Hanya kasus yang terencana. Itulah isi dari kertas kecil yang di tepat di tengahnya terdapat tulisan bertinta merah tebal.

"Apa ini, Dazai san?" Pemuda itu sungguh heran, keringat penasaran jatuh mengalir dengan mudahnya. Tapi pria lainnya hanya tersenyum berdehem membuah wajahnya pada ubin lantai yang penuh pecahan kaca.

"Itulah. Kau sudah membacanya bukan?"

"Tapi aku tak mengerti maksudnya..."

"Wajar..." Dazai bergerak berjalan melewati Atsuhi sambil menepuk kasar bahu berbalut kemeja putih itu. Lelaki harimau itu berbalik, menemui dark hazel kepunyaan seniornya.

"Saya juga tak tau. Kunci permasalahannya ada pada wanita yang enakkan tiduran disana" Dazai menunjuk, dan Atsuhi mengekor di belakangnya melihat wanita pink yang tidur penuh berantakan. Mantel kuning yang Dazai balut ke tubuhnya bahkan beberapa kali terjatuh karna tidurnya yang terlalu anggun.

Wanita itu membuka mata emeraldnya dan melirik kedepan tepat ke sahabatnya yang sedang bersantai meminum coklat panas yang tadi dibuat Naomi. Yuu menoleh memandang Hima yang lemas berusaha untuk duduk.

"Kulihat sindrom tidurmu muncul lagi ya?" Ucapnya datar. Ia tetap melanjutkan tenggakan coklat panasnya secara anggun, mengabaikan perempuan lainnya yang melihatnya aneh.

"Mungkin. Ada apa denganmu Yuu? Kau tampak sedikit berbeda hari ini" Hima mengacungkan suaranya, mengambil air putih yang disodorkan Naomi dengan senyuman ramahnya.

Seketika perempuan raven itu terlonjak, hampir tersedak. Kedua wanita lainnya menyadari dan reflek melirik. Di wajahnya itu, yang berusaha ia tutupi dengan tangannya berbalut mantel, rona merah pekat terlihat jelas.

Naomi dan adik Edogawa menatap bertukar pandang, lalu tersenyum seringai bersamaan. Tau apa yang dipikirkan Naomi, Hima kembali mendahulukan suaranya.

"Siapa Hisayuki Toriumi? Siapa dia, lelaki yang sedang kau cintai?" Tubuhnya bersandar, memilih sandaran empuk sofa menjadi alasan semangatnya untuk terus menggoda. Naomi juga, ia diam meminum coklat panasnya walaupun cengiran khas itu masih belum pudar.

Yuu menoleh sejenak, lalu menunjuk salah satu pemuda yang sedang bermain dengan salah satunya mencoba terjun dari lantai tinggi ini. Tunjukan jarinya mengarah trench coat coklat dan surai kopi bergelombang pemuda itu,

"Dia. Pemuda yang kau panggil Dazai sensei"

Keduanya terbungkam. Baik Hima dan Naomi terdiam. Bukan karena atah tunjukannya yang gak tepat atau mata mereka yang salah menilai,

Tapi pria itu Dazai Osamu lho! Pria dengan hobby bunuh diri dan segala keanehan tingkah lakunya. Bahkan sekarang ia sedang mecoba mendorong Atsuhi untuk jatuh dari pagar kaca tebal itu.

Tak berapa lama, Naomi tergelak dan tertawa lepas. Diikuti tatapan tak berubah Himawari dan perubahan ekspresi wanita yang berbicara blak blakkan itu.

"Hahahaha... sudah banyak wanita yang berkata seperti itu. Dan tidak ada satupun dari mereka yang dianggap serius oleh Dazai. Masa, baru pertama kali pertemuan, kau bisa jatuh cinta dengan pemuda itu"

Hampir Hisayuki membuka suaranya, Hima memotongnya dan mendobrak gerbang seketika

"Tapi dia serius denganku, Naomi chan! Dia bilang dia sudah menemukan reason livingnya dan akan menikahiku kelak"

Kini keduanya sweetdrop. Lebih terguncang atas pernyataan Himawari ketimbang statement cinta oleh Hisayuki.

Posisi Hima yang tegang sambil menghentak meja dan kedua wanita lainnya yang beradu siapa paling jauh, dia yang menang. Takut akan perlakuan detektif kedua setelah Ranpo itu.

Kedua pria itu juga menoleh, tapi tak mau ambil suara. Mereka tau jika ikut campur urusan wanita, maka taruhannya ialah kepala. Kepala yang berbakpao.

Hisayuki tercekat. Tak mampu berkata kata. Barusan ia berbunga karena berhasil menyampaikan perasaannya walaupun sekedar pada teman dan teman itulah yang membalas perkataannya lebih kejam ketimbang satu ton cabai.

Tapi bagaimanapun, Sakin maunya Hima sama Dazai, gak mau sama Hisayuki!

AkatsukiYukino : back to story, Sakin chann :v

Oke, /slaapp

"Tapi Hima..."

"Hei, para gadis!" Semuanya menoleh, kecuali Himawari yang terdiam tetap pada posisi. Dazai memanggil ketiga perempuan itu dan secara tak langsung membuat Hisayuki merona. Dazai hanya mengabaikan seakan tak terjadi apa apa.

Atsushi yang dibelakangnya kemudian mengeluarkan arsip yang baru diterimanya dari salah satu orang berjas beberapa detik lalu, dan menunjukannya jelas. Hima menoleh tak rela.

"Apa itu Atsushi san?" Tanya Naomi

"Laporan tentang Masaoka Shiki yang ditahan penjara federal di Chicago, Amerika Serikat"

Naomi dan Hisayuki membelalak. Sama halnya seperti Atsushi saat pertama kali mendengar berita ini. Naomi tak dapat berbicara padahal ia begitu penasaran bagaimana orang yang sudah mati bisa di tahan di penjara, luar negri pula.

Hima menghela nafas berat dan berdiri menepuk nepuk pakaiannya. Ia lalu berjalan mendekati pemuda dengan mantel coklat karamel itu.

"Sudah di beritahu dengan operasi black ops?"

Dazai mengangguk, "Port Mafia juga telah berbicara kalau mereka tidak ikut andil sampai sejauh itu"

"Rumah sakit itu? Apa CEO perusahaan sudah di tangkap?"

Kini Atsushi yang maju selangkah, dengan mantap ia menjawab, "sudah Hima san. Palu dan senjata tumpul yang digunakan pelaku juga telah ditemukan. Mereka membawanya di lantai bawah"

"Begitu..."

Hima menyeringai, dengan tangan kanan yang digunakannya berpose layaknya Sherlock Holmes memecahkan kasus, ia menatap Osamu yang lebih tinggi darinya itu.

Tak mau kalah dan mengerti apa yang di maksudkan, Dazai Osamu juga melakukan hal yang sama. Satu sudut bibirnya terangkat.

Disaat saat semua orang sedang terheran heran dengan kasus ini, dua otak agensi ini hanya terdiam tak tampak seperti berpikir, sibuk memamerkan senyuman seringainya.

Apalagi Hisayuki dengan patah hatinya.

"Mau melakukan apa yang ia lakukan?

"Tentu. Asalkan Dazai sensei bisa menangkapku nanti"

Sisanya hanya terheran, tapi ekspresi itu langsung berubah kala Hima berlari menuju pagar kaca dimana Shiki mengakhiri hidupnya disusul Dazai yang berlari di belakangnya.

Jika Atsushi bisa menghentikan kecelakaan pada kursi kantor tadi pagi, maka ia tak bisa menghentikan laju larian kedua senior nya yang bahkan sudah tak nampak begitu ia berbalik.

"Kyaaa!! Rupanya begini rasanya jatuh...!!" Hima memekik keras, jatuh dari atas lantai tadi dan terus kebawah ditarik gravitasi. Dan Dazai yang tak jauh di belakangnya. Ia menangkap mantel kuning Hima yang terbang kepadanya.

"Tutup mulutmu sebelum kau kemasukan lala..-brlrlrpp" serangga langsung datang menyerang mulutnya Dazai begitu ia memberikan kalimat perhatian yang seharusnya ditujukan untuknya. Masih sibuk dengan urusannya, Hima berusaha membalikan tubuhnya dengan ekspresi ceria yang belum pernah ia tunjukan.

"Dazai sensei... kenapa kita lama menyentuh tanah..!!??" Jika suara lembut bagai bisikan, jadi perempuan yang sudah memasuki lantai ke 23 itu memekik memeringati Dazai yang masih berusaha mengeluarkan lalat dimulutnya.

"Phew... kemari Hima, akan ku tangkap kau" Dazai mencondongkan tubuhnya, berusaha menekan gravitasi untuk lebih dekat dengan wanita itu dan memeluknya. Memindahkan tubuhnya yang besar di paling bawah dan Hima di atasnya. Tentu saja dengan lalat yang sudah dibunuhnya.

Hima yang sedang terpeluk oleh Dazai membalas pelukanya dan mengait lengannya pada leher senseinya. Wajah mereka begitu dekat, sayang mata mereka tak bisa terbuka karena angin yang terlalu kencang. Tapi, Hima berusaha menunjukan kegembiraannya dengan senyuman lebar itu.

"Sangat menyenangkan! Jika tau jatuh seperti ini adalah hal menyenangkan, akan kulakukan setiap hari sebagai pengganti sarapanku"

Pria itu tertawa, tak menyadari kalau sudah berada di level 4 dan

Bump, jatuh di..

Trampoline. Tubuh mereka berdua langsung terpisah dan balik terbang ke atas sebentar lalu ditarik gravitasi kembali. Hima langsung terbaring begitu juga Dazai yang di sampingnya. Keduanya tertawa, membentangkan tangannya menarik nafas kuat kuat.

"Yang tadi itu... sangat menyenangkan ya... mau coba kapan kapan?" Ucap Dazai ditengah tengah helaan nafasnya. Himawari menoleh kedua sudut bibirnya merekah membentuk bulan sabit lebar.

"Jangan kapan kapan, seusai kasus ini selesai saja, hehehe" keduanya tertawa kembali, tak menyadari kalau ketiga temannya yang tadi mengkhawatirkan sudah di pinggir bulatan besar itu. Atsushi masuk ke dalam menarik Dazai dan Hima keluar. Mereka keluar dan menepuk bajunya membersihkan dari debu.

"Kurasa trampolinenya kurang besar Dazai sensei. Dapat darimana?"

Dazai menoleh merespon perkataan Hima dengan bulatan pink di pipi, "memeras Chuuya"

Mendengar itu, Hima membulatkan bibirnya. Ia pasti berpikir 'aku akan mencobanya nanti'.

"Kalian berdua membuat kami kahwatir saja. Bagaimana kalau tidak ada trampoline ini disini?! Bagaimana jika..."

"Jangan kahwatir, Hisayuki san. Saya sudah menyiapkan semua ini seminggu yang lalu. Termasuk Hima juga, dia punya rencana yang hebat" pria kopi itu tersenyum mengarahkan kedua jari telunjuknya menyentuh kedua pipi. Alhasil, wanita berpanggilan nickname itu memerah.

"Lalu apa yang kalian lakukan tadi? Jangan bilang itu semua untuk bersenang senang" Naomi membuka suaranya, menginterupsi kedua pasangan murid dan sensei yang sibuk dengan senyuman bodohnya.

Hima tak merespon selain menunjuk ke atas, tempat tadi ia bersama senseinya melakukan aksi yang gila. Naomi ikutan melihat.

"Naomi chan lihat jaring itu? Tampak sudah rusak dan hancur kan?"

Naomi menyipit. Jika dilihat dengan seksama pasti akan terlihat sisa sisa jaring di pagar kaca lantai 55 66 dan 33. Jaring itu berwarna putih jadi siapapun tak akan melihatnya jika tak benar benar di teliti.

"Tampaknya itu hancur karena kalian berdua" Atsushi membalas, dan langsung di beri jari telunjuk yang Dazai yang jatuh ke kanan dan kiri, tanda, bukan.

"Jika begitu, berarti kami tak akan jatuh di trampoline ini kan? Kami akan jatuh di atas jaring sana, yang menahan berat saya dan Hima"

Ketiga lainnya menoleh serempak pada Dazai dengan wajah mencurigakan. Hima berkacak pinggang tetap tersenyum

"Itu berarti... Masaoka Shiki yang jatuh dari sana itu seharusnya tidak mati, tapi... bagaimana ia bisa jatuh kemari jika jaring itu dapat menahan tubuhnya?" Atsushi menyela, maju selangkah

"Shusi kun tidak mengerti? Bagaimana seseorang yang jatuh kebawah dari lantai 77 bisa tetap utuh dan hanya wajahnya saja yang hancur? Dia di timpa palu dan senjata tajam, Shusi kun" jawab Hima, sama sama mengacungkan jari telunjuk sama seperti senseinya. Atsushi terdiam, dan membulat merespon.

"Karena itulah palu dan beberapa senjata tumpul di temukan tak jauh dari tempat kejadian. Tapi untuk apa dia melakukannya? Bukankah jika untuk membunuh dia bisa mati dengan jatuh dari ketinggian itu?"

"Dia bukan hanya menargetkan membunuh Atsushi kun, tapi menyamarkan. Masaoka Shiki yang sebenarnya membunuh Kyoshi Takahama agar identitasnya dapat di lumpuhkan dan mafia tak lagi mengincarnya. Lalu, Masaoka pergi dari Yokohama dan lari karena tugasnya telah usai" balas Hima kembali. Atsushi berdehem masih belum mengerti.

"Tapi Hima chan, tadi kau bilang Masaoka Shiki membunuh Kyoshi Takahama, siapa dia? Lagi pula kenapa mafia.."

"Ini, bacalah..."

Tanpa ingin menjelaskan lebih banyak, Hima mengeluarkan beberapa helai kertas lain dari dalam kocek hoodienya bersama permen batang rasa vanila. Ia menyerahkan pada Naomi dan permennya pada Dazai di sebelahnya. Meminta di bukain.

Atsushi dan Hisayuki mendekat, ingin membaca kertas yang ada pada gadis bersurai panjang itu.

"Masaoka Shiki lari dari perusahaan beberapa bulan lalu, dan menyuruh muridnya Kyoshi Takahama untuk menggantikan dirinya di Kyoto dengan mengganti juga wajahnya" mereka bertiga saling pandang. Dan kembali membaca secarik kertas itu.

Dazai dan Hima sibuk bertengkar. Gegara pria coklat yang berhasil membuka bungkus permen langsung mengemutnya di dalam mulut. Hima marah, bagaimanapun ia hanya minta untuk dibukain. Dazai mengalah atau lebih tepatnya sengaja memasukan permen vanila itu kedalam mulut Himawari dan berhasil membuatnya diam. Tanpa rona, jika Hima tau itu ciuman tak langsung ia pasti akan membunuh Dazai di tempat. Lain lagi dengan Dazai, ia terkikik geli dan berhasil membuat Hisayuki merona.

Jika Hisayuki tahu kalau tadi Dazai tertawa gara gara kepolosan Edogawa itu, apa yang akan dilakukannya kira kira ya?

"Surat resmi Port Mafia? Pemburuan kepala Masaoka Shiki yang berharga 200.000¥...WAW! Karena suruhan dari CEO perusahaan yang sudah tau kalau Shiki mengambil setengah kekayaan perusahaan dan membawa pergi, ia memutuskan untuk mengambil jasa Port Mafia lalu memburu nyawa Masaoka Shiki yang sebenarnya"

Mereka bertiga menggeleng mengerti sekarang.

"Tapi kenapa Masaoka Shiki membunuh muridnya sendiri, Kyoshi Takahama, Hima chan?" Naomi membuka suaranya, Hima mendelik. Lalu melepaskan permen yang ada di mulutnya

"Ehmm, karena itu adalah kasus yang terencana Naomi chan. Karna ingin lepas dari incaran Port Mafia dan pergi ke bos sebenarnya, ia menyuruh muridnya sendiri untuk menggantikannya, seperti yang kukatakan tadi. Kala tau CEO perusahaan mengambil jasa Port Mafia untuk membunuh gurunya, Kyoshi pergi ke Yokohama untuk menemui Masaoka"

"Dan sesampainya di Yokohama, Shiki membunuh Kyoshi, muridnya sendiri untuk memalsukan identitasnya. Heh, padahal muridnya hanya ingin memeringati malah dibunuh oleh gurunya sendiri. Ironi" potong Dazai, ia membuat wajah sedih yang konyol sekarang.

"Maka dari itu ia menghancurkan wajahnya dan mendorong Kyoshi dari lantai tempat Shiki berkerja agar terlihat seperti bunuh diri. Dan saat ia tau muridnya itu tak segera menyentuh tanah, malah jatuh di jaring transparan itu, Shiki menambahkan berat pada wajah Kyoshi untuk membuatnya jatuh dan alhasil ia mati saat menyentuh tanah. Dan barang bukti berupa senjata tumpul dan kursi kantor dapat ditemukan tak jauh dari ia jatuh" Hima melanjutkan, kembali mengemut permennya itu. Semuanya kembali mengangguk sebelum Hisayuki mengangkat suaranya

"Jadi, kalian berdua yang memasang jaring tebal itu?" baik Dazai maupun Hima tersenyum, mengangguk. Melihatnya, Hisayuki menganga tak percaya, karena ia tak pernah melihat kepintaran seperti ini sebelumnya. Dan Atsushi juga Naomi hanya tersenyum masam. Bagi mereka hal begitu ialah hal yang sangat sering terjadi di agensi.

"Baiklah, tugas kita disini telah usai. Ayo kita pulang ke agensi dan makan nabe banyak banyak!" Hima memekik mencairkan susana dengan tangan kanan terangkat disusul Dazai bersama sifat semangatnya.

Mereka akhirnya meminta izin untuk pergi pada kepala detektif yang bertugas, lalu pergi setelah detektif itu mengucapkan terimakasih dan kasus ditutup.

Ditengah perjalanan menuju pulang, Hisayuki sedari tadi cemberut cemburu karena melihat Hima yang sudah tepar tidur di bahu Dazai. Bukan lagi di punggungnya, perempuan Edogawa itu mengaitkan kedua tangannya pada leher jenjang Dazai dan membiarkan punggung juga kakinya di topang oleh senseinya. Karena saking lelapnya, permen yang diemut Hima terjatuh di mantel Dazai, pemuda itu berbalik meminta tolong Naomi untuk membantunya memasukan permen kedalam mulutnya.

Kenapa harus Naomi? Agar bisa menggoda perempuan lain tujuannya, thehee. Dari mulut Hima sekarang permen kecil itu kembali mengemut berdiam di decakan mulut Dazai Osamu. Dengan wajah gilanya, ia berdehem lagi bunuh diri dalam senyap. Dan lagi lagi Atsushi menegurnya,

"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan Dazai san"

Ekspresi Dazai berubah, "silahkan, Atsushi kun"

"Siapa yang dimaksud 'bos sebenarnya' saat Hima san menjelaskan tadi?"

Mereka berhenti berjalan, dua wanita yang berada di depan mereka terus saja berjalan, keasyikan bercengkarama satu sama lain.

Atsushi menganga heran, menanti jawaban Dazai yang berubah 180. Wajahnya serius, seperti tak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Hima yang diduga tertidur di leher Dazai ternyata membuka matanya sedikit, sudah siap dengan Dazai yang akan mengatakan sebenarnya, musuh besar yang sebenarnya.

"Iblis*"

Iblis= Fyodor Dostoevsky

Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.

すべてを読んでくれてありがとう

Subete o yonde kurete arigatō

(Terimakasih sudah membaca semuanya)