"Dazai sensei, bagaimana bisa tau kalau aku mempunyai dua kemampuan itu? Padahal kita belum lama saling mengenal"
Di bahu lebar pria itu, sang wanita berkata dengan selalu berakhir hembusan nafas yang dingin. Meski begitu, pria maniak itu sama sekali tak memperdulikannya selama ia dan wanita yang di ambingnya sekarang merasakan sedikit hangat dengan syal yang melilit mereka berdua. Syal hangat berwarna merah yang pernah di jahitkan oleh Yosano sensei untuk Hima.
Di tepi jembatan besar, tempat khusus pejalan kaki, pria dengan mantel tebal berwarna coklat berjalan sedikit sempoyongan membawa perempuan mungil di belakang punggungnya. Sama dengan sang wanita, setiap nafas yang dikeluarkannya selalu berakhir hembusan dingin.
"Aku hanya menganalisa. Sejak pertama kali bertemu denganmu, saat malam itu aku tau kau bisa menembus tong sampah sebagai tempat dudukmu dengan mudah. Lalu kekacauan di toko tadi pagi sudah membuktikan segalanya." tutur Dazai ringan. Nafasnya yang berhembus dingin seakan menggambarkan betapa dinginnya malam ini. Tanpa ia sadari, sang wanita di belakangnya tersenyum terkekeh.
"Hehehe, maaf ya Dazai sensei. Tapi berkat rekomendasimu tadi, aku bisa makan doubutsu doonatsu tadi. Walaupun tak ada bentuk panda tadi" diakhir kata, Hima menuturkan itu dengan pelan dan mengarah langsung ke leher belakang Dazai Osamu. Menyadari daerah sensitifnya di ganggu, Dazai langsung bergejolak geli
"Hima, hentikan itu kau membuatku hampir kehilangan keseimbangan. Sudahlah jembatan ini sepi di kunjungi warga, terlebih larut malam begini. Kalau terjadi apa apa pada kita berdua, aku saja mungkin bingung akan melakukan apa" dengan wajah cemberut sambil mengerucutkan bibirnya Dazai berkata seperti itu setelah melihat keadaan sekitar yang memang sepi di lalui kendaraan ataupun warga sekitar. Pantas saja, jam 3 seperti ini, jembatan di Yokohama ini menjadi sepi penglalu lalang.
Hima hanya terkekeh kembali sambil tertawa renyah, "kalau begitu maafkan aku karna telah merepotkanmu Dazai sensei.."
Dazai mempercepat langkahnya
"...aku memang bodoh karna tak memakai sepatu padahal cuaca sedang dingin dinginnya sekarang. Akibatnya lihatlah, aku menyusahkan senseiku sendiri dan aku sangat kedinginan..."
Lama kelamaan, tubuh Hima bergetar karna efek larian Dazai yang membuat tubuhnya merasa tak nyaman. Sementara tangan Dazai yang begitu kelu masih tetap berusaha untuk terus menjaga agar perempuan tanggung jawabnya ini tak jatuh. Ia semakin berlari kencang.
"Lho, tidak ada yang mengejar kita Dazai sensei. Kenapa dengan Dazai sensei yang terus berlari, hatsyuu" seakan tak ada yang memanggil mengajaknya bicara, Dazai tetap diam dengan semakin mempercepat langkahnya. Lama kelamaan, dan bagaimanapun caranya berlari, gerakan larinya mulai melambat dan tampak kehilangan energi yang di pakainya habis selama dua jam lalu.
"Mm, kalau begitu. Aku serahkan semuanya pada Dazai sensei saja ya, tolong ya..." salju turun dengan sedikit lebat kala wanita cantik itu menutup matanya. Lembut sekali seperti buliran salju yang turun di sela sela rerumputan.
Dazai yang sekalipun sudah memprediksi hal ini akan terjadi tetap limbung dan terasa bingung harus melakukan apa. Terjun ke bawah jembatan, dan mengakhiri nyawa bersama wanita yang di gendongnya tidak buruk juga. Tapi permasalahannya bukan itu sekarang. Ia sama sekali belum meminta izin kepadanya terlebih lagi kondisi yang kurang mendukung.
Ditambah lagi, gadis itu pingsan dengan tubuh berkerut dingin.
Entah sengaja atau tidak, Dazai lupa untuk mengantisipasi hal ini dengan membawanya ke tempat hangat atau membalutnya dengan kain yang lebih tebal seperti mantel coklatnya itu. Tapi tetap saja pikiran itu tak terlintas di benaknya. Yang ia pikirkan ialah keadaan wanita di belakangnya dan prediksi tindakan tepatnya kemudian.
"Bertahanlah Hima chan, kita akan buat bubur kacang hijau lagi" tutur Dazai pelan.
Tapi sebelum mengakhiri jalannya di jembatan, sebuah penerangan dari belakang arahnya juga suara yang tak asing bagi lelaki itu membuatnya bertolak kebelakang, dan tersenyum seringai setelah melihat sebuah mobil pribadi hitam berhenti tepat di sampingnya.
Seseorang dengan surai sunset itu berkibar keluar jendela mobil dengan membawa raut wajah kekesalan. Setelah mendapatkan seseorang yang memanggilnya, ia memakirkan mobilnya keluar dari jembatan yang tak jauh dari tempat Dazai dan Hima berdiri. Tak beberapa lama, ia memutuskan untuk keluar dari mobil dengan membawa sebuah payung kecil yang ia sediakan begitu melihat targetnya tak sendirian. Ia mendekat pada Dazai dengan payung yang di pakainya.
"Kau lama Chuuya" ucap Dazai dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya itu. Pria bernama Chuuya itu berdecak sebal, lalu menyenggol bahu Dazai kuat.
"Berkelahinya nanti saja. Cepat bawa gadis ini masuk ke mobil. Bisa mati kedinginan nanti dia" ucap Chuuya dengan kedua tangan terulur untuk membantu Dazai membawa tubuh dingin Hima. Tapi Dazai sendiri melarangnya dengan tetap berjalan
"Jangan, nanti Hima bisa jatuh. Dia lebih tinggi daripada kau, chibi"
Satu pukulan melayang di udara seketika setelah Dazai berjalan menghindari tindakan Chuuya yang termasuk prediksinya. Dengan masih marah, ia merutuk Dazai tanpa henti begitu pria itu yang duluan membuka pintu mobil dengan susahnya lalu memasukan tubuh mungil Himawari ke dalamnya. Tanpa ia yang masih kedinginan di luar, pintu mobil tertutup.
Chuuya yang masih di selimuti emosi itu mendekati pintu mobil tempat mengemudi, dan terhenti sejenak setelah melihat Dazai yang masih tetap di luar, terdiam menunggunya untuk bertanya duluan. Pria bermantel tebal itu mendekat kearah Dazai.
"Kau mau mati kedinginan atau bertingkah sok pahlawan? Cepat masuk, jangan ubah pemikiranku tentang membantu pria tisu toilet ini lenyap" tanpa memerdulikan Dazai Osamu yang terkikik geli, Chuuya membalikkan tubuhnya dan memegang kenop pintu mobil.
"Oh terimakasih kalau begitu. Tapi maaf, aku harus mengubah pemikiranmu dan pergi kesuatu tempat"
Pria berjuluk fancy hat itu menoleh dengan ekspresi jijik. Pintu kecil yang hendak dibukanya itu tertahan dan sanggup untuk membuat pria bertopi mewah ini berbalik. Hanya berbalik badan.
"Biar kutebak, menelponku menyuruhku untuk datang pagi buta seperti ini hanya untuk mengantar seorang gadis yang tertidur merupakan bagian dari prediksi licikmu itu?"
"Dia kritis"
Chuuya terdiam, lalu memandang kaca mobilnya yang menyembunyikan sesosok perempuan yang tergeletak di kursi mobil. Lalu memicingkan matanya ke arah Dazai kembali
"Rumah sakit, atau mansion Agency?"
"Mansion berjarak beberapa distrik lagi dari sini. Kesana langsung memakan waktu yang tak sedikit. Semantara rumah sakit juga tak memungkinkan karna cuaca yang tak mendukung untuk berpergian..." pria bersurai kopi itu memegang dagunya dengan sebelah tangan kanannya.
"Lalu, apa yang..."
"Ini!"
Sekantong plastik sedang di lempar langsung kepada Chuuya dengan ia yang siap menangkap. Dengan penasaran tanpa kekesalannya, ia mengintip isi dari kantok plastik putih tersebut.
"Ada antiseptik, kain hangat, termos air hangat, kompres, aroma terapi, p3k, minyak angin, dan sirup penurun panas di dalamnya. Pakailah itu saat kau merawat Hima di mobil nanti. Dan juga.."
"Nomor siapa ini?" Sekarang giliran Chuuya yang memotong perkataan Dazai. Sedangkan pria itu menggaruk tengkuknya dengan wajah malasnya
"Biarkan aku bicara dulu, chibi. Itu nomor Yosano sensei, dokter berpengalaman di Agency. Jika terjadi sesuatu di luar dugaanmu, hubungi dia dan katakan atas nama Edogawa"
Manik biru navy Chuuya membelalak. Ekspresi ia tadi yang penuh dengan kecurigaan hilang seketika setelah mengenali nama yang barusan di katakan Dazai, partner lamanya dulu. Jari telunjuknya yang berbalut kain hitam tebal menunjuk ragu gadis di dalam mobilnya
"..I, ia..."
"Panjang! Penjelasannya nanti saja. Aku serahkan padamu, Chu-uu-yaa"
Begitu berbalik menatap Dazai lagi, Chuuya tak mendapatkan siluet pria mantan port mafia itu. Ia cepat sekali menghilang bagaikan dapat berteleportasi.
Beberapa saat membeku, mencerna semuanya, Nakahara Chuuya melipat payung kecil yang di bentangkan, dan kembali memasuki mobilnya. Dibukanya pintu paling belakang tempat Hima tertidur kedinginan, kursi pengemudi langsung ia tekukkan dan lipat untuk memberikannya ruang pertolongan pertama pada gadis yang sangat ia kenal itu.
Yap, Edogawa Himawari, teman masa kecilnya bersama Dazai Osamu.
Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.
すべてを読んでくれてありがとう
Subete o yonde kurete arigatō
(Terimakasih sudah membaca semuanya)
