"...Edo.."

"..Edogawa.."

"...Edogawa san?"

Hima membuka matanya kala suara itu menerjang indra pendengarannya berkali kali. Tangannya langsung mengusap matanya membuat kain yang menyelimutinya terjatuh. Sedikit menguap kecil lalu memandang buram lelaki di sampingnya. Yang memanggil namanya berkali kali barusan.

Surai oranye gelap, bola mata indah bernetra biru safir, dan sebuah topi mafia bertengger di pucuk kepalanya. Hima tersentak, seakan mengingat sesuatu, tangan kanannya langsung mengambil topi dengan kain kecil di tengahnya. Sang empunya langsung terkejut dan berkata marah.

"Hei, apa yang kau lakukan?! Kembalikan topiku!" Serunya sambil kedua tangannya memukul di udara meminta barang kepunyaannya kembali. Tapi gadis berusia 22 tahun itu menggelengkan kepalanya lalu memasangkan topi besar itu di kepalanya.

"Enak saja! Ini topiku, bukan punyamu" tutur Himawari balik. Kedua tangannya menekan topi hitam itu agar lelaki chibi di depannya tak mudah mengambilnya. Melihat keadaan yang terlalu memaksa, Chuuya menghentikan kegiatannya, lalu berdecak kesal. Tak berapa lama, iapun tertawa

"Hahahah, aduh... sama sekali tak berubah.. kheehehe" tawanya begitu nyaring hingga Hima mengubah ekspresinya dengan heran. Saking ngakaknya, ia memegang perutnya sendiri yang terasa geli dan kadang mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya.

"Hei, apa yang kau tertawakan? Apa aku bau?" Tutur Hima kemudian. Ia mengendus tubuhnya sendiri di berbagai tempat yang biasanya tertimbul bau. Melihatnya, Chuuya hampir tidak bisa berhenti tertawa. Di dalam mobil itu, ia berkali kali menghentakkan kakinya dan memukul pintu di belakangnya. Bahkan, ia merasa kalau kedua pipinya sekarang sudah terlalu pegal untuk tertawa.

Himawari yang menyadari hal itu menghentikan kegiatannya, lalu memandang Chuuya marah. Ia seperti di tertawakan saat berada di panggung teater, padahal hanya Chuuya yang menertawakannya. Ia mengerutkan bibirnya dan mencengkram kerah jas Chuuya, membuat Chuuya hampir berhenti tertawa.

"Apa yang lucu hah?! Aku tanya kau! Aku tidak bau, tidak pula kotor! Dan aku tidak pendek sepertimu!" Kata Hima menuturkan kekesalannya. Meskipun begitu, Chuuya yang biasanya akan marah jika di bilang pendek, sekarang malah semakin tertawa mendengarnya mengomel.

Ia mengepalkan tangan kanannya, dan membuka lebar lebar telapak tangan kirinya. Bersamaan dengan terlepasnya cengkraman Himawari yang membuatnya sedikit tercekik, ia memajukan tubuhnya begitu pula dengan gadis di depannya yang meniru gerakan Chuuya.

"Sama sama pendek!"

"Hahahaha..."

Mereka berdua tertawa bersama. Setelah aduan kedua tangan yang bertemu tos secara keras itu selesai, baik Chuuya maupun Himawari mundur sedikit dan tertawa terbahak bahak memegangi perut mereka masing masing.

5 detik kemudian, tawa Hima mereda dan mengdongakkan wajahnya menatap Chuuya yang masih terkikik geli. Ia mengusap air mata yang terselip di sudut matanya. Bibirnya melengkuk untuk menahan tawanya lebih lama.

"Aku tak tau jika kau masih menghafalnya, Chu kun" ucapnya sambil sesekali tertawa tak dapat menahannya saking lucunya kegiatan mereka tadi. Ya, kegiatan salam penyambutan oleh teman lama.

Mendengar nama lamanya dilantunkan kembali, Chuuya sama sama mendongak dan menyudahi tawanya.

"Aku juga. Lama tak berjumpa, Conan chan"

Hima mendelik aneh kepada Chuuya. Apa apaan itu, menurutnya. Tapi setelah mempertimbangkannya lagi, ia membuang nafas berat dan tersenyum ringan. Mendengar tiada tawa lagi dari wanita masa kecilnya itu, Chuuya menghentikan tawanya lalu mendongak melihat Himawari, teman kecilnya menatapnya dengan lembut.

"Ada apa?" Tanyanya penuh penasaran.

"Tidak. Hanya kangen Chu kun. Lama tak berjumpa, dan mengenakan topi ini. Rasanya tak berbeda seperti terakhir kali aku mencobanya." Jawab wanita sebaya Chuuya itu tanpa malu seraya memegangi kedua sisi topi hitam mafia itu. Sementara pria mungil itu hanya berdehem, terkekeh geli. Dan mungkin tanpa Hima tau, beberapa rona merah muncul di sana. Di kedua pipi Chuuya yang merona tipis, hampir tak terlihat di tengah malam ini.

"Kau benar. Aku saja masih heran kenapa Dazai selalu membenci topi itu. Dasar pemboros perban" katanya sambil melirik pada pemandangan diluar sana. Mendengar nama sensitiv itu dilantunkan, Hima memandang aneh pria jingga itu. Lalu tersenyum renyah

"Kalian berdua masih belum akrab ya...padahal kalian kombinasi yang bagus, dari dulu lho" tuturnya, menyesuaikan ekspresinya dengan lantunan katanya.

Tapi sayang, Chuuya tak mendengar itu sebagai pujian. Ia malah mendengarnya sebagai hinaan yang langsung jleb ke dadanya bagaikan panah menghujam tepat ke jantungnya.

"Jika saja kau bukan perempuan, Conan chan, aku pasti sudah memukulmu dari kau mengambil topiku tadi" geramnya kepada wanita yang cekikikan sedari tadi itu. Tapi ia berusaha meredakannya, dan mengurungkan sikapnya yang pemarah kepada teman yang sudah lama tak ditemuinya ini.

"Oh ya, aku tidak pernah tau kau punya penyakit seperti ini. Apa kau baru terserang baru baru ini?" Chuuya mengatakan itu sambil melihat sebungkus peralatan pertolongan pertama yang tadi ia gunakan beberapa untuk membantu Hima sadar. Sementara Hima sendiri yang tau kalau nanti Chuuya akan mengatakan ini, diam mengangkat kakinya ke kursi, menekuknya lalu memeluknya kuat. Ia merasakan kakinya yang terselimuti jubah mafia Chuuya itu masih saja gemetaran.

"Ya, aku selalu berusaha untuk tidak menunjukkannya di hadapan Chu kun maupun Dazai sensei. Karna aku tau, aku akan merepotkan nantinya." Wajahnya datar, menatap lurus bangku mobil di depannya.

Chuuya yang berada di belakang bangku pengemudi itu menoleh cepat ke arah Hima dengan tatapan menjijikan.

"Bisa kau ulangi antara aku dan pemboros perban itu?" Pinta Chuuya.

Hima awalnya memikiran lalu menjawab seingatnya

"Chu kun maupun Dazai sensei?"

"Itu dia! Kenapa kau bisa memanggilnya sensei? Padahal kau dengannya bukannya seumuran? Kita juga teman saat kecil dulu" Chuuya mengakhiri kalimatnya dengan akhiran tipis dan rendah. Ia merasa malu dan memanas setiap mengatakan itu.

Tapi melihat reaksi Hima yang begitu datar, hanya mengangkat kedua alisnya cukup untuk membuat Chuuya terdiam, dan penasaran.

"Chu kun tidak ingat? Aku dan Dazai sensei pernah membuat janji yang memalukan, bahkan saat Chu kun yang menjadi saksinya sakit perut karna terlalu banyak tertawa" ucap perempuan bersurai pink gelap di balik remang remang sunrise itu.

"Sejak kapan...?" Nakahara Chuuya memiringkan kepalanya, masih tak mengerti

Perempuan itu kesal, ia menghembuskan nafas malasnya lalu meneruskan ceritanya

"Saat malam Dazai sensei di rawat intensif itu? Ia melawan Yumeno Kyusaku? Janji konyol yang kuusulkan? Semuanya tak ingat?"

Chuuya menimbang nimbang, ia memandang langit langit mobil yang dekat dengan kepalanya lalu membuka mulutnya perlahan, reflek ia bergumam lalu memekik kecil ke arah perempuan di depannya.

"Saat Dazai si bodoh itu hampir sekarat?"

Himawari mengangguk. Ia tersenyum semangat saat Chuuya menatapnya berbinar. Pria tanpa topi yang dikenakannya itu berhela nafas ringan lalu bersandar di sandaran bangku. Lalu melirik Hima penasaran

"Memangnya apa janjinya? Sampai sampai Dazai sialan itu mau di panggil sensei seperti itu?" Tutur Chuuya tanpa intonasi.

"Agar tidak mati"

"Hah?" Mulut Chuuya menganga, melihat wanita itu mengatakan dengan wajah berseri.

"Saat Dazai sensei di rawat malam itu, aku mengadakan perjanjian antara kita berdua. Jika Dazai akan menunda bunuh dirinya hingga bertemu lagi denganku, aku yang nanti di masa depan bertemu dengannya akan memanggilnya sensei. Karna itulah aku memanggilnya sensei..."

"Karna ia rela menunda kematiannya sendiri ya? Kenapa si pemboros perban itu setuju saja? Setauku ialah executive yang paling susah di ajak negosiasi" tatapan Chuuya memicing, sedikit penekanan.

Hima tampak bingung, memijit dagunya seperti Dazai dengan gaya sok pintarnya. "Entahlah. Mungkin saat itu aku belum tau apa apa dan prihatin melihat kondisi kritisnya. Lalu tanpa sadar mengucapkan hal seperti itu" tertawa kecil menjadi akhiran kata Hima yang barusan terlontar keluar. Chuuya yanya berdehem mengiyakan.

Hening menyapa. Setelah Chuuya berdehem ringan tadi, tidak ada yang melanjutkan percakapan ringan mereka berdua. Hima terlalu sibuk dengan topi mafia Chuuya yang ada di kepalanya itu. Sedangkan pemilik topi itu hanya melamun melihat wanita di sampingnya bertindak kekanak kanakan. Terkadang ia terkikik geli melihat tingkahnya yang tak sesuai umur.

"Nee Chu kun, apa topi ini masih cocok denganku? Lama tak merasakan hangatnya topi Chhuuu kun" intonasi Hima mainkan, hingga tampak seperti suara lagu perkataannya tadi. Chuuya yang menatap lurus anak perempuan itu tertegun, ia berusaha semaksimal mungkin agar rona merah yang timbul di kedua pipinya itu bisa segera fana. Ia membuang wajahnya ke luar jendela.

"Er, y..ya. Ti, tidak ada yang berubah. Kau masih ca, cantik seperti dulu" tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya, dengan berusaha untuk bersikap sewajarnya.

"Chu kun mengatakanku cantik~~ aku jadi tersanjung" dengan masih nada yang sama, ia mengatakan itu sambil tetap memegang erat topi di kepalanya itu. Tapi tak lama kemudian kata kata itu hilang dan digantikan kesunyian. Heran, Chuuya menoleh kebelakang. Ke arah gadis Edogawa itu.

"Ada apa?" Tanya Chuuya polos.

"Sunrise disini cantik ya... aku belum pernah melihat matahari terbit seindah ini sebelumnya" mulutnya menguap, walaupun matahari segera naik tapi udara tetap saja dingin. Hima mengatakannya saja sambil menelungkupkan tangannya menahan dinginnya udara.

Pria bersurai oranye itu tersenyum. Ia juga sama sama melihat bola besar yang bersinar itu terbit dari ujung laut menembus awan tipis dan naik memancarkan sinarnya secara perlahan. Di balik jembatan dan di dalam mobil, kedua insan manusia ini menikmati pemandangan indah di pinggir kota Yokohama.

"Kita pulang?"

Hima mendelik melihat Chuuya yang mengajaknya bicara. Lalu tersenyum dan mengangguk.

"Roger!"

"Arigato Chu kun~~ kapan kapan mampir ya!!"

Chuuya yang sudah mengendarai mobil itu menjauh mengeluarkan tangan kanannya lalu menunjukan ibu jarinya sebagai tanda OK. Hima yang sedari tadi melambai mengentikan kegiatannya lalu berjalan pelan mundur masuk ke mansion di belakangnya. Kantong kresek yang di bawanya menjadi alasan utama kenapa ia tak pulang ke kamar kakaknya terlebih dahulu. Sedikit lagi berjalan, maka ia akan masuk ke kamar lain yang pernah ia tiduri.

Kamar Dazai.

Sudah sampai di depan pintu yang dominan sama itu, Himawari mengetuk pintu dengan tangan kanannya.

"Dazai sensei, anda ada dirumah?!"

Tidak ada jawaban, membuat Hima mengerucutkan bibirnya dan hendak kembali ke kamarnya. Tapi ia terlalu malas untuk berjalan kembali ke kamar kakaknya dan membutuhkan bantuan seseorang sekarang. Jadi ia sangat malas di tengah keadaan seperti ini. Menyadari caranya hampir berhasil, Hima melangkahkan kakinya berat juga rasa malas yang menumpuk, ia menembus pintu kayu berwarna hijau gelap itu secara mudah dan ta-da!

Himawari sudah di dalam kamar apartmen kecil senseinya. Ia tersenyum puas setelah ia berhasil masuk dan menggerakkan kedua tangannya ringan.

Eh, ringan?

Hima melirik horor pada pergelangan tangan kirinya, tepat di mana sekantong plastik penuh akan berkaleng kaleng kepiting tergantung disana. Tapi nihil, kantong itu tidak ada dan hampir membuat Hima memekik.

Ia lupa kalau barang yang di bawanya seperti kantong plastik tak bisa melumpuhkan benda padat sesuai keinginannya.

Helaan nafas berat di perolehnya dan ia berusaha mencari-masuk ke lebih dalam mencari senseinya yang mungkin saja masih tertidur itu. Ia mencari ke kamar mandi, ruang ibadah, kamar tidur, dapur dan sebagainya tapi tidak ada siapa siapa kecuali ia di ruangan kecil itu.

Lidahnya ka decakkan tanda tak suka. Bagaimana ia bisa mengembalikan kantong itu jika benda itu tak bisa ikut dengannya? Ya, satu satunya cara ialah pemilik rumah itu membukakan pintulah. Dan sayangnya pintu itu terkunci rapat. Tapi, Dazai tidak ada di rumah.

Maka ia mencoba untuk mematahkan peraturan itu dengan berkali kali membuat dirinya sengaja untuk malas dan membawa kantong putih besar itu bersamanya masuk ke dalam. Tapi tetap saja tak ada hasil. Ia lelah dan memutuskan untuk menggunakan caranya yang kedua itu.

Cara kejam dimana pemilik kamar ini akan bersedih nanti.

"Baik, baik Dazai sensei... jika kau tidak mengizinkanku masuk, tak ada cara lain selain memaksamu sekarang! Aku tidak peduli, semua yang ku inginkan akan menjadi kenyataan!!"

Bragh!!

Dengan kemampuan telekenis Edogawa Himawari, ia memaksa dirinya untuk lebih bersemangat berkali kali lipat dari sebelumnya. Hanya cara itu kemampuan telekenesisnya bangkit dan mampu membuat pintu itu terbuka paksa.

Tentu saja, pintu itu terdobrak paksa dan lepas dari engselnya masuk ke dalam apartemen. Hima hanya terdiam di posisi terakhirnya dengan seolah olah mendorong pintu plus ekspresi terkejut yang tidak bertanggung jawab. Kentara sekali hal itu saat ia berlari langsung masuk kedalam tentunya dengan kantong kresek itu begitu menyadari bukan hanya pintu yang rusak karna ulahnya.

Dinding mansion sedikit retak, kerangka mobil tua yang dihalaman berpindah jauh dari tempatnya, dan banyak yang lainnya. Yah, Dazai juga pernah mengatakannya. Hima minus tak bertanggung jawabannya.

Ia segera ke dapur dan meletakkan 2 kantong kresek itu di atas meja dapur. Hima tak langsung pergi, ia melihat sekitar ruangan dan menghembuskan nafas panjang malas saat melihat semua jalur angin tertutup di kamar kecil ini. Ia beranjak membuka jendela dan menikmati angin semilir khas pagi yang menyambutnya.

Puas dengan itu, ia berbalik dan menemukan lemari kecil di bawah meja dapur terbuka perlahan. Matanya dan tubuhnya membeku saat membayangkan apa yang ada di dalam sana.

Tapi melihat sebuah gulungan perban keluar dari sana, Hima beranjak dan berjalan ke depan lemari yang kini terbuka lebar itu.

Saat melihat apa yang ada di dalam sana, ia tertawa terbahak bahak memegangi perutnya bersama seorang pria yang duduk-terjebak di lemari tang mungkin tak muat untuknya.

"Dazai sensei, apa yang kau lakukan di sana? Kheehehe"

Yeay, Dazai chan terjebak di dalam lemari!!!

Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.

すべてを読んでくれてありがとう

Subete o yonde kurete arigatō

(Terimakasih sudah membaca semuanya)