Maaf minna... chap ini berkisar flasbacknya saat pertama kali Dazai melihat Hima dan keseharian Dazai sendiri, juga awal pertemuan Fukuzawa dan Ranpo...
Maaf kalau sedikit mengecewakan tapi author sudah berusaha yang terbaik untuk kalian para penikmat si suicidal maniak kita /dikejarreaders
Yaudah langsung aja..
please enjoy
T
epat 12 tahun lalu, kita akan mengulang waktu, dan menceritakan pengalaman kedua anak yang berpengaruh besar pada agency. Tanpa ada yang tahu, di selimuti dengan keceriaan dan kepercayaan dari mereka, hanya menggunakan mata tak mampu untuk mengungkap masa lalu mereka yang kelam. Penuh dengan kebingungan dan bahkan caci makian. Sendirian tidak tau harus berbuat apa.
Begitulah kedua kakak beradik ini, kakak beradik Edogawa yang sendirian tanpa tempat mengadu. Berteduh dari jatuhan hujan di salah satu sisi gedung menjulang tinggi. Mendekati dinding agar tak mengenai tetesan hujan yang semakin lebat.
Menyedihkan memang. Melihat anak lelaki yang baru berusia 14 tahun melindungi sebisa mungkin adik perempuannya agar tak sepertinya, yang sekujur tubuhnya mulai kedinginan. Ironi, mungkin itu yang kalian pikirkan saat mengetahui alasan mereka. Orang tua mereka meninggal karena dibunuh orang yang mereka tidak ketahui. Diakhir nafas mereka, kedua kakak beradik ini digiring oleh arahan orang tua mereka untuk lari bertahan hidup.
Bersusah payah sang kakak laki lakinya dalam menemukan tempat untuk lari dan aman untuk berteduh. Berhari hari sudah kejadian itu berlalu, mungkin berminggu minggu. Tapi mereka berdua saja belum mendapatkan tempat untuk menaung dan makanan untuk melanjutkan hidup. Kelaparan sudah menjadi hal biasa belakangan ini, membiarkan perut mereka tidak terisi juga salah satu penyebab adiknya kembali sakit. Berkelana dari satu daerah ke daerah lain, seperti sudah menjadi kebiasan kaki mungil mereka untuk terus berjalan.
"Aku lelah, Hima chan. Aku tidak kuat lagi" di tengah hujan deras, di peluknya sang adik yang kedinginan, yang menggigil tiada henti. Matanya tertutup seperti tertidur.
"Tapi aku tak akan meninggalkan kau disini setidaknya hingga kau bangun. Aku tau, kau pasti bangun. Kan aku sudah memelukmu, memberikanmu kehangatanku yang terakhir" matanya terpejam memeluk adiknya kian erat. Faktanya adiknya bukanlah tertidur, wajahnya terlalu jujur untuk menyembunyikan keadaan kritisnya. Namun, Ranpo tak bisa berbuat banyak. Pergi kerumah sakitpun, mereka akan diusir karena fisik dan keadaan ekonominya. Oleh karena itulah, Ranpo berniat untuk menitipkan adiknya pada seseorang yang di percayainya agar dirinya bisa pergi dengan tenang.
Ya, Edogawa Ranpo sudah putus asa dengan hidupnya.
Mendengar bahwa adiknya di karuniai hadiah spesial dari Tuhan, dan sedangkan dirinya tidak mempunyainya, cukup untuk menurunkan kepercayaan dirinya dan pandangan terhadap dunia yang tidak adil ini. Ranpo tidak benci, tidak juga dendam. Mengetahui jika adiknya ialah satu satunya keluarga yang ia miliki, membuatnya harus menanamkan tujuan baru, yaitu memberi kasih dan melindungi adiknya. Mana mungkin kakak seperti itu bisa dendam terhadap saudara sedarahnya.
Edogawa Ranpo pasti bisa. Ia dan adiknya akan selamat jika waktu berpihak padanya. Tapi bukanlah waktu yang berpihak penuh ke padanya, melainkan sebuah keberuntunganlah yang membuatnya terus bersemangat tidak berputus asa memberikan harapan baru.
Manik hijau emeraldnya langsung terbuka saat melihat sekerumun orang mengambil perhatiannya. Ia menoleh menegakkan kepalanya penasaran akan apa yang di tangkap telinga kecilnya.
Ada banyak pria besar berpakaian seragam lengkap, ada juga pria yang memarahi bawahannya dengan keriput di wajahnya, payung payung bermekaran, dan lelaki yang tampak beruban memakai baju hakama hijau teh. Ranpo yang merupakan keturunan dari kedua detektif terkenal dapat dengan musah menganalisis kejadian itu. Dirinya langsung tertegun begitu sekumpulan informasi baru dan penunjang harapan hidupnya ditemukan.
"Bertahanlah sedikit lagi, aku menemukan dokter baru untukmu"
Dengan susah payah di memposisikan adik mungilnya yang tertidur di belakang tubuhnya untuk lebih mudah di bawa nanti. Setelah itu kaki kecilnya berdiri melawan hujan yang kian lebat untuk menemui seseorang harapan barunya di sana. Sedang menangani dengan kesedihan terpancar di matanya.
Beberapa orang ia lewati untuk sampai kesana dan terkadang hampir terjatuh karna hujan ini melumuri jalan. Dan sebuah tangan mungil menarik hakama hijau itu dengan keras hingga yang empunya menoleh kebelakang dengan ekspresi marah. Tapi, amarahnya tertahan kala melihat dua anak kecil yang menatanya terburu buru.
"Maaf jika mengganggu, tapi teman anda adalah seorang dokter. Kumohon, bawa adikku ini kepadanya!" Ranpo mungil yang kesusahan untuk menopang adiknya itu sedikit membungkuk meyakini pria berumur 29 tahun itu dengan sungguh sungguh.
"Akan aku lakukan apapun asalkan kau membawa adikku!" Lanjutnya kemudian.
Yukichi Fukuzawa yang melihat keseriusan di hati bocah mungil di depannya terdiam sejenak dengan ekspresi yang lain lagi. Ia juga sempat bertanya tanya dari mana anak ini tau kalau ia mempunyai teman yang seorang dokter. Kemudian, pikirannya yakin bahwa anak ini punya sangkut pautnya dengan temannya dan mungkin saja dengan gurunya, Natsume Soseki.
Maka, ia pergi sebentar kebelakang, menghampiri seseorang pria berseragam yang tampak mengangguk dengan berbicara padanya lalu kembali lagi menghampiri Ranpo yang masih sedikit membungkuk.
Dirinya, Ranpo tertegun begitu berat di punggungnya sudah berkurang dam terlebih lagi menghilang. Tubuhnya bangkit berdiri tegak, dan matanya terbuka menoleh kebelakang tepat kepada pria dewasa yang membawa perempuan mungil di dekapannya. Wajahnya langsung berubah begitu Fukuzawa mengendongnya. Dirinya yang bukan seorang dokter saja bisa merasakan kalau gadis kecil itu butuh perawatan secepatnya, apalagi temannya nanti saat ia pulang. Dengan sedikit panik, ia membalut Himawari dengan hakama hijaunya yang hangat pada perempuan mungil itu.
"Ayo nak, kita temui kenalanmu" dengan raut wajahnya yang tak berubah, tangan kanan Fukuzawa mengulur kepada Ranpo menggiringnya untuk berjalan berdampingan. Sebelum benar benar pergi ia menoleh sejenak kebelakang dan kembali mengangguk menatap-tutup, mata Fukuzawa dengan mantap.
"Mori sensei, anak ini butuh pertolonganmu secepatnya"
Begitu sampai di rumah Fukuzawa, Ranpo yang begitu tak sabaran masuk duluan dan memanggil nama seseorang-yang tentu saja tak dikenalnya, dengan keras. Fukuzawa masuk dan di sambut oleh perempuan sebaya gadis yang ada di dekapannya ini.
Mata dark purple itu bergeser kepada seorang anak lelaki mungil yang tergesa gesa, lalu pria tinggi di belakangnya dan melirik pada gadis mungil di balutan hakama hijau itu. Ia yang terduduk langsung bangkit berdiri dan mendekati Fukuzawa yang masih terpatung di depan pintu.
"Anak kecil. Perempuan. Ada apa dengannya? Kulitnya sedingin air hujan. Kemari, baringkan ia di ranjang" Fukuzawa menuruti. Ia memindahkan perempuan mungil itu ke atas ranjang dan membiarkan temannya yang bersurai dark itu memeriksanya. Ranpo yang masih penasaran akan di apakan adiknya setelah mengetahui siapa sebenarnya dokter itu, dari awal ia sudah memberitahu dirinya bahwa ia harus hati hati dengan dokter di hadapannya. Ia mendekat ke arah Dokter berjas putih itu tapi di cekat oleh lelaki dewasa yang membawanya kemari.
Fukuzawa berdehem lalu melanjutkan bicaranya, "anak lelaki ini yang membawanya kepadaku. Dia bilang anak itu adalah adik dari Ranpo, anak ini. Saat tau keadaannya seperti itu, aku segera membawa pulang untuk di sembuhkan olehmu"
"Hmm, begitu. Nah selesai" pria bersetelan dokter itu berdiri tegap dan berbalik tubuh menemukan ketiga manusia yang menatapnya heran bersamaan. Mungkin cenderung tidak ke Ranpo.
"Pertolongan pertama sudah kuberikan. Ia sekarang seperti orang yang sedang istirahat karna demam. Tenang saja semuanya lancar" katanya kemudian. Tubuhnya berbalik menghadap dinding yang tak jauh di sampingnya. Lebih tepatnya kepada gadis mungil berbusana merah merah yang berkutat senang dengan pensil warna.
"Elise chan, bisakah kau temani teman barumu ini hingga sadar? Aku akan keluar sejenak, dan tentu akan membawa baju baru untukmu" katanya dengan ekspresi childish di akhir katanya. Gadis kecil blonde itu awalnya mengangguk asal, dan memicing tajam saat mendengar kata terakhir yang di ucapkan lelaki itu.
"Jika imbalannya adalah kue, maka aku akan mempertimbangkannya. Berbeda dengan anak berperban itu jika Rintaro tanya" mulutnya kembali mengerucut dan melanjutkan kembali gambarannya yang sempat terhenti tanpa memperdulikan dua orang lainnya.
Sementara dokter berkepala dua itu mengehela nafasnya dengan raut wajah yang tak berubah. Sebenarnya apa salahnya jika ia yang merawat Elise dari kecil tidak mau mengikutinya atau lebih tepat mematuhinya ketimbang bocah 10 tahun yang belum lama ia temukan. Tapi sebelum pikirannya menjelajah lebih jauh, ia beralih pada gantungan baju dan mengambil mantel hitam kebiruan miliknya lalu mengenakannya. Berjalan sambil memakai pakaian lusuh itu mendekati pintu dan menepuk bahu lelaki dewasa di hadapannya.
"Bukannya kau ada kasus hari ini, Fukuzawa? Aku ada undangan VIP oleh Natsume sensei, kuharap kau tidak iri" Tuturnya sambil tersenyum tipis ke arah teman seperjuangannya yang masih terdiam di dekat ranjang. Tanpa memerdulikan reaksi pria bersurai silver itu, Mori keluar dari rumah klinik kecil itu dan menyapa semua yang ada di dalam ruangan.
"Jaa, itekimasu!"
Semua sempat hening saat pintu berdebum tertutup. Sedetik kemudian Fukuzawa beranjak dari keterdiamannya dan mendekati Ranpo yang sebelumnya telah mengambil pakaian hangat di rak baju. Menyerahkannya pada Ranpo dan mengajaknya keluar rumah.
"Kami pergi Elise. Jangan biarkan seseorang membuka pintu" ia memandang Elise yang masih sibuk dengan dunianya dan ia mengangguk kecil. Fukuzawa kembali membuang nafas kasar dan menutup pintu pelan, tapi sebelumnya gerakannya terhenti oleh seseorang yang menahan tertutupnya pintu itu.
Ia menunduk ke bawah, dan melihat bocah laki laki yang menjadi alasan pintu masih terbuka. Kira kira, ia sebaya dengan adik Ranpo, dan anehnya ia di penuhi oleh lilitan putih perban. Di karenakan hari yang masih hujan rintik, surai coklatnya lembek karna basah begitu pula baju kemeja putihnya tak terkecuali. Di sela tangan kirinya terselip kruk yang menjadi alasan nyata kalau kakinya sedang dalam keaadan parah. Kepalanya yang tadinya tertunduk, mendongak melihat biru metalik sang Yukichi Fukuzawa.
"Konbawa, Fukuzawa san"
Fukuzawa mematung melihatnya. Begitu wajah mungil berbalut perban itu memandang ke arahnya, raut wajahnya yang datar itu sanggup membuat pria tradisonal ini menganga. Di wajah anak itu, darah merah pekat yang masih segar menodai wajahnya bagaikan air hujan yang membasahi pakaiannya. Mengalir dari ujung dahinya hingga sampai ke kerah baju kemajanya.
Sejenak tingkah dan penampilannya bisa menyimpulkan bahwa ia anak biasa yang sehat sehat saja. Tapi begitu kau melihat wajahnya sekarang, kau tidak bisa berkata bahwa ia anak yang normal. Dan Fukuzawa yakin itu adalah darahnya, bukan darah hewan atau sirup merah kental yang tumpah di wajahnya.
Dengan gugup Fukuzawa menjawabnya, "konbawa, Da-..."
Blam
Belum selesai pria yang hampir berkepala tiga itu menyelesaikan kalimatnya, pria kecil berpeluh darah itu membuka pintu lalu menutupnya hingga menimbulkan suara ringan. Fukuzawa memang mengenalnya. Ia anak yang aneh, jarang sekali bersosialisasi dan susah untuk dia ajak bicara, juga penuh dengan misteri. Namun, setiap melihat anak mungil yang selalu murung itu, mampu membuat pria penyuka kucing ini simpati. Setiap kali mata hazel itu memandangnya, ia tak melihat satupun keindahan terpancar di sana. Sama seperti tadi, ia hanya bisa melihat kesedihan dan rasa putus asa. Jangan berharap banyak, kau hanya akan menemukan kata kata itu di mata dan tingkah keseharian bocah pendiam tadi.
Jika di pikir pikir lagi, anak itu di temukan dan di bawa pulang oleh temannya, Mori Ogai saat hari hujan-seperti sekarang, dengan luka di mana mana, beberapa tulang patah di tubuhnya, kondisi yang mengenaskan seperti korban kecelakaan yang di ambang kematian. Jika memang boleh memutar waktu untuk melihat pertama kali Fukuzawa melihat anak itu, maka ia memilih jawaban tidak. Terlalu ironi untuk si ceritakan, apalagi sekarang.
Tidak mengambil pusing dan mengejar waktu yang tertinggal, ia kembali membawa payung dan membukanya. Berjalan kedepan sambil menggandeng tangan mungil Ranpo yang lebih pendek darinya. Sedangkan Ranpo sendiri hanya terdiam.
"Bagaimana dengan adikku? Aku takut Mori san melakukan sesuatu yang tidak tidak" tanya Edogawa Ranpo pada Fukuzawa Yukichi di sampingnya.
"Tenang saja, jika ada Dazai, maka Mori tak kan kemari" jawabnya tanpa menoleh kepada Ranpo. Dan yang mendapat jawaban hanya diam. Ranpo juga sudah tau alasan pria yang tidak di kenalnya ini membawanya ikut pergi.
Ia tak ingin pria kecil ini bernasib sama seperti lelaki kecil dan gadis manis yang tercoreng di dalam sana. Diperlakukan secara aneh oleh dokter asing itu.
Siapa lagi kalau bukan Dazai Osamu dan Elise chan.
Beberapa saat setelah menutup pintu tadi, pria kecil itu mengambil handuk di rak mantel tepat sampingnya, lalu mengusap wajahnya yang penuh darah dan luka itu secara kasar. Ia tau kalau sebagian lukanya sudah mengering, untuk apa bersikap lembut pada kekerasan.
Elise yang kebetulan selesai menggambar, dan sedang mengemasi barang barang yang di pakainya tadi melirik ke arah lelaki yang yang sepantaran dengannya. Wajahnya tak memunculkan raut apa apa saat melihat kulit wajah pria itu yang pucat kembali menjadi penuh akan darah, walaupun sudah berkali kali ia mengusap darah di wajahnya itu.
"Kali ini apa, Dazai san? Tersandung di eskalator lalu terjatuh dari lantai 5, atau memarut wajahmu sendiri? Kau terlihat berantakan" tuturnya sambil tetap mengemasi peralatan yang di pakainya tadi. Dazai lama tak merespon, tapi begitu dirinya beranjak ke wastafel dan membasuh wajahnya meninggalkan larutan air yang membawa pergi darah pekat itu, ia merespon tanpa perasaan di katanya.
Sambil melihat air yang membawa darahnya mengalir ia menjawab, "kepalaku terbentur karang saat mencoba tenggelam di pelabuhan tadi. Anehnya, hanya kepalaku yang terluka, tubuhku sehat seperti lalu. Padahal aku hanya ingin mati, ternyata membutuhkan usaha yang berat juga..." tubuhnya berbalik memandang Elise yang sudah beranjak dari sofa dan mengobrak abrik meja di dekatnya
Dan percaya atau tidak percaya, yang di katakan oleh gadis manis itu semua ada benarnya. Karena nekat memarut wajahnya sendiri menggunakan parutan keju(biargreget!), Mori harus meluangkan kemampuan dan waktu yang tak sedikit untuk merawat intensif wajah Dazai yang hampir hancur. Lucu memang, apalagi saat ia terjatuh dari eskalator itu. Mori dan Elise bahkan berdecak kagum saat Dazai masih bisa beraktivitas normal padahal baru kemarin kejadian itu terjadi.
Sungguh anak yang menyeramkan. Mungkin itulah yang membuat Mori Ogai meliriknya.
"...kuharap Mori san tidak secepatnya kemari"
"Tapi tampaknya prediksimu akan sedikit melenceng, Dazai san"
Tertarik dengan ucapan Elise, gadis mungil bersurai gelombang itu, ia berbalik badan dan melihat anak itu terduduk melihat anak lainnya yang tertidur nyaman di ranjang klinik. Dazai yang penasaran didorong oleh keinginan kekanakannya itu melangkah mendekati ranjang tinggi itu. Seorang anak perempuan sepantaran Elise sedang tertidur, terlelap di balut dengan hakama hijau gelap pria yang tadi di temuinya.
Matanya memicing tidak suka dan kepalanya mendongak dengan manik hazel yang menatap lekat perempuan sebayanya dengan surai merah muda pudarnya bertebaran di kasur kasar itu.
"Aku kasihan padanya"
Note; Dazai mengatakan kasihan karena ia mengira kalau Hima adalah korban dari di Mori yang pedo. Makanya ia mengatakan itu karna ia sudah pernah di perlakukan seperti itu oleh Mori /kasihan Dazai chan
Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.
すべてを読んでくれてありがとう
Subete o yonde kurete arigatō
(Terimakasih sudah membaca semuanya)
