Wednesday 'WetKrisDay'

YiVanWu

Warning for this chapter: OOC

Ps: Saya pakai top dan bottom/bot sebagai pengganti sebutan seme dan uke di sini, karena seme & uke hanya dipakai oleh para fans, sementara di dunia nyata orang-orang (termasuk kaum gay sendiri) menyebut dengan top dan bottom/bot :D

Ps2: Hal-hal yang mau saya bicarakan, termasuk balasan review kalian, ada di chapter selanjutnya ya. Happy reading!


"Apa penampilanku sudah bagus?"

Mendengar pertanyaan si pemuda bermata panda, seorang lelaki bertulang pipi tinggi yang duduk di pinggir kasur itu menghela napasnya. "Sudah empat kali kamu tanyakan itu, Zitao. Dan sudah empat kali juga kubilang, kau memesona."

"Tapi-"

"-kaurasa kaus putih itu terlalu sempit, jeans warna merah itu tidak cocok dengan imejmu, dan sepatu ketsmu membuatmu terlihat seperti anak kecil. Kamu juga sudah mengatakan itu tadi. Empat kali."

Pemuda bermata Panda yang bernama Zitao itu cemberut. Kedua pipinya digembungkan, matanya yang tajam menatap kesal ke arah lelaki yang satu lagi, yang sedari tadi banyak omong (menurutnya)-Kim Jongdae.

"Kalian sudah selesai berdebat?" kali ini yang membuka mulut adalah seorang lelaki mungil yang berdiri di ambang pintu. Nada bicaranya terdengar bosan, pakaiannya pun hanya seadanya-kemeja lengan pendek dan celana jeans-bertolak belakang dari pakaian kedua lelaki lainnya yang nampak eksentrik. Zitao memakai kaus putih sempit yang memamerkan otot dada dan bisepnya diikuti dengan jeans merah yang membuatnya makin nampak seperti lelaki metroseksual, sementara Jongdae mengenakan pakaian ala pesta: tuxedo hitam tanpa dasi dan sepatu pantofel yang berwarna senada.

"Oh, tidak perlu buru-buru, Kyungsoo," Jongdae tersenyum pada si lelaki mungil, "Klubnya baru akan buka dua jam lagi."

"Tidak!" Zitao mengelak, "Kita harus pergi sekarang, Jongdae-ge! Kita harus tiba paling awal supaya aku bisa mendapatkan host nomor satu itu. Kau bilang, dia selalu sibuk dan selalu habis dipesan dalam hitungan detik setelah klub dibuka."

Jongdae memutar matanya malas, "Dan apa pun yang terjadi, kamu ingin memesannya hari ini, memberikan keperjakaanmu pada si host nomor satu, makanya kamu nggak boleh telat?"

"... ew." Kyungsoo menimpali. Kedua matanya menyipit ke arah Zitao, memberikan ekspresi judging yang tersirat. Sungguh, meski penampilan luarnya seperti anak kecil atau boneka yang menggemaskan, Kyungsoo memang terkenal sebagai si psikopat terselubung. Sifatnya bertolak belakang dari penampilannya yang manis, kau tahu.

"Kau juga harus datang ke sana, Soo. Ada host yang tampan sekali. Seorang top yang sempurna!" Kedua mata Zitao berbinar. "Dia host nomor satu di Scappatella!"

"Tidak, terima kasih. Aku hanya mengantar kalian para mahasiswa miskin yang nggak punya mobil," seakan tujuannya belum jelas, lelaki bernama lengkap Do Kyungsoo itu menunjukkan kunci mobil yang tergantung di jari telunjuk kanannya kepada dua temannya yang lain. "Dan, biar kuralat sedikit-meski penampilanku tidak terlihat seperti itu, aku ini top. Aku nggak tertarik sama pangeranmu."

"Tapi di sana juga ada host bottom yang imut-imut."

Kyungsoo menghela napas panjang. "Zitao , aku tidak tahu ternyata kamu semaniak ini. Awalnya kupikir Huang Zitao mahasiswa Cina dari fakultas Seni adalah seorang yang kalem dan lugu. Kau pasti jadi begini karena salah pergaulan."

Kalimat terakhirnya Kyungsoo itu memang tidak eksplisit, namun Jongdae tahu bahwa itu adalah hinaan yang ditujukan untuknya. "Hei Kyungie, jangan melihatku sekasar itu! Aku hanya mengajaknya main ke karaoke-sebagai teman sekamar yang baik, kau tahu-lalu kusuruh dia pulang saat aku mau ke Scappatella, tapi ternyata dia keasyikan bermain denganku dan mengikutiku sampai Scappatella."

Zitao mengangguk setuju, namun ekspresinya sama sekali tidak terlihat bahwa dia merasa malu. Justru, dia semakin bersemangat. "Kemarin aku hanya minum-minum sambil mengagumi si host nomor satu, tapi malam ini aku akan tidur dengannya! Aku tidak akan hanya minum saja!"

Kyungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, keluar dari kamar itu dan menuju mobil yang diparkir di luar gedung asrama.

Perkenalkan, tiga orang mahasiswa haus belaian-kecuali Kyungsoo, nampaknya-yang menjadi pembuka cerita kita kali ini. Huang Zitao, mahasiswa tingkat satu, penerima beasiswa asal Cina yang menekuni jurusan seni tari dan musik. Karena belajar di negara asing, ia tinggal di asrama kampus akibat tidak punya tempat tinggal. Teman sekamar Zitao yaitu Kim Jongdae, mahasiswa jurusan seni tari dan musik, tingkat dua. Jongdae merupakan seorang yang terkenal seantero kampus akibat nilainya yang selalu sempurna, dan juga tingkah lakunya yang friendly. Salah satu cacatnya, tentu saja, adalah pergaulannya yang terlalu bebas. Selain mereka berdua juga ada Do Kyungsoo yang tidak kalah pentingnya. Teman sekelas Zitao, dan malangnya (menurutnya), ia kenal baik dengan Jongdae yang sudah beberapa kali menjadi rivalnya dalam pentas bernyanyi. Malangnya lagi, Kyungsoo yang mirip dengan Pororo ini tinggal di rumahnya sendiri, jadi Jongdae sering meminta bantuannya untuk meminjam macam-macam seperti mobil-dengan dalih bahwa Zitao-lah yang membutuhkan bantuan Kyungsoo. Tentu saja, Kyungsoo tidak bisa menolak keinginan si Panda Imut dari Cina.

Seperti saat ini, Rabu malam, yang dilakukannya adalah memberikan tumpangan mobil kepada Zitao dan Jongdae. Meski mengeluh sepanjang perjalanan (Jongdae menodai kepolosan Zitao, katanya), Kyungsoo tetap membawa kedua temannya itu sampai tujuan. Mobil hitamnya diparkir di depan sebuah gedung putih yang indah dan berkelas. Tulisan Scappatella terpajang indah di atas pintu kaca yang mengkilap.

Meski Kyungsoo termasuk orang yang tidak terlibat di dalam rencana menjijikkan kedua lelaki yang lain, ia tahu jelas apa Scappatella itu. Tinggal sebagai kaum gay di kota sebesar Seoul tidak mungkin tidak membuatnya mengenal Scappatella. Scappatella Gay Club, sebuah gay host club berkualitas. Buka setiap malam. Tamu yang datang bisa meminta para pekerja untuk menemaninya minum-minum, menyewa para pekerja untuk mendengar curahan hatinya, dan mereka akan menjadi pendengar yang baik serta menyelesaikan masalah sang tamu. Tamu yang datang juga bisa menyewa para lelaki berparas tampan itu ke dalam bilik yang sudah dipersiapkan, memuaskan hasrat seksual mereka. Scappatella Club memberi para kaum gay di Seoul sebuah kepuasan dan istirahat dari dunia nyata yang melelahkan.

Kyungsoo hanya tahu sebatas itu, dan ia cukup terkejut saat Jongdae membuka pintu klub tersebut dan melihat sudah ada lima orang yang duduk di lobi. Kyungsoo tidak tahu bahwa klub seperti ini sudah buka di sore hari.

"Sekarang masih pukul enam, kan? Kenapa sudah banyak sekali yang menunggu?" seakan dapat membaca pikiran Kyungsoo, Zitao membuka suaranya. Dari nadanya, ia juga sama bingungnya seperti Kyungsoo. Jongdae yang nampak sudah sering main ke sini pun hanya bisa mengangkat bahu. Ia baru benar-benar membuka mulut saat seorang lelaki tinggi terlihat menghampirinya.

"Hei, Chanyeol! Apa kabar?"

Si lelaki tinggi tersenyum melihatnya. Dilihat dari busananya, tuxedo hijau berdasi dan penampilan yang rapi menyilaukan, ia nampak seperti host di klub itu. Di saku kirinya pun tergantung sebuah nametag berlogo Scappatella Host Club. Lelaki tinggi bertelinga besar itu menepuk pundak Jongdae, "Yo, Chenchen! Kabar baik, kau datang cepat hari ini!"

Kyungsoo mengernyit, "Chenchen?"

"Chen, tepatnya." Zitao menjawab kebingungan Kyungsoo dengan suara pelan. "Itu nama samaran Jongdae di tempat ini. Tentunya kamu tidak mau ketahuan menyewa pelacur dengan identitas aslimu, kan, Soo?"

"Jadi kau juga punya nama samaran?"

Zitao tersenyum lebar, "Iya, aku Tao. Kamu juga mau daftar, Kyungsoo? Aku bisa kasih saran untuk nama samaranmu! Bagaimana kalau... Dio?"

"Tidak, aku mau pulang."

Zitao cemberut imut. Akibatnya, Kyungsoo sukses batal keluar dari gedung itu. Jongdae hanya terkekeh melihat mereka berdua, dan menuntun kedua temannya itu untuk duduk di sofa bermeja melingkar di pojokan lobi. Ia lalu kembali bicara pada Chanyeol yang sudah ia kenal baik.

"Hei, Chanyeol. Klub belum buka, tapi kenapa sudah ramai-"

"APA KAU BILANG, KRIS SUDAH DIPESAN!?"

Jongdae terdiam. Begitu pun Zitao dan Kyungsoo. Mata mereka tertuju ke arah suara berasal-meja resepsionis. Terlihat di sana lelaki berambut pirang dengan kemeja putih panjang dan celana panjang serta tas yang ditenteng, gayanya seperti orang kantoran. Wajah lelaki itu amat cantik, Zitao dan Kyungsoo bisa salah mengiranya sebagai perempuan apabila mereka tidak ingat bahwa tempat ini adalah gay club-tapi tunggu sebentar, si cantik ini nampak marah besar. Dia tidak henti-hentinya menggebrak meja resepsionis. Giginya pun gemeretak.

"Iya, maaf, Luhan." Di hadapan si cantik, lelaki berkulit gelap yang berdiri santai di balik meja resepsionis menjawab. "Pelanggan bernama Baekhyun sudah memesannya sejak seminggu yang lalu."

Si lelaki berwajah cantik yang bernama Luhan itu semakin geram, "Apa-apaan...!? Aku sudah lima bulan di sini dan nggak pernah dengar bahwa pelanggan boleh memesan host sebelum klub dibuka!"

"Dia membayar lebih dari satu juta, secara langsung, cash."

"Persetan! Aku akan bayar lima juta sekarang, lalu buatlah aku jadi yang pertama menyentuhnya malam ini!"

"Tidak bisa, kami sudah janji pada Baekhyun. Kris juga sudah siap melayani Baekhyun. Maaf, Luhan, Anda bisa memesan lagi nanti setelah Baekhyun selesai."

Dan saat itulah puncak kemarahan Luhan. Ia berteriak kesal seakan melampiaskan semua kekesalannya dalam satu kata "agh" panjang, menendang bagian bawah meja resepsionis, lalu kembali ke salah satu sofa di pojokan lobi dengan langkah yang keras. Ia menduduki dirinya di sofa, dan setelah itu pun ia masih menggumam kesal, wajah cantiknya terlihat lelah dan menyeramkan. Kyungsoo, Zitao, dan Jongdae yang duduk di seberangnya agak khawatir. Tidak ada yang membuka mulut di antara mereka bertiga karena masih shock melihat adegan mengejutkan itu. Justru Chanyeol yang membuka pembicaraan di antara mereka.

"Kasihan. Padahal selama ini dia selalu bolos kerja setiap Rabu ketiga untuk menyewa Kris. Apa boleh buat sih, owner kan lemah dengan uang. Dan tentu saja sangat lemah terhadap uang yang diberikan Tuan Baekhyun untuk menyewa Kris."

"Maaf... sebenarnya ada apa? Orang itu juga mau memesan Kris?"

Chanyeol mengangguk mendengar pertanyaan Zitao. "Iya, tentu saja. Semua orang di sini, termasuk kalian, ingin memesan Kris."

"Maksudmu, lima orang itu, semuanya ingin Kris?" Kyungsoo membulatkan kedua matanya-yang memang sudah dari sananya bulat, omong-omong-dan berkata dengan berbisik supaya tidak ketahuan Luhan yang duduk di seberang mereka. "Benar-benar host terbaik, ya, Kris itu?"

Sementara itu, Zitao justru panik. "Tunggu dulu, kenapa bisa begitu? Padahal aku pilih hari Rabu karena seharusnya hari Rabu itu kan sepi! Ya kan Jongdae-ge?"

Jongdae mengangguk, "Benar... bukankah klub seperti ini biasanya ramai di hari Jumat, Sabtu, dan Senin, Chanyeol? Hari di mana semua orang merasa letih dengan rutinitas mereka dan ingin bersenang-senang?"

"Oh... kamu tidak tahu ya?" Chanyeol menatap Zitao dengan alis mengernyit. "Pantas saja, Jongdae juga jarang ke sini pada weekday, kan. Kuberi tahu saja, ya, ehhh, namamu..."

"Tao."

"Tuan Tao," Chanyeol mengangguk, mengingat-ingat nama itu. "Kalau kamu mau diperawani Kris, sebaiknya jangan sekarang. Kamu hanya akan mengganggu Rabu kami."

Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya, merasa kesal. "Kalian mengusir tamu?"

"Dengarkan saja dia. Daripada imajinasimu tentang Kris jadi rusak, lebih baik pergi sekarang."

Tanpa mereka sadari, seorang lelaki berwajah ramah sudah berdiri di belakang sofa mereka. Terlebih, orang asing itu justru menyuruh mereka bertiga untuk pergi sekarang? Zitao tersinggung, tahu.

"Siapa kamu?"

"Aku Yi-uhuk. Bukan, maaf, panggil saja aku Lay," jawab si pemuda berwajah ramah, diikuti dengan cekikikan Chanyeol karena pemuda itu hampir saja menyebut nama aslinya sendiri. "Biar kuberi tahu, hari ini adalah hari spesial. Namanya Wednesday WetKrisDay."

"Apa itu? Sangat kinky," Kyungsoo menggumam pelan sebelum Lay melanjutkan,

"Ini hari pengrusakan wibawa si host nomor satu, Kris Wu. Si tampan itu, yang berpenampilan layaknya top sejati dan lihai di ranjang bagaikan Sex God, hari ini akan dipermalukan. Kalian akan melihatnya meminta, memohon, menangis, merengek, menungging, dan, uh, mengangkang! Kalian tahu apa maksudnya, kan...!?"

Tidak ada yang menjawab, ketiganya menunggu penjelasan Lay lebih lanjut.

"Kris Wu akan menjadi bottom hari ini!"

Dan hanya pada saat itulah ketiganya membuka mulut, mengatakan satu jeritan yang sinkron: "APA!?"

"TIDAK MUNGKIN! KRIS YANG SEPERTI ITU-" Zitao semakin panik. Pitch suaranya meningkat satu oktaf lebih tinggi.

"Yang Tuan Lay katakan memang benar, Chen, Tao." Chanyeol hanya tersenyum sambil mencicipi kopi hangat yang tadinya ia hidangkan untuk Jongdae. "Itu sudah seperti adat di klub ini, bonus yang diadakan oleh owner setiap Rabu ketiga tiap bulan, sebagai tanda terima kasih untuk para pelanggan. Rabu yang kami sebut Wednesday WetKrisDay ini amat spesial. Setiap Rabu spesial itu, Kris Wu si host nomor satu dan top ideal itu menjadi seorang bottom. Ia dilarang berlaku seperti top di hari ini. Makanya, tadi kusarankan kalian pulang kalau tidak mau melihat image Kris yang rusak."

Chanyeol memberi jeda, namun ketiga tamunya ini sepertinya belum punya niat untuk merespon perkataannya. Mereka masih tampak shock, sehingga Chanyeol pun melanjutkan, "Oh iya, semua orang yang sudah menunggu disini ingin memesan Kris, artinya mereka ingin menjadi top untuk Kris. Lihat Luhan tadi? Dia termasuk pelanggan setia Kris di Rabu ini. Wajahnya cantik seperti perempuan, tapi nyatanya dia jantan. Makanya dia suka meniduri Kris karena itu membuatnya merasa jadi lelaki sejati. Dia seorang CEO perusahaan terkenal, dan setiap hari Rabu ketiga ia rela bolos kerja demi menjadi yang pertama menyentuh Kris di Rabu spesial ini. Dia sudah berhasil empat kali, sayang sekali hari ini dia harus mengalah pada Tuan Baekhyun."

"Chanyeol!" Lay memotong ucapannya. "Kau salah, tidak semua yang datang hari ini ingin meniduri Kris. Aku tidak datang ke sini karena ingin memesan Kris! Huh... tidak mungkin aku mau memesannya! Huh... dia itu... dia itu seorang top! Dia bukan bottom. Tidak mungkin aku mau... grrr..."

Chanyeol menyeringai, "Oh, benarkah? Tapi kau hampir setiap hari datang ke sini, dan satu-satunya host yang kau pesan sejak kau datang kemari adalah Kris. Kamu yakin tidak mau memesannya hari ini?"

Tiba-tiba wajah Lay memerah malu, emosinya pun meledak. "YAKH! sudah kubilang aku tidak mau, kan! Aku nggak suka Kris! Camkan itu!" Setelah itu dia pun pergi meninggalkan mereka berempat dengan langkah tergesa-gesa. Sesekali ia tersandung kakinya sendiri, membuktikan bahwa dirinya sedang tidak fokus. Dan itu membuat Chanyeol ber-tsk ria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ckck. Ada saja bot sejati seperti dia yang sangat mengidolakan Kris dan masih menyangkal keberadaan hari ini," Setelah menghela napas, ia kembali menghadap ketiga tamunya yang masih shock. "Nah, bagaimana, Tao, Chenchen? Kalau tidak cepat pulang, nanti kalian akan jadi seperti Lay, lho. Menyangkal kenyataan."

Jongdae menghela napas, wajahnya nampak bingung. "... uhh... bagaimana, Tao?"

Zitao yang ditanya pun tidak kalah bingungnya. Sekilas ekspresi kaget juga masih tersisa di wajah imut itu. Ia terlihat pucat. Perlu beberapa detik baginya untuk menjawab Jongdae. "... sungguh... ini mengejutkan. Beri aku waktu..."

Chanyeol mengangguk, "Aku mengerti. Memang sulit menerimanya waktu pertama kali tahu. Aku ambilkan minum dulu, ya."

Chanyeol pun bangkit dan berjalan ke ruang khusus pegawai untuk mengambilkan ketiga tamunya minuman. Selama ditinggal, ketiga orang ini masih tetap diam. Zitao masih pucat, ia diam saja seperti tidak bernyawa. Jongdae berkali-kali menghela napas, antara kaget dan merasa bersalah terhadap teman sekamarnya yang lugu. Sementara Kyungsoo, yang memang tidak terlibat, hanya memerhatikan mereka berdua sembari menepuk-nepuk pundak Zitao. Tangan kirinya sudah memegang kunci mobil, seakan sudah siap untuk menemani kedua temannya ini pulang secepat mungkin.

Kesunyian di lobi terpecah ketika pintu ruang pegawai terbuka dan suara berat terdengar kalem, "Kai, orangnya belum datang?"

Dari dalam ruang pegawai itu muncul seorang pria tinggi. Rambutnya pirang agak berantakan, pundaknya tegap, dadanya bidang, kedua kakinya pun panjang. Jangan lupakan wajahnya yang memesona-tatapan mata tajam, bulu mata panjang, alis tebal, hidung mancung, dan bibir yang penuh. Fisiknya sudah bisa disebut mumpuni, ditambah lagi dengan pakaiannya-jas abu-abu yang tidak terkancing menampilkan kemeja putihnya dan celana panjang hitam yang rapi. Ia terlihat jantan. Seksi.

Nametag di saku kiri jasnya bertuliskan 'Kris'.

Host nomor satu itu berjalan menyeberangi lobi, dari ruang staf yang terletak di dekat pintu masuk hingga ke meja resepsionis yang berada agak ke dalam. Selama ia berjalan, waktu terasa berhenti. Semuanya hening. Yang terdengar hanyalah bunyi sol sepatu hitamnya setiap Kris menapak. Bunyi musik yang diputar di lobi pun seperti tidak terdengar. Semua orang menatapnya, semua mata tidak pernah terlepas dari sosok pria itu. Dia bercahaya. Semua orang teracuni oleh keberadaannya.

Bahkan si pemuda yang berdiri di balik meja resepsionis harus menahan napas dulu saat si host nomor satu itu sudah berada di depannya, menunggu jawaban darinya. "ah... k, kau sudah siap, Kris...? Baekhyun belum terlihat."

Kris mengacak rambutnya, agak frustrasi. Rambutnya yang berantakan justru membuatnya makin terlihat seksi. "Ah, padahal tinggal lima belas menit lagi klub dibuka. Merepotkan saja."

"Kalau dia belum datang sampai pukul tujuh tepat, aku yang akan memesanmu, Kris!"

Suara menggelegar itu, tentu saja suara Luhan. Sepertinya dialah orang pertama yang berhasil melepaskan diri dari kemampuan 'membekukan orang' yang dimiliki oleh pesona Kris.

Kris membalas Luhan dengan senyum, membuat CEO muda itu makin antusias. "Tidak bisa, itu tidak adil. Bersiap saja antre lima belas menit lagi, Tuan Luhan."

Luhan kembali memojokkan diri di sofanya, cemberut. Kris tertawa pelan melihat tingkat pelanggan setianya tersebut, lalu matanya memerhatikan para tamu di lobi. Di sana ada Luhan, tentu saja, ini kali kelimanya dia datang di Rabu spesial ini. Di dekat pintu ada Lay yang menatapnya dengan mulut menganga, namun langsung membuang muka dengan wajah yang memerah ketika Kris memberikannya senyum. Di depan pintu masuk ada seorang anak berseragam SMA yang sedang menaruh ranselnya di sofa-sepertinya dia baru datang-dan wajah nakal anak itu memberikan seringai lapar kepada Kris. Pindah ke pojok lobi yang satunya, Kris melihat tiga lelaki manis-Zitao, Jongdae, dan Kyungsoo-yang tampak pucat dan gloomy.

"Kalian sakit? Mau kuambilkan minum?"

Ketiganya tampak tersentak dan juga malu ketika disapa oleh Kris. Hanya Kyungsoo yang terlihat antusias. Dia berdiri, menatap Kris tepat di matanya. "Tidak, terima kasih. Chanyeol sudah mengambilkannya untuk kami."

"Oh... syukurlah," Kris tersenyum, membuat Jongdae dan Zitao makin fanboying. "Kai, aku ke belakang sebentar. Beri tahu aku kalau Master-ku sudah datang."

Host nomor satu dengan kharisma penuh itu lalu kembali berjalan menyeberangi lobi hingga ke ruang staf. Seperti ketika ia masuk tadi, semua orang hanya bisa diam menatap Kris. Zitao, Jongdae, dan Lay sibuk mengaguminya. Luhan, petugas resepsionis, si anak SMA, dan Kyungsoo-Kyungsoo?-menatapnya penuh nafsu. Beberapa tamu lainnya bahkan sudah ada yang mendesah, berfantasi mengenai Kris.

Ketika Kris sudah menghilang dari pandangan, dan yang muncul dari ruang pegawai justru adalah Chanyeol yang membawa nampan berisi empat cangkir, semua orang melemaskan bahunya dan mulai bisa bicara dengan benar kembali.

"Apa cuma perasaanku saja, ya...?" Jongdae bergumam pelan, "Tadi Kris Wu tampak cemas. Senyumnya tidak mengembang seperti biasanya."

Zitao mengangguk, "Aku juga bisa lihat. Dia seperti... takut."

"Tentu saja dia takut-Ah, silakan airnya," Chanyeol menghampiri mereka dan menghidangkan satu per satu cangkir yang ia letakkan di atas meja bundar di tengah-tengah mereka, lalu melanjutkan, "Tentu saja dia takut, siksaan apa lagi yang harus ia alami sekarang? Diikat, dicambuk, kena lilin, listrik, sudah pernah ia rasakan sebelumnya. Pelanggan yang memakainya biasanya ganas, mereka memanfaatkan kondisi Kris yang jarang menjadi bot dengan cara membuatnya benar-benar terlihat submisif dan tanpa perlawanan. Lay tidak berlebihan waktu dia bilang bahwa kalian bisa melihat Kris merengek dan... menangis."

Suara Chanyeol terdengar agak marah pada kalimat terakhirnya. Kepalanya menunduk. Ekspresinya yang sedari tadi penuh dengan senyuman lebar pun menghilang, diganti oleh ekspresi kesal. Ketiga tamunya langsung menyadari bahwa Rabu spesial ini tidak terlalu menyenangkan untuk para host.

"Memangnya bos kalian tidak marah?" Jongdae bertanya.

Chanyeol mendengus, lalu tersenyum kecut. "Kalian naif. Tentu saja tidak. Ini kan bonus. Asal ada uang, owner rela bawahannya disiksa."

Zitao menarik napas, "Sepertinya kita datang di saat yang salah..."

Jongdae mengangguk pelan. "Iya... mau pulang saja? Kyung, antarkan kami-"

"Lelaki pirang tadi itu Kris?"

"Eh?"

Semua diam. Tidak ada yang menyangka bahwa Kyungsoo, yang sedari tadi tidak tertarik, menanyakan tentang Kris.

"Yang menawarkan minum pada kita tadi, itu Kris?" Kyungsoo memperjelas kembali, wajahnya nampak serius.

"Iya benar, itu Kris. Yang tadinya mau dijadikan pencuri keperawanan Zitao." Jawab Jongdae, yang diikuti dengan dengusan kesal Zitao.

"Dia yang kau maksud top sempurna? ..." Kyungsoo diam sebentar, lalu menyeringai seram. "Kalau yang itu, sih, aku suka. Count me in."