.
"Syal?"
"Ada"
"Mantel cadangan?"
"Siap!"
"Hoodie neko?"
"Ad... Ranpo nii?! Hima akan menggunakan hoodie oranye biasa, gak sampai neko begitu"
Pria bermantel merah valvet itu tertawa pelan, terkikik sedikit meringkuk disela sela kencannya dengan psp di tangannya. Hima mengembuskan nafasnya kesal, ia berlari kecil menuju kamar Ranpo dan mengambil syal merah panjang di balik pintu.
Setelah ia keluar, menutup pintu, Ranpo yang sudah berada di dapur dengan lelehan coklat di sekitar pipinya. Ia tertarik dengan Hima yang berjalan ke wastafel di sampingnya. Sendok coklat ia lepaskan dari mulutnya, mengundang decakan yang membuat adiknya menoleh.
"Heh!! Itukan coklat yang Hima buat untuk hibernasi tahun baru nanti! Ranpo nii kenapa dimakan?!" Keran air tertutup, kini kedua tangan itu bersih dari sisa permen yang menyelimuti. Seraya itu, ia memekik tak rela di balas tatapan datar kakak kurang ajarnya.
"Habis Hima naruhnya dikulkas"
"Dimana lagi kalau bukan dikulkas, Ranpo nii daisuki"
Ranpo menoleh, berhenti mengemut sendok yan beku coklat itu, "apa?"
"Ranpo nii" Hima memutar bola matanya, malas.
"Bukan, Hima tadi menyebutku apa? Embel embel apa itu?"
"...daisuki"
Cup
Ranpo, kakaknya itu mencium pipi tanpa halangan adiknya. Hima membisu, tapi ia berusaha tetap tenang agar rona merah di pipinya tak bertambah banyak. Pria itu melepaskan ciumannya dan bergantian memeluk adiknya mesra...
"Aku juga suka dengan Hima chann...!"
Hima semakin membisu, tubuh Ranpo yang berbau coklat dan maskulin tercium membuat hidungnya mengeluarkan setitik cairan merah. Ia menyadarinya dan cepat cepat menyudahi acara unfaedah ini.
"A, aku juga... H, Hi Hima mau ke toilet dulu, mau pee" Ranpo melepaskan dengan enggan dan membiarkan gadis berusia 22 tahun itu lari mendekati pintu dan menutupnya.
Hima panik, ia berkaca di cermin toilet dengan darah yang mengucur dari kedua hidungnya. Keran di nyalakan, ia membasuh sampai bersih, dan kembali deg degan kala menyadari sesuatu, kembali memandangi cermin.
"Kenapa dengan Ranpo nii aku merona seperti ini, tapi dengan Dazai sensei,..."
Perempuan itu memegangi dadanya tempat rasa berdegub itu muncul berulang kali membuatnya semakin tak tenang
"Apa mungkin aku menyukai Dazai sensei? Ah tidak mungkin, dia hanya senseiku, tak lebih"
"Hima!!"
Perempuan itu terlonjak, buru buru membersihkan sisa air yang juga sisa cap coklat di pipinya, untuk yang ini, kalian bisa menganggapnya sebagai perlakuan Tanizaki bersaudara yang di versi kan Edogawa bersaudara_-
Ia membuka pintu dan mengambil syal merah yang sebelumnya ia rebahkan dari debu tadi. Berlari ke pintu depan dengan penampilan siap.
Disana dua orang lelaki menatapnya, dengan salah satunya melambai senang. Dan Ranpo yang menyambut Hima.
"Sudah siap?"
Tidak dibalas oleh Hima, tapi Ranpo menepuk pundak pria di sampingnya yang lebih tinggi darinya.
"Hei, sempat kau melakukan hal itu kembali ke imouto ku Hima, akan dipastikan kau akan kunikahi dengan my imouto"
Tunggu dulu, benar Ranpo Edogawa mengatakannya barusan? Itu berarti, restu dari kakak kandung sudah didapatkan... dan, itu artinya...
"Ranpo nii, nikah mulu. Tenang saja, Dazai sensei akan menikahiku nanti, ia sudah berjanji" Hima memandang Dazai dengan senyuman lebar, dan Ranpo yang melongo tak percaya
"Kapan?"
"Sudah jelaskan, brothergoals hanya untuk Tanizaki bersaudara..." Dazai yang siap dengan pakaian biasanya merangkul Hima di pelukan dan membuat lainnya membisu, "...saya mengatakannya sebelum saya melakukan tindakan pertama"
Ranpo merona, lelaki itu juga memunculkan ekspresi sama dengan Dazai yang mengatakan itu sambil membentuk mulutnya hingga segitiga aneh. Berbeda dengan dua orang itu, Hima hanya terdiam, membiarkan dirinya yang masih belum mengenal situasi dalam pelukan hangat Dazai sensei, padahal sedang kuat kuatnya dingin sekarang.
"Ah, Dazai bakka! Setidaknya beritahu aku duluan... aku kan kakaknya..-"
"-...dan kakak ipar saya"
Pria dengan marga Dazai itu memotong perkataan lelaki lainnya yang terdiam hingga efek putih garis garis terhidang di belakangnya. Sementara Dazai Osamu tak mengubah ekspresinya, membuat Hima yang penasaran menjadi makin penasaran.
Untuk mencairkan suasana yang sangat akward itu, Hima melepaskan pelukan ringan itu dan mengenakan syal yang di tentengnya tadi, perempuan itu berdiri di tengah tengah mereka berdua dan memegang salah satu tangan beku itu.
"Jan...ken...pon!"
Batu x batu.
Hima mendecih, dia mendongak sekali lagi melihat kedua orang yang tangannya ia gunakan untuk berunding itu. Membisu dalam keheningan yang Dazai cipta barusan membuat yang aktif sekarang hanyalah sang putri Edogawa ini.
Iapun tersenyum, kembali melanjutkan permainannya dan menggerakkan kedua tangan itu menghentak agar bisa membentuk simbol suit.
"Sekali lagi, Jankenpon!"
Batu x kertas.
"He, Ranpo nii menang" Hima meletakkan kasar kedua tangan itu, dan berjalan kebelakang pria yang merupakan kakaknya itu. Memanjat punggungnya dan bertengger di sana, sampai keduanya tersadar dan Ranpo kaget melihat Hima yang senyum senyum di lehernya.
Membuat Dazai cemburu dengan bibir mengerucut
Huh...
Yokohama,
Taman bunga dan taman wahana,
"Yoo, Yosano san!"
Ranpo melambai ringan, menggiring senyumnya ke arah beberapa orang di depannya. Duduk diaatas karpet di bawah hujanan salju rintik. Di atasnya, ada sepayung besar yang biasanya digunakan di pantai, tapi ini berbeda. Luasnya sama seperti luas setengah lapangan sepak bola. Mampu meneduhi sekitar 7/10 penduduk Yokohama.
Ranpo berjalan mendekati mereka dan duduk pelan diatas karpet dengan corak bergaris, berusaha agar tak membangunkan adiknya yang sudah terbaring di bantu dengan Dazai.
Di atas paha Atsushi, kepala Hima bertengger anyem di sana. Ia juga mengemut ibu jarinya dan mengulet pelan saat bocah harimau itu begerak lalu berhasil di hadiah jentikan dahi oleh Naomi.
Beberapa menit lagi, acara kembang api besar besaran dan tahun baru akan segera datang. Sachou, Edogawa bersaudara, Tanizaki bersaudara, tiga orang wanita agensi Yosano Naomi dan Kyoka, berkumpul dimana hampir seluruh penduduk Yokohama menikmati dinginya angin malam. Tanah lapang besar yang diteduhi oleh payung transparan yang setimpal dengan jajaran karpet dibawahnya.
Dan sebagai hadiah, juga undangan dari wanita donat itu, Hisayuki Toriumi juga ikutan bergabung. Ia duduk di samping Hima sambil sesekali mencuri pandang dengan Dazai yang tak jauh darinya, sedang menggoda Kunikida lewat ponselnya itu.
Jika kalian bertanya kemana sisa anggota agensi yang lain, maka mereka akan menjawab,
Kenji sedang menyiapkan diner berupa daging sapi bersama Haruno sebagai koki malam itu, dan si megane yang sibuk mengetik di kantor, ia berbalas sms dengan Dazai kalau beberapa menit lagi pekerjaannya akan selesai dan segera datang, bersama Kenji.
Beberapa saat kemudian, di tengah lautan manusia, di bawah teduhan payung yang menampung rintikan salju, base dua dari kiri dan 3 dari depan terjadi kehebohan yang membuat semua pasang mata di dekatnya menaruh perhatian padanya.
"YAME!! DONATNYA MANA?!!
"MEMANGNYA HANYA HIMA DISINI YANG PEDULI?! BBQ-NYA SAJA BELUM SAMPAI! HIMA JAHAT!"
"Ah~ Naomi hanya ingin bersama Oni san~~"
"Shinju, wo wo wo, shinju~~"
"Tofuu, nyam, tofuu~~"
"Are, Atsushi... kakimu terlalu bagus bagi seorang lelaki. Aku bantu untuk mematahkannya boleh?"
"YO, YOSANO SAN...YAMEE!!"
"Ma ma... mereka semua memandangi kita... malu lho Hima"
"APA?!"
Hisayuki membeku, bibirnya membentuk kurva. Mendengar bentakan wanita yang sudah bangun terduduk itu, sahabat seperguruannya yang menggelegar kala ia berusaha untuk memisahkan kedua kakak beradik yang saling beradu mulut tentang diner nanti malam.
Bukan hanya perempuan itu, Dazai yang sedang tiduran memasangi headset di kepalanya dan menikmati lagu lucnutnya_-
Junichiro dan Naomi yang sibuk main sendiri (lha?)
Yosano sensei dan Atsushi yang memcoba hal baru. Tidak bagi Atsushi yang sedari tadi mengeluarkan keringat dingin.
Kyouka yang asik makan tofu diam diam, di pojok karpet.
Hisayuki yang menengahi dua saudara itu, dan Sachou yang terdiam, membiarkan para anak buahnya menikmati malam, sementara ia dengan tenang menyesap teh ochanya.
Para pengunjung yang sebagian besar ialah keluarga dan pasangan, semuanya memandangi pemandagan langka di tengah tengah mereka. Mereka semua pada berpikir, 'jarang sekali melihat anggota Agensi yang terkenal itu memenuhi undangan datang berramai ke acara di penghujung tahun, dan bercengkerama tak biasa seperti ini'.
Sekarang mereka semua tau, bahwa heboh dan anehnya Agensi yang begitu banyak berjasa bagi kota pelabuhan ini. Dari caranya menghentikan mafia, sampai mengajukan detente* bersama musuhnya, juga menghalau Guild yang mencoba menginvasi, menjatuhkan paus besar di tengah kota penuh lampu ini.
Bahkan, sepasang suami istri lansia yang berada tepat di samping Dazai berbaring, sempat menjauh ketakutan kala pria kopi itu melantunkan lagu kesehariannya. Untunglah tak sampai memanggil pihak berwanang, seorang dari Agensi memakai kacamata datang meminta maaf dan memaklumi tingkah partner kerjanya itu.
Dibelakangnya seorang wanita dan bocah desa yang membawa kontainer besar...
Ya, KONTAINER...
Kenji membawa barang besar itu di tangan kanannya dan di sebelah kirinya membawa payung juga tas hitam besar yang sebelumnya dipesan oleh Yosano sensei.
Beberapa orang, bukan, semua orang di sana menganga heran dan berdecak kagum saat melihat anak kecil seperti Kenji, anggota Agensi itu membawa berat ratusan kwintal dengan satu tangannya...
Impossible...
"Heheh, habis aku sedang lapar..." ia mengatakan itu kepada wanita muda di sampingnya dan dibalas senyuman kikuk kala Haruno menyadari mereka akan viral sebentar lagi.
"Berapa menit lagi?" Pria silver ia bertanya dengan tenang, melepaskan aroma hangat kala ia meneguk ocha panasnya.
"Sekitar 5 menit lagi. Sachou, ini teh yang anda pesan tadi. Maaf membuat lama, ternyata Dazai menyembunyikan bahannya di samping pemanas" Kunikida menyerahkan satu termos hangat ocha, sambil membetulkan ujung lengannya yang tergulung keatas sehabis ia puas menghajar Dazai yang sekarang di kerumunin Hima dan Hisayuki sedang terkubur di tanah.
Hima menarik pinggul Dazai di bantu sahabatnya agar pria itu, yang sebagian tubuhnya terbalik, terbenam di tanah hijau agar keluar dan keburu nafasnya habis...
Bukannya Dazai akan marah kalau dua wanita ini menjauhkannya dari maut?
Tak disangka, kepala itu keluar dan tubuh Hima mundur kebelakang, menabrak Tanizaki bersaudara yang sedang memakan daging sapi yang baru dibakar.
Dan sialnya, sepiring daging itu melayang dengan slow motion ( :v ) mengarah ke pemimpin Agensi, lalu jatuh tepat di atas kepalanya, menodai rambut silver itu.
Semuanya yang tadi berteriak langsung terdiam sampai dua orang Edogawa itu menghampiri Fukuzawa dan membersihkan sisa daging panas itu. Sachou hanya diam, ia tau kalau kedua anak asuhnya akan bertindak dan mereka sendiri akan menyesalinya.
"Maaf... Tou san, Hima tak sengaja tadi..." perempuan itu terduduk manis di depan tubuh besar Fukuzawa, dan mengelap dengan kain dingin di sekitar daerah yang kotor. Begitu juga dengan Ranpo.
Mereka semua juga mengaku bersalah dan meminta maaf secara malu, termasuk Dazai yang masih kotor dengan rumput dimana mana. Orang orang di sekitar mereka juga memperhatikan,
Para anggota Agensi itu patuh sekali dengan atasannya, itulah rata rata pikiran mereka.
Akhirnya, dengan beberapa kali menyebut pria berhakama hitam kuning itu dengan sebutan Tou san, Fukuzawa menghela nafas, dan menempatkan tangan kanannya yang besar itu di pucuk rambut pink Hima, ia mendongak.
"Tidak apa apa. Semua orang memang pernah membuat orang lain merasa bersalah" sachou memandangnya, ia tersenyum singkat dan tipis.
Melihatnya Hima hanya tersenyum manis, tidak dengan kakaknya yang langsung meyerbu pria yang juga dianggapnya sebagai ayah itu, dengan memeluknya dari belakang.
"Apa aku harus bertingkah seperti Hima agar dapat pujianmu?"
Semuanya kembali melihat, kali ini pada detektif Ranpo, detektif terhebat di Agensi ini. Ia mengerucutkan bibirnya, dan dengan manjanya menggoda ketua Agensi itu. Heran, mereka semua terheran, sampai akhirnya Dazai membuka suara
"Yare yare... Ranpo san ternyata cemburu dengan adiknya sendiri"
Dan semuanya tertawa. Mereka yang bukan anggota agensi juga tertawa pelan saat tau moment lucu itu terjadi, termasuk Hisayuki.
Kunikida tersenyum berdehem, memandangi jam tangannya dan mulai melihat langit bersalju, tidak lebat, namun rintikkan.
"Minna san, acaranya segera akan dimulai"
Semuanya menoleh pada Kunikida dan tak lama setelah itu, sebuah garis kuning merah meluncur naik ke atas langit dan meledak, mengeluarkan ratusan garis lengkung lainnya yang berwarna warni.
Semuanya yang hadir tak henti hentinya berdecak kagum, dan teriak kegirangan. Tak terkecuali untuk para anggota Agensi.
Naomi menunjuki berbagai hanabi yang naik dan menunjukan pesonanya bersama kakak lelakinya di belakangnya, sachou dan sekretarisnya yang tenang saling tersenyum menikmati pemandangan cantik itu, Atsushi yang mencoba menjelaskan apa itu kembang api dan kecantikannya pada Kyoka yang bersembunyi di balik lengannya, ketakutan karna ini pertama kali ia melihat bunga jumbo bermekaran dilangit Yokohama.
Tapi mungkin terkecuali untuk Dazai, Ranpo, dan Hima. Mereka terus terdiam memandangi kolaborasi unik hanabi disana.
Saking takutnya, Hima mendekati ayahnya, mengeratkan syal di lehernya dan memeluk tubuh Yukichi dengan erat, sehingga lelaki berumur itu terheran heran dibuatnya.
Hisayuki menyadari, ia menyadari kalau Dazai, pria yang duduk di sampingnya mulai menampakan ekspresi aneh dan tak mengenakkan.
Diantara kebisingan dan kebahagian acara penyambutan tahun baru itu, perempuan raven itu memanggil Dazai Osamu.
"Um, Dazai san... apa yang kau pandangi? Bu, bukannya semua hanabi itu cantik?"
Dazai menggeleng, pria itu menoleh dengan kegusaran terusik di wajahnya.
"Aku dengar dulu kau adalah aggota pramuka bersama Hima, tapi kau tak tau apa itu?" Dazai menunjuk ke arah langit dengan perpaduan indah warna warni juga salju yang turun dengan anggun. Hisayuki menatapnya.
"A, ada apa memangnya, Dazai kun?
Pria kopi itu terdiam, mungkin ia tersentak kaget kala perempuan yang belum benar dikenalnya ini sudah memanggil dengan embel embel kun. Tapi ia tak menunjukannya, keadaan yang akan terjadi sebentar lagi akan lebih menyeramkan dibandingkan dengan kegelisahannya.
"Di sana, ada pesan tersembunyi di antara gugusan kembang api itu. Kau lihat, itu adalah sandi morse"
Dazai menunjuk, memainkan jari tangan kanannya untuk menunjuki berbagai ledakan yang terjadi di berbagai tempat. Ada yang saling berdekatan dan sedikit berjauhan. Memang agak samar, tapi jika kau memperhatikan dengan baik juga timing yang tepat, pesan tersembunyi itu akan terlihat jelas.
Tapi, Hisayuki tak mendapatkannya. Ia menoleh kepada Dazai untuk mendapatkan penjelasan lebih jelas
"Maksudnya?"
Pria itu kembali menoleh, "jika kau eja dengan benar maka akan menghasilkan bunyi, 'sebentar lagi salju akan tergantikan dengan kembang api yang menghancurkan Yokohama' "
Detente : baca aja komik BSD tentang pertemuan Fukuzawa dengan Mori untuk membahas persekutuan mereka. Saat itu Fukuzawa mengajukan Detente.
Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.
すべてを読んでくれてありがとう
Subete o yonde kurete arigatō
(Terimakasih sudah membaca semuanya)
