Bloody Night
By : Mizu Kanata
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 2 : Dead Kingdom
Meninggalkan kawasan halaman yang penuh orang berperang, Neji memasuki bangunan istana untuk mempersingkat jalannya menuju ke sisi Utara. Ia berlari dengan napas memburu dan dengan jantung yang memompa sangat cepat. Lengan kirinya mengeluarkan darah akibat sayatan pedang, tapi pemuda itu tak menghiraukannya.
Tenten…
Perjalanannya tidak semulus yang diinginkannya, ada banyak penyusup di koridor, menghalau Neji untuk terus melangkah. Tapi sang Hyuuga menjatuhkan orang-orang itu satu per satu. Ia tak tahu sudah berapa banyak tubuh yang mati di tangannya. Neji tak memiliki waktu untuk memikirkan itu, karena ia tahu ia harus segera mencapai Tenten. Di benaknya, Neji bahkan bisa mendengar bahwa gadis itu memanggil namanya.
Aku datang…
Udara malam menyapa Neji saat ia keluar dari bangunan istana ke sisi Utara. Lagi, pemuda itu berlari. Dari kejauhan ia bisa melihat bangunan pelayan wanita yang memanjang. Tak seperti prajurit, pelayan wanita tak memiliki kamar sendiri, mereka tidur bersama di sebuah ruangan yang sangat besar. Dan sebentar lagi, Neji akan mencapai bangunan itu. Ia akan mencapai Tenten. Iris lavendernya dapat melihat pintu ruangan yang terbuka.
"Kau pikir kemana kau akan pergi?" Seorang musuh tiba-tiba berdiri di hadapannya.
Neji tak punya waktu untuk ini, tidak saat ia sudah sedekat ini dengan Tenten. Tapi pria itu terus menghalangi jalannya, bergerak dengan lincah kemanapun Neji melangkah dengan pedang menantang. Tak punya pilihan, ia harus melawan pria itu lebih dulu.
Kumohon bertahanlah…
Saat beradu pedang dengan musuhnya, pemuda itu mendengar suara dari ruang pelayan wanita. Tempat dimana ia yakin Tenten berada.
"Meski mematikan, kau sangat cantik. Aku akan menjadi raja tak lama lagi. Bagaimana jika kau menjadi ratuku? Dan aku akan memaafkan semua kesalahanmu karena membunuh banyak pasukanku," kata suara seorang pria.
"Tidak!" Mendengar suara Tenten, kelegaan merayapi seluruh tubuh Neji, dan pemuda itu melawan musuhnya dengan kekuatan baru.
"Aku tak akan menjadi ratu untuk orang sepertimu," lanjut Tenten.
"Beraninya kau! Jika begitu lebih baik aku –"
Neji menjatuhkan musuhnya tepat saat itu. Pedangnya berhasil menembus tepat dimana jantung pria itu berada. Dengan cepat, ia menghambur ke pintu pelayan wanita yang terbuka.
"–membunuhmu."
Pria sialan yang mengatakan itu tak menyadari keberadaan Neji, ia tengah mengangkat pedangnya, bersiap menusukkannya ke seseorang yang terduduk di lantai.
Tenten!
Tanpa ragu, Neji menancapkan pedangnya ke punggung si pria dengan semua kekuatan yang dimilikinya. Pedang pria itu terjatuh, ia tak sempat melihat wajah pembunuhnya karena pedang sang Hyuuga segera menembus perutnya. Pria itu berteriak kesakitan. Berdebum ke lantai dengan keras, napas terakhir keluar dari mulutnya karena kehilangan banyak sekali darah dan tentu banyak organ yang rusak.
Saat itulah Neji melihat Tenten, kedua mata gadis itu masih tertutup, tangannya yang bergetar menyilangkan kedua katananya yang penuh darah untuk menahan pedang pria tadi. Gaun tidur putihnya dipenuhi warna merah. Darah.
"Tenten."
Gadis itu membuka iris cokelatnya saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Matanya segera bertemu lavender Neji. "Neji."
Hanya itulah yang dibutuhkan Neji untuk berlutut ke lantai dan menarik gadis itu ke pelukannya, "Aku menemukanmu…" bisik pemuda itu, membenamkan wajahnya ke leher dan rambut Tenten. Ia menghirup wangi gadis itu dalam-dalam untuk memastikan bahwa Tenten benar-benar berada di sana. Ia hidup. Mereka hidup. Tenten balas memeluk Neji dengan erat, menyandarkan dagunya ke bahu pemuda itu.
"Apa kau terluka?" tanya Neji.
"Kakiku –"
"Aku akan mengobatimu," kata pemuda Hyuuga itu, tapi Tenten tidak melepaskannya, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya, "Tenten..."
"Sebentar. Sebentar saja. Aku ingin memelukmu sebentar lagi," bisiknya.
Mendengar itu, Neji mengelus rambut Tenten, tahu bahwa gadis itu sama tidak percayanya dengannya bahwa mereka masih hidup.
"Aku tahu kau akan datang Neji…" kata Tenten. Neji merasakan tubuh gadis itu bergetar di pelukannya. "Tapi, tadi, untuk sesaat… kupikir kau… kupikir kau…" Kini pemuda itu merasakan cairan hangat mengalir di bahunya.
Ia memeluk Tenten lebih erat, "Aku di sini…" kata pemuda itu, "Aku bersamamu…" Selama beberapa menit, mereka bergeming dalam posisi itu, merasakan keberadaan masing-masing. Mendengarkan detak jantung satu sama lain. Merasakan embusan napas satu sama lain. Merasakan hangat tubuh satu sama lain.
Tak lama, ketika Tenten lebih tenang, Neji melepaskan gadis itu dan mencari kain juga kotak obat. Kali itulah Neji benar-benar melihat ruangan itu dengan sepenuhnya. Tubuh bergelimpangan dan darah terlihat di mana-mana. Di antara tubuh-tubuh tak bernyawa itu, banyak di antaranya merupakan para penyusup, dan ia tahu Tentenlah yang membunuh orang-orang ini. Ruang pelayan wanita memiliki dua pintu –satu mengarah ke tembok istana sebelum hutan dan satu mengarah menuju istana. Dengan kata lain, ruang pelayan wanita merupakan jalur tercepat untuk masuk ke istana, dan Tenten berusaha mencegah para penyusup masuk. Neji tak ingin tahu apa yang terjadi jika ia terlambat sedikit saja. Bagaimanapun, Tenten adalah satu-satunya prajurit di sisi ini. Sangat luar biasa ia bisa menahan musuh sebanyak ini. Selain itu, Tenten pasti berhasil memberi waktu pada para pelayan untuk kabur, karena Neji hanya melihat sedikit dari tubuh-tubuh mereka di sini.
Pemuda itu membuka lemari terdekat dan menemukan kain di sana. Lalu matanya menangkap kotak obat di lemari kaca di ujung ruangan. Setelah mengambilnya, ia berjalan kembali pada Tenten dan berlutut di sampingnya. Neji menyingkap gaun tidur Tenten dan segera menemukan luka yang dimaksud gadis itu –di tempat darah paling banyak membasahi pakaiannya. Luka itu cukup dalam, terletak di paha Tenten –beberapa senti di atas lututnya. Pantas saja gadis itu tak bisa berdiri.
"Ini akan sakit," kata Neji.
Tenten mengangguk, lalu memalingkan wajah dari lukanya. Dan Neji mulai bekerja, ia tidak dilatih untuk menjadi tim medis tentu saja, tapi setiap prajurit setidaknya tahu dasar-dasar dalam mengobati luka. Ini akan mengurangi rasa sakit Tenten sebelum gadis itu diobati dengan benar.
"Neji…"
"Hn?" tanya pemuda itu.
"Mana Lee?"
Neji menghentikan tangannya yang sibuk dan menatap Tenten, iris cokelat gadis itu dipenuh keraguan dan rasa takut. "Dia akan datang. Dia sudah berjanji."
Setelah membalut luka Tenten, ia mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di kasur terdekat. Lalu sang Hyuuga menarik pedangnya dari si pria yang tadi dibunuhnya dan membersihkan darah dengan kain. Ia juga mengambil dua katana Tenten dan membersihkannya, lalu membawa senjata-senjata itu ke kaki tempat tidur untuk berjaga-jaga. Pemuda itu kemudian bergabung dengan Tenten, duduk di sebelah gadis itu dengan punggung bersandar ke kepala ranjang.
"Neji, kau juga terluka," kata gadis itu. "Biarkan aku mengobatimu."
Tenten mengambil kotak obat yang juga telah Neji simpan di sisi kasur. Gadis itu menggulung lengan baju Neji dan mulai membersihkan lukanya. "Aku merasa sangat kotor Neji, aku membunuh banyak sekali orang malam ini."
"Kita hanya mempertahankan diri. Jangan terlalu pikirkan itu. Aku senang kau selamat."
Hanya itulah yang terpenting untukku… Iris lavender Neji menatap iris cokelat gadis itu. Tenten tersenyum kecil. Ia menyentuh sisi wajah sang Hyuuga, dan Neji menghapus jarak di antara mereka, menangkap bibir gadis itu dalam sebuah ciuman lembut. Sekejap, hanya ada mereka berdua di dunia ini. Semua rasa sakit, tubuh-tubuh tak bernyawa di sekitar mereka, dan peperangan yang sedang berlangsung terlupakan. Sekejap. Ya, sekejap saja.
Tenten kemudian kembali mengobati luka-luka Neji dan bekerja dalam hening. Tak lama, ia selesai. Gadis itu kembali ke posisinya di sebelah Neji. "Apa yang terjadi di luar sana?" tanyanya, menyandarkan kepala ke pundak pemuda itu.
"Raja dan semua keluarga istana telah terbunuh. Perang itu tak akan menghasilkan apa-apa lagi bagi kita," jawab Neji.
Neji tak bisa melihat ekspresi gadis itu, tapi ia merasakan tubuh Tenten menegang. Sang Hyuuga melingkarkan sebelah tangannya untuk memeluk Tenten.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya gadis itu lirih.
"Tak ada. Kita hanya akan menunggu," jawab Neji, "Lee pasti tahu kita berada di sini."
Dan itulah yang mereka lakukan. Menunggu. Sudah tidak ada peperangan di sisi Utara, setidaknya tidak saat Neji sampai ke sana. Semua peperangan berlangsung di dalam istana, sisi Selatan juga sisi Barat istana –jika sisi Timur telah benar-benar terbakar. Tapi, entah mengapa suasana terasa lebih hening, dan waktu berjalan sangat lambat. Entah. 1 jam? 2 jam? Selama itu pula Neji tak pernah melepaskan Tenten, hingga seseorang yang mereka tunggu tiba-tiba menghambur masuk ke ruangan dengan napas terengah-engah.
"Tenten! Neji! Untunglah kalian selamat!" kata Lee. Wajah pemuda itu sangat pucat, dan mata hitam bulatnya terlihat nanar. Pemuda berambut bob itu memegang perut bagian kanannya. Neji segera menghampiri dan memapah Lee ke kasur tempat Tenten duduk. Tenten memeluk Lee selama beberapa saat. Lalu gadis itu melepaskannya dan menyingkirkan lengan Lee dari perutnya.
"Untunglah. Lukamu tidak dalam," kata gadis itu lega, kembali membuka kotak obat.
"Dengar," kata Lee, "Tidak ada yang tersisa."
"Apa maksudmu?" tanya Tenten.
"Prajurit maupun penyusup. Semua yang ada di sini mati," jawab Lee. "Aku sedang di halaman istana, melawan seorang musuh. Aku tahu banyak prajurit dan para penyusup yang jatuh di sekitarku. Tapi, ketika akhirnya aku berhasil menjatuhkan penyusup itu, aku baru sadar tak ada siapapun di sana. Semuanya mati. Aku panik dan mengecek seluruh istana. Semuanya sama, mereka hanya tinggal tubuh tak bernyawa. Aku melihat kelompok penyusup terakhir yang selamat membawa banyak sekali harta kerajaan ke dalam hutan. Tapi aku tak peduli lagi, karena aku ingin segera menemukan kalian," jelas pemuda itu.
"Oh Lee, kami baik-baik saja…" Tenten sekali lagi memeluk Lee.
"Kita harus pergi. Kita tak bisa mendapatkan apapun lagi di sini," kata Neji sementara Tenten mulai mengobati luka di perut Lee.
"Ya," timpal Tenten, "Ini sudah bukan rumah yang kukenal lagi. Dengan semua ini, aku ingin segera pergi. Bagaimana menurutmu, Lee?"
Lee mengangguk, "Aku juga ingin pergi."
Lalu mereka mulai merencanakan kemana mereka akan pergi. Tidak, mereka masih belum tahu tujuan mereka, tapi mereka sudah memutuskan desa yang akan menjadi persinggahan pertama mereka.
"Tapi bagaimana dengan Gai-sensei?" tanya Lee setelah Tenten selesai mengobati lukanya.
Dalam hati, mereka bertiga bersyukur lega. Sebagai prajurit senior, Gai sedang mengambil cuti satu bulannya untuk mengunjungi keluarganya. Dia tidak di sini. Gai-sensei aman. Well, meskipun Maito Gai adalah seorang pria yang nyentrik –dengan alis tebal, rambut bob, dan senyum cemerlangnya, toh ia tetap guru mereka. Pembimbing mereka. Ayah mereka.
"Kita akan memberi pesan," kata Neji, mengambil kain cukup besar dari lemari, "Tenten, kau punya tinta dan kertas?" tanyanya.
Tenten menatap Neji dengan pandangan bertanya-tanya. "Ya, kau lihat meja di sana? Ada kertas dan tinta di laci."
Pemuda Hyuuga itu membuka laci yang dimaksud Tenten dan mengeluarkan secarik kertas serta sebotol tinta, membawanya pada gadis itu. "Gambarlah seekor tupai," kata Neji.
Tenten dan Lee bertukar pandang dan tersenyum.
"Kau jenius Neji!" seru Lee, ia lalu menyingkir dari kasur dan membiarkan Tenten menggelar kain lalu mulai membasahi kuas dengan tinta. Sementara itu, Neji mengambil satu kuas lagi dan menulis di kertas, memberi tahu Gai bahwa mereka selamat dan memberi tahu pria itu kemana mereka pergi.
Setelah selesai, mereka beranjak ke hutan. Sepi, tak terlihat penyusup maupun binatang apapun di sana. Untunglah, mereka tidak perlu menguras kembali tenaga mereka untuk bertarung. Tak perlu berjalan terlalu dalam, mereka menemukan sebuah pohon yang sangat tak asing bagi mereka. Lee menggali tanah, lalu mengubur kotak berisi pesan di secarik kertas untuk Gai. Pemuda itu mematahkan sebuah ranting dan menancapkannya di sana.
Tupai adalah lambang tim mereka saat di akademi. Gai-sensei dengan permainan anehnya pernah menyuruh mereka untuk memecahkan teka-teki yang dibuatnya. Permainan itu membimbing mereka ke sini, ke sebuah pohon dengan bendera bergambar tupai –yang sebenarnya sangat tidak mirip– buatan Gai. Ia melompat dari pohon dan berkata mulai sekarang tempat ini akan menjadi tempat latihan mereka saat tidak menerima pelajaran teori di kelas.
Meninggalkan hutan, mereka bergegas ke gerbang utama istana, melewati koridor dan halaman istana yang penuh tubuh dan darah. Neji merasakan Tenten menyembunyikan wajah ke dadanya –ya, Neji mengangkat gadis itu di tangannya karena Tenten masih belum bisa berjalan dengan baik. Pemuda itu meminta Lee berjalan lebih cepat.
Begitu sampai, mereka menggantungkan kain bergambar tupai di gerbang besar istana. Jika orang lain datang, lambang itu tak akan berarti apa-apa. Tapi, Gai-sensei pasti mengerti.
Setelah itu, mereka tidak berhenti, terus melangkahkan kaki sampai batas kerajaan di ujung desa berakhir. Di sebuah bukit, mereka menatap istana itu –rumah mereka selama bertahun-tahun. Sisi Timur istana sudah benar-benar terbakar, api mulai merambat ke bagian tengah istana. Selain itu, semuanya hening. Desa juga tak berpenghuni, semua warga pasti telah diungsikan oleh para prajurit yang berjaga di sana segera setelah lonceng peringatan dibunyikan –sebelum mereka kembali ke istana untuk berperang. Kini, kerajaan itu tak lebih dari sebuah desa mati. Perkataan guru mereka memang benar. Perang tidak menghasilkan apapun selain kepedihan, kesengsaraan, dan kehampaan.
"Istana akan terbakar," kata Tenten sedih, mata cokelatnya menatap nanar api yang membara.
"Tidak," kata Lee, pemuda itu menengadahkan tangannya ke udara. "Lihat. Hujan pertama musim gugur."
Neji dan Tenten ikut menengadahkan kepala menatap langit. Benar, hujan mulai turun. Rintik air membasahi desa itu seolah berusaha menyembuhkan luka yang tersebar di sana.
"Kita harus cepat. Kita harus mencapai desa terdekat sebelum hujan deras," kata Neji.
"Tunggu," kata Tenten, membuat pemuda itu menatap sang gadis. "Kalian berdua tak akan menuntut apapun untuk ini, benar?" tanyanya, menatap Neji dan Lee dengan serius.
"Tenten, apa kau meragukan kami?" tanya Lee sedikit tersinggung.
"Well, itu hanya…" kata Tenten, "kalian sulit ditebak."
"Kita tak akan membalas dendam," kata Neji, tersenyum kecil untuk meyakinkan Tenten dan mengecup puncak kepala gadis itu.
"Lagipula kita sudah berjanji pada Gai-sensei," kata Lee. "Oh, kuharap ia akan segera menyusul kita."
Dengan itu, mereka berbalik dan melanjutkan perjalanan. Di ufuk Timur, segaris cahaya matahari mulai terlihat. Tidak. Mereka tidak menyesal akan jalan yang mereka pilih, sungguh membanggakan menjadi prajurit di salah satu kerajaan terkuat. Itu pula yang menyatukan mereka menjadi sebuah tim. Rencana-rencana dan harapan-harapan mereka di istana ini mungkin telah lenyap. Lenyap hanya dalam satu malam panjang yang penuh darah. Tapi setidaknya, mereka masih memiliki satu kesempatan. Entah apa yang menanti mereka di luar sana. Tapi mereka akan melaluinya. Bersama.
End
A/N : Jika kalian mengikuti saya, mungkin kalian menyadari saya baru publish 3 cerita baru. Sebenarnya 3 cerita ini dibuat sekitar 2 tahun lalu, Mizu tulis di buku karena waktu itu laptop lagi rusak, hehee. Baru ada kesempatan untuk mengetik sekarang-sekarang ini. Akhir kata, saran dan kritik kalian sangat berguna bagi saya untuk memperbaiki dan terus memperbaiki. Terimakasih bagi semuanya yang masih mau menunggu Mizu. I love you guysss. Sampai berjumpa di lain kesempatan dan semoga semua pembaca setia Mizu dilancarkan dalam segala usahanya menjalani kehidupan iniii.
