Bleach©Tite Kubo
Love, Hate, Hocus-Pocus©Karla M Nashar
Magic Apple©miisakura
Warning: segala ketidaksempurnaan milik manusia mungkin ada di dalamnya. Yang tidak suka boleh segera keluar kok :) nggak ada paksaan sama sekali :)
Fic ini dibuat tanpa ada keuntungan materiil sama sekali, cuma menyalurkan hobi :)
Magic Apple©miisakura
Rukia sudah memutuskan.
Ketika pemikiran itu datang, tepat saat tontonan Chappy n Friendsnya selesai, rasanya Rukia berubah menjadi orang paling cerdas.
Yeah, dia punya ide cemerlang untuk membuat tidurnya lebih nyenyak malam ini. Setelah kejadian tadi pagi yang begitu menakutkan bagi Rukia (melihat dirimu sendiri sedang menjadi objek gambar saat sedang melakukan hal yang hanya suami istri yang boleh lakukan sementara ingatanmu masih membingungkan benar-benar mengerikan) ia terus menerus khawatir tentang apa yang akan terjadi malam berikutnya.
Dan tiba-tiba ilham itu datang. Sebagai makhluk lemah yang butuh perlindungan bernama perempuan, sudah sewajarnya kan pria Kurosaki itu mengalah. Toh itu juga demi harga dirinya sebagai seorang gentleman. Iya kan? Tinggal bidik egonya, dan Ichigo akan menyerahkan kamarnya dengan sukarela.
Pijakannya pada tangga penuh percaya diri, senyum yang terkembang di bibir kecilnya terlihat licik, dan saat dia sampai di depan pintu itu seringaian itu menjadi lebih menakutkan. Dengan dorongan kuat, ia hempaskan pintu itu untuk menjeblak.
Nyatanya, bukan hanya pintu yang terhempas tapi juga kesadarannya.
Rukia merasa tiba-tiba berubah menjadi patung granit. Segudang rencana tentang 'membuat serigala keluar' tiba-tiba tenggelam di dasar otaknya. Ia lupa segalanya. Siapa yang tidak jika disuguhi pemandangan seperti ini. Oh, damn, he is so sexy.
"Seharusnya kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk."
Dan cibiran itu berhasil melelehkan tubuh Rukia yang sebeku es. Meski begitu Rukia masih belum berhasil menghilangkan getar ketika berteriak. "K-kau... K-kenapa penampilanmu seperti itu?!"
Ichigo hanya angkat bahu menanggapi teriakan Rukia. Tangannya masih asik mempekerjakan handuk untuk menyerap titik-titik air dari rambutnya. Ia merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya dengan hanya terbungkus celana wol tua. Yang Ichigo tidak tahu, tetes air yang lolos cengkraman serat handuk dan jatuh meluncur di dadanya yang bidang dan menghilang di batas pinggulnya yang tertutup celana telah merenggut kewarasan Rukia. Oh, Tuhan.
Rukia tidak tahan lagi, ia menerjang masuk dengan tiba-tiba. Mengambil boneka Chappy-nya yang besar dan melesat kembali ke pintu keluar. "A-aku tidur di luar!"
Tapi tidak, tangan Ichigo yang besar dan panjang lebih cepat meraih kerah bagian belakang piyama yang dikenakan Rukia sebelum gadis itu mencapai pintu. Dan sesuai hukum kelembaman, Rukia terlontar mundur hingga menabrak dada Ichigo. "Tetap di sini."
Dalam pendengaran Rukia suara Ichigo yang terdengar tepat di telinga kanannya terdengar lebih berat dan err... menggoda. Membuat sekujur tubuhnya panas, hingga Rukia khawatir ia akan terbakar oleh hasratnya sendiri.
Rukia bersyukur ditengah lonjakan gairahnya yang sudah mencapai ubun-ubun, ia masih bisa menemukan akal sehatnya. Berbekal pada secuil logika yang tersisa Rukia berhasil menghantamkan kepalanya dan telak mengenai hidung mancung Ichigo.
"Ouch! Untuk apa ini?!"
"Apa rencanamu?"
"Apa maksudmu?!" geram Ichigo. Ia benar-benar frustasi menghadapi istrinya yang bar-bar dan rasa sakit di hidungnya membuatnya bertambah buruk.
"Kuingatkan kau!" Rukia menuding Ichigo dengan jari telunjuknya yang lentik. "Meski entah bagaimana kita sudah menjadi suami-istri, aku tak akan membiarkanmu berbuat macam-macam padaku. Anggap saja aku sedang kehilangan akal sebelumnya. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Mengerti?!"
Penjelasan panjang lebar Rukia sama sekali tidak membantu. "Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan?" desisnya diantara rasa sakit. Tangan Ichigo masih sibuk mengelus hidungnya yang malang. Oh, Tuhan, semoga tidak ada yang patah.
"Kau akan mati kalau kau berusaha menyentuhku lagi!"
Ichigo mendengus begitu mengetahui jalan pikiran Rukia. Ia kesal karena rasa sakit yang didapatkannya ini hanya karena itu."Itukah yang kau pikirkan?"
"Tentu saja! Memang apalagi! Sengaja menahanku di sini agar kau bisa menyerangku saat aku lengah kan?"
"Kau itu memang tidak pernah berpikir panjang atau otakmu hanya mampu berpikir sependek itu?"
"Apa?!"
"Memang menurutmu apa yang ibu pikirkan jika menemukanmu tidur di luar? Kau hanya akan membuatnya sedih dan memperburuk keadaannya."
Rukia diam karena Ichigo mengenai poin yang tepat. Separuh hatinya masih menggerutu karena harus rela mengakui bahwa Ichigo memang selalu berpikir selangkah, hanya selangkah, lebih dulu. Di sisi lain hatinya rasa kagum itu semakin berlipat. Tidak banyak laki-laki yang mencintai ibunya sepenuh hati seperti Ichigo.
Ah, perasaan yang rumit.
"Jadi?"
"Apa?"
"Penyelesaiannya. Dengar ya, aku tetap tidak mau tidur satu ranjang denganmu. Dan jangan bilang kau mau jadi pahlawan dengan memilih tidur di lantai dicuaca seperti ini. Maaf saja, tapi aku tidak akan menilai itu romantis. Itu tindakan bodoh."
Ichigo berjalan cuek menuju lemarinya membiarkan Rukia berkomentar sesukanya.
"Tunggu! Kau tidak berpikir menempatkanku di lemari kan? Itu melanggar hukum!"
Ichigo hanya menyipitkan mata. Bosan dengan reaksi histeris Rukia. Kenapa sih dia selalu menyimpulkan yang bukan-bukan?
Begitu Ichigo berhasil menarik keluar futon dari dalam lemari, Rukia hanya bisa bungkam. Kesemua dugaannya meleset total. Ia benar-benar malu.
"Sudah puas?"
"U-um, ya. Maafkan aku."
"Aku tidur disini," ia menunjuk futon yang baru saja digelarnya. "Sebaiknya kau kunci pintunya. Aku tidak ingin Oyaji tiba-tiba menerobos dan membuat kehebohan lagi," kata Ichigo dan langsung memejamkan matanya setelah mendapat posisi yang nyaman.
Sepanjang sisa malam itu Rukia tidur bersama rasa bersalah.
.
Magic Apple©miisakura
.
Rukia membolak-balik lembar demi lembar dokumennya dengan asal. Ia bosan. Tumpukan lainnya yang belum tersentuh di sudut mejanya membuatnya bertambah kesal. Ia memutar kursinya dan membuang pandangannya ke arah jendela besar tepat di belakang mejanya.
"Argh!"
"Jangan berteriak seperti orang gila begitu. Kau menakuti karyawanku." Bersamaan dengan suara itu Rukia mendapat rasa sakit di kepalanya yang baru saja dipukul.
Saat Rukia berbalik, ia sama sekali tidak menemukan raut wajah bersalah. Justru cengiran lebar Yoruichi Shihouin yang menyambutnya, namun ia tidak marah. Senyuman itu justru menular saat Yoruichi mengundangnya masuk dalam sebuah pelukan.
"Ba-chan! Aku merindukamu!"
"Tentu saja, tentu saja. Aku memang selalu dirindukan," kata Yoruichi percaya diri sambil menepuk-nepuk kepala Rukia.
Rukia benar-benar senang dengan kedatangan Yoruichi. Setidaknya pikirannya yang semerawut bisa rileks sejenak. Karena meski menyebalkan, bagi Rukia, Yoruichi Shihouin adalah ibu yang tidak pernah ia punya.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Yoruichi melepaskan pelukannya dan kemudian menghempaskan bokongnya di sofa empuk tidak jauh dari sana. Sedangkan Rukia memilih bersandar pada meja kerjanya sembari bersedekap.
"Sulit. Bibi kan tau aku tidak suka melakukan hal-hal rumit."
Yoruichi menaikan alisnya. Bukti lapangan sangat tidak sesuai dengan ucapan Rukia. "Tapi kelihatannya kau melakukannya dengan baik."
"Tentu saja. Aku pro. Jadi, tidak bisakah bibi hanya memberikan tiketnya padaku?" Rukia menadahkan tangannya meminta imbalan yang dijanjikan.
"No, no. Janji adalah janji Rukia. Kau sudah berjanji akan membantuku selama sebulan. Hanya tinggal dua minggu lagi. Bersabarlah dan golden tiket itu jadi milikmu."
"Yeah, hanya tinggal," jawab Rukia cemberut.
Suara ketukan mengalihkan fokus keduanya.
"Masuk." Setelahnya Ichigo muncul dari balik pintu dengan kotak kecil yang terbalut kain.
"Oh! Menantu keponakan!"
Ichigo mengernyit ketika frase yang aneh itu diteriakan kepadanya.
"Nyonya," ia membungkuk sopan pada Yoruichi.
"Jangan kaku begitu. Bagaimanapun kita sudah jadi keluarga."
"Ada apa? Bukankah hari ini kau libur?" tanya Rukia.
Perhatian Ichigo kembali pada Rukia. "Ibu memintaku membawakan ini untukmu." Ia lantas menyodorkan sekotak bento di tangannya.
"Saya permisi, Yoruichi-sama." Ichigo segera pamit pada Yoruichi dan bergegas pergi setelah titipan ibunya di terima Rukia.
"Eh? Eh? Tunggu! Ichigo!" Rukia segera menyambar tasnya dan mengejar Ichigo. "Ba-chan! Aku pulang dulu!"
"Hei!" Yoruichi berteriak bingung karena ditinggal begitu saja. Tapi percuma saja, Rukia sudah menghilang dari pandangannya. "Dasar pengantin baru, ini kan belum waktunya pulang," keluh Yoruichi.
"Jadi, kemana kita?" Rukia tersenyum sumringah. Ia sudah sampai di pintu depan museum dan tidak ada tanda-tanda bibinya akan mengejar. Mission complete kalau begitu.
Ichigo memandangnya yang sedang tersenyum tanpa alasan yang jelas. "Kau kabur?" tembaknya langsung.
Rukia tidak merasa harus berpura-pura bodoh untuk menjawab pertanyaan itu. Ichigo terlalu pintar untuk dibodohi. "Tidak. Aku hanya istirahat sebentar," jawabnya sembari memberi cengiran lebar.
Ichigo tidak peduli lagi. Ia merasa perlu mengacuhkan Rukia agar tidak terkena dampak yang mungkin akan merepotkannya nanti.
"Hei, kau mau kemana? Mobilku di sana," Rukia menunjuk tempat porchenya yang berlawanan dengan arah yang Ichigo tuju dan kemudian menggerutu karena Ichigo masih mengabaikannya. Mungkin Ichigo menganggapnya manja. "Baik! Baik! Naik bis juga tidak masalah!" jerit Rukia sembari berlari mengejar Ichigo.
.
Magic Apple©miisakura
.
"Kenapa kita di sini?" tanya Rukia. Ia menutup buku di hadapannya. Kepalanya tak sanggup lagi menampung huruf-huruf.
"Kenapa kau di sini?" Bukannya menjawab Ichigo malah balik bertanya tanpa menatap sang lawan bicara.
"Kau yang membawaku kesini!" sungut Rukia kesal karena Ichigo malah balik bertanya.
"Kau yang memaksaku membawamu pergi," jawab Ichigo kalem, masih belum beralih dari apapun yang dibacanya.
Grr! Pria ini menyebalkan! Dia mencoba menguji batas kesabaranku! Tenang, Rukia. Tenang. Sabar.
Rukia menarik napas dalam-dalam. Mencoba teknik pernapasan yang diajarkan instrukturnya di kelas Yoga yang diikutinya setiap akhir minggu untuk mengatur emosi.
Oke, ini memang salahnya. Ia yang memohon pada Ichigo untuk dibiarkan ikut. Ini merupakan salah satu taktiknya untuk kabur dari pekerjaannya yang menumpuk. Ia bosan berurusan dengan kertas-kertas di kantornya. Dan jika ia pergi dengan cara ini, Ba-channya pasti tidak akan berkomentar.
Itulah sebabnya, saat Ichigo pamit pergi tadi, Rukia meminta ikut. Ia pikir mungkin bisa menyegarkan pikirannya sebentar. Memang bukan gayanya untuk duduk diam berlama-lama mengurusi dokumen. Dia tipe yang aktif. Dan ia hampir mati bosan karena itu.
Ternyata Rukia ditipu! Bukannya pergi ke Chappy Wonderland atau minimal mengajaknya ke taman, pria gila ini malah membawanya ke perpustakaan kota! Menyebalkan! Namun, Rukia tahu percuma berdebat dengan pria satu ini. Ia memilih untuk bangkit dan mencari apapun yang menarik perhatiannya.
Hening.
Rukia membiarkan kakinya melangkah sembarang di perpustakan itu, berputar-putar tanpa arah yang jelas.
"Itu apa?" tanya Rukia. Kepalanya tiba-tiba menyembul dari balik bahu Ichigo. Ia penasaran akan buku yang dibaca Ichigo dengan begitu serius.
Ichigo hanya melirik sekilas. Ia terlihat terganggu oleh Rukia. "Buku."
"Bagus. Tidak ada jawaban lebih pintar?" tanyanya sarkatik.
"Tidak ada pertanyaan lebih cerdas?"
"Oke, oke. Kuganti pertanyaannya. Itu buku apa?"
"Salinan Kitab Negarakertagama."
"Ki-apa?"
"Kitab Negarakertagama," Ichigo meletakkan buku yang dibacanya dan menatap Rukia yang sudah duduk di sampingnya. "Salah satu buku terkenal dari sejarah Nusantara. Bercerita tentang Ken Arok yang membunuh Tunggul Amentung untuk merebut istrinya, Ken Dedes. Meski pada akhirnya Ken Arok juga mati dengan senjata yang sama."
"Sudah kuduga."
"Huh?" Ichigo di buat bingung dengan kalimat pendek Rukia.
"Cinta Ken Arok bukan cinta tapi obsesi. Cinta yang sebenarnya tidak pernah melibatkan darah pada prosesnya. Kau tahu, karma itu nyata. Ken Arok yang memaksa memiliki Ken Dedes terkena karma dari perbuatannya. Benar-benar cinta segitiga yang mengerikan."
"Siapa bilang kisah ini cerita cinta segitiga?"
"Memangnya bukan?"
"Menurut legenda, siapapun yang dapat memperistri Ken Dedes, yang berasal dari keturunan Siwa-Durga dipercaya akan menjadi penakluk dunia."
"Ah! Egois, kalau begitu. Ingin berada di puncak kekuasaan, ne?"
"Entahlah."
"Ini apa?" Rukia menunjuk sebuah gambar pedang berukir yang disertakan dilembar berikutnya.
"Keris. Itu senjata yang digunakan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Amentung."
"Ini cantik sekali. Bagaimana bisa membuat pisau secantik ini."
Ichigo mengernyit tidak setuju saat Rukia menyebut senjata itu pisau. "Bukan pisau, tapi keris. Benda itu belum selesai dibuat saat digunakan untuk membunuh Tunggul Amentung. Mpu Gandring menolak menyelesaikannya."
"Jadi pedang itu belum selesai?"
"Sarung kerisnya belum dibuat oleh mpu Gandring. Tapi Ken Arok memaksa dengan menusukkan keris itu padanya. Saat sekarat Mpu Gandring mengutuk Ken Arok. Dia akan mati dengan keris yang sama begitu juga dengan keturunannya. Tujuh Raja akan tewas dengan keris yang sama," Ichigo mengutip kalimat dalam buku yang dibacanya.
"Kenapa tidak ada yang mengadili Ken Arok? Apa tidak ada polisi? Atau pembunuhan memang dilegalkan?"
"Masyarakat saat itu berpikir keris itu milik Kebo Ijo, sahabat Ken Arok, karena Ken Arok sering meminjami keris itu untuk dipamerkan oleh Kebo Ijo. Sehingga akhirnya Kebo Ijolah yang menjadi tertuduh."
"Jahat sekali. Dia melimpahkan kesalahannya pada sahabatnya sendiri. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"
"Aku tidak tahu detilnya. Lanjutannya dimuat dalam buku yang berbeda. Hanya saja Ken Arok mati dibunuh oleh suruhan Anusapati, putra Tunggul Amentung dan Ken Dedes, dengan menggunakan keris yang dikutuk itu."
"Canggih! Kau sungguh luar biasa! Mirip Genryuusaii-jiisama."
"Itu pujian?"
"Tentu saja. Memangnya kau pikir apa?"
"Entahlah. Aku merasa ada ejekan terselubung di dalamnya."
Rukia mengerutkan dahinya sebelum tawanya meledak dan mendapat teguran keras dari pengunjung dan penjaga perpustakaan. "Hahaha... Ehm... Kau merasa aku mengejekmu karena ini ya?" Telunjuk lentik Rukia menyentuh kerutan tipis di dahi Ichigo. Ia kemudian kembali tertawa, menyadari kesalahpahaman Ichigo. Benar-benar deh. "Benar juga. Kau memang mirip Genryuusaii-jiisama dengan itu. Tapi, maksudku adalah ini," Rukia mengetuk pelipis Ichigo dengan jari telunjuknya. "Kau cerdas. Dan itu pujianku untukmu."
Dan seperti teradiksi oleh lembutnya kulit wajah Ichigo, ibu jari Rukia kembali mengelus dari Ichigo. Seolah-olah berharap kerutannya akan hilang dengan sentuhannya. "Jangan banyak berpikir terlalu serius. Nikmatilah sedikit hidupmu."
Rukia kemudian menjatuhkan lensa unik keunguannya pada manik coklat bening milik Ichigo. Kolam madu itu seperti merayu Rukia untuk menyelam ke dalamnya. Mempelajari kata hati yang tersembunyi di dalamnya. Seperti album hidup pemiliknya, bola mata itu seolah menceritakan semua kisah Ichigo.
Mereka sama-sama terhanyut oleh amethys dan amber saat tangan Rukia mengalung sempurna di tengkuk Ichigo dan menariknya mendekat hingga mereka berbagi udara yang sama. Pun, ketika Ichigo mulai menempelkan bibirnya pada bibir Rukia. Juga saat mereka saling melumat dengan mesra.
Hari, itu mereka berciuman tanpa banyak berpikir.
.
.
.
.
.
Bersambung ya…
No comen deh sama tanggal updetnya #dianyasendiriudahfrustasi T,T
Chap ini draftnya udah jadi luama banget, tapi mii merasa ada yang salah jadi nggak berani updet, lama-lama malah lupa X( Pas kemaren liat-liat coretan ada ini, dibaca lagi, hapus sana sini di tambel-tambel, baca lagi trus pusing o,o mii minta pendapat pembaca aja deh ya #mulailavar
Meski ini cerita udah dua tahun yang lalu, boleh ya mii tetep bales repiuu…
Amexkichan : mii minta maaf updetnya luama banget *sungkem* mii juga bingung gimana jelasinnya, gomennasai T,T ini lanjtannya ya :)
Ryoma-san: ini gregetnya malah di tanggal updetnya, maaf banget T,T
Life-san : ini updetnya amat sangat nggak kilat, maaf ya T,T
r-san: makasih ya :)
shia-san: terima kasih banyak :) ah, iya mii memang terinspirasi dari LHHP-nya mbak Karla. Apa mii terlalu berlebihan terispirasinya? Tolong kasih tau mii ya kalau berlebihan, mii nggak keberatan menghapus cerita ini :)
guest-san: ini lanjutannya :) maaf ya super duper lama T,T
buat yang lainnya mii bales via PM ya :)
sudah sempat disinggung diatas, fiction ini mii tulis karena terinspirasi dari novel Love, Hate, Hocus-Pocusnya mba Karla M Nashar, kalau ada yang merasa mii berlebihan dan menjurus ke penyaduran tolong mii di kasih tau ya, mii nggak keberatan menghapus fic ini :)
minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin ya semua :)
terima kasih banyak ya buat dukungan teman-teman… :) tanpa kalian mii bukan apa-apa :)
miisakura, 21 Juli 2015
