Bleach punya om tite loh. Love, Hate, Hocus-Pocus©Karla M Nashar

Warning: AU, OOC, dan banyak banget yang lainnya. Tapi yang penting yang nggak suka boleh nggak baca kok..

.

Tiga belas hari kemudian.

Ugh, sesak.
Rukia menggeliat dalam tidurnya. Mencoba memberi ruang pada tubuhnya yang terasa sesak. Ia seperti dihimpit tembok. Tembok yang hangat dan berbau sitrus?

Rukia mengerjap pelan. Membuka penutup matanya, memamerkan pada dunia keindahan irisnya.

Dada? Matanya menelusur ke bagian atas. Garis rahang yang kokoh, kelopak mata yang terpejam, dan rambut sewarna mentari.

"Kyaaaaaaa!"

Magic Apple©miisakura

Ichigo yang baru saja terjaga karena terkejut tiba-tiba mendapat serangan bantal bertubi-tubi.

"Mati kau! Mati kau! Mati kau!"

"Aw! Hei, tunggu! Aduh! Tunggu!" Ichigo mencoba berkelit dari serangan-serangan gadis itu. Menangkap pergelangan tangannya agar berhenti memukuli Ichigo.

Tunggu. Gadis?

Ichigo mengedarkan pandangannya. Betul ini kamarnya. Lalu, kenapa ada seorang gadis? Ia kemudian mengembalikan matanya ke si penyerang.

Tidak mungkin!

Gadis itu bosnya. Yang lebih membuatnya terkejut adalah keadaan gadis itu yang tanpa busana. Raut wajahnya memperlihatkan perpaduan antara terkejut, bingung dan marah. Sebelah tangannya terkunci oleh lengan Ichigo dan sebelahnya lagi mengenggam erat selimut di depan dadanya.

Oh, Tuhan!

Dua puluh tahun usia Ichigo rasanya sudah cukup membuatnya mengerti apa yang telah mereka perbuat. Dua orang berbeda gender terbangun dalam satu ranjang yang sama dan sama-sama tanpa busana, bisa kau tebak apa yang terjadi?

Ya. Mereka pasti telah melakukannya.

Terlalu banyak bukti untuk menyangkal. Ruam-ruam kemerahan di tubuh gadis itu tidak muncul dengan sendirinya kan?

Ichigo shock. Tangan halus yang semula tergenggam pun terlepas begitu saja. Ia berpikir keras. Menelusur ke dalam ingatannya untuk mencari alasan dibalik kejadian tak masuk akal ini. Tidak ada. Ia tidak menemukan jejak apapun.

"Kau... A-apa yang kau lakukan padaku?"

Bisikan sengau khas orang menangis menyadarkan Ichigo bahwa bahu gadis di hadapannya sudah bergetar. Bulir cairan jernih pun jatuh satu persatu, membasahi selimut yang kusut karena digenggam terlalu kuat.

Ichigo merasa bersalah. Seumur hidupnya, Ichigo menganggap bahwa pria yang membuat perempuan menangis ada pria paling brensek di dunia. Sekarang cap 'pria brensek' itu melabeli dirinya sendiri.

"Hei, jangan menangis. Aku minta maaf," kata Ichigo kikuk. Tangannya terulur, mencoba untuk menenangkan.

"Jangan sentuh!" Rukia menepis tangan Ichigo. Menatapnya nanar. Ini adalah aib paling memalukan bagi sang Kuchiki.

Belum selesai dia menghakimi pria di hadapannya, matanya menangkap gambar di latar belakang si kepala landak yang membuatnya kembali terkejut setengah mati. Segera setelah itu gelombang memori asing menerpanya seperti air bah.

Mustahil!

Perubahan mimik muka Rukia membuat Ichigo penasaran. Ia pun menoleh dan melihat potret yang sama dengan yang dilihat Rukia. Sebuah gambar dalam figura paling besar di ruangan itu yang memuat sosoknya dan bosnya dalam balutan busana pernikahan.

Pernikahan mereka.

Mendadak memoar misterius selama tiga belas hari belakangan menyusup ke kepalanya. Membuatnya sedikit berputar.

Ia sudah menikah dengan gadis itu?

Sulit membantahnya, meski tak dikenal ingatan itu terasa asli. Bercokol berdampingan dengan ingatannya tiga belas hari yang lalu saat dia masih sekedar membantu bosnya mengangkut kardus-kardus di ruang penyimpanan. Ini membingungkan.

Rukia masih dalam pose 'terkejut setengah mati'nya. Berusaha mencerna kenyataan dalam kepalanya yang penuh.

Mimpi! Mimpi! Ini pasti mimpi!

Rukia mencubit pipinya sekeras mungkin. Mencoba teori tercepat untuk mengetes batas kesadarannya yang akhirnya membuatnya mendesis sakit. Katakan Rukia bodoh. Memangnya apa yang diharapkannya? Justru akan lebih aneh jika harapannya semua yang terjadi hanya mimpi benar-benar menjadi kenyataan. Dua orang tidak bisa berada dalam satu mimpi yang sama. Itu tidak wajar.

"Kau...!" Rukia menuding tepat di depan hidung Ichigo. "Menghipnotisku untuk menikah denganmu kan?!" Hanya itu satu-satunya kesimpulan masuk akal yang terlintas di kepalanya.

Ichigo mengernyitkan dahi. Perempuan ini! Mudah sekali emosinya berubah. Air mata di wajahnya belum juga kering sekarang dia begitu bersemangat menuduh Ichigo melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. "Untuk apa aku melakukan hal seperti itu?"

"Yah, kau tahu sendiri. Aku lumayan cantik, keluargaku juga bukan keluarga sembarangan. Intinya aku cukup sempurna untuk dijadikan seorang istri. Dan kau pasti tergila-gila padaku. Mengaku saja."

Dahi Ichigo terlihat semakin menukik. Rasa percaya diri gadis di hadapannya melebihi tinggi gunung fuji. Mungkinkah karena pengaruh hidup bertahun-tahun dalam lingkungan keluarga bangsawan? Cih! Menyebalkan! Percuma saja Ichigo mengkhawatirkannya tadi. "Sayangnya, Nona. Pendek, sombong, dan keras kepala tidak masuk dalam kriteria wanita idamanku."

Perkataan Ichigo membuat Rukia meledak. Tangan kecilnya bergerak menuju kepala bersurai jingga. Namun, gerakannya terhenti sebelum mencapai target. Diurungkan karena Ichigo tiba-tiba mendekat.

Alarm bahaya berdenging di kepala Rukia. Ia mulai panik. Kedua tangannya bersiaga. Tegang mengenggam erat selimut pertahanannya ketika Ichigo mulai menariknya dari sisi yang lain.

Ini bahaya! Apa yang harus kulakukan?! Apa?! Ayo berpikir, Rukia! Kupukul saja? Tidak, tidak! Itu bisa melemahkan pertahananku satu-satunya. Dia bisa merebut selimut ini dengan mudah.

Rukia ngeri membayangkan adegan selanjutnya yang mungkin terjadi.

Tendang saja? Bagaimana kalau itu malah membuatnya semakin beringas? Aduh, bagaimana ini?! Someone! Help me, please!

Kraak!

Eh?

Begitu Rukia keluar dari imajinasi ngawurnya, selimut itu telah terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian masih digenggam Rukia, masih menutupi secara sempurna tubuh mungilnya. Satu bagian lagi dalam kuasa Ichigo.

Rukia masih terbengong menatap Ichigo yang sekarang sudah bangkit. Ah! Rukia salah paham. Ichigo sama sekali tidak berniat untuk berbuat macam-macam. Ichigo hanya menggunakan sobekan selimut itu untuk dijadikan penutup tubuh polosnya. Ia mengikat kuat kain itu di pinggangnya, berusaha menyembunyikan bagian pribadinya. Bagian pribadi yang selalu memuaskan Rukia, bagian pribadi yang mampu melemparnya ke surganya dunia.

Tidak!

Rukia dengan cepat menutup hidungnya. Takut-takut darah tiba-tiba keluar dari sana. Ia menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat untuk menyingkirkan pikiran kotornya. Ia tidak akan membiarkan dirinya ketahuan sedang berpikir yang bukan-bukan.

"Sedang apa kau?"

Tertangkap basah!

Rukia menduga Ichigo telah menebak apa yang dipikirkannya saat Ichigo memelototinya dengan tatapan curiga.

"Kuharap kau tidak sedang berpikir sesuatu yang aneh."

Skak mat!

Dukun! Pria ini dukun!

Untuk pertama kalinya, Rukia yang tidak pernah terpengaruh dengan hal-hal supranatural percaya bahwa 'suami dadakan'nya itu adalah seorang paranormal karena bisa mengetahui isi kepalanya dengan mudah. Atau... Karena kepalanya terlalu transparan?

Magic Apple©miisakura

Rukia masih enggan beranjak dari kamar mandi. Ia masih betah menatap sosoknya yang dipantulkan cermin besar disana. Tetes air sisa basuhan tubuhnya setengah jam yang lalu hampir kering. Ia masih butuh waktu. Waktu untuk berpikir tentang semuanya. Pilihan aneh memang memilih kamar mandi untuk merenung. Tapi menurut Rukia tempat itu tempat yang cocok. Ia bisa sewaktu-waktu mengguyur kepalanya jika ia terlalu stres. Sensasi dingin asti mampu membuatnya sedikit lebih rileks.

Tangannya bergerak menyentuh bekas-bekas kemerahan di tubuhnya. Beberapa sudah nampak pudar, beberapa masih terlihat baru. Ini benar. Itu tanda yang diberikan 'suami'nya. Rukia bahkan masih mengingat sensasi yang dirasakannya saat tanda itu dibuat. Saat mereka bercinta semalam.

Aaaaargh!

Rukia membenturkan kepalanya ke wastafel, berharap rasa sakit dapat mengembalikan kinerja otaknya secara benar. Ia merasa tersesat dalam ingatannya sendiri. Ia ingat kemarin malam ia masih tidur sendirian dengan tenang di apartemennya, tapi ia juga ingat semalam ia tidur ditemani 'suami'nya. Jadi, mana yang benar?

Suara ketukan di pintu membuatnya berhenti mengurai benang memori kusut dalam kepalanya.

"Sampai kapan kau di dalam sana? Semua menunggumu untuk sarapan."

Rukia memakai pakaiannya dan keluar dari kamar mandi. Ia melihat Ichigo yang bersandar bosan di samping pintu masuk kamar sembari bersedekap. Ketika melihat Rukia keluar, ia berbalik begitu saja tanpa menunggu.

"Tunggu!" Rukia menarik tangan Ichigo agar berhenti. "Aku butuh penjelasan disini!"

Ichigo berbalik dengan malas. Menghadapi perempuan sekecil ini ternyata butuh kesabaran ukuran besar.

"Maaf ya nona yang terhormat, aku juga korban disini. Tiba-tiba terbangun dan mendapati kita sebagai 'suami-istri' juga masalah besar untukku. Dan kalau kau masih mengira aku menghipnotismu atau apa, lupakan saja. Aku sama sekali tidak berminat melakukan hal tidak berguna seperti itu," sahut Ichigo saat melihat Rukia yang masih memandangnya dengan pandangan penuh curiga.

Rukia menatap Ichigo dalam-dalam. Ia sedang mengganalisis, mencari tahu tanda-tanda kebohongan yang mungkin ditunjukkan Ichigo. Nihil. Tidak ada pupil yang bergerak abnormal, tidak ada keringat dingin yang keluar, tidak ada suara yan bergetar. Pandangannya tegas, suaranya mantap. Ichigo tidak berbohong.

"Jadi kita benar-benar sudah menikah," simpul Rukia lirih.

"Ya. Foto yang dipajang disana itu asli. Aku menemukan foto yang sama di setiap sudut rumahku. Ayahku juga masih heboh meributkan pernikahan kita."

"Tapi, bagaimana...?"

"Aku tidak tahu. Ini membingungkan. Aku ingat kau 'istri'ku tapi disaat yang sama aku juga tidak ingat kau 'istri'ku. Rasanya kepalaku dipenuhi dengan dua memori berbeda sekaligus."

Persis. Itu juga yang dirasakan Rukia.

"Ah! Kita bercerai saja!" Rukia mendadak melonjak kegirangan seperti balita yang diberi kembang gula saat gagasan itu melintas di kepalanya.

"Tidak."

Jawaban singkat, padat, tanpa basa-basi, bahkan cenderung tanpa berpikir.

Rukia jadi bingung. Bercerai adalah ide paling brilian untuk masalah mereka saat ini. Mereka kan sama-sama tidak saling mencintai. Apapun yang terjadi pada mereka sekarang, anggap saja semua mimpi. Dan semua bisa kembali seperti semula. Iya kan?

"Ibuku akan sekarat di rumah sakit jika kita bercerai dua minggu setelah menikah."

Rukia membatu. Sosok perempuan lembut yang ringkih muncul di permukaan ingatannya. Ya. Ibu Ichigo sakit dan berita mengejutkan bisa mengantarkannya ke pemakaman. Bukan manusia jika Rukia tetap bersikeras bercerai demi dirinya sendiri.

"Onii-chan, Rukia-nee, ayo sarapan." Teriakan Yuzu dari lantai dasar rumah keluarga Kurosaki bervibrasi hingga ke telinga mereka berdua.

"Sudahlah. Tidak ada gunanya dipikirkan sekarang."

Rukia menghela napas kemudia mengekor Ichigo yang sudah menuruni tangga. Untuk sekarang semestinya memang mereka harus menyerah. Waktu akan memberikan mereka petunjuk sedikit-demi sedikit.

"Putrikuuuu~" sesosok tubuh terlihat terbang dan berencana mendarat dipelukan Rukia. Membuatnya terkejut setengah mati, tapi tubuhnya tidak. Tubuhnya seperti sudah familiar dengan kegiatan seperti ini, dengan lihai dia menyembunyikan tubuh kecilnya di balik punggung lebar Ichigo.

Duak! Brak!

Setelah dua suara itu, Rukia mengintip dan melihat seorang pria yang terapar membentur tembok sebelah barat. Sebelum benar-benar KO, dia mengacungkan jempol kanannya kepada Ichigo dan berkata, "good job, My son."

"Rukia-nee, ayo sarapan." Perempuan muda dengan seragam SMP Karakura mengamit tangan Rukia, mengajaknya mengambi posisi di meja makan.

"Pagi, Bu," Ichigo memilih untuk menyapa ibunya ketimbang menghiraukan ayahnya yang masih tergeletak tak berdaya akibat tendangan telaknya.

Rukia spontan mengikuti Ichigo. Ia mencium pipi wanita paruh baya yang terlihat rapuh. Melihat melalui ingatan dan melihat langsung benar-benar memiliki efek yang berbeda. Perempuan ramah itu terlihat lebih sakit daripada yang diingat Rukia. Namun, lemah jantung dan kedua kakinya yang lumpuh tidak lantas membuatnya berhenti menjadi pusat keluarga kecil ini. Perempuan hebat. "Pagi."

"Selamat pagi, Anakku. Bagaimana tidurmu?"

"Tentu saja tidak nyenyak, Istriku. Rukia-chan kan lembur untuk segera membuatkan kita cucu. Iya kan, My daughteeer~?" serobot Isshin yang tiba-tiba bangkit dari pingsannya

"Berisik, Oyaji."

Satu lagi bogem mentah Ichigo telak mengenai wajah Isshin dan membuatnya mimisan. Tapi, Isshin sama sekali tidak marah ataupun merasa sakit seakan tinju itu hanya berasal dari bocah lima tahun.

"Selamat makan!" Anggota keluarga Kurosaki serempak berseru setelah mereka berdoa bersama. Bersiap menggayang apapun yang tersaji di meja.

.

Magic Apple©miisakura

.

Ichigo berjalan cepat menuju genkan. Sebenarnya ia tidak sedang terburu-buru atau dikejar waktu. Ia sedang cuti dari semua pekerjaannya, mengingat sekarang ia sedang 'berbulan madu'. Bulan madu. Kalimat itu malah membuat sakit kepalanya kembali. Jalan-jalan sebentar kelihatannya bagus untuk kesehatan kepalanya.

Erangan tertahan samar-samar terdengar ketika ia melewati ruang tv. Apa itu?

"Ada apa?" tanya Rukia. Rencananya ia akan mengajak ibu mertuanya untuk berjalan-jalan di taman. Ia heran melihat Ichigo yang diam di depan pintu ruang tv. Sebelum Ichigo menjawab, erangan-erangan yang terdengar dari sana malah makin intens. Suara baritone dan alto terdengar bersahutan. Membuat mereka bertiga bingung. "Apa itu?"

Ichigo membuka pintu untuk menuntaskan kebingungannya. Dibelakangnya Rukia dan Masaki mengekor karena sama-sama penasaran. Pemandangan televisi yang tepat menghadap ke pintu masuk menyergap indera pengelihatan mereka.

Dua orang. Mereka asik bergumul. Melantunkan simfoni-simfoni kenikmatan. Jangan tanya siapa mereka. Perbedaan warna rambut dan tinggi badan yang mencolok sudah menjadi clue paling mendasar untuk menebak.

"Kaa-chan, jangan lihat!"

Rukia terkejut setengah mati. Jantungnya seperti meledak, memuncratkan darah ke wajahnya yang terasa panas. Ia sampai tidak sadar kalau ia sudah bertindak tidak sopan dengan berteriak dan menutup mata ibu mertuanya secara tiba-tiba dengan kedua tangan. Sedangkan Ichigo bertindak lebih rasional. Di tengah keterkejutannya dia berhasil menendang si pelaku yang diam-diam menonton video terkutuk itu hingga menghilang entah kemana.

"Tidaaaak! Video kesayangankuuu~" ratapan entah darimana terdengar saat kepingan disc itu terbelah menjadi dua di tangan Ichigo.

Satu lagi bukti otentik yang telah divalidasi yang memusnahkan harapannya. Ia benar-benar sudah menikah. Satu ayah mertua aneh, satu ibu mertua hebat, dua adik kembar beda kepribadian, dan satu orang suami yang super dingin. Itulah keluarganya sekarang.

.

.

.

.

Bersambung ya minna..

Maaf kalo lama banget updatenya, hasilnya juga cuma begini…

Kalau ada yang menunggu baby and I, maaf, mii masih mencari-cari ide..

Mii bales repiuu bentar ya..

MR. KRabs-san: pilihan kataku kacau ya… maaf ya.. hehehe

Baby and I, masih harus pending… aku nggak tau mau nulis apa soalnya… gomenne…

Arigatou ^^

Zircon-san: terima kasih banyak..^^

Penjelasannya disini.. mudah-mudahan cukup menjelaskan…

Arigatou^^

Purafelly-san: terima kasih banyak^^

Ini lanjutannya… tapi maaf ya ala kadarnya…

Arigatou^^

KuroUchisa-san: ini udah update… ^^

Maaf ya, imajinasi seadanya…

Ah, tolong jangan dipanggil begitu, mii aja cukup..

Arigatou^^

Rinko Kurochiki-chan: makasih saii^^

Mii harus minta maaf banget nii sama kamu.. baby and I-nya masih harus ditunda.. masih kurang sreg sama alurnyanya..

Arigatou^^

Nah, terima kasih banyak minnaa… ^,^

miisakura 09 juni 2013