia mulai merasa lelah, dia pun akhirnya terdiam.
"Kau ingin tau...?"
Claire mengigit bibir bawahnya. Percuma. Apapun yang dia lakukan, suara Dokter terus menggema di telinganya. Dengan pasrah, dia pun meringkuk di balik selimutnya, dan menggenggam selimutnya itu dengan erat.
"Aku... Tidak tau..."
Dia meraba pipi kanannya yang sudah memerah, entah karena dia pukul tadi, atau memang karena... Karena...
*cup!*
Claire segera bangun, lalu mengambil boneka sapinya dan menggosok-gosokkan boneka sapi itu ke pipi kanannya dengan cepat.
Apa yang terjadi pada pipiku?! Apa?! Apa?!
"KAU TAU SEBERAPA KHAWATIRNYA AKU?!"
Claire terdiam lagi. Tanpa sadar boneka sapi yang sejak tadi dia genggam, sudah terjatuh di lantai. Begitu pula dengan Claire. Kini pipi kanannya menjadi lebih merah dari sebelumnya. Tapi bukan hanya pipi kanannya saja yang memerah. Kini, seluruh wajahnya sudah memerah.
"Kenapa..."
Claire pun memejamkan matanya sambil menundukkan kepalanya. Dia menyentuh pipi kanannya sekali lagi.
"... Kenapa dia mencium pipiku?"
Kreek!
"Claire?"
DUK DUK DUK DUK SRET!
Begitu mendengar ada suara dari lantai bawah, spontan Claire langsung bersembunyi dalam selimut. Ya. Dia menjalankan trik andalannya saat mama hampir memergokinya karena bermain game semalaman. 'Pura-pura tidur'.
Claire menurunkan selimutnya dari wajahnya, dan berusaha menguping. Untunglah pintu kamarnya tidak dia tutup rapat-rapat. Sehingga Claire masih dapat mendengar dengan cukup jelas suara dari lantai satu.
"Claire? Dia tidak menjawab... Apa dia sudah tidur?" Ini jelas suara Elli. Claire tau sekali.
"Tadi aku menyuruhnya beristirahat. Dia tampak kelelahan. Wajahnya sudah kacau sekali tadi." Claire mengkerutkan alisnya sejenak. Dia tau suara siapa ini. Kemudian dia terdiam lagi.
"Oh begitu... Syukurlah dia tidak apa-apa..." Terdengar ada nada lega di dalam suara Elli. Claire pun menggenggam selimutnya semakin erat.
((Maaf Elli...)) Ujar Claire dalam hati. Lagi-lagi dia membuat Elli khawatir.
"Kalau begitu, aku mandi dulu."
Tak tak tak
Terdengar suara Dokter menaiki tangga dan mulai mendekat. Claire pun segera menutupi wajahnya dengan selimut dan bersiap-siap menahan napasnya sebelum,
"D-Dokter!"
Tak.
Suara langkah itu terhenti. Claire membuka selimutnya dan perlahan mengintip dari balik pintu. Dia bisa melihat Dokter berbalik ke belakang. Tampaknya ada Elli di belakangnya.
"Ada apa?" Claire tidak dapat melihatnya terlalu jelas, tapi nampaknya Elli memberikan sesuatu pada Dokter.
"Tangan anda... Terluka bukan? Kalau Dokter mau, aku bisa mengobatinya..."
"Oh, tidak usah. Biar aku saja yang mengobatinya sendiri nanti. Aku ingin membersihkannya dulu."
Dokter mengambil kotak obat yang Elli sodorkan kepadanya. Lalu hendak berjalan lagi sebelum Elli memanggilnya lagi.
"E-ehm! Dokter!" Dokter pun berhenti berjalan dan menoleh lagi. Nampaknya Elli masih memiliki barang lain yang ingin dia berikan pada Dokter.
"Jas anda... Sudah kucuci. Ta-tapi belum kusetrika... Apa anda ingin mengambilnya sekarang, atau besok?"
"Oh soal itu... Tidak perlu kau setrika. Maaf sudah banyak merepotkanmu."
"Ti-tidak kok... Aku sama sekali tidak merasa direpotkan! Sungguh!"
"Letakkan saja di meja kerjaku. Terima kasih. Kau memang bisa diandalkan."
Kemudian Dokter pun pergi menuju kamarnya. Claire segera bersembunyi di balik pintu.
Kreek
Blam!
Terdengar suara Dokter memasuki kamarnya lalu menutup pintunya. Claire segera mengintip lagi dari balik pintu. Terlihat Elli berdiri di anak tangga sambil tersenyum kecil. Kemudian dia mencium jas milik Dokter yang dia peluk erat-erat.
((Apa ini?))
((Ada yang aneh dengan diriku...))
Claire memeluk boneka sapinya erat-erat dan menekannya tepat di dadanya.
((Dadaku...))
((Terasa sesak...))
-oOo-
Kreekk
"Wuah! Dinginnya~!"
Mary menggosok-gosokkan kedua tangannya. Dia melihat ke arah jam tangannya. Yap. Pukul lima pagi. Hari masih gelap. Entah kenapa hari ini dia bangun lebih pagi dari biasanya. Masih dengan piyamanya, dia pun memutuskan untuk keluar dari rumahnya, dan membersihkan perpustakaan milik keluarganya, sekaligus melanjutkan novel yang sedang dia buat.
Dia mengambil kunci perpustakaan dari sakunya, lalu berniat memasukkannya ke dalam lubang kunci. Namun, dia menyadari ada sesuatu yang janggal.
"Mmm?"
Mary pun mencoba mendorong pintu perpustakaan dengan tangannya.
Krieettt
Pintunya tidak terkunci.
"E-eh?!"
Mary memucat. Dia merasa sudah mengunci pintu perpustakaan kemarin sore. Lalu kenapa pintunya masih terbuka? Jangan-jangan... Ada pencuri yang masuk?
"Ga-gawat... Bagaimana ini?"
Mary takut. Sangat takut. Bagaimana kalau pencuri itu masih ada di dalam, dan membawa senjata tajam? Masalahnya dia sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam bela diri. Dan sialnya, kedua orang tuanya sedang pergi selama beberapa hari untuk mencari tanaman langka. Apa yang harus dia lakukan?
Mary pun berpikir sejenak, sampai dia merasa ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
"DOR!"
"U-UWAAA!"
Saking paniknya, Mary spontan berteriak. Namun, orang di belakangnya langsung menutup mulut Mary rapat-rapat.
"Sttt! Mary! Kau bisa membangunkan semua orang nanti! Ini aku! Karen!"
Mary segera menoleh dan... Benar. Yang ada di hadapannya adalah Karen, dengan rambut dikuncir satu ke atas, dan pakaian training yang menutupi tubuh berbentuk ideal miliknya itu. Sedang apa dia pagi-pagi begini?
"A-apa yang kau lakukan, Karen?" Tanya Mary sambil membetulkan posisi kacamatanya yang turun saat Karen menutup mulutnya.
"Justru itu kata-kataku. Apa yang kau lakukan sepagi ini? Tidak biasanya. Kalau aku, sedang jogging pagi. Memang kebiasaan rutinku setiap pagi." Mary mengangguk-nganggukkan kepalanya sambil ber "o" ria. Kemudian dia teringat akan kejadian misterius yang menimpanya. Dia pun segera menceritakan semuanya kepada Karen tanpa membuang-buang waktu.
"Hah? Maling? HAHAHA!" Sayangnya, respon Karen hanyalah sebatas tawa saja. Mary mulai kesal.
"J-jangan begitu dong! Cepat kau masuk!" Mary mendorong Karen masuk. Rupanya nyali anak ini benar-benar terbentuk semenjak berteman dengan Claire. Dia berani mendorong orang!
"Hei hei! Kenapa aku yang harus masuk?!" Karen protes. Percuma Mary mendorongnya dengan sekuat tenaga. Karen tidak beranjak dari tempatnya se-mili pun.
"Kau kan pemegang sabuk hitam! Kalau hanya satu-dua pencuri... Kau pasti bisa mengalahkannya!" Ujar Mary sambil terus berupaya mendorong Karen walau usahanya sia-sia.
"Mmmm... Baiklah. Akan kucoba masuk." Karen pun berjalan ke arah pintu, dan hal itu membuat Mary yang sedang mendorongnya sekuat tenaga pun, kehilangan keseimbangannya hingga akhirnya terjatuh. Karen yang tidak peduli dengan nasib temannya itu, segera membuka pintu perpustakaan dan menyalakan lampunya.
Klik!
"Halo, ada orang?" Sebenarnya itu salah satu pertanyaan bodoh. Tapi, tidak apa.
Karen pun mulai bergerak mengelilingi perpustakaan. Sampai dia menemukan sosok yang dia kenal, terkapar di salah satu anak tangga, dengan sebuah selimut di sekujur tubuhnya. Dari jauh, dia nampak seperti ulat. Karen pun ber-sweatdrop, dan langsung mendekati sosok itu.
"... Apa yang kau lakukan disini? Masih dengan piyama dan selimut bercorak... Apa ini? Sapi?" Sosok itu masih terdiam. Karen pun menghela napasnya, dan duduk di sebelah temannya itu.
"Kau tau seberapa khawatirnya Mary? Dia menyangka ada maling masuk! Kau harus tanggung jawab, Claire."
Masih tidak ada jawaban. Karen pun mulai kesal. Dia mengangkat wajah Claire, dan mencubiti pipi Claire.
"Sampai kapan kau mau pura-pura tidur, hah?!" Claire membuka matanya, lalu menatap Karen dengan lemas. Setelah itu dia kembali menundukkan kepalanya dan menatap lantai dengan tatapan kosong. Karen menghela napasnya,
"Ada apa? Ceritakan padaku." Ujarnya sambil merangkul Claire. Claire masih terdiam. Karen menatapnya dengan khawatir, sampai akhirnya Mary pun masuk ke dalam perpustakaannya.
"Hei! Karen! A-apa ada pencuri di dalam?"
Mary masuk perlahan sambil meraba-raba dinding perpustakaan. Melihat tindakan Mary, Karen sempat mengkerutkan dahinya, bingung. Tapi setelah melihat kacamata Mary telah retak, Karen langsung mengerti. Tanpa kacamatanya, Mary semakin tidak berguna.
"Oh, bukan maling kok. Ternyata hanya Claire! Dia tampaknya menginap di perpustakaan ini semalam!"
"E-eh?! Apa itu benar, Claire! Bagaimana dia bisa masuk kesini?!" Tanya Mary sambil berusaha mencari dimana keberadaan kedua temannya itu.
Masih terdiam, Claire mengacungkan telunjuknya ke atas meja. Karen bisa melihat ada banyak sekali kawat disana.
((Claire... Kau bakat jadi maling beneran)), ujar Karen dalam hati, sambil memandang Claire miris.
"E-ehm..." Karen berusaha mencari kata-kata yang tepat, "tampaknya Claire mempunyai kunci cadangan." Ujarnya sambil menatap satu persatu kawat yang sebagian besar sudah bengkok itu.
"E-eh?! Itu tidak boleh Claire! Cepat berikan kunci itu padaku!" Ujar Mary sambil menggoyang-goyangkan salah satu rak buku yang ada disana.
"KAMI ADA DISINI." Ujar Karen penuh penekanan. Kelihatannya pengelihatan Mary benar-benar rabun saat ini.
"... Karen."
Merasa namanya dipanggil, Karen menoleh ke arah Claire. Claire masih terus menatap lantai dengan tatapan kosong.
"Aku tidak mengerti... Apa yang terjadi padaku..."
Karen terdiam. Jujur dia merasa kasian melihat Claire seperti ini. Tapi sayangnya, jiwa 'jahil'-nya mengalahkan segalanya. Dia mendekat ke arah Claire dan mulai mengintrogasinya.
"Jadi? Apa yang terjadi?" Tanyanya dengan senyum tak sabar.
"... Semenjak kejadian di hutan itu... Aku tidak bisa tenang..." Karen semakin bersemangat. Dia semakin mendekat ke arah Claire, sedangkan Mary masih sibuk mencari keberadaan mereka berdua sambil terus menguping.
"Memangnya... Apa yang dia lakukan di hutan... Kemarin?" Tanya Karen dengan suara pelan. Claire pun mulai berbicara pelan-pelan.
"... Dia... Yang menemukanku..."
"Oke. Lalu?"
"Dia... Merangkulku saat aku takut dengan kunang-kunang, dan dia juga mengelus kepalaku..."
"Oke... Lalu?" Karen tidak bisa menahan senyuman di wajahnya.
"Lalu... Saat kutanya apakah dia tertarik padaku..."
"KAU BERTANYA PADANYA?!" Saking bersemangatnya, Karen berteriak tanpa sadar. Claire yang panik, spontan menutup mulut Karen. Karen mengangkat kedua jarinya sebagai permintaan maaf. Sementara Mary, sudah sibuk menahan mulutnya untuk mencegahnya berteriak. Kemudian, Claire melanjutkan ceritanya.
"Saat aku bertanya begitu... Dia... Dia..."
"Dia... Apa...?" Karen dan Mary sudah tidak sabar.
"Dia berkata... 'Apa kau ingin tau...?' Lalu... Mendekatkan wajahnya..." Wajah Claire mulai memerah mengingat kejadian itu. Begitu pula Karen dan Mary yang sudah menganga mendengar pernyataan dari Claire.
"LALU APA YANG TERJADI?!" Karen tidak dapat mengontrol suaranya lagi. Claire hanya menundukkan kepalanya dan kembali bercerita dalam suara kecil.
"Hi-hidung kami bersentuhan..."
BRAK BRUK BRAK!
Mary menabrak salah satu rak buku dan menjatuhkan seluruh buku di dalamnya. Claire sempat beranjak untuk menolongnya, namun Karen menariknya kembali, dan menatapnya penuh penantian.
"LALU?! LALU?! KALIAN...?!"
"Eh? Sudah. Begitu saja." Ujar Claire polos.
"EHHHHHH?!" Kini bukan Karen yang berteriak. Sambil sibuk meraba satu-persatu buku-buku yang berserakan di sekelilingnya, Mary berteriak dengan kesal. Karen dan Claire sampai kaget mendengarnya.
"Jadi... Kalian tidak... Ciuman?" Tanya Karen, to the point.
"Tapi... Saat di jalan pulang... Aku bertanya apa dia membenciku, dan dia..." Karen dan Mary masih mendengarkan dengan seksama. Claire pun menyentuh pipi kanannya yang mulai memanas lagi. Lalu berkata,
"Menciumku... Disini."
"APAAAAAAAA?!" Karen berteriak dengan sangat kencang. Patut dibanggakan sejak tadi belum ada warga yang bangun akibat teriakan mereka. Sementara Mary, sibuk menolehkan kepalanya kesana kemari.
"MENCIUM DI BAGIAN MANA?! DI BAGIAN MANA?!" Tanya Mary yang sejak tadi hanya dapat mendengar suara mereka saja.
"Kau itu! Apa kau tidak punya kacamata cadangan?!" Karen mulai kesal melihat tingkah nona perpusatakaan yang satu ini.
"A-ada di laci mejaku..." Ujar Mary pasrah. Karen segera berjalan ke arah laci meja, mengambil kacamata cadangan Mary yang ternyata tersedia sekitar sepuluh lebih, lalu melemparkannya ke arahnya. Untungnya, Mary bisa langsung menangkapnya dan segera memakainya. Dia segera berlari mendekati Claire, menunggu kelanjutan ceritanya. Begitu pula dengan Karen.
"Lalu? Hanya itu?!"
"I-iya..." Karen dan Mary langsung menghela napas mereka bersamaan. Mereka pun terkekeh kecil. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, sampai mereka melihat ekspresi sedih Claire. Mereka berdua pun saling bertatapan, kemudian meletakkan tangan mereka di pundak Claire.
"Bukankah kau seharusnya senang? Itu pertanda baik bukan?" Tanya Mary, dengan selembut mungkin. Berusaha tidak menyinggung perasaan temannya yang satu ini. Tapi, Karen langsung menyikut salah satu lengan Mary dan menariknya mundur ke pojok ruangan. Kemudian dia membisikkan sesuatu padanya.
"Hei! Kau ingat bukan... Elli menyukai Dokter! Tidakkah... Claire merasa bersalah padanya?" Mary terlihat kebingungan mendengar perkataan Karen.
"Lalu? Memangnya kenapa kalau Claire juga menyukai Dokter?" Mendengar jawaban Mary, Karen mendecak kecil.
"Bukan begitu maksudku! Bukankah katamu Claire sangat sayang pada Elli?! Dia pasti sedang bingung sekarang! Harus memilih Elli, atau Dokter?!" Karen menatap Mary dengan tatapan tajam.
"Hee... Begitu ya? Aku tidak tau... Tapi, aku tidak menyangka kau sangat pandai terhadap hal-hal seperti ini..." Senyuman bangga langsung nampak di wajah Karen. Sampai akhirnya Mary berkata,
"Padahal kau tidak pernah punya pacar..."
BRAAAKKK
Karen membanting salah satu buku yang ada di sebelahnya. Lalu dia tersenyum dengan penuh peringatan ke arah Mary.
"Lalu memangnya kenapa kalau aku belum pernah punya pacar, hmm? Ada masalah?" Karen memainkan kepangan Mary. Mary segera menarik rambutnya kembali sambil menundukkan kepalanya.
"T-tidak. B-bukan masalah kok..." Ujarnya gugup. Sampai akhirnya mereka berdua pun sadar telah meninggalkan Claire, dan langsung mendekatinya kembali.
"E-ehm!" Karen dan Mary saling berpandangan satu sama lain, mengisyaratkan untuk berbicara sesuatu. Tapi tidak ada kata apapun yang keluar baik dari mulut mereka berdua, maupun mulut Claire. Merasa buntu akan topik pembicaraan, Karen pun berdiri dan memutuskan untuk memakai jurus andalannya.
"AH! AKU LUPA! Aku harus mempersiapkan supermarket! Hehe! Aku duluan ya!"
Tanpa basa - basi, Karen langsung melesat keluar dari perpustakaan. Meninggalkan Mary yang mulai panik.
"E-eh?! Karen?! A-aduh... Bagaimana ini..." Mary menoleh kesana dan kemari, mencari inspirasi. Sampai akhirnya dia melihat sebuah rak buku yang jatuh, dan buku di dalamnya yang telah berserakan kemana-mana. Mary pun mencoba tersenyum dan menoleh ke arah Claire,
"Claire, bagaimana kalau kau membantuku... Loh?"
Rupanya Claire sudah menghilang dari tempatnya. Beserta dengan selimut yang dia bawa. Mary pun menghela napasnya.
"Dia sudah pergi rupanya..."
Mary pun memutuskan untuk membereskan buku itu seorang diri, sebelum dia melihat ada banyak kawat di atas meja. Dia pun mendekati kawat itu.
"Heh? Kawat apa ini?"
-oOo-
Tanpa sadar, Claire sudah berjalan menuju arah gunung. Dia berjalan tanpa arah. Matanya sudah terasa berat karena semalaman tidak tidur. Karena merasa tidak enak pada Elli, dia berpura-pura tidur hingga Elli benar-benar tertidur, lalu diam-diam dia kabur dari klinik. Dengan menggunakan kawat yang dia temukan di klinik, Claire mengotak-atik lubang kunci perpustakaan. Entah bagaimana caranya dia berhasil menyelinap.
Di perpustakaan, Claire berkeliling dan melihat buku-buku disana satu-persatu. Dia menemukan salah satu buku tanaman, dan hal itu membuatnya teringat saat dia pertama kali datang ke Mineral Town. Sebagai biaya hidupnya di klinik, dia harus membantu Dokter mengumpulkan tanaman obat. Dan dari situlah dia sadar bahwa mencari tanaman obat, tidak bida disamakan derajatnya dengan mencabut rumput liar. Dibutuhkan usaha yang sangat besar baginya untuk dapat menguasai tata cara mendapatkan tanaman obat yang baik, sehat, dan aman dikonsumsi. Itu merupakan salah satu pengalaman berat di dalam hidupnya, namun cukup menyenangkan untuk dikenang.
Tanpa sadar Claire sudah berjalan hingga mencapai Poultry Farm. Toko ayam di Mineral Town. Terlihat sosok yang tak asing lagi di mata Claire. Sosok yang sudah membuatnya masuk ke toilet Barley, berputar-putar di pantai, tersesat di hutan, hingga yang paling buruk, membuatnya menjadi seperti ini. Ya. Itu semua berkat dia.
Sadar akan kehadiran Claire, orang itu mulai panik dan berlarian kesana-kemari. Membuat ayam-ayamnya ikut berkeliaran kemana-mana. Claire pun mulai mendekat ke arahnya. Dia sudah bersiap menutup matanya, sambil berteriak,
"CLAIRE MAAFKAN AKU! AKU... AKU SALAH! AKU BENAR-BENAR LUPA! AKULUPAKALAUPETAITUDIBUATSAATAKUANAKKECILDAN... heh?"
Rick pun sadar Claire hanya melewatinya dengan tatapan kosong. Claire juga tidak sadar selimutnya sudah terjatuh dan saat ini telah dipatuki oleh ayam-ayam Rick.
Melihat kenyataan pahit bahwa Claire melewatinya begitu saja, dan tidak mendengarkan permintaan maafnya, Rick membatu. Dia mulai menggigit bibir bawahnya. Perlahan air mata mulai keluar dari matanya.
"Bagaimana ini... TIDAK!"
Dan dia pun, segera mengambil selimut Claire, dan pergi meninggalkan kandang ayamnya begitu saja.
-oOo-
Cip cip cip
Claire tersadar dari lamunannya berkat suara burung-burung. Dia melihat sekeliling. Sejak kapan dia sudah berada di air terjun dewi?
Claire menghirup udara disekelilingnya. Hari masih pagi, sehingga udaranya masih sangat bersih. Biasanya saat ini dia baru bangun dan pergi mencuci mukanya. Lalu Elli sudah ada di dapur untuk membuat sarapan, dan Dokter...
Claire terdiam.
((... Eh? Sejak kapan aku jadi memikirkan orang itu?))
"Ya... Aku memikirkannya semenjak kejadian di hutan itu..."
Claire mendekati sungai, membuka sendalnya, lalu menggulung celananya sampai lutut. Kemudian, dia duduk di pinggir sungai dan mencelupkan kedua kakinya ke dalam air sungai.
"Dingin..."
Pyuk pyuk
Claire menggoyang-goyangkan kakinya. Dia bermain air sambil melantunkan lagu. Kemudian dia terdiam lagi,
"Tidak. Aku sudah memikirkannya sejak datang ke desa ini."
Ya. Sesungguhnya dari awal kedatangannya ke desa ini, hanya satu hal yang ada di dalam benaknya. Dan hal itu adalah Dokter. Segala sifat buruknya, kata-kata kasarnya, tampang super nyebelinnya, hingga berbagai upaya yang harus Claire lakukan untuk menyingkirkannya dari Elli. Juga termasuk... Saat-saat dimana dia bersikap baik kepada Claire.
"Dingin..."
Claire bergumam sendirian. Dia menatap air sungai yang jernih di hadapannya. Kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh Dokter dan Elli saat ini? Apakah mereka mengkhawatirkan keberadaannya, atau... Mereka justru menikmati saat-saat berdua tanpa kehadirannya?
"Dingin..."
"Tentu saja dingin. Ini masih pagi."
Claire menoleh ke belakang, dan mendapati Karen berdiri dan menatapnya dengan tegas. Kemudian, Karen melemparkan selimut sapi Claire ke arah pemiliknya.
"Rick menangis dan memohon-mohon padaku untuk mengembalikannya padamu. Tampaknya dia sangat shock ketika kau mengacuhkannya begitu saja."
Claire tidak membalas ucapan Claire. Karen pun menghela napasnya, dan berjongkok di dekat Claire. Dia pun membisikkan sesuatu.
"Barusan, Dokter dan Elli mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Tampaknya mereka akan memasak bersama." Claire langsung menolehkan kepalanya ke arah Karen, yang saat ini asik melemparkan batu ke arah sungai. Tapi dia tidak berhenti berbicara,
"Yah... Kelihatannya sih mereka senang sekali. Elli juga merangkul lengan Dokter dengan penuh senyuman di wajahnya. Melihat mereka seperti itu, kelihatannya mereka tidak akan ingat untuk mencari dan menjemputmu. Lalu kau mau bagaimana?" Tanya Karen sambil menatap Claire.
"Ka-kalau begitu... Baguslah! Memang akulah selama ini yang egois... Aku sudah seenaknya menghalangi Elli untuk dekat dengan Dokter... Orang yang dicintainya... Jadi aku ikut senang kalau Elli senang!" Ujar Claire sambil mengalihkan pandangannya.
"Hee~ benarkah? Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri?" Tanya Karen sambil meletakkan jarinya di dagunya.
"A-apa maksudmu? Hahaha! Kau aneh, Karen." Tanya Claire sambil tertawa kecil.
"Perasaanmu terhadap Dokter tentunya." Ujar Karen, serius.
"Haha... A-aku... Membencinya tentunya! Dia sering menyiksaku! Mengejekku! Dan karena dia Elli berubah! Sekarang... Dia sudah merebut Elli dariku... Dia itu rival-ku! Walau... Akhirnya... Aku yang kalah... Ha... Ha..." Perlahan suara Claire mulai mengecil. Karen menghela napasnya.
"Coba kau bicara seperti itu, sambil melihat wajahmu di cermin." Karen menunjuk ke arah sungai.
"E-eh?" Claire pun melihat pantulan dirinya dari air sungai.
"Lihat wajahmu. Wajahmu itu menunjukkan kalau apa yang mulutmu katakan, bertentangan dari apa yang hatimu katakan." Karen mencubit pipi Claire, "Jangan kira aku tidak tau kamu berbohong. Kita ini teman kan?!"
Claire menatap Karen dengan mata mulai memerah. 'Teman'. Entah sudah berapa lama dia tidak mendengar kata itu. Orang pertama yang mau menawarkan diri menjadi temannya... Ya. Itulah Elli.
"A-aku... Tidak tau..."
"Hmmm?" Karen menatap Claire yang mulai menangis.
"Aku tidak tau lagi perasaanku. Aku... Sejak awal aku tau Elli sangat menyukai Dokter. Dan aku tidak bisa menerimanya karena merasa Dokter bukanlah orang yang pantas untuknya. Tapi sekarang... Aku tidak tau lagi apakah alasan itu bisa kupakai lagi, atau tidak..." Claire menghapus air matanya. Karen pun terdiam, lalu kemudian mulai tersenyum.
"Tidak apa Claire. Itu hal yang wajar. Aku tau kamu sangat menyayangi Elli, dan berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Tapi... Sedikit egois itu sesekali tidak apa kok!" Karen tersenyum. Lalu dia kembali bercerita lagi,
"Waktu kecil dulu aku pernah tinggal di kota. Aku juga memiliki seorang sahabat. Kami berteman dekat, bahkan menyukai orang yang sama. Tapi... Orang itu lebih memilih sahabatku dibanding aku. Dulu aku sempat egois dan tidak bisa menerimanya. Tapi aku tau, aku salah."
"Lalu, apa yang terjadi pada kalian sekarang?" Tanya Claire penasaran. Karen pun menunjukkan giginya sambil mengacungkan kedua jarinya.
"Kami sampai sekarang masih menjadi sahabat pena! Dia dan orang itu sudah menikah dan mereka tinggal di kota."
"Kau... Tidak marah padanya?"
"Aku marah. Tapi aku menyesalinya. Aku baru sadar, rasa sayangku padanya, melebihi amarahku padanya!" Claire terdiam. Dia kemudian menatap Karen.
"Kenapa... Kau mengatakan hal ini padaku?"
"Hahaha... Kau rupanya belum peka juga ya..." Ujar Karen sambil menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian dia berdiri, dan menatap Claire dengan tegas,
"Aku hanya ingin kau memikirkannya. Bagaimana perasaanmu pada Elli, dan pada Dokter?"
"Perasaanku pada Elli... Dan pada Dokter?"
"Yup! Apa yang kau rasakan saat saat memikirkan Elli?"
"Jelas aku sayang padanya! Dia... Adalah penyelamatku... Dan... Sahabat pertamaku..." Ujar Claire tegas.
"Kalau begitu? Bagaimana dengan Dokter? Apa yang kau rasakan saat kau memikirkannya?"
"A-aku..." Claire terdiam sejenak, "Aku tidak tau. Tapi... Rasanya aneh dan... Sesak." Ujar Claire sambil memegangi dadanya.
"Itu artinya kau sakit."
"E-eh?!" Claire tampak kaget mendengar jawaban Karen, sebelum akhirnya Karen tersenyum sambil meletakkan telunjuknya di samping bibirnya.
"Sakit cinta."
Claire plengo mendengarnya. Kedua matanya terbuka lebar. Dan kedua alisnya otomatis berkerut. Karen berusaha sekuat tenaga menahan tawa begitu melihat ekspresi Claire,
"Selain itu, ada lagi yang kau rasakan?" Tanya Karen sambil menahan tawa.
"Mukaku terasa panas..."
"Ah begitu ya, artinya..."
"Mataku berbayang dan terasa berat, kepalaku pusing, hidungku mampet, Lidahku kaku, tenggorokanku agak sakit, dan... Dingin..." Karen terdiam. Bukan karena Claire memotong kalimatnya. Karen mulai mengkerutkan alisnya. Segera, dia mendekati Claire dan meletakkan telapak tangannya di dahi Claire. Karen menghela napasnya, lalu menarik Claire untuk berdiri.
"Oke Claire. Kau memang sakit. Dan... Kita ke klinik sekarang."
-oOo-
...
Tik! Tik! Tik!
Hening.
Hanya suara jarum jam yang terdengar. Suasananya benar-benar tegang. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Sampai akhirnya, Karen memutuskan untuk bersuara.
"Mmm... Aku bisa jelaskan..."
"Diam."
Karen segera menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tau, percuma jika dia berusaha menjelaskan semuanya. Dokter hanya mau mendengarkan, jika Claire sendiri yang berbicara. Dia melirik ke arah teman di sampingnya yang berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan menghindari tatapan tajam Dokter. Karen pun menghela napasnya.
"Aku tau kau marah. Tapi hei... Lihatlah kondisinya. Dia sedang sakit. Jangan terlalu memaksanya!"
"Aku tau kau juga ikut campur tangan dalam kejadian ini." Urat Karen mulai keluar mendengar perkataan dokter satu ini. Dia mulai mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukulnya sebelum,
"T-tidak. Bukan... Karen... Tidak... Ikut campur... Hah... Hah... Ini salahku..." Dengan sekuat tenaga, Claire mencoba berbicara. Melihatnya sorot mata Claire, Karen pun memutuskan untuk menurunkan kepalan tangannya. Dia pun berjalan menuju pintu keluar klinik.
"Aku akan datang lagi membawa sesuatu untuk kau makan. Hei, pak dokter! Pastikan dia mendapat obat yang baik!"
BRAK!
Karen membanting pintu dengan cukup keras.
((Ya, seperti sifatnya)), ujar Dokter dalam hati.
Kemudian, Dokter pun menatap gadis yang ada di depannya. Wajahnya sudah memerah, dan tampaknya dia sudah tidak sanggup berbicara lebih jauh lagi. Dokter pun menghela napasnya.
"Masih sanggup berjalan?"
Claire hanya mengangguk pelan sebagai balasan. Dokter pun berjalan menuju ruang pemeriksaan dan mengisyaratkan Claire untuk mengikutinya. Claire pun berbaring di kasur pasien dan segera menarik selimutnya rapat-rapat. Dia merasa sangat kedinginan. Dokter yang melihatnya, hanya bisa mendecak kecil.
"Minun ini dulu. Ini obat penenang." Dokter menyodorkan gelas kecil berisi cairan obat penenang kepada Claire. Claire pun langsung meneguknya dan membaringkan tubuhnya kembali.
Dokter segera berjalan ke ruang kerjanya yang bersebelahan dengan ruang pasien, dan mulai meramu obat baru.
"Kau ini... Kabur dari klinik saat malam hari dan ditemukan dalam keadaan demam. Apa yang sudah kau lakukan semalam?"
Claire masih berusaha mengatur napasnya. Sementara Dokter masih terus berbicara,
"Aku tidak pernah mengerti apa yang ada di dalam pikiranmu..."
Claire menggenggam selimutnya dengan erat. Dia berusaha mengatur napasnya.
"Justru... Aku... Hah... Hah... Yang tidak mengerti... Pikiranmu!"
Dokter menoleh ke arah Claire. Dilihatnya Claire yang sudah menatapnya dengan tajam. Dia pun mengkerutkan alisnya.
"Oh? Jadi ini salahku?"
"Iya! Hah... Hah... Karena ulahmu kemarin... Aku sama sekali... Tidak bisa berpikir... Dengan jernih!" Dokter ber-sweatdrop. Entah kenapa Claire menjadi seperti orang mabuk. Dia... Tidak salah memberi obat pada Claire, kan?
"Maksudmu apa... Aku tidak bisa mengerti kalau cara bicaramu seperti itu..." Ujar Dokter melanjutkan kegiatannya meramu obat.
"Karena... Hah... Hah... KARENA KAU MENCIUM PIPIKU!"
DUK! PRANG!
Dokter menyenggol salah satu toples tanaman obat hingga akhirnya terjatuh dan pecah di lantai. Sambil tetap berusaha menjaga image-nya, Dokter berpikir. Merasa belum siap menjawab pertanyaan Claire, Dokter berusaha mengalihkan perhatian dengan memunguti kepingan kaca yang berserakan di lantai.
"Tiba-tiba membawa topik seperti itu... Kau ini..."
"KAU MENCIUMKU! IYA KAN?! NGAKU!" Dengan sekuat tenaga Claire mencoba berteriak.
"K-kau ini kenapa sih?! Kau mabuk?!" Dokter berdiri dan hendak mengecek obat yang baru saja dia berikan kepada Claire, tapi sebelum dia melakukannya, air mata Claire mengalihkan perhatiannya.
"Karena kau... Aku jadi tidak tau... Harus bagaimana..."
Claire menutup wajahnya dengan selimut, sementara Dokter memutuskan untuk mendekat dan mendengarkan perkataan Claire.
"Seharusnya aku membuat Elli membencimu... Karena Elli menyukaimu! Aku tidak suka! Kau merebut Elli! Kau rival-ku! Kau jahat! Kau jahat!" Dokter pasrah. Claire benar-benar mabuk. Dan dia pasti benar-benar salah memberikan obat pada Claire. Tapi Claire masih lanjut berbicara,
"Tapi... Kau... Ternyata... Punya sisi baik juga..."
Dokter terdiam. Dia tidak tau harus bicara apa.
"E-em..."
"KENAPA KAU MENOLONGKU!"
BUAAAAKKKK!
Sambil menangis, Claire melemparkan bantalnya pada Dokter. Untung saja Dokter menahannya. Kalau tidak, seluruh obat-obatan di dalam ruangan itu bisa pecah berantakan.
"PADAHAL KAU JAHAT TAPI KAU MENOLONGKU! Kau selalu menolongku... Hah... Hah... Kenapa... KENAPA!" Claire mengambil gelas di dekatnya, dan bermaksud melemparkannya ke arah Dokter. Tapi Dokter lebih cekatan, dan segera mencegahnya dengan memegang lengan Claire. Claire pun terdiam begitu sadar Dokter menggunakan tangannya yang terluka untuk menahannya.
"Kau... Sampai terluka untuk menolongku... Aku tidak tau lagi... Aku tidak bisa menganggapmu jahat... Hah... Hah... Aku tidak bisa berhenti membuat Elli menyukaimu... Kalian pantas bersama... Kau baik... Elli baik... Tadi pagi... Kalian... Juga belanja bersama... Elli merangkul lenganmu... Kata Karen... Hah... Hah... Dan... Harusnya aku senang akan itu... Tapi... Aku... Malah... Seperti ini..."
Dokter mengkerutkan alisnya. Belanja... Bersama? Kapan?! ...Tampaknya setelah ini dia harus berurusan dengan gadis supermarket itu.
"Claire... Kau..."
"DIAM! AKU SEDANG BERBICARA!"
"...Maaf." Dokter memutuskan untuk menutup mulutnya. Saat ini entah bagaimana caranya, Claire sedang mabuk. Lebih baik dia diam.
"Aku tidak mau... Aku tidak mau kalian tinggalkan... Aku sangat menyayangi Elli... Dan sekarang... Aku baru sadar..."
"Bagaimana perasaanmu terhadap Elli, dan terhadap Dokter?"
Kata-kata Karen pun terngiang di benak Claire. Dia pun terdiam untuk beberapa saat.
"Bahwa aku... A-aku..."
Dokter masih terus menatapnya, sementara Claire mulai menutup wajahnya dengan selimutnya,
"Aku menyukaimu juga..."
...
Hening.
Dokter membuka matanya lebar-lebar.
Dia terdiam.
Membatu.
Dia tidak tau harus berkata apa.
Dia hanya menutupi mulutnya dengan tangannya.
Gawat. Dia bisa salah tingkah kalau berdekatan dengan Claire saat ini.
"Aku tidak tau harus bilang apa ke Elli... Aku takut dia marah padaku... Aku... Aku... Ohok ohok!"
Melihat kondisi Claire, tanpa pikir panjang lagi, Dokter segera membaringkan Claire ke kasurnya dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah mulut Claire.
"Jangan berbicara lagi. Kau butuh istirahat."
Saat Dokter membalikkan badannya dan bermaksud untuk menjauh dari Claire...
Sret!
Claire menarik jas Dokter. Dokter pun menoleh ke arah Claire.
"Kau ini tidak puas-puasnya menarik jasku..."
"Maaf... Jasnya tidak kucuci... Tidak kusetrika... Malah Elli yang melakukannya..." Dokter menatap Claire lalu menghembuskan napasnya.
"Iya, soal itu nanti saja. Cepat tidur." Dokter membalikkan badannya lagi dan...
Sreett!
Dokter memejamkan matanya. Dia menghela napasnya, lalu menoleh ke arah Claire.
"Apa lag..."
"Jangan pergi..."
Claire menatap Dokter lekat-lekat sambil mempererat genggamannya pada jas Dokter. Dokter terdiam. Dia menyerah. Meskipun Claire bersikap seperti ini hanya karena dia mabuk, dia tidak bisa menghindar dari tatapan seperti itu. Dia pun menarik kursi ke dekat kasur Claire, duduk diatasnya, lalu menggenggam tangan Claire.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana." Ujar Dokter.
"Janji?"
"Janji. Cepat tidur." Dokter sudah tidak bisa menatap mata Claire lagi. Apalagi dalam posisi layaknya orang mabuk seperti ini. Dia pun mengalihkan pandangannya, sampai akhirnya dia menyadari Claire mempererat genggamannya, pada tangannya.
"Jangan lepas... Sampai aku tidur..."
Claire mulai menutup matanya. Dokter sempat terdiam untuk beberapa saat, namun dia langsung tersenyum sambil menghela napasnya.
"Bodoh. Kau minta untuk dilepas pun... Tidak akan pernah kulepas lagi."
Dokter menatap Claire lekat-lekat. Syukurlah Claire sudah tidur. Jujur, dia benar-benar hampir tidak bisa mengontrol image-nya tadi. Tapi, dia sudah bisa bernapas lega sekarang. Dia pun mendekat, lalu membisikkan sesuatu kepada Claire.
"Selamat malam, putri."
Kemudian, Dokter pun mencium kening Claire dengan lembut.
-oOo-
Baik Dokter maupun Claire, tidak menyadari bahwa sejak tadi ada seseorang yang sudah menguping pembicaraan mereka sampai akhir. Dia meletakkan beberapa tanaman obat yang Dokter pesan kepadanya di dekat pintu masuk, lalu pergi keluar dari klinik begitu saja.
BRUK!
Tanpa sadar dia menabrak seseorang yang ada di depannya.
"A-aduh! Yaahh! Buahnya kemana-mana! Mmm? Oh! Elli kau mau kema..."
Syuuuu
Elli melewatinya begitu saja, dan berlari ke arah gereja. Karen masih terdiam dengan apa yang dia lihat barusan. Dari arah Inn, Mary menyusul Karen.
"Karen! Jangan cepat-cepat... Loh?! Karen! Kamu tidak apa-apa?" Mary terdiam melihat wajah Karen yang terkapar di jalanan. Dia pun menepuk pundak Karen, dan mencoba membantunya berdiri.
"A-ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi...?"
Karen segera menggenggam tangan Mary.
"Mary. Kita harus ikut bersiap-siap."
"E-eh?"
Karen menatap Mary lekat-lekat, dengan sebuah senyuman penuh tantangan melekat di wajahnya.
"Tampaknya sebentar lagi, akan ada badai datang."
-bersambung-
