Anak itu, Li Jiaheng, tidak mungkin pernah memprediksikan hal seperti ini akan terjadi.

Anak itu polos. Lugu. Ceria. Seperti kebanyakan anak lelaki lainnya. Merupakan orang Cina campuran seperempat Kanada, lahir dari pasangan Tuan Li dan Nyonya Li—Nona Wu adalah panggilan wanita itu sebelum menikah dengan Tuan Li. Jiaheng mengalami masa kecil yang bahagia bersama kedua orang tuanya—sebelum tiba-tiba sang ayah, Tuan Li, meninggalkan Jiaheng dan ibunya.

Sejak ditinggalkan ayahnya itu, hidup Jiaheng berubah. Dia pindah ke Kanada, negara kelahiran neneknya, bersama ibunya. Nyonya Li—yang sekarang kembali memakai marga Wu setelah berpisah dengan Tuan Li—mengganti nama marga Jiaheng menjadi Wu. Wu Jiaheng. Perubahan marga berarti memutuskan segala relasi yang mereka miliki dengan keluarga Tuan Li. Tidak sampai di sana, nama depan Jiaheng pun diganti oleh wanita itu. Yifan. Nama anak itu bukan lagi Li Jiaheng, melainkan Wu Yifan.

Tapi Wu Yifan adalah anak yang berbeda dari Li Jiaheng.

Di usia sepuluh tahun, bocah Wu ini tinggal bersama kerabat yang merupakan orang Eropa, di negara Kanada yang asing untuknya. Ibunya kembali ke Cina karena kontrak kerja yang belum usai. Bocah Wu sendirian di negara asing tanpa orang yang dikenal. Satu minggu pertama Nyonya Wu akan menelepon sang anak untuk menanyakan keadaannya, namun panggilan itu makin lama makin jarang terdengar. Yifan kesepian. Ia merasa asing, diacuhkan. Membuat bocah yang ceria ini menjadi pendiam dan introvert, sering menangis, mengharapkan ibunya datang kembali untuk memerhatikannya dengan kasih sayang. Yifan butuh kasih sayang orang tua. Kasih sayang ayahnya yang telah pergi, juga kasih sayang ibunya yang terlalu sibuk untuknya. Kasih sayang.

Dan kehausan akan kasih sayang itulah yang akhirnya merusak Yifan.

Yifan sudah rusak sejak memasuki bangku SMP. Bocah tampan itu berkali-kali menggoda perempuan dan memacari mereka untuk mendapatkan kasih sayang. Makin banyak kasih sayang yang ia dapatkan, makin bahagialah Yifan. Tak jarang ia memacari lebih dari dua perempuan dalam satu waktu. Kasih sayang yang dia dapatkan jadi berlipat ganda.

Memasuki bangku SMA, seorang lelaki homoseksual-lah yang memberikan kasih sayang itu kepada Yifan. Sejak saat itu lelaki ini sadar bahwa kasih sayang dari sesama lelaki juga ia butuhkan karena dia tidak mendapatkan hal itu dari ayahnya. Tidak hanya kasih sayang, tapi juga seks. Percumbuan pertama yang Yifan alami adalah dengan kekasih lelakinya. Rasanya menyenangkan. Dan sejak itu Yifan memacari perempuan dan laki-laki sekaligus. Masing-masing tiga orang dalam satu waktu.

Kasih sayang yang ia dapatkan sirna semuanya saat semua hubungannya ketahuan. Enam orang yang dipacarinya langsung memutuskannya begitu saja. Yifan tidak lagi mendapatkan stok kasih sayangnya sehari-hari dari mereka, juga tidak lagi mendapatkan seks yang menggairahkan. Ia kembali mengurung diri, depresi, menjadi seorang introvert lagi. Lulus SMA pun sudah merupakan keajaiban karena saat itu dia mengerjakan ujian kelulusan dengan kondisi mental yang sedang stres berat.

Tapi begitu Yifan mendapatkan beasiswa olahraga dari Korea Selatan, sebuah ide pun muncul di dalam kepalanya. Wu Yifan bisa lahir kembali di negara Ginseng ini. Dia bisa kembali mendapatkan kasih sayang dari nol lagi, tanpa peduli mencoreng nama baik dan usaha untuk merahasiakan hubungan itu dari semua kekasihnya—yaitu dengan membuat identitas baru untuk memuaskan hasrat kasih sayang dan seksual.

Namanya Kris. Identitas lain dari Yifan yang hidup untuk memberi kasih sayang, mendapat kasih sayang, dan mendapatkan kepuasan seksual.

Li Jiaheng adalah anak yang ceria dan lugu. Wu Yifan adalah remaja yang suka mempermainkan perempuan tapi menjadi lelaki yang baik sejak kuliah di Korea Selatan. Kris adalah orang yang menampung semua sifat jahat Yifan yang ia tinggalkan sejak ke Korea.

Jiaheng si ceria tidak akan pernah menduga bahwa ia di masa depan akan berada di sini, telanjang bulat, dengan sebelas laki-laki mengelilinginya.


Wednesday WetKrisDay
YiVanWu

OT11 x Kris (bottom!Kris)

Warning for this chapter:

Bahasa frontal, cursing/rude words, gangbang, sextoys, feminization, nipple play, rimming, double penetration, multiple penetration, angry sex/hate sex, fisting, BDSM, orgasm denial, whip-spanking, erotic electrostimulation

18.000 words of full sex! Silakan dibookmark dulu chapter supaya kalau capek baca bisa dipause kapan saja. Karena terlalu panjang, chapter 5 ini saya pisah jadi dua bagian, chapter 5 part 1 dan chapter 5 part 2.

EXO, WYF, LH, & HZT are owned by themselves. Scappatella Club is based on Persona 3's Escapade Club.

Story is fully by me.

NO plagiarism.

Sedikit glosarium; Feminization: praktik seksual yang membuat peran laki-laki menjadi perempuan (misalnya dengan crossdress), hate-sex: melakukan hubungan seksual dengan orang yang dibenci/perasaan marah, chastity belt: busana/alat yang menutupi daerah selangkangan dan biasanya terkunci supaya untuk mencegah perbuatan seksual, estim: erotic electrostimulation atau electrosex yaitu praktik seksual yang menggunakan arus listrik/setruman untuk merangsang bagian tubuh misalnya di alat kelamin. (Penjelasan dari berbagai sumber.)


Chapter 5 part 1

Baekhyun menyeringai saat melihat lelaki tinggi bertelinga besar, Chanyeol, menyodok mulut Kris dengan kejantanannya. Sodokan demi sodokan sangat kasar dan cepat, hingga terkesan bahwa bukan Kris-lah yang mengisap penis Chanyeol tapi penis Chanyeol yang memerkosa mulut Kris. Kris sampai terlihat beberapa kali ingin terbatuk—dia tidak bisa menampung kejantanan itu dengan sempurna di dalam mulutnya. Kadang lidahnya pun belum menyentuh batang kemaluan Chanyeol namun si empunya langsung menarik penisnya keluar, lalu memasukkannya lagi. Dia tidak memberi kesempatan bagi Kris untuk bernapas dan menikmati penisnya lebih lama lagi. Keluar, masuk, keluar, masuk—masing-masing hanya terjadi selama kurang dari satu detik. Penisnya terus menggenjot cepat mulut si pirang sampai Kris harus memegangi paha Chanyeol supaya tidak terjatuh akibat sodokan kasar itu.

"Umph-... mmh.. mmm-" Hanya gumaman putus-putus tanpa arti tersebut yang bisa Kris keluarkan di tengah blowjob yang dilakukannya. Erangan tidak jelas itu justru membuat Chanyeol makin terlena oleh getaran yang ditimbulkan dan memajumundurkan pinggulnya di mulut Kris lebih cepat lagi. Kedua matanya tertutup, sementara mulutnya terbuka lebar, bernapas cepat.

"Oh... ah... Kris-" Sekilas Chanyeol membuka matanya untuk menatap ke bawah di mana Kris terbaring telentang dengan penis Chanyeol di mulutnya. Melihat wajah Kris—Kris yang selama ini dia cintai, Kris yang selama ini bersetubuh dengan banyak orang kecuali dirinya, Kris yang selama ini tidak dapat ia sentuh—Kris yang seperti itu menatapnya seduktif dengan mulut yang dipenuhi penisnya, lelaki dengan surai cokelat itu tiba-tiba makin terangsang. Darah dengan cepat naik ke kepalanya, membuat wajahnya memerah malu, hanya karena diberikan tatapan oleh sang love Interest. Persis anak SMP yang berdebar-debar apabila orang yang dia sukai memberikannya senyum. Akan tetapi, dalam kasus Chanyeol, bukan hanya jantungnya saja yang berdebar cepat dan wajah yang memerah—tapi juga sperma yang langsung menyembur dari kejantanannya ke dalam mulut si pirang.

Sungguh, Chanyeol merasa sangat bersalah. Ia bersihkan ujung-ujung bibir Kris yang basah oleh spermanya, membuat bibir mungil menggoda itu kembali kering. "Kris, maafkan aku-"

Namun Kris hanya menatap Chanyeol dengan mata yang setengah tertutup akibat kelelahan, ujung bibirnya yang masih disentuh Chanyeol itu membentuk kurva ke atas—membentuk senyum simpul.

Kris menatap Chanyeol sambil tersenyum-

-dengan mulut yang masih menampung kejantanan Chanyeol.

Oh, fuck—batin Chanyeol. Ini menggoda sekali, amat merangsang. Orang yang kau sukai tersenyum kepadamu dengan penismu di mulutnya! Apabila Chanyeol anak SMP, maka sekarang dia sudah Hard kembali. Dan memang itulah yang terjadi—kejantanan Chanyeol kembali berdiri dan menegang di dalam mulut Kris. Dan karena itu pula Kris langsung refleks menyempitkan pipinya, mengisap kemaluan itu. Karena sudah tanggung juga, Chanyeol kembali menyodok-nyodok mulut Kris sambil berkali-kali mengucapkan maaf.

Itulah yang sedari tadi membuat Baekhyun terbahak. Sudah berkali-kali Chanyeol keluar di dalam mulut Kris—dengan yang barusan, berarti sudah tiga kali, dan sekarang menuju yang keempat kalinya—dengan alasan yang sama, yaitu karena Chanyeol selalu menegang lagi setiap melihat wajah Kris, bahkan sebelum sempat mengeluarkan kejantanannya dari mulut si Host nomor satu. Bayangkan sendirilah bagaimana cairan sperma Chanyeol sudah membanjiri mulut dan kerongkongan Kris.

Sementara itu, di bagian bawah tubuh Kris, ada Minseok yang dengan malu-malu mengeksplor bagian di antara dua paha si Host. Minseok agak membungkuk, memerhatikan skrotum Kris yang membengkak dan membiru karena aliran darahnya distop di sana akibat pengait dasi milik Sehun. Lalu Minseok juga memerhatikan lubang yang berada tidak jauh di bawah bola kembar itu. Lubang pantat Kris, tepatnya, berkedut hebat setiap kali Chanyeol menghujam mulutnya. Secara bergantian, Minseok memerhatikan lubang itu dan Chanyeol yang memerkosa mulut Kris. Tak lama dia menjilat bibir bawahnya dan nekat mencolek lubang Kris dengan lembut.

Hanya satu colekan pelan, tapi Kris langsung terlonjak kaget. Bahkan Kris sampai berteriak dengan mulutnya yang masih menghisap penis Chanyeol, membuat lelaki itu mengerang. Sama seperti Chanyeol, mendengar sahabatnya sendiri menjerit kaget membuat Minseok semakin terangsang. Tubuhnya berkeringat karena tegang, lalu tangannya yang gemetaran melebarkan lubang anus Kris dengan dua jarinya.

"Nnngkh-!" Kembali,Kris mendesah karena terkejut. Tubuhnya semakin sensitif setelah beberapa kali disentuh, dan kenyataan bahwa sahabatnya—Minseok—yang menyentuhnya sekarang membuatnya semakin tegang. Chanyeol, yang lagi-lagi merasakan getaran di penisnya akibat suara Kris, akhirnya kembali menyemburkan spermanya di dalam mulut Host tersebut. Setelah itu dia langsung menatap ke bagian bawah Kris—Minseok sedang menatap lubangnya penuh nafsu seraya mengaduk-aduk lubang tersebut dengan kedua jarinya—dan Chanyeol langsung mengerti kenapa dari tadi Kris mendesah:

Hampir diperkosa oleh sahabat sendiri... itu sangat merangsang. Akan tetapi, sayang sekali rangsangan yang Kris rasakan itu tidak bisa dilampiaskan akibat pengait dasi yang menjerat penisnya. Chanyeol langsung mencabut pengait dasi tersebut, dan dengan tiga kali kocokan pada kemaluan Kris, cairan kental berangsur-angsur menyembur dari dalam sana.

"A-aah, Chanyeol!..." Kris langsung kembali merasa lemas, napasnya berat dan dadanya naik turun. Alat vitalnya kembali melemas dan begitu juga lubangnya yang refleks menyempit. Minseok segera melepaskan jarinya dari lubang itu dan menunduk malu, dan hanya mengelus pelan paha Kris.

Semua yang ada di sana terdiam lagi, kecuali Chanyeol yang mengelus kepala Kris di pangkuannya dengan sayang, sesekali membersihkan wajah dan mulutnya dari bekas sperma. Napas Kris mulai teratur, seolah sebentar lagi ia akan tertidur, namun itu hanya harapan ketika tiba-tiba si petugas administrasi berkulit gelap—Kai—mendekati Kris yang terbaring.

"Tidak asyik kalau hiburan ini terpaksa batal karena kamu kecapekan, kan?" Pertanyaan itu ditujukan untuk Kris, namun yang merespon malah Chanyeol dengan tatapan tajamnya. "Makanya, nih, Kris, minum dulu."

Kris langsung menghela napas lega ketika Kai menunjukkannya secangkir kopi. Meskipun sangat cuek, pegawai administrasi ini memang sangat dapat diandalkan, makanya dia bisa menjadi salah satu pegawai meskipun usianya masih muda. Kalau Kris tidak salah ingat, bahkan Kai belum punya kartu tanda pengenal. Usianya belum legal untuk dapat memasuki apalagi bekerja di tempat seperti ini. Satu-satunya yang membuat Suho mempertahankan Kai adalah keahliannya. Kai itu pengertian dan gesit.

"Terima kasih, Kai," Kris meminum habis secangkir kopi itu dengan sekali teguk, lalu mengembalikan cangkirnya kepada Kai. Kris tidak melihat seringai Kai kepadanya—tepat sebelum si lelaki tan mendekatkan wajahnya ke wajah Kris dan melumat bibir tebal itu. Lumatannya sangat kasar hingga lidah mereka saling melilit, dan Kai baru benar-benar melepaskan ciumannya saat Chanyeol mendorongnya menjauh dari Kris.

"Hentikan!" Chanyeol mengomel, "Kalau kamu mau ikutan juga, potong dari uang gajimu!"

Tak disangka, Kai justru tersenyum menyeringai sambil menatap Kris penuh nafsu. "Kau benar... Ini pasti akan sangat menyenangkan."

Dan Kris tersentak kaget. Kopi yang dia minum tadi itu... rasanya berbeda dengan kopi yang biasa mereka buat di sini, baik untuk pegawai maupun untuk klien.

Dan lagi, kenyataan bahwa Kai mentransfer sebuah permen kecil dari mulutnya ke dalam mulut Kris saat mereka berciuman tadi—yang malangnya langsung tidak sengaja Kris telan sebelum berhasil menyesapi rasa permen tersebut...

Logikanya, tidak mungkin Kai memberikan Kris sebuah permen. Kai bisa membaca situasi, dia tidak akan memberikan permen yang tidak mengenyangkan. Lagipula kombinasi antara permen dan kopi itu sangat aneh. Kai tidak sebodoh itu.

Kalau begitu, apakah permen tadi adalah-

/ / /

"Kopi itu... dari kamarku?"

Kai menyeringai pada Suho yang menatapnya dengan tatapan tajam seperti polisi yang menginterogasi buronan. "Kebetulan akulah yang menerimanya saat kiriman paket berisi kopi afrodisiak itu tiba di rumah, Hyung. Makanya aku tahu kalau kopi itu bukan kopi biasa. Masih lebih mendingan daripada kalau Eomma dan Appa-mu yang menerimanya, kan? Nanti kamu bisa diusir dari rumah, terus aku diangkat jadi anak kandung mereka."

Suho menggumam kesal. "Kau tahu kenapa aku menyimpan kopi itu di kamarku dan bukan di sini?"

"Karena kopi afrodisiak itu mengandung zat berbahaya yang bisa menurunkan tekanan darah, kerusakan pada alat kelamin, dan yang paling parah adalah kematian," Kai menjawab malas. "Kris tidak akan rusak hanya dengan satu kali mengonsumsi kopi itu, Hyung, percayalah. Lagipula, efeknya mengagumkan, kan?"

Kai menunjuk ke tengah ruangan, di mana inti permainan itu tengah terjadi. Semakin banyak orang yang mendekati Kris. Bahkan Lay, yang sangat tidak setuju apabila Host favoritnya itu menjadi bottom, mulai mendekat karena penasaran. Penasaran kenapa?...

Karena Kris, sedari tadi, mendesah teriak dengan berbagai dirty talk seakan hidupnya hanya untuk seks.

"AHH!.. T, terus! Minseo-"

Minseok saat ini sedang berdiri dengan kedua lutut sebagai tumpuan sambil mengeluar-masukkan kemaluannya ke dalam Kris yang terbaring telentang. Minseok dipilih sebagai orang pertama—setelah Sehun—yang boleh mencicipi lubang Kris terlebih dahulu karena permintaan Baekhyun. Baekhyun bilang kakaknya itu seorang virgin—perjaka selama 21 tahun—dan sekarang akhirnya dia menunjukkan ketertarikan pada hal berbau seks yaitu pantat Kris, maka Minseok harus segera mendapat giliran sebelum sense perjaka-nya itu muncul lagi dan dia berubah pikiran. Sayang kan kalau nggak jadi menyentuh Kris padahal sudah bayar?

Tapi, bagi semua orang di sana, Minseok tidak terlihat seperti seorang perjaka. Gerakannya kasar dan brutal. Minseok menarik tubuh Kris, mengangkat kedua kakinya hingga bersandar diatas bahu Minseok, lalu menampar bokong Kris yang agak terangkat ke udara. Kris yang kaget refleks menekuk kakinya hingga kedua lututnya menyentuh dadanya sendiri, mengangkat pinggulnya lebih naik lagi—hampir keseluruhan bagian pinggul bawahnya terangkat. Minseok langsung mencabut penisnya dari dalam Kris, berdiri dengan kedua kakinya, lalu menghujamkan lagi kemaluannya ke dalam si Host dengan sangat cepat dan kasar.

Tangan Kris yang bebas meraih pinggul Minseok, menariknya mendekat hingga penis sahabatnya itu melesak lebih dalam lagi. Kris menjerit keenakan berkali-kali. "Ah, aah, aahh! Minseo—Xi, Tuan Xiuminnnnnh... teruuuus, terus!... ah... luar biasa-..."

Minseok bagaikan kesetanan. Matanya memejam, giginya menggeretak. Tangannya memegang kedua paha Kris dan sesekali mengelusnya. Minseok bagaikan sex master. Sulit dipercaya bahwa barusan ia adalah seorang mahasiswa pemalu yang mengaku straight dan perjaka, sementara sekarang ia mencumbu seorang laki-laki sampai si korban keenakan.

"Yifannn-..." Minseok bergumam, suaranya tidak jelas tapi bisa didengar oleh Kris. "Yifan... kamu... nggak pernah memanggilku 'hyung' karena perbedaan adat di negara kelahiran kita-... hahh, hah-... padahal kamu lebih muda dariku... jadi sekarang, kau tahu... uhhh... apa yang harus kau katakan-"

Kris mendelik. Oh, ngakunya sih polos, tapi ternyata Minseok juga ingin kinknya dipuaskan seperti Luhan dan Sehun tadi. Tapi Minseok terlalu pemalu, jadinya dia tidak mengatakan dengan lugas dan langsung, malah berliku-liku. Untung saja Kris adalah teman baik Minseok, jadi dia tahu apa yang harus ia katakan untuk memenuhi Kink Minseok—"...Minseok-oppa?..."

DEG-

"AAKH-!?" Sungguh, Kris yakin barusan saja penis Minseok di dalamnya tiba-tiba membesar. Setelah itu pun genjotannya makin cepat. Lubang Kris yang terkaget mulai berkedut kembang kempis, namun remasannya di penis Minseok justru membuat kejantanan itu makin membesar akibat terangsang.

"Oppa-! Minseok oppaaaaa aaangh~..." Dan penis Minseok mengeras setiap kali Kris mengeluarkan kata oppa dari mulutnya. Genjotannya pun sekarang lebih cepat lagi sampai tubuh Kris terlonjak-lonjak, apalagi setelah Minseok menyentuh bagian terdalam anus Kris—prostat—dan menghasilkan jeritan penuh nafsu dari si Host.

Chanyeol yang sedari tadi sudah dapat mengendalikan nafsunya, akhirnya harus mengelus kejantanannya yang setengah mengeras lagi. Ia menelan liur, memposisikan dirinya duduk di samping kepala Kris. Baekhyun mengganggunya dengan juga duduk di samping Chanyeol dan menyeringai. Sementara Kris justru tidak peduli dengan beberapa orang yang mulai mendekatinya, dia terus terfokus pada Minseok, seakan lupa bahwa semua orang bisa menyentuhnya kapan saja. Apalagi sedari tadi, semenjak Kris memanggilnya dengan oppa, Minseok sama sekali tidak membuka mata selama menyetubuhinya, seakan tidak mau percaya bahwa dia mencumbu lelaki sahabatnya sendiri.

Sebelumnya tak pernah ada satu pun klien Kris yang memejamkan mata selama memerkosa Kris. Sebelumnya tidak ada yang bisa mengacuhkan penampilan Kris yang tengah dilanda nafsu begini... apalagi penis Kris yang sudah mengeras.

"A—aahh.. Min—Oppa..." Kris mendesah terus untuk mencuri perhatian Minseok. Ia meraih satu tangan Minseok, membawanya pelan ke arah selangkangan Kris untuk mengocok penisnya, namun Minseok menarik kembali tangannya bahkan tanpa membuka mata. Semua tenaganya ia fokuskan pada tubuh bagian bawahnya yang menyerang anus Kris. Tidak pada penis Kris. Kris menggigit bibirnya—sodokan Minseok pada prostatnya sangat brutal sedari tadi, membuat tubuhnya terus menggeliat, dan Kris yakin ia akan klimaks sekarang kalau saja Minseok mau memanjakan penisnya. Kris butuh sentuhan—dia ingin ejakulasi!

"Penisnya, Bodoh." Itu suara Luhan. Sembari berjalan mendekat, dia mengajak bicara Minseok, tapi matanya terpaku pada selangkangan Kris. "Kris minta kau untuk menyentuh penisnya."

Tetap saja Minseok bergeming, hanya menggeleng, dan justru menarik penisnya dari lubang Kris hingga hanya ujungnya yang berada di dalam, lalu mendorongnya masuk lagi dalam satu hentakan sampai terdengar "OH" keras dari Kris yang tenggelam dalam nafsu. Tangan Minseok sama sekali tidak bergerak, masih memegangi paha Kris.

Bola mata Luhan bergulir malas, "Nggak mau? Oh, karena kamu straight ya, dan yang sedang kau masuki sekarang adalah vagina, bukan lubang anus?"

Samar-samar dapat terlihat semburat merah muncul di pipi Minseok. Ya... sepertinya Luhan benar. Seorang straight dan meminta pasangan lelakinya memanggilnya 'oppa', sepertinya sudah pasti karena Minseok menganggap dia sedang melakukan seks dengan perempuan. Tapi kalau begitu Kris harus mengocok penisnya sendiri untuk ejakulasi-

"Haa-" Kris terkaget. Sebuah tangan meremas kemaluannya dengan keras. Dan itu bukan tangan Minseok melainkan tangan Luhan. Dia berjongkok di sebelah Minseok, mulai mengocok-ngocok penis Kris dengan usil. Mata Kris dan matanya bertemu, dan Luhan langsung menyeringai lebar.

"Ada baiknya kalau kau sekarang juga memanggilku dengan oppa, Kris."

Mata Kris mengerjap, namun karena dirinya sedang terpengaruh afrodisiak, dia lalu mengangguk. "Luhan-oppa...-"

Kocokan Luhan semakin cepat.

"Aaahh!... Luhan-oppa-..." sama seperti genjotan Minseok yang semakin cepat ketika Kris memanggilnya oppa, Luhan juga mempercepat kocokannya di penis Kris ketika kata oppa mulai terdengar. "Luhan-oppa, Luhan-oppa-... oppa, oppa, oppa!"

SPURT!—

Kris melemas. Cairan sperma baru saja menyembur keluar dari penisnya. Membasahi perut Minseok dan perutnya sendiri sekaligus. Luhan menatapnya tajam sambil menyeringai. Tangannya yang belepotan sperma Kris mulai mengurut kejantanan itu lagi dengan gerakan naik turun. Kris menggeliat, merasakan rangsangan kembali dari penis dan prostatnya yang tersodok penis Minseok. Entah kenapa, penis Minseok tidak sekeras tadi sebelum ia klimaks. Luhan pun makin lincah memainkan penisnya hingga kejantanan itu berdiri lagi.

Disentuh oleh dua orang membuat Kris sadar bahwa aktivitas gangbang sudah benar-benar dimulai.

/ / /

Luhan masih mengurut cepat penis Kris. Jari-jarinya bergerak mengusap penis itu, membersihkan bekas sperma yang tertinggal. "Kamu cepat sekali keluarnya, Kris. Mau dipakaikan cock ring lagi?"

Kris menggeleng dengan takut, matanya melotot membayangkan pengait dasi Sehun kembali mengikat batang kemaluannya. "Tidak perlu! Aku klimaks cepat hanya karena... kopi dan permen..." Oh, kopi dan permen afrodisiak yang diberikan Kai itu sepertinya membuat Kris merasakan sentuhan empat kali lebih sensitif dari biasanya alhasil membuatnya terangsang dan klimaks lebih cepat. Contohnya sekarang ketika penisnya kembali menegang lagi di genggaman Luhan.

"Ah, kamu juga bangun dengan cepat sekali." Kali ini Baekhyun yang terkekeh, melihat penis Kris yang sudah kembali menegang. Kris merasa frustrasi dan panik membayangkan bagaimana afrodisiak itu bekerja di tubuhnya nanti.

Menyadari ketakutan Kris, Chanyeol yang duduk di sebelahnya langsung mengangkat tubuh bagian atas Kris hingga kepala Kris kembali beristirahat di pangkuan Chanyeol. Chanyeol mengelus kepala Kris dengan amat lembut, memeluk lehernya dan bergumam pelan "ssh semuanya akan baik-baik saja, tidak apa-apa, tenanglah Kris" layaknya kekasih yang sangat perhatian. Tapi Kris tetap berteriak saat secara bersamaan Minseok tiba-tiba mengeluarkan penisnya dan memasukkannya lagi langsung membentur prostatnya, serta Luhan yang mencolek lubang kencingnya. Dua sentuhan yang diterima Kris secara bersamaan adalah sensasi baru untuknya, membuat sekujur tubuhnya memanas, terangsang, menginginkan lebih, lebih, dan lebih lagi-

-dan tanpa sadar dia meraih penis Chanyeol yang masih tergantung lemas di luar celana dan melumatnya nafsu. "Mmmh...~"

Chanyeol tersentak, tentu, dan menegang lagi di dalam mulut Kris. Tak lama dia pun sudah memaju-mundurkan pinggulnya dan kembali mencabuli mulut Kris dengan penisnya, dengan ritme yang sama cepatnya dengan sodokan Minseok di anus Kris. Luhan pun tidak mau menyerah, dia mengelus penis Kris pelan-pelan, tiba-tiba mengocoknya cepat, dan kembali pelan. Sensasi yang dirasakan Kris di anusnya membuat penisnya menegang—memberi kepuasan pada tangan Luhan, dan menyebabkannya mendesah—memberikan getaran memuaskan pada kejantanan Chanyeol.

Semua orang di sana mulai bernapas berat melihat pemandangan itu. Beberapa mengelus penis mereka sendiri. Mereka sadar bahwa ini benar-benar gangbang. Tiga orang menggerayangi Kris. Satu mencabuli anus Kris, satu mengocok kejantanannya, dan satu lagi mencumbu mulutnya. Kris sendiri bagaikan bayi yang terus mengedot pada botol susunya, mengisap dan menyusu pada penis Chanyeol terus sambil melakukan hal lain—dalam hal ini, sambil memuaskan orang lain.

Sepertinya tiga orang tetaplah tidak cukup karena Baekhyun tiba-tiba membungkukkan badannya dan mengisap puting dada Kris. "Slrrrp~"

Reaksi Kris benar-benar tidak setengah-setengah. Dia langsung melonjak kaget, menggeliat hebat dan bahkan membalikkan badannya ke arah yang membelakangi Baekhyun—refleks melepaskan penis Chanyeol serta tangan Luhan. Penis Minseok masih sukses tertanam di dalam karena ia memegang paha Kris kuat-kuat, untungnya.

Reaksi Kris sungguh mengagetkan semua orang yang ada di sana, namun Baekhyun justru tertawa geli dan berjalan ke sisi yang lain, berjongkok tepat di depan dada Kris lagi. "Wah, aku ditolak, ya. Aku sedih." Ucap Baekhyun sambil mencubit-cubit sekitar puting Kris, membuat Host itu menggeliat hebat lagi. Kalau saja Minseok tidak menahan tubuh bagian bawahnya, mungkin Kris sudah akan berlari kabur saat ini.

"Kan sudah aku bilang," Sehun berjalan ke arah mereka dengan meminum sebotol cola dari dalam ranselnya, "Puting Kris sensitif. Tadi sudah aku kasih tahu, kan."

"Aku tahu," Baekhyun merespon tanpa menatap Sehun sedikit pun. Tangannya masih sibuk di dada Kris, memainkan puting susunya. Cubit, tarik, pelintir. "Bukan hanya putingnya, tapi dadanya juga."

Kris kembali terlonjak ketika kedua tangan Baekhyun meremas-remas dada bidangnya, yang memang agak menonjol karena otot, seakan yang ada di genggamannya adalah payudara wanita. "Sensitif sekali dadamu, mirip perempuan..."

Sehun menyeringai. Sewaktu Baekhyun masih sibuk mengeksplorasi dada Kris, murid SMA itu membisikkan sesuatu pada Luhan yang dibalas dengan anggukan, kemudian si CEO muda langsung meremas penis tegang Kris dan memijatnya pelan.

"Aahh-! Luhan-... oppa! Jangan mainkan penisku sekarang!..."

'Sekarang'...?

Baekhyun menyeringai mengerti. Dia langsung mencubit kedua dada Kris, dan di saat bersamaan pun Luhan mengocok penis Kris dengan sangat cepat. Ditambah dengan sodokan Minseok pada prostatnya, jadilah Kris klimaks kembali untuk yang kedua kalinya.

Akan tetapi, reaksi Kris pada klimaks yang satu ini tidak puas ataupun tenang. Ekspresi takut justru tampak di wajahnya, takut dengan efek afrodisiak yang sudah bekerja. Dalam sepuluh menit, Kris sudah dua kali klimaks. Apalagi afrodisiak itu membuatnya menjadi empat kali lebih sensitif. Terlebih, sentuhan yang dia terima dalam satu waktu akan jadi lebih banyak jumlahnya daripada biasanya karena makin banyak tangan yang menggerayangi.

Ini bukan kemauan Kris, tapi merasakan prostatnya tetap disodok berkali-kali lagi-lagi membuatnya setengah menegang. Seperti obat-obatan pada umumnya, kesadaran Kris pun mulai kabur, dipengaruhi oleh afrodisiak, dan yang dia inginkan hanya sentuhan dan terus mendesah. "Oppaaaaa...—terus setubuhi aku-"

"...udahan ah."

...

Eh?

Mata Kris membelalak kaget. Minseok tiba-tiba berhenti menggenjot anusnya setelah mengatakan hal selirih itu. Penisnya masih bersarang di dalam Kris, namun sudah tidak lagi bergerak dan sudah terasa lemas. Apa... Minseok serius? Dia sudah tidak mau lagi menyentuh Kris, bahkan sebelum klimaks? Kris mengerjap. Hei-... ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Semua klien Kris akan keenakan dengan tubuhnya. Tidak ada yang tidak dapat klimaks selagi bersama Kris.

"Wah! Ada apa ini?" Suho yang dari tadi memantau mereka langsung membuka mulut. "Kris si Host nomor satu gagal membuat kliennya klimaks?"

"Aku..." Minseok menggumam pelan sambil membuang muka, "Aku straight... aku nggak mungkin bisa terangsang semudah itu oleh Kris."

Luhan memutar bola matanya malas. "Tapi kau tadi memperkosanya seperti kesetanan."

"Tapi—aku straight! Aku dari sananya straight! Jadi kalau ada sesuatu yang nggak biasa untukku, aku bisa mudah lemas lagi-"

Sekarang Kris mengerti kenapa ia merasa penis Minseok tidak menegang lagi ketika Kris mencapai klimaksnya tadi. Saat itu, Minseok sudah kehilangan nafsu homoseksnya. Dan mengingat sedari tadi Kris harus memanggilnya oppa serta Minseok tidak ingin memegang penis Kris, pasti alasannya adalah-...

Sperma Kris tadi menyembur ke perut Minseok, sementara perempuan yang orgasme jarang sekali klimaks dengan menyemburkan cairan dari dalam vagina mereka. Dan Minseok yang straight lebih senang menganggap yang disetubuhinya adalah perempuan asli.

Oh, ini murni kesalahan Kris. Seharusnya ia tahu pelanggan yang straight akan lebih tricky. Lebih rumit. Di saat lelaki homoseks senang melihat sperma lelaki lain, lelaki straight merasa jijik dengan itu.

Sepertinya Baekhyun menyadari hal yang sama karena lagi-lagi dia tertawa. "Aku sudah mempersiapkan hal ini, Hyung! Tenang saja..."

Baekhyun merogoh tasnya, sementara Kris tertegun lagi. Ia hampir lupa bahwa Baekhyun-lah yang memiliki ide untuk menikmati Kris bersama-sama. Selain itu, Baekhyun membawa Minseok ke sini. Baekhyun juga yang menyarankan supaya Minseok memasukinya duluan setelah Sehun. Bahkan dia sudah mempersiapkan kalau-kalau Minseok berubah pikiran di tengah sesi seks mereka. Sejak awal, ia pasti sudah merencanakan 'Minseok menyetubuhi Kris' untuk terjadi malam ini.

Ya Tuhan. Berarti ini semua adalah rencananya dari awal.

Sambil tersenyum, Baekhyun mengeluarkan sebuah alat aneh yang berbentuk seperti dua corong yang terhubung dengan kabel dan remote di ujungnya. "Tada~! Breast Pump!"

Semua di sana diam, kecuali Luhan dan Minseok—mereka melotot kaget.

"Ada apa? Kalian nggak tahu breast pump?" Baekhyun nyengir. "Bodoh. Ini namanya breast pump. Pompa payudara. Tahu kan gimana maksudnya? Breast Pump ini alat untuk memompa payudara. Biasanya dipakai oleh para ibu menyusui supaya susunya bisa keluar."

Kris menggigit bibir bawahnya. Hei. Dia sudah merasa ada sesuatu yang gawat yang akan terjadi.

"Gimana kalau kita pakai breast pump ini di dada Kris?" Senyuman kembali muncul di bibir Baekhyun. "Kemungkinan paling bagus adalah dada Kris membengkak sampai membesar. Dan mungkin sampai mengeluarkan susu entah dari mana."

Sudah terduga.

"Kau mau bermain dengan payudara kan, Minseok hyung?" Sungguh, Kris ingin sekali menonjok wajah Baekhyun supaya seringai itu sirna. "Aku akan membentuk payudara di tubuh Kris untukmu."

"Tuan Baekhyun-" akhirnya Kris bersuara juga, "Kau benar-benar sudah merencanakan ini dari awal-... merencanakan Minseok untuk menyetubuhiku-"

"Eh? Salah!" Baekhyun terkikik geli. "Kami kakak adik, Kris. Kami punya Kink yang sama. Yaitu dada. Bedanya, Hyung suka dada perempuan sementara aku suka dada laki-laki."

Dan dengan itu Baekhyun berjongkok lagi untuk melumat dada Kris, melanjutkan kata-katanya masih dengan puting Kris di mulutnya. "Apalagi—slrrrp—dada laki-laki seperti Kris—nyam nyam—yang besar dan bidang—ummh—seperti minta diremas."

"Ah! Ah...! Akh!" Tentu, Kris menjerit dengan setiap lumatan Baekhyun pada dadanya. Berengsek, Kris sampai menangis sekarang—dada adalah area sensitifnya, dan Baekhyun pas sekali memiliki Kink terhadap puting. Kris takut kedua puting susunya dipermainkan habis-habisan oleh bottom sadis semacam Baekhyun ini.

Tapi Kris juga tidak sabar ingin merasakan putingnya dipermainkan.

Tak perlu waktu lama bagi Baekhyun untuk memasang corong breast pumper itu di sekitar kedua puting Kris. Chanyeol harus menahan kedua tangan Kris di atas kepalanya karena Kris berusaha memberontak ingin melepaskan breast pump itu dari dadanya. Kris terus mengatakan bahwa dirinya adalah laki-laki dan breast pump itu tidak mungkin berpengaruh... tapi sebenarnya alat untuk wanita menyusui itu benar-benar bekerja di dada laki-laki, ketika alat berbentuk corong itu mulai memijat-mijat area sekitar puting Kris dan mengisapnya sehingga menarik dadanya hingga ke bagian sempit corong. Semua mata menatap alat itu bekerja dengan kagum, menyaksikan bagaimana dada Kris yang rata tertarik ke depan dan berangsur membengkak oleh tarikan alat itu, menjadi agak membulat. Minseok bahkan menatap dada Kris dengan mulut terbuka kaget. Sementara Kris sendiri? Terus berteriak-teriak setiap dadanya terasa dihisap.

"TIDAK...! STOP—ahhh Tuan Baekhyun!... Hentikan—aaaaangh~ sakiiiiit~...!" Setetes air mata turun dari sebelah matanya. "Oh... OH! Dadaku—sssshh—Baekhyun-!"

"Ada apa, Noona?" Baekhyun duduk santai di sebelah Kris sambil tersenyum manis, menyaksikan breast pump yang dibawanya bekerja terus menerus berusaha mengisap susu keluar dari dada bidang Kris. Dia lalu menatap Chanyeol yang masih setia memegang kedua pergelangan tangan Kris supaya tidak memberontak. Ekspresi cemas jelas terlihat dari lelaki bertelinga caplang itu. "Jangan khawatir, Chanyeol. Kris menangis lah, bilang sakit lah, tapi tubuhnya tidak berkata demikian."

Chanyeol melihat kejantanan Kris yang sekarang kembali berada di genggaman Luhan. Padahal sepertinya baru saja lima menit yang lalu Kris klimaks, namun sekarang kejantanan itu telah mengeluarkan precum lagi. Luhan bahkan belum mengocoknya, hanya sedang bermain-main dengan bola kembarnya. Bahkan lebih banyak precum yang keluar lagi saat Baekhyun iseng menyentil breast pump tersebut, menyebabkan dada kris ikut bergetar. Chanyeol menelan liurnya. Benar-benar bukan bohongan saat Sehun bilang dada kris sensitif...

Kris terlalu tenggelam oleh kepuasannya sendiri sehingga sampai tidak menyadari bahwa penis Minseok di dalamnya berangsur-angsur menegang lagi. Kakak Baekhyun itu mulai terangsang dengan pemandangan di bawahnya ini—Kris si lelaki bertubuh perkasa menjerit keenakan karena dua alat berbentuk corong yang mengisap keras dadanya. Dada Kris pun mulai membesar, membengkak dan agak mencondong ke depan, bagaikan payudara kecil. Tanpa sadar Minseok mulai menggerakkan pinggulnya lagi maju mundur, mengeluar-masukkan penisnya di lubang Kris, menggenjotnya lagi. Baekhyun yang menyadari bahwa Minseok sudah mulai terangsang, langsung melepaskan breast pump itu dari dada Kris, menampakkan dada dan puting Kris yang bengkak tepat di depan mata Minseok. Minseok membelalak kaget, darah otomatis turun ke penisnya yang mengorek-korek dinding anus Kris, membuat Host itu menyadari bahwa Minseok mulai bersemangat. Kris segera menatap mata Minseok dengan mata yang setengah tertutup karena diselimuti oleh nafsu, mulutnya berucap pelan, "Oppa..."

Minseok menggigit bibir bawahnya. Ini... aneh. Kris laki-laki jantan, dadanya yang sekarang membesar hanyalah artifisial, tidak alami—tapi kenapa Minseok tetap bisa tergiur!? Ini aneh dan konyol. Dan Minseok membenci dirinya sendiri yang terangsang oleh hal seaneh ini!

"Min-hyung..." Baekhyun meremas dada Kris yang naik turun—dan bukan hanya dia, Chanyeol yang masih memegang tangan Kris dengan satu tangannya pun ikut meremas dada Kris dengan tangannya yang bebas. "Kris indah, kan?"

Minseok tertegun.

Indah, benar...

Mungkin itu yang membuat Minseok terangsang. Yifan indah. Rambutnya keemasan bagaikan malaikat. Wajahnya cantik dengan tulang pipi yang keras. Bulu matanya panjang. Hidungnya mancung. Bibirnya mungil dan penuh. Yifan sudah cukup indah ketika berpakaian, apalagi ketika telanjang seperti ini—mengorbankan tubuhnya untuk dipermainkan supaya Minseok senang.

Yifan indah.

"Ah... Yifan.. Yifaaaan-" Sodokannya semakin keras menusuk-nusuk prostat Kris. Kris dapat merasakan cairan hangat mengalir di dalamnya, sebelum Minseok berteriak "Yifaaaaan!..." dan menumpahkan spermanya ke dalam lubang Host itu.

Minseok melemas, menarik keluar penisnya yang sudah lemas dari dalam Kris, melihat basah di batangnya yang sama dengan cairan basah di mulut anus Kris. Minseok tidak percaya—dia baru saja klimaks di dalam pantat seorang laki-laki.

Sambil memegangi kejantanannya, Minseok langsung bangkit dan berlari ke arah toilet.

"Hore! Selamat, 'Yifan', kamu membuat sahabatmu tidak perjaka lagi," Baekhyun mengecup bibir Kris pelan, mencubit-cubit dua tonjolan di dadanya dengan gemas. Dia lalu menyadari bahwa Kris masih mendesah-desah karena Luhan yang sedari tadi mengocok penisnya dengan mau tak mau—kocok pelan, cepat, lalu berhenti. Hanya memainkan bolanya, batangnya, lalu diam lagi. Luhan mengerjai Kris, Baekhyun tahu itu. Dan dia benar-benar senang semua tamu di sini mau bekerja sama dengannya tanpa sadar. "Kau mau klimaks, Kris?"

"Ah... I —iya-... Baekhyun, kumohon-..."

"Luhan hyung, percepat kocokanmu..."

Luhan melakukan apa yang Baekhyun perintah, namun dia menyeringai aneh.

"Ahh-! Tuan Luhan... aku-, sebentar lagi-..." Kris memejamkan matanya, menikmati kocokan yang membuat spermanya berlomba-lomba menyusuri saluran penisnya untuk keluar dan-

-gagal keluar karena Luhan menggenggam penisnya erat-erat di antara skrotum dan batangnya.

Kris menatapnya emosi. Kepalanya rasanya pusing karena harus menahan sperma yang sebentar lagi seharusnya sudah keluar. "Tuan Luhaaaaaaan...! Kumohon-"

"Nggak segampang itu, Kris... aku belum mendapatkan giliranku." Baekhyun tersenyum. Ia pindah duduk ke depan Kris, tempat di mana ia bisa melihat anus dan penis Kris dengan sangat jelas, kemudian menjejaki sekeliling liang Kris dengan telunjuknya. "Ah... sudah agak longgar, tapi tetap asyik untuk dikerjai."

Kris menggelinjang cemas. Dikerjai, katanya? Mengingat ini adalah Baekhyun yang dari tadi memiliki rencana licik, Kris jadi takut. Apalagi setelah Baekhyun kembali merogoh isi tasnya dan mengeluarkan suatu mainan berbentuk kapsul kecil yang ia yakini sebagai buttplug. Penyumbat jalan saluran di anusnya. Bukan hanya satu buttplug, tapi tujuh—berwarna-warni seperti pelangi yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Ketujuhnya diikat dengan tali kabel yang lagi-lagi terhubung dengan satu remote.

"Indah, bukan?" Baekhyun tersenyum, mengangkat ketujuh buttplugnya tinggi-tinggi supaya terlihat oleh semuanya. "Aku yang bikin sendiri, lho! Lucu, kan? Warna-warni! Dan sangat berguna juga."

Di kalimat terakhirnya itu nada bicara Baekhyun memelan dan akhirnya memasukan buttplug berwarna merah ke dalam lubang pantat Kris. Kris terlonjak sedikit, dinding anusnya mulai bekerja meremas buttplug merah itu.

Baekhyun melebarkan lubang Kris sedikit ke samping, menyaksikan bagaimana liang itu masih memiliki celah—meski berkedut untuk menutup. Dengan cepat dia tambahkan lagi buttplug jingga ke dalam lubang yang sama, tepat di sebelah buttplug merah. Tanpa berhenti ia masukkan lagi buttplug kuning dan hijau di bawah buttplug merah—kali ini Kris tersentak.

"Tuan, kamu—jangan!" Kris menggeliat, namun gerakannya malah membuat Luhan semakin erat memegangi pangkal penis Kris, membuatnya semakin teraniaya dan memutuskan untuk diam. "Sudah-... jangan masukkan lagi... lubangku sudah penuh-"

"Kan baru empat?" Baekhyun menatap Kris dengan ekspresi lugu, padahal tangannya kembali menyelipkan buttplug kelima—warna biru—ke dalam Kris. Kali ini sudah agak sulit untuk masuk, menyebabkan Baekhyun harus menarik dan melebarkan lubang itu terlebih dahulu. "Empat itu baru sedikit, Kris. Tadi saja kau berhasil menampung handphoneku di dalammu... aku yakin kau bisa menerima tujuh buttplug di dalammu."

Setelah itu Baekhyun langsung menyelipkan buttplug keenam.

"Aaahh, Baekhyun—mmph," Jeritan Kris berhenti di tengah-tengah karena Chanyeol tiba-tiba berjongkok di atas wajahnya, mengangkangi dan menyodorkan penisnya ke bibir Kris. Tidak perlu disuruh, Kris sudah langsung membuka mulutnya dan membiarkan Chanyeol memasukkan penis ke dalam mulutnya. Naluri Host yang terpengaruh afrodisiak bekerja lebih baik daripada otaknya saat ini. Ketika Kris mulai sibuk melumat dan mengisap penis Chanyeol, Baekhyun memasukkan buttplug ketujuh ke dalamnya dan menepuk ketujuh sextoy itu dengan telapak tangannya supaya semua bagian tubuh buttplug itu benar-benar masuk tenggelam ke dalam anus Kris, hanya meninggalkan tujuh kabel yang tersisa di luar. Remote yang terletak di ujung ketujuh kabel itu mulai Baekhyun pegang, tombol yang paling besar ia tekan dan tujuh buttplug di dalam Kris tiba-tiba bergetar hebat.

"OH—oohhh, aaaaggh! t—Tuan Baekhyun!" Jerit Kris. "Ah, ahh, aaangh—henti-.. ohhh-... ahh, aaa-" Saking kuatnya getaran yang diterima Kris, si pirang itu bahkan tanpa sadar melepehkan penis favoritnya untuk berteriak. Tujuh buttplug di dalamnya itu bagaikan bergerak-gerak liar. Kris tak henti-hentinya menggeliat tidak tenang, lubangnya berkedut untuk mengeluarkan tujuh benda itu secara paksa, namun sangat sulit. Ia ingin klimaks—tapi tangan Luhan di penisnya menahannya kuat. Teriakannya langsung reda saat Chanyeol kembali menyodokkan penis basahnya ke mulut Kris, hanya menyisakan suara desahan yang tertahan.

Sampai kapan Baekhyun akan menyiksa Kris seperti ini? Otak Kris mengatakan untuk berhenti. Tapi tubuhnya menginginkan untuk terus lanjut.

Kris menangis dalam kepuasan.

"Aku mau mainan itu, Hyung." Kali ini si Sadistik Nomor Dua—alias Sehun—yang angkat bicara. "Buatkan untukku nanti. Aku bayar."

Baekhyun tertawa, lalu dengan pelan menepis tangan Luhan dari penis Kris. "Kau sangat bersemangat, Bocah. Maaf, Luhan hyung, aku mau mengubah posisi Kris, setelah ini kau boleh melanjutkan mengusili penis Kris."

Kris merasa tidak tenang. Membalik posisi? Untuk apa...? Buttplug saja sudah membuat Kris lemas setengah mati, apalagi yang Baekhyun rencanakan sekarang?

"Chanyeol... bantu aku membalik badan Kris." Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, dan Chanyeol langsung mengerti. Chanyeol melepaskan penisnya dari mulut Kris, membalikkan tubuh pria itu dengan mudah—mungkin karena Kris sudah kelelahan dan ogah melawan—hingga si pirang berposisi telungkup di atas permadani. Ketujuh kabel putih dapat terlihat jelas membentang dari pantat Kris hingga ke remote yang sekarang sudah tidak di genggaman Baekhyun. Buttplug yang bersarang di anusnya dapat terlihat bergetar-getar sampai membuat anus Kris terus berkedut. Setelah itu, untuk pertama kalinya hari ini, Baekhyun menurunkan resleting celananya, menampilkan kejantanannya—berukuran normal, agak kontras dengan tubuh langsing dan femininnya—yang sudah berdiri tegak. "Siap-siap, Kris."

Kris tidak diberi waktu untuk benar-benar bersiap-siap karena Baekhyun langsung mengangkat pinggul Kris dan menusukkan penis tegangnya ke dalam Kris, bersama dengan tujuh buttplug yang masih bersarang di sana. Kris berteriak kaget, merasakan penuh di dalamnya oleh buttplug yang terus bergetar menggelitiki dinding lubangnya dan juga kejantanan Baekhyun yang langsung masuk sepenuhnya—menusuk-nusuk makin dalam seolah mencari prostat Kris. Seks doggy style yang dilakukan Baekhyun lebih mantap sensasinya karena ada tambahan tujuh mainan di dalam sana yang ikut bergetar.

"Oohh-... sempit!" Baekhyun terkikik, "Penisku kau remas-remas tanpa ampun, Kris... ah~... buttplugnya pun bergetar di batangku—akh! Sialan, ini luar biasa! Hangat-, penisku diremas, dan digetar! Oohh~... aku nggak menyesal membawa buttplug ini ke sini!"

Baekhyun terus meracau keenakan, sementara Kris tidak diberikan waktu untuk mendesah sedikit pun karena Chanyeol kembali mencumbu mulutnya menggunakan penisnya yang besar—memperkosa mulut Kris.

"Emmmh... umm-" Kris pasrah. Ia dimasuki oleh penis dari depan dan belakang—di mulut dan anusnya. Sudah tidak ada lagi keinginan untuk melawan—dia benar-benar menjadi cockslut. Senang mendapatkan banyak penis di saat yang sama. Oh, ini menyakitkan, juga menggairahkan. Kenapa tadi dia sampai takut? Ternyata sensasinya seenak ini, Kris seharusnya bahagia-... iya...

"Mmmph~~!" Dia mendesah di penis Chanyeol ketika Baekhyun membungkuk, menempelkan dadanya ke punggung Kris, kedua tangannya menyusup ke dada si Host untuk mencubit-cubit dada bengkaknya. Selagi mencubit dan meremas-remas pun Baekhyun tidak mengurangi kecepatan genjotannya, membuat Kris merasakan kepuasan tiga kali lipat. Tangannya yang lemas ingin sekali mengocok kejantanannya supaya bisa orgasme, tapi ia tidak sanggup—dan Luhan sudah keburu menggunakan kesempatan ini untuk kembali menggenggam pangkal penis Kris dengan erat untuk melarangnya mencapai klimaks.

"Kriiis~... aaahh, enak-" Baekhyun terus menggumam sambil menggenjot lubang Kris dengan liar, tangannya menggerayangi dada Kris untuk menarik dan memelintir dua tonjolan tegang itu. "Kau-... hangat... sial-"

Kris tidak merespon, sibuk dengan kejantanan Chanyeol yang mulai merasuki kerongkongannya, dan pusing akibat saluran pengeluaran spermanya disumbat oleh Luhan.

"Ahh—aku hampir-" Kris merasa lega menyadari Baekhyun akan klimaks sebentar lagi. "-Chanyeol, setelah ini giliranmu."

"Eh...!?" Keterkejutan Chanyeol membuat penisnya makin membesar hingga benar-benar menyentuh kerongkongan Kris. Kris yang kaget langsung refleks mempersempit lubang anusnya, membuat dinding-dindingnya meremas penis Baekhyun dengan sangat kuat, dan mengakibatkan Baekhyun tidak dapat menahan lagi semprotan spermanya di dalam Kris. Efek domino yang sukses, Kris akui.

Tapi Kris tidak puas. Dia masih belum klimaks akibat tangan Luhan yang masih setia memegangi pangkal kejantanannya. Bahkan setelah Baekhyun mencabut penisnya dan ketujuh buttplug dari dalam Kris, membuat banyak sperma—milik Luhan, Sehun, Minseok, dan Baekhyun—meluber keluar, dan munculnya rasa hampa di anus Kris, Kris tetap tidak dapat klimaks. Malah skrotumnya yang membesar karena menyimpan banyak sperma yang seharusnya sudah keluar dari tadi. Baekhyun langsung menaikkan lagi resletingnya setelah mengelap selangkangannya dengan tisu seadanya, lalu mencium punggung Kris. "Tenang saja Kris, kau akan kuizinkan klimaks setelah Chanyeol menyetubuhimu."

Chanyeol melotot kaget, langsung mencabut penisnya dari mulut Kris. "Tidak..! Aku sayang Kris, aku tidak mau menyetubuhinya-"

"Cerewet! Sayang apanya, dari tadi kamu memperkosa mulut Kris!" Luhan membentak sebal.

"Tapi aku memang sudah puas hanya dengan blowjob-"

"Munafik! Blowjobmu dari tadi nggak cukup satu kali!"

"Aku benar-benar tidak bisa kalau harus menyiksa lubang Kris lagi-"

"Chanyeol, fuck me."

Tiba-tiba Kris menggenggam tangan Chanyeol, menatapnya dengan nafsu. Chanyeol terdiam, merasa salah dengar tentang yang dikatakan Kris tadi, lalu Kris mengulang ucapannya. "Fuck me, Chanyeol. Masuki lubangku dengan penismu. Setubuhi aku. Tidak apa-apa... aku tidak akan merasa kesakitan. Aku.. suka apabila kamu memasukiku."

Oh, sudah dikatakan tadi bahwa Kris sudah tenggelam oleh nafsu, bukan?

Ucapan Kris yang terlalu slutty, dan juga wajahnya yang terlihat sangat menggoda, akhirnya mengeluarkan hasrat tertahan Chanyeol. Lelaki itu duduk di permadani, mengangkat tubuh Kris—yang tidak melawan—untuk duduk di pangkuannya. Penis mereka bergesekan.

"Maaf, Kris—aku ingin memasukkannya sambil menatap wajahmu, bolehkah?-"

Kris tersenyum dan mengangguk pelan, "Semua untukmu, Chanyeol."

Tidak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk merasa gemas pada wajah Kris di depannya itu dan langsung melumat bibirnya dengan lembut. Selagi memagut bibir bawah Kris, Chanyeol juga mempersiapkan kejantanannya di bawah pantat Kris, menusuk-nusuk kepala penisnya ke mulut anus Host tersebut. Gerakannya tetap pelan-pelan karena Chanyeol masih ragu untuk menyakiti Kris, namun tanpa terduga Kris-lah yang menurunkan pinggulnya lebih dahulu, membuat penis Chanyeol melesak masuk.

"Aahh Kris-!" Chanyeol memejamkan mata, penisnya menegang di dalam. Pipinya dielus oleh Kris, lelaki itu bernapas tepat di kulit wajah Chanyeol, menyebabkan Chanyeol makin terangsang dan ikut menaikturunkan pinggulnya. Kris memeluk leher Chanyeol, mendesah dalam diam. Chanyeol pun membuka matanya perlahan, menjilati ujung bibir Kris, dan tak lama menjilati seluruh bagian wajah Kris dari bibir, dahi, pipi, hingga dagu.

Meski posisi mereka dinamakan bottom on top, sama seperti yang dilakukan Kris bersama Sehun tadi, nuansanya benar-benar berbeda. Tidak ada dirty talk, tidak ada kesadisan, tidak ada teriak kesakitan. Setiap genjotan Chanyeol, dan tunggangan Kris pada penis Chanyeol, terkesan steady dan tidak terburu-buru. Tidak mementingkan nafsu sepihak, namun kepuasan kedua belah pihak. Memberikan kesenangan pada Chanyeol dan juga Kris. Lembut, pelan—agak cepat, dan normal. Bahkan tidak ada satu pun orang yang berani menyentuh Kris sekarang. Chanyeol dan Kris saat ini seperti sepasang kekasih normal pada umumnya, aura murni dan kasih sayang meliputi mereka, seakan barusan mereka sedang tidak mengerjakan aktivitas amoral berupa gangbang.

Ketika Chanyeol sudah menemukan prostat Kris, ia memeluk pinggang Kris posesif, dan Kris mengalungkan kedua tangannya pada leher Chanyeol dengan sayang. Keduanya bergerak ke atas dan ke bawah beraturan untuk menemukan titik kepuasan itu. Satu tangan Chanyeol mengocok kemaluan Kris cepat. Karena sperma yang disimpannya sedari tadi sudah terlalu banyak, hanya butuh lima kali sodokan penis Chanyeol pada prostatnya membuat Kris melenguh panjang, rasa yang familiar muncul di perut bagian bawahnya dan ia menyemburkan cairan cintanya ke perutnya sendiri dan juga perut Chanyeol.

Tapi Chanyeol belum klimaks, dan Kris tahu bahwa ia harus memuaskan pelanggannya sampai orgasme. Jadi, dengan napas berat, dia membiarkan Chanyeol menusuknya terus menerus.

Kalau untuk Chanyeol, Kris rela disetubuhi sampai selama apapun.

Chanyeol menggeram, memeluk tubuh Kris untuk menariknya mendekat. Dia membenamkan wajahnya di dada Kris, mengemut-emut satu putingnya yang menegang, menyusu penuh nafsu. Kris hanya mendesah pelan, menggigit bibir bawahnya sambil mengelus kepala Chanyeol, seakan memperbolehkannya memainkan dada Kris sampai ia puas. Chanyeol masih malu, sayangnya—dia melepaskan puting Kris dari mulutnya dengan wajah yang memerah menatap wajah Kris, dan si Host nomor satu bisa merasakan penis Chanyeol makin tegang di dalamnya. Ah, menyentuh tubuh Kris lebih jauh lagi membuat Chanyeol semakin terangsang, Kris langsung sadar akan hal itu. Jadi dia langsung menangkup pipi Chanyeol, menatap matanya dengan lembut, lalu tersenyum tenang. "Tidak usah malu untuk mengeluarkannya di dalamku, Chanyeol."

Chanyeol mengerjap, sesaat mukanya langsung memerah padam dan spermanya tersembur keluar tepat di prostat Kris. Kris melenguh puas, strateginya ternyata berhasil, dan dia sukses memuaskan satu lagi pelanggannya. Tapi ia sama sekali tidak merencanakan adanya cairan merah kental di telapak tangannya-

-darah?

"Chanyeol!" Kris membelalakkan matanya melihat Chanyeol yang mengeluarkan banyak darah dari hidungnya. Chanyeol mimisan!

Chanyeol masih memandang Kris dengan tatapan terpesona sampai tidak menyadari adanya darah dari hidungnya, dan baru benar-benar menyadari hal itu saat darahnya sampai menetes ke bibir. "Eh... apa, Kris?... eh... WUAAAA APA INI!?"

Kris berdiri, mencabut penis Chanyeol dari dalamnya dan mengusap hidung berdarah Chanyeol. "Kau mimisan-"

"A, APA!?" Chanyeol menjerit, lalu langsung berlari ke ruang staf. "MAAF, AKU AKAN MENGOBATI INI DULU—M, MAAFKAN AKU!"

Pintu ruang staf ditutup dengan kasar oleh Chanyeol. Kris hanya menatapnya heran, sementara Luhan kembali menyindir Chanyeol dengan mulut tajamnya. "Payah, mimisan karena terangsang. Mirip anak kecil."

Kris hanya diam. Terus sekarang apa lagi?

...

"Hei, aku tadi bayar duluan bahkan sebelum kakaknya Baekhyun bayar, lho..." sebuah suara lembut mendekati Kris. "Aku sekarang boleh ikutan, kan?"

Kyungsoo. Kris mengenalnya dengan nama samaran Dio.

Kris pun menelan liur, merasa tegang. Kyungsoo adalah tamu yang baru pertama kali datang ke sini. Dia penasaran bagaimana teknik lelaki itu... dan tentu saja Kris akan memuaskannya sebagai tanda terima kasih akan kedatangan perdananya di Scappatella.

"... boleh, Tuan Dio. Pakai aku."

/ / /

Jongdae dan Zitao menelan liur mereka saat melihat pemandangan itu. Teman baik mereka, Kyungsoo—atau mulai saat ini disebut Dio demi menjaga nama baiknya—berbaring telentang di permadani tanpa satu helai benang pun di tubuhnya, bermandikan peluh.

Tubuh Kyungsoo... jangan ditanya—meskipun ia adalah seorang top, dan Zitao serta Jongdae merupakan bot, kedua orang itu tidak pernah bermimpi mau melakukan apapun kepada Kyungsoo sedikit pun karena tubuhnya tidak seperti seorang top. Kecil, mungil, pendek, agak tembam, cocok untuk dipeluk, squishy. Lebih cocok jadi bot, Kyungsoo itu. Meskipun saat ini Zitao dan Jongdae menyaksikan ada otot kecil yang tumbuh di bisepnya, serta empat kotak otot yang samar terlihat di abdomennya untuk menunjukkan bahwa dia memang seorang top jantan, juga kejantanannya yang tengah ereksi, Zitao dan Jongdae belum tentu mau menggoda Kyung.

Tapi yang jadi pusat permasalahan saat ini bukanlah tubuh Kyungsoo, tapi seorang pria tampan bagaikan malaikat di atas tubuhnya yang menggesekkan tubuh mereka masing-masing. Kris sengaja tidak menurunkan berat tubuhnya sepenuhnya ke atas tubuh kecil Dio, namun sekujur tubuh mereka tetap bergesekan—dada, paha, dan tentu saja penis. Dio memegang pinggul Kris, sesekali menekan tengkuknya untuk mencium bibir host itu, dan ciuman itu tak lama menjadi sebuah lumatan dengan Kyungsoo yang mendominasinya. Desahan "ah" seksi berkali-kali terdengar di antara mereka, yang mengejutkan karena desahan itu berasal dari mulut Kris sementara Kyungsoo hanya menggeram sesekali.

Ketika Kris menjadi agak nakal saat menduduki paha Kyungsoo dan menggesekkan pantatnya pada penis keras si lelaki lebih muda, Kyungsoo mulai mendesah dan menampar bokong Host nomor satu itu. "Masukkan saja langsung... aku tahu kau menginginkannya."

Kris menatap sendu pada Kyungsoo dengan mulut terbuka karena terengah, kemudian mendesis pelan begitu batang kemaluannya sengaja ditekan oleh Dio. "Aku mengerti... Master...—agh!"

Teriakannya di akhir kalimat makin menjadi-jadi saat penis Kyungsoo perlahan masuk sepenuhnya ke dalam lubang Kris. Si pirang diam sebentar sebelum menaikturunkan tubuhnya di atas tubuh Kyungsoo, makin lama makin cepat, mengenjot sendiri kejantanan Kyungsoo di dalamnya. Setiap kali Kris menjatuhkan dirinya di penis itu, suara tumbukan lembut—agak basah—antar kulit menggema di sana, dan Kris mendesah berulang-ulang. Zitao dan Jongdae, yang kebetulan berdiri di bela kang tubuh Kris, sampai harus menahan napas melihat pemandangan itu. Kris menjenjangkan lehernya, memejamkan mata sambil mengocok kemaluannya sendiri, dengan mulut yang tak henti-hentinya merutuk. "Ah—sial!... Master... Master Dio, ini enak—ahhhh..."

"Kris- ahhh, kau-... sudah cukup longgar untuk ukuran top, hmm?..." Kyungsoo meracau, menampar pantat Kris di setiap satu kata berhubung tamparan itu membuat Kris refleks menyempitkan lubangnya dan menjepit penis Kyungsoo.

"Ini karena kalian," Kris masih berusaha menjawab di tengah-tengah desahan kenikmatannya akibat pukulan Kyungsoo pada pantatnya terus menerus,"Para Master—yang dari tadi memasukiku bergantian... uuhh- e, enak sekali..."

"Kau suka lubangmu digilir seperti itu...?" Kyungsoo menggeram, suaranya kecil dan nadanya tak me maksa seperti nada ucapan Sehun atau Luhan, tapi Kris merasa ada sesuatu yang akan terjadi.

"I... iya. Aku suka, Tuan Dio."

"Kalau begitu, masukkan penismu ke dalamnya, Tao."

...oh, sudah Kris duga, pasti memang ada sesuatu.

Zitao dan Jongdae yang ada di belakang Kris, membelalak kaget. Lain dengan Kris sendiri—karena dia sudah tenggelam oleh nafsu, kenyataan bahwa dia akan mendapatkan dua penis di dalam lubangnya malah membuatnya makin antusias. Oh, bayangkan saja, bukan hanya satu penis yang akan mengaduk dalam lubangnya, tapi dua. Seperti apa rasanya? Akan selonggar apa lubang Kris...? Ah, pasti dalamnya akan terasa penuh dan ketat sekali. Kris sangat terangsang dengan imajinasinya sendiri itu, hingga precum kembali mengalir dari kemaluannya yang menegang.

Mendengar ucapan Kyungsoo itu, Kris berhenti menaikturunkan tubuhnya. Kris agak membungkuk, tangannya bergerak ke belakang dan meraih pantatnya sendiri, lalu membuka belahan pantatnya, menunjukkan pada Zitao penampakan lubangnya yang terisi oleh penis Kyungsoo secara sangat jelas. Kepalanya menoleh sedikit ke belakang, ke arah Zitao berdiri, dengan mata sendu yang menggoda, saliva yang mengalir dari mulutnya, dan air mata menggenang, mengeluarkan suara seksi meracau. "Masukkan saja Master... aku bisa menampungnya... kumohon berikan aku dua penis sekaligus di dalamku."

Sungguh suatu pemandangan yang cukup indah, Zitao akui. Lelaki setampan Kris menatapnya sendu, mencondongkan pantat kepadanya dan menunjukkan lubang anus yang terisi penuh oleh kejantanan yang memasukinya. Pemandangan yang indah dan penawaran yang luar biasa, ditambah dengan suara seksi Kris yang meminta untuk memerkosanya, tapi Zitao masih cukup waras untuk menolak. "A... aku ini bot!..."

"Apa salahnya? Kris juga seorang top. Tapi dia nggak masalah lubangnya dimasuki." Kyungsoo menggeram, sesekali menaikkan pinggulnya untuk menyerang dinding-dinding lubang Kris oleh penisnya. "Kau bilang kau mau kehilangan keperjakaanmu kepada si Host nomor satu hari ini, bagaimanapun caranya, Tao... ini kesempatanmu untuk kehilangan keperjakaanmu itu. Meski kau berada di posisi yang berbeda."

Zitao pun terdiam, mencerna kata-kata Kyungsoo. Memang benar—ia yang mengatakan hal itu tadi sore sebelum berangkat ke tempat ini. Penekanan di 'bagaimanapun caranya'. Menjadi top untuk Kris pun merupakan salah satu cara untuk melepaskan keperjakaannya kepada Kris, bukan? Dan lagi... kapan lagi Zitao bisa mendapatkan kesempatan seperti ini? Mengingat Kris sangat terkenal dan hampir selalu fully-booked dalam waktu sekian detik setelah klub dibuka—dan juga Zitao tidak yakin bisa melihat Kris sebagai top sempurna lagi setelah hari ini di mana Kris mendesah dan merengek meminta lubangnya untuk digaruk penis lelaki lain.

Zitao menelan liurnya. Tapi, Zitao tetap seorang bot!

"Nggak usah khawatir, masih muat, kok, tadi kamu kan lihat waktu Kris menampung tujuh buttplug," Sehun, yang sedang berjalan sembari mengusap sekilas dada Kris yang membengkak, berhenti di belakang Kris. "Mau aku bantu tidak?"

Sehun berjongkok, mengelus bongkahan kenyal si Host dan melebarkan lubang Kris dengan kedua jarinya hingga lubang itu merekah, memaksakan munculnya sedikit celah yang tidak terisi penis Kyungsoo. Sehun memasukkan satu jarinya ke dalam—menyebabkan penis Kyungsoo ikut tak sengaja terusap oleh jari tersebut—seakan tidak memperbolehkan celah itu kembali mengetat begitu saja sebelum Zitao memasukinya. "Tuh, Hyung. Sudah aku bantu melebarkan anusnya, tinggal masukkan saja."

Zitao masih ragu. Bukan hanya Kyungsoo, tapi Sehun yang tidak dia kenal pun sekarang memintanya ikut memerkosa Kris.

Kris justru keenakan, ia mendesah makin keras dan menggerakkan pantatnya dengan cepat. "Se- Tuan Sehuuuun...! Lebih dalam lagi-!"

Oh, Kris bahkan meminta Sehun memasukkan lebih.

"Cepatlah, Hyung." Sehun menatap Zitao dengan kesal, jari telunjuknya mengorek-korek dinding anus Kris hingga menyebabkan teriakan dari lelaki itu. "Atau penisku yang akan masuk ke dalam sini."

"Minggir, Bocah Oh, aku ingin Zitao yang mencicipi Host ini sekarang!" Gumam Kyungsoo, kakinya yang bebas menendang-nendang tubuh si Tuan Muda Oh.

Zitao terkesima dengan rasa kesetiakawanan Kyungsoo dan rasa dermawan yang ia miliki, rasa berbagi kepada sahabat, meski muncul di waktu yang salah: Berbagi tubuh manusia untuk dicumbu.

Zitao tetap harus berterima kasih atas kedermawanan Kyungsoo, omong-omong. Jadi dia mendudukkan dirinya tepat di belakang Kris, menurunkan celananya dan membebaskan kejantanannya yang sudah tegang di dalam sana. Dia mengarahkan kepala penisnya di dekat liang Kris, perlahan-lahan menyempilkan ujung kemaluan itu di antara penis Kyungsoo—yang sudah tertanam di dalam—dan jari Sehun. Setelah kepala kejantanan itu memasuki liang Kris, Sehun langsung menarik jarinya keluar, otomatis membuat lubang Kris kembali mengetat mencengkeram kedua penis yang ada di dalamnya.

"AHH!" Jerit Kris, tubuhnya bergoyang-goyang seakan mencari pegangan untuk menjaga keseimbangannya—dan Sehun memberikan pertolongan itu dengan berdiri di samping Kris dan menyerahkan penisnya untuk Kris genggam kuat-kuat. "T, tidak bisa...! Tidak mungkin muat- aahh, Tuan Tao...! Keluarkan—"

Zitao langsung merasa bersalah, baru saja dia mau mengeluarkan kembali kepala penisnya dari lubang Kris sebelum masuk terlalu jauh, namun Kyungsoo menghentikannya. "Yang benar saja, Kris, barusan kamu sendiri yang memohon-mohon supaya Tao memasukimu, memohon supaya ada dua penis di dalammu!"

"Itu-" saat aku sedang lengah dan membiarkan diriku terlena oleh pengaruh afrodisiak; adalah ucapan yang sudah dipersiapkan Kris di dalam kepalanya. Tapi semua itu tak terucap ketika penis Zitao memaksa terus masuk ke dalamnya, dan yang keluar hanyalah teriakan dan desahan frustrasi. "A-aaaangh karena aku tak menyangka penis tuan Tao akan s-sebesar ini! Ah... hh- hentikannnn! Lubangku bisa robek-"

Zitao makin panik, sementara Sehun justru tertawa sambil menggerakkan pinggulnya ke depan dan belakang, menyuruh tangan Kris di penisnya untuk mengocoknya. "Bisa robek, ya? Kalau gitu aku mau lihat lubangmu robek, Kris."

Dan Kyungsoo justru kembali menampar bokong Kris, membuat Zitao mengerang oleh getaran yang ditimbulkan di ujung kejantanannya. "Jangan cengeng. Kau tahu kau akan langsung menyukainya begitu penis Tao sudah masuk ke dalammu, Kris."

Pengaruh afrodisiak pun akhirnya menang. Membayangkan rasanya dimasuki oleh dua penis membuat Kris diam. Dia berusaha rileks sehingga lubang anusnya melonggar sedikit, memberikan celah lebih luas lagi bagi penis Zitao untuk masuk lebih dalam. Zitao yang sedari tadi memaksa mendorong penisnya masuk pun langsung berhasil memasukkan penisnya sepenuhnya ke dalam lubang Kris, membuat keduanya mengerang atas sensasi baru ini. Kris, terutama, langsung menyemburkan spermanya lagi untuk yang kesekian kali. Cairan kental itu kembali membasahi perutnya dan Kyungsoo yang terbaring di bawahnya, kemudian ia kembali mengetat setelah klimaks, mengejutkan kedua empunya penis di dalam. Zitao langsung merapatkan tubuhnya ke punggung Kris, menggigit bahu lelaki pirang itu untuk menahan desahan atas remasan pada alat vitalnya, sementara kedua tangannya memegang pinggul Kris erat-erat untuk menjaga keseimbangan. Hal yang dia lakukan bisa jadi merupakan kesalahan karena gigitan itu membuat Kris kembali terangsang dan menyempitkan lubangnya secara refleks, menimbulkan desahan makin keras dari Kyungsoo dan Zitao.

"Kau terangsang lagi, Pelacur..." Kyungsoo menggumam, membantu Kris mengocok kemaluannya dan membuatnya jadi benar-benar tegang lagi—hanya satu menit setelah Kris klimaks. "Berhenti mengeluh... tunggangi dua penis di dalammu ini sekarang, Kris."

Mulut Kris tidak bisa menutup dan berhenti mengeluarkan desahan demi desahan sembari menggerakkan tubuhnya naik dan turun di atas dua penis yang memasukinya itu. Kyungsoo mulai menggerakkan tangan yang mengocok penis Kris lebih cepat, dan tanpa diduga Kris mempercepat gerakan tubuhnya juga sesuai irama kocokan pada penisnya—makin cepat. Kris bahkan sempat menaikkan tubuhnya sampai hanya kepala penis yang ada di dalamnya, sebelum langsung menjatuhkan lagi tubuhnya dan membuat kedua penis itu melesak langsung hingga pantatnya menyentuh skrotum mereka—menghasilkan erangan dari tiga orang sekaligus.

"Ah... ah- ahhh, kau makin sempit!" -Kyungsoo.

"Nnnnh sempit sekali aaahk... sakit- penisku terasa panas tergesek-gesek, Soo hyung..!" -Zitao.

Dan di antara keluhan mereka tentang betapa sempitnya lubang Kris dan penis mereka yang kesempitan, ada desahan Kris tentang betapa lubangnya terasa penuh dan—

—rasanya nikmat.

Sungguh, Kris benar-benar terlena oleh afrodisiak sialan itu. Harga dirinya sebagai top sempurna jatuh sudah. Dia bahkan bisa dimasuki oleh Tuan Tao yang notabene seorang bot garis keras. Dan juga temannya yang satu lagi, Tuan Dio, yang merupakan top berwujud bot.

Sementara itu, bagaimana dengan satu lagi teman mereka? Tuan... Chen?

"Uuhhh... -"

Jongdae masih berdiri di belakang Kris dan Zitao, menyaksikan kedua sahabatnya itu memenetrasi si Host nomor satu. Dari tadi kejantanannya sudah ia keluarkan dari antara resleting celananya, tangannya pun mengusap pelan kejantanannya itu hingga menegang. Meski sering bermain, Jongdae cukup mengerti etika; dia tidak mau bermain dengan seorang 'korban pemerkosaan' bahkan di tempat umum di mana banyak orang bisa melihatnya. Kasihan si 'korban'—atau dalam kasus ini, kasihan Kris.

Namun melihat kedua temannya bergumul dengan Host tersebut, akhirnya Jongdae tidak bisa menahan hasratnya. Persetan dengan moral, semua orang di sini pun memperkosa Kris tanpa memikirkan moral—oleh karena itu Jongdae langsung berjalan ke depan Kris, tepat di atas Kyungsoo yang berbaring telentang. Kedua kaki Jongdae membuka di samping kiri dan kanan kepala Kyungsoo. Dia menatap nafsu wajah Kris yang sudah dilanda hasrat tersebut sebelum menggapai belakang kepala Host itu dan mendorongnya mendekat, hingga wajah Kris menggesek kemaluannya yang tegang.

"Kris... maaf. Tolong- isap aku." Ucapnya pelan seperti malu-malu, dan menimbulkan keterkejutan dari Kyungsoo dan Zitao.

"Mmmh... ummp-" Kris yang terduduk di depan Jongdae pun melihat ke atas, menatap nafsu lelaki itu, sebelum akhirnya menyeringai senang, mengucapkan "Baik, Tuan Chen. Selamat makan..." dan memasukkan kejantanan itu ke dalam mulutnya, melumatnya penuh nafsu.

"AAAAAH-" Jongdae langsung merintih keenakan, lehernya menjenjang, matanya pun langsung terpejam. Mulut Kris hangat sekali, bibir yang meliputi batang kemaluannya pun sangat licin dan lembut. Dan Kris juga melumat kemaluannya, mengemut, mengulum, sesekali menggigit, membuat sekujur alat kelamin Jongdae basah. Jongdae sudah sering menerima blowjob, tapi fellatio dari Kris ini bagaikan surga—Kris mengerti kapan dia harus menelan dalam-dalam penis itu ke dalam kerongkongannya, atau hanya mengulum ujungnya saja. Dia tahu kapan harus menggigit, kapan harus menjilat lembut, kapan harus menjilat penuh nafsu, dan kapan harus mengisap—baik kuat maupun tidak. Dia bisa membuat cairan precum Jongdae keluar hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik setelah penis itu menyentuh dalam mulutnya. Ketika Kris meremas-remas penis Jongdae dengan dinding mulutnya, Jongdae mulai menjambak rambut pirang Kris, menarik segenggam surai itu untuk mendorong kepalanya lebih dekat lagi kepada kejantanannya, meminta Host satu itu untuk melumat bola kembarnya sekaligus.

Kris menurut saja. Dia memfokuskan dirinya untuk melumat penis Jongdae lebih bernafsu lagi. Sayangnya yang ia lakukan membuat Sehun cemburu, murid SMA itu menyodorkan kemaluannya pada wajah Kris, menusuk-nusuk pipi yang mencekung karena sedang mengisap penis lain. Kris menatapnya bingung dan Sehun menggumam, "Jangan lupakan milikku di tanganmu."

Kris hanya terkekeh pelan, mulai membagi fokusnya kepada dua hal: mengisap penis Jongdae di mulutnya, dan mengocok penis Sehun di tangannya. Namun setelah itu rasa basah di dalam anusnya membuatnya sadar bahwa ia juga harus menggenjot dua penis yang sedang ditungganginya. Oh- Kris memiliki empat penis yang harus dipuaskannya saat ini, sungguh sangat menantang—dan menggairahkan untuknya. Dia terus mendesah, mengirim getaran ke kejantanan Jongdae, mengurut kemaluan Sehun secepat penis Kyungsoo dan Zitao menyodok lubangnya bergantian. Tidak lupa juga penisnya dikocok oleh Kyungsoo—oh, sialan—Kris dipuaskan di empat bagian tubuhnya, empat tempat yang sensitif. Kalau saja saat ini dadanya juga dipermainkan, lengkap sudah. Sehun dan Baekhyun benar, dada dan puting Kris memang sensitif, apalagi setelah diberikan breast pump tadi. Dadanya membengkak dan membesar, putingnya menegang, dan areolanya semakin sensitif. Kalau dadanya disentuh sekarang, mungkin Kris akan klimaks lagi—

"Kalian asyik banget, ya! Ikutan, dong!"

Mata Kris membulat kaget. Itu suara Baekhyun. Dan benar, dari belakang Jongdae muncul Baekhyun yang tersenyum lebar, terlihat manis, tapi Kris dapat melihat sinar licik dari bola matanya. Ini gawat, pikir Kris. Kalau mengingat bahwa Baekhyun adalah yang sedari tadi terlihat memiliki fetish terhadap dada, apakah dia ke sini untuk—

"Tenang saja, aku nggak akan mengganggu aktivitas kalian, Sehun dan lain-lain," Lelaki imut itu berkata, lalu berjalan ke sebelah Kris—tepat di seberang Sehun—dan berjongkok, memerhatikan tubuh bagian atas Kris yang tidak terjamah. "Sayang banget, lho, kalau kalian nggak menyentuh Kris di sini. Padahal Kris suka banget kalau—"

Baekhyun mencubit kedua puting susu Kris dengan keras, membuat si Host membelalak kaget.

"—disentuh di sini."

Kris yakin yang barusan Baekhyun berikan kepadanya adalah seringai.

/ / /

Kris kembali klimaks saat Baekhyun melahap putingnya. Dan karena klimaks itu membuat lubangnya menyempit lagi, Kyungsoo dan Zitao langsung terjepit hebat di dalam dan akhirnya memuntahkan sperma mereka ke dalam tubuh Kris bersamaan. Zitao langsung lemas, sementara Sehun, Jongdae, dan Baekhyun menahan tubuh Kris supaya tidak terjatuh. Mereka seret Kris dari atas tubuh Kyungsoo, membuat Zitao yang tadinya berada di belakang Kris langsung jatuh menimpa Kyungsoo yang juga terbaring lemas dan terengah-engah. Kris didorong untuk telentang lagi setelah Jongdae melepaskan kejantanannya dari mulut Kris, lalu Baekhyun langsung kembali melakukan aktivitasnya, mencubit-cubit dada bengkak Kris dan menjilati putingnya bergantian.

Kris sudah melemas. Dia merasa hina, merasa bahwa ini salah, merasa bahwa harga dirinya dijatuhkan ke dalam neraka ketujuh. Tubuhnya pun sudah sakit. Ingin sekali dia tertidur, atau setidaknya pingsan, supaya bisa terbebas dari kegiatan ini. Namun tubuhnya mengkhianatinya; dia kembali terangsang ketika Baekhyun mengisap putingnya kuat-kuat. Afrodisiak sialan. Kai sialan!

Bukan hanya kedua puting kecokelatannya yang berdiri tegang, kejantanannya pun juga demikian. Kris mengerang ketika Jongdae tanpa aba-aba memasukkan penisnya ke dalam lubang Kris dalam sekali hentak, menyodok terus menerus dengan sangat brutal. Seluruh bagian dinding lubang Kris tertusuk oleh sodokan kasar Jongdae, seakan tidak terarah, tapi pace yang sangat cepat itu justru membuat Kris makin terangsang. Seakan tidak puas, Jongdae kemudian menarik tangan Kris dan membalik tubuhnya, membuat host tersebut menungging sembari Jongdae mencumbunya dengan doggy style. Baekhyun duduk santai di sebelah Kris, tangannya masih menelusup di antara dada Kris dan permadani untuk mengelus dan mencubit puting susunya, sementara Sehun mengocok alat vitalnya sendiri hingga cairan spermanya menyembur keluar membasahi punggung Kris. Seolah belum puas mengotori punggung Kris, Sehun juga melumuri sperma tebalnya ke sekujur punggung Kris dari tengkuk hingga punggung bagian bawahnya.

Sementara Kris? Dia benar-benar hanya bisa mendesah. Dia tidak berdaya diperkosa oleh Jongdae yang sebenarnya adalah seorang bot. Hanya bisa berteriak, mendesah kencang tanpa arti.

"Ah... aaah, ahh, ahhhh!" Teriakannya makin keras begitu kepala penis Jongdae menyentuh prostatnya. "Tusuk di situ lagi! Tuan Chen...!"

Jongdae terengah-engah, sodokannya justru makin tak terarah. "Di, di sini...?"

"Bukan...!" Kris mulai frustrasi, apalagi saat ini Sehun mulai menciumi tengkuknya. Geli. "Jangan kencang-kencang... Tuan Cheeeeen... oh, astaga— lebih ke kanan...!"

Jongdae menuruti ucapan Kris, genjotannya dipelankan, ia lebih berhati-hati dan mulai menusuko prostat Kris berkali-kali ketika ia menemukannya. Setiap prostatnya disentuh, Kris akan berteriak dengan suara tingginya yang amat jarang dia keluarkan—terdengar amat seksi—dan mengetatkan lubangnya. Jongdae menggeram, kejantanannya di dalam membesar karena terangsang oleh suara Kris.

Jongdae mengeluarkan cairannya di dalam Kris hanya dengan delapan tusukan pada prostatnya. Setelah itu dia mencabut kejantanannya dari lubang Kris yang sudah basah, terbaring kelelahan tidak jauh di tempat di mana kedua temannya juga terkulai lesu. Ketiganya menatap satu sama lain, tak ada satu kata pun terucap di antara mereka, tapi mereka bisa membaca pikiran masing-masing: That was a good fuck.