Pria itu kembali menoleh, "jika kau eja dengan benar maka akan menghasilkan bunyi, 'sebentar lagi salju akan tergantikan dengan kembang api yang menghancurkan Yokohama' "
"Lakukan bersama. Satu dua angkat!"
"Baik!"
Pria blonde itu mengangkat kedua tangannya dan membuat muatan si depannya. Besi beton yang menjadi alas utama untuk menebarkan karpet, Kenji mengangkatnya dengan tangan kosong.
Tak lama perempuan pink disampingnya ikut berulah dengan memegang bahu Kenji setelah beberapa bola merah datang menghampiri dan teriakan dimana mana. Hima menggenggam tangannya sendiri, berkonsentrasi untuk membuatnya semangat sementara bom bunuh diri hampir di depan mata.
"DASAR RANPO NII!! SUKA SEKALI MARAHIN HIMA GARA GARA NUDUH KEHILANGAN SATU PERMEN! PADAHAL BELUM TENTU ITU PERMEN HIMA YANG MENCURINYA!! AWAS NANTINYA ONII CHANKU YANG BAWEL!! ARGHH!"
Hadiah Hima langsung aktif. Begitu bola merah yang merupakan kembang api berbahaya itu memasuki kawasan lindung sang Edogawa, maka dengan kekuatannya Hima dapat mengarahkan semaunya kemana arah benda itu. Ia menutup matanya untuk lebih berkonsentrasi mengontrol ratusan kembang api yang menuju ke arahnya juga Kenji yang sama sama jaga jaga siapa tau wanita di sampingnya gagal.
Perempuan itu memutuskan dengan cepat, ia mengarahkan balik ratusan bola besar itu kembali ke sarangnya. Hingga wajahnya memerah dan bawah hidungnya terlihat berdarah.
Semua orang berteriak. Acara penyambutan tahun baru menjadi bencana yang mungkin akan ditulis dalam buku besar sejarah Yokohama. Banyak orang berlarian panik dan ketakutan melindungi sesamanya dari serangan tak di kenal, datang dari sumber dimana seluruh hanabi itu di luncurkan. Bahkan atap kanopi besar yang melindungi wisatawan sudah hancur sebagian karena lepas dari pengamatan perempuan yang berdiri paling ujung sana.
Seakan akan ada orang yang sengaja mengarahkan meriam ke arah penduduk Yokohama ini.
Hisayuki terdiam, melindungi dirinya sendiri yang ketakutan tak jauh dibelakang teman sekampusnya. Dan anggota Agensi yang lain sibuk mengontrol lalu lintas lautan manusia, serta menggiring mereka semua untuk menepi lalu memasukkan ke dalam kontainer besar.
Memang tadi pemuda desa itu membawa satu kontainer. Tapi kebetulan atau kesengajaan, ada 4 kontainer lainnya ditepi taman. Awalnya mereka semua berpikir kenapa ada kontainer besar di tengah tengah taman yang indah ini? Apa Port Mafia sudah meluaskan jaringan markasnya lagi? Hahah, lucu.
Semuanya yang merupakan anggota Agensi kecuali dua pemuda gadis itu membantu warga menyelamatkan diri untuk masuk ke kontainer. Tidak peduli mau kotor lembab atau pengap, mereka tak punya pilihan lain selain masuk ke sana agar tak mendapat akhir tertimpa kembang api yang indah.
Kecuali untuk satu orang. Dazai juga kepikiran hal itu. Saat tak ada orang yang memperhatikannya, semua orang sibuk mengkhawatirkan dirinya masing masing, pria kopi ini berlari ke tengah tengah taman jauh dari jangkauan perlindungan Agensinya.
Tapi sesaat sebelum tubuh itu terpental terkena bola api besar, telekenesis Hima menjauhkan bola besar itu dan membuat Dazai kembali selamat dari rencana mautnya. Awalnya pria itu begitu kesal karena rencana bunuh dirinya lagi lagi gagal, tapi juga senang karena Hima mau peduli kepadanya. Bahkan jauh diluar jangkauan kekuatannya.
Di tempat lain, Kunikida yang sibuk mengevakuasi warga, melihat pertnernya, Dazai belari mendekat sambil membawa seorang gadis kecil berpita merah bergaun merah yang menangis di dekapannya. Ia tampak tergopoh gopoh berlari kala menyadari tepat di belakangnya bola api besar itu menyentuh tanah, meledak, dan mengeluarkan magma panas yang menyembur lalu menyebar secara luas.
Ada yang selamat dengan berlari kencang, juga banyak yang tak selamat, kebanyakan adalah anak anak yang tidak lagi dipedulikan dengan orang tuanya. Sudah kubilang, semua orang sibuk memperhatikan dirinya sendiri sekarang, sibuk menyelamatkan dirinya dari hujan salju yang bertransformasi menjadi hujan kematian yang panas.
Biarpun begitu, Kenji juga Hima tetap pada posisi mereka, mempertahankan tanah ini agar jatuh korban tak lebih banyak lagi. Di tengah tengah keteriakannya untuk memacunya agar terus bersemangat, tampak sekali jika perempuan dengan double power itu mulai kelelahan. Baru beberapa detik memakainya, hidunganya sudah mulai bereaksi memunculkan peringatan keras.
Anak yang tadi didekapan Dazai di serahkan pada Hisayuki yang memutuskan untuk ikut membantu Agensi, lalu ikut berlindung ke dalam kontainer ke tiga. Masuk duluan daripada yang lain, yang masih sibuk menyelamatkan orang orang.
Yosano sensei berjaga di depan semua kontainer, siapa tau ada yang terluka. Juga kesempatan baginya bisa bersenang senang, hehehe.
Atsushi yang memakai kecepatan harimau putihnya untuk menyelamatkan orang orang yang hampir tertimbun bola merah,
Sachou dan Ranpo menolong sebisa mereka, begitu pula yang lainnya.
Banyak bala bantuan yang sudah datang, seperti ambulans mobil polisi dan truk pemadam kebakaran. Tapi sayang, belum sampai ke tempat tujuan terdekat, bola yang berbentuk seperti bom besar itu menghancurkan mereka semua, seperti meriam besar disana telah di bajak oleh seseorang dan dikendalikannya dengan mudah.
Melihat keadaan mengerikan itu, Fukuzawa memeringati para anak buahnya untuk waspada. Ia berfikir jika kendaraan yang baru datang dan sekecil itu saja dihujani, masa kontainer mereka yang besar tidak?
Ada sesuatu yang tidak beres disini.
Saat semua, hampir semua orang masuk, separuh anggota Agensi mulai terbatuk batuk karena mereka tak menyadari, bola merah yang hampir menghujani mereka itu sudah mengelilingi mereka. Bahkan kobaran api itu semakin besar.
Heran, kenapa bola besar itu masih dapat menghantam tanah ini semantara dinding kokoh di deoan sudah di tegakkan. Saat memikirkan itu, Kunikida langsung menoleh begitu suara lelaki kecil yang dikenalnya, menyapa indra pendengarannya dengan panik.
Ia tak akan membiarkan seseorang terbunuh didepan matanya sendiri. Ia sudah berjanji itu, dan rela nekat menembus kepulan asap, berlari keluar menghampiri suara sekarat itu. Meskipun ia tau ada beberapa orang yang mengikuti di belakangnya.
Begitu tau siapa dia, matanya langsung membelalak lebar dan lariannya di percepat. Begitu pula Dazai dan Ranpo di belakangnya.
Disana, penyebab kepulan api yang semakin banyak terungkap sudah. Dua dinding kokoh yang melindungi tanah ini runtuh menyisakan dua orang yang terkapar di tanah, dengan lelaki bertopi yang masih senggukan mengeluarkan darah.
Penyebab mereka jatuh sangatlah jelas. Luka bakar di mana mana, dan darah berceceran di sekitarnya. Bahkan mantel yang digunakan Hima hangus terbakar membuat tubuhnya setengah telanjang.
Pria bersurai gelombang langsung mendekati keduanya dan merangkul Hima di pelukannya. Semantara Kunikida menangani Kenji yang masih bisa bertahan membuka matanya, Dazai menanggalkan mantel coklat miliknya dan memakaikannya pada perempuan malang ini.
Saat Ranpo sampai dengan posisi langsung terduduk di samping Dazai, menghadap langsung ke kepala adiknya, ia langsung panik. Wajahnya berkeringat, tangan dan kakinya gemetaran juga kata kata yang tercekat.
Memahami hal itu, Dazai menyerahkan Hima tanpa kata kepada Ranpo yang sempat meliriknya sebentar, lalu mendekap Hima dengan mantel Dazai erat di dalam dekapannya. Tak perlu berteriak, perempuan dengan baju setengah hangus langsung datang secepatnya sesaat sebelum Kunikida menjadi panik ingin memanggil sang dokter dari Agensi.
"Minggir! Minggir! Biar aku yang tangani ini!"
Dazai menjauh, berjaga jaga agar kekuataannya tak berpengaruh walaupun hatinya sudah mulai gelisah dari tadi. Kunikida juga. Apalagi Ranpo, ia bahkan tak mau melepas Hima dari pelukannya kala Yosano sensei membujuknya.
Untunglah ada Dazai dengan 1001 caranya, Ranpo merelakan Hima berbaring di tanah yang hangus terbakar bersama Kenji di ambang kesadarannya. Belum ada satu detik, dengan efek bintang berkilauan, Hima kembali bangun dengan Kenji yang melotot lebar.
Mereka berdua langsung terbangun tersadar saat perawatan sekaligus kekuatan dokter Agensi kepada mereka. Hima dan Kenji terduduk, dan sedikit terkejut.
"Apa yang terjadi?! Hu, hujan kembang apinya?!"
"Masih berlangsung. Maka itulah saya meminta Kenji untuk membantu" Dazai menjawab sesaat setelah tubuh mungil Hima terdorong sedikit kebelakang karena pelukan tiba tiba dari kakaknya yang tanpa suara.
Semua tersenyum tipis setelah melihat kelakuan si sulung Edogawa dengan adiknya yang tersenyum seadanya. Tapi belum saatnya untuk lega. Pria kopi itu langsung bangkit berdiri, berusaha memahami kondisi sekitar.
"Hima, seret semua kontainer disana menuju kemari, juga semua orang Agensi di dekat sana, bisa?" Begitu Dazai menoleh padanya dengan pertanyaan, Ranpo melepaskan pelukannya membiarkan adiknya memutuskan.
"Dazai, Hima-...baik!"
Ranpo menoleh tak percaya, ia melihat kesungguhan di mata adiknya yang memandangi dirinya dan Dazai berkali kali. Dazai juga mengangguk.
"Tenang saja, jika kau tak kuat dia akan membantumu, Kenji kun, kau juga bersiaplah" aba aba kedua diluncurkan si ahli prediksi, membuat Kenji berdiri semangat dan menaruh ujung jarinya di atas pelipis, hormat.
Hima mulai berkonsentrasi. Ia memang tak ingin berdiri, karna kakaknya yang tak membolehkannya itu.
Perlahan, satu persatu kontainer tebang, terseret angin mengarah ke barisan depan. Begitu cepatnya di pindahkan, Hima langsung kaget kala kotak besar itu terhidang langsung di hadapan mereka dengan efek merah menyala yang menyelimuti.
Hima yakin ia belum sama sekali mengeluarkan kekuatannya dan benda yang penuh kehidupan itu terangkat berpindah.
Kunikida dan Yosano heran, ia juga menoleh kepada Dazai yang berlagak santai meminta penjelasan.
"Apakah dia..."
"Tentu saja, jika tau saya akan mati disini, dia pasti akan datang merayakan sambil membuka wine kesayangannya itu" Dazai terkekeh, hampir lupa dengan misi selanjutnya.
Sekarang semua orang sudah dipindahkan dan mereka semua tepat di sekitar mereka. Naomi yang terus melengket dengan kakaknya langsung mengarah ke sahabat perempuannya, memeluknya mengatakan kekahwatirannya. Begitupula dengan si silver yang datang sebagai figur ayah kepada Ranpo dan Himawari.
Tapi belum selesai. Seseorang berjubah hitam dengan topi berbulu domba mengintip di balik dua lensa jarak jauh teropong yang mengarah langsung ke Yokohama. Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat salah satu bidak caturnya mulai menyadari sesuatu.
Karena sang bidak akan tergantikan dengan kartu as di hadapannya.
Masih belum berpaling dari teleskopnya, lelaki berwajah pucat itu mengkomando anak buahnya dan seketika semua meriam diisi dengan bom besar berlapis kembang api.
Jauh di seberang sana, Miyazawa yang sudah diaba aba dengan keras oleh Dazai langsung siap diposisi dengan kedua tangan yang memegang erat salah satu kontainer itu.
"Setelah ini, Atsushi kun janji akan mentraktirku makan okiniku. Senangnya" bicaranya pelan pelan. Membayangan setelah semua ini berakhir ia dapat makan dengan luas tanpa harus memikirkan biaya.
"Sekarang Kenji kun!"
"Haii' "
Bocah lelaki itu melakukan tugasnya. Begitu gelombang kedua diluncurkan oleh musuh, Dazai juga meluncurkan aba abanya untuk Kenji mendorong sedikit kontainer itu agar tak terlalu strategis saat nanti dikendalikan.
Disaat saat mencekam seperti itu, dua orang berpakaian jas lengkap mendekati si surai kopi dan mendekapnya dari belakang agar tak melawan. Di tambah lagi mereka menyeret Dazai kebelakang lebih jauh tanpa ada seorangpun yang mengetahui. Walaupun ia sudah menahan nafasnya lama lama juga melawan sekuat tenaga, ia juga tau kalau bawahan Port Mafia itu kadang kadang lebih kuat dari mantan exekutifnya.
Mata hazel itu tertutup setelah serbuk berracun klorofom mendekap di hidungnya dan membuatnya melemah, tertidur di pangkuan orang asing. Kedua orang itu membawa Dazai lebih jauh hingga masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan, menaruh tubuh lemah itu di samping bos lamanya.
Pria itu tersenyum, mengusap pelan pucuk kepala Dazai saat tubuh tanpa mantel itu mereng jatuh di pundak mantan bosnya dulu.
"Kita akan pulang kerumah Dazai kun. Chuuya kun?"
Yang bersangkutan segera menunduk, hormat.
"Bawa Elise chan kemari ya. Juga, habisi mereka semua"
"Baik!" Pria bersurai oranye itu berbalik, berjalan pelan menjauhi seseorang yang tak ingin dilihatnya dari awal.
Setelah berbicara sejenak dengan seseorang lainnya di dalam kepulan asap yang membutakan pandangan, seorang mafia bertopi datang keluar dari asap menghanguskan itu, mendekati kumpulan organisasi mantan atasannya, juga tak mau tau dengan pria malang disana yang di bawa oleh pemimpin organisasi underground ini.
Kahwatir dengan dinding kontainer yang tak cukup menahan serangan, apalagi dengan taruhan nyawa di depannya, membuat sachou mengeluarkan keputusan. Sebelum ia melakukan itu, ia berbalik kebelakang untuk menemui anggotanya yang merupakan mantan mafia.
Tapi nihil. Meskipun mereka semua meneriaki nama yang hilang itu, tetap tak ada jawaban. Yang ada hanya suara sirine yang melengking dan deru api yang berkobar. Di tambah lagi kekahwatiran Hima yang membuat kakaknya justru lebih kahwatir kepadanya. Sungguh, Hima yang sekarang sangat beda seperti yang dulu.
"Sachou! Bomnya!"
Suara Atsushi langsung menjadi peringatan keras. Semua mata langsung tertuju pada satu titik yang mana membelah diri menjadi banyak titik di sekitarnya.
Namun belum sampai menghujani mereka, seseorang dengan telapak tangan berbalut sarung tangan hitam menepuk pundak Kenji membuat yang bersangkutan terkejut. Tapi keterkejutannya dapat dengan mudah diredam oleh pria asing ini hanya dengan senyuman dan jari telunjuk yang menunjuk keatas di depan mulut.
Saat semua bom itu mengenai kontainer besar itu, kesenjangan waktu terjadi. Seakan akan ada gravitasi yang menolak balik, puluhan bom besar dan merah itu berbalik arah menuju kembali ke tempat asalnya, membuat ledakan besar di sebrang sana.
Semua yang dalam posisi berlindung langsung lega, ingin tau siapa yang melakukan ini semua.
Saat Hima membuka matanya, hanya satu nama dipikirannya kala itu, Dazai Osamu. Tapi begitu melihat kenyataannya, mulutnya membentuk huruf o dan matanya membulat tak percaya.
Lelaki itu juga menatapnya balik, penuh akan rasa ramah.
"Chuuya?!"
Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.
すべてを読んでくれてありがとう
Subete o yonde kurete arigatō
(Terimakasih sudah membaca semuanya)
