Himawari POV

Aku tak tau apa apa setelah semalam, pria yang kutebak namanya itu membawaku menuju ruangan kosong di deretan ruangan di rusun kecil ini. Tapi begitu masa memalasku habis, aku berusaha melawan diriku sendiri dengan membuka mata lalu mengerjap pelan begitu sinar menyilaukan menusuk indra penglihatanku.

Aku menoleh kesamping, dan melihat sinar terang itu masuk begitu seseorang membuka penghalang kain di hadapan jendela itu. Sekali lagi aku mengerjapkan mataku berulang kali untuk menyadarkan diriku bahwa pria di depanku itu bukanlah kakakku, Ranpo, melainkan..

Manusia tanpa jenis yang MESUM!!!!

Tiba tiba aku memberontak, menghempaskan selimut futon, dan membuatnya tampak berantakan, kupikir dengan mundur beberapa langkah disusul masih terduduk, aku bisa menghindari keterkejutanku di pagi buta. Mataku yang bahkan belum terbuka tadi, membelalak hebat dibuatnya.

"Apa yang kau lakukan disini hah?!!" Teriakku melihatnya dengan kedua tanganku mengenggam tatami di bawahku

"Aku sedang menyibak gorden. Apa salahnya, ini kan kamarku" ucapnya dengan tatapan anehnya melontar padaku. Aku yang merasa jijik melihatnya langsung berteriak kembali, yang tentunya sudah memcerma habis kata katanya.

"Ja, jadi... semalam aku tidur di ranjangmu? Berdua denganmu?!!!" Aku berteriak kembali, seraya menegakkan kakiku untuk berdiri. Mengepalkan tanganku lalu menatapnya setengah aneh plus berbinar...

"Ya... aku tidur di sofa sih tadi. Karna aku tidak bisa membuka kamar Ranpo san, aku terpaksa membawamu ke dalam kamarku daripada kau tidur diluar bukan?"

"Keren!!!! Bagaimana, bagaimana cara kau melakukannya?!"

Pria itu langsung menatapku terkejut, sama seperti ekspresiku tadi. Aku segera mendekati wajahnya agar menatapku intens sesaat setelah dia mengatakan kalimatnya tadi.

"Entahlah, mungkin naluri pria.. eh, apa yang kau lakukan?"

Aku memang mendengarnya, tapi langsung tergerak saat mendekati tali yang tergantung di langit langit ruangan ini. Begitu senangnya aku, ku mengambil kursi dekat di sana, dan mencoba menyangkutkan kepalaku di lobang tali yang melingkar itu, tapi

"Apa kau sengaja menaruh ini disini? Kukira ini untuk menaruh baju atau gantungan lampu, makanya aku tertarik. Sayangnya..."

Ia menatapku sejenak dengan ekspresinya yang tak berubah, lalu tertawa terbahak begitu melihat posisiku

"Hua hahahahahahaa!!! Hei, jika kau ingin bunuh diri ganda bersamaku, kau harus lebih tinggi sedikit, jangan jadi si pendek chibi itu, hehehe" ia tertawa sambil menundukkan kepalanya ke bawah untuk menahan tawanya yang menggema.

Aku terdiam sejenak dan tak lama tertawa kecil. Memang, jika diukur lagi, tinggiku hanya sebatas lehernya. Menyebalkan, kenapa ia terlalu tinggi

"Aku tidak pendek, kau saja yang ketinggian"

"Oh ya, kalau begitu selanjutnya mau ngapain?" Ucapnya dengan senyuman yang belum hilang di wajahnya.

Aku kembali sunyi dan memandang sekitar ruangan bermuatan 5 tatami ini. Yah ruangan yang terlalu kecil untuk dua orang. Akhirnya, aku menoleh ke arah sekat ruangan yang memisahkan kamar dan dapur.

Senyumku mengembang saat membayangkan ada apa disana, kakiku juga mendukungku dengan berlarian kecil ke arah kulkas kecil di sana.

Aku tak tau apa yang terjadi pada pria itu, tapi ia tampaknya mengikutiku dan mendekatiku sesaat aku membuka isi kulkasnya

"Ne nee Dazai san, bagaimana jika kau buat bubur kacang hijau? Hm, yang panas hangat juga enak di pagi yang sejuk ini. Bagaimana?"

Dazai POV

Aku langsung menatapnya heran saat ia mengatakan itu,

"Bubur kacang hijau? Tak masalah.." aku berjalan mendekati meja yang di bawahnya terletak lemari kecil, dan aku membukanya, "bagaimana dengan tambahan sedikit paku, mungkin lebih enak"

Ia masih menatapku ambigu. Lalu tersenyum pahit saat melihat isi kulkas kembali

"Aku memang suka dengan aksi menyeramkan seperti itu, tapi mati tertelan paku itu tidak elit. Cobalah cari yang lebih keren, misalnya menambahkan racun atau membuat bom yang meledak saat kita mencampurkannya di dalam makanan. Caramu sangat kuno, Dazai san"

Aku memang berpikir dua kali saat ia selesai mengatakan itu. Tunggu apa maksudnya dengan memakan paku itu tidak elit?! Aku kembali memandangnya yang bahkan sudah beralih ke meja kompor lalu menyiapkan segalanya.

"Kau punya sianida? Setidaknya berikan rempah rempah agar terasa ekstrim?" Katanya dengan menatapku manis. Ia menyiapkan panci dan bahan bahannya di sebelah kompor. Aku terdiam sejenak...

Akhirnya!! Ada yang mau mati sepertiku! Apa ini mimpi? Atau imajinasi gila yang datang setiap pagi? Oh astaga, kenapa bubuk sianida yang kemarin kubeli malah kubuang di sungai waktu itu? Aku malah jadi menyesal.

Tunggu dulu,

"Nee, Edogawa san..." aku berdiri dan mendekatinya. Tangan kiriku ku masukan kedalam saku celana karna mantel coklatku tidak kukenakan. Ia berbalik menatapku dengan tatapan heran plus manis darinya,

"Jika kau benar Edogawa Himawari, berarti kau adalah perempuan yang berusaha menggagalkan usaha bunuh diriku 10 tahun lalu bukan?" Aku menatapnya sinis di tambah seringai kecil di bibirku yang merekah.

Ia sebelumnya terdiam lalu berwajah serius memandangku

"Iya, tepat. Kau masih ingat itu?" Ucapnya lembut dengan nada rendah di akhir kata

"Tentu. Dulu, hanya kau Chuuya dan Mori san saja yang berani menegurku seperti itu, tentu aku masih ingat. Dan ngomong ngomong..." balasku sengaja menggantungkan kelimatku serta menyandarkan diri di meja kecil di belakangku. Memandang langit langit mungkin sambilan terbaik sekarang.

"Kenapa kau berbanding terbalik, Himawari san? Dulu kau sensitif sekali dengan usaha bunuh diriku, sekarang, kau malah mendukungku, dan justru ingin mati bersamaku. Ada apa ini, zaman telah membuka matamu heh?" Aku memandangnya kesamping dan mendapatinya sedang merebus air dan memasukan santan di dalam panci. Tanpa melihat wajahnya yang tertutup surai lebatnya.

"Oh, begitu... mungkin perkataanmu ada benarnya. Aku hanya kagum dengan usahamu sampai sekarang, dan aku ingin meminta kata kata yang ku titipkan kepadamu waktu itu" katanya pelan sambil mencampurkan gula.

Aku menoleh khas kepadanya, "seingatku aku tidak ada meminjam atau meniru kata katamu, memangnya ini meminjam barang lama ya?"

"Bukan itu Dazai san.." ia mematikan kompor yang mendidihkan air berwarna di atasnya itu dan mengambil kain di meja lain dengan mengarahkan mata indahnya menembus hazel kepunyaanku

"Aku berterimakasih karna kau telah bersabar menunggu Reason Livingmu"

Aku tersontak. Entah apa yang bisa membuatku begitu, yang pasti wajahku berekspresi lain dan pipiku memanas

"He hei, aku tidak pernah menunggu siapapun didunia ini. Aku hanya menunggu malaikat maut menjemputku. Dan berterimasih juga padamu yang telah membuatkanku bubur itu" ucapku di selingi selingan dan tangan kananku yang menggapai meja makan kecil di tengah ruangan.

"Enak saja, aku membuatkan ini untukku seorang. Lagipula, malaikat mautmu sudah lama datang, tapi kau tak mau menyerahkan nyawamu secepat itu padanya, aku tau itu Dazai san" ia menoleh datar padaku setelah memindahkan isi panci itu ke mangkok di dekatnya. Lalu mendekatiku yang sudah duduk di bersilang di bawah meja sambil bermuka masam,

Siapapun pasti akan mengira jika seorang wanita yang memasak pasti akan di bagi dua untuk lainnya. Tapi, kenapa ia bisa berbeda.

Dan aku semakin tertarik.

Sontak aku teringat dengan kata katanya tadi, "apa maksud kata katamu tadi?"

Ia memandangku dengan sendok yang mengarah ke mulutnya, "hm? Kau tidak boleh memakan ini, kalau mau buat sendiri"

Aku menggeleng lemah, memang benar, ia menyebalkan "bukan itu. Apa maksudmu dengan malaikat mautmu sudah lama datang, tapi kau tak mau menyerahkan nyawamu secepat itu padanya, apa itu?"

Hap...

"PHAANASSS!!!"

Ia langsung memekik keras seketika melemparkan segala yang ada di tangannya begitu satu suapan bubur itu masuk ke dalam mulutnya. Berkali kali ia membuka-mengambil nafas dari mulutnya berharap rasa panas itu segera hilang.

Aku yang bimbang harus melakukan apa, memberikannya ia segelas air yang kuambil dari kulkas barusan. Begitu terhidang di depannya, seperti tidak ada seorangpun, ia melahapnya hampir sepertiga gelas. Sisanya tumpah di bajunya.

"Kau ini anehnya. Apa semua orang keluarga Edogawa itu seperti ini?"

Begitu mendengarnya, matanya langsung membulat dan menghentak meja seketika. Aku sedikit terkejut di buatnya

"Tidak! Itu hanya karna buburnya yang kepanasan bukan tingkahku yang seperti anak anak! Membosankan! Memakan makanan dingin itu lebih tak enak di saat seperti ini! Menyebalkan! Tidakkah di sini ada pemanas!!...nhenye.."

Aku terdiam dengan ekspresiku yang sweetdrop.

Dia mirip sekali dengan Ranpo san!!!!

Normal POV

Hima kembali bertegak kepala sesaat setelah ia memarahi Dazai di seberang meja makan. Sendok yang awalnya di tangannya pergi kemana mana setelah keterkejutannya.

Dazai membuang nafasnya pelan, lalu memijit dahinya pelan.

"Heee, jadi apa maksud pernyataanmu tadi?" Lanjutnya, lirik mata hazelnya mengikuti wajah wanita di depannya yang belum berubah dari ekspresi lucunya

"Yang mana?"

"Tentang malaikat maut"

"Goblin kah? Tak ku sangka kau penyuka K-drama, Dazai san"

"Bukan! Yang tadi itu, perlukah aku mengulanginya dua kali?"

"...Silahkan, aku lupa dengan kata kataku seorang"

Dazai bertambah murung setelah kata itu terdengar di telinganya. Hal yang baru di ucapkan beberapa menit lalu saja bisa ia lupakan dengan mudah, apalagi kata kata yang ia lontarkan 10 tahun lalu.

Hima beranjak mengambil sendok baru dari lemari, dan duduk kembali menyantap bubur kacang hijau hangat dengan hati hati.

"Mmm, oh yang itu. Begini,..."

Hima menatap Dazai, tapi lawan bicara yang bahkan ia sendiri yang bertanya itu malah mengacuhkannya dengan jam dinding di belakangnya

"Ano Dazai san! Kau mendengarkan atau tidak?!"

Dazai Osamu segera berbalik badan dan melihat tingkah Hima yang membuatnya tersenyum. Balik, Hima berbalik membalas senyum itu.

"Tentu, Hima chan"

"...Sejak kapan Dazai san berusaha untuk membunuh diri seorang? Dan kutebak, itu dimulai dari umur di bawah 10 tahun"

Dazai mengangguk dengan wajah yang imut.

"Jika Dazai san mau, sebenarnya bisa melakukan bunuh diri dengan mudah, betul?" Kini, Hima yang menatap serius Dazai. Seperti Ranpo menatap musuhnya

"Yah, kau benar juga. Tapi aku juga ingin hidup, dengan berjalan bersama waktu mencari alasanku untuk hidup" Dazai mengatakan itu dengan lemah di akhir kalimat, sambil membenarkan ujung lengannya.

"Nah, itu maksudku"

Dazai mendongak, melihat perempuan seumurannya yang mulai berdiri sambil mengangkat sendoknya mengarah tepat ke wajah Dazai.

"Kalau memang itu tujuanmu, aku dengan senang hati akan membantumu, Dazai Osamu sensei!"

Btw, author bukan penyuka k-drama. Tapi author punya teman yang suka bercerita tentang Korea, apalagi Goblin.. heheh

Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.

すべてを読んでくれてありがとう

Subete o yonde kurete arigatō

(Terimakasih sudah membaca semuanya)