Saat Hima membuka matanya, hanya satu nama dipikirannya kala itu, Dazai Osamu. Tapi begitu melihat kenyataannya, mulutnya membentuk huruf o dan matanya membulat tak percaya.
Lelaki itu juga menatapnya balik, penuh akan rasa ramah.
"Chuuya?!"
Himawari POV
Aku terkejut. Betul apa yang dikatakan Dazai sensei, Chu benar benar datang. Aku merintih pelan dan berusaha berdiri di bantu oleh kakakku dan berjalan kedepan, ingin menyentuh mantel dingin teman lamaku.
Saat sudah dekat, aku percayakan tubuhku pada Chu kun dan ia memelukku erat saat kujatuhkan dadaku di dadanya. Memang, tinggi kami tak terikat jauh.
Aku balas memeluknya dengan erat sembari membenamkan wajahku sayang di bahunya. Dan kuyakin semua orang disini pasti melihat kejadian aneh ini.
"Menjauh Hima!" Tiba tiba suara peringatan muncul. Aku melepaskan pelukan rinduku terhadap Chu kun dan membalikkan tubuhku menemui siapa yang menegurku tadi.
"Mundur, Port Mafia!" Pria blonde berikat rambut itu mengeluarkan peringatan kedua, mengangkat senjata membidik ke arahku dan Chu kun.
Disampingnya ada pria yang kupanggil Shushi berdiri siaga sedikit kebelakang, tampaknya ia juga memihak Kunikida disampingnya. Melihat mereka yang begitu seruis, aku menghalangi dan mencoba memberi penjelasan sebisa mungkin.
"Himawari san, jangan mendekat padanya. Dia dari Port Mafia!" Bocah harimau itu mengeluarkan suaranya, dan membuat aku juga Chu kun tersentak.
Boro boro aku mau minggir, yang ada malahan aku makin mendekati Chu kun dan melindunginya di belakang punggungku. Terimakasih untuk tinggi tubuhnya yang mendekatinya tinggi tubuhku.
"Tidak! Aku tak akan minggir, Chu kun adalah orang yang baik. Tak bisa kalian membunuhnya" seru ku.
"Biarkan aku bicara kepadanya sebentar. Aku bisa jamin aku dan dia tak akan terlibat lebih jauh daripada ini. Kumohon Ranpo nii, Sachou..!" ujarku masih tetap pada nada tinggi. Sambil menunjuk dadaku aku menyakinkan mereka sebisa mungkin.
"Lihat, Chu kun sudah membantu melindungi kita dari bencana yang datang dari depan. Jika tak ada dia, bagaimana nasib warga di dalam kontainer sana yang kalian jadikan umpan ketapel balik?!"
Mereka semua terdiam, sebelum akhirnya Sachou mengambil keputusan dan menggerakkan anak buahnya. Mengevakuasi warga warga yang tersisa baik dalam kotak besar itu maupun yang masih bersama mereka.
Seluruh Agensi bubar. Hanya menyisakanku dan pria jingga bertopi di belakangku. Aku sempat melamun merenungkan apa yang barusan aku lakukan, sebelum sebuah uluran tangan dan hangatnya api di sekitarku membangunkanku untuk menghadapi pria dari Mafia ini. Aku memandang wajahnya.
"Itu...mantel Dazai?" ia berujar, menunjuk lemah mantel yang menari bebas tertiup angin malam. Aku mengangguk, memegangi salah satu kancing di sisi kanan mantel pasir ini.
"Aku saja masih mencari dimana sang empunya. Chu kun.." ia memandangiku kembali, kuyakin wajahku sangat serius sehingga membuat senyuman kecil di wajahnya lalu sirna.
"Dimana dia? Dimana Dazai sensei? Aku yakin kau tau sesuatu" ia tercengang, melompat kecil. Sungguh aku memang sudah tidak sabar dengan pertanyaan ini berserta jawabannya. Untuk rencana lebih dalamnya, aku tak akan memberitahu kalian.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mungkin mengurusi mumi perban seperti itu" ia berujar, wajah tampang menyebalkannya mulai tampak dan mencari alasan yang kuat. Aku memutar kedua bola mataku, kesal.
"Ayolah Chu kun, kita tak punya waktu. Aku tau, Dazai sensei pasti sedang dalam masalah bukan?" aku berujar, kalimat seriusku memuncak dan menimbulkan hawa tak enak di antara kami berdua. Kakakku Ranpo hanya bisa melihat kami berbincang tak jauh dari tempatku berdiri. Terkadang matanya terbuka untuk mengantasipasi pria yang tak ia kenal di depanku ini.
Ia terdiam. Tampaknya merenungi kata kataku yang terakhir tadi. Aku tau, pria Nakahara di depanku ini sudah lama menjalin salam perkenalan bersama sang eksekutif termuda Port Mafia. Dan aku juga tau, seberapapun bencinya Chu kun kepada pria yang kuanggap senseiku itu, ia akan tetap peduli padanya dan tak pernah membiarkannya mati begitu saja. Buktinya Dazai sensei masih hidup sampai sekarang. Setidaknya untuk saat ini.
Masih terdiam. Akan kucoba kembali.
"Chu kun, aku tau kau dan dia tak pernah akur jika sudah bertemu. Tapi setidaknya...-dia ada di rumah lamanya"
Jawaban cepat. Ia memotong pembicaraanku dan membuatku tercekat seketika. Biarpun kekuatan otakku setara dengan kakaku, tetapi aku tetaplah tak bisa berpikir di situasi seperti ini. Otakku kosong, semuanya kosong.
Tanpa sadar tanganku yang berlindung di balik mantel pasir Dazai sensei yang besar terangkat menyentuh bahu Chu kun. Dengan rasa gelisah aku menatapnya, dirinya mengangkat satu alisnya dan memasang wajah heran, atau lebih tepatnya 11 12 denganku. Aku menggertakkan tubuhnya dengan mengguncangnya beberapa kali dan meneriaki satu dua kata kepadanya. Tanpa sadar, aku menangis kecil
"Bawa aku kesana Chuuya! Mori, Mori si b*jing*n itu belum tau pembalasan serigalanya nanti!!"
Pria itu mencelaku cepat, mendorongku menjauh dari tubunya, dan berhasil membuatku diam seribu kata sejenak. Aku memandangnya ganas,
"APA?!"
"Kau tidak mungkin pergi kesana tanpa jaminan bukan? Apa yang akan kau lakukan untuk membawa Dazai pulang dengan selamat? Hanya dengan berteriak kepada kepala pemimpin Port Mafia? Kau akan terbunuh Conan chan"
Kata kataku tercekat, gengaman tangan kuperkuat kala menimbang lagi perkataan Chuuya yang sepenuhnya benar. Hanya orang yang benar benar bodoh untuk membentak bos mafia. Bahkan Dazai sensei sendiri mungkin tidak mau melakukannya.
"Lalu apa yang kau lakukan disini?! Memata matai Agensi kami?" ucapku tetap pada nada naik. Ia melihatku sendu. Memang benar, jika Dazai sensei di culik oleh Port mafia, maka Chu kun juga ada sangkut pautnya bukan? Apa salahnya untuk curiga.
"Aku di perintahkan bos untuk membawa kembali Elise chan, dan menolong Agensi" ia berucap, wajahnya memaling kesamping melihat salah satu anak berlari santai ke arah kami, bersurai blonde adalah ciri khasnya. Aku tetap diam, aku tau ini yang akan diucapkannya, dan itu bukanlah kebohongan. Dan Ranpo nii yang sedari tadi memandangi kami juga diam. Berbeda dengan anggota Agensi lainnya.
"Apa maksudmu hah?! Menolong Agensi katamu?! Bahkan kalian membawa salah satu kawan kami! Apa perlu kami mengadakan negosiasi kepadamu dan agar ditukar dengan partnerku!"
Pria bersurai panjang itu menyerobot tempatku cepat lalu mendekati Chuuya, merusak kerah bajunya. Aku gemetar, entah kenapa melihat wajah Chu kun yang begitu santai, berbeda dengan sifat aslinya.
"Silahkan. Tapi itu pasti percuma, karna Mori san pasti ingin serigala kecilnya kembali" alhasil karena ucapan Chu kun yang langsung menjawab, Kunikida mendecih, dan mundur kebelakang. Aku sendiri hanya diam, menunduk kebawah seraya memeluk erat mantel pasir yang Dazai sensei titipkan kepadaku.
"Aku akan pergi"
Aku berseru, membuat semua pasang mata menoleh kearahku dan membelalak seketika. Tak lama kulihat pria yang tadi memeras Chu kun beralih kepadaku, membuang tatapan kesal, marah, dan penasaran pada mata emeralku.
"Bagaimana? Kau punya rencana, Himawari san? Atau pergi memberontak pekada port mafia dengan pria topi ini?" kunikida kesal, ia menunjukkan jarinya kearah sampingnya sambil memarahi aku. Aku hanya diam, sesekali memandang Chu kun yang membetulkan topinya, tampaknya tersinggung dengan perkataan kawan Agensiku.
Aku mengangguk, bahkan wanita muda yang telah sampi kepada Chu kun, datang kepadaku, mempersiapkan dirinya di depan dadaku. Sesekali aku tersenyum menyenangkan saat mata birunya menghadap ke arah sorot mataku.
"Aku akan masuk dengan menggunakan Elise juga Yumeno"
Back to normal POV
Pria itu membuka matanya. Warna gelap dan udara yang terbatas dapat di rasakannya secara perlahan yang ia anggap sebagai gas pembunuh. Kepalanya tak bergerak, hanya ekor matanya yang menoleh kesana kemari melihat beberapa bayangan hitam yang berlalu lalang di hadapannya. Walaupun ia ditutupi oleh kain, tapi ia tetap bisa dapat melihat menggunakan otaknya, rencananya. Bukan bantuan.
"Nee, Dazai kun, aku percaya kau sudah bangun. Tidak perlu malu, aku akan membuatmu tidak bisa lagi berjalan dan memberikan apa yang kuberi saat itu" suara datang, berat dan ringan terdengar seperti bercanda.
Sedetik setelahnya, penutup mata hitam tersebut melayang diambil oleh salah seoang disana, membuat pria kopi ini dapat melihat dengan jelas apa saya yang ada di dekatnya. Akhirnya sorot matanya berujung pada pria dengan pakaian dokter di depannya, tersenyum manis kepadanya. Ia muak, ingin memalingkan tapi pria besar berjas di dibelakangnya tetap terus meluruskan pandangan si surai kopi.
Mori tampak berpindah sejenak lalu membawa sesuatu sambil duduk kembali. Kali ini lebih dekat kepada Dazai. Bahkan pria kopi itu harus mendongak jika bos lamanya itu memanggil. Padahal sebenarnya ia tak mau.
"Dazai kun. Lama kita sudar tak berjumpa. Bagaimana keadaanmu?"
Tidak ada jawaban. Dazai masih tetap diam. Melihat respon anak didiknya tak berubah dari kecil, Mori tersenyum. Ia menunduk berjongkok untuk memegang mata kaki pria yang duduk terikat itu.
"Maaf Dazai kun, kau sudah besar, tak lagi memerlukan morphin"
Dengan santainya Mori, memukul mukul mata kaki dazai hingga membuatnya biru, berdarah dan bunyi patah tulang terdengar. Dengan palu besar yang digengamnya, ia tak memperdulikan wajah memerah Dazai dan terus mengetuk keras kedua mata kaki Dazai secara perlahan. Seakan seorang psycopath yang tak peduli, dengan senyuman ia melakukan itu.
"Nee Dazai kun. Aku ingat saat dulu aku pernah membedahmu tanpa menggunakan morphin, dan kau masih saja tetap sehat, bugar dan tak merasakan tanda tanda sakit. Tapi..."
Takk!
"AKHHH!!"
Dazai berteriak saat puncak rasa sakit menghampiri. Tubuhnya dengan cepat melengking sedikit kebelakang begitu palu besar yang di gunakan bos lamanya dulu mengetuk keras mata kakinya, membuat sendi itu bergeser dan kehilangan kerangkanya. Mori hanya diam, ia mengamati reaksi Dazai yang sangat berubah dan memainkan kaki yang di balut kaos kaki abu abu itu, memutarkannya seperti membalik halaman buku.
"Hm, kau sedikit berubah Dazai kun. Rasa sakit telah membawamu kepada kenyataan yang sebenarnya ya? Memang, aku sengaja melepaskanmu di dunia luar"
Dazai mendelik. Matanya tertutup sebelah dengan masih menahan rasa sakit mengilukan itu. Ia tak bisa berbuat apa apa, tangannya di borgol bersama dengan kursi kayu yang ia duduki. Melihat Mori yang beranjak dan pergi ke meja bedahnya, membuat pria itu berekspresi lega dengan keringat yang mengucur. Ia tersenyum.
"Sengaja membuat Mimic membunuh Oda Sakunosuke? Menggelap-matakan Sakaguchi Ango sebagai mata mata musuh? Bukankah itu semuanya rencanamu?" ia tersenyum memaksa, membuat pria berjubah dokter itu membalikkan wajahnya melihat Dazai sejenak. Lalu tersenyum, tak beda jauh dengan senyuman si maniak.
"Setidaknya aku ini ayahmu, Dazai kun. Dan kau, kau adalah serigala kecil yang jinak di hadapanku. Memberikan apa yang sudah menjadi keinginanku" Mori Ogai berbalik, dengan suntikan yang siap menusuk kulit pasiennya.
"Bohong. Hentikan omong kosong ini..."
Bughh!!
Kursi yang diduduki Dazai oleng ke samping dan ditahan langsung dengan pria berkacamata di belakangnya. Wajahnya juga bernasib demikian setelah sebuah bogeman keras menyentuh pipi kanannya, membuat blush kebiruan di sisinya. Siapa lagi kalau bukan Mori yang memukulnya. Pria tua itu, membetuli sarung tangan putihnya dan kembali mengecek jarum suntik panjangnya. Dazai kembali pada posisinya.
"Aku adalah ayahmu, ayah kandungmu. Bukankah nama Mori Tsushima itu tidak bagus? Aku memberikannya saat kau lahir, sangat sempurna jika aku memiliki anak yang mempunyai kriteriaku"
"Aku lahir dari rahim bocah 10 tahun?"
Raut wajah pria berumur 35 tahun itu langsung berubah. Apalagi ia melihat Dazai mengatakan itu tanpa malunya. Senyuman itu kian mengembang, Dazai Osamu sedang memojokkan seseorang psyco yang mengaku sebagai orangtuanya.
"Membuat saksi palsu untuk jabatan, lalu membedah dan bereksperimen dengannya layaknya seorang tikus kecil tak berdaya. Apa hal itu bisa di sebut sebagai tanda kasih ayah kepada anaknya? Kau bukanlah ayahku, justru kaulah yang membunuh ayahku 18 tahun yang lalu!"
Dazai meluapkan segalanya. Seraya ia berkata habis habisan, di pandanginya dengan berani wajah sialan yang berani membawanya kemari itu. Tapi Mori tak bereaksi apa apa. Tampaknya permainan debat kalimat akan terus terjadi.
"Mereka itu adalah orang jahat yang berusaha untuk membunuhmu, menyiksamu mati matian. Maka dari itu aku datang."
Pria itu kian mendekat. Ia menunduk sedikit, mensejajarkan kepalanya kepada Dazai dan meraih dagu bersih pria tak berdaya itu. Dazai tak bisa menolak.
"Kau merasa tertekan. Dari kau lahir, dia yang kau sebut ayahmu, berusaha membunuhmu bagaimanapun caranya. Apa aku salah?"
Kedua alis kopi itu bertaut. Keringat dingin kembali berjatuhan.
"Mencelupkan jari jarimu dalam minyak panas, mencabut kuku jari kakimu hingga berdarah, dan beberapa kali disuruh untuk membunuh dirimu sendiri?"
"Lalu apa bedanya dengan kau? Kau juga sama telah mencampuri urusan tubuhku, dan bereksperimen dengan fisikku"
"AKU BERUSAHA MEMBETULKANMU DAZAI!!!!"
Amarah pria dokter itu membludak. Ia langsung mengerahkan jarum suntik itu, tepat di luka lebam yang di dapatkan Dazai beberapa menit lalu. Jarum itu menusuk dengan cepat dan dalam, menembus kenyalnya pipi Dazai yang setengah membiru.
Sementara Mori menggeram marah terus menusuk, memberikan cairan di dalam suntikkan, Dazai dak memunculkan ekspresi apapun. Wajahnya datar dan mereng ke kiri sedikit sama seperti saat ia di pukul tadi.
Jarum itu di tarik keluar, Mori kembali berdiri tegap dan tersenyum, membuang sembarang suntikan besar itu di sembarang tempat. Dazai menatapnya patah patah, dengan penuh rasa lesu juga mata yang mengantuk.
"Adikmu sebentar lagi ulangtahun. Bukannya kau harus menyiapkan hadiah?"
Itulah kata terakhir yang Dazai, pria kopi itu dengar. Matanya tertutup lesu dan tertidur dengan tanpa rasa waspada.
Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.
すべてを読んでくれてありがとう
Subete o yonde kurete arigatō
(Terimakasih sudah membaca semuanya)
