Saat melihat apa yang ada di dalam sana, ia tertawa terbahak bahak memegangi perutnya bersama seorang pria yang duduk-terjebak di lemari yang mungkin tak muat untuknya.

"Dazai sensei, apa yang kau lakukan di sana? Kheehehe"

Please enjoy...

Dazai tak bergerak, ia hanya menunggu perempuan di depannya menyelesaikan tawanya. Dan tak berapa lama Himawari mengusap air mata yang tanpa sadar muncul. Lalu berjongkok-masih terkikik- di depan Dazai.

"Sengaja atau terjebak, sensei?" Ucap Hima masih dengan kikikannya. Dazai tersenyum pahit, tak sabar rasanya seseorang membantunya untuk keluar dari sana

"Awalnya saya ingin membuat Hima chan terkejut begitu membuka lemari. Tapi kaki saya tiba tiba gatal dan seekor cicak menghinggap di sini" tunjuknya mengarah ke ibu jari kakinya

"Jadi kau menendang lemari karna tak tahan? Kerja bagus Dazai sensei, tapi jikalau itu berhasil kau tetap tidak akan bisa mengagekkanku" terang Hima dengan kebohongan yang besar. Kalian ingat chapter sebelumnya, tubuh perempuan ini membeku diam begitu pintu lemari terbuka sendiri. Ya, andai saja Dazai bisa membaca kebohongan wanita yang masih tersenyum ini.

"Em, Hima chan bisa kau keluarkan saya dari sini? Agak te-"

"Oh ya Dazai sensei, aku membawakanmu pulang kepiting kalengan itu lho. Kemarin kau meninggalkannya bersama Chu kun" seakan tak mendengarkan apa apa, Hima meneruskan kelimatnya dan beranjak menuju kantong kresek di atas meja, membiarkan Dazai yang masih terjebak di dalam lemari kecil itu, tak dapat bergerak.

"A, ano Hima chan, bisa kau ke-"

"Aku buka sekarang ya, Sensei. Aku juga belum sarapan"

"Hi, Hima chan tolong bisakah ka-"

"Apa kumasak dan kuolah saja ya... tampaknya lebih enak"

"Hi, Hima chan kau mendengarkan saya?"

"Hm?"

Sudah beberapa kali pria kopi itu memanggil perempuan di sana, tapi sama sekali tak ada respon tadi. Barulah ia menaikkan nada suaranya, netra emerald wanita itu sukarela menatapnya. Apalagi tatapan tanpa dosanya itu.

Kau bisa bayangkan bagaimana sakitnya Dazai yang yang terus di kacangin?

"Ada apa sensei?"

Di sela sela wajah imutnya dengan hiasan tangis, Dazai menatap Hima kasihan.. "Hima chan, tak saya sangka kau sejahat ini, khuhuhu"

Hima terdiam, melihat senseinya menangis sejenak dan kembali bergerak membuka tutup kalengan itu satu satu lalu memasukan ke atas penggorengan tanpa memperdulikan Dazai dan sikap lebainya.

Dan Dazai kembali di kacangin. Betapa menyedihkannya kau nak...

Saat memutuskan untuk mengolahnya menjadi makanan lengkap, Hima menyadari ada yang kurang dari bahannya. Yaitu garam. Ia mencari di berbagai sudut dapur dengan Dazai yang masih meracau meminta dikeluarkan dari lemari kecil itu.

Dan akhirnya hanya satu tempat yang belum di cek olehnya, dan itu ialah lemari yang di tempati Dazai yang menurut Himawari; ia sengaja bermain main.

Sampai pada akhirnya, perempuan itu menempatkan tubuhnya di depan lemari dan berkacak pinggang melihat Dazai yang tersenyum muram penuh malu kepadanya

"Ano Hima chan, tolong selamatkan saya. Kaki saya mulai mati rasa, sa-are Hima chan?"

Tiba tiba Himawari mengambil langkah sedikit menjauh dan membuka pintu lemari kecil yang berada di samping lemari tempat Dazai terjebak. Ia berbalik, jongkok dan memasukkan seluruh dirinya ke lemari yang muat akan dirinya itu. Dengan wajahnya yang datar, ia mengikuti senseinya yang berkelakuan sama.

Wajah Dazai langsung pucat dengan keringat heran yang berjatuhan. Melihat satu satunya harapannya untuk bisa keluar dari lemari kecil itu malah pupus melihat wanita itu melakukan hal yang sama dengannya. Mulutnya menganga tak percaya sampai kepala Hima menyembul keluar dan menyapa Dazai dengan senyumannya.

"Kenapa Hima chan? Kenapa kau lakukan itu?" Dengan nada rendah, efek menangis kecil terpampang di wajah lucu Dazai. Sementara Hima hanya tersenyum polos.

"Mungkin jika aku bertingkah seperti ini, aku bisa menemukan garam dan mengikuti cara Dazai sensei. Begi-"

"Maksudmu ini?"

Mata Hima membelalak senang dan berseri begitu satu tangan Dazai keluar dengan susahnya menunjukan wanita yang bernasib sama sepertinya sebotol garam laut.

"Yha itu dia! Terimakasih Dazai sensei, tunggu sebentar ya"

Tidak bisa...

Tidak berhasil...

Himawari berkali kali menggoyangkan tubuhnya maju untuk lepas dari lemari kecil ini tapi tak bisa. Boro boro tubuh, tangan saja sama sekali tak bisa keluar. Menyadari usahanya sia sia, dan rasa kemalasannya sudah tak bekerja jika bersama senseinya, Hima memandang balik Dazai yang ikutan tersenyum masam. Seakan sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Betapa bodohnya kita"

30 menit pertama...

"Dazai sensei, coba kau keluarkan tanganmu lalu keluarkan yang lainnya perlahan. Tubuhku mulai mati rasa"

Mendengar usulan Himawari, Dazai mengangguk semangat dan berusaha untuk mengeluarkan tangan kanannya. Berhasil. Giliran tangan kirinya, berhasil. Ia memandang berbinar Hima yang ada disamping kanannya bersama ledua tangannya yang bebas

"Lihat saya berhasil. Saya akan berusaha untuk bagian tubuh... sebentar, ham.."

Bragh!!

Brugh!!

Hima reflek menutup matanya begitu sesuatu barang yang penuh akan air jatuh dari atas menimpa kepala Senseinya yang berusaha hampir sedikit lagi seluruh tubuhnya bebas dari lemari itu. Namun setelah ia kembali membuka matanya, ia tak menemukan siapa siapa di depan lemari.

"Dazai sensei, kau baik baik saja?" Seru Hima kahwatir.

Dazai yang tampak pusing, berusaha untuk menjawab walaupun kepalanya basah akan air panas yang jatuh dari teko di atasnya.

"Yah, tidak yang perlu di kahwatirkan" ucapnya putus putus tanpa sadar kedua tangannya yang tadi keluar menjadi masuk lebih dalam bersamaan dengan tubuhnya yang bersandar tak dapat bergerak

Sial

1 jam kemudian...

"Wahhh!!! Ada yang meniup di belakangku Dazai sensei!!"

"I, itu kecoak mode fly on!!! Berlindung!!"

"CICAK!!! CICAK! Cicak... didinding~ diam diam merayap~ datang seekor...ULAT!!! ULAT KAKI SERIBU~ langsung dipukul!!!"

Saat segerombolan semut melintas

"...ini Dazai sensei, Himawari, kak Ranpo, Kunikida san, Ken chan, lalu Chu kun...eh, Chu kun tidak tinggi! Cari semut yang pendek pendek. Permisi tuan semut, ada yang kenal Chuuya kun? Orangnya pendek memakai topi"

1 jam berikutnya

"Dazai sensei, kau belum menjawab pertanyaanku tadi" Hima memutar kepalanya, walaupun di sampingnya dinding ia tetap menoleh seakan akan Dazai melihatnya.

Pria kopi yang sedari tadi melamun itu tertegun lalu berdehem, "hm, yang kepiting kalengan itu? Saya sengaja menitipkannya padamu karna saya tau kau pasti akan kembali kekamar saya untuk mengembalikannya. Apa Chuuya marah saat ia tau?"

"Bukan. Alasan kenapa Dazai sensei meninggalkanku dan Chuuya di malam itu. Apa Dazai sensei sedang bertemu dengan sensei?" Hima menundukkan kepalanya tapi dengan lirikan yang sama.

Dazai diam lama tak menjawab, tapi ia akhirnya mengangguk. Anehnya wajahnya begitu suram di bandingkan yang lalu.

"Itu sebuah rahasia, Himawari chan. Saya harap kau tidak membocorkannya sampai waktunya siap menerima"

Himawari terdiam. Sekarang wajahnya sama tak jauh beda dengan ekspresi yang dikeluarkan Dazai. Mata emraldnya menelusur jauh keluar jendela yang tadi di bukanya.

"Aku tau itu Dazai sensei"

Whusshh

Belum lama setelah Hima mengeluarkan statementnya, angin berhembus dari pintu depan dan membuat jendela yang terbuka menampar bingkainya.

Dazai hanya terdiam memandangi cuaca diluar jendela yang kelam dan Himawari yang mulai meringkuk sedikit. Ia tau sudah dari lahir kulitnya selalu sensitif dengan cuaca apapun apalagi musim salju ini di penghujung tahun sekarang. Ia celingak celinguk melihat apa ada barang yang bisa menolongnya agar tetap hangat.

Sementara ia sibuk dengan urusannya, Dazai diam diam curiga dengan keadaaan pintu di depan sana, dan sedikit mengintip.

"Ano, Hima chan"

"Ya?"

"Apa tadi seharusnya saya tidak menjebakkan diri saya di dalam lemari ini jika kau tidak menghancurkan pintunya. Kau jahat Hima chan" ia menghembuskan nafas kekesalannya dan mulai menangis yang tampak dibuat buat. Adik dari Ranpo itu hanya bisa tertawa dan mengabaikan dingin yang semakin menusuk. Tapi sampai kapan ia bisa menahannya?

"Ten.."

Dazai mendelik ke samping, memastikan suara itu datang dari wanita yang bernasib sama dengannya. Ia tersenyum saat setengah prediksinya berjalan lancar.

"Six..."

Kini giliran Edogawa yang melirik. Ia juga ikutan tersenyum saat senseinya tersenyum manis melanjutkan hitungan mundurnya.

"Four.."

"Three.."

"Two..."

Sesuatu terjadi.

Baik Hima maupun pria yang terduduk dengan kaki bujurnya, merasakan hawa lega menyelubungi mereka. Di pojok mendekati sekat dapur perapian mini otomatis menyala tiba tina setelah Hima menghitungnya tepat waktu. Dengan hidupnya perapian mini itu, Hima tak lagi mencemaskan kulitnya yang tipis bagaikan bayi sehabis mandi.

"Kau sudah tau?"

Ia menoleh, tersenyum lembut, "ya, saat masuk tadi aku melihat ada yang aneh dengan perapianmu yang tiadanya kayu tua disana. Aku juga sudah tau kalau Dazai sensei sedang memainkan jebakan lainnya"

Dazai memalingkan wajahnya malu dengan kalimat deheman di setiap inchi pergerakannya. Jangan lupa dengan senyuman angker-khasnya itu. Lama tak menjawab, mereka berdua memilih berdiam membiarkan hawa hangat sedikit demi sedikit menghampiri.

"Jika dibiarkan begini, lama kelamaan ini akan menjadi permainan prediksi yang gagal" Hima menyengir, ia bahkan sudah tau apa yang akan di katakan dan di lakukan Dazai sedetik lagi.

"Apa?"

"Donat di atas pintu untuk mengecohku, kunci di bawah karpet untuk membuatku kesal, peralatan tukang di selipan tatami untuk membetulkan pintu yang rusak..." karna dugaannya benar, senyuman licik itu semakin membesar

1-0, Dazai's turn

"Oha ya, lalu bagaimana dengan tidak memakan sarapanmu agar kau bisa memakan kepiting kaleng saya?" Dazai membalas, walaupun hanya satu pembelaan

"Sebenarnya itu baru kudapatkan saat memasuki mansion ini. Tapi, yah tak apalah. Aku juga bertindak seperti itu barusan"

1-1, Edogawa's turn

Keduanya sempat terdiam dengan wajah spechless dari Dazai dan bulan sabit dari Hima. Wanita itu tak lama tertawa kecil dan membetulkan posisinya yang masih terjepit di dalam lemari. Pria itu juga melonggarkan suasana tapi tak mambuat lengah.

"...Thomas Crombie Schelling, John Forbes Nash, dan Henry Alfred Kissinger, apa karena jasa mereka Dazai sensei bisa menjadi Dazai yang sekarang?" Ia kembali membuka suara, hijau maniknya melirik ke kiri.

Dazai menghela nafas, jujur saja ia tampak tak mau berbicara hal seperti ini lagi, "itu semua karena Mori san. Dari balita, aku sudah menyelesaikan seluruh buku teori Einstein. Tidak mengejutkan untuk saya, jika jalan prediksiku sudah dapat maju hingga 5 tahun mendatang" akhirnya, udara hangat menerpa dan ia keluar dari lemari memuakkan itu.

Ia merenggangkan tubuhnya hingga suara trek srek beberapa kali terdengar. Ia lalu berbalik badan dan mengulurkan tangannya kepada wanita yang meringkuk kedinginan di dalam lemari lembab.

"Ayo jika kau mau keluar" senyuman itu kembali tampak.

"...jika Dazai sensei sudah dapat memprediksi hingga selama itu, apa Dazai sensei dapat bunuh diri?" Kepalanya mendongak, mengabaikan dengan santainya ajakan Dazai. Pria itu menegak dan menurunkan tangannya.

"Tidak. Selalu ada sesoerang yang menghalangi saya" jawabnya datar. Keramahannya menghilang bagaikan angin dingin di terpa udara hangat.

"Apa kau akan tetap sendiri?" Tanya wanita itu lagi.

Pria itu menggeleng, "tidak. Selalu ada seseorang disisi saya"

"Apa...kau sudah menemukan reason livingmu saat itu?" Kali ini berbeda, Himawari tampak sekali menginginkan jawaban dari pria kopi di depannya.

Dazai lama tak menjawab membuat Himawari menunduk dan menyerah mengulurkan tangannya. Maka Dazai dengan sigap menerima dan menariknya keluar. Karena terlalu memaksakan, tubuh Hima langsung menabrak tubuh jakung pria itu dan tampak seperti orang yang berpelukan. Keduanya tak terkejut. Tampak tak wajah mengingat wajah mereka yang terlalu dekat.

"...tentu. Bahkan ia akan saya nikahi nanti"

Tepat saat itu, first kiss Himawari terebut oleh sensei-nya sendiri.

APA YANG KAU LAKUKAN SAKIN!!!! adegan yang sangat lucknut terjadi oleh pergerakan jariku dengan sendirinya. Aduh, maafnya minna entah kenapa tangan Sakin gatal mau nulis adegan seperti itu :v /btw,momenromantisnyaterasagak?

Dan Dazai disini dan seterusnya akan author ganti dari 'aku' menjadi 'saya'. Kan di animenya pakai kata seperti itu, Dazai yang asli juga pakai itu kok. Pingin menjiwai aja #lol

*liat aja di Bungo Stray Dogs season 2 episode 9. Pasti kalian tau mereka itu siapa.

Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.

すべてを読んでくれてありがとう

Subete o yonde kurete arigatō

(Terimakasih sudah membaca semuanya)